Anda di halaman 1dari 1

Analisa Jurnal RENI JULIANITA (220110090029)

Antigen spesifik-prostat (PSA) adalah polipeptida glikoprotein rantai tunggal yang terdiri dari 237 asam amino residu. Kemajuan dalam deteksi kanker dengan mengembangkan PSA didapatkan dari pemahaman berbagai bentuk molekular PSA dalam darah. Sebelumnya diasumsikan bahwa PSA yang diukur oleh uji imun dalam darah merupakan bentuk natural dari 33 kDa protein, namun kemudian ditemukan bahwa sebagian besar PSA dalam darah berikatan dengan serum inhibitor 1antichymotrypsin (ACT) dan hanya sedikit bagian dari PSA yang berbentuk non-kompleks. Karena itulah, digunakan istilah free PSA (fPSA) dan complexed PSA (cPSA) untuk membedakan nonkompleks dengan kompleks PSA. Uji imun dikembangkan untuk membedakan fPSA dengan total PSA (tPSA = jumlah dari fPSA + cPSA) hingga akhirnya ditemukan bahwa semakin rasio fPSA berkaitan dengan semakin resiko ca prostat. Sebaliknya, semakin persentase fPSA berkaitan dengan penyakitan benigna seperti BPH. Telah banyak antibody PSA yang berbeda digunakan untuk membedakan fPSA dari cPSA dan tPSA. Penelitian ini membandingkan kegunaan diagnostik dari cPSA, tPSA dan rasionya dengan fPSA untuk BPH dan ca prostat. Ini merupakan penelitian yang pertama kali dilakukan untuk menilai cPSA dalam populasi suku/bangsa di Arab Saudi. Penelitian ini dilakukan di King Fahad National Guard Hospital (KFNGH) di Riyadh. Metode yang digunakan adalah metode immulite, yaitu suatu pengujian imun chemiluminometric. Sensitivitas dan spesifitas pada pengambilan nilai yang berbeda (20 dan 40ng/mL) diukur, dan jika memungkinkankurva ROC dan area di bawah kurva (AUC) juga diperhitungkan dan dibandingkan. Sampel darah dikumpulkan dari 54 pasien (di atas usia 50 tahun) dan dilakukan pengujian tPSA, cPSA, dan fPSA. 35 pasien terbukti secara histologis dan klinis mengidap BPH dan 19 pasien terbukti mengidap kanker. Dengan cPSA yang diambil dari 4ng/mL sensitivitasnya 79%, spesifitasnya 34%, dan nilai prediktif positif dan negatifnya (PPV dan NPV) 39% dan 75%. Dari jumlah pengambilan yang sama untuk tPSA, sensitivitasnya 84%, spesifitasnya 29%, PPV 39%, dan NPV 77%. Sensitifitas kedua tes tersebut lebih rendah pada pengambilan 20ng/mL tetapi sensitifitasnya sampai 77% ungtuk cPSA dan 69% untuk tPSA. Area di bawah ROC ditemukan 0,608 untuk tPSA dan 0,559 untuk cPSA (P = 0,69). Insiden ca prostat pada populasi di Arab Saudi lebih rendah bila dibandingkan dengan populasi di Negara-negara Barat. Data tersebut memperlihatkan sedikit keuntungan dalam penggunaan cPSA disbanding tPSAuntuk menekan BPH dan ca prostat dalam populasi yang diteliti.