Anda di halaman 1dari 6

Biomekanika Dari sisi biomekanika mekanisme dari fraktur pad pelvis bias dibedakan atas compression, vertical sheer

atau kombinasi keduanya. Compression pada pelvis bias dibedakan atas lateral dan anterior-posterior compression.

Ada empat mekanisme dari fraktur, yaitu direct loading, indirect loading, repetitive loading, dan penetration. Dalam kecelakaan motor misalnya, apabila lutut kita menabrak benda keras, maka direct loading akan menyebabkan fraktur patella, sedangkan indirect loading bias menyebabkan fraktur batang femur atau atau asetabulum. Sedangkan untuk repetitive loading, biasanya terjadi karena adanya tekanan/aktifitas yang berulang-ulang

Sedangkan untuk kategorinya sendiri fraktur dibedakan atas 3, yaitu : isolated fracture : single fracture around the pelvic ring multiple fractures: multiple fracture around the pelvic ring, here the pelvic ring becomes unstable enabling large displacement of the fractured segments. Sacrum fracture occurs in extensive pelvic injuries, fracturing usually across the foramina or in the vicinity of the holes through which the sacral nerves pass. Mechanical strength atau kekuatan mekanik merupakan daya tahan tulang terhadap tekanan mekanis, yang berbeda pada setiap otot dan juga berbeda pada jenis kelamin wanita dan pria.

Terapi pada fraktur

Non operatif skeletal traction castbrace application

Operatif external fixation plate fixation intramedullary nail placement

Traksi Definisi dari traksi ialah Tarikan pada bagian distal anggota badan pasien dengan tujuan mengembalikan fragmen tulang ke tempat semula. Traksi ini memiliki tujuan : Reposisi fragmen tulang Imobilisasi fragmen tulang Imobilisasi sementara Mempertahankan gerakan sendi Traksi memiliki 2 cara, yaitu : 1. Traksi Kulit (skin traction) Traksi kulit dilakukan bila daya tarik yang diperlukan kecil. Beban pada traksi kulit sebesar 1/7
dari berat badan, maksimal 5 kg.

2. Traksi Skeletal (skeletal traction) Bila perlu daya tarik yang besar dan untuk jangka waktu lama dipasang traksi skeletal. Beban
pada traksi skeletal dapat 2 atau 3 kali lipat (1/5 dari berat badan).

Resusitasi cairan

Berbagai jenis Cairan untuk resusitasi, antara lainnya adalah : Kristaloid : Ringers Lactate, NaCl 0,9 % ( Normal saline ), Dekstrosa 5 % BM rendah ( < 8000 Dalton ) dengan atau tanpa glukosa Tekanan onkotik rendah, sehingga cepat terdistribusi ke seluruh ruang ekstraseluler Mengandung elektrolit: Ringer lactate, Ringers solution, NaCl 0,9 % Tidak mengandung elektrolit: Dekstrosa 5 % Koloid : HES/Hydroxyethyl Starch (Pelarut NaCl 0,9 %: Wida HES, HES Steril, Pelarut elektrolit berimbang: FIMAHES), Gelatin, Dekstran, Albumin Darah

Ringers Lactate Cairan paling fisiologis jika diperlukan volume besar. Banyak digunakan sebagai terapi cairan pengganti (resusitasi atau replacement therapy), misalnya pada: syok hipovolemik, diare, trauma dan luka bakar. Laktat dalam RL akan dimetabolisme oleh hati menjadi bikarbonat untuk memperbaiki keadaan, misal asidosis metabolik. Kalium dalam RL tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk kasus defisit kalium. Tidak mengandung glukosa, sehingga sebagai cairan rumatan (maintenance) harus ditambah glukosa untuk mencegah ketosis. Pemberian maksimal 2000 ml per hari

NaCl 0,9% (normal saline) Dipakai sebagai cairan resusitasi (replacement therapy ), terutama pada kasus: kadar Na+ rendah jika RL tidak cocok (alkalosis, retensi K+ ) cairan terpilih untuk trauma kepala untuk mengencerkan eritosit sebelum transfusi Mempunyai kekurangan: tidak mengandung HCO3 tidak mengandung K+ kadar Na+ dan Cl relatif tinggi, sehingga dapat terjadi asidosis hiperkloremia, asidosis dilusional, dan hipernatremia Pemberian maksimal 1500 ml per hari

Dextrosa 5% Dipergunakan sebagai cairan rumatan (maintenance) pada pasien dengan pembatasan asupan natrium atau sebagai cairan pengganti pada pure water deficit. Penggunaan perioperatif: berlangsungnya metabolisme menyediakan kebutuhan air mencegah hipoglikemi mempertahankan protein yang ada; dibutuhkan minimal 100 g karbohidrat untuk mencegah dipecahnya kandungan protein tubuh menurunkan kadar asam lemak bebas dan keton mencegah ketosis, dibutuhkan minimal 200 g karbohidrat