Anda di halaman 1dari 6

Sejarah Akuntansi di China Sudah dimulai sejak 2200 SM selama masa Dinasti Hsiu dan sejumlah dokumen

menunjukkan bahwa akuntansi digunakan untuk mengukur kekayaan dan membandingkan pencapaian di kalangan bangsawan dan putri-putri pada amasa Dinasti Xia (tahun 2000-1500SM). Konfusius muda (551-479SM) juga memberikan pencatatan pembukuan sebagai salah satu ajarannya.
Akuntansi china pada masa tahun 1940an (1949) dicirikan sebagai berikut: o Menggunakan pengaturan yang terpusat sebagai cermin dari Marxisme o Negara mengendalikan kepemilikan, hak untuk menggunakan dan distribusi

seluruh alat produksi dan memberlakukan perencanaan dan kendali yang kaku atas perekonomian o Penjualan dan penentuan harganya ditentukan oleh pihak perencana yang berwenang dan pendanaan serta pembiayaan produk diatur oleh departemen keuangan Negara. o Akuntansi digunakan untuk memenuhi kebutuhan Negara atas perencanaan dan pengendalian ekonomi. o Satu kelompok akun yang standar dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi ke dalam rencana ekonomi nasional. o Sistem akuntansi yang seragam berisi seluruh aturan akuntansi yang mencakup semua hal yang wajib diikuti oleh perusahaan-perusahaan milik Negara di seluruh Negara Cina.
-

Pada tahun 1992 Kementrian Keuangan mengeluarkan Standar Akuntansi untuk Perusahaan Bisnis (Accounting Standards for Business Enterprises- ASBE), suatu kerangka dasar konseptual yang dirancang untuk menuntun perkembangan standar akuntansi yang baru. Pada akhirnya standar ini berupaya untuk mengharmonisasikan praktik domestic dan mengharmonisasikan praktik di Cina dengan praktik Internasional. Efektif per tanggal 1 Juli 1993, ASBE (Accounting Standards for BusinessEnterprisesASBE ) merupakan sebuah peristiwa besar dalam upaya Cina untuk menuju sebuah perekonomian pasar. Setelah penerbitan ASBE, Kementrian Keuangan mengganti lebih dari 40 sistem penyeragaman akuntansi (untuk berbagai industri dan jenis kepemilikan) dengan 13 sistem akuntansi berdasarkan industri dan dua sistem akuntansi berdasarkan kepemilikan Komite Standar Akuntansi Cina didirikan pada tahun 1998 sebagai badan yang berwenang di bawah kementrian keuangan yang bertanggung jawab untuk mengembangkan standar akuntansi

Pada tahun 1998,Kementrian Keuangan mendirikan Komite Standar Akuntansi Cina (China Accounting Standars Committee-CASC ) yang bertanggungjawab mengembangkan standardakuntansi KomisiPengatur Pasar Modal Cino (China Securities Regulatory Commission-CSRC ) mengatur 2bursa efek di Cina: Shanghai yang dibuka pada tahun 1990 dan Shenzhen yang dibukapada tahun 1991 Institut Akuntan Publik bersertifikat di Cina (Chinese Institute of Certified PublicAccountants-CICPA) yang didirikan pada tahun 1998 berfungsi mengatur auditperusahaan sector swasta. Asosiasi Auditor Publik Bersertifikat di Cina (ChineseAssociation if Certified Public Auditor-CACPA) bertanggungjawab atas audit perusahaanmilik Negara dan berada di bawah wewenang organisasi yang terpisah, Kantor AuditNegara.

Ciri akuntansi China 1. Laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, catatanatas

laporan keuangan, dan penjelasan kondisi keuangan. Laporan tambahan diwajibkan untuk mengungkapkan informasi segmen yang konsisten dengan standard internasional. 2. Metode pembelian wajib digunakan untuk mencatat penggabungan usaha dan goodwill harus dihapusbukukan selama tidak lebih dari 10 tahun. Metode ekuitas digunakan apabila kepemilikan terhadap perusahaan lain melebihi 20%. 3. Biaya histories merupakan dasar untuk menilai aktiva berwujud: revaluasi aktiva tidak diperkenankan. Aktiva direvaluasi apabila terjadi perubahan kepemilikan seperti saat sebuah perusahaan Negara diprivatisasikan Tiga metode akuntansi untuk pajak yang tangguhan yang diperbolehkan di China: 1. metode aruslangsung (flow-through), di mana tidak terdapat pajak tangguhan. 2. metode penangguhan, di mana pajak tangguhan tidak disesuaikan terhadap perubahan tarif pajak yang selanjutnya. 3. metode kewajiban, di mana pajak tangguhan disesuaikanterhadap perubahan tarif pajak selanjutnya.
Sumber lain mengatakan bahwa orang-orang mulai melakukan pencatatan transaksi pada zaman dinasti Zhou di barat. Di masa itu orang mulai melakukan pencatatan pendapatan yang diperoleh sepanjang tahun pada account book. Periode tersebut meliputi abad ke 11 sebelum Masehi sampai dengan tahun 1644 setelah Masehi. Basis akuntansi di China dimulai pada dinasti Ming (1369-1644 Masehi) Pada abad ke 20 barulah masuk single entry method, sedangkan double entry masuk dibawa oleh orang barat dan tidak diterima dengan mudah oleh masyarakat China pada masa itu.

Juli 1937 Unified System for all Departments in Central telah membangun system yang diperlukan untuk mengikuti perkembangan. Namun masyarakat di sana belum teredukasi sehingga gagal. Perkembangan akuntansi di China setelah tahun 1949 hingga saat ini dipengaruhi oleh 3 masa: 1. Maos centrally controlled planned economy (1949-1978) Mao berusaha untuk mengembangkan Cina melalui pembangunan sector agrikultur dan industry secara bersamaan untuk menstimulus perkembangan ekonomi dan berharap dapat menyaingi China, namun gagal pada tahun 1959. Adanya uniformity dalam akuntansi digunakan untuk setralisasi ekonomi. Kegagalan ini berdampak pada perkembangan akuntansi China yang terhenti dan bahkan korup. 2. Perubahan menuju socialist commodity economy Ketika Deng berkuasa peraturan system akuntansi juga berubah. Deng menciptakan berbagai perundangan dan segala sesuatu menjadi lebih customary bagi banyak orang. Perubahan ini yang membawa China pada system seperti yang digunakan saat ini. 3. Kondisi saat ini Akuntansi di China saat ini sudah mirip dengan yang berlaku di United States. Mereka harus mengikuti GAAP atau IFRS mulai dari fixed asset sampai dengan revenue recognition. 4. 15 February 2006 Kementerian Keuangan Cina memperkenalkan Accounting Standards for Business Enterprises (ASBEs) yang juga telah mengkover aspek-aspek yang ada pada IFRS.

Kelemahan system akuntansi di China adalah penyederhanaan kompilasi asset yang dimiliki oleh anak perusahaan (particular company) tanpa adanya pengukuran profit maupun loss. Lebih lanjut lagi tidak ada pencatatah utang perusahaan. Hal ini akan membuat manager kesulitan untuk menciptakan perusahaan yang profitable karena mereka tidak dapat mengetahui dari mana kerugian perusahaan muncul. (The Need for and Benefits of New Accounting Standards- cari link artikelnya Selain itu keunggulannya ASBEs memberikan otoritas untuk melatih pengalaman dan judgment manager. Secara teori ASBEs mempersempit jurang perbedaan akuntansi di china dan barat. Namun pengaplikasian ASBEs di china dapat berbeda dari satu provinsi ke provinsi dan dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Perbedaan ASBEs dengan IFRS 1. Salah satu standard dalam ASBEs mengharuskan perhitungan dengan kos model untuk fix asset dan intangible asset. Sementara IFRS mengijinkan penilaian dengan menggunakan revaluation model. 2. IFRS mengijinkan adanya pengkelasan semua beban dari borrowing cost. Sedangkan ASBEs mengharuskan borrowing cost dalam kondisi tertentu harus dikapitalisasi. Namun dalam artikel tersebut tidak dijelaskan kondisi seperti apa yang mengharuskan adanya kapitalisasi. (The New Standards and Potential Pitfalls)

3. Aset biologis harus diukur menggunakan kos model berdasar ASBEs dari pada menggunakan fair value seperti yang digunakan dalam IFRS kecuali jika ada bukti yang menjamin penggunaan pengukuran dengan fair value tersebut. 4. ASBEs melarang pengakuan impairment losses. Sedangkan IFRS mengijinkan adanya impairment khusus untuk goodwill dalam kondisi tertentu. 5. Dalam pelaporan keuangan ASBEs melarang beberapa aspek , namun oleh IFRS masih diijinkan. Misalnya exspense dapat dianalisa dalam bentuk yang berbeda tergantung aspek dari statementnya (dianalisa menggunakan income statement dan direct method of cash flow). 6. Pelaporan terkait related party transaction di China kurang jelas. Aturan ASBEs yang mengijinkan pelaporan related party transaction dalam footnotes hingga berlembar-lembar tidak memicu adanya disclosure yang jelas dalam financial statement seperti aturan dalam IFRS. (Laporan Deloit yang dimuat dalam artikel IFRS adoption: the China experience Perbedaan Aplikasi Akuntansi di China dengan Barat 1. Bentuk dan isi dari financial statement di China Berdasarkan the Accounting Laws, the Regulations on Financial Reporting of Enterprises and the ASBE, financial statement harus meliputi balance sheet, profit and loss accounts, cash flow statements, notes to the accounts and a profit and loss appropriation account. 2. Konsep akuntansi dan basis yang diterapkan di China.

Asumsi-asumsi akuntansi di China sama dengan Negara lainnya yang meliputi: accuracy, completeness, consistency, comparability, timeliness, materiality, accrual basis, matching, prudence, substance over form and going concern. Beberapa bentuk penerapan prinsip akuntansi di China meliputi: 1. Historical cost principle
Kesepakatan mengenai historical cost di China telah ditentukan. Asset diakui untuk dicatat pada harga pembelian (dikurangi impairment cost dalam kondisi tertentu) dan revaluasi secara tegas dilarang kecuali jika diijinkan oleh provinsi di wilayah lain. Konsep fair market value tidak banyak digunakan dengan tujuan membatasi adanya open market. 2. Periodicity Periode akuntansi di China dimulai dari 1 januari sampai dengan 31 Desember. 3. Monetary Unit Metode Double-entry bookkeeping seharusnya telah diadopsi. Pencatatan dalam akun menggunakan renminbi (yuan). Transaksi dan saldo dalam mata uang asing harus dikonversikan dalam renmimbi dengan menggunakan suku bunga yang resmi, yang sering kali berbeda dengan tingkat suku bunga pasar. 4. Consistency Principle

Salah satu peraturan di China menyaratkan adanya pengumpulan Welfare Fund and a Statutory Reserve Fund dari profit setelah pajak 5. Full Disclosure Principle Karena adanya system yang baru, pelaporan footnote tertentu dalam laporan keuangan tidak sekomprehensif seperti yang diijinkan di Negara-negara lain. Sebelumnya standar di China sangat keras. Termasuk adanya standar pelaporan identitas korporasi dari related party dan adanya ulasan dari tingkat kewajaran transaksi antara related party. Pelaporan arus kas menggunakan dua metode direct dan indirect methods.

3. Undang-undang apa saja yang mengatur praktek akuntansi di China

Accounting law di China yang diterbitkan tahun 1985 dan direvisi pada Desember 1993 dan 1999 mencakup: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Certified Public Accountant Law, budget Law Audit Law Company Law Law on Negotiable Instruments Enterprise Bankruptcy Law Economic Contract Law Tax law

4. Standard akuntansi apa yang ada di China

Pada 30 November 1992 the Ministry of Finance (MOF) menerbitkan Accounting Standards for Business Enterprises. Yang berlaku efektif pada 1 juli 1993. Adanya standar ini telah mengharmonisasikan akuntansi di China dan internasional. Dan akuntansi terus dikembangkan dibuktikan dengan adanya penerbitan 13 standar akuntansi yang spesifik oleh MOF pada tahun 1997. ASBEs tersebut meliputi standard pencatatan akuntansi yang meliputi industry: commodity distribution construction real estate finance and insurance transport and communications foreign economic cooperation tourism and catering and agriculture

Standar ini sama baiknya dengan sistem terpisah yang ada bagi perusahaan asing/ foreign-invested enterprises (FIEs) General principle di China ada tiga set meliputi:

1. general principles for evaluating the quality of accounting information; 2. general principles for recognizing and measuring accounting elements; 3. and general principles for revising the above two sets of principles.