Anda di halaman 1dari 7

MASTER PLAN PETERNAKAN

DINAS KELAUTAN, PERIKANAN DAN PETERNAKAN KABUPATEN MANGGARAI BARAT, NUSA TENGGARA TIMUR
JL. Serkera, Kelurahan Wae Kelambu, Telp./Faks (0385) 41501

1. Latar Belakang Manggarai Barat (Mabar) merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Manggarai pada tahun 2003 dan wilayahnya meliputi Pulau Flores bagian Barat, Pulau Komodo, Rinca, Longos dan beberapa pulau kecil lainnya. Luas wilayahnya 2.947,50 km dengan batas-batasnya sebagai berikut : Timur-Kabupaten Manggarai, Barat-Selat Sape, Utara-Laut Sawu dan Selatan-Laut Flores. Topografinya bervariasi antara dataran dan perbukitan. Dibandingkan dengan daerah lainnya di NTT, wilayah Mabar merupakan salah satu daerah tersubur yang sangat potensial bagi pengembangan pertanian. Secara Demografis Kabupaten Mabar terbilang sebagai kabupaten yang padat penduduknya di wilayah NTT dengan jumlah penduduk lebih dari 200 ribu jiwa dan 29,13 % diantaranya dikategorikan sebagai masyarakat miskin. Mata pencaharian masyarakat sangat beragam, di antaranya PNS, petani, nelayan, peternak dan lain sebagainya. Di antara berbagai sektor pekerjaan tersebut, peternakan merupakan salah satu subsektor unggulan yang terus dikembangkan oleh pemerintah melalui Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat. Sistem pengelolaan peternakan masyarakat pada umumnya masih bersifat tradisional dengan melibatkan banyak rumah tangga. Persentasi keterlibatan rumah tangga dalam

pengelolaan peternakan mencapai lebih dari 10 %. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara subsektor peternakan dan masyarakat Manggarai Barat. Ternak bernilai investasi siap pakai, selain itu ternak juga dimanfaatkan dalam urusan-urusan adat istiadat setempat. Sejalan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin bertambah, tingkat permintaan masyarakat Mabar akan protein hewani pun semakin bertambah, selain itu keterbukaan lalu lintas perdagangan ternak antar pulau menyebabkan subsektor peternakan semakin menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat peternak. Untuk itu dalam pengelolaan subsektor peternakan peternakan dibutuhkan upaya yang dijalankan secara serius dari hulu sampai hilir oleh berbagai elemen yang terlibat di dalamnya. Dalam upaya pembangunan subsektor penternakan perlu dikaji beberapa unsur yang saling berkaitan, yaitu: areal peternakan beserta berbagai sarana prasarana di dalamnya, ternak dan kesehatan ternak, sumber daya manusia (peternak dan petugas pemerintah), pasar dan penyebaran ternak/hasil ternak yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat veteriner. Program kerja pemerintah Manggarai Barat pada subsektor peternakan bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat, khususnya peternak melalui berbagai strategi antara lain : Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Peningkatan Produksi Menjamin kesehatan manusia dari serangan penyakit menular asal hewan (zoonosis) ataupun penyakit yang muncul akibat mengkonsumsi produk-produk peternakan (food borne disease). Mengupayakan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) maupun pendapatan nasional melalui subsektor peternakan

2. Kajian Strategis a. Kekuatan Manggarai Barat memiliki memiliki berbagai aspek positif yang sangat mendukung pengembangan subsektor peternakan. Dari segi ketersediaan lahan, areal yang digunakan untuk usaha peternakan oleh para peternak adalah berupa tanah pekarangan dan lahan kosong milik pribadi atau umum. Pada umumnya pada lahan tersebut telah tersedia secara alamiah berbagai jenis pakan dan air minum. Hal ini dapat dimengerti karena sebagian besar wilayah Manggarai Barat dikategori sebagai tanah subur dengan curah hujan yang cukup. Gambaran tentang potensi ternak di Kabupaten Manggrai Barat dapat terlihat dari keanekaragaman jenis ternak dengan jumlah yang cukup besar untuk masing-masing spesies. Populasi ternak di ternak di Manggarai Barat pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: Nomor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis ternak Kuda Sapi Kerbau Kambing Babi Domba Ayam Itik Unggas lainnya Jumlah 710 6.377 16.764 6.414 20.283 4 84.060 1220 58

Alasan utama untuk beternak bagi masyarakat adalah karena beternak telah menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dari masyarakat di mana ternak dapat menjadi sumber protein hewani yang sangat dibutuhkan manusia. Ternak juga berperan sebagai material yang digunakan dalam ritus-ritus adat istiadat masyarakat selain itu, ternak memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Sistem pengelolaan peternakan untuk berbagai jenis spesies ternak pada umumnya menggunakan pola-pola warisan nenek moyang (tradisional), yaitu dengan cara diumbar. Metode ini merupakan metode yang sangat sederhana sehingga dapat dimaklumi bahwa banyak rumah tangga (> 10 % di Manggarai Barat terlibat dalam subsektor peternakan dan hal ini berdampak terhadap pengurangan angka pengangguran. Keterbukaan lalu lintas antar wilayah dan antar pulau menyebabkan pemasaran ternak dan produk-produk asal ternak menjadi semakin luas. Saat ini, daerah pemasaran ternak dan produk-produk ternak dari Mabar meliputi : wilayah Mabar, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Sumba dan Jeneponto. Selain itu, Manggarai Barat juga mendapat pasokan daging dari wilayah lain, khususnya produk-produk asal unggas. Menyadari arti penting peran subsektor peternakan bagi masyarakat, pemerintah daerah maupun pusat melalui instansi terkait melakukan berbagai program

pengembangan peternakan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, misalnya : NTASP, BPLM, PMUK, LM3, Anggur Merah dan Pengembangan Ternak Pemerintah Daerah melalui Program Empat Penjuru Mata Angin. b. Kelemahan Dalam pengembangan subsektor peternakan ditemukan beberapa kelemahan, misalnya lemahnya pemanfaatan lahan yang dibuktikan oleh banyaknya lahan kosong, ketergantungan pada pakan ternak alamiah yang tersedia dan kurangnya ketersediaan pakan selama musim kemarau. Selain kelemahan tersebut ditemukan pula beberapa kelemahan lain yang berhubungan dengan ternak/hewan misalya rendahnya kualitas plasmanutfah yang tersedia dalam peternakan masyarakat. Ternak dengan kualitas genetik yang rendah/ras inferior (pertumbuhan lambat, rentan terhadap penyakit dll) dapat melemahkan perkembangan suatu peternakan. Tetapi sebetulnya masalah utama dalam pengelolaan subsektor peternakan adalah faktor salah manajemen. Manajemen peternakan berarti segala urusan yang berkaitan dengan pengelolaan peternakan oleh Sumber Daya Manusia. Umumnya kualitas SDM peternakan di wilayah Manggarai Barat masih belum profesional seperti yang tergambar oleh adanya pola pemeliharaan ternak umbar/liar, rendahnya tingkat kebersihan, sanitasi, pemeliharaan kesehatan (pencegahan dan pengobatan), manajemen perkawinan dan kecilnya skala peternakan sehingga hanya berperan sebagai side job serta kurangnya wadah/sarana yang berperan untuk memperjuangkan kepentingan para peternak dan mengatur lalu lintas informasi seputar dunia peternakan. Rendahnya manajemen pemasaran juga menjadi parameter yang mengindikasikan rendahnya SDM para pelaku subsektor peternakan. Sistem pemasaran ternak/hasil ternak pada umumnya bersifat sederhana dengan rantai pemasaran yang pendek (produsenkonsumen), pasar hewan di mana transaksi terjadi secara langsung antara pembeli dan peternak di kandang. Hal ini menyebabkan distribusi ternak dari produsen (peternak) ke pembeli menjadi tidak stabil dan harganyanya pun tidak memiliki ukuran yang tetap. Dalam kaitannya dengan pemerintah ditemukan beberapa kelemahan dalam program maupun pelaksanaan program yang mempengaruhi perkembangan subsektor peternakan misalnya fasilitas pasar hewan yang belum tersedia, sarana tranportasi khususnya antar pulau yang kurang memadai sehingga pemasaran hasil peternakan menjadi terhambat, lemahnya penegakan aturan, minimnya kelembagaan yang menangani fungsi peternakan (hanya satu bidang), kurangnya tenaga medis/paramedis untuk menangani kesehatan ternak dan kurangnya anggaran untuk pembangunan subsektor peternakan. c. Peluang Subsektor peternakan berpeluang untuk diarahkan menjadi industri baru yang dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat maupun pendapatan asli daerah. Hal ini didukung oleh beberapa kenyataan, misalnya adanya ketersediaan pakan dari limbah-limbah pertanian potensial misalnya limbah kopi, kakao dan jambu mete yang belum dimanfaatkan sebagai makanan konsentrat, semakin berkembangnya

teknologi yang dapat mengubah lahan kritis menjadi lahan subur dan adanya lahan milik pribadi maupun umum yang dapat dimanfaatkan untuk areal peternakan dan ditanami Hijauan Makanan Ternak (HMT), misalnya lahan milik Pemda di dataran wol. Dalam era yang semakin modern seperti saat ini, berbagai kemajuan dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diterapkan untuk memperbaiki kualitas peternakan, misalnya inseminasi buatan/kawin suntik menggunakan semen pejantan unggul, sinkronisasi estrus dan berbagai hal lain yang bermanfaat untuk meningkatkan produksi peternakan. Dalam kaitannya dengan manajemen peternakan, mutunya dapat ditingkatkan melalui berbagai sumber informasi seputar dunia peternakan yang tersedia pada berbagai buku-buku serial peternakan populer yang berisi petunjuk praktis dalam menjalankan peternakan. Selain itu, sumber informasi lain yang dapat dimanfaatkan, misalnya internet, kegiatan penyuluhan, pelatihan dan lain-lain. Penerapan manajemen dan

teknologi peternakan yang baik ternyata memberikan kemajuan positif dalam pengelolaan peternakan seperti yang sudah dilakukan oleh daerah-daerah yang sudah maju. Saat ini, tingkat pertumbuhan penduduk dan kesejahteraan masyarakat yang semakin meningkat sangat berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan produk-produk asal ternak yang berdampak terhadap peningkatan nilai ekonomisnya. Hal ini didukung pula oleh sistem tranportasi dalam daerah maupun antar daerah yang semakin membaik sehingga membuka peluang untuk memasarkan produk-produk Manggarai Barat ke berbagai wilayah lain yang membutuhkan. Tingginya permintaan masyarakat terhadap produk-produk peternakan berpeluang untuk menghidupkan kelompok-kelompok tani ternak melalui program-program pemberdayaan masyarakat dengan pemberian bantuan ternak. peternakan dari

d.

Tantangan Dalam pembangunan subsektor peternakan ditemukan berbagai macam tantangan,

misalnya pertambahan jumlah penduduk menyebabkan terjadinya alihfungsi lahan peternakan untuk pemukiman dll. Selain itu, kepemilikan atas tanah secara pribadi juga semakin mengurangi ruang gerak peternak/ternak dalam mencari makanan (khusus untuk ternak yang digembalakan). Topografi Mabar yang berbukit dan berjurang juga menyebabkan mobilitas ternak dan petugas dalam menjangkau wilayah-wilayah basis peternakan untuk layanan kesehatan hewan menimbulkan banyak masalah, khususnya penyakit ternak menjadi sulit teratasi. Beberapa jenis penyakit ternak yang sering dihadapi masyarakat (endemik), antara lain : Septicaemia enzootica, Surra, Erysipelas, Rabies, Newcastle Disease Cronic Respiratory Disease dan Kolera pada unggas. Penyakit-penyakit tersebut menjadi momok yang menghambat perkembangan subsektor peternakan. Sebenarnya masalah utama pada subsektor peternakan adalah faktor salah manajemen. Dalam memperbaiki manajemen peternakan masyarakat ditemukan berbagai tantangan, misalnya rendahnya tingkat pendidikan, perekonomian dan kesadaran

masyarakat akan arti penting berbagai informasi seputar dunia peternakan. Dalam pemeliharaan ternak masyarakat lebih cenderung menggunakan pola-pola pemeliharaan warisan nenek moyang dibandingkan pola baru yang membutuhkan profesionalisme. Hal ini menyebabkan mutu ternak/produk-produk asal ternak menjadi rendah sehingga menjadi sulit untuk dipasarkan secara global yang sangat mengutamakan mutu. Berkaitan dengan tugas pemerintah dalam membangun subsektor peternakan di Manggarai Barat ditemukan berbagai permasalahan, misalnya penertiban pemeliharaan ternak, perguliran ternak bantuan baik milik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat menjadi sulit karena adanya resistensi dari masyarakat dalam penerapan regulasi/kesepakatan yang sudah dibuat.

3.

Strategi Pengembangan Dalam kaitannya dengan tugas pemerintah khususnya Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat sebagai elemen pendukung dalam subsektor peternakan diperlukan berbagai strategi/program yang tepat sasaran. Tiga hal yang diperlukanan dalam pengembangan subsektor peternakan adalah peningkatan kualitas SDM, peningkatan produksi dan perlindungan kesehatan masyarakat veteriner (konsumen). a. Peningkatan kualitas SDM Dalam sistem domestikasi peternakan, SDM merupakan unsur utama yang menghidupkan peternakan tersebut. Kualitas SDM yang rendah menyebabkan produksi peternakan juga menjadi rendah baik secara kualitas maupun kuantitas. Sebaliknya SDM yang baik menyebabkan pola manajemen peternakan semakin meningkat sehingga berdampak terhadap peningkatan produksi peternakan. Beberapa kegiatan yang diperlukan untuk peningkatan kualitas SDM ini antara lain : Pelatihan petugas dan peternak potensial, penyuluhan kepada kelompok ternak tentang kesehatan ternak dan manajemen peternakan yang benar baik secara langsung maupun media masa, pengiriman tugas belajar bagi petugas peternakan, pembukaan formasi CPNSD bagi tenaga teknis peternakan dan penyuluh peternakan sehingga terdapat di petugas di setiap desa, meningkatkan kerjasama dengan pihak lain (swasta maupun pemerintah di luar Manggarai Barat). b. Peningkatan Produksi Peningkatan produksi merupakan tujuan utama dalam pengembangan peternakan karena tingkat produksi yang tinggi mengindikatsikan peningkatan kesejateraan peternak. Dalam hal ini, kualitas dan kuantitas produksi peternakan harus mengalami peningkatan. Langkah-langkah strategis dalam peningkatan produksi adalah : Mengarahkan sistem peternakan rakyat ke sistem peternakant semi intensif dan

intensif. Dalam hal ini peran pemerintah dengan memperkenalkan kepada para peternak segala informasi tepat tentang manajemen peternakan yang benar. Hal tersebut dapat dilakukan melalui penyuluhan, seminar pembuatan leaflet, penyediaan buku-buku bagi kelompok-kelompok ternak, mengadakan

pelatihan/magang bagi peternak potensial.

Merangsang minat masyarakat terhadap subsektor peternakan melalui program bantuan ternak

Menjamin perlindungan kesehatan ternak dengan berbagai cara antara lain, isolasi wilayah dari penyakit tertentu, surveilans, vaksinasi dan pengobatan terhadap hewan yang sakit

- Peningkatan kualitas ternak berupa kegiatan pemuliaan ternak atau introduksir bibit ternak baru yang bermutu ke dalam daerah Kabupaten Manggarai Barat - Peningkatan kualitas pakan ternak dan penatalaksanaan padang penggembalaan ternak. Pemetaan potensi potensi pengembangan ternak Menciptakan berbagai regulasi yang dibutuhkan menyangkut tata ruang, distribusi dan tata cara pemeliharaan ternak yang aman dan sehat

c.

Perlindungan Masyarakat Veteriner/Konsumen Melakukan pengawasan terhadap peredaran produk-produk peternakan yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan memberikan perlindungan terhadap masyarakat dari serangan penyakit menular asal hewan (zoonosis), misalnya dengan penertiban pemotongan ternak di Rumah Potong Hewan.

4. Pengembangan Pemasaran : Pemasaran bertujuan memberikan tambahan ekonomis bagi peternak, pengusaha peternakan dan sektor penerimaan bagi daerah. Produk yang dipasarkan berupa ternak hidup maupun hasil olahan ternak berupa daging, susu dan telur. Hasil olahan ternak baik langsung maupun pabrikasi. Pengembangan pemasaran meliputi : a. Pemasaran Domestik : sasaran pemasaran pemasaran produk-produk peternakan yaitu dalam daerah Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Propinsi NTT, Kawasan Timur Indonesia dan secara nasional. b. Pasaran Eksport : penciptaan pasar langsung produk-produk peternakan yang telah

memenuhi Standart Internasional dengan tujuan Kawasan ASEAN, Asia, Australia, Kawasan Eropa dan Amerika.