Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Wilayah Kepulauan Nusantara merupakan pertemuan tiga lempeng yang sampai kini aktif bergerak. Tiga lempeng tersebut adalah lempeng eurasia, lempeng indo australia, dan lempeng pasifik. Pertemuan lempeng-lempeng itu menyebabkan Interaksi ketiga lempeng tadi mengakibatkan timbulnya patahan atau sesar yaitu pergeseran antara dua blok batuan baik secara mendatar, ke atas maupun relatif ke bawah blok lainnya. Pergerakan lempeng kerakbumi yang saling bertumbukan akan membentuk zona subdaksi dan menimbulkan gaya yang bekerja baik horizontal maupun vertikal, yang akan membentuk pegunungan lipatan, jalur

gunungapi/magmatik, persesaran batuan, dan jalur gempabumi serta terbentuknya wilayah tektonik tertentu. Selain itu terbentuk juga berbagai jenis cekungan pengendapan batuan sedimen seperti palung (parit), cekungan busurmuka, cekungan antar gunung dan cekungan busur belakang. Pada daerah cekungan busur belakang biasanya akan terbentuk zona endapan hidrokarbon dan lapian organic seperti batubara. Oleh karena itu cekungan sedimen tersebut sangat berpotensial untuk menghasilkan sumber daya alam yang menguntungkan bagi Negara. Untuk memenuhi kebutuhan ini maka pemerintah diharuskan untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi terhadap zona potensi energi ini. Pada tahapan eksplorasi terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mengetahui keberadaan sumber energi tersebut salah satunya dengan cara mengetahui kondisi bawah permukaan dengan metode survei seismik. Studi seismik ini dilakukan dengan analisis penampang seismic dan geologi regional. Hasil analisis tersebut akan menunjukkan keberadaan struktur geologi sebagai

perangkap atau jebakan dan analisis petroleum system sehingga dapat diketahui daerah sumber reservoir dari hidrokarbon dan menentukan lokasi sumur untuk penentuan lokasi titik pemboran eksplorasi.

1.2.

Perumusan Masalah Struktur geologi sangat berperan dalam penentuan perangkap atau jebakan hidrokarbon. Berdasarkan rekaman data penampang seismik, dapat diperkirakan bentuk lapisan dan struktur bawah permukaan. Mengetahui struktur geologi pada cekungan Kalimantan dapat diperoleh suatu penelusuran penampang seismik sehingga dapat dilakukan interpretasi peristiwa tektonik yang terjadi pada masa lampau serta mengetahui tipe jebakan (Trap) hidrokarbon serta petroleum system yaitu batuan induk, reservoir, migrasi dan lapisan penutup.

1.3.

Maksud dan Tujuan

1.3.1. Maksud Melakukan pengidentifikasian daerah cekungan di Indonesia yang berpotensial menghasilakan sumber energi hidrokarbon dengan melakukan pemetaan kondisi bawah permukaan dengan analisis penampang seismik dan geologi regional. Hasil analisis tersebut akan menunjukkan keberadaan struktur geologi sebagai perangkap atau jebakan dan analisis petroleum system sehingga dapat diketahui daerah sumber reservoir dari hidrokarbon dan tipe jebakan (Trap) hidrokarbon serta peristiwa tatanan tektonik yang terjadi pada daerah cekungan tersebut.

1.3.2. Tujuan a. Menginterpretasikan posisi dan kedudukan struktur geologi dalam kaitannya sebagai perangkap hidrokarbon melalui interpretasi seismik 2-D dan kondisi geologi regional pada daerah cekungan Kalimantan. b. Menentukan elemen Petroleum System dari daerah penelitian.

1.4.

Ruang Lingkup 1.4.1 Ruang Lingkup Spasial Menjelaskan dan memaparkan tipe perangkap hidrokarbon pada cekungan Kalimantan melalui interpretasi seismik 2-D dan kondisi geologi regional.

1.4.2. Ruang Lingkup Substansial Memprediksi arah sebaran struktur geologi dan pola tektonik regional yang kaitannya dengan sumber energi hidrokarbon pada daerah cekungan Kalimantan.

BAB II KAJIAN TEORI

Cekungan sedimen adalah tempat akumulasi batuan sedimen yang secara signifikan lebih tebal dibanding dengan daerah lain disekitarnya. Berangkat dari pengertian tersebut maka dilakukan deliniasi (pengelompokan/pembatasan suatu area berdasarkan kriteria tertentu-red) cekungan dengan parameter berupa sebaran batuan sedimen, batuan alas, tinggian dan struktur geologi tertentu yang berfungsi sebagai pembatas cekungan. Berdasarkan metoda gayaberat dipilih area-area dengan nilai dan pola anomali yang mencerminkan tinggian dan rendahan. Dengan penggabungan kedua metoda antara geologi dan geofisika tersebut menghasilkan deliniasi cekungancekungan sedimen dengan ketebalan yang signifikan di darat (onshore). Sedangkan untuk mendeliniasi cekungan-cekungan sedimen di lepas pantai (offshore) dilakukan dengan metoda gayaberat (free-air anomaly).

Gambar 1. Peta Cekungan Sedimen Indonesia.(http://dim.esdm.go.id)

Atlas Cekungan Sedimen Indonesia tesebut direncanakan akan menampilkan hasil analisis geofisika dan geologi tiap cekungan, meliputi peta geologi, kolom dan uraian stratigrafi, struktur geologi, serta permodelan konfigurasi pada cekungancekungan terpilih. Cekungan sedimen merupakan target ekplorasi bagi para pelaku usaha di bidang energi, sehingga ketersediaan informasi yang baik, tepat dan akurat mengenai keterdapatan dan sebaran cekungan di Indonesia akan menjadi daya tarik bagi terlaksananya kegiatan-kegiatan ekplorasi. Untuk mengetahui keberadaan sumber energi tersebut salah satu metode eksplorasi dengan cara mengetahui kondisi bawah permukaan dengan metode survei seismik. Seismik adalah cabang geofisika yang mempelajari sifat fisik batuan yang membentuk kulit bumi, dapat digunakan sampai dengan analisis struktur dan kedalaman. seismik dibedakan menjadi dua jenis, yaitu seismik refraksi (bias) yang digunakan untuk penelitian daerah dangkal dan seismik refleksi yang digunakan untuk survei bawah permukaan dalam, seperti pencarian minyak bumi, dan penelitian bahan galian ekonomis dibawah permukaan bumi. Salah satu sifat akustik yang khas pada batuan adalah Accoustic Impedance (AI). Accoustic Impedance merupakan perkalian antara densitas () dan kecepatan (V). Gelombang seismik akan dipantulkan setiap terjadi perubahan Accoustic Impedance. Perubahan Accoustic Impedance yang kontras biasanya terjadi pada bidang batas perlapisan atau bidang unconformity. Dengan adanya perbedaan harga Accoustic Impedance maka kan diperoleh Koefisisen Refleksi (R). Agar horison seismik (skala waktu) terletak pada posisi kedalaman sebenarnya dan agar data seismik dapat dikorelasikan dengan data geologi lainnya yang umumnya di plot pada skala kedalaman maka dilakukan pengikatan data seismik dengan data sumur (well-seismic tie).

2.1.

Pengenalan jenis Struktur dengan analisis penampang seismik

a. Sesar Secara geometri dan kinematika sesar dapat dibagi menjadi sesar normal, sesar naik dan sesar geser. Sesar normal merupakan sesar dengan bagian

hanging wall bergerak relatif turun terhadap foot wall dimana sesar ini berasosiasi dengan gaya kompresi. Sesar geser mempunyai pergeseran dominan searah jurus sesar dan pada umumnya mempunyai bidang sesar vertikal. Keberadaan sesar geser ini sulit diidentifikasi dari rekaman seismik, tetapi dapat diketahui dari struktur asosiasinya. Kenampakan pada penampang seismik : Adanya pergeseran / offset pada horison (pola refleksi, Adanya pola difraksi pada zona patahan, Penyebaran kemiringan yang tidak berhubungan dengan stratigrafi, Perbedaan karakter refleksi pada kedua zona dekat sesar.

b. Lipatan Lipatan berasosiasi dengan kompresi skala regional maupun kompresi skala lokal. Beberapa proses lain yang berhubungan dengan pembentukan lipatan adalah adanya deformasi akibat pertumbuhan kubah garam / intrusi benda yang terletak lebih dalam, pensesaran / reaktifasi sesar. Kenampakan pada penampang seismik : Terdapat pelengkungan horison seismik (berbentuk antiklin atau sinklin.

2.2.

Pemetaan Struktur Bawah Permukaan Interpretasi penampang seismik didefinisikan sebagai penafsiran keadaan bawah permukaan dengan bantuan data seismik. Menurut Coffeen (1975) mendefinisikan sebagai proses penentuan dan informasi penampang seismik tentang kondisi bawah permukaan bumi. Hal-hal yang dilakukan dalam interpretasi penampang seismik adalah : 1. 2. 3. pemetaan suatu horizon untuk determinasi struktur. Determinasi batuan. Determinasi fluida yang berada pada ruang pori batuan.

Pekerjaan interpretasi penampang seismik antara lain meliputi pemetaan suatu horizon seismik. Pemetaan horizon seismik meliputi pembuatan peta struktur waktu, peta struktur kedalaman dan peta isopach.

Peta struktur waktu merupakan penerapan struktur horizon seismik dengan waktu yang dibuat dengan cara menarik garis transversal serta sejumlah garis yang pendek yang sesuai dengan data shoot point dan kemudian dilakukan pengkonturan. Kusumadinata (1982) menyatakan peta struktur waktu merupakan penggambaran dari peta dengan bidang perlapisan yang berbeda dibawah permukaan yang dibuat berdasarkan data primer yaitu berupa penampang seismik, dimana waktu yang diambil sesuai dengan data shoot point. Peta kontur struktur waktu dapat dibuat melalui pengeplotan waktu pantul dan kedalaman. Peta kontur struktur waktu (isokron) merupakan peta hasil

interpretasi penampang seismik yang menggambarkan bidang perlapisan dalam skala waktu. Adapun prosedur pembuatan peta isokron adalah : 1. Penentuan suatu horison pada penampang sismik sehingga dapat ditentukan pada setiap penampang seismik. 2. Ikat horison pada masing-masing penampang seismik sesuai denganjalur sesmik sebagai peta dasar. 3. Waktu pantul dihitung pada setiap titik tembak yang diinginkan dan masukkan harga tersebut kedalam peta dasar. 4. Buat garis kontur sesuai dengan waktu pantul yang sama. Plotkan juga sesar-sesar yang ada. 5. Penafsiran dari peta kontur struktur waktu.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA


3.1. Kondisi Geologi Regional Kalimantan merupakan daerah yang memiliki tektonik yang kompleks. Adanya interaksi konvergen antara 3 lempeng utama, yakni lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Asia yang membentuk daerah timur Kalimantan (Hamilton, 1979). Evolusi tektonik dari Asia Tenggara dan sebagian Kalimantan yang aktif terjadi berawal pada jaman Kapur Bawah, dimana bagian dari continental passive margin di daerah Barat daya Kalimantan, yang terbentuk sebagai bagian dari lempeng Asia Tenggara yang dikenal sebagai Paparan Sunda. Kemudian pada jaman Tersier, terjadi peristiwa interaksi konvergen yang menghasilkan beberapa formasi akresi, pada daerah Kalimantan.Selama jaman Eosen, daerah Sulawesi berada di bagian timur kontinen dataran Sunda. Pada pertengahan Eosen, terjadi interaksi konvergen ataupun kolisi antara lempeng utama, yaitu lempeng India dan lempeng Asia yang mempengaruhi makin terbukanya busur belakang samudra, Laut Sulawesi dan Selat Malaka. Cekungan Kutai merupakan salah satu cekungan yang dihasilkan oleh perkembangan regangan cekungan yang besar pada daerah Kalimantan.Pada Pra-Tersier, Pulau Kalimantan ini merupakan salah satu pusat pengendapan, yang kemudian pada awal tersier terpisah menjadi 6 cekungan sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Cekungan Barito, yang terletak di Kalimantan Selatan, Cekungan Kutai, yang terletak di Kalimantan Timur, Cekungan Tarakan, yang terletak di timur laut Kalimantan, Cekungan Sabah, yang terletak di utara Kalimantan, Cekungan Sarawak, yang terletak di barat laut Kalimantan, Cekungan Melawai dan Ketungau, yang terletak di Kalimantan Tengah.

Dalam penelitian kali ini kami ingin melakukan interpretasi cekungan Kutai dengan menentukan potansi sumber hidrokarbon dengan analisa penampang

seismik 2-D dan korelasi kondisi geologi dengan cekungan daerah Kalimantan lainnya.

Gambar 2. Peta Geologi Daerah Cekungan Kutai. (http://geoseismikseasia.blogspot.com)

3.1.1. Kondisi Morfologi Regional Morfologi daerah Cekungan Kutai di Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu cekungan yang Secara keseluruhan daerah telitian berpola Homoklin, dengan kondisi Satuan morfologi Perbukitan

Bergelombang.

3.1.2. Kondisi Struktur Geologi Regional Secara umum struktur geologi yang terdapat di daerah

penyelidikan yaitu sangat sederhana, hanya berupa perlipatan berupa siklin dan antiklin yang berbentuk leter S, dengan sumbu lipatan yang berarah hampir utara-selatan, setempat dijumpai struktur kubah. Secara global tektonik yang terjadi di daerah tersebut pada Plio Plistosen mengakibatkan

terjadinya ketidakselarasan dan pengaktipan kembali struktur geologi yang sudah ada.

Gambar 3. Peta Antiklinorium Kota Samarinda.(http://geoseismikseasia.blogspot.com)

Berdasarkan kondisi struktur pada peta tersebut mempertunjukkan antiklin-antiklin kecenderungan NNE-SSW dan struktur-struktur di dalam garis merah yang dihancurkan. Lokasi garis yang 10eismic ke seberang bidang ini ditunjukkan di dalam garis yang hitam.

3.1.3. Kondisi Stratigrafi Regional Cekungan Kutai, telah terbentuk sebelum Eosen Atas. Pada Eosen Oligosen Bawah terjadi penurunan cekungan sehingga menyebabkan berlangsungnya endapan genang laut dari arah timur ke barat dan selatan, maka terbentuklah endapan batuan-batuan sedimen dari Formasi

Mangkupa, Kedango, Maau dan Formasi Lembak, yang diendapkan dalam lingkungan laut transisi hingga laut dalam, sedangkan ditempat lain terbentuk batuan karbonat paparan dari Formasi Tabalar. Pada akhir Oligosen, terjadilah Orogenesa yang menyebabkan wilayah Paparan Sunda mengalami pengangkatan sehingga menimbulkan Tinggian Kucing dan Swaner, maka terbentuklah suatu ketidakselarasan dan endapan batuan sedimen susut laut pada bagian selatan cekungan

10

yang umumnya diendapkan dalam lingkungan delta sampai neritik, sedangkan pada bagian utara masih terjadi rumpang sedimentasi. Sedimentasi endapan delta pada bagian selatan berlangsung secara terus menerus dari Miosen Bawah sampai Plio-Plistosen, dengan pembentukan endapan delta sampai pada puncaknya hingga Miosen Atas sampai Pliosen. Batuan sedimen endapan delta yang tertua adalah Formasi Pemaluan, kemudian diikuti oleh Formasi Pulaubalang, Balikpapan dan Formasi Kampungbaru. Perkembangan sedimentasi batuan pada Miosen Tengah sampai Plio-plistosen pada belahan utara yaitu di daerah Bengalun bagian utara, Sangkulirang dan Semenanjung Mangkaliat, berbeda fasiesnya dan sumbernya dengan sedimentasi batuan yang terdapat di daerah Bengalun bagian selatan. Batuan sedimen yang menempati daerah Bengalun bagian utara terdiri dari Formasi Maluwi, Tendehhantu, Menumbar dan Formasi Golok, sedangkan didaerah penyelidikan yang secara stratigrafi hanya tersingkap Formasi Pulaubalang, Maluwi, Balikpapan, Menumbar dan Formasi Kampungbaru. Susunan batuan yang terdapat pada formasi-formasi batuan disekitar daerah penyelidikan, dalam cekungan Kutai, secara regional dapat dijelaskan dan uraikan dari formasi batuan yang termuda sampai yang tertua yaitu adalah sebagai berikut : a. Endapan Alluvium, endapan alluvium merupakan satuan batuan yang paling muda yang dijumpai di daerah penyelidikan, satuan batuan ini berumur kuarter, menempati daerah pantai dan pinggiran sungai-sungai yang besar, satuan ini tersusun oleh litologi lempung, lanau, pasir dan kerikil, dimana sifat batuan pada satuan alluvium ini belum kompak dan masih terurai (unconsolidated). b. Formasi Golok, formasi ini tersusun oleh batuan napal bersisipan batulempung dan batugamping, napal berwarna cokelat

11

kekuningan, setempat pasiran lunak, berbutir halus sampai sedang, tebal formasi ini diperkirakan sekitar 1.325 meter c. Formasi Kampung Baru, Formasi ini dijumpai setara dengan Formasi Golok yang berumur Miosen Akhir Pliosen, dimana Formasi Kampung Baru tersusun oleh batuan lempung pasiran, batupasir dengan sisipan batubara dan tufa, setempat

mengandung oksida besi dan limonit, formasi ini diendapkan dalam lingkungan Delta sampai Laut dangkal, dengan tebal formasi diperkirakan sekitar 500 sampai 800 meter.

Selanjutnya diendapkan Formasi Balikpapan, Formasi Balikpapan ini setara dengan Formasi Menumbar dan Formasi Tendehhantu. Umur dari formasi tersebut adalah Miosen Tengah sampai Miosen Akhir. d. Formasi Balikpapan, formasi ini tersusun oleh batupasir lepas, batulempung, lanau, tufa dan batubara. Pada perselingan batupasir kuarsa, batulempung dan lanau menunjukkan struktur silangsiur dan perairan, setempat mengandung sisipan batubara dengan ketebal antara 20 40 Cm. Batulempung berwarna kelabu, getas, mengandung sisipan bitumen dan oksida besi, tebal formasi ini diperkirakan sekitar 2.000 meter dengan lingkungan pengendapan muka daratan delta, dari kandungan fosil yang dijumpai

menunjukkan bahwa umur formasi ini adalah Miosen Tengah sampai Miosen Akhir. e. Formasi Menumbar, tersusun oleh litologi perselingan antara batulumpur gampingan dengan batugamping di bagian bawah, dan di bagian atas berupa batupasir 12eismi mengandung glaukonit yang memperlihatkan struktur perlapisan silangsiur. Pada

batulumpur gampingan, kelabu, lunak yang mengandung foram menunjukkan umur Miosen Tengah bagian atas sampai Miosen Akhir bagian bawah (Schuyleman dan Buchanan 1971).

12

Diperkirakan ketebalan dari formasi ini yaitu sekitar 1000 meter dengan lingkungan pengendapan Neritik Dalam sampai Luar. f. Formasi Tendehhantu, satuan batuan ini tersusun oleh litologi batugamping terumbu muka, batugamping koral dan batugamping terumbu belakang, setempat berlapis, kuning muda, pejal dan berongga, formasi ini berumur Miosen Tengah bagian atas (Schuyleman dan Buchanan 1971), diperkirakan diendapkan dalam lingkungan laut dangkal dengan ketebalan formasi sekitar 300 meter. Formasi ini saling menjemari dengan Formasi Menumbar. g. Formasi Maluwi, formasi ini tersusun oleh litologi batulempung pasiran, dengan sisipan napal, serpih kelabu, serpih pasiran sedikit karbonan, kearah atas berangsur menjadi batugamping dengan sisipan napal dan batulempung kelabu kecokelatan, dibanyak tempat formasi ini berumur Miosen Tengah bagian bawah (Hanzawa dan None, 1949), dengan lingkungan pengendapan ditafsirkan sebagai endapan Neritik/Paralik lagun sampai Neritik dangkal. Selanjutnya terdapat endapan Formasi Bebuluh. h. Formasi Pulaubalang, formasi ini setara dengan Formasi Maliwi, formasi ini tersusun oleh litologi perselingan batupasir dengan batulempung dan batulanau, setempat bersisipan tipis lignit, batugamping atau batupasir gampingan, berumur Miosen Awal bagian atas sampai Miosen Tengah bagian bawah (Koesdarsono dan Tahalele, 1975), diperkirakan sedimentasi terjadi disekitar prodelta, dengan tebaran terumbu di beberapa tempat. i. Formasi Bebuluh, formasi ini tersusun oleh litologi batugamping dengan sisipan batulempung, batulanau, batupasir dan sedikit napal. Batugamping mengandung Koral dan Foraminifera Besar, yang merupakan batugamping terumbu, satuan batuan ini berumur Miosen Awal bagian atas (Koesdarsono, 1978), dengan perkiraan ketebalan hanya ratusan meter. Selanjutnya diendapkan Formasi Pemaluan.

13

j. Formasi aemaluan, Formasi ini tersusun oleh litologi batulempung dengan sisipan tipis napal, batupasir dan batubara. Bagian atas terdiri dari batulempung pasiran yang mengandung sisa tumbuhan dan beberapa lapisan tipis batubara, secara umum pada bagian bawah lebih gampingan dan lebih banyak mengandung

foraminifera plankton dibandingkan pada bagian atasnya, umur formasi ini adalah Miosen Awal (Koesdarsono, 1976), lingkungan pengendapan berkisar dari Neritik Dalam sampai Neritik Dangkal. Selanjutnya diendapkan formasi Maau. k. Formasi Maau, formasi ini berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Tengah, diendapkan dibawah Formasi Pamaluan, tersusun oleh litologi batulempung, batulanau dan batupasir, kearah atas selang seling batupasir dan batulanau, memperlihatkan struktur sedimen seperti perairan sejajar atau bergelombang, batupasir berwarna kelabu, berbutir halus-sedang, terpilah buruk, menyudut tanggung membundar, pada batupasir sering dijumpai struktur turbidit seperti lapisan bersusun gelembur gelombang. Makin 14eismic atas perselingan antara batupasir dengan batulumpur semakin rapat, tebal lapisan sangat bervariasi, berkisar dari beberapa cm sampai puluhan cm, selain itu juga terdapat lapisan batupasir dan batulumpur dengan tebal 1 sampai 6 meter, setempat pada bagian atas dijumpai lensa batubara didalam batupasir karbonan. Selanjutnya diendapkan Formasi Lembak. l. Formasi Lembak, berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal, tersusun oleh litologi perselingan napal dengan batugamping, tebal lapisan batugamping sekitar 25 sampai 125 cm, sedangkan lapisan napal berkisar antara 1 sampai 12 meter, bagian bawah dari formasi ini lebih banyak mengandung lapisan batugamping dan kearah atas lapisan 14eismic14kin menebal, terdapat retas basalt dan struktur turbidit, lingkungan pengendapan formasi ini adalah

14

laut dalam, dengan ketebalan diperkirakan sekitar 800 meter. Selanjutnya terdapat endapan Formasi Kedango. m. Formasi Kedango, tersusun oleh batugamping dengan sisipan napal dan batulanau gampingan. Batugamping tersusun oleh bongkah koral dan batugamping mikrit, pada bagian bawah menunjukkan struktur perlapisan bersusun, formasi ini berumur Oligisen yang diendapkan oleh arus turbidit dalam lingkungan laut dalam.. Tebal formasi ini sekitar 570 meter dan ditindih selaras oleh Formasi Pamaluan. n. Formasi Tabalar, berumur Eosen Akhir sampai Miosen Tengah (Buchan, 1971), tersusun oleh litologi batugamping berwarna putihkuning muda, pejal, bagian bawah berlapis, diendapkan dalam lingkungan laut dangkal. Formasi ini tertindih secara selaras oleh Formasi Tendeh hantu. o. Formasi Mangkupa, adalah formasi tertua yang mengisi Cekungan Kutai, tersusun oleh litologi perselingan antara batupasir, tufa, batulanau, batulempung setempat sisipan batubara dan

konglomerat, pada bagian atas berupa batupasir bersisipan lanau, tebal sisipan sekitar 2 sampai 2,5 meter, bagian tengah berupa tufa bersisipan batupasir, batulanau dan batulempung, pada bagian bawah berupa batupasir bersisipan batulanau dan batubara. Formasi ini berumur Eosen sampai Oligosen.

3.2. Tatanan Tektonik daerah pengamatan Mengacu kepada konsep tektonik lempeng (Katili, 1978, dan Situmorang, 1982) Cekungan Kutai di Kalimantan merupakan cekungan busur belakang atau back arch di bagian barat yang terbentuk akibat tumbukan antara lempeng benua dan lempeng samudera. Peregangan di Selat Makassar sangat mempengaruhi pola pengendapan terutama pada bagian timur cekungan.

15

Kerangka tektonik di Kalimantan Timur dipengaruhi oleh perkembangan tektonik regional yang melibatkan interaksi antara Lempeng Samudera Philipina, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasian yang terjadi sejak Jaman Kapur sehingga menghasilkan kumpulan cekungan samudera dan blok mikro kontinen yang dibatasi oleh adanya zona subduksi, pergerakan menjauh antar lempeng, dan sesar-sesar mayor. Cekungan Kutai terbentuk karena proses pemekaran pada Kala Eosen Tengah yang diikuti oleh fase pelenturan dasar cekungan yang berakhir pada Oligosen Akhir. Peningkatan tekanan karena tumbukan lempeng mengakibatkan

pengangkatan dasar cekungan ke arah Barat Laut yang menghasilkan siklus regresif utama sedimentasi klastik di Cekungan Kutai, dan tidak terganggu sejak Oligosen Akhir hingga sekarang. Pada Kala Miosen Tengah pengangkatan dasar cekungan dimulai dari bagian barat Cekungan Kutai yang bergerak secara progresif ke arah Timur sepanjang waktu dan bertindak sebagai pusat pengendapan. Selain itu juga terjadi susut laut yang berlangsung terus menerus sampai Miosen Akhir. Bahan yang terendapkan berasal dari bagian Selatan, Barat dan Utara cekungan menyusun Formasi Warukin, Formasi Pulubalang dan Formasi Balikpapan. Pada Miosen Awal, pemekaran regional Tersier Bawah Tengah pada Paparan Sunda telah berakhir. Pada Kala Oligosen hingga Awal Miosen ini terjadi transgresi marin pada kawasan yang luas dimana terendapkan sedimen marin klastik yang tebal dan perselingan sekuen batugamping. Pengangkatan dan kompresi adalah kenampakan yang umum pada tektonik Neogen di Kalimantan. Endapan batubara dan hidrokarbon terjadi pada masa Miosen menghasilkan sumber energy yang ekonomis terutama terdapat di Cekungan Kutai bagian bawah (Kalimantan Timur).

16

BAB IV PENGOLAHAN DATA PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Penelitian ini menggunakan data horizon seismik formasi Balikpapan dengan penentuan letak horison pada penampang seismik ditentukan oleh sumur pemboran yang menembus lapisan formasi ini. Penentuan horison selain dikontrololeh nilai TWT (Two Way Time) pada kurva juga dikontrol oleh adanya reflector yang kuat dan menerus yang mengindikasikan adanya batas antar formasi. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai tahapan penelitian hingga pembahasan analisis :

Gambar 4. Penampang Seismik 2-D Formasi Balikpapan. (http://geoseismikseasia.blogspot.com)

Penampang ini merupakan suatu bagian detil penampang seismik 2-D pada cross section lapangan Separi terdapat struktur antiklin dengan karakter lapisan batuannya berupa fasies endapan serpihan batu batupasir yang berasal dari endapan delta Mahakam dan sebagian terdapat base rock berupa batu gamping. Secara umum dalam penarikan lintasan horizon tidak terlalu mengalami banyak kesulitan karena kualitas data pada penampang ini tergolong baik.

17

Sumbu memanjang tektonik cekungan Kutai berarah baratlaut-tenggara dansecara garis besar bertepatan dengan arah sumbu antiklinorium Tenggarong dan Separi. Struktur antiklinorium ini dipotong oleh sejumlah sesar normal transversal, antithetic dan synthetic yang akhirnya terbagi menjadi blok-blok struktur yang saling terpisah. Arah kemiringan sesar umumnya ke arah timur dan tenggara. Tektonik utama yang pertama mempengaruhi pembentukan formasi Balikpapan adalah ketidakselarasan bersudut dibagian atas Formasi Kampung baru. Cekungan Kutai terbentuk karena proses pemekaran pada Kala Eosen Tengah yang diikuti oleh fase pelenturan dasar cekungan yang berakhir pada Oligosen Akhir. Peningkatan tekanan karena tumbukan lempeng mengakibatkan pengangkatan dasar cekungan ke arah Barat Laut yang menghasilkan siklus regresif utama sedimentasi klastik di Cekungan Kutai, dan tidak terganggu sejak Oligosen Akhir hingga sekarang. Pada Kala Miosen Tengah pengangkatan dasar cekungan dimulai dari bagian barat Cekungan Kutai yang bergerak secara progresif ke arah Timur sepanjang waktu dan bertindak sebagai pusat pengendapan. Pada Miosen Awal, pemekaran regional Tersier Bawah Tengah pada Paparan Sunda telah berakhir. Pada Kala Oligosen hingga Awal Miosen ini terjadi transgresi marin pada kawasan yang luas dimana terendapkan sedimen marin klastik yang tebal dan perselingan sekuen batugamping.dimana daerah ini mengalami gangguan tektonik sehingga terangkat dan terpatahkan. Absennya fosil foraminifera plankton penunjuk umur dan perubahan facies yang sangat cepat secara lateral menyebabkan pembagian statigrafi di Cekungan Kutai sangat kompleks. Formasi ini merupakan sumber hidrokarbon yang potensial untuk di eksplorsi adalah gas, minyak dan Batubara. Kedalaman Formasi Balikpapan ini berada pada 3000 mpbl kebawah permukaan. Dengan lapisan batuan penyusun formasi ini berupa batupasir, perselingan batulempung-batulumpur, konglomerat dan sisipan batubara, serta memiliki kisaran umur Miosen Awal - Akhir. Batulempung berwarna kelabu, getas, mengandung sisipan bitumen dan oksida besi, tebal formasi ini diperkirakan sekitar 2.000 meter dengan lingkungan pengendapan muka daratan delta, dari kandungan fosil yang dijumpai menunjukkan bahwa umur formasi ini adalah Miosen Tengah sampai Miosen Akhir.Pada perselingan batupasir kuarsa,

18

batulempung dan lanau menunjukkan struktur silangsiur dan perairan, setempat mengandung sisipan batubara dengan ketebal antara 20 40 Cm. Sisipan Batubara ini merupakan fasies batupasir dan perselingan batulempung - batulumpur. Dua lapisan utama batubara dari bawah ke atas, yakni Seam A yang umumnya terendapkan pada fasies batupasir dan Seam B yang terdapat pada fasies perselinganrnbatulempung- batulumpur. Batubara ini termasuk litotipe brightbanded, sebagian kusam (dull) dengan warna hitam kecoklatan dan berat menengah sampai ringan. Secara fisik, lapisan batubara umumnya menyerpih dengan kekerasan dari getas sampai rapuh; memiliki sisipan (parting) batulempung dan batulumpur; memiliki ketebalan dari 80 cm sampai 200 cm. Selain itu juga terdapat Kelompok vitrinit yang menunjukkan kandungan tinggi dan berkisar dari 66,2 - 96,2 persen didominasi oleh vitrinit B. Sementara itu, inertinit dan eksinit hadir dalam kandungan hampir sama, dengau kisaran rendah sampai menengah. Reflektan vitrinit umumnya termasuk kategori rendah, yakni dalam kisaran 0,40 - 0,58 persen. Selanjutnya, bahan mineral yang didominasi oleh mineral lempung memperlihatkan kandungan rendah, dengan kisaran 0,4-6,6 persen.rnPeralihan dari kondisi basah dan sangat basah lingkungan rawa bertumbuhan tinggi ke arah kondisi lebih kering dengan tumbuhan rendah atau perdu ditunjukkan oleh kandungan vitrinit B tinggi, sedangkan vitrinit A kandhngannya rendah. Indek petrografi memperlihatkan bahwa bahan dasar batubara diduga terendapkan di zona rawa basah dengan influx klastika terbatas sampai rawa basah bertumbuhan tinggi. Berdasarkan komposisi batubara diduga lingkungan pengendapannva adalah fluviatil berkekelok sampai dataran delta bagian atas. Sedangkan Sebagian besar aluvium yang mengandung mineral-mineral berat berharga berasal dari wilayah-wilayah paparan benua tempat proses daur ulang mineral-mineral stabil memainkan peran penting dalam transportasi dan

pembentukan konsentrasi akhir mineral-mineral dimaksud. Pulau Kalimantan sebagai bagian dari paparan benua berpeluang besar menyediakan kondisi atau lingkungan pengendapan placer dengan kandungan zirkon karena dibentuk oleh terutama batuan beku dari seri kalk-alkali hingga alkali (granit, granodiorit, tonalit,

19

dan monzonit) yang dianggap sebagai sumber utama pemasok mineral zirkon; memiliki stabilitas wilayah untuk periode panjang yang menjadi persyaratan utama penunjang kesinambungan proses pelapukan, transportasi dan pembentukan lingkungan pengendapan aluvium dan terletak di wilayah beriklim tropis dengan kelembaban tinggi. Dalam kondisi tersebut proses pelapukan mekanik dan kimiawi memainkan peran penting placer dalam benua pemisahan kategori zirkon dari batuan fluviatil,

sumbernya.Endapan

dari

sublingkungan

diperkirakan dapat membentuk sebaran antara wilayah pegunungan dan laut, dengan jangkauan luas dan dimungkinkan membentuk reservoir bervolume besar mengandung zirkon. Teridentifikasinya zirkon (berasosiasi dengan emas atau intan) dari konsentrat hasil pendulangan placer dari aluvium di daerah-daerah tertentu pada sublingkungan fluviatil dalam kedua wilayah tersebut. Informasi penting ini memberikan inspirasi tentang kemungkinan eksplorasi sebaran pengendapan placer mengandung zirkon pada sublingkungan fluviatil di seluruh wilayah cekungan Kutai.

Gambar 5. Penampang Seismik 2-D Formasi Balikpapan. (http://geoseismikseasia.blogspot.com)

Pada penampang tersebut terdapat suatu lapisan menekan garis seismic regional (40 km), terdapat pola struktur empat aniclines yang utama dalam penampang Anticlinoium Samarinda. Di dalam ketidakhadiran dari korelasi data palaeontologi ke seberang antiklin-antiklin ini adalah sangat sulit untuk

menentukan kemiringan-kemiringan dari Inti antiklin-antiklin tersebut sehingga

20

kenampakan ersebut menunjukkan bahwa pengangkatan sedang terjadi pada akhir Early Miocene (Carter dan Morley, 1996).

Gambar 6. Log RST pada kedalaman 1195 hingga 1210 Memperlihatkan Bahwa Lapisan Ini Masih Mengandung Hidrokarbon Berupa Minyak Dengan Sw 40 % dan Porositas 35 %. (http://www.grdc.esdm.go.id)

21

BAB V KESIMPULAN
Berdasarkan interpretasi dan pengolahan data dari lokasi penelitian formasi Balikpapan, Cekungan Kutai dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Struktur geologi yang terdapat pada daerah penelitian adalah lipatan antiklin, sesar geser dan sesar turun. 2. Terbentuknya sesar turun dengan orientasi arah barat laut-tenggara dapat dianalisis yang bermula pada proses tektonik akhir Early Miosene. 3. Perangkap hidrokarbon yang terbentuk pada formasi Balikpapan berupa gabungan antiklin besar dengan sesar geser yang berarah barat laut Tenggara. Jenis lipatan antiklin yang menjadi perangkap hidrokarbon adalah jenis lipatan 4 arah simetris. 4. Dengan lapisan batuan penyusun formasi ini berupa batupasir, perselingan batulempung-batulumpur, konglomerat dan sisipan batubara, serta memiliki kisaran umur Miosen Awal - Akhir. 5. Formasi ini merupakan sumber hidrokarbon yang potensial untuk di eksplorsi adalah gas, minyak dan Batubara.

22