Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM EKOLOGI LAUT EKOSISTEM LAMUN PANTAI UJUNG PIRING, JEPARA

Disusun oleh : KELOMPOK 4 ILMU KELAUTAN A

Galih Suci F. (Ketua) Astri Octa Riani Ika Wulan Santi M. Faizin Afandi Philipus Uli Hutabarat Rahmat Joannoval Rio Maranatha Risky Imtihan RR. Citra Permata

(26020110120024) (26020110120030) (26020110110021) (26020110120029) (26020110120033) (26020110120032) (26020110141015) (26020110141004) (26020110120034)

JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Indonesia mempunyai perairan laut yang lebih luas dari pada daratan, oleh karena itu Indonesia di kenal sebagai negara maritim. Perairan laut Indonesia kaya akan berbagai biota laut baik flora maupun fauna. Demikian luas serta keragaman jasad jasad hidup di dalam yang kesemuanya membentuk dinamika kehidupan di laut yang saling berkesinambungan (Nybakken 1988). Salah satu bentuk kekayaan flora di perairan Indonesia yaitu adanya tumbuhan lamun. Lamun (seagrass) adalah satu-satunya kelompok tumbuhan berbunga yang hidup di lingkungan laut (Romimohtarto dan Juwana, 2001).Tumbuh-tumbuhan ini hidup di perairan yang dangkal. Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme. Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Dimana secara ekologis lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir. Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustacea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Echinodermata ( Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta) (Bengen, 2001). Lamun sangat berperan dalam ekosistemnya yaitu dalam hal dapat menstabilkan garis pantai karena lamun ini memiliki akar yang terjalin dengan kuat sehingga dapat menstabilkan substrat yang ada agar tidak cepat tererosi oleh arus maupun gelombang air laut.Selain itu juga fungsinya dalam mempertahankan kehidupan dari biota-biota laut seperti ikan dalam bentuk Juvenille karena lamun ini berfungsi dalam hal nursery ground, feeding ground, dan spawning ground.

1.2 Tujuan 1. Memahami dan mempelajari komponen komponen ekologi yang terdapat pada ekosistem padang lamun. 2. Mengetahui metode dalam pengambilan sampel pada ekosistem lamun 3. Mengetahui jenis-jenis lamun

1.3 Manfaat 1. Praktikan memahami dan mempelajari komponen komponen ekologi yang terdapat pada ekosistem padang lamun. 2. Praktikan mengetahui metode dalam pengambilan sampel pada ekosistem lamun 3. Praktikan dapat mengetahui jenis-jenis lamun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Lamun dan Padang Lamun Lamun atau sea grasses adalah satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang terdapat di lngkungan laut dan hidup di perairan pantai yang dangkal. Seperti halnya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif untuk berkembang biak. Lamun berbunga, berbuah, dan menghasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut gas dan zat-zat hara Terdapat 4 hal ciri-ciri lamun 1. 2. 3. Toleransi terhadap kadar garam lingkungan. Tumbuh pada perairan yang selamanya terendam. Mampu bertahan dan mengakar pada lahan dari hempasan ombak dan arus. 4. Menghasilkan polinasi hydrophilous ( benang sari yang tahan terhadap kondisi perairan ) ( Hadi Endrawati, 2000) Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Jadi sangat berbeda dengan rumput laut (algae) (Wood et al. 1969; Thomlinson 1974; Askab 1999). Lamun dapat ditemukan di seluruh dunia kecuali di daerah kutub. Lebih dari 52 jenis lamun yang telah ditemukan. Di Indonesia hanya terdapat 7 genus dan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili yaitu : Hydrocharitacea ( 9 marga, 35 jenis ) dan Potamogetonaceae (3 marga, 15 jenis). Jenis yang membentuk komunitas padang lamun tunggal, antara lain : Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodoceae serulata, dan

Thallasiadendron ciliatum Dari beberpa jenis lamun, Thalasiadendron ciliatum mempunyai sebaran yang terbatas, sedangkan Halophila spinulosa tercatat di daerah Riau, Anyer, Baluran, Irian Jaya, Belitung (Nyabaken, 1992) Padang lamun (seagrass bed)merupakan tumbuhan berbunga,

berbuah,berdaun dan berakar sejati yang tumbuhpada substrat berlumpur, berpasir

sampai berbatu yang hidup terendam di dalam air laut dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Lamun mengkolonisasi suatu daerah melalui penyebaran buah (propagule) yang dihasilkan secara seksual (Mann, 2000). Padang lamun adalah ekosistem pesisir yang ditumbuhi oleh lamun sebagai vegetasi yang dominan. Lamun (seagrass) adalah kelompok tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) dan berkeping tunggal (Monokotil) yang mampu hidup secara permanen di bawah permukaan air laut (Sheppard et al., 1996). Komunitas lamun berada di antara batas terendah daerah pasangsurut sampai kedalaman tertentu dimana cahaya matahari masih dapat mencapai dasar laut (Sitania, 1998). Ekosistem padang lamun merupakan bentuk komunitas di pesisir yang di dalamnya terdapat dinamika fauna yang sangat mendukung usaha budidaya maupun pengelolaan sumberdaya hayati. Ekosistem padang lamun berfungsi penting sebagai makanan (dalam bentuk seresah), daerah asuhan dan perlindungan bagi kehidupan berbagai jenis biota perairan (Dahuri et al., 2003). Menurut (Romimohtarto dan Juwana, 2001), ekosistem padang lamun memiliki kondisi ekologis yang sangat khusus dan berbeda dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Ciri-ciri ekologis padang lamun antara lain adalah: 1. Terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir 2. Pada batas terendah daerah pasang surut dekat hutan bakau atau di dataran terumbu karang 3. Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter, di perairan tenang dan terlindung 4. Sangat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan. 5. Mampu melakukan proses metabolisme secara optimal jika keseluruhan tubuhnya terbenam air termasuk daur generatif 6. Mampu hidup di media air asin Mempunyai sistem perakaran yang berkembang baik

2.2 Klasifikasi Lamun Tanaman lamun memiliki bunga, berpolinasi, menghasilkan buah dan menyebarkan bibit seperti banyak tumbuhan darat. Klasifikasi lamun adalah berdasarkan karakter tumbuh-tumbuhan. Selain itu, genera di daerah tropis

memiliki morfologi yang berbeda sehingga pembedaan spesies dapat dilakukan dengan dasar gambaran morfologi dan anatomi (Romimohtarto dan Juwana, 2001). Lamun merupakan tumbuhan laut monokotil yang secara utuh memiliki perkembangan sistem perakaran dan rhizoma yang baik. Pada sistem klasifikasi, lamun berada pada Sub kelas Monocotyledoneae, kelas Angiospermae. Dari 4 famili lamun yang dan diketahui, 2 berada di perairan Indonesia yaitu

Hydrocharitaceae

Cymodoceae.

Famili

Hydrocharitaceae

dominan

merupakan lamun yang tumbuh di air tawar sedangkan 3 famili lain merupakan lamun yang tumbuh di laut. Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sebanyak 52 jenis lamun, di mana di Indonesia ditemukan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili: (1) Hydrocharitaceae, dan (2) Potamogetonaceae. Jenis yang membentuk komunitas padang lamun tunggal, antara lain: Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea serrulata, dan

Thallassodendron ciliatum (Romimohtarto dan Juwana, 2001). Eksistensi lamun di laut merupakan hasil dari beberapa adaptasi yang dilakukan termasuk toleransi terhadap salinitas yang tinggi, kemampuan untuk menancapkan akar di substrat sebagai jangkar, dan juga kemampuan untuk tumbuh dan melakukan reproduksi pada saat terbenam. Salah satu hal yang paling penting dalam adaptasi reproduksi lamun adalah hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan polinasi di bawah air (Mann, 2000). Secara rinci klasifikasi lamun menurut Den Hartog (1970) dan Menez, Phillips, dan Calumpong (1983) adalah sebagai berikut : Devisi Kelas Famili : Anthophyta : Angiospermae : Potamogetonacea

Subfamili : Zosteroideae Genus : Zostera, Phyllospadix, Heterozostera.

2.2.1

Thalassia hemprichii

Klasifikasi Ilmiah: Divisi : Anthophyta

Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Species Ciri-ciri :

: Angiospermae : Monocotyledonae : Helobiae : Hydrocharitaceae : Thalassia : Thalassia hemprichii (Phillips dan Menez,1988)

- Rimpang berdiameter 2-4 mm tanpa rambut-rambut kaku. - panjang daun 100-300 mm, lebar daun 4-10 mm.

2.2.2

Enhalus acoroides

Klasifikasi Ilmiah: Divisi Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Species Ciri-ciri : - Rimpang berdiameter lebih 10 mm dengan rambut-rambut kaku. - Panjang daun 300-1500 mm, lebar 13-17 mm. : Anthophyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Helobiae : Hydrocharitaceae : Enhalus : Enhalus acoroides (Phillips dan Menez,1988)

2.3 Karakteristik Sistem Vegetatif Bentuk vegetatif lamun memperlihatkan karakter tingkat keseragaman yang tinggi, hampir semua genera memiliki rhizoma yang sudah berkembang dengan baik dan bentuk daun yang memanjang (linear) atau berbentuk sangat panjang seperti ikat pinggang (belt), kecuali jenis Halophila memiliki bentuk lonjong (Mann, 2000).

Gambar . Morfologi Lamun Berbagai bentuk pertumbuhan tersebut mempunyai kaitan dengan perbedaan ekologik lamun (den Hartog, 1977). Misalnya Parvozosterid dan Halophilid dapat dijumpai pada hampir semua habitat, mulai dari pasir yang kasar sampai lumpur yang lunak, mulai dari daerah dangkal sampai dalam, mulai dari laut terbuka sampai estuari. Magnosterid dapat dijumpai pada berbagai substrat, tetapi terbatas pada daerah sublitoral sampai batas rata-rata daerah surut. Secara umum lamun memiliki bentuk luar yang sama, dan yang membedakan antar spesies adalah keanekaragaman bentuk organ sistem vegetatif. Menjadi tumbuhan yang memiliki pembuluh, lamun juga memiliki struktur dan fungsi yang sama dengan tumbuhan darat yaitu rumput. Berbeda dengan rumput laut (marine alga/seaweeds), lamun memiliki akar sejati, daun, pembuluh internal yang merupakan sistem yang menyalurkan nutrien, air, dan gas.

2.3.1 Akar (Secara umum) Terdapat perbedaan morfologi dan anatomi akar yang jelas antara jenis lamun yang dapat digunakan untuk taksonomi. Akar pada beberapa spesies seperti Halophila dan Halodule memiliki karakteristik tipis (fragile), seperti rambut, diameter kecil, sedangkan spesies Thalassodendron memiliki akar yang kuat dan berkayu dengan sel epidermal. Jika dibandingkan dengan tumbuhan darat, akar dan akar rambut lamun tidak berkembang dengan baik. Namun, beberapa penelitian memperlihatkan bahwa akar dan rhizoma lamun memiliki fungsi yang sama dengan tumbuhan darat. Akar-akar halus yang tumbuh di bawah permukaan rhizoma, dan memiliki adaptasi khusus (contoh : aerenchyma,

sel epidermal) terhadap lingkungan perairan. Semua akar memiliki pusat stele yang dikelilingi oleh endodermis. Stele mengandung phloem (jaringan transport nutrien) dan xylem (jaringan yang menyalurkan air) yang sangat tipis. Karena akar lamun tidak berkembang baik untuk menyalurkan air maka dapat dikatakan bahwa lamun tidak berperan penting dalam penyaluran air (den Hartog, 1977). Patriquin (1972) menjelaskan bahwa lamun mampu untuk menyerap nutrien dari dalam substrat (interstitial) melalui sistem akar-rhizoma. Selanjutnya, fiksasi nitrogen yang dilakukan oleh bakteri heterotropik di dalam rhizosper Halophila ovalis, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii cukup tinggi lebih dari 40 mg N.m-2.day-1. Koloni bakteri yang ditemukan di lamun memiliki peran yang penting dalam penyerapan nitrogen dan penyaluran nutrien oleh akar. Fiksasi nitrogen merupakan proses yang penting karena nitrogen merupakan unsur dasar yang penting dalam metabolisme untuk menyusun struktur komponen sel. Diantara banyak fungsi, akar lamun merupakan tempat menyimpan oksigen untuk proses fotosintesis yang dialirkan dari lapisan epidermal daun melalui difusi sepanjang sistem lakunal (udara) yang berliku-liku. Sebagian besar oksigen yang disimpan di akar dan rhizoma digunakan untuk metabolisme dasar sel kortikal dan epidermis seperti yang dilakukan oleh mikroflora di rhizospher. Beberapa lamun diketahui mengeluarkan oksigen melalui akarnya (Halophila ovalis) sedangkan spesies lain (Thallassia testudinum) terlihat menjadi lebih baik pada kondisi anoksik (den Hartog, 1977). Larkum et al (1989) menekankan bahwa transport oksigen ke akar mengalami penurunan tergantung kebutuhan metabolisme sel epidermal akar dan mikroflora yang berasosiasi. Melalui sistem akar dan rhizoma, lamun dapat memodifikasi sedimen di sekitarnya melalui transpor oksigen dan kandungan kimia lain. Kondisi ini juga dapat menjelaskan jika lamun dapat memodifikasi sistem lakunal berdasarkan tingkat anoksia di sedimen. Dengan demikian pengeluaran oksigen ke sedimen merupakan fungsi dari detoksifikasi yang sama dengan yang dilakukan oleh tumbuhan darat. Kemampuan ini merupakan adaptasi untuk kondisi anoksik yang sering ditemukan pada substrat yang memiliki sedimen liat atau lumpur. Karena akar lamun merupakan tempat untuk

melakukan metabolisme aktif (respirasi) maka konnsentrasi CO2 di jaringan akar relatif tinggi.

2.3.2 Rhizoma dan Batang Semua lamun memiliki lebih atau kurang rhizoma yang utamanya adalah herbaceous, walaupun pada Thallasodendron ciliatum (percabangan simpodial) yang memiliki rhizoma berkayu yang memungkinkan spesies ini hidup pada habitat karang yang bervariasi dimana spesies lain tidak bisa hidup. Kemampuannya untuk tumbuh pada substrat yang keras menjadikan T. Ciliatum memiliki energi yang kuat dan dapat hidup berkoloni disepanjang hamparan terumbu karang (den Hartog, 1977). Struktur rhizoma dan batang lamun memiliki variasi yang sangat tinggi tergantung dari susunan saluran di dalam stele. Rhizoma, bersama sama dengan akar, menancapkan tumbuhan ke dalam substrat. Rhizoma seringkali terbenam di dalam substrat yang dapat meluas secara ekstensif dan memiliki peran yang utama pada reproduksi secara vegetatif dan reproduksi yang dilakukan secara vegetatif merupakan hal yang lebih penting daripada reproduksi dengan pembibitan karena lebih menguntungkan untuk penyebaran lamun. Rhizoma merupakan 60 80% biomas lamun (den Hartog, 1977).

2.3.3 Daun Seperti semua tumbuhan monokotil, daun lamun diproduksi dari meristem basal yang terletak pada potongan rhizoma dan percabangannya. Meskipun memiliki bentuk umum yang hampir sama, spesies lamun memiliki morfologi khusus dan bentuk anatomi yang memiliki nilai taksonomi yang sangat tinggi. Beberapa bentuk morfologi sangat mudah terlihat yaitu bentuk daun, bentuk puncak daun, keberadaan atau ketiadaan ligula. Contohnya adalah puncak daun Cymodocea serrulata berbentuk lingkaran dan berserat, sedangkan C. Rotundata datar dan halus. Daun lamun terdiri dari dua bagian yang berbeda yaitu pelepah dan daun. Pelepah daun menutupi rhizoma yang baru tumbuh dan melindungi daun muda. Tetapi genus Halophila yang memiliki bentuk daun petiolate tidak memiliki pelepah (den Hartog, 1977).

Anatomi yang khas dari daun lamun adalah ketiadaan stomata dan keberadaan kutikel yang tipis. Kutikel daun yang tipis tidak dapat menahan pergerakan ion dan difusi karbon sehingga daun dapat menyerap nutrien langsung dari air laut. Air laut merupakan sumber bikarbonat bagi tumbuhtumbuhan untuk penggunaan karbon inorganik dalam proses fotosintesis (den Hartog, 1977).

2.4 Reproduksi Lamun Lamun dapat mereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi seksual melalui pemisahan fragmen atau rimpang yang hanyut (misalnya pada Zostera marina), meskipun proses ini tampaknya sangat langka. Sedangakan Reproduksi seksual lamun dilakukan dengan polinasi di air. Lamun mempunyai 3 sistem pollinasi ( cara menghasilkan pollen ) yaitu : a. Hydrophilous pollination, pollen dilepas ke laut & dibawa oleh arus laut. b. Ephydrophily, pollen yang mengambang di permukaan air dibawa oleh pasang surut c. Dispersal, pollen berbentuk spherik ( bola berduri pada Hydrocharitaceae ) (Bengen, 2000)

2.5 Zona Penyebaran Lamun Lamun terdapat pada daerah mid-intertidal sampai kedalaman 50 atau 60 m. Namun mereka tampak sangat melimpah di daerah sublitoral. Jumlah spesiesnya lebih banyak terdapat di daerah tropik. Semua tipe substrat dihuni oleh lamun ini. Mulai dari lumpur encer sampai batu-batuan, tetapi kebun yang paling luas dijumpai pada substrat yang lunak.tersebut. Jika dilihat dari pola zonasi lamun secara horisontal, maka boleh dikatakan ekosistem lamun terletak di antara 2 ekosistem bahari penting yaitu ekosistem mangrove dan ekosistem terumbu karang. Dengan letak yang berdekatan dengan 2 ekosistem pantai tropik tersebut, ekosistem lamun tidak terisolisasi atau berdiri sendiri tetapi berinteraksi dengan kedua ekosistem (Nybaken, 1992) Kebun lamun juga berlaku sebagai perangkap sedimen dan selanjutnya membentuk dasar. Jika pertumbuhannya mencapai permukaan, daun yang

mengapung mematahkan kekuatan ombak, dan dengan demikian membentuk habitat yang berair tenang di bawahnya. Dari penelitian (Ogden dan Zieman, 1977 dalam Hutomo, 1985; UNESCO, 1983), interaksi tersebut diklasifikasikan dalam 5 tipe interaksi utama (gambar.1.), yaitu : interaksi-interaksi fisik, nutrien dan organik terlarut (dissolved organic matter), materi organik melayang (particulate organic matter), ruaya hewan dan dampak manusia. (Nyabaken, 1992)

2.6 Rantai makanan pada lamun Dalam ekosistem lamun, rantai makanan terusun dari tingkat-tingkat trofik yang mencakup proses dan pengangkutan detritus organik dari ekosistem lamun ke konsumen yang agak rumit. Sumber bahan organik bersal dari produk lamun itu sendiri, di samping tambahan dari epifit dan alga makrobentos, fitoplankon dan tanaman darat. Zat organik dimakan fauna melalui perumputan (grazing) atau pemanfaatan detritus. Lamun biasanya terdapat dalam julah yang melimpah dan sring membentk padang lamun yang lebat dan luas di perairan tropik. Sifat-sifa llingkungan pantai, terutama dekat estuari, cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan lamun. Namun seperti halnya mangrove, lamun juga hidup di lingkungan yang sulit. Pengaruh gelombang, sedimentasi, pemanasan air, pergantian pasang dan surut dan curah hujan, semuanya harus di hadapi dengan gigih dengan penyesuaian-penyesuaian secara morfologik dan faal (Nyabaken, 1992) Penyesuaian secara morfologik dilakukan dengan berbagai bentuk, misalnya daun yang seperti rumput, lentur dan sistem akar dari rimpag yang meluas mampu berthan terhadap pengaruh ombak, pasut dan perpindahan sedimen du habitat pantai yang dangkal. Lamun yang hidup di periran yang sering terkena pemanasan yang intensif sehingga suhu air meninggi lebih banyak berupa varietas yang berdaun kecil. (Romimohtarto,2001) Lamun kadang-kadang membentuk suatu komunitas yang merupakan habitat bagi berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat memperlambat gerakan air. bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi penduduk sekitar pantai. Keberadaan ekosistem padang lamun masih belum

banyak dikenal baik pada kalangan akdemisi maupun masyarakat umum, jika

dibandingkan dengan ekosistem lain seperti ekosistem terumnbu karang dan ekosistem mangrove, meskipun diantara ekosistem tersebut di kawasan pesisir merupakan satu kesatuan sistem dalam menjalankan Romimohtarto, K. 2001 ) Lamun pada umumnya dianggap sebagai kelompok tumbuhan yang homogen. Lamun terlihat mempunyai kaitan dengan habitat dimana banyak lamun (Thalassia) adalah substrat dasar dengan pasir kasar. Menurut Haruna (Sangaji, 1994) juga mendapatkan Enhalus acoroides dominan hidup pada substrat dasar berpasir dan pasir sedikit berlumpur dan kadang-kadang terdapat pada dasar yang terdiri atas campuran pecahan karang yang telah mati. fungsi ekologisnya. (

2.7 Habitat lamun Menurut Nontji (1987), lamun hidup di perairan dangkal yang agak berpasir sering dijumpai di terumbu karang, lamun umumnya membentuk padang yang luas di dasar laut yang masih dapat di jangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Padang lamun merupakan ekosistem yang sangat tinggi produktifitas organiknya. Ke dalam air dan pengaruh pasang surut serta struktur substrat mempengaruhi zona sebagian jenis lamun dan bentuk pertumbuhannya (Nontji, 1987). Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai substrat yang berlumpur sampai berbatu. Namun padang lamun yang khas lebih sering ditemukan di substrat lumpur berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Ekinodermata ( Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta) (Nontji, 1987).

2.8 Produktivitas lamun Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp,

Strombus sp), Ekinodermata ( Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta) (Bengen, 2000) Lamun, merupakan bagian dari beberapa ekosistem dari wilayah pesisir danlautan perlu dilestarikan, memberikan kontribusi pada peningkatan hasil perikanan dan pada sektor lainya seperti pariwisata. Oleh karena itu perlu mendapatkan perhatian khusus seperti halnya ekosistem lainnya dalam wilayah pesisir untuk mempertahankan kelestariannya melalui pengelolaan secara terpadu. Secara langsung dan tidak langsung memberikan manfaat untuk meningkatkan perekonomian terutama bagi penduduk di wilayah

pesisir.disumbangkan keperairan adalah sebanayak 10-20% (Keough, et al. 1995) Ekosistem padang lamun yang memiliki produktivitas yang tinggi, memiliki peranan dalam sestem rantai makanan khususnya pada periphyton dan epiphytic dari detritus yang dihasilkan dan serta lamun mempunyai hubungan ekologis dengan ikan melalui rantai makanan dari produksi biomasanya seperti yang diisajikan pada gambar

Produksi lamun Enhalus acoroides 8556 kal/m2/hari

Populasi Siganus canalicatus

Konsumsi lamun Enhalus acoroides O,6 kal/m2/hari(0,007%) dari produksi padang lamun

Produksi detritus 0,23 kal/m2/hari(40% konsumsi dari padang lamun)

Gambar . Aliran energi pada aktivitas makan populasi Siganus canaliculatus

2.9 Hubungan lamun dengan ekosistem laut lainnya Lamun kadang-kadang membentuk suatu komunitas yang merupakan habitat bagi berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat memperlambat gerakan air. bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi penduduk sekitar pantai. Keberadaan ekosistem padang lamun masih belum banyak dikenal baik pada kalangan akdemisi maupun masyarakat umum, jika dibandingkan dengan ekosistem lain seperti ekosistem terumnbu karang dan ekosistem mangrove, meskipun diantara ekosistem tersebut di kawasan pesisir merupakan satu kesatuan sistem dalam menjalankan fungsi ekologisnya. Ekosistem padamg lamun memiliki atribut ekologi yang penting yang berhubungan dengan sifat fisika, kimia dan proses biologi antar ekosistem di wilayah pesisir dan proses keterkaitan ke tiga ekosistem .

Ekosistem Padang Lamun

Ekosistem mamMangrove

Ekosistem Terumbu karang Gambar . Model interaksi tiga ekosistem utama di wilayah pesisir yaitu: ekosistem mangrove, padang lamun dan terumbu karang (Bengen, 2001). Serasah yang dihasilkan oleh merupakan sumber makanan bagi kehidupan berbagai komunitas organisme di ekosistem padang lamun seperti komunitas Crustacea, ikan ikan kecil, udang batu dan ikan besar, salah satu jenis ikan yang ketergantungan cukup tinggi dengan lamun adalah dugong dan penyu hijau. Lamun dapat memproduksi 65-85 % bahan organik dalam bentuk detritus (Bengen, 2001) .

2.10 Fungsi Padang Lamun Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut dangkal yang paling produktif. Di samping itu juga ekosistem lamun mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, sebagai berikut : 1. Sebagai produsen primer : Lamun memiliki tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada dilaut dangkal seperti ekosistem terumbu karang (Thayer et al. 1975). 2. Sebagai habitat biota : Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan dan makanan berbagai jenis ikan herbivora dan ikan-ikan karang (coral fishes) (Kikuchi & Peres, 1977). 3. Sebagai penangkap sedimen : Daun lamun yang lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan disekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan dan mengikat sedmen, sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan dasar permukaan. Jadi, padang lamun disini berfungsi sebagai penangkap sedimen dan juga dapat mencegah erosi (Gingsuburg & Lowestan, 1958). 4. Sebagai pendaur zat hara : Lamun memegang peranan penting dalam pendauran berbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka dilingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit. Sedangkan menurut Philips & Menez (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem bahari yang produktif, ekosistem lamun pada perairan dangkal berfungsi sebagai : 1. Menstabilkan dan menahan sedimensedimen yang dibawa melalui tekanan tekanan dari arus dan gelombang. 2. Daun-daun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta mengembangkan sedimentasi. 3. Memberikan perlindungan terhadap hewanhewan muda dan dewasa yang berkunjung ke padang lamun. 4. Daundaun sangat membantu organisme-organisme epifit.

5. Mempunyai produktifitas dan pertumbuhan yang tinggi. 6. Menfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai makanan. Selain itu, menurut Azkab (1988), secara ekologis padang lamun

mempunyai beberapa fungsi penting bagi wilayah pesisir, yaitu :


1. 2.

Produsen detritus dan zat hara. Mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan sistem perakaran yang padat dan saling menyilang.

3.

Sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah bagi beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini.

4.

Sebagai tudung pelindung yang melindungi penghuni padang lamun dari sengatan matahari.

Selanjutnya dikatakan Philips & Menez (1988), lamun juga sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupun secara modern. Adapun pemanfaatan lamun tersebut baik secara modern maupun tradisional yaitu sebagai berikut :

Secara Tradisional Dimanfaatkan pupuk Cerutu dan mainan anak-anak Dianyam menadi keranjang Tumpukan untuk pematang Pembuatan kasur (sebagai pengisi kasur) Dan dibuar jaring ikan untuk kompos dan

Secara Modern Penyaring limbah Stabilizator pantai Bahan untuk pabrik kertas Makanan Sumber bahan kimia Dan obat-obatan

Di alam padang lamun membentuk suatu komunitas yang merupakan habitat bagi berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat memperlambat gerakan air. bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi penduduk sekitar pantai. Keberadaan ekosistem padang lamun masih belum banyak dikenal baik pada kalangan akdemisi maupun masyarakat umum, jika dibandingkan dengan ekosistem lain seperti ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove, meskipun diantara ekosistem tersebut di kawasan pesisir merupakan satu kesatuan sistem dalam menjalankan fungsi ekologisnya Azkab (1988). Selain itu, padang lamun diketahui mendukung berbagai jaringan rantai makanan, baik yang didasari oleh rantai herbivor maupun detrivor. Nilai ekonomis biota yang berasosiasi dengan lamun diketahui sangat tinggi. Ekosistem padang lamun memiliki nilai pelestarian fungsi ekosistem serta manfaat lainnya di masa mendatang sesuai dengan perkembangan teknologi, yaitu produk obatobatan dan budidaya laut. Beberapa negara telah memanfaatkan lamun untuk pupuk, bahan kasur, makanan, stabilisator pantai, penyaring limbah, bahan untuk pabrik kertas, bahan kimia, dan sebagainya Azkab (1988). Peranan padang lamun secara fisik di perairan laut dangkal adalah membantu mengurangi tenaga gelombang dan arus, menyaring sedimen yang terlarut dalam air dan menstabilkan dasar sedimen (Kiswara dan Winardi, 1999). Peranannya di perairan laut dangkal adalah kemampuan berproduksi primer yang tinggi yang secara langsung berhubungan erat dengan tingkat kelimpahan produktivitas perikanannya. Keterkaitan perikanan dengan padang lamun sangat

sedikit diinformasikan, sehingga perikanan di padang lamun Indonesia hampir tidak pernah diketahui. Keterkaitan antara padang lamun dan perikanan udang lepas pantai sudah dikenal luas di perairan tropika Australia (Coles et al., 1993). Ekosistem padang lamun yang memiliki produktivitas yang tinggi, memiliki peranan dalam sestem rantai makanan khususnya pada periphyton dan epiphytic dari detritus yang dihasilkan dan serta lamun mempunyai hubungan ekologis dengan ikan melalui rantai makanan diisajikan pada gambar dibawah ini : Produksi Lamun Enhalus acoroidae dari produksi biomasanya seperti yang

Populasi

Konsumsi lamun Enhalus acoroidae 0,6 kal/m2/hari (0,07%)

Produksi detritus 0,23 kal/m2/hari (40%)

Gambar. Hubungan Ekologis dengan ikan melalui rantai makanan dari produksi biomasanya

2.11 Faktor-Faktor Lingkungan Beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap distribusi dan kestabilan ekosistem padang lamun adalah : 2.11.1 Kecerahan Penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan sangat mempengaruhi proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan lamun. Lamun membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi untuk proses fotosintesa tersebut dan jika suatu perairan mendapat pengaruh akibat aktivitas pembangunan sehingga

meningkatkan sedimentasi pada badan air yang akhirnya mempengaruhi turbiditas

maka akan berdampak buruk terhadap proses fotosintesis. Kondisi ini secara luas akan mengganggu produktivitas primer ekosistem lamun Azkab (1988).

2.11.2 Temperatur Secara umum ekosistem padang lamun ditemukan secara luas di daerah bersuhu dingin dan di tropis. Hal ini mengindikasikan bahwa lamun memiliki toleransi yang luas terhadap perubahan temparatur. Kondisi ini tidak selamanya benar jika kita hanya memfokuskan terhadap lamun di daerah tropis karena kisaran lamun dapat tumbuh optimal hanya pada temperatur 28 30 0C. Hal ini berkaitan dengan kemampuan proses fotosintesis yang akan menurun jika temperatur berada di luar kisaran tersebut Azkab (1988).

2.11.3 Salinitas Kisaran salinitas yang dapat ditolerir tumbuhan lamun adalah 10 40 dan nilai optimumnya adalah 35 . Penurunan salinitas akan menurunkan kemampuan lamun untuk melakukan fotosintesis. Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi juga terhadap jenis dan umur. Lamun yang tua dapat mentoleransi fluktuasi salinitas yang besar. Salinitas juga berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas, kerapatan, lebar daun dan kecepatan pulih. Sedangkan kerapatan semakin meningkat dengan meningkatnya salinitas Azkab (1988).

2.11.4 Substrat Padang lamun hidup pada berbagai macam tipe sedimen, mulai dari lumpur sampai karang. Kebutuhan substrat yang utama bagi pengembangan padang lamun adalah kedalaman sedimen yang cukup. Peranan kedalaman substrat dalam stabilitas sedimen mencakup 2 hal yaitu : pelindung tanaman dari arus laut dan tempat pengolahan dan pemasok nutrien Azkab (1988).

2.11.5 Kecepatan arus Produktivitas padang lamun juga dipengaruhi oleh kecepatan arus perairan. Pada saat kecepatan arus sekitar 0,5 m/detik, jenis Thallassia testudium mempunyai kemampuan maksimal untuk tumbuh Azkab (1988).

BAB III MATERI DAN METODE

3.1 Waktu dan Pelaksanaan Sampling Hari / Tanggal Waktu Tempat : Sabtu , 10 Desember 2011 : 09.00 Wib Selesai : Pantai Ujung Piring, Jepara, Jawa Tengah

Pengamatan Laboratorium Hari / Tanggal Waktu Tempat : Minggu , 11 Desember 2011 : 08.00 Wib Selesai : Laboratoium biotik , kampus Ilmu Kelautan,Teluk Awur, Jepara

3.2 Materi 3.2.1 Alat & Bahan

3.2.1.1 Alat a. Transek 1 meter x 1 meter b. Roll meter 50 meter c. Sabak d. Alat Skin Dive e. Buku Identifikasi Lamun 3.2.1.1 Bahan - Sampel Lamun

3.2.2 Materi Praktikum Materi dalam praktikum ini meliputi identifikasi Ekosistem mangrove, ekosistem Seagrass, dan ekosistem Coral. Untuk identifikasi mangrove parameter yang diukura adalah diameter batang, mencatat spesies vegetasi yang terdapat dalam loaksi penelitian, serta mencatat spesies bentik yang berasosiasi pada substrat dan mangrove. Identifikasi ekosistem seagrass parameter yang

diukura adalah antara lain mencatat spesies lamun dan biota yang berasosiasi baik pada lamun maupun dengan di substratpada transek. Sedangkan untuk identifikasi ekosistem coral parameter yang diukur adalah spesies coral dan biota indikator yang dilalui transek garis.

3.3 Metode 3.3.1 Cara Kerja Dalam mencari kepadatan populasi lamun ini, menggunakan metode pengamatan transek. Pada metode transek, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. 1) Penentuan stasiun Penentuan stasiun dibagi berdasarkan jumlah kelompok dan lokasi sampling. Lokasi sampling di perairan Teluk Awur (dekat lapangan sepak bola). Terdapat distribusi lamun yang tidak begitu luas sehingga penentuan stasiun terbatas luasannya. Dengan jumlah kelompok yang mencapai 11, maka didapatkan jarak horizontal yang representatif. Jarak horizontal ini merupakan jarak antar stasiun yang diukur di sepanjang bibir pantai berdasarkan topografi garis pantainya. Titik pengukuran jarak horizontal dimulai dari skala dari skala nol yaitu di bagan perairan Teluk Awur dekat lapangan sepak bola. Dan kelompok kami mendapatkan titik stasiun 160meter ebelah kanan bagan. Dengan kata lain, jarak horizontal pada interval 20 meter ke arah sebelah kanan bagan. 2) Penentuan Titik Sampling Metode transek yang dipakai adalah transek L, yaitu pengamatan yang dilakukan disepanjang garis transek yang membentuk huruf L, dimana garis transek digelar yang diawali ke arah laut kemudian dibelokkan ke arah kiri hingga membentuk huruf L.Pada penentuan titik sampling ini akan dicari titik sebegai titik 1 dimanan kuadran akan dijatuhkan kemudian dicari titik berikutya untuk kuadran dijatuhkan. Titik 1 didapatkan dengan cara penelusuran. Setelah mengetahui titik stasiun, dilakukan penelusuran ke arah laut secara vertikal., saat mendapatkan populasi lamun pertama kali maka di situlah merupakan titik 1 untuk kuadran dijatuhkan pertama kali. Dari titik 1 dilakukan pemasangan

rollmeter pengamatan kearah laut secara vertikal sejauh 9 meter. Lalu dibelokkan ke arah kiri sejauh 10 meter, sehingga membentuk huruf L. Untuk menentukan titik berikutnya kuadran jatuh, dilakukan pengukuran sepanjang garis transek dengan interval 1 meter dan setiap interval 1 meter dijadikan titik kuadran jatuh. Sehinga didapatkan jarak garis transek totalnya yaitu 19 meter. 3) Sampling Pada tahap sampling inilah yang sangat diperlukan ketelitian dan dilakukan pengamatan. Tahap sampling dilakukan secara berurutan diantaranya: a. Penjatuhan kuadran Dilakukan pada sisi kiri atau kanan dari roll meter. Ambil salah satu sisi dan diberlakukan sama untuk titik kuadran jatuh berikutnya. Hubungannya dengan parameter yang dibutuhkan baik substrat, biologis, mavigasi, dan lainlain. Maka diperlukan pencatatan parameter tersebut. Dengan demikian dapat dilakukan pendekatan untuk mendeskripsikannya. Diperluakan kesepakatan agar mempermudah kerja antara pengamat dan penulis. Dengan urutan kotak yang tertata, maka meperkecil kontak pada populasi. Sehingga data yang diperoleh mendekati kebenaran. b. Pengamatan Pengamatan substrat; untuk mengetahui jenis substrat dilakukan

pengambilan sampel secara random pada salah satu kotak subkuadran. Substrat diambil dengan tangan dan diangkat di permuakaan, secara visual ditentukan jenis substart berdasar persetase jenis penyusannya. Penagamatan jenis lamun; setelah kuadran dijatuhkan secara visual dilakukan pegamatan jenis lamun dengan bantuan petunjuk identifikasi. Apakah di dalam kuadran terdapat 1 jenis lamun.

3.3.2 Analisis data Pengamatan kepadatan lamun, di lakukan secara bergantian dan urutan untuk visualisasinya. Jika pada kotak lebih dari setengah dipenuhi oleh lamun jenis n, maka diberi kode 5, jika penutupan antara sampai dengan kotak maka diberi kode 4, dan seterusnya, sehingga di dapatkan kode penutupan pada tiap subkuadran.

KELAS 5 4 3 2 1 0

JUMLAH LUASAN PENUTUPAN > - -


1

/16 -

< 1/16 0

Pengamatan organisme yang berasosiasi; lamun meruapakan produsen primer yang dapat menghasilkan energi dan oksigen sehinga dalam populasi lamun merupakan tempat yang banyak digunakan oleh berbagai macam organisme lain untuk hidup. Dengan demikian terjadi hubungan timbal balik, baik rantai makan, simbiosis, maupun yang lainnya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 4.1.1 Identifikasi lamun

4.1.1.1 Thalasia hemprichi Klasifikasi Ilmiah: Divisi Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Species Ciri-ciri : - Rimpang berdiameter 2-4 mm tanpa rambut-rambut kaku. - panjang daun 100-300 mm, lebar daun 4-10 mm. - Ujung daunnya membulat. - Daun tidak bergerigidak memiliki panjang batang. - memiliki beberapa ciri morfologi daun sama yaitu dari bentuk helaian, serta merupakan vegetasi yang dominan berdasar luas area. : Anthophyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Helobiae : Hydrocharitaceae : Thalassia : Thalassia hemprichii (Phillips dan Menez,1988)

4.1.1.2 Enhalus acoroides Klasifikasi Ilmiah: Divisi Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Species : Anthophyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Helobiae : Hydrocharitaceae : Enhalus : Enhalus acoroides .

Ciri-ciri : - Rimpang berdiameter lebih 10 mm dengan rambut-rambut kaku. - Panjang daun 300-1500 mm, lebar 13-17 mm. - memiliki daun yang panjang - memiliki rimpang - Memiliki serabut ( menjadi ciri khas pada jenis lamun ini) - Memiliki rhizome - Kadang di peralihan musim memiliki bunga dan kemudian berbuah - Memiliki panjang batang yang jelas - Batangnya keras. Lamun mempunyai bunga jantan dan betina. Penyerbukannya terjadi lewat medium air laut.Hal ini yang menjadi alat reprodusi pada umumnya, khususnya jenis Enhalus acoroides. Jenis Enhalus acoroides yang mempunyai helaian daun panjang bagai pita tumbuh subur di daerah ini dan membentuk padang lamun yang luas. Buahnya berbentuk bola yang melancip ujungnya, berukuran sekitar 5 cm, dengan permukaan buah berambut atau seperti sikat. Tiap buah mengandung 12 biji. Penduduk Selayar memanen buah Enhalus ini dan memanfaatkan biji dan daging buahnya sebagai sumber makanan. Bijinya dapat dimakan mentah yang rasanya agak manis. Biji buah lamun ini juga dapat dimasak atau dikukus dan dicampur dengan santan kelapa serta diberi bumbu yang membuat hidangan makin lezat. Hidangan yang bersumber dari lamun ini disini dikenal sebagai pangang pama. Hidangan ini juga dapat diperkaya dengan gonad bulu-babi Tripneustes gratilla yang juga banyak dapat dijumpai hidup di padang lamun.

4.1.2

Perhitungan

Thallasia hempricii Kelompok 4A kelas 5 4 3 2 1 0 Thallasia hempricii Kelompok 4A kelas 5 4 3 2 1 0 Thallasia hempricii Kelompok 4A kelas 5 4 3 2 1 0 Thallasia hempricii Kelompok 4A kelas 5 4 3 2 1 0

transek 1 Mid Point Fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 13 0 0 0 0 3 975 0 0 0 0 0

transek 2 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 16 0 0 0 0 0 1200 0 0 0 0 0

transek 3 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 16 0 0 0 0 0 1200 0 0 0 0 0

transek 4 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 14 0 0 0 0 2 1050 0 0 0 0 0

Enhalus acoroides Kelompok 4B kelas 5 4 3 2 1 0 Enhalus acoroides Kelompok 4B kelas 5 4 3 2 1 0 Enhalus acoroides Kelompok 4B kelas 5 4 3 2 1 0 Enhalus acoroides Kelompok 4B kelas 5 4 3 2 1 0

transek 1 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 16 0 0 0 0 0 1200 0 0 0 0 0

transek 2 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 11 0 0 0 0 5 825 0 0 0 0 0

transek 3 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 16 0 0 0 0 0 1200 0 0 0 0 0

transek 4 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 16 0 0 0 0 0 1200 0 0 0 0 0

Thallasia hempricii Kelompok 3A kelas 5 4 3 2 1 0 Thallasia hempricii Kelompok 3A kelas 5 4 3 2 1 0 Thallasia hempricii Kelompok 3A kelas 5 4 3 2 1 0 Thallasia hempricii Kelompok 3A kelas 5 4 3 2 1 0

transek 1 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 15 0 0 0 0 1 1125 0 0 0 0 0

transek 2 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 16 0 0 0 0 0 1200 0 0 0 0 0

transek 3 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 16 0 0 0 0 0 1200 0 0 0 0 0

transek 4 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 14 0 0 0 0 2 1050 0 0 0 0 0

Enhalus acoroides Kelompok 3B kelas 5 4 3 2 1 0 Thallasia hempricii Kelompok 3B kelas 5 4 3 2 1 0 Thallasia hempricii Kelompok 3B kelas 5 4 3 2 1 0

transek 1 Mid Point 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

fi 14 0 0 0 0 2

Mi x fi 1050 0 0 0 0 0

transek 2 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 16 0 0 0 0 0 1200 0 0 0 0 0

transek 3 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 16 0 0 0 0 0 1200 0 0 0 0 0

Enhalus acoroides Kelompok 3B kelas 5 4 3 2 1 0

transek 4 Mid Point fi 75 37,5 18,75 9,38 3,13 0

Mi x fi 14 0 0 0 0 2 1050 0 0 0 0 0

Jenis Hewan Avertebrata yang ditemukan di ekosistem lamun adalah jenis gastropoda, (kerang-kerangan). Yang dimana hidup di daerah substrat berpasir lumpur. Juga Ditemukan beberapa jenis ikan dan udang-udangan (crustasea).

4.2 Pembahasan 4.2.1 Kondisi Substrat perairan pantai ujung piring, Jepara Kondisi Substrat pada perairan di jepara, khusus di pantai ujung piring memiliki bentuk substrat dominan pasir,. Dan sedikit memiliki kandungan lumpur.. Kemudian jenis lamun yang di temukan pada perairan ini dominasi di isi oleh spesies Thallasia hempricii dan Enhalus acoroides. Menurut Den Hartog, 1977, dan juga diseuaikan dengan perairan ujung piring, jepara, Lamun jenis Thallasia hempricii dan Enhalus acoroides mempunyai beberapa sifat yang menjadikannya mampu bertahan hidup di laut yaitu : 1. Terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir 2. Pada batas terendah daerah pasang surut dekat hutan bakau atau di dataran terumbu karang 3. Mampu terlindung 4. Sangat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan 5. Mampu melakukan proses metabolisme termasuk daur generatif secara optimal jika keseluruhan tubuhnya terbenam air 6. Mampu hidup di media air asin 7. Mempunyai sistem perakaran yang berkembang baik Memang, sesuai dengan faktor-faktor di atas kondisi lingkungan khususnya substrat di perairan ujung piring , Jepara identik dengan faktor hidup sampai kedalaman 30 meter, di perairan tenang dan

ditemukan jenis Lamun ini hanya di kedalaman lebih kurang 1 m, dengan kondisi perairan jernih, hal ini di karenakan cahaya matahari bisa masuk dengan bebas ke dasar perairan yang hanya memiliki kedalaman 1 meter. Sehingga tingkat pertumbuhan dan metabolisme lamun di perairan pantai ujung piring relatif baik.

4.2.2 Mengapa jenis lamun yang ditemukan hanya 2 spesies? Di perairan Ujung Piring hanya ditemukan 2 spesies lamun yaitu Thallasia hempricii dan Enhalus acoroides. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah kondisi perairan ujung piring. Jenis substrat yang terdapat pada perairan Ujung Piring adalah pasir berlumpur pecahan karang dengan kondisi perairan jernih. Hal ini memudahkan cahaya matahari dapat masuk ke dasar perairan yang memiliki kedalaman 1 meter. Kondisi perairan yang seperti inilah yang cocokuntuk hidup lamun jenis Thallasia hempricii dan Enhalus acoroide. Sehingga pada kondisi substrat yang seperti ini tingkat pertumbuhan dan metabolisme lamun di perairan pantai ujung piring relatif baik. Ekosistensi lamun di laut merupakan hasil dari beberapa adaptasi yang dilakukan termasuk toleransi terhadap salinitas yang tinggi, kemampuan untuk menancapkan akar di substrat sebagai jangkar, dan juga kemampuan untuk tumbuh dan melakukan reproduksi pada saat terbenam. Salah satu hal yang paling penting dalam adaptasi reproduksi lamun adalah hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan polinasi di bawah air. Tidak semua lingkungan perairan laut di dunia ini khususnya di tumbuhi oleh lamun. Karena seperti penjelasan di atas, lamun akan tumbuh di kondisi perairan yang benar-benar ideal baginya. (Mann, 2000). Pada perhitungan hasil, maka banyak ditemukan dominansi dari jenis Thalassia hemprichii. Karena jenis ini sesuai dengan fakor-faktor pertumbuhan yang seharusnya. Rata-rata dari kelompok 3A,3B,4A,dan 4B jenis Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides berada pada kelas 5 dengan nilai Mi x fi berada dalam rentang 825-1200. Sehingga di perairan pantai ujung piring, di dominasi dengan Thallasia hemprichi dan Enhalus acoroides.

4.2.3 Mengapa avertebrata laut suka hidup di padang lamun Pada padang lamun ini hidup berbagai macam spesies hewan, yang berassosiasi dengan padang lamun. Jenis Hewan Avertebrata yang ditemukan di ekosistem lamun adalah jenis gastropoda, (kerang-kerangan). Yang dimana hidup di daerah substrat berpasir lumpur. Juga Ditemukan beberapa jenis ikan dan udang-udangan dan kepiting (crustasea).

Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Hewan yang hidup pada padang lamun ada berbagai penghuni tetap ada pula yang bersifat sebagai pengunjung. Hewan yang datang sebagai pengunjung biasanya untuk memijah atau mengasuh anaknya seperti ikan. Selain itu, ada pula hewan yang datang mencari makan seperti sapi laut (dugong-dugong) dan penyu (turtle) yang makan lamun Syriungodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii Di daerah padang lamun, organisme melimpah, karena lamun digunakan sebagai perlindungan dan persembunyian dari predator dan kecepatan arus yang tinggi dan juga sebagai sumber bahan makanan baik daunnya mapupun epifit atau detritus. Jenis-jenis polichaeta dan hewanhewan nekton juga banyak didapatkan pada padang lamun. Lamun juga merupakan komunitas yang sangat produktif sehingga jenis-jenis ikan dan fauna invertebrata melimpah di perairan ini. Lamun juga memproduksi sejumlah besar bahan bahan organik sebagai substrat untuk algae, epifit, mikroflora dan fauna.

BAB V KESIMPULAN

5.1 KESIMPULAN Lamun adalah tumbuh-tumbuhan berbunga yang terdapat di lingkungan laut dan hidup di perairan pantai yang dangkal. Seperti halnya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif untuk berkembang biak. Lamun berbunga, berbuah, dan menghasilkan biji. Pengambilan sampel pada ekosistem lamun menggunakan transek 1x1 m dengan jarak 100 meter tegak lurus dengan garis pantai Lamun yang ditemukan dalam transek adalah jenis Enhallus acoroides dan Thalassia hempricii. Biota yang terdapat dalam transek lamun adalah gastropoda , dan beberapa jenis ikan

5.2 Saran - Praktikum disarankan untuk kedepan agar peralatan yang memadai

sehingga hasil ynya sesuai yang diharapkan praktikum. - Asistennya ditambah sehingga praktikan tidak terlalu menunggu lama apabila ada keperluan tentang praktikum. - Diharapkan kepada semua mahasiswa (praktikan) agar benarbenar serius, dan memperhatikan prosedur praktikum yang telah dibuat, agar praktukum dapat berjalan lancar sesuai dengan apa yang diinginkan. - Para Praktikan hendaknya memperhatikan penjelasan asisten pada pelaksanaan praktikum dan tidak ribut sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Azkab, M.H.1988. Pertumbuhan dan produksi lamun, Enhalus acoroides di rataan terumbu di Pari Pulau Seribu.Dalam: P3O-LIPI, Teluk Jakarta: Biologi,Budidaya, Oseanografi,Geologi dan Perairan. Balai Penelitian Biologi Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI, Jakarta. Azkab,M.H.1999. Kecepatan tumbuh dan produksi lamun dari Teluk Kuta, Lombok.Dalam:P3O-LIPI, Dinamika komunitas biologis pada ekosistem lamun di Pulau Lombok, Balitbang Biologi Laut, PustlibangBiologi Laut-LIPI, Jakarta Bengen,D.G. 2001. Sinopsis ekosistem dan sumberdaya alam pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Instititut Pertanian Bogor.

Dahuri R.J, Rais SP, Ginting MJ, Sitepu. 2003. Pengolahan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu, Edisi Revisi. PT. Pradnya Paramitha. Jakarta. Endrawati, Hadi.2000.Biologi Laut ( Botani Laut ) Klasifikasi Dan Ciri Lamun. Semarang; Universitas Diponegoro Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan. Hartog J.C. den, 1977. Descriptions of two new Ceriantharia from the Caribbean region, Pachycerianthus curacaoensis n. sp. and Arachnanthus nocturnus n. sp., with a discussion of the cnidom and of the classification of the Ceriantharia. Zoologische Mededelingen 51 (14): 211-242 Mann, K.H. 2000. Ecology of Coastal Water : With Implication for Management. Blackwell Science, Inc. Massachusets Nantji, A. 1987. Laut Nusantara. Jakarta ; Djambatan. Nybakken,J.W. 1988. Biologi Laut suatu pendekatan ekologis. Jakarta ; Gramedia. Philips,C.R. and E.G. Menez. 1988. Seagrass. Smith Sonian. Institutions Press. WashingtonD.C. Romimohtarto,K. dan S, Juwana. 1999.Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta ; Puslitbang Oseanologi LIPI. Jakarta.

.Romimohtarto Kasijan-Sri Juwana. 2001. Biologi Laut-Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI. Jakarta.

LAMPIRAN

Gambar : Thalassia hemprichii

Gambar : Enhalus acoroides