Anda di halaman 1dari 10

PEREMPUAN DAN PEMIMPIN DALAM ISLAM

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Masail Fiqh Dosen Pengampu: Drs. A. Miftah Baidlowi, M.Pd.

Disusun Oleh : II-PAI.D

Ichsan Wibowo S.

(10410069)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SUNAN KALIJAGA TAHUN 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah wanita telah lahir sejak pertama kali wanita itu ada di permukaan bumi ini. Persoalan wanita menjadi persoalan yang persoalan yang penting dan serius sehingga tak henti-hentinya dibicarakan oleh bangsa-bangsa didunia ini. Perbincangan itu tidak hanya dilakukan dikalangan wanita itu saja tetapi juga menjadi perbincangan di kalangan pria. Hal ini adalah wajar karena wanita menjadi pendamping hidup bagi kaum pria. Dahulu wanita dipandang sangat rendah baik oleh bangsa-bangsa di Timur maupun Barat, juga menurut pandangan agama yang ada sebelum agama Islam. Hak-hak wanita tak pernah diberikan, mereka begitu tertindas. Wanita dianggap tak lebih dari sebagai pengembang keturunan dan menjadi pelayan bagi suaminya bahkan kadang dianggap hanya untuk pemuas nafsu para pria. Wanita hanya boleh bekerja dalam rumah tangga suaminya atau bagi yang belum menikah dirumah orang tuanya dipingit. Pandangan rendah terhadap wanita hingga sekarang belum sepenuhnya hilang meski tidak serendah pandangan orang zaman dahulu. Bahkan dalam masyarakat jawa dikenal istilah "manak-masak-macak" suatu ungkapan untuk menyatakan tugas wanita hal ini menunjukkan bahwa wanita dilarang untuk bekerja diluar rumah. Makalah ini mencoba memberikan sebuah pandangan mengenai masalah fikih kontemporer yang menjadi sebuah polemik dalam ranah bermasyarakat. Islam sangat menjunjung tinggi wanita dalam konteks ini; oleh karena itu peran ibu sebagai pendidikn pertama dan utama tidak boleh ditinggalkan sebagai sebuah peran yang dimainkan dalam lingkup hid up berumah tangga.

B. Rumusan Masalah 1) Bagaimana pandangan bangsa arab jahiliyah, pandangan Islam dan diluar Islam mengenai wanita? 2) Bagaimana pandangan Islam untuk permasalahan fikih kontemporer dalam peran wanita sebagai imam dalam sholat, hakim, dan kepala Negara?

BAB II PEMBAHASAN
1. Wanita dalam Pandangan Bangsa Arab Jahiliyah

Wanita dalam pandangan bangsa Arab sebelum datangnya agama Islam sangat hina. Mereka merasa malu dan terhina apabila isterinya melahirkan anak seorang wanita, sehingga apabila istri hamil, maka suami telah menyediakan sebuah lubang. Apabila anak yang dilahirkan itu seorang wanita akan segera dikubur hidup-hidup agar terlepas dari rasa malu. Kalaupun anak wanita dibiarkan hidup nasibnya akan sangat buruk, diperlakukan sebagai budak belian, mengangkut beban yang berat atau paling baik nasibnya diperlakukan sebagai boneka dipaksa untuk melakukan pelacuran atau dimadu dengan tidak terbatas. Seorang ayah akan tega mengubur anaknya hidup-hidup demi kehormatan suku dan keluarganya. Jika seorang wanita ditinggal mati oleh suaminya maka dia harus masuk kurungan dan dengan memakai pakaian yang buruk. Tidak boleh memakai wewangian sebelum satu tahun dan tidak menerima warisan, tetapi dapat menjadi warisan sehingga bila seseorang yang wafat meninggalkan wanita maka saudara tuanya orang yang paling dekat dengannya akan mendapat warisan untuk memiliki jandanya. Rendahnya martabat wanita ini juga terlihat dengan hakikat perkawinan mereka yang bersifat possessive. Mereka tidak memberi batasan berapa jumlah wanita yang boleh dinikahi oleh laki-laki. Wanita yang dicerai juga tidak mempunyai iddah sehingga dapat dirujuk oleh suaminya kapan saja ia suka.

2. Wanita dalam pandangan agama diluar Islam

Agama-agama yang ada selain Islam memandang rendah terhadap wanita sebagaimana yang disebutkan dalam kitab agama yang mereka tulis. Misalnya dalam agama Hindu, Brahma memandang wanita dengan sangat rendahnya seperti dituliskan oleh Manu yang dikutip Glen kamarisah Thahar: Orang kehilangan kehormatan karena perempuan, dan asal permusuhan adalah perempuan. Perempuan memiliki tabiat menggoda laki-Iaki dan tidak pernah dapat mandiri. Wanita tidak diperkenankan menuruti kehendaknya sendiri tapi harus

tunduk kepada orang tua (yang belum menikah) atau pada suaminya. Wanita itu sama dengan budak belian yang punya satu tuan yakni suaminya. Kita melihat dalam pelaksanaan keagamaan orang Hindu bahwa apabila seorang wanita ditinggal mati oleh suaminya maka harus rela dibakar hidup-hidup sebagai tanda kesetiaan dan kecintaan seorang istri terhadap suaminya. Betapa menyedihkan nasib wanita, padahal kalau seorang suami yang ditinggal mati oleh istrinya, tidak disuruh untuk menyertai istrinya dibakar. Dalam pandangan agama Yahudi seorang wanita dijadikan Tuhan dengan mencabut tulang Nabi Adam, apabila seorang wanita melahirkan anak laki-Iaki dia menjadi najis selama satu minggu tetapi jika dia melahirkan anak perempuan dia menjadi najis dalam dua minggu (Imamat pasal 12:2). Ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan laki-laki dengan perempuan. Setiap orang Yahudi laki-laki dalam sembahyangnya setiap pagi memujakan "Terpujilah Tuhan yang telah membuatku tidak perempuan" dan perempuan Yahudi bersembahyang mengucapkan. "Terpujilah Tuhan Robbul Alamin, bahwa la membuat aku menurut kehendaknya". Sementara dalam agama Kristen disebutkan dalam perjanjian baru agar wanita itu tunduk dan patuh pada suami karena laki-laki yang menjadi suaminya adalah pemimpin bagi istrinya. Sehingga dalam sidang Jumat wanita dilarang untuk berbicara kalaupun dia ingin bertanya cukup pada suaminya di rumah, karena wanita tidak punya hak untuk berbicara dalam sidang Jumat. Dalam agama Kong Hu Chu wanita direndahkan dan laki-laki itu disucikan sebagai tanda kesucian mereka itu, wanita dilarang duduk bersama-sama dengan mereka untuk menuntut ilmu.

3. Wanita dalam Pandangan Agama Islam

Dalam pandangan Islam tidak ada perbedaan antara laki-laki dengan wanita. Islam sebagai agama rahmatan lil' alamin telah mengangkat derajat kaum wanita dari penindasan dari ajaran-ajaran sebelumnya. Dalam suatu masyarakat yang dibina berdasarkan ajaran Islam, otomatis kedudukan wanita sejatinya lebih ditentukan ajaran tersebut. Ajaran islam sendiri memberi kedudukan dan penghormatan yang tinggi kepada wanita, dalam hukum ataupun masyarakat. Dalam kenyataan, jika kedudukan tersebut tidak seperti yang diajarkan ajaran Islam maka itu adalah soal lain. Sebab struktur, adat, kebiasaan dan budaya masyarakat juga memberikan pengaruh yang signifikan.

Beberapa bukti yang menguatkan dalil bahwa ajaran Islam memberikan kedudukan tinggi kepada wanita, dapat dilihat pada banyaknya ayat Al-Quran yang berkenaan dengan wanita. Bahkan untuk menunjukkan betapa pentingnya kedudukan wanita, dalam Al-Quran terdapat surah bernama An-Nisa, artinya wanita. Selain Al-Quran, terdapat berpuluh hadits (sunnah) Nabi Muhammad SAW yang membicarakan tentang kedudukan wanita dalam hukum dan masyarakat. Pada masyarakat yang mengenal praktik mengubur bayi wanita hidup-hidup, ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW sangat revolusioner, yakni:

"Yang terbaik di antara manusia adalah yang terbaik sikap dan perilakunya terhadap kaum wanita". Atau pula: "Barangsiapa yang membesarkan dan mendidik dua putrinya dengan kasih sayang, ia akan masuk surga". Kemudian: "Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu" (hadits).

Fisiknya yang lemah, membuat wanita dipandang tak berguna karena ia tak dapat berperang mempertahankan kehormatan. Pandangan ini tentu saja merendahkan derajat wanita dalam masyarakat. Kedudukan wanita yang rendah itulah, kemudian menjadi salah satu hal yang diperangi dan ditinggalkan oleh ajaran Islam. Menurut ajaran Islam: Kedudukan wanita sama dengan pria dalam pandangan Allah (QS Al-Ahzab:35, Muhammad:19).

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan

perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Ahzab:35)

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (QS Muhammad:19)

Persamaan ini jelas dalam kesempatan beriman, beramal saleh atau beribadah (shalat, zakat, berpuasa, berhaji) dan sebagainya. Kedudukan wanita sama dengan pria dalam berusaha untuk memperoleh, memiliki, menyerahkan atau membelanjakan harta kekayaannya (QS AnNisa: 4 dan 32).Kedudukan wanita sama dengan pria untuk menjadi ahli waris dan memperoleh warisan, sesuai pembagian yang ditentukan (QS An-Nisa: 7). Wanita adalah pasangan pria, hubungan mereka adalah kemitraan, kebersamaan dan saling ketergantungan (QS An-Nisa: 1, At-Taubah: 71, Ar-Ruum: 21, Al-Hujurat: 13). QS Al-Baqarah:2 menyimbolkan hubungan saling ketergantungan itu dengan istilah pakaian; "Wanita adalah pakaian pria, dan pria adalah pakaian wanita". Kedudukan wanita sama dengan kedudukan pria untuk memperoleh pahala (kebaikan bagi dirinya sendiri), karena melakukan amal saleh dan beribadah di dunia (QS Ali Imran:195, An-Nisa:124, At-Taubah:72 dan Al-Mu'min:40). Amal saleh di sini maksudnya adalah segala perbuatan baik yang diperintahkan agama, bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, lingkungan hidup dan diridhai Allah SWT. Hak dan kewajiban wanita-pria, dalam hal tertentu sama (QS Al-Baqarah:228, AtTaubah:71) dan dalam hal lain berbeda karena kodrat mereka yang sama dan berbeda pula (QS Al-Baqarah:228, An-Nisa:11 dan 43). Kodratnya yang menimbulkan peran dan tanggung jawab antara pria dan wanita, maka dalam kehidupan sehari-hari --misalnya sebagai suami-

isteri-- fungsi mereka pun berbeda. Suami (pria) menjadi penanggungjawab dan kepala keluarga, sementara isteri (wanita) menjadi penanggungjawab dan kepala rumah tangga. Menurut ajaran Islam, seorang wanita tidak bertanggungjawab untuk mencari nafkah keluarga, agar ia dapat sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada urusan kehidupan rumah tangga, mendidik anak dan membesarkan mereka. Walau demikian, bukan berarti wanita tidak boleh bekerja, menuntut ilmu atau melakukan aktivitas lainnya. Wanita tetap memiliki peranan (hak dan kewajiban) terhadap apa yang sudah ditentukan dan menjadi kodratnya. Sebagai anak (belum dewasa), wanita berhak mendapat perlindungan, kasih sayang dan pengawasan dari orangtuanya. Sebagai isteri, ia menjadi kepala rumah tangga, ibu, mendapat kedudukan terhormat dan mulia. Sebagai warga masyarakat dan warga negara, posisi wanita pun sangat menentukan.

4. Wanita dan Emansipasi

Emansipasi yang dituntut oleh kaum wanita berasal dari negeri barat, dimana jauh sebelum masa renaissance ketika masa kejayaan agama Kristen banyak dogma-dogma yang mereka ajarkan yakni menentang ilmu pengetahuan dan merendahkan kaum wanita. Akhirnya wanita bangkit dan menuntut kebersamaan hak dan kebebasan yang sama dengan pria dalam segala hal (di Barat). Dan tuntutan emansipasi yang didengungkan Barat berimbas pada dunia Islam, tanpa mereka sadari bahwa semua yang dituntut oleh wanita Barat sebenarnya telah dimiliki oleh umat Islam. Karena jauh sebelum adanya emansipasi didengungkan, Islam telah mengangkat derajat kaum wanita dan menempatkannya pada tempat yang terhormat. Dengan adanya emansipasi yang dituntut wanita modern maka terbentuklah "rumah tangga modern" bagi kaum wanita yakni wanita harus sering meninggalkan rumah. la mesti aktif dalam meniti karirnya mengejar prestasi seperti suaminya. Wanita yang karena kesibukan kariernya menyerahkan segala urusan rumah tangga kepada para pembantu bahkan sampai kepada pengurusan anak yang merupakan titipan Allah.

5. Wanita Sebagai Imam Dalam Sholat

Imam adalah sama dengan pemimpin, dalam hal ini pemimpin shalat. Wanita sebagai pemimpin shalat, terjadi perselisihan pendapat dikalangan ulama fikih. Sebahagian membolehkan wanita menjadi imam dan sebahagian menolaknya dengan alasan-alasan tertentu, dan sebagian lainnya membolehkannya dengan kehususan yang menjadi makmumnya adalah wanita. Menurut Imam syafi'i, wanita mengimami wanita dibolehkan tetapi tidak boleh mengimani laki-laki. Menurut jumhur Ulama, wanita dilarang mengimami laki-laki, sebab wanita harus dibelakangkan seperti yang diajarkan oleh hadist: Akhkhiru hunna min haytsu akhkhara hunna allahu ' Akhirkanlah wanita, karena Allah telah mengakhirkan mereka (wanita)".

Kalaulah wanita dapat mengimami laki-laki tentunya sejak masa nabi hal ini sudah tersebar, tetapi ternyata tidak demikian kenyataanya. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh ulama yang membolehkan kaum wanita menjadi imam dengan alasan persamaan derajat dalam sholat, terlebih-lebih lagi kenyataan seperti ini sudah banyak diriwayatkan sejak permulaan Islam, mereka mengutip sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ummu Waraqah: Inna Rasulallahi shallallahu 'alayhi wasallama kaana yazuuruha fi baytihaa wa ja'ala lahaa yu'adzdzinu laha wa amarahaa anta'umma ahla daarihaall ' Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah menziarahinya (Ummu Waraqah) dirumahnya, dan menunjukkan seorang mu'azin yang adzan untuknya dan memerintahkan Ummu Waraqah untuk menjadi Imam seisi rumahnya' .

Dengan alasan tersebut diatas maka seorang wanita dibolehkan untuk menjadi imam bagi makmum wanita.

6. Sebagai Hakim

Mengangkat wanita menjadi hakim terjadi perselisihan pendapat di kalangan para ulama, sebagian membolehkannya dan sebahagian melarangnya dengan mengemukakkan alasan masingmasing. Imam Abu Hanifah membolehkan wanita menjadi Hakim tetapi terbatas pada urusan harta, karena menurutnya peradilan itu sama dengan kesaksian wanita dalam harta. Sementara itu at-Thabari menyatakan bahwa wanita itu boleh menjadi hakim dalam segala perkara, dengan alasan bahwa setiap orang dapat memberi peradilan di antara orang banyak, keculi dalam perkara yang telah takhsiskan oleh ijma' yakni Imamah kubra tetapi jumhur

ulama berpendapat bahwa syarat menjadi hakim haruslah laki-laki sehingga menolak keputusan peradilan yang dilakukan oleh wanita. Alasan penolakan mereka adalah menyamakan wanita dengan hamba yakni kurangnya kehormatan mereka. Sedangkan al-Mawardi seorang ahli fiqih siyasah terkemuka pada zamannya menolak hakim wanita dengan alasan wanita tidak mempunyai kemampuan untuk memegang jabatanjabatan. Menurut Ibnu Rusydi penolakan para fuqaha' atas hakim wanita alasannya adalah analogi kepada Imamah Kubra (jabatan Kepala Negara) yang sudah disepakati oleh para ulama.

7. Sebagai Pemimpin Negara

Syarat kelelakian untuk menjadi kepala negara/pemerintahan tidak diperdebatkan lagi oleh ahli fiqih terutama yang klasik. Syarat itu dipandang sebagai suatu yang jelas sehingga tidak perlu dibahas panjang lebar, bahkan ada yang melewatkannya begitu saja. Masalah kepemimpinan dalam negara yang dipegang oleh umat Islam sekitar tahun 1989 ketika Benazir Bhuto terpilih menjadi presiden Pakistan, para fuqaha' ramai membincangkannya dan mencoba menggali bagaimana menurut hukum islam tentang kepemimpinan wanita. Menurut Imam al-Haramain al-Juaini, para ulama telah berijma' bahwa, wanita tidak boleh menjadi imam dan hakim. Rasyid Rido (1935) mengutip pendapat At- Taftazani yang menyatakan bahwa syarat menjadi imam (kepala negara/pemerintahan) itu adalah mukallaf, muslim, laki-laki, mujtahid, berani, bijaksana, cakap, sehat indrawi, adil dan dari kalangan Quraisy. Sedangkan menurut ulama Hanafiah syarat Imam adalah Muslim, laki-laki, merdeka, berani dan dari kalangan Quraisy. Alasan kuat yang digunakan untuk menjelaskan ketidakbolehan wanita menjadi pemimpin adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari yang berasal dari Abu Bakar yakni: lan yaflaha qawmun wallaw amarahum imra 'atun " Tidak akan beruntung suatu kaum yang mengangkat wanita menjadi pemimpinnya" (HR.Bukhari).

Menurut al-Mawardi, searang ahli fiqih siyasah yang sezaman dengan Zuaihi membolehkan wanita menjadi hakim atau pemimpin berarti melawan sunnatullah karena Allah telah berfirman bahwa lelaki itu memimpin kaum wanita karena Allah memberi kelebihan terhadap sebagian orang atas sebagian yang lain. (QS An-Nisa':34). Kelebihan yang dimaksud menurut ulama fikih dalam firman Allah tersebut adalah kelebihan akal dan kebijaksanaan.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian-uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa wanita zaman sebelum Islam dipandang sangat hina rendah oleh masyarakat manapun di bumi ini. Anggapan terhadap wanita kadang sama sekali tak masuk diakal seperti menganggap bahwa wanita bukan makhluk manusia. Banyak umat Islam masih terpengaruh dengan pandangan lama disebabkan karena struktur masyarakat yang telah kokoh, masih belum dapat menerima kesamaan kedudukan antara laki-laki dan wanita sehingga para ahli fikih masih menganggap wanita tidak boleh menjadi pimpinan terutama dalam kepemimpinan dalam politik. Mereka menganggap politik itu dunia laki-laki, dan tidak pantas buat wanita. Alasan penolakan para fuqaha' menolak kepemimpinan wanita alam surat an-Nisa' ayat 34. Para ulama sepakat untuk tidak membolehkan wanita menjadi hakim dan pemimpin. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa wanita tidak boleh mengabaikan tugas utamanya dalam rumah tangga dan dalam tugas kepemimpinannya tetap berada dijalur yang telah ditetapkan oleh Islam.

B. Daftar Pustaka

Bacchtiar, Harsja W., Kartini dan Peranan. 1990. Wanita dalam Masyarakat Kita, dalam Satu Abad Kartini, Cet. Ke-4, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Fakih, Masaur. 1996. Posisi Kaum Perempuan dalam Islam: Tinjauan dari Analisis Gender dalam Membincang Feminisme. Surabaya: Risalah Gusti. Ibnu Jarullah, Abdullah. 1995. Pedoman Wanita Shalihah. Jakarta. Rica Grafika. Izzat, Hibbah Rauf. 1995. Wanita dan Politik Pandangan Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mernissi, Fatima. 1995. Setara di Hadapan Allah. Yogyakarta: LSPPA-Yayasan Prakarsa. Mutahhari, Murthada. 1992. Hak-Hak Wanita dalam Islam, diterjemahkan oleh Ummu Munaya. Jakarta: YAPI. Thahar, Kamarisah. 1982. Hak Asasi Wanita dalam Islam. Medan: Offset Maju. Yanggo, Huzaimah T., 1993. Konsep Wanita Menurut Qur'an, Sunnah dan Fikih (dalam Wanita Islam Indonesia Dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual, Editor Johan H Meuleman. Jakarta: INIS.