Anda di halaman 1dari 7

A.

PENDAHULUAN Keseimbangan pendapatan nasional adalah suatu keadaan dimana keinginan masyarakat untuk melakukan perbelanjaan yang digambarkan oleh pengeluaran agregat sama dengan keinginan para pengusaha untuk memproduksi barang dan jasa. Dan dalam konteks ini kita akan membahas mengenai multiplier dan inflationary / deflationary gap. Dari satu periode ke periode lainnya keseimbangan pendapatan nasional akan selalu mengalami perubahan. Misalnya dalam perekonomian dua sektor, perubahan tersebut disebabkan oleh perubahan dalam investasi. Dan dalam perekonomian tiga atau empat sektor akan lebih banyak lagi faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan keseimbangan pendapatan nasional dan tingkat kegiatan perekonomian. Seperti perubahan pajak, perubahan pengeluaran pemerintah, perubahan ekspor dan impor. Dan itulah yang akan kita bahas dalam paper ini, bagaimana pengaruh perubahan dalam suatu pengeluaran agregat terhadap keseimbangan pendapatan nasional. Untuk menjelaskan pengaruh dari kenaikan atau kemerosotan dalam pengeluaran agregat ke tingkat keseimbangan pendapatan nasional itulah perlu adanya analisis mengenai multiplier. Dan dalam perekonomian pun tentunya akan ada masalah yang menghambat perkembangan dari perekonomian tersebut. Biasanya tingkat kegiatan ekonomi negara pun pada suatu waktu tertentu akan mengalami tiga keadaan yang berbeda seperti mencapai tingkat konsumsi tenaga kerja penuh, mengahadapi masalah pengangguran, dan menghadapi masalah inflasi. Permasalahan pengangguran pun akan menggambarkan bagaimana deflationary gap atau suatu jumlah kekurangan perbelanjaan agregat yang diperlukan untuk mencapai konsumsi tenaga kerja penuh. Dan permasalahan inflasi pun akan menggambarkan suatu inlationary gap.

B. MULTIPLIER 1. Pengertian Multiplier atau angka pengganda adalah hubungan variabel tertentu dengan variabel pendapatan nasional. Jika angka pengganda tersebut mempunyai angka yang tinggi, maka perubahan yang terjadi pada variabel tersebut akan memengaruhi terhadap tingkat pendapatan nasional juga besar dan sebaliknya. Perubahan pendapatn nasional tersebut ditunjukkan oleh suatu angka pelipat yang disebut dengan koefisien multiplier. Syarat-syarat agar kenaikan pendapatan nasional berlipat ganda jika dibandingkan dengan bertambahnya investasi adalah : a. Jika penerima pendapatan itu segera membelanjakan kembali uang yang diterima b. Jika uang yang diterima itu dibelanjakan untuk produksi dalam negeri. Jika dibelanjakan untuk produk luar negeri, maka proses penambahan pendapatan akan terjadi di luar negeri. Proses pemindahan keluar negeri ini disebut kebocoran (leakage) c. Proporsi tambahan pendapatan yang dibelanjakan kembali tetap. Analisis mengenai multiplier bertujuan untuk menerangkan pengaruh dari kenaikan atau kemerosotan dalam pengeluaran agregat ke tingkat keseimbangan dan terutama ke tingkat pendapatan nasional. 2. Multiplier Pada Perekonomian Dua Sektor Perekonomian dua sektor adalah perekonomian yang terdiri dari sektor perusahaan dan sektor rumah tangga. Dalam perekonomian ini tidak terdapat peran pemerintah, berarti dalam perekonomian ini tidak terdapat pajak dan pengeluaran pemerintah. Perekonomian ini pun tidak melakukan perdagangan luar negeri atau melakukan kegiatan ekspor-impor. Dalam perekonomian dua sektor yang menjadi komponen pengeluaran agregat terdiri dari : Perbelanjaan konsumsi rumah tangga untuk membeli barang/jasa, dan Perbelanjaan pengeluaran perusahaan untuk membeli barang modal. Proses multiplier berlaku sebagai akibat perubahan dalam pembelanjaan agregat. Misalkan para pengusaha meminjam dana dari bank-bank umum untuk membiayai perluasan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan mereka. Dan perluasan perusahaan tersebut dilakukan dengan menambah produksi dari tingkat yang dicapai sekarang kepada suatu tingkat yang lebih tinggi lagi. Untuk mencapai perluasan tersebut pengusaha tersebut haruslah menambah barang modal, menambah tenga kerja, dan menambah pembelian bahan mentah yang diperlukan.

Pembelian barang modal, penambahan tenaga kerja, dan pembelian bahan mentah akan menaikkan pendapatan nasional. Apabila semua uang yang dipinjam dari bank-bank perdagangan digunakan untuk membiayai kegiatan menambah produksi tersebut, tingkat pendapatan nasional akan bertambah sebanyak jumlah pinjaman yang dilakukan oleh para pengusaha tersebut untuk menambah produksi mereka. Pertambahan pendapatan nasional yang terjadi tersebut tidak akan berhenti sampai ditu saja. Dengan terjadinyaa pertambahan dalam pendapatan nasional tersebut maka dengan sendirinya pendapatan masyarakat akan bertambah pula, dan pertambahan ini akan menimbulkan pertambahan baru dalam konsumsi rumah tangga yang selanjutnya akan menimbulkan pertambahan lagi dalam pendapatan nasional. Proses perubahan pendapatan masyarakat, pengeluaran konsumsi dan selanjutnya pendapatan nasional akan terus berlangsung sehingga tidak terdapat lagi pertambahan pendapatan dalam masyarakat. Apabila keadaan itu tercapai para pengusaha tidak akan menambah lagi produksi mereka dan tingkat keseimbangan perekonomian negara yang baru akan tercapai. Tingkat pendapatan nasional baru yang telah tercapai telah mengalami pertambahan kalau dibandingkan dengan tingkat pendapatan nasional sebelumnya. Pertambahan tersebut berkali-kali lipat besarnya kalau dibandingkan dengan pertambahan pengeluaran agregat yang mula mula sekali terjadi. Dan apabila digambarkan dalam suatu grafik akan berbentuk:

Y = AE

AE1 = C + I1

Eb Pengeluaran Agregat E2 E1 A2 A1 A

AE0 = C + Ix

0 Ya Y0 Y1 Y2 Yb

Pendapatan Nasional

Grafik diatas memperlihatkan bagaimana cara berlakunya proses multiplier yang ditimbulkan oleh pertambahan pengeluaran agregat. Pada mulanya pengeluaran agregat adalah pada tingkat seperti yang digambarkan oleh AE0 = C + I. Dengan demikian tingkat keseimbangan perekonomian negara dicapai pada titik Ea dan oleh karenanya pendapatan nasional mencapai Ya. Seterusnya dimisalkan pula bahwa keadaan perekonomian akan semakin menggalakkan. Ini menyebabkan para pengusaha memutuskan untuk menambah jumlah investasi sebanyak I sehingga tingkat investasi bertambah dari I menjadi I1. Pertambahan investasi tersebut menaikkan pengeluaran agregat seperti yang ditunjukkan oleh fungsi AE1 = C + I1. Apabila pengeluaran agregat adalah AE1 = C + I1, pada pendapatan nasional Ya akan berlaku kelebihan pengeluaran agregat sebesar I. Dengan demikian, sebagai akibatnya akan berlaku kenaikan pengeluaran agregat, yaitu menjadi EaA. Para pengusaha didorong untuk menambah pendapatan nasional menjadi Y0. Pada pendapatan nasional seperti ini dapat dilihat bahwa pengeluaran agregat dalam perekonomian adalah seperti ditunjukkan oleh titik A1. Dengan demikian pengeluaran agregat pada keadaan itu bernilai E1, dan dapat dilihat bahwa E1 > Y0. Keadaan seperti ini berarti bahwa dalam perekonomian terdapat kelebihan permintaan dan oleh karenanya para pengusaha mendapat dorongan lagi untuk menaikkan produksi ke Y1, karena pada tingkat pendapatan tersebut E1 adalah sama dengan tingkat pendapatan nasional yang dicapai Y1. Tetapi apabila pendapatan nasional mencapai tingkat tersebut, pengeluaran agregat telah menjadi seperti yang ditunjukkan oleh titik A2, berarti bernilai sebesar E2. Dapat dilihat bahwa E2 > Y1. Pengeluaran agregat yang lebih besar daripada pendapatan nasional tersebut akan menggalakkan para pengusaha lagi untuk menaikkan produksi, dan ini akan menimbulkan kenaikan baru dalam pendapatan nasional, yaitu sekarang akan mencapai Y2. Pada tingkat pendapatan nasional ini juga kelebihan permintaan agregat masih terdapat, maka masih terdapat insentif untuk menaikkan produksi. Keseimbangan perekonomian negara yang baru hanya akan tercipta apabila tidak terdapat lagi kelebihan permintaan dalam masyarakat. Keadaan ini tercapai pada titik Eb dan pada tingkat keseimbangan itu pendapatan nasional adalah Yb. Dengan demikian pertambahan investasi perusahaan sebesar I akan menaikkan pendapatan nasional dari Ya menjadi Yb. Dan ini berarti bahwa nilai pertambahan pendapatan nasional adalah lebih besar daripada nilai pertambahan pengeluaran agregat yang pada mulanya berlaku. Nilai multiplier menggambarkan perbandingan di antara jumlah pertambahan / pengurangan dalam pendapatan nasional dengan jumlah pertambahan / pengurangan dalam pengeluaran agregat yang telah menimbulkan perubahan dalam pendapatan nasional tersebut. Misalnya apabila pendapatan nasional mengalami pertambahan sebesar 4 kali lipat dari pertambahan pengeluaran yang pada mulanya berlaku, maka nilai multiplier adalah 4.

3. Multiplier Dalam Perekonomian Tiga Sektor Perekonomian tiga sektor berarti perekonomian yang terdiri dari rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah. Dengan demikian dalam menganalisis perekonomian tiga sektor, pemerintah memiliki pengaruh atas kegiatan dalam suatu perekonomian. Dan campur tangan pemerintah dalam perekonomian menimbulkan dua perubahan dalam proses penentuan keseimbangan pendapatan nasional, yakni : a. Pungutan pajak yang dilakukan pemerintah akan mengurangi pengeluaran agregat melalui pengurangan ke atas konsumsi rumah tangga. b. Pajak memungkinkan pemerintah melakukan perbelanjaan dan ini akan menaikkan perbelanjaan agregat. Akan tetapi dalam perekonomian ini pun, kegiatan perdagangan luar negeri masih diabaikan. Ini berarti analisis yang dibuat masih memisalkan bahwa barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan tidak dijual ke luar negeri dan masyarakat atau perusahaan tidak membeli dan menggunakan barang dan jasa yang diimpor. Oleh karena itu perekonomian ini pun dinamakan perekonomian tertutup. Analisis keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian tiga sektor bertujuan untuk menunjukkan penentuan pendapatan nasional dalam perkonomian di mana terdapat pemerintah. Dan campur tangan pemerintah dalam perekonomian akan menimbulkan tiga jenis aliran baru dalam sirkulasi aliran pendapatan, yakni : a. Pembayaran pajak oleh rumah tangga dan perusahaan kepada pemerintah. Pembayaran pajak tersebut menimbulkan pendapatan kepada pemerintah dan merupakan sumber pendapatan pemerintah yang utama. b. Pengeluaran dari sektor pemerintah ke sektor perusahaan. Aliran ini menggambarkan nilai pengeluaran pemerintah ke barang dan jasa yang diproduksi oleh sektor perusahaan. c. Pendapatan dari sektor pemerintah ke sektor rumah tangga. Aliran timbul sebagai akibat dari pembayaran ke atas konsumsi faktor-faktor produksi yang dimiliki sektor rumah tangga oleh pemerintah. Dalam perekonomian tiga sektor, perubahan perbelanjaan agregat bukan saja diakibatkan oleh perubahan dalam investasi, tetapi juga oleh pajak dan pengeluaran pemerintah. Multiplier dalam perekonomian tiga sektor dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni:

a. Multiplier dalam sistem pajak tetap, dalam sistem pajak tetap, multiplier adalah sama dengan multiplier dalam perekonomian dua sektor 1 1-b

Mtp

b. Multiplier dalam sistem pajak proporsional, dalam sistem pajak proporsional

Mtp

1 (1 b) (1 t)

4. Multiplier Dalam Perekonomian Terbuka Negara dengan perekonomian terbuka berarti mempunyai hubungan ekonomi dengan negaranegara lain. Dalam perekonomian ini sebagian produksi dalam negeri diekspor atau dijual ke luar negeri dan di samping itu terdapat pula barang-barang yang diimpor dari negara lain. Komponen perekonomian terbuka adalah rumah tangga, perusahaan, pemerintah, dan sektor luar negeri. Perubahan pengeluaran rumah tangga, dan komponen-komponen lainnya akan menimbulkan perubahan dalam keseimbangan pendapatan nasional. Kenaikan dalam pengeluaran rumah tangga, investasi, pengeluaran pemerintah, atau ekspor akan menaikkan pendapatan nasional. Kenaikan pengeluaran agregat juga akan menimbulkan proses multiplier sehingga pada akhirnya menyebabkan pertambahan pendapatan nasional lebih besar dari pertambahan pengeluaran agregat yang berlaku. Dan dalam perekonomian terbuka, nilai multipliernya lebih kecil dari ekonomi tiga sektor. Karena dalam perekonomian terbuka misalnya impor adalah proporsional dengan pendapatan nasional berarti dengan adanya impor, tingkat bocoran menjadi semakin besar dan mengurangi tingkat pertambahan pengeluaran agregat. Oleh karena itulah nilai multiplier lebih kecil daripada nilai multiplier dalam perekonomian tertutup.

C. DEFLATIONARY GAP DAN INFLATIONARY GAP