Anda di halaman 1dari 13

1. Kelainan patologi yang bisa dijumpai pada vulva/pudendum.

Yang bisa berupa infeksi, kelainan bawaan, tumor jinak, keganasan. A. INFEKSI a. Limfogranuloma Venerum, Chancroid, dan Granuloma Inguinale Limfogranuloma Venerum (LVG) disebabkan oleh serovar-serovar C. Trachomatis. C. Trachomatis tidak dapat menembus kulit atau selaput lendir yang utuh tetapi

memperole akses melalui abrasi atau laserasi minor. Lesi primer adalah ulkus atau vesikel herpetiformis kecil yang tidak nyeri, biasanya di dinding vagina posterior pada perempuan.( Price, A. Sylvia. 2005; 1343) b. Virus Herpes Simpleks Virus Herpes Simpleks (HSV) adalah suatu penyakit virus menular dengan afinitas pada kulit, selaput lendir, dan sistem saraf. HSV-2 merupakan penyebab tersering infeksi herpes genitalis, menimbulkan lesi yang terutama terdapat di daerah genital. HSV disebarkan melalui kontak langsung antar virus dengan mukosa atau setiap kerusakan di kulit. Infeksi HSV dikalsifikasikan sebagai inisial primer, nonprimer, rekuren, dan asimtomatik. Infeksi inisial primer biasanya muncul 2-7 hari setelah kontak erat dengan orang yang terinfeksi. Gejala sistemik termasuk demam, malaise, dan nyeri kepala, biasanya mendahului lesi selama beberapa hari.Lesi HSV berawal sebagai papul-papul eritematosa kecil berkelompok yang berkembang menjadi vesikel-vesikel berisi cairan jernih, menjadi pustul, dan kemudian ulkus-ulkus dan nyeri.(Price, A. Sylvia. 2005; 1343) c. Candida Albicans Candida Albicans adalah spesies kandida yang sering ditemukan pada vagina perempuan asimtomatik. Faktor predisposisi pada perempuan adalah kehamilan, haid, DM, pemakaian kontrasepsi, dan terapi antibiotik. Baju dalam yang ketat, konstrikstif, dan sintetik sehingga menimbulkan lingkungan yang hangat dan lembab untuk kolonisasi diperkirakan berperan dalam infeksi rekuren. Pada perempuan gejala yang paling mencolok pada vulvovaginitis ragi ini adalah pruritus dan iritasi yang hebat pada vulva dan vagina. Dapat timbul edema, eritema,

dan fisura pada vulva, disertai disuria akibat meradangnya jaringan. (Price, A. Sylvia. 2005; 1343) d. Trikomoniasis Vaginalis Trikomoniasis Vaginalis adalah organisme oval berflagela yang berukuran setara dengan sebuah leukosit. Organisme terdorong oleh gerakan-gerakan acak berkedut dari flagelnya. Trikomonad mengikat dan akhirnya mematikan sel-sel epitel penjamu, memicu respon imun humoral dan selular yang tidak bersifat protektif terhadap infeksi berikutnya. Agar dapat bertahan hidup, trikomonad harus berkontak langsung dengan eritrosit. Gejala trikomonas basanya muncul 5-28 hari setelah inokulasi pada perempuan. Gejala tersering adalah sekret vagina kuning-hijau berbusa yang mungkin banyak dan berbau tidak sedap, pruritus perineum, perdarahan pascakoitus, dan dispareunia. (Price, A. Sylvia. 2005; 1348) e. VulVitis (inflamasi vulva) Vulvitis (inflamasi vulva) dapat terjadi bersamaan dengan kelainan lainnya, seperti diabetes, masalah masalah dermatologis, hygiene yang buruk, penyakit hubungan seksual, atau merupakan kondisi akibat vaginitis spesifik. (Smeltzer . 2001) f. Vulvodyna Vulvodyna atau rasa terbakar yang sangat dan inflamasi pada vulva, adalah gangguan yang memusingkan dan biasanya mengganggu kehidupan wanita yang mengalaminya. Kondisi ini nampaknya berhubungan dengan tingginya kadar Kristal kalsium oksalat dalam urin. Dalam diet yang tepat, gejala biasanya menghilang. Kondisi ini dapat menetap disertai dengan sistisis interstitial kronis, iritasi kandung kemih. Antidepresan trisiklik biasanya bermanfaat pada pasien dengan gangguan ini. (Smeltzer . 2001) g. Human Papilomavirus Papilomavirus manusia adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual yang dapat mengakibatkan pertumbuhan kutil kecil pada vulva, labia, serviks, dinding vagina, atau rectum. Kulit labia dan perineal biasanya dapat dilihat dan diraba. Virus tersebut juga dapat menyerang serviks. Pengobatan biasanya menghilangkan kulit perineal, meski kulit tersebut dapat hilang dengan spontan tanpa pengobatan. (Smeltzer . 2001)

B. KELAINAN BAWAAN KELAINAN KONGENITAL PADA TRAKTUS GINETALIA WANITA a. Vulvaanomali Pada Vulva dan Labia Duplikasi vulva Merupakan suatu keadaan yang jarang ditemukan dan sering bersama-sama dengan duplikasi traktus urinaria dan traktus intestinal Hipertrofi labia minora

Ukuran dan bentuk labia minora bervariasi Salah satu labia minora dapat lebih besar Pasien harus diyakinkan bahwa ukuran yang tidak simetri hanya merupakan suatu variasi, tidak perlu diterapi, kecuali jika perbedaan ukuran tersebut sangat jelas mengganggu saat berhubungan

b. Vagina Himen Imperforata


Pada gadis, vagina tertutup lapisan tipis bermukosa : selaput dara / hymen Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi Akibat coitus atau trauma lain, hymen robek & menjadi tidak beraturan Hymen imperforata : tidak terdapat lubang Merupakan kelainan kongintal yang paling banyak ditemukan Biasanya diagnosis ditegakkan setelah usia dewasa Gejala : amneorea primer, nyeri abdomen siklik, bulging hymen

Menyebabkan hematokolpos, hematometra Penanganan : pembedahan

Septum Vagina

Terdapat sekat pada vagina Dapat transversal maupun longitudinal Dapat di daerah mana saja di vagina Tetap ditemukan lubang vagina. Labium intak dan terpisah Pada anak-anak : kadang-kadang asimptomatik Keluhan baru dirasaakan saat mendapat haid

Atresia Vagina

Curiga bila tidak ditemukan lubang vagina Kadang-kadang terdapat lubang vagina tetapi dangkal Disebabkan karena kegagalan pembentukan daerah vagina bagian inferior Labia tetap intak, vagina bgn atas, serviks dan uterus tetap normal Pemeriksaan : palpasi vagina yang alami distended pada RT

Perlu pemeriksaan USG, MRI Terapi : Pembedahan

c. Anomali Uterus Umumnya asimptomatik sehingga sulit didiagnosis sewaktu masa kanak-kanak

Keluhan biasanya mulai ditemukan saat menars atau saat berhubungan dengan kehamilan

Duplikasi uterus dapat tejadi hanya pada korpus uteri dan serviks dan vagina Uterus bidelfis sering dihubungkan dengan persalinan prematur Saat kehamilan sering mengalami abortus, kelainan presentasi dan prematur Uterus unikornu disebabkan karena gangguan perkembangan dari duktus mullerian

Uterus unikornu seringkali asimptomatik Uterus rudimenter : darah dapat terkumpul di uterus yang rudimenter sehingga kadang-kadang membutuhkan tindakan pembedahan emergensi, utamanya bila tidak ada saluran yang menghubungkan dengan uterus yang normal atau vagina

Bila terjadi kehamilan pada uterus yang rudimenter dapat terjadi ruptur

d. Ovarium

Dapat berupa tidak ada ovarium, salah satu atau keduanya. Jarang ditemukan Ovarium tambahan

SISTEM GENITAL DAN TRAKTUS URINARIUS

Dalam pertumbuhannya mempunyai hubungan yang dekat sehingga dapat terjadi kelainan dalam pertumbuhannya yang dapat mengenai kedua sistem tersebut

Kloaka persistem : tidak terbentuk septum urorektale Ekstrofi kandung kencing :vagina terdorong ke depan di daerah suprapubik dan klitoris terbagi dua karena dinding perut bagian bawah tidak terbentuk

KELAINAN KONGENITAL KARENA KELAINAN KROMOSOM


Sebagian besar karena kelainan kromosom seks Kelainan kromosom autosom jarang

a. Sindrom Turner (Disgenesis Gonad) Tidak jarang ditemukan Tidak ditemukan sel-sel kelamin primordial Tidak ada pertumbuhan korteks atau medulla pada gonad Gonad hanya dijumpai sebagai suatu jaringan ikat putih seperti pita (streak gonad) Fisik : bertubuh pendek ( <> Amenorea primer Pterigium kolli (webbed neck) Nevus banyak ditemukan Koarktasi aorta Kubitus valgus

Ciri-ciri kelamin sekunder tidak tumbuh Kecerdasan normal Pemeriksaan endokrinologi : kadar FSH meningkat dan kadar estrogen rendah karena tidakadanya ovarium

Kelainan genetik : satu kromosom X, sehingga susunannya : 44 otosom dan i kromosom X (45-XO)

Pada pemeriksaanbuccal smear : kromatin X negatif 60-80% : 45 XO, 20 40% 46 XX dengan 1 X tidak normal, atau tipe mosaik XO/XX

Pengelolaan : Biasanya teruskansejak kecil diasuh sebagai wanita Pemberian estrogen secara siklik untuk menimbulkan withdrawal bleeding,

mempengaruhi pembesaran mammae, tubuh lebih menyerupai wanita dan secara mental lebih puas dan tenang

b. Superfemale (47,Xxx)

1 : 1000 kelahiran bayi wanita Disebabkan karena non-dysjunction Penampilan : wanita biasa, perkembangan seks normal, subur hanya kecerdasannya rendah.

Dengan kariotipe 47,XXX dapat ditemukan 2 kromatin X

c. Sindrom Kleinefelter (47,Xxx)


Ditemukan pada penderita dengan fenotipe pria Tumbuh sebagaia pria, pada masa pubertas tumbuh ginekomasti Badanberbentuk eneukhoid dan rambut badan dan muka berkurang Genitalia eksterna berkembang baik Fungsi seksual juga baik Testis atrofi, azospermia, dan pada biopsi testis ditemukan sel-sel leydig dan hialinisasi tubulus seminiferus

Terjadi sebagai akitab nondisjunction

d. Hermafroditismus Verus

Jarang ditemukan Genitalia eksterna tampak dominasi pria sehingga seringkali diasuh sebagai pria, tetapi bila ditemukan secara dini, maka sebaiknya anak diasuh sebagai wanita

Masa pubertas : mamma mulai tumbuh dan seringkali terjadi haid Terdapat jaringan testis pada sisi yang satudan ovarium pada sisi lain Sebagian besar menunjukan kromatin seks dan gambaran karitipe wanita Prinsip penanganan : pola asuh dari kecil dipertahankan. Cenderung untuk mengangkat testis karena cenderung menjadi ganas

e. Sindroma Down

1 :670 kelahiran hidup Kelainan kromosom otosom Terutama dialami oleh ibu usia tua Terjadi tranlokasi kromosom 21, biasanya dari kromosom D Kecerdasan rendah Mulut terbuka dengan lidah yang menonjol. Oksiput dan muka gepeng Hipotoni tubuh yang jelas Refleks moro negatif

f. Sindrom Edwards (Trisomi 18)


Jarang ditemukan Pertumbuhan anak lambat Kepala memanjang dengan kelainan pada telinga Sering disertai kelainan jantung Dada dengan sternum pendek

g. Sindrom Patau (Trisomi 13)


Jarang ditemukan BBLR Pertumbuhan lambat

Palatoskisis, labioskisis Mikrosefal, polidaktili Sering ditemukan kelainan jantung

KELAINAN KONGENITAL AKIBAT HORMONAL a. Maskulinisasi Pada Wanita Dengan Kromosom Dan Gonad Wanita

Sindrom adrenogenital kongenital : sering ditemukan Pengaruh virilisasi pleh androgen akibat gangguan metabolisme pada kelenjar adrenal Kedua kelenjar adrenal membesar : hiperplasia dari zona retikularis, sedang zona glomerulosa kurang berkembang

Ovarium : folikel normal, tetapi bila tidak diobati aktivitas folikel mundur dan folikel primordial menghilang

Gangguan terletak pada biosintesis kortisol sehingga umpan balik tidak jalan Gambaran klinik : Waktu lahir : lipatan labium mayus kiri dan kana menjadi satu, klitoris membesar di dalam lipatan yang menjadi skrotum tidak ada kelenjar kelamin Uterus, tuba dan ovarium normal. Anak dapat tumbuh dengan cepat, tetapi pada umur 10 thn, epifisis menutup, pertumbuhan berhenti, sehingga cenderung pendek. Rambut pubis dan ketiak tumbuh cepat, tidak haid. Untuk menegakkan diagnosis : Kadar 17 ketosteroid dalam urin meningkat Kadar pregnanetriol urin meningkat Gangguan keseimbangan elektrolit, turunnya natrium di serum Kromosom seks positif Gambaran kromosom 46,XX

Penanganan : kortikosteroid

b. Sindrom Feminisasi Testikuler


Genotip pria dan fenotip wanita Genitalia eksterna seperti wanita Sering ditemukan dalam suatu keluarga Gangguan metabolisme endokrin

Tidak ditemukan kelainan kromosom Klinis : ciri khas wanita, tetapi tidak mempunyai genitalia interna wanita, terdapat testis yang kurang tumbuh dan ditemukan di rongga abdomen, di kalais inguinalis atau di labium mayus

Testis tidak menunjukkan spermatogenesis Mempunyai wajah wanita, tinggi, pertumbuhan mamma baik Rambut pubis dan ketiak kurang atau tidak ada Genitalia eksterna ada, tetapi vagina pendek atau menutup

C. Keganasan a. Karsinoma Vulva Tumor ganas di dalam vulva disebut juga dengan kanker vulva. Beberapa jenis kanker vulva: a. Karsinoma sel skuamosa (85%) Karsinoma sel skuamosa berasal dari sel-sel skuamosa yang merupakan jenis sel kulit yang utama. Kanker jenis ini biasanya terbentuk secara perlahan selama bertahun-tahun dan biasanya didahului oleh suatu perubahan prekanker yang mungkin berlangsung selama beberapa tahun. Istilah kedokteran yang sering digunakan untuk keadaan prekanker ini adalah Neoplasma intraepitel vulva (NIV, intraepitel artinya sel-sel prekanker terbatas pada epitel yang merupakan lapisan permukaan pada kulit vulva. NIV terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu NIV1, NIV2, and NIV3. Istilah lainnya untuk NIV adalah displasia. Tingkat keparahan perubahan prekanker mulai dari yang terendah sampai yang terberat: - NIV1 atau displasia ringan - NIV2 atau displasia menengah - NIV3 atau displasia berat - Karsinoma in situ - Karsinoma invasif. b. Melanoma (5%) Melanoma berasal dari sel penghasil pigmen yang memberikan warna pada kulit.

c. Sarkoma (2%) Sarkoma adalah tumor jaringan ikat di bawah kulit yang cenderung tumbuh dengan cepat. Sarkoma vulva bisa menyerang semua golongan usia, termasuk anak-anak. d. Basalioma (karsinoma sel basal) (1%) Biasanya di daerah yang berambut, sesekali pada labia mayora. Lesi ini hampir tak pernah menyebar ke kelenjar getah bening. Karsinoma sel basal sangat jarang terjadi pada vulva, karena biasanya menyerang kulit yang terpapar oleh sinar matahari. e. Adenokarsinoma (1%) Sejumlah kecil kanker vulva berasal dari kelenjar dan disebut adenokarsinoma. Beberapa diantaranya berasal dari kelenjar Bartholin yang ditemukan pada lubang vagina dan menghasilkan cairan pelumas yang menyerupai lendir. Kebanyakan kanker kelenjar Bartholin adalah adenokarsinoma, tetapi beberapa diantaranya (terutama yang tumbuh dari saluran kelenjar) merupakan karsinoma sel transisional atau karsinoma sel skuamosa. Meskipun agak jarang, adenokarsinoma juga bisa berasal dari kelenjar keringat pada kulit vulva. Penyebabnya belum diketahui. Faktor resiko terjadinya kanker vulva: a. Infeksi HPV atau kutil kelamin (kutil genitalis) HPV merupakan virus penyebab kutil kelamin dan ditularkan melalui hubungan seksual. b. Pernah menderita kanker leher rahim atau kanker vagina c. Infeksi sifilis d. Diabetes e. Obesitas f. Tekanan darah tinggi. g. Usia Tigaperempat penderita kanker vulva berusia diatas 50 tahun dan dua pertiganya berusia diatas 70 tahun ketika kanker pertama kali terdiagnosis. Usia rata-rata penderita kanker invasif adalah 65-70 tahun. h. Hubungan seksual pada usia dini i. Berganti-ganti pasangan seksual j. Merokok

k. Infeksi HIV HIV adalah virus penyebab AIDS. Virus ini menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh sehingga wanita lebih mudah mengalami infeksi HPV menahun. l. Golongan sosial-ekonomi rendah Hal ini berhubungan dengan pelayanan kesehatan yang adekuat, termasuk pemeriksaan kandungan yang rutin. m. Neoplasia intraepitel vulva (NIV) n. Liken sklerosus Penyakit ini menyebabkan kulit vulva menjadi tipis dan gatal. o. Peradangan vulva menahun p. Melanoma atau tahi lalat atipik pada kulit selain vulva. Biasanya makan waktu cukup lama sebelum penderita meminta pertolongan. Penderita ini datang dengan keluhan samar-samar mengenai iritasi vulva atau pruritus (gatalgatal) vulva.

Diagnosis akan lebih mudah dibuat bila ditemukan benjolan, ulkus atau lesi yang berdarah. Nyeri biasanya dikeluhkan bila lesinya terdapat dekat klitoris atau urethra, karena pedih waktu kencing. Gambaran Klinis, biasanya makan waktu cukup lama sebelum penderita meminta pertolongan. Penderita ini datang dengan keluhan samar-samar mengenai iritasi vulva atau pruritus (gatal-gatal) vulva. Hampir 20% penderita yang tidak menunjukkan gejala. Kanker vulva mudah dilihat dan teraba sebagai benjolan, penebalan ataupun luka terbuka pada atau di sekitar lubang vagina. Kadang terbentuk bercak bersisik atau perubahan warna. Jaringan di sekitarnya mengkerut disertai gatal-gatal. Pada akhirnya akan terjadi perdarahan dan keluar cairan yang encer. Gejala lainnya adalah: - nyeri ketika berkemih - nyeri ketika melakukan hubungan seksual.

Daftar pustaka

Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit vol 2. Edisi 6. Jakarta: EGC Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.Volume 2. Edisi 8. Jakarta : EGC