Anda di halaman 1dari 12

Agus Kurniawan, S.Sos.

I





Hadirin Sidang Jumat Yang Dirahmati Allah,
Selain dari Pesan Ketaqwaan yang terangkai dalam ayat yang
Khatib bacakan diatas tadi, ada satu lagi pesan yang masih
teramat penting, sebuah sambungan dari penjagaan diri kita
dalam ketaqwaan dalam hidup, yakni
Walaa tamuttunna illa wa antum muslimun
Janganlah kamu mengalami kematian melainkan kamu dalam
keadaan muslim. Kita diperintahkan bertaqwa, bukan sehari
dua hari, bukan setahun dua tahun, tapi seumur hidup !!!
Hingga kita kelak meninggal, Insya Allah dalam keadaan tetap
sebagai muslim...
Tentang kematian, Syaikh Abu Hamid Al Bilali dalam
Risalahnya pernah menceritakan tentang dua kematian yang
berlawanan, adalah seorang polisi yang mengalaminya. Suatu
Saat polisi ini berusaha menyelamatkan seorang pemuda
berusia 20 an tahun korban kecelakaan, darah mengucur dari
kepalanya, lalu diangkutlah pemuda ini menggunakan mobil,
selama perjalanan si Polisi melihat pemuda korban
kecelakaan tadi seakan telah sampai pada sakaratul maut,
maka dia mencoba menTalqin, mengantar si Pemuda ini
dengan ucapan:
Laa Ilaha Illa Allah Laa Ilaha Illa Allah Laa Ilaha Illa Allah
Namun, yang keluar dari mulut pemuda itu bukannya Kalimat
mulia, melainkan kalimat lirih yang tak dikenali awalnya, lalu
ketika didengarkan kembali dengan baik; si polisi mendengar
sebuah lagu barat keluar dari mulut penuh darah itu, begitu
seterusnya, lagu barat-lah pengantarnya menuju kematian.
Naudzubillah Tsumma Naudzubillah...

Manusia Bebas menentukan pilihan didalam hidupnya, tapi
manusia tidak bebas menentukan akibat akibat dari pilihan
itu. Manusia yang hidup di atas dunia ini bisa berlagak hebat
di hadapan manusia lainnya, manusia bisa membanggakan
harta yang dimiliki, rumah yang besar, atau pergaulan yang
luas dan jenis musik yang disuka, itulah pilihan hidupnya.
Namun, bukankah ada kematian?
Yang memutuskan kita dari semua yang kita banggakan, yang
membakar semua apa yang kita mewah mewahkan? Yang
memberi penyesalan pada diri atas semua yang telah kita
lakukan?
Hadirin Sekalian, demikianlah riwayat pemuda penyuka lagu
barat itu, yang membangun kehidupannya dengan lagu barat
itu, Allah hendak memberikan pelajaran pada kita dengan
Penjelasan Qauniyah Nya atas Ayat:
Walaa tamuttunna illa wa antum muslimun
Jangan lah engkau mengalami kematian melainkan engkau
dalam keadaan muslim
Kehidupan adalah mengenai kebiasaan kebiasaan yang kita
pilih dalam hidup, dan kematian adalah mengenai tanda apa
yang sudah kita berikan dalam kehidupan kita.
_.> :| ,l> `>.> ,.l _! , `-> __
_l-l `_.s !>l.. !., . !.| .l > !l!
_. _, _|| ,, .-,`,
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang
kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku
kembalikanlah Aku (ke dunia), Agar Aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang Telah Aku tinggalkan. sekali-kali tidak.
Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. dan di
hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan
Abu Hamid Al Bilaly kemudian melanjutkan kepada kematian
yang kedua, hadirin sekalian, beberapa bulan kemudian si
Polisi kembali mengalami kejadian serupa, seorang pemuda
usia 20 tahun mengalami kecelakaan. Mobilnya ditabrak,
Pemuda itu meregang nyawa...
Segera si Polisi bersama temannya mengantarkan tubuh
penuh luka itu ke Rumah Sakit terdekat, dalam perjalanan
kembali si Polisi melihat awan kematian telah menaungi
wajah si Pemuda, maka dia membisiki si pemuda dengan
kalimat mulia;
Laa Ilaha Illa Allah Laa Ilaha Illa Allah Laa Ilaha Illa Allah
Namun,
yang keluar dari mulut pemuda itu membuat si polisi
terduduk menatap lurus ke mulut si pemuda, yang keluar
dari mulut pemuda itu adalah untaian ayat ayat Allah,
bayangkanlah jika kita adalah polisi itu dan dari mulut penuh
darah dihadapan kita, keluar untaian:
Idza Waqaatil Waqiah, Laisa Liwaqatiha kadzibah,
Khafidaturrafiah, Idza rujatil Ardhu rajja, Wa Busatil Jibalu
Bassa,
Apa yang kita rasakan, Allah Maha Besar, Allah Maha besar,
dan air mata polisi itu beserta temannya mengalir deras,
sampai di rumah sakit, si pemuda tak lagi bernyawa,
menutup tilawah nya dengan kalimat
Laa Ilaha Illa Allah, didepan mata si Polisi. Pemuda itu kata
kakeknya adalah pemuda yang baik amalnya, Ibadahnya baik,
tilawah dan hafalan Qurannya nya baik, dan amal sosialnya
tak kurang, saat tabrakan itu terjadi, sebenarnya si Pemuda
sedang membawa sumbangan Makanan ke kampung
kakeknya, itu dilakukannya setiap Minggu.
Itulah kehidupan, jalan-nya bebas kita pilih, tapi akibat dari
perjalanan itu, kita tak akan mampu mengubahnya, yang
tersisa hanya rasa syukur jika jalan itu berakhir baik, atau
malah rasa menyesal jika jalan itu berakhir sengsara.
Sekali lagi Allah memperjelas Ayatnya dengan penjelasan
kenyataan, Qauniyah ; Wa laa tamuttunna illa wa antum
muslimun.
Janganlah engkau menghadapi kematian, melainkan kamu
dalam keadaan muslim.
Sungguh orang yang menertawakan kematian, perihnya siksa
kubur, sesalnya penghuni neraka, sungguh mereka belum
mendapatkan ilmu tentangnya
Imam Ahmad Meriwayatkan Sebuah Hadits dengan sanad Al-
Barra` Bin Azib ra, sahabat ini menceritakan uraian Rasulullah
tentang Nasib seseorang setelah meninggalnya:
Al Barra` ra mengatakan Bahwa suatu hari Rasulullah
mengajak para sahabat untuk berlindung dari siksa kubur
hingga 3x, [biasanya jika Rasulullah mengajarkan hingga 3x
maka hal itu teramat penting]
Lalu beginilah menurut Rasulullah perjalanan Ruh saat dan
setelah ajal menjemputnya:
Seorang mukmin, jika ajal menjemput, maka dia didatangi
malaikat dengan wajah bersinar, secerah matahari,
membawa kafan dan wewangian dari surga, dikatakan
padanya kata kata menyejukan jiwa wahai jiwa yang suci,
keluarlah menuju ampunan dan Ridha Tuhan mu, Ruhnya
keluar sebagai aliran air yang deras tanpa penghalang, langit
dipekati aroma wangi, dan dia dikenalkan sebagai sebaik
baik namanya. Allah kembalikan dia kebumi, ditanya malaikat
tentang pertanyaan kubur, dia mengetahui, dia
mengamalkan maka dia bisa menjawabnya lalu kuburnya
dilapangkan, pintu surga dibuka kan, dan datanglah amalnya
dalam sebaik baik bentuk, amal itu berkata engkau
bersegera dalam ketaatan dan enggan dalam kemaksiatan,
Allah mengganjarmu dalam kebaikan
Sebaliknya, jika Kafir dan Fasik menghadapi ajal, Malaikat
bermuka suram datang dan memelotinya, malaikat maut
tanpa salam mencabut rohnya yang keluar sebagaimana
Benang wol didekatkan dengan pemanggang, banyak yang
melekat, banyak yang tersangkut.
Langit disesaki dengan aroma busuknya, dikenal dia atas
segala amal buruknya, oleh Allah dijatuhkan dia kembali
kebumi.
Tiap pertanyaan, dia tidak bisa menjawab, jikapun dia tahu,
tapi karena tak berbuah amal, dia menjadi lupa, karena tak
berakar iman dia menjadi takut, karena tak berbibit
kebenaran dia menjadi lunglai. Dibukakanlah pintu neraka
dan disempitkan kuburnya, lalu datang seseorang berwajah
penuh nanah, dan berkata akulah amalmu
!>l. .! `.. ',. >,l. !..| >
!. `.. l.-. _
16. Masukklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya);
Maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu;
kamu diberi balasan terhadap apa yang Telah kamu kerjakan.
Diakhir Khutbah ini, Khatib menasehati diri khatib pribadi dan
hadirin sekalian atas perkara Maut ini, ada 3 yang perlu di
ingat:
Pertama, Maut, bila ia datang maka tak bisa di tunda atau
dimajukan barang sedetikpun, kita tidak tahu dimana
kematian menemui kita, mari kita berusaha dan berdoa
pasrah agar ketika kematian menemui, kita tidak sedang
dalam keadaan bermaksiat kepada Allah.

Kedua, sungguh Azab kubur itu pasti dan benar adanya,
sungguh Nikmat kubur itu pasti dan benar adanya, jangan
karena kepengecutan, lalu terlahirlah keraguan,
sesungguhnya dari jiwa peragu lah datangnya kekafiran,
kemelaratan dan kesengsaraan.

Ketiga,Adzab dan Nikmat Kubur adalah perkara Ghaib yang
tidak kita pahami dengan akal maka kita serahkan pada jiwa
dengan penyempurnaannya untuk mengimani. Ada
Keyakinan yang kita dapat buktikan tanpa harus mengalami
atau ainul yakin dan ilmul yakin, tapi ada keyakinan yang kita
pahami kelak ketika kita msudah mengalaminya, atau haqqul
yakin.
Mudah mudahan, cukuplah khutbah ini dalam
memperingatkan setiap kita untuk senantiasa bertaqwa dan
menjaga diri, hingga kematian menjelang, kita tetap dalam ke
islaman kita. Amin Allahumma Amin.
Akhir












Khutbah Kedua