Anda di halaman 1dari 10

ANALISA STRATEGI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN TENTANG KONFLIK DAN PERANG DALAM MENERAPKAN ILMU KESEHATAN DAN KEDOKTERAN DENGAN

STUDI KASUS DI KOTA LUBUKLINGGAU

Hevi Eka Tarsum 1102009133 Kelompok A-9

Bab I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1. Konflik dan Perang Buku yang saya baca adalah Hukum Humaniter (Hukum Perang) John A. McHugh, O.P. dan Charles J. Callan berpendapat seperti: War defined as a state of konflik between two or more sovereign nations carried on by force of arms. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia maka kalimat tersebut berarti Perang didefinisikan sebagai keadaan konflik antara dua atau lebih negara berdaulat yang dijalankan oleh kekuatan senjata. Dalam hal ini, sudah jelas bahwa McHugh dan Callan mendefiniskan arti perang dengan mengambil konsep Hubungan Internasional, sehingga definisi di atas dapat diterima dengan jelas karena dalam Hubungan Internasional, sejatinya, perang haruslah menyangkut batas wilayah dan Negara-negara yang terlibat di dalamnya haruslah Negara-negara yang berdaulat dan berkuasa. Von Clausewitz, seorang jenderal Prussia (Jerman) pada permulaan abad ke 19 pernah mengutarakan pendapatnya mengenai perang, bahwa perang sebagai fenomena kehidupan umat manusia biasa dapat diartikan sebagai tindakan penggunaan kekerasan untuk memaksa pihak lain tunduk kepada kehendak kita. Dari pernyataan Clausewitz, dapat kita tarik kesimpulan sederhana bahwa perang dapat digunakan untuk memperoleh dan juga menguasai segala sesuatu yang kita inginkan, dan juga menguasai dan mengontrol pihak-pihak tertentu yang sebelumnya tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan, menjadi takluk dan tunduk pada kehendak kita. Artinya, pihak yang ingin menguasai lawannya haruslah memiliki daya dan kekuatan yang lebih sehingga ia dapat mendominasi lawannya. Begitupun halnya dengan perang, daya dan kekuatan menjadi faktor utama yang dapat menentukan menang kalahnya suatu pihak dalam sebuah peperangan , dan untuk mendapatkan atau memiliki daya dan kekuatan tersebut, baik yang secara tangible (yang terlihat) maupun yang bersifat intangible (yang tak terlihat), pihak-pihak yang berperang bisa memperolehnya melalui kepemilikan senjata militer, wilayah dan teritori yang luas, sumber daya alam yang melimpah, atau bahkan dukungan dari pihak-pihak luar negeri.

2. Studi Kasus kota Lubuklinggau

Kota Lubuklinggau
Lambang Kota Lubuklinggau

Motto: Sebiduk Semare Arti: Satu wadah satu Tujuan

Peta lokasi Kota Lubuklinggau Koordinat: 10240'0" 1030'0" BT, 34'10"-322'30" LS

Provinsi Sumatera Selatan Dasar hukum UU No.7 Tahun 2001 Tanggal 21 Juni 2001 Pemerintahan - Bupati Drs. H. Riduan Effendi, SH. Msi. - DAU Rp. 267.774.782.000,-[1] Luas 401,50 km Populasi - Total 167.138 (Juni 2004) Kepadatan Demografi Kode area telepon 0733 Pembagian administratif - Kecamatan 8 - Kelurahan 72 - Situs web www.lubuklinggau.go.id Tahun 1929 status Lubuklinggau adalah sebagai Ibu Kota Marga Sindang Kelingi Ilir, dibawah Onder District Musi Ulu. Onder District Musi Ulu sendiri ibu kotanya adalah Muara Beliti.Tahun 1933 Ibukota Onder District Musi Ulu dipindah dari Muara Beliti ke Lubuklinggau. Tahun 1942-1945 Lubuklinggau menjadi Ibukota Kewedanaan Musi Ulu dan

dilanjutkan setelah kemerdekaan. Pada waktu Clash I tahun 1947, Lubuklinggau dijadikan Ibukota Pemerintahan Propinsi Sumatera Bagian Selatan. Tahun 1948 Lubuklinggau menjadi Ibukota Kabupaten Musi Ulu Rawas dan tetap sebagai Ibukota Keresidenan Palembang. Pada tahun 1956 Lubuklinggau menjadi Ibukota Daerah Swatantra Tingkat II Musi Rawas. Tahun 1981 dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tanggal 30 Oktober 1981 Lubuklinggau ditetapkan statusnya sebagai Kota Administratif. Tahun 2001 dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2001 tanggal 21 Juni 2001 Lubuklinggau statusnya ditingkatkan menjadi Kota. Pada tanggal 17 Oktober 2001 Kota Lubuklinggau diresmikan menjadi Daerah Otonom. Secara umum, pulau Sumatera didiami oleh bangsa Melayu, yang terbagi ke dalam beberapa suku. Suku-suku besar ialah Aceh, Batak, Melayu, Minangkabau,Besemah, Ogan, Komering, dan Lampung. Di wilayah pesisir timur Sumatera dan di beberapa kota-kota besar seperti Medan, Palembang, dan Pekanbaru, banyak bermukim etnis Tionghoa. Penduduk pulau Sumatera hanya terkonsentrasi di wilayah Sumatera Timur dan dataran tinggi Minangkabau. Mata pencaharian penduduk Sumatera sebagian besar sebagai petani, nelayan, dan pedagang. Penduduk Sumatera mayoritas beragama Islam dan sebagian kecil merupakan penganut Protestan, terutama di wilayah Tapanuli, Sumatera Utara. Di wilayah perkotaan, seperti Medan, Pekanbaru, dan Palembang, dijumpai beberapa orang penganut Buddha. Pembangunan Kota Lubuklinggau telah berjalan dengan pesat seiring dengan segala permasalahan yang dihadapinya dan menuntut ditetapkannya langkah-langkah yang dapat mengantisipasi perkembangan Kota, sekaligus memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Untuk itu diperlukan Manajemen Strategis yang diharapkan dapat mengelola dan mengembangkan Kota Lubuklinggau sebagai kota transit ke arah yang lebih maju menuju Kota Metropolitan. Kota Lubuklinggau terletak pada posisi geografis yang sangat strategis yaitu di antara provinsi Jambi, Provinsi Bengkulu serta ibu kota provinsi Sumatera Selatan (Palembang) dan merupakan jalur penghubung antara Pulau Jawa dengan kota-kota bagian utara Pulau Sumatera.

B. Rumusan masalah a. Bagaimanakah tingkat kesejahteraan kesehatan di kota lubuk linggau? b. Apakah yang sudah dilakukan oleh pemerintah mengenai gizi buruk yang sering diderita oleh anak-anak dikota lubuklinggau? c. Apakah tenaga kesehatan dan sarana kesehatan dikota lubuklinggau telah memadai? d. Bagaimanakah pendidikan kesehatan terhadap warga masyarakat dikota lubuklinggau?

C. Tujuan dan Analisa 1. Kepentingan mahasiswa disini yaitu sebagai bagian dari masyarakat intelektual, mahasiswa harus bisa ikut berkonstribusi untuk mensolusikan ironi ini. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat Perguruan Tinggi, dimana Hatta pernah mengatakan

salah satu tugas perguruan tinggi adalah membentuk manusia susila dan demokrat yang memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakatnya. Jadi secara moral mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial untuk mencari dan membela kebenaran ilmiah kemudian mempraksiskannya kepada masyarakat. 2. Kepentingan Fakultas Kedokteran dalam menangani masalah gizi buruk di kota lubuklinggau adalah membantu memantau kualitas kesehatan di kota lubuklinggau agar bisa mengendalikan kualitas kesehatan tersebut. 3. Kepentingan bangsa dalam menangani masalah gizi buruk adalah sangat vital. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk bisa keluar dari angka gizi buruk. Ini juga mencerminkan kualitas dari tingkat kesehatan bangsa 4. Kepentingan kota atau daerah Dalam hal ini seharusnya pemerintah pusat tingkat kabupaten harus lebih memfokuskan pembangunan dan peningkatan kualitas desa,ya dalm hal ini supaya warga disana minimal bisa menikmati dan mengolah hasil alam seperti desa-desa yang lain yang ada di Kabupaten Pamekasan juga. Memang benar sudah ada yang mulai menikmati hasil dari program-program pemerintah tadi,tapi jumlahnya masih jauh dibandingkan yang masih rawan.

D. a. b. c. d. e.

Kontribusi Analisa saya meningkatkan taraf hidup masyarakat di daerah tersebut mengadakan pemetaan kemiskinan yang ada menyelesaikan masalah yang sesuai hasil pemetaan kemiskinan mengadakan penyuluhan secara langsung kepada warga masyarakat memberikan bantuan berupa makanan-makanan yang bergizi

E. Metode Analisa yang saya gunakan yaitu

a. Metode Studi Kasus adalah suatu pola dasar yang membimbing proses pemikiran pastoral-theologis tentang masalah-masalah dan keadaan-keadaan yang dihadapi dalam konteks pelayanan. b. Analisis data menggunakan teknik analisis dengan mengunakan metode dogmatik hukum, dimana peneliti menganalisa didasarkan pada hukum logika atau analisis secara logis. c. Analisa secara logika dan gabungan. d. Analisa secara membaca cepat/skrining.

Bab II LANDASAN BUKU TENTANG Konflik dan Perang a. Pengarang Judul buku Penerbit Tahun terbit : GPH. Haryomataram, S.H. Brigjen TNI-AD (purn) : HUKUM HUMANITER (Hukum Perang) : Bumi Nusantara Jaya : 1988

b. Pengertian dari Konflik dan Perang Konflik dan perang : Any difference arising between two states and leading to the intervention of members of the armed forces is an armed conflict eithin the meaning of art. 2, even if one of the Parties denies the existence of a state of war. It makes no difference how the conflict lasts, or how much slaughter takes place. cKasus yang terjadi adalah penembakan pada sebuah kapal yang hendak menyelundupkan minuman keras ke Amerika. a. Pemecahan : komisi arbitrase memutuskan bahwa seandainya kapal itu ditenggelamkan secara kebetulan, maka kapal yang mengejar itu masih bisa dibenarkan tindakannya. Tetapi menenggelamkan kapal dengan sengaja, tidak dibenarkan. Disini jelaslah ditekankan bahwa profesionalisme mengharuskan negara yang menegakkan hukum itu untuk : to weigh the gravity of the offence against the value of human life. Pendekatan penyelesaian konflik oleh pemimpin dikategorikan dalam dua dimensi ialah kerjasama/tidak kerjasama dan tegas/tidak tegas. Dengan menggunakan kedua macam dimensi tersebut ada 5 macam pendekatan penyelesaian konflik ialah : 1. Kompetisi Penyelesaian konflik yang menggambarkan satu pihak mengalahkan atau mengorbankan yang lain. Penyelesaian bentuk kompetisi dikenal dengan istilah win-lose orientation. 2. Akomodasi Penyelesaian konflik yang menggambarkan kompetisi bayangan cermin yang memberikan keseluruhannya penyelesaian pada pihak lain tanpa ada usaha memperjuangkan tujuannya sendiri. Proses tersebut adalah taktik perdamaian. 3. Sharing Suatu pendekatan penyelesaian kompromistis antara dominasi kelompok dan kelompok damai. Satu pihak memberi dan yang lkain menerima sesuatu. Kedua kelompok berpikiran moderat, tidak lengkap, tetapi memuaskan. 4. Kolaborasi Bentuk usaha penyelesaian konflik yang memuaskan kedua belah pihak. Usaha ini adalah pendekatan pemecahan problem (problem-solving approach) yang memerlukan integrasi dari kedua pihak. 5. Penghindaran Menyangkut ketidakpedulian dari kedua kelompok. Keadaaan ini menggambarkan penarikan kepentingan atau mengacuhkan kepentingan kelompok lain.

Bab III Pola Pikir

Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.

Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadipribadi yang berbeda.

Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.

Konflik dan Perang

Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.

STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK DAN PERANG

UUD 1945 Pasal 18, 25, 26, 27, 28, 30, 33

Bab IV HASIL ANALISIS ANALISIS SISTEM KEWARGANEGARAAN TENTANG KONFLIK DAN PERANG DALAM MENERAPKAN ILMU KESEHATAN DAN KEDOKTERAN DENGAN STUDI KASUS DI KABUPATEN LUBUKLINGGAU STRATEGI SWOT
a. b.

KESEHATAN 1
Meningkatkan jaminan kesejahteraan bagi para korban perang Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana kesehatan yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat membangun kemampuan fisik jasmani pelaksana pertahanan yang professional dan tunduk kepada prinsip demokrasi Memiliki rasa kerjasama untuk meningkatkan kesehatan saling menjaga dalam menghadapi konflik peperangan Konflik dan perang yang berkepanjangan terkadang menimbulkan gizi buruk Merasa takut kalah dalam peperangan karena merasa musuh lebih kuat Habisnya perbekalan yang dimiliki oleh prajurit pelaksana konflik dan perang Menurunnya angka kesehatan masyarakat akibat konflik dan perang Sring mengadakan survei angka kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah pasca konflik dan perang Memiliki sarana dan prasarana kesehatan yang memadai Memiliki tenaga medis yang profesional dan terampil pasca konflik Menyelesaikan dan mencegah konflikkonflik komunal yang terjadi a. b.

KOTA 2
Memiliki kebersamaan yang tinggi antar penduduk lubuklinggau Memperkuat kekompakan pasca konflik dengan melaksanakan permainan bersama membangun perekonomian dengan cara pemerintah memberikan modal usaha Meningkatkan kualitas pendidikan pasca konflik dengan cara mendatangkan tenaga pendidik profesional ke kota lubuklinggau Berkurangnya bantuan dari pemerintah terhadap korban perang Kurangnya lapangan pekerjaan untuk masyarakat dikota lubuklinggau Lemahnya pemimpin dalam mengambil keputusan Kurangnya perhatian bangsa untuk menjaga masyarakat dari konflik dan perang a. Membangun dan mengkonsolidasikan demokrasi dikota lubuklinggau b. Menciptakan stabilitas dan keamanan regional dikota lubuklinggau c. Mengelola hubungan setara dan berkeuntungan timbal balik dengan anggota masyarakat dikota lubuklinggau d. Membuka hubungan dengan daerahdaerah lain yang dilakukan oleh pemerintah Militer tidak lagi independen dalam bertindak mempertahankan keamanan dikota lubuklinggau pasca perang Ancaman dari ketidak mampuan pemerintah lubuklinggau mengontrol kondisi daerah pascaperang Ancaman dari ketidak tertiban jalannya UU yang kurang diwaspadai oleh pemerintah kota lubuklinggau Anca,ma dari penyelewengan biaya operasioanal institusi di daerah lubuklinggau

KEKUATAN

c.

c. d.

d.

a. b.

a. b. c. d.

KELEMAHA N

II

c. d.

a.

b. c.

PELUANG

III
d.

a.

b.

ANCAMAN

IV

c.

d.

keamanan harus dilihat dalam konteks keseluruhan termasuk kesehatan pasca konflik dan perang keseimbangan antara kepentingan keamanan Negara dan tingkat kesehatan masyarakat satu pihak dan keamanan insani yang mengarah kepada penurunan tingkat kesehatan masyarakat melanggar HAM dalam menjalankan fungsinya yang terkadang tidak sesuai dengan upaya peningkatan kualitas kesehatan dimasyarakat.

a.

b.

c.

d.

Bab V PENUTUP a. Kesimpulan a) Pada tahun 1956 Lubuklinggau menjadi Ibukota Daerah Swatantra Tingkat II Musi Rawas. Tahun 1981 dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tanggal 30 Oktober 1981 Lubuklinggau ditetapkan statusnya sebagai Kota Administratif. Tahun 2001 dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2001 tanggal 21 Juni 2001 Lubuklinggau statusnya ditingkatkan menjadi Kota. Pada tanggal 17 Oktober 2001 Kota Lubuklinggau diresmikan menjadi Daerah Otonom. b) John A. McHugh, O.P. dan Charles J. Callan berpendapat seperti: War defined as a state of konflik between two or more sovereign nations carried on by force of arms. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia maka kalimat tersebut berarti Perang didefinisikan sebagai keadaan konflik antara dua atau lebih negara berdaulat yang dijalankan oleh kekuatan senjata. c) kepentingan nasional merupakan atribut utama setiap Negara dan menjadi motif utama dalam setiap interaksi nasional, dan perilaku setiap Negara dapat selalu dijelaskan dengan asumsi kepentingan nasional. Sebagai titik awal mencapai kepentingan nasional, setiap Negara harus memahami posisi relatif kekuatan nasional (power) agar dapat menentukan level pengaruh, batas-batas strategi, dan sebagainya. d) Ada 5 macam pendekatan penyelesaian konflik yaitu Kompetisi Akomodasi Sharing Kolaborasi dan Penghindaran e) b. Saran a) Seharusnya pemerintah bisa mengatasi masalah yang terjadi di kota lubuklinggau baik itu mengenai giziburuk yang diderita masyarakat serta menyertakan solusinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat b) Warga bisa membangun perekonomian kota lubuklinggau misalnya dengan bercocok tanam atau dengan meminjam ke koperasi unit desa yang diadakan oleh pemerintah kota lubuklinggau sebagai modal usaha c) Dinas kesehatan setempat seharusnya lebih sering memfollow up angka gizi buruk di kota lubuklinggau agar bisa mengetahui program peningkatan kesehatan berhasil atau tidak d) Lebih sering menmberikan beasiswa kepada putra asli lubuklinggau yang ingin melanjutkan pendidikan di luar daerah agar bisa meningkatkan kesejahteraan dikota lubuklinggau

DAFTAR PUSTAKA Erwin, Muhammad S.H, M.Hum, 2010. Pendidikan Kewarganegaraan Republik Indonesia. Jakarta: PT Refika Aditama. Hal 223-242 Haryomataram GPH S.H, 1988. Hukum Humaniter.Jakarta : PT bumi nusantara Jaya. Hal 15-29 http://www.lubuklinggau.go.id/ http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Lubuklinggau