Anda di halaman 1dari 3

Pemikiran Vandana Shiva tentang Ekofeminisme dan Refleksinya pada Kasus Pencemaran di Teluk Buyat oleh PT.

Newmont Minahasa Raya Introduction Vandana Shiva adalah seorang fisikawan dan aktivis lingkungan yang lahir pada 1952 di lembah Dehradun, India. Shiva lahir dari ayah seorang konservator hutan dan ibu sebagai seorang petani yang cinta terhadap alam.1 Vandana Shiva menyelesaikan gelar Ph.D. dalam Filsafat Ilmu pada tahun 1978. Pada tahun 1979, Shiva menyelesaikan gelar Ph.D. dalam Filsafat Ilmu di University of Western Ontario. Dia kemudian melanjutkan penelitian interdisipliner dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan kebijakan lingkungan , di Indian Institute of Science dan Indian Institute of Management di Bangalore hingga 1982. Catatan Shiva selama 10 tahun terakhir telah melakukan pencapaian pada komitmennya yang total, produktif, dan efektif di dunia lingkungan hidup sebagai aktivis, advokat, dan intelektual. Pemikiran Ekofeminisme Vandana Shiva. Vandana Shiva memandang bahwa revolusi hijau sebagai praktek

pembangunan sepenuhnya menganut pada ideologis maskulinitas yang merupakan manifestasi dari pengetahuan yang reduksionis. Hal ini menjadi logis, karena revolusi hijau menuju pada monokultur, unformalitas, dan homogenitas. Revolusi hijau menyingkirkan segala bentuk pengetahuan lokal dan mengancam keanekaragaman hayati yang merupakan manifestasi prinsip feminis. Padahal, kehidupan sebagian besar masyarakat dan kaum perempuan terutama di dunia ketiga sepenuhnya tergantung pada keanekaragaman hayati sehingga mereka berkepentingan atas kelestariannya.2 Kritik terbesarnya terhadap neoliberalisme yang kapitalistik berasal dari analisanya terhadap sejarah ilmu pengetahuan modern berdasarkan cara berpikir maskulin (masculine way of thinking). Dalam pendekatannya, Shiva memfokuskan gagasannya pada dua ideologi yang berlawanan, yakni antara prinsip maskulinitas dengan feminitas. Cara berpikir maskulin dicirikan oleh kecenderungan rasional,kompetitif, agresif, dan dominatif. Prinsip ini berbeda dengan Shiva yang menganut prinsip feminin dimana lebih bersifat intuitif, lebih senang berkoordinasi
1 http://en.wikipedia.org/wiki/Vandana_Shiva 2 semarangkini.blogspot.com

dan bekerja sama serta lebih condong memelihara dan merawat.3 Namun kenyataannya, maskulinitas dalam proses sejarah menjadi ideologi yang dominan dan berhasil masuk dalam berbagai aspek kehidupan seperti developmentalisme, modernisasi, industrialisasi, militerisme, positivisme, dan reduksionisme serta berbagai ideologi kekerasan lainnya. Pemikiran Shiva berangkat dari kepeduliannya pada proses penghancuran ekologi dan penyingkiran prinsip feminitas beserta spiritualitas budaya oleh suatu ideologi maskulin yang bersandar pada budaya patriaki dan kapitalisme serta reduksionisme. Pandangan Shiva penuh dengan dimensi spiritualitas dalam memandang alam secara feminin dan menawarkan pendekatan holistik yakni kaitan antara feminitas dan ekologi. Maka ekofeminisme menawarkan paradigma alternatif dalam memandang alam. Ekofeminisme adalah gerakan sosial dan politik yang menunjukkan adanya kesamaan yang cukup besar antara lingkungan hidup dan feminisme.4 Vandana Shiva menjelaskan bahwa salah satu misi dari ekofeminisme adalah untuk mendefinisikan ulang bagaimana masyarakat melihat produktivitas dan kegiatan, baik perempuan dan alam yang telah keliru, seperti ia menjelaskan mengenai sungai di hutan. Menurut dia, masyarakat menganggap tidak produktif jika sungai hanya ada untuk memenuhi kebutuhan air keluarga, hingga para insinyur datang dan bekerja sembarangan dengan membendung dan menggunakannya untuk pembangkit listrik tenaga air. Ekofeminisme Shiva adalah keseluruhan cara pandang dunia yang lebih dari sekedar menggabungkan penyelamatan lingkungan dengan hak-hak perempuan, melainkan juga meliputi seluruh persoalan yang dihadapi manusia, dari kemiskinan, kelaparan, penolakan privatisasi air, antirekayasa genetika, hingga penolakan pasar bebas.5

Refleksi Pemikiran Shiva tentang Ekofeminisme Pada Kasus Pencemaran di Teluk Buyat oleh PT. Newmont Minahasa Raya.
3 http://www.ccde.or.id/index.php 4 http://en.wikipedia.org/wiki/Ecofeminism 5 http://www.ccde.or.id/index.php

Kasus Teluk Buyat menjadi berita hangat dikarenakan terindikasi adanya pencemaran arsen dan merkuri oleh PT. Newmont Minahasa Raya. Kasus ini masih menjadi perdebatan dari pihak perusahaan, pemerintah hingga lembaga peneliti sehingga penyelesaian terhadap dampak yang telah dialami oleh masyarakat belum sepenuhnya teratasi. Namun dampak yang telah dirasakan oleh masyarakat sekitar teluk pada dasarnya telah menjawab bahwa PT. Newmont Minahasa Raya telah melakukan pencemaran lingkungan, khususnya di Teluk Buyat. Setiap hari, sebanyak 2.000 ton tailing disalurkan PT. Newmont Minahasa Raya ke dasar perairan Teluk Buyat. Logam berat pada tailing berasal dari batuan tambang itu sendiri dan menjadi berbahaya karena terlepas dari batuannya. 6 Pembuangan tailing yang salah, menyebabkan kerusakan ekosistem laut berupa kekeruhan yaitu pada zona euphotic, di mana pada zona tersebut terdapat lingkungan fitoplankton (produsen) yang butuh sinar matahari sebagai proses fotosintesis; penurunan jumlah dan kualitas keberadaan terumbu karang di Teluk Buyat; Bioakumulasi (penumpukan terus menerus di dalam tubuh mahkluk hidup) dari sedimen pada biota laut di daerah euphotic; Penurunan kandungan bentos dan plankton akibat tingginya kadar Arsen (As) pada sedimen di Teluk Buyat; dan Kematian ikan dalam jumlah lebih dari 100 (seratus) ekor di sekitar pipa pembuangan tailing di Teluk Buyat maupun terdampar di pantai. 7 Penyakit dominan yang diderita masyarakat di daerah Buyat adalah malaria, influensa, dan ISPA. Munculnya masalah benjolan di kulit, kram dan masalah kesehatan lainnya yang parah di dusun Buyat Pante mulai dilaporkan pada periode 2002-2003. Kesehatan masyarakat Buyat yang menurun dan berbagai macam penyakit menyerang tubuh mereka akibat dari mengkonsumsi air minum dan ikan yang mengandung logam berat (As dan Mn)8 Nama : Jacksen Partogi NIM : F1D007047

6 http://chusnan.web.ugm.ac.id/index.php 7 http://indocorpwatch.wordpress.com
8 ibid