Anda di halaman 1dari 11

RANGKUMAN

A. LANDASAN FILSAFAT
I. PENDAHULUAN

Sesungguhnya filsafat sudah ada sejak jaman dahulu. Hal ini bisa dilihat dari gambaran dan cita-cita yang mereka miliki. Gambaran dan cita-cita mereka yang menggambarkan adat istiadat budaya, norma dan hukum yang mereka terapkan. Dalam kesempatan ini kita akan membahas empat pokok bahasan yaitu; filsafat, ilmu pendidikan, filsafat pendidikan dan upaya mewujudkan filsafat pendidikan di Indonesia. II. FILSAFAT, ILMU, DAN ILMU PENDIDIKAN Kita mengenal beberapan filosof terkenal di dunia diantaranya adalah Socrates yang mengajarkan agar kita mencari kebenaran dengan dialektis, Plato yang mengatakan bahwa kebenaran itu ada dalam alam ide serta Aristoteles yang terkenal dengan teori empirisme, yaitu kebenaran bisa dikenali melalui panca indra. Dari berbagai pendapat para pesohor dunia tersebut kita simpulkan bahwa filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai ke akar-akarnya. Kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan ilmu yang sifatnya relatif. Ada empat cabang filsafat secara garis besar yaitu; 1. Metafisika yang meninjau hakikat segala sesuatu yang terdapat di alam ini. Pandangan ini didukung oleh (callahan, 1983) yang berpendapat bahwa manusia itu sebenarnya adalah spiritual untuk mengaktualisasikan pandangannya. Hal ini diakui oleh kaum idealis, skolastik dan realis. Manusia itu adalah materi, pendidikan diperuntukkan untuk hidup. Hal ini di dukung oleh kaum naturalis, materialis, experimentalis, pragmatis dan beberapa realis. 2. Etimologi, yaitu filsafat yang membahas tentang pengetahuan dan kebenaran. Lima sumber pengetahuan adalah; otoritas (buku teks, ensiklopedia, rumus dan tabel), Common sense ( adat dan tradisi), intuisi (perasaan), pikiran (hasil pengalaman), dan pengalaman yang terkontrol. Sedangkan teori kebenaran meliputi; Koheren (konsisten dengan kebenaran umum), koresponden ( tepat

sesuai fakta), pragmatis( memberi manfaat pada kehidupan), skeptivisme (ilmiah dan tidak ada yang lengkap) 3. Logika yaitu filsafat yang membahas tentang bagaimana cara manusia berpikir yang benar. 4. Etika adalah filsafat yang menguraikan tentang prilaku manusia. Berikutnya marilah kita pelajari hubungan antara filsafat dan ilmu. Ilmu lahir karena ketidakpuasan para pemikir akan kebenaran pada filsafat, yang selanjutnya terbentuklah berbagai bidang ilmu. Jujun dalam Pidarta (2009-79) yang meminjam pemikiran Will Durant, mengatakan bahwa suatu ilmu baru bisa muncul setelah terjadi pengkajian dalam filsafat. Oleh karena itu filsafat dikatakan sebagai induk dari semua bidang ilmu. Hal ini dibuktikan apabila ilmu masih dalam taraf peralihan, ilmu masih menggunakan norma-norma filsafat dan penemuan-penemuan ilmiah masih harus masih dikonfirmasikan kepada norma-norma filsafat. Selanjutnya Jujun menambahkan tahap perkembangan ilmu melalui tingkat empiris (belum utuh) dan tingkat penjelasan teoritis (sudah berstruktur). Selanjutnya marilah kita bahas filsafat bagi manusia. Filsafat diperuntukkan untuk memahami , mengembangkan dan meningkatkan taraf hidup manusia. Contoh yang bisa kita tunjukkan adalah bagaimana orang Athena memperhatikan kemerdekaan, pada zaman humanis bertujuan untuk membuat hidup lebih harmonis. Demikian pula pada zamanzaman berikutnya. Ilmu pendidikan adalah ilmu yang secara total sudah memisahkan diri dari filsafat. Dalam tahap berikutnya terjadi beberapa teori pendidikan diantaranya; 1. Schopenhauer : anak sudah dibekali sesuatu sejak lahir.(nativisme) 2. John Locke : teori tabularasa (meja lilin) (empirisme) Kedua teori ini sungguh bertentangan selanjutnya muncul 3. William Stern diikuti Woodworth dan Marquis dengan teori konvergensi ( keseimbangan antara pembawaan dan lingkungan. Dalam dunia modern teori klasik tersebut masih mempengaruhi. 4. B.F. Skinner dalam teori behaviorisme bahwa pengetahuan manusia diperoleh melalui lingkungan, perilaku, saraf, dan fisik manusia. Dan tidak percaya pada teori pembawaan Zanti Arbi dalam Pidarta (2009-82) 5. Jensen, Christopher Jencks dalam penelitiannya juga mendukung antara kedua faktor tersebut. Yang terakhir marilah kita kaji pendapat Sikun Pribadi dalam Pidarta (2009-83) yang menggambarkan hubungan antara filsafat yang mewarnai segala perbuatan manusia, filsafat pendidikan yang tidak boleh bertentangan dengan filsafat itu sendiri, perbuatan mendidik adalah tindakan nyata dalam menerapkan teori

pendidikan praktis, pengalaman mendidik yang memberikan umpan balik pada teori dan keyakinan pendidik yang memberikan bahan baru kepada filsafat
B. FILSAFAT PENDIDIKAN Filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungansecara mendalam sampai ke akarakarnya mengenai pendidikan. Ada sejumlah filsafat pendidikan yang dianut oleh bangsa-bangsa di dunia. Namun demikian semua filsafat itu akan menjawab tiga pertanyaan pokok sebagai berikut : 1. Apakah pendidikan itu? 2. Apa yang hendak ia capai? 3. Bagaimana cara terbaik merealisasi tujuan-tujuan itu?

Masing-masing pertanyaan ini dapat dirinci lebih lanjut. Berbagai pertanyaan yang bertalian dengan apakah pendidikan itu, antara lain : 1. Bagaimana sifat pendidikan itu? 2. Apakah pendidikan itu merupakan sosialisasi? 3. Apakah pendidiakn itu sebagai pengembangan individu? 4. Bagaimana mendefinisikan pendidikan itu? 5. Apakah pendidikan itu berperan penting dalam membina perkembangan anak? 6. Apakah pendidikan itu mengisi perkembanan atau mengarahkan perkembangan siswa? 7. Apakah perlu membedakan pendidikan teori dengan pendidikan praktik?

Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang hendak dicapai oleh pendidikan, antara lain : 1. Berapa proporsi pendidikan yang bersifat umum? 2. Berapa proporsi pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu? 3. Apakah peserta didik diperbolehkan berkembang bebas? 4. Apakah perkembangan peserta didik diarahkan ke nilai tertentu? 5. Bagaimanakah sifat manusia itu? 6. Dapatkah manusia itu diperbaiki?

7. Apakah manusia itu sama atau unik? 8. Adakah ilmu dan teknologi satu-satunya kebenaran utama dalam era globalisasi ini? 9. Apakah tidak ada kebenaran lain yang dapat dianut pada perkembangan manusia?

Pertanyaan-pertanyaan yang bertalian dengan cara terbaik merealisasi tujuan pendidiakn, antara lain : 1. Apakah pendidikan harus berpusat pada mata pelajaran atau pada peserta didik? 2. Apakah kurikulum ditentukan lebih dahulu atau berupa pilihan bebas? 3. Atau peserta didik menentukan kurikulumnya sendiri 4. Apakah lembaga pendidikan permanen atau bersifat tentatif 5. Apakah proses peniddikan berbaur pada masyarakat yang sedang berubah cepat? 6. Apakah diperlukan kondisi-kondisi tertentu dalam membina perkembangan anak-anak? 7. Siapa saja yang perlu dilibatkan dalam mendidik anak-anak? 8. Perkembangan apa saja yang diperlukan dalam proses pendidikan? 9. Apakah diperlukan nilai-nilai penuntun dalam proses pendidikan? 10. Bagaimana sebaiknya proses pendidikan itu, otoriter, primitive atau demokratis? 11. Belajar menekankan prestasi atau terpusat pada pengembangan cara belajar dan kepuasan akan hasil belajar?

Maksud Filsafat Pendidikan 1. Menginsipirasikan Maksud dari menginspirasikan adalah memberi inspirasi kepadapara pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan. Melalui filsafat tentang pendidikan, filosof memaparkan idenya bagaimana pendidikan itu, kemana diarahkan pendiidkan itu, siapa saja yang patut menerima pendidikan dan bagaimana cara mendidik serta peran pendidik. 2. Menganalisis Menganalisis dalam filsafat pendidikan adalah memeriksa secara teliti bagaian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya. 3. Mempreskriptifkan

Mempreskriptifkan dalam filsafat pendidikan adalah upaya menjelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat pendidikan. Yang dijelaskan bisa berupa hakikat manusia bila dibandingkan dengan makhluk lain, aspek-aspek peserta didik yang patut dikembangkan : proses perkembangan itu sendiri, batas-batas keterlibatkan pendidik, arah pendidikan yang jelas, target-target pendidikan bila dipandang perlu, perbedaan arah pendidikanb bila diperlukan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat anak-anak 4. Menginvestigasi Maksud menginvestigasi dalam filsafat pendidikan adalah untuk memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan. Pendidik tidak dibenarkan mengambil begitu saja suatu konsep atau teori pendidikan untuk dipraktekkan di lapangan. Pendidik seharusnya mencari sendiri konsep-konsep pendidikan di lapangan atau melalui penelitian-penelitian.

Aliran Filsafat Pendidikan 1. Esensialis Filsafat pendidikan esensialis bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabadabad lamanya. Kebenaran yang itulah yang esensial, yang lain adalah suatu kebenaran secarakebetulan saja. Kebenaran yang esensial itu adalah kebudayaan klasik yang muncul pada zaman Romawi yang menggunakan buku-buku klasik ditulis dengan bahasa latin yang dikenal dengan nama Great Book. Buku ini sudah berabad-abad lamanya mampu membentuk manusiamanusia berkaliber internasional Pengaruh filsafat ini sangat kuat sampai sekarang. Sekolah-sekolah dengan kurikulum dan metode tradisionalnya merupakan perwujudan filsafat pendidikan ini. Sementara itu

kebudayaan klasik yang dipandang esensial seperti itu di dunia timur adalah Mahabarata dan Ramayana.

2. Perenialis Filsafat pendidikan Perenialis tidak jauh berbeda dengan filsafat pendidikan esensialis. Kebenaran Perenialis ada pada wahyu Tuhan. Tentang bagaimana cara menumbuhkan

kebenaran itu pada diri peserta ddik dalam proses belajar mengajar tidak jauh berbeda antara Esensialis yang sama-sama bersifat tradisional. Filsafat ini muncul pada abad pertengahan pada zaman keemasan agama Katolik-Kristen. Pada zaman ini tokoh-tokoh agama menguasai hamper menguasai semua bidang kemasyarakatan. Sehingga sangat logis kalau sekolah-sekolah yang berintikan ajaran agama muncul di sana-sini. Ajaran agama itulah merupakan suatu kebenaran yang patut dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tokoh filsafat ini adalah Agustinis dan Thomas Aquino. Pengaruh filsafat ini menyebar ke seluruh dunia. Bukan saja di kalangan Katolik dan Protestan, tetapi juga pada agama-agama lain. Demikianlah kita lihat di Indonesia banyak sekolah diwarnai oleh keagamaan seperti Muhamadiyah dan Nahdatul Ulama disamping sekolah-sekolah Katolik dan Kristen.

3. Progresivis Filsafat pendidikan Progresivis lahir di Amerika Serikat. Filsafat ini sejalan dengan jiwa bangsa Amerika pada waktu itu, sebagai bangsa dinamis berjuang mencari hidup baru di negeri seberang. Bagi mereka tidak ada hidup yang tetap, apalagi nilai-nilai yang abadi. Yang ada adalah perubahan. Progrevisme mempunyai jiwa perubahan relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata. Menurut filsafat ini tidak ada tujuan yang pasti. Tujuan dan kebenaran itu bersifat relative. Apa yang sekarang dipandang benar karena dituju dalam kehidupan, tahun depan belum tentu masih dianggap benar. Ukuran kebenaran ialah yang berguna bagi kehidupan manusia hari ini. Karena tujuan tidak pasti, maka cara atau alat untuk mencapai tujuan itu pun tidak pasti pula. Tokoh filsafat pendidikan Progresivis ini adalah John Dewey. Sebagai konsekuensi dari pandangan ini, maka yang dipentingkan dalam pendidikan adalah mengembangkan peserta didik untuk bias berpikir, yaitu bagaimana berpikir yang baik. Hal ini bisa dicapai melalui metode belajar pemecahan masalah yang dilakukan oleh anak-anak itu sendiri. Karena itu pendidikan menjadi terpusat pada anak. Untuk mempercepat proses pengembangan mereka juga menekankan prinsip mendisiplinkan diri sendiri, sosialisasi dan demokratisasi. Perbedaan-perbedaan individual juga sangat mereka perhatikan dalam pendidikan.

Kurilulumnya adalah kehidupan itu sendiri, artinya kurikulum tidak dibatasi pada hal-hal yang bersifat akademik saja.

4. Rekonstruksionis Filsafat pendidikan Rekonstruksionis merupakan variasi dari Progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki ( Calahan,1983). Mereka bercita-cita mengkonstruksi kembali kehidupan manusia secara total. Semua bidang kehidupan harus diubah dan dibuat baru aliran yang ekstrim ini berupaya merombak tata susunan masyarakat lama dan membangun tata susunan hidup yang baru sama sekali, melaui lembaga dan proses pendidikan. Proses belajar dan segala sesuatu bertalian dengan pendidikan tidak banyak berbeda dengan aliran Progresivis.

5. Eksistensialis Filsafat pendidikan Eksistensialis berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Seseorang akan menjadi tahu tentang sesuatu melalui pengalaman. Kebenaran menurut mereka adalah relative bergantung kepada tingkat kesadaran masing-masing. Pendidikan menurut filsafat ini bertujuan mengembangkan kesadaran individu, memberi kebebasan untuk bebas memilih etika, mendorong pengetahuan diri sendiri. Materi yang dipelajari ditekankan kepada kebutuhan langsung dalam kehidupan manusia. Guru harus bersifat demokratis dengan teknik mengajar tidak langsung.

C. Filsafat Pendidikan di Indonesia Bangsa Indonesia baru memiliki filsafat umum atau filsafat negara ialah Pancasila. Sebagai filsafat negara, Pancasila patut menjadi jiwa bangsa Indonesia, menjadi semangat dalam berkaryapada segala bidang, dan mewarnai segala segi kehidupan. Tetapi dalam praktik cukup sulit hal itu dilaksanakan. Mengapa demikian ? Karena tindakan manusia dalam praktik kehidupan sehari-hari perlu ditanamkan, dikembangkan, dan dibiasakan sejak kecil.

Bisa saja pemasyarakatan dan pembudayaan Pancasila dilakukan dengan cara memasukannya ke dalam setiap tindakan, tetapi cara ini tidak akan menjamin efektivitas dan efisiensi pekerjaan itu. Belum ada upaya mengoperasionalkan Pancasila agar mudah diterapkan dalam kegiatan kegiatan di masyarakat, termasuk penerapannya dalam dunia pendidikan. Pendidik mengajarkan-nya, peserta didik menyerap pengetahuan itu. Namun, sekarang sudah mulai ada perbaikan terhadap pengembangan afeksi itu, tidak lagi hanya menilai penguasaan materi, melainkan mengutamakan perilaku sehari-hari. Sementara itu dunia pendidikan di Indonesia belum punya konsep atau teori-teori sendiri yang cocok dengan kondisi, kebiasaan atau budaya Indonesai tentang pengertian pendidikan dan cara-cara mencapai tujuan pendidikan. Sebagian besar konsep atau teori diimpor dari luar negeri. Teori-teori bisa didapat dengan cara belajar di luar negeri atau dengan cara melakukan studi banding. Inilah sumber-sumber konsep pendidikan di Indonesia. Begitu pula tentang konsep-konsep pendidikan yang ditatarkan dalam penataran-penataran pendidikan juga bersumber dari buku-buku. Memang benar ada sejumlah konsep pendidikan yang tumbuh dan berkembang dari dalam negeri sendiri. Tetapi konsep itu belum dikaji lebih lanjut melalui penelitian pendidikan. Efektivitas kepemimpinan Tut Wuri Handayani misalnya, belum banyak diteliti dan dikomunikasikan. Kepemimpinan Asta Barata juga belum banyak diteliti orang. Sehingga konsep-konsep pendidikan yang tumbuh di negeri sendiri hanya dipadang sebagai kebudayaan saja oleh dunia pendidikan internasional. Sebagia berorientasi pada ilmu pendidikan di Eropa dan di Amerika Serikat. Orientasi yang tidak sama ini lebih meningkatkan kerumitan upaya membentuk ilmu pendidikan di Indonesia lengkap dengan filsafat pendidikannya. Buchori menyatakan adanya penyederhanaan dalam pendidikan sebagai akibat dari orientasi ke Amerika Serikat. Pendidikan cenderung hanya mempersoalkan masalah-masalah operasional, khususnya tentang proses belajar-belajar dikelas (Soedomo, 1990). Untuk Amerika Serikat yang menganut filsafat Pragmatis dengan filsafat pendidikan Progresivis penyerderhanaan makna pendidikan tersebut diatas bisa diterima. Pendidikan dan alat pendidikan mereka sangat mungkin akan berganti terus untuk selalu menemukan yang lebih baik bagi kehidupan manusia. Hal ini yang membuat mereka memandang pendidikan itu hanya sebagai cara untuk membuat anak-anak belajar, sebagai proses belajar-mengajar. Negara Indonesia tidak sama seperti Amerika Serikat. Indonesia punya cita-cita yang pasti dalam pendidikan yaitu manusia Indonesia seutuhnya yang dijiwai oleh sila-sila Pancasila. Pendidikan di Indonesia perlu diwujudkan dalam bentuk ilmu pendidikan seperti halnya dengan model pendidikan di Eropa. Hanya saja Ilmu Pendidikan di Indonesia harus menunjukan ciri khas negara Indonesia termasuk Pancasilanya. Buchori menunjukan kepada kita bahwa kegitan pendidikan di Indonesia hanya baru satu segi saja, yaitu segi oprasionalnya. Itupun hanya terjadi pada jalur pendidikan formal. Jalur pendidikan nonformal dan informal belum banyak yang digarap (Soedomo, 1990).

Ilmu pendidikan sebagai suatu ilmu yang utuh terdiri dari landasan, struktur, dan operasional pendidikan. Landasan akan memberi latar belakang, fondasi, atau titik tolak mengapa suatu pendidikan dibutuhkan. Struktur ialah isi ilmu itu dengan sistematikannya serta proporsi bagian-bagiannya yang mendukung pendidikan sebagai suatu ilmu. Pernyataan Buchori adalah operasional atau praktik pendidikan. Suatu praktik tanpa landasan dan teori. Kelihatan memang aneh, tetapi hal itu dapat berjalan dengan relatif lancar. Ilmu pendidikan tidak persis sama dengan ilmu-ilmu yang lain. Kalau ilmu-ilmu yang lain bersifat empiris yaitu menerangkan apa adanya dari data yang didapat dilapangan dan bila mungkin meramalkan hal-hal yang akan terjadi. Bersifat normatif artinya mengupayakan agar norma-norma tertentu dapat diinternalisasi dan dilaksanakan oleh peserta didik dalam kehidupannya sehari-hari. Jadi ilmu pendidikan mengandung unsur-unsur fakta dan upaya. Tiga metode dalam ilmu pendidikan seperti berikut (soedomo, 1990). 1. Metode normatif, suatu metode yang berusaha menjelaskan tentang keberadaan manusia, bagaimana seharusnya manusia itu bersikap dan bertindak terhadap dirinya dan terhadap sesama manusia maupun makhluk lain. Di Indonesia misalnya, tugas metode normatif ini adalah menjabarkan nilai-nilai Pancasila sehingga mudah diterapkan dalam pendidikan. 2. Metode eksplanatori, suatu metode yang berusaha menentukan kondisi dan kekuatan apa yang dapat membuat suatu proses pendidikan berhasil. 3. Metode teknologi, ialah cara mendidik itu sendiri yaitu praktik mendidik di lapangan. Dari uraian tersebut diatas tampaklah bagi kita bahwa terjadi ketidaksamaan pandangan diantara para ahli pendidikan tentang pendidikan itu sendiri. Yang berkiblat ke Amerika Serikat memandang pendidikan sebagai cara mengajar dan belajar. Sebagian lagi berorientasi pada pendidikan di Eropa yang memandang pendidikan sebagai suatu ilmu yang utuh yaitu ilmu pendidikan. Sebagai konsekuensi kedua hal tersebut diatas adalah kekaburan yang menyelimuti para pelaksana pendidikan dilapangan. Untuk bisa membentuk teori pendidikan Indonesia yang valid, terlebih dahulu dibutuhkan filsafat pendidikan yang bercorak Indonesia yang memadai. Filsafat ini akan menguraikan tentang: 1. Pengertian pendidikan yang jelas, yang satu, dan berlaku di seluruh tanah air. 2. Tujuan pendidikan, yaitu pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang diwarnai oleh sila-sila Pancasila. 3. Model pendidikan, yang membahas tentang model pendidikan di Indonesia yang tepat. Apakah model tunggal atau majemuk. 4. Cara mencapai tujuan, yaitu segi teknik dan pendidikan itu sendiri. Teknik mendidik seringkali berkaitan dengan siapa yang dididik, apa yang dipelajari, dan bagaimana filsafat pendidikan itu sendiri.

D.

Upaya mewujudkan Filsafat Pendidikan di Indonesia

Upaya mewujudkan filsafat pendidikan di Indonesia masih simpang siur karena pandangan para pendidik terhadap pendidikan itu sendiri. Ada suatu hasil penelitian bertalian dengan hal diatas oleh Jasin dan kawan-kawannya (1994) dengan responden para Mahasiswa PGSD, S1, S2, S3, IKIP Jakarta dan para ahli pendidikan di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, ditemukan hal-hal seperti berikut: 1. Hampir separuh responden menginginkan penyegaran kembali pengertian pendidikan dan pengajaran. 2. Hampir separuh mahasiswa dan dosen berpendapat bahwa Ilmu pendidikan kurang dikembangkan. 3. Para dosen dan mahasiswa berpendapat ilmu pendidikan adalah Ilmu mandiri atau ilmu terapan. 4. Semua responden menyatakan kurang mengenal struktur ilmu pendidikan. Dari hasil penelitian tersebut dapat ditarik sejumlah masalah bertalian dengan ilmu pendidikan yaitu: 1. Belum jelas, pengertian pendidikan dan pengajaran. 2. Ilmu pendidikan kurang dikembangkan. 3. Ilmu pendidikan kurang fungsional untuk menyiapkan para calon guru 4. Belum jelas apakah ilmu pendidikan merupakan Ilmu dasar atau ilmu terapan. 5. Struktur ilmu pendidikan kurang dikenal. 6. Belum jelas apakah guru mendidik dan mengajar atau hanya mengajar saja. Keenam masalah tersebut bahwa pendidikan, khususnya pendidikan sebagai ilmu ditangani, mulai dari pengertian pendidikan, juga pengertian pengajaran apakah sebagai Ilmu dasar atau ilmu terapan, struktur ilmu itu sampai dengan penerapannya pada calon guru dan guru guru belum jelas. Untuk mengembangkan ilmu pendidikan yang bercorak Indonesia secara valid, terlebih dahulu dibutuhkan pemikiran dan perenungan yang mendalam tentang ilmu itu untuk menemukan teoriteori pendidikan yang bercorak Indonesia dibutuhkan terlebih dahulu rumusan filsafat pendidikan yang bercorak Indonesia pula. Kunci utama untuk memulai kegiatan pengembangan filsafat pendidikan itu belum ada, ada lagi kunci yang kedua sila-sila Pancasila pernah dijabarkan menjadi 45 butir tetapi penjabaran itu belum tentu sesuai dengan kebiasaan kerja pada ahli pendidikan yang membuat hasil kerja mereka lebih mudah diterapkan dilapangan. Andaikata isyarat untuk mewujudkan filsafat pendidikan sudah ada atau ada suatu kelompok yang berupaya merumuskan filsafat itu, maka ada beberapa hal yang perlu dipikirkan yaitu:

1. Apakah filsafat pendidikan yang akan dibentuk, sesuai dengan kondisi dan budaya Indonesia akan diberi nama filsafat pendidikan pancasila atau dengan nama lain? 2. Apakah filsafat pendidikan itu diambil dari filsfat pendidikan internasional yang sudah ada, dengan memilih salah satu dari esensialis, perenialis, progresivise, rekonstruksionis dan eksistensialis? sehingga tinggal merevisi agar cocok dengan kondisi Indonesia. 3. Ataukah filsafat itu dimunculkan bersumber dari filsafat-filsafat umum yang berlaku secara internasional, seperti yang dilaksanakan oleh Negara Australia. Ahli pendidikan di Australia menyatakan filsafat yang mendasari pendidikan mereka adalah liberal. Demokrasi dan multicultural (Made Pidarta, 1995) seakan-akan mereka tidak memiliki filsafat khusus tentang pendidikan ISPI (1989) mengingatkan bahwa tugas utama para ahli Ilmu Pendidikan adalah: 1. Mengungkapkan pemikiran yang sistimatik dan mendasar mengenai implikasi filsafat Pancasila dalam filsafat pendidikan nasional yang akan dibentuk. 2. Dalam menggunakan sumber-sumber dari luar termasuk teori pendidikan dan perlu diadakan saringansaringan agar sesuai dengan filsafat Negara kita.

E. IMPLIKASI KONSEP PENDIDIKAN

Filsafat yang cocok dengan bangsa Indonesia adalah filsafat pancasila. Oleh sebab itu dalam konsep pendidikan Indonesia terbatas pada penjabaran sila-sila dalam Pancasila. Yaitu; 1. Dibutuhkan kemauan pemrintah untuk menggerakkan filsafat pendidikan. 2. Pendidikan afeksi yang merupakan pengembangan pancasila tidak boleh dinomorduakan. Yang bisa dikembangkan melalui pembelajaran bidang studi yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan diselipkan dalam bidang studi lain. Dievaluasi secara nyata. Dan apabila materi afeksi tersebut berasal dari luar negeri harus melalui seleksi yang ketat. Dalam mengembangkannya sebaiknya diciptakan kondisi yang mendukung pembelajaran tersebut. 3. Tidak boleh bertentangan dengan agama. 4. Sebaiknya dilengkapi dengan nilai-nilai adat istiadat leluhur.

Anda mungkin juga menyukai