Anda di halaman 1dari 7

,RUU Penanganan Konflik Sosial (RUU PKS) batal disahkan dalam Rapat Paripurna di DPR di Jakarta pada tanggal

3 Arpil 2012 lalu. Walaupun demikian RUU PKS ini diagendakan dibahas lagi untuk disahkan besok pada tanggal 10 April 2012. Ada banyak tentangan terhadap substansi RUU PKS ini yg membuat masyarakat sipil bergerak untuk meminta kepada DPR RI agar membatalkan RUU PKS itu. Masukan untuk RUU PKS dapat dialamatkan kepada:Panitia Khusus RUU Penanganan Konflik Sosial Email: pansus_konfliksosial@dpr.go.idTelepon: 021-5715543 - 5715743Fax: 021-5715755 Alamat: Jl. Jenderal Gatot Subroto - Senayan - Jakarta 10270 ELSAM - Lembaga Studi dan Advokasi MasyarakatTel: +62 21 7972662, 79192564Fax: +62 21 79192519E-mail : office@elsam.or.I'd Web page: www.elsam.or.I'd KontraS - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak KekerasanTlp: 021-3926983, 3928564Fax: 0213926821Email: kontras_98@kontras.orgWebsite: www.kontras.org Imparsial - The Indonesian Human Rights MonitorEmail: imparsial@gmail.com, officeTelephone: +62-2185918650 Fax: +62-21-85918656 Website: http://imparsial.org/ Di bawah ini point-point penting dalam wacana terkait RUU PKS:Anggota Komisi II DPR RI Basuki Purnama Rancangan Undang-undang (RUU) Penanganan Konflik Sosial (PKS) tumpang tindih dan tidak jelas. RUU ini menyontek UU penangan bencana yang jelas-jelas berbeda konteksnya antara penanganan bencana dengan konflik sosial. Anggota Komisi II DPR RI Basuki Purnama Rancangan Undang-undang (RUU) Penanganan Konflik Sosial (PKS) saat ini tak begitu penting. Hal terpenting dalam penanganan konflik adalah penegakan supremasi hukum secara adil. Perwakilan dari Propatria Hari Prihatono Konflik di Indonesia terjadi karena tidak ada ketegasan dari seorang pemimpin. Tidak ada negarawan yang mampu memimpin dan tegas dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya konflik tidak akan berlarut jika para pemimpin mampu memimpin dengan tegas. Selama ini para pemimpin tidak berani menindak tegas kesalahan-kesalahan di lapangan. Jika memang

bersalah kenapa tidak diusut dan pelakunya ditangkap," ungkapnya. Sehingga yang dibutuhkan sekarang ialah pemimpin yang tegas dan punya visi. Direktur Program Imparsial (the Indonesian Human Rights Monitor) Al Araf Penanganan konflik dengan cara membentuk regulasi baru bukanlah jalan keluar. "Alih-alih mengatasi konflik, hadirnya regulasi baru ini, justru berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam penanganan konflik," kata Al Araf dalam jumpa pers di kantor Imparsial, Jalan Raya Slamet Riyadi No 19, Matraman, Jakarta Timur, Kamis 17 November 2011. Al Araf memandang RUU tersebut hanya ditujukan untuk menciptakan stabilitas dan kepentingan pembangunan. Di titik ini, kepentingan mengamankan investasi modal baik asing atau dalam negeri cenderung terlihat. Selain itu, lanjutnya, RUU ini cenderung menunjukkan bahwa ada kesan pemerintah untuk lepas dari tanggung jawab. Dia melihat RUU ini juga mengandung bias 'sekuritisasi' karena dengan mudahnya Pemda dapat melibatkan TNI dalam penanganan konflik sosial. "Padahal pelibatan TNI dalam operasi militer selain perang hanya bisa dilakukan atas dasar keputusan otoritas politik negara dalam hal ini Presiden, bukan kepala daerah," katanya. Imparsial memandang RUU tersebut justru berpotensi menimbulkan masalah baru. Di antaranya adalah tumpang tindih fungsi, tugas dan kewenangan antar instansi pemerintah, baik horisontal maupun vertikal, mengabaikan pentingnya penegakan hukum sampai mengacaukan tata kelola keamanan negara antara TNI-Polri dan lainnya. "Regulasi yang sudah ada semestinya memadai untuk dijadikan landasan penanganan konflik. Peran setiap instansi baik di tingkat nasional maupun daerah telah diatur sesuai fungsi, tugas dan kewenangannya," katanya. Imparsial menambahkan jika problematika penanganan konflik selama ini bukan pada aspek regulasi, tetapi implementasi peraturan undang-undang yang sudah ada dan kinerja dari berbagai instansi pemerintah khususnya polisi. (umi) Ketua Panja RUU PKS, Eva Kusuma Sundari Dalam kaitan pernyataan keadaan konflik, rapat panja memutuskan hal itu menjadi kewenangan presiden, dan kepala-kepala pemerintahan di daerah konflik setelah rapat konsultasi yang dalam praktik umumnya melibatkan pimpinan bersama unsur pimpinan fraksi-fraksi dari badan legislatif setempat.

"Penetapan keadaan konflik dilakukan apabila keadaan tidak dapat dikendalikan oleh kepolisian, sehingga fungsi pemerintahan terganggu," ujarnya. Mekanisme rapat konsultasi di atas, ujarnya, juga berlaku dalam hal penggunaan kekuatan TNI. Pengerahan dan penggunaan kekuatan TNI selama keadaan konflik, akan dilaksanakan di bawah koordinasi dan pengendalian kepala kepolisian setempat. Diprotes, RUU PKS Batal Disahkan Rancangan Undang-Undang Penanganan Konflik Sosial (PKS) batal disahkan dalam Rapat Paripurna di DPR, Jakarta, Selasa (3/4/2012), setelah diprotes oleh banyak anggota Dewan. Substansi yang ditolak beberapa anggota Dewan perihal pelibatan Tentara Nasional Indonesia dalam penaganan konflik sosial. Wakil Ketua Komisi II Tubagus Hasanuddin. Dia menyoroti Pasal 34 Ayat 1 dan 2. Ayat 1 berbunyi "Dalam status keadaan konflik skala kabupaten/kota, bupati/wali kota berwenang meminta pengerahan dan penggunaan kekuatan TNI melalui Forum Koordinasi Pimpinan Daerah kabupaten/Kota." Adapun Ayat 2 "Dalam status keadaan konflik skala provinsi, gubernur berwenang meminta pengerahan dan penggunaan kekuatan TNI melalui Forum Koordinasi Pimpinan Daerah provinsi." Menurut Tubagus, substansi itu bertentangan dengan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI bahwa pelibatan TNI dalam operasi militer selain perang harus lebih dulu meminta pertimbangan DPR. "Seharusnya Ayat 1 dan 2 itu menggunakan UU Darurat tahun 1959 , (pelibatan TNI) harus dalam keadaan darurat," kata Tubagus. Anggota Komisi III Dimyati Natakusumah mempertanyakan bentuk forum koordinasi untuk memutuskan pelibatan TNI atau tidak. "Dalam UU kita tidak mengenal forum-forum tersebut," kata dia. Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq mempertanyakan terminologi baru status konflik sosial. Selama ini, kata dia, hanya dikenal status tertib sipil, darurat sipil, darurat militer, dan keadaan perang. "Ini bagaimana sinkronisasinya karena satu status akan bawa implikasi pada persoalan-persoalan, baik kebijakan maupun operasional," kata Mahfudz. Mahfudz juga mempertanyakan substansi Pasal 35 Ayat 2 bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai pengerahan dan penggunaan kekuatan TNI diatur dengan peraturan bersama Kapolri dan Panglima TNI. Menurut dia, pelibatan TNI seharusnya diatur oleh Menteri Pertahanan. Ketua Pansus PKS Adang Daradjatun mengakui bahwa substansi pasal yang mengatur pelibatan TNI menjadi perdebatan selama pembahasan. Namun, kata dia, sikap akhir seluruh mini fraksi telah sepakat atas RUU itu. Wakil Ketua DPR Priyo Budi

Santoso menyarankan agar RUU itu dibahas kembali oleh Pansus. Dia meminta Pansus mempertimbangkan ulang berbagai masukan anggota. Jika dapat selesai dalam waktu dekat, kata Priyo, RUU itu dapat kembali dibahas dan disahkan pada paripurna tanggal 10 April 2012 .Atas saran itu, seluruh anggota Dewan menyetujui. Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Haris Azhar KontraS memprotes keras atas rencana pengesahan RUU PKS secara sepihak oleh DPR RI pada Sidang Paripurna Selasa (3/4), meski akhirnya DPR RI menunda rencana pengesahan hingga 10 April 2012. Namun, KontraS tetap memandang pengesahan RUU tersebut secara terburu-buru. Keresahan KontraS, juga akan dirasakan banyak elemen masyarakat sipil lainnya mengingat selama ini elemen masyarakat sipil turut bahu membahu dalam mencari resolusi konflik dan merawat proses perdamaian pasca-konflik. Pengabaian masukan masyarakat sipil dalam berbagai ruang pertemuan dengan DPR, lanjut dia, adalah wujud pengingkaran mandat rakyat itu sendiri. Sebuah pengesahan RUU idealnya harus melibatkan partisipasi dan sosialisasi publik yang simultan, di mana ruang-ruang ini akan diisi berbagai alat uji "consequential harm test" dan "public interest test". Haris mencontohkan, khususnya di wilayah-wilayah Indonesia yang masuk dalam kategori konflik (Papua) dan pasca-konflik (Sambas, Sampit, Maluku, Aceh, Poso, hingga wilayah perbatasan Timor Leste, Atambua), sejauh pemantauan KontraS, belum ada proses sosialisasi dan penarikan masukan dari kelompok-kelompok masyarakat. Selain proses yang tidak partisipatif, KontraS memandang bahwa materi-materi (pasal-pasal) yang ada didalam RUU PKS juga masih bermasalah, terutama pasal-pasal yang berpotensi mencederai jaminan dan perlindungan hak asasi manusia warga Indonesia. Pertama, longgarnya definisi konflik sosial, dengan mencampuradukkan terma konflik sosial dengan tawuran antar kampung, namun melupakan dimensi konflik seperti kesukuan, etnis, bahkan agama. Kedua, kecerobohan DPR untuk memasukkan pasal 7 (ukuran memelihara kondisi damai), dengan menggunakan definisi Pasal 5 (sumber konflik sosial), adalah contoh kemalasan anggota DPR untuk memeriksa produk perundang-undangan/kebijakan lain yang terkait dengan kebijakan pengelolaan tanah dan sumber daya alam, isu perburuhan, penanganan kemiskinan, jaminan perlindungan kebebasan beragama dan berkeyakinan (termasuk di dalamnya larangan tentang syiar kebencian). Ketiga, potensi dalam Pasal 8 (pengembangan penyelesaian perselisihan secara damai) dengan

mengedepankan mekanisme "Alternative Dispute Resolution" (ADR) hendaknya tidak meminimalisir proses penegakan hukum (law enforcement) dengan berpegangan pada prinsip "rule of law", di mana untuk praktik kejahatan-kejahatan serius, negara wajib hukumnya untuk menyeret para pelaku ke meja pengadilan, demi tegaknya nilai-nilai keadilan. Keempat, RUU ini juga masih berantakan dalam menempatkan ruang koordinasi antar sektor keamanan. Hadir kesan sektor keamanan diberikan kewenangan serta merta melalui keputusan politik lokal (Forum Daerah/Gubernur/Bupati/Walikota) untuk mengentaskan konflik (Pasal 34). "Pasal ini dapat digunakan untuk kepentingan tertentu, dengan motif yang sudah bisa bayangkan bersama, misalnya pilkada dengan awalnya menggunakan sentimen konflik namun berujung pada penerapan situasi khusus dan penguasaan situasi lewat cara dan institusi keamanan/militer. Mobilisasi militer hanya boleh dilakukan secara sentralistik oleh Presiden dengan persetujuan DPR," papar Haris. Pembatasan dan pelarangan hak asasi manusia yang bisa diterapkan dalam Pasal 25 juga harus sejalan dengan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik/KIHSP (diratifikasi dengan UU 12 tahun 2005 tentang Pengesahan KIHSP). "Kami khawatir bahwa Pengesahan RUU PKS akan menimbulkan ketidaksempurnaan yang serius secara konstitusional dan berbenturan dengan UU lainnya seperti UU KUHP, KUHAP dan UU bidang Keamanan (UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, UU No 34 Tahun 2004 tentang TNI dan UU No 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara)," tutur Haris. (S037/F002) Koordinator Kontras Harris Azhar Kontras menuding RUU Penanganan Konflik Sosial mempunyai agenda tersembunyi yaitu untuk membela kepentingan pengusaha. RUU tersebut akan memungkinkan pengusaha membuka lahan di daerah-daerah untuk usaha tambang atau perkebunan kelapa sawit. Selama ini, pembukaan lahan selalu mengundang perlawanan dari masyarakat lokal seperti di kasus Mesuji di Lampung. Bila benar seperti ini, gerakan masyarakat sipil di daerah, yang menyuarakan hakhaknya, bisa ditafsirkan sebagai konflik sosial, sehingga TNI bisa digunakan untuk menghadapinya, tutur Haris. Ketua Panja RUU PKS Eva Kusuma Sundari Ketua Panja RUU PKS Eva Kusuma Sundari menyesalkan usulan Kontras yang meminta DPR menunda pengesahan RUU Penanganan Konflik Sosial. "Alasan itu tidak mendasar, karena pansus sudah studi lapangan ke Poso, Papua dan Aceh selain mengundang lebih dari 20 pihak ke DPR untuk konsultasi publik. Sebagai ketua panja, saya memutuskan sidang-sidang panja terbuka untuk publik. Secara pribadi, saya

telah membuat press release dalam jumlah yang melebihi jumlah sidang panja yang saya pimpin," Eva menegaskan, Sabtu (7/4/2012). Anggota Komisi I DPR, Helmy Fauzi Helmy Fauzi, mendesak agar Rancangan Undang-Undang Penanganan Konflik Sosial (RUU PKS) batal disahkan. Dia menilai, RUU PKS bertentangan dengan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI. "Dengan munculnya draf RUU PKS yang rencananya akan disahkan dalam rapat Paripurna pada tanggal 10 April 2012, memperlihatkan reformasi sektor keamanan yang kini berjalan hendak disabotase dan kembali diarahkan menuju kondisi sektor keamanan di era Orde Baru. TNI akan mudah mendominasi banyak wilayah yang notabene bukan kewenangannya," kata Helmy, dalam diskusi di Jakarta, Ahad (8/4). Direktur Program Imparsial Al Araf RUU PKS ini hampir sama dengan RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB) yang pembahasannya mendapat perlawanan hingga berujung pada kematian seorang mahasiswa. Insiden itu kemudian dinamakan Tragedi Semanggi 1999. Mahasiswa menolak RUU PKB yang dianggap memberi kekuasaan militer untuk mengambil kendali pemerintahan atas nama keamanan dan keselamatan negara. Salah satu poin RUU PKS itu berisikan aturan melibatkan kekuatan militer dalam menghadapi hal-hal yang dianggap konflik sosial. Menurut Al Araf, definisi konflik sosial dalam RUU PKS tersebut masih terlalu luas. "Demo mahasiswa nantinya bisa dikategorikan konflik sosial," ujarnya. RUU ini mengandung pasal menyatakan bahwa kepala daerah memiliki kewenangan untuk meminta pengerahan dan penggunaan TNI melalui Forum koordinasi pimpinan daerah dalam menangani konflik sosial di wilayahnya. Al Araf juga memandang pemberian kewenangan kepada kepala daerah untuk bisa mengerahkan TNI dalam penanganan konflik sosial merupakan bentuk pengambilalihan kewenangan Presiden. Hal itu, katanya, bertentangan dengan Konstitusi 1945 dan Undang-undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI yang menegaskan bahwa kewenangan pengerahan TNI ada di tangan Presiden. Dia juga mengatakan, pembahasan RUU ini sarat dengan perselingkuhan kepentingan ekonomi, politik,

dan pemegang modal. Selain itu, katanya, proses pembahasan RUU PKS ini cacat hukum karena tidak melibatkan masyarakat sipil. "Memang tidak ada ruang partisipasi, sosialisasi, memang diselundupkan untuk disahkan, dibahas diamdiam sehingga tidak ada resistensi," kata Al Araf. Anggota Komisi Pertahanan DPR, Helmy Fauzi Rancangan Undang-undang Penanggulangan Konflik Sosial (RUU PKS), banyak memiliki kecacatan substansi. Karena itu, jika RUU ini lolos menjadi UU, dikhawatirkan akan rawan disalahgunakan oleh kepala daerah. Peneliti Institute for Policy Research and Advocacy (ELSAM), Wahyudi Djafar ELSAM menolak RUU Penanggulangan Konflik Sosial (PKS), yang sebentar lagi akan diparipunakan oleh DPR. Penolakan RUU PKS, didasari atas banyaknya materi pasal dalam RUU tersebut yang sangat bermasalah. "Dari konsiderannya saja, RUU ini lebih menekankan pada penggunaan mekanisme pembatasan HAM, bukan penekanan pada keharusan negara memberikan jaminan perlindungan HAM menyeluruh," Dosen Resolusi Konflik Universitas Paramadina Al Araf Hampir sebagian besar pasal di dalam RUU PKS bermasalah mengenai kewenangan, termasuk ancaman terjadinya pelanggaran HAM. Pemberian kewenangan kepala daerah untuk mengerahkan TNI dalam menangani konflik sosial merupakan bentuk pengambilalihan kewenangan Presiden. Pemberian kewenangan kepada kepala daerah bertentangan dengan UUD 1945 dan UU No. 3 Tahun 2002