Anda di halaman 1dari 12

ASKEP PADA LANSIA

Pengkajian keperawatan pada lansia merupakan menjamin pendekatan sesuai usia (Lueckenotte, 1994). A. Hal hal yang mempengaruhi pengkajian keperawatan : 1. Interelasi antara aspek fisik dan psikososial Bagi lansia berkurangnya kemampuan untuk berespon terhadap stress, meningkatnya frekuensi dan rumitnya kehilangan dan perubahan fisik berkaitan dengan penuaan normal dapat berkombinasi untuk menempatkan seseorang pada resiko tinggi. Walaupun interaksi factor fisik dan psikososial bias menjadi serius, perawat tidak boleh menganggap semua lansia mempunyai tanda, gejala atau perilaku yang menggambarkan pengurangan dan penurunan. Kekuatan dan kemampuan lansia juga harus diidentifikasi. Pertimbangan yang hati hati tentang interaksi antara factor fisik dan psikososial pada setiap situasi klien merupakan hal yang esensial. 2. Pengaruh penyakit dan ketidakmampuan pada status fungsional Penuaan tidak perlu disamakan dengan penyakit dan ketidakmampuan. Kebanyakan lansia tetap mandiri secara fungsional walaupun ada peningkatan prevalensi penyakit kronis pada lansia. Bagaimanapun studi mendukung bahwa penyakit kronis meningkatkan kerentanan lansia terhadap penurunan fungsi. Karena itu pengkajian keperawatan tentang fungsi fisik dan psikososial merupakan hal yang penting karena dapat memberikan petunjuk yang berharga terhadap efek penyakit pada status fungsional. 3. Penurunan efisiensi mekanisme homeostatic Penurunan fungsi fisiologis dan peningkatan prevalensi penyakit adalah sebagian dari berkurangnya kemampuan untuk berespon pada strees melalui homeostasis. Kurangnya kemampuan beradaptasi paling jelas pada interaksi neuroendokrin, serta pada respon terpisah dari dua system ini. Karena perawat harus mengkaji adanya stressor dan manifestasi emosi serta fisik pada lansia. 4. Kurangnya standar untuk norma kesehatan dan penyakit Norma yang terbentuk pada uji diagnostic, kondisi patologis dan pertumbuhan serta perkembangan lansia berubah secara konstan seiring lebih banyaknya penelitian ilmiah ang dilakukan. Tetapi karena kurangnya penelitian pada bidang ini, perselisihan pendapat 1 proses yang kompleks untuk

terjadi diantara ahli tentang penuaan berkenaan dengan apa yang disebut normal (Abrams & Berkow, 1990). Bagaimanapun kebanyakan ahli setuju bahwa lansia harus dipandang dan diperlakukan secara individual untuk mengompensasi kurangnya standar definitive. Kemudian perawat dapat membandingkan pola kesehatan dan fungsi lansia sebelumnya dengan status sekarang dalam menentukan keseluruhan rencana keperawatan. Penyesuaian pengkajian keperawatan pada lansia Hal hal yang perlu dipersiapkan dalam pengkajian : Posisi duduk nyaman Ruang yang adekuat, terutama jika klien menggunakan alat bantu mobilisasi Ruangan cukup terang, hindari cahaya langsung Dekat kamar mandi Privasi yang mutlak Perencanaan pengkajian dilakukan sesuai tingkat energi Bersikap sabar, relaks, dan tidak tergesa gesa Beri lansia kesempatan untuk berpikir sebelum menjawab Waspadai tanda tanda keletihan Penurunan dan kemunduran fungsi lansia mengakibatkan menurunnya validitas data yang akhirnya diagnosa keperawatan tidak tepat. Untuk mendapatkan kesimpulan data yang tepat tentang lansia maka perlu dilaksanakan : Kaji lebih dari satu kali dan pada waktu yang berbeda setiap hari Gunakan kesempatan saat rutinitas lansia seperti mandi, berdandan, makan Yakinkan alat bantu sensori dan mobilitas tersedia dan berfungsi Wawancarai keluarga, teman dan orang terdekat yang terlibat dalam perawatan lansia untuk memvalidasi data Gunakan bahasa tubuh, sentuhan, kontak mata dan berbicara untuk meningkatkan tingkat partisipasi maksimum lansia Sadari keadaan dan perhatian emosional klien; takut, ansietas, dan bosan dapat menimbulkan kesimpulan pengkajian yang tidak akurat mengenai kemampuan fungsional

Pengkajian Anamnesa memberikan suatu nilai subyektif pada status kesehatan lansia. Dalam melaksanakan pengkajian dapat dipengaruhi oleh sikap dan stereotip perawat tentang proses penuaan. Mitos, stereotip

Sikap, perasaan, nilai, kepercayaan

Perilaku

Keperawatan gerontologi memberi pendekatan kreatif untuk memaksimalkan potensi klien lansia. Pengkajian menyeluruh mengharuskan perawat untuk terikat secara aktif dengan klien dan menyediakan waktu bagi klien untuk memberikan informasi tentang kesehatannya. Perawat mengkaji perubahan pada perkembangan fisiologis, kognitif dan perilaku psikososial. 1. Perubahan Fisiologis Persepsi kesehatan dapat menentukan kualitas hidup. Pemahaman persepsi lansia ttg status kesehatan esensial untuk pengkajian yang akurat dan pengembangan intervensi yang relevan secara klinis. Konsep lansia tentang kesehatan umumnya bergantung pada persepsi pribadi terhadap kemampuan fungsional. Karena itu lansia yang terlibat dalam ADL biasanya menganggap dirinya sehat, sedangkan mereka yang aktivitasnya terbatas karena kerusakan fisik, emosional atau social mungkin merasa dirinya sakit. Perubahan fisiologis bervariasi setiap klien. Perubahan Fisik Penuaan Normal Sistem Integumen Warna Kulit Kelembaban Suhu Tekstur Temuan Normal Pigmentasi berbintik/bernoda di area yang terpajan sinar matahari,pucat meskipun tdk anemia Kering, kondisi bersisik Ekstermitas lebih dingin, penurunan perspirasi Penurunan elastisitas, kerutan, kondisi berlipat, kendur 3

Distribusi lemak Rambut Kuku Kepala dan leher

Kepala Mata Telinga Mulut, faring Leher

Thoraxs & paru paru Sist Jantung vaskular Payudara Sistem Gastrointestinal Sistem Reproduksi Sistem Perkemihan Wanita Pria Sistem Muskoloskeletal Sistem Neurologis &

Wanita Pria

Penurunan jumlah lemak pada ekstremitas, peningkatan jumlahnya di abdomen Penipisan, beruban Penurunan laju pertumbuhan Tulang nasal, wajah menajam & angular Pe ketajaman penglihatan,akomodasi, adaptasi dalam gelap, sensitivitas thd cahaya Pe membedakan nada, ber<nya refleks ringan, pendengaran < Pe pengecapan, atropi papilla ujung lateral lidah Kelenjar thyroid nodular Pe diameter antero-posterior, pe rigiditas dada, pe RR dengan pe ekspansi paru, pe resistansi jalan nafas Pe sistolik, perubahan DJJ saat istirahat, nadi perifer mudah dipalpasi, nadi kaki > lemah, ekstremitas bawah > dingin Ber<nya jaringan payudara, kondisi menggantung & kendur Pe sekresi saliva, peristaltic, enzim digestif, konstipasi Pe estrogen, ukuran uterus, atrofi vagina Pe testosterone, jumlah sperma, testis Pe filtrasi renal, nokturia, pe kapasitas kandung kemih, inkontinensia, Inkontinensia urgensi & strees o/k pe tonus otot perineal Sering berkemih & retensi urine o/k BPH Pe massa & kekuatan otot, demineralisasi tulang, pemendekan fosa krn penyempitan rongga intravertebral, Pe mobilitas sendi, rentang gerak Pe laju refleks, Pe kemampuan berespon terhadap stimulus ganda, insomnia, periode tidur > singkat

Pengkajian Status Fungsional Pengkajian status fungsional adalah suatu pengukuran kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari hari secara mandiri.Indeks Katz adalah alat yang secara luas digunakan untuk menentukan hasil tindakan dan prognosis pada lansia dan

penyakit kronis. Format ini menggambarkan tingkat fungsional klien dan mengukur efek tindakan yang diharapkan untuk memperbaiki fungsi. Indeks ini merentang kekuatan pelaksanaan dalam 6 fungsi : mandi, berpakaian, toileting, berpindah, kontinen dan makan. Tingkat Kemandirian Lansia : A : kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar mandi, berpakaian dan mandi B : kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari hari, kecuali satu dari fungsi tambahan C : kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari hari, kecuali mandi dan satu fungsi tambahan D : kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari hari, kecuali mandi, berpakaian dan satu fungsi tambahan E : kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari hari, kecuali mandi, berpakaian, ke kamar kecil dan satu fungsi tambahan F : kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari hari, kecuali mandi, berpakaian, ke kamar kecil G : Ketergantungan pada keenam fungsi tersebut 2. Perubahan Kognitif Kebanyakan trauma psikologis dan emosi pada masa lansia muncul akibat kesalahan konsep karena lansia mengalami kerusakan kognitif. Akan tetapi perubahan struktur dan fisiologis yang terjadi pada otak selama penuaan tidak mempengaruhi kemampuan adaptif & fungsi secara nyata (Ebersole & Hess, 1994) Sel neurofisiologis berubah bervariasi pada setiap individu. Meskipun kehilangan selular nyata, beberapa lansia tidak memperlihatkan deteorisasi mental, bahkan beberapa klien dg kehilangan sel serebral yang signifikan berespon baik pada penanganan psikoterapi dan farmakologis. Adakalanya saat terjadi disfungsi serebral, tendensi perilaku yang sebelumnya ada diperberat. Oleh karena itu seseorang yang kompulsif saat dewasa awal & tengah menjadi lebih kompulsif saat lansia. Perubahan kognitif terjadi pada lansia saat terjadi disfungsi atau trauma serebral.

Dimensia adalah kerusakan umum fungsi intelektual yang mengganggu fungsi social dan okupasi. Sindrom ini dicirikan oleh adanya disfungsi serebral ireversibel dan progresif. Dimensia senilis tipe Alzheimer dicirikan terdapat atropi otak, timbulnya plak senile dan lilitan neurofibril dalam hemisfer serebral. Penyebab pasti belum diketahui. Dimensia merupakan tahap ireversibel yang ditandai dengan penurunan fungsi intelektual, perubahan kepribadian, kerusakan penilaian dan perubahan afek yang diakibatkan perubahan metabolisme serebral secara permanen. Progresi penyakit Alzheimer dibagi dalam tiga tahap (Brady, 1993). Pada tahap awal gejala utama adalah hilang memori. Tahap pertengahan meliputi kerusakan ketrampilan bahasa, aktivitas motorik dan pengenalan benda. Inkontinensia urine dan fekal, ketidakmampuan ambulasi & hilangnya ketrampilan bahasa secara lengkap merupakan gejala tahap akhir. Dimensia multi infark merupakan penyebab umum dimensia yang kedua. Ditandai dengan periode remisi, preservasi kepribadian, pandangan, labilitas emosi & serangan epileptoid. Penyebab pasti belum diketahui diduga berkaitan dengan gangguan vascular dalam otak dan mungkin akibat stroke dan hipertensi berat. Delirium atau tingkat konfusi akut adalah sindrom otak menyerupai dimensia ireversibel, tetapi secara klinis dibedakan oleh adanya tingkat kesadaran tidak jelas atau lebih tepatnya perubahan perhatian dan kesadaran (APA, 1994). Gejala lain meliputi kurang perhatian, ilusi, halusinasi, kadang bicara inkoheren, gangguan siklus tidur dan disorientasi. Awitan delirium secara khas mendadak dan terdapat fluktuasi yang cepat pada gejala dan keparahan. Delirium dapat menyerupai dimensia ireversibel; bagaimanapun penyebabnya dapat ditangani dan kemungkinan bisa sembuh. Penyebab delirium dari segi fisiologis atau psikologis.

Penyalahgunaan zat dan kerusakan kognitif Penelitian tentang penyalahgunaan zat pada lansia menunjukkan bahwa menunjukkan penggunaannya bisa berlangsung lama atau baru, sehingga sulit untuk menentukan prevalensi. Akan tetapi banyak penelitian yang menunjukkan bahwa hal tersebut adalah masalah serius pada lansia karena strees dan kehilangan terkait penuaan, kehilangan pasangan dan kesepian.

Penyalahgunaan alcohol dan obat obatan dalam waktu lama dapat mempengaruhi fungsi kognitif. Setelah 15 sampai 20 tahun penyalahgunaan alcohol, toleransi terhadap mabuk menurun.Penyalahgunaan yang lama sejumlah besar alcohol menyebabkan kerusakan serebral, serebelum, sensori dan SST. Banyak pecandu alcohol kronis juga mengalami defisiensi vitamin B1. Pengkajian Status Kognitif SPMSQ (Short Portable Mental Status Questionnaire) Digunakan untuk mendeteksi adanya dan tingkat kerusakan intelektual terdiri dari 10 hal yang menilai orientasi, memori dalam hubungan dengan kemampuan perawatan diri, memori jauh dan kemampuan matematis. MMSE (Mini Mental State Exam) Menguji aspek kognitif dari fungsi mental, orientasi, registrasi, perhatian,dan kalkulasi, mengingat kembali dan bahasa. Nilai kemungkinan paling tinggi adalah 30, dengan nilai 21 atau kurang biasanya indikasi adanya kerusakan kognitif yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Pemeriksaan hanya perlu beberapa menit untuk melengkapi dan dengan mudah dapat dinilai tetapi tidak dapat digunakan sendiri untuk tujuan diagnostic. Karena pemeriksaan MMSE mengukur beratnya kerusakan kognitif dan mendemonstrasikan perubahan kognitif, ini suatu alat yang berguna untuk mengkaji kemajuan klien

Inventaris Depresi Beck Berisi 13 hal yang menggambarkan berbagai gejala dan sikap yang berhubungan dengan depresi. Setiap hal direntang dengan menggunakan skala 4 poin untuk menandakan intensitas gejala. 3. Perubahan Psikososial

Lansia harus beradaptasi pada perubahan psikososial yang terjadi pada penuaan. Meskipun perubahan tersebut bervariasi, tetapi beberapa perubahan biasa terjadi pada mayoritas lansia. Pensiun sering dikaitkan secara salah dengan kepasifan dan pengasingan. Dalam kenyataannya, pension adalah tahap kehidupan yang dicirikan oleh adanya transisi dan perubahan peran yang dapat menyebabkan stress psikososial. Stres ini meliputi perubahan peran pada pasangan atau keluarga dan masalah isolasi social. Faktor paling kuat yang mempengaruhi kepuasan hidup seseorang yang pensiun adalah status kesehatan, pilihan untuk bekerja, pendapatan yang cukup (Ebersole, Hess, 1994) Isolasi social Banyak lansia mengalami isolasi social yang meningkat sesuai pertambahan usia. Tipe isolasi social yaitu sikap, penampilan, perilaku dan geografi. Isolasi sikap terjadi karena nilai pribadi atau budaya. Lansiaisme adalah sikap yang berlaku yang menstigmatisasi lansia. Suatu bias yang menentang dan menolak lansia. Karena itu isolasi social sikap terjadi ketika lansia tidak secara mudah diterima dalam interaksi social karena hal tersebut. Seiring lansia semakin ditolak harga diripun berkurang sehingga usaha bersosialisasi berkurang. Isolasi penampilan diakibatkan oleh penampilan yang tidak dapat diterima atau factor lain yang termasuk menampilkan diri sendiri pada orang lain. Faktor kontribusi lain adalah citra tubuh, hygiene, tanda penyakit yang terlihat dan kehilangan fungsi (Ebersole & Hess, 1990). Seseorang diisolasi karena penolakan orang lain atau karena sedikit interaksi yang dapat dilakukan akibat kesadaran diri. Isolasi perilaku diakibatkan oleh perilaku yang tidak dapat diterima pada semua kelompok usia dan terutama pada lansia, perilaku yang tidak dapat diterima secara social menyebabkan seseorang menarik diri. Perilaku yang biasanya dikaitkan dengan pengisolasian pada lansia meliputi konfusi, dimensia, alkoholisme, dan inkontinensia. Isolasi geografis terjadi karena jauh dari keluarga, kejahatan di kota dan barier institusi. Dalam masyarakat kini yang mobilitasnya tinggi, umumnya anak hidup jauh dari orang tua. Sehingga kesempatan untuk bertemu dengan anak jarang. Hal ini menyebabkan isolasi lebih lanjut jika orang tua yang mempunyai keterbatasan fisik atau mengalami kematian pasangan.

Di daerah perkotaan angka criminal yang tinggi menghalangi lansia bersosialisasi. Hidup di daerah angka criminal yang tinggi dapat menyebabkan ketidakinginan untuk keluar rumah karena takut akan terjadi kejahatan. Salah satu barier institusi adalah kurangnya kemudahan akses bagi orang yang menggunakan kursi roda, walker atau tongkat. Juga bila lansia memerlukan perawatan di institusi lansia harus berpisah dengan teman temannya. Interaksi social bergantung pada mereka yang datang mengunjungi. Pengkajian Sosial Hubungan lansia dengan keluarga memerankan peran sentral pada seluruh tingkat kesehatan dan kesejahteraan lansia. Alat skrining singkat yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi social lansia adalah APGAR Keluarga. Instrument disesuaikan untuk digunakan pada klien yang mempunyai hubungan social lebih intim dengan teman temannya atau dengan keluarga. Nilai < 3 menandakan disfungsi keluarga sangat tinggi, nilai 4 6 disfungsi keluarga sedang. A : Adaptation P : Partnership G :Growth A :Affection R : Resolve Keamanan Rumah Perawat wajib mengobservasi lingkungan rumah lansia untuk menjamin tidak adanya bahaya yang akan menempatkan lansia pada resiko cidera. Faktor lingkungan yang harus diperhatikan : Penerangan adekuat di tangga, jalan masuk & pada malam hari Jalan bersih Pengaturan dapur dan kamar mandi tepat Alas kaki stabil dan anti slip Kain anti licin atau keset Pegangan kokoh pada tangga / kamar mandi Ketegangan peran pemberi asuhan 9

Masalah Keperawatan

Gangguan interaksi social Kerusakan memori Koping individu tak efektif Strees relokasi Distress spiritual Inkontinensia fungsional Perubahan pola seksualitas

1. Distress spiritual Definisi : Keadaan individu / kelompok mengalami/beresiko mengalami gangguan dlm sistem keyakinan atau nilai yg memberikan kekuatan, harapan & arti kehidupan Faktor factor yang berhubungan : penyakit terminal,kehilangan org terdekat, keyakinan yg ditentang keluarga, hambatan dlm melaksanakan ibadah Mayor : mengalami suatu gangg dlm sistem keyakinan Minor : mempertanyakan makna kehidupan, kematian & penderitaan menunjukkan keputusasaan tidak melaksanakan ritual keagamaan ragu thd keyakinan perasaan kekosongan spiritual

Intervensi : 1. Tunjukkan sikap tidak menghakimi 2. Nyatakan pentingnya keb spiritual 3. Berikan privasi & ketenangan 4. Selalu bersedia & berkeinginan u/ mendengarkan keluhan klien 5. Ajarkan ritual keagamaan 6. Hubungi pemuka agama 2. Perubahan pola seksualitas Definisi :

10

Individu mengalami suatu perubahan dalam kesehatan seksual. Kesehatan seksual merupakan integrasi aspek somatik, emosional, intelektual & sosial dari seksualitas dlm cara mencapai & meningkatkan kepribadian, komunikasi & cinta Faktor yg berhubungan : Penyakit, obat obatan Masalah pasangan, depresi, nyeri Menopouse Menceritakan masalah fungsi seksual Mengidentifikasi stresor dlm hidup Mengekspresikan peningkatan kepuasan Melanjutkan aktivitas seksual sebelumnya

Kriteria hasil :

Intervensi : Berikan dorongan u/ bertanya ttg seksualitas Gali hubungan pasien dengan pasangan Anjurkan u/ ikut klub Ajarkan keuntungan fisik & psikologis ttg aktivitas fisik teratur (3x seminggu, 30) Ajarkan tehnik u/ mengurangi konsumsi oksigen, nyeri,beban berlebihan pd jant

3. Ketegangan peran pemberi asuhan Definisi : Individu mengalami beban fisik, emosional, sosial & finansial dlm proses pemberian asuhan u/ orang lain Batasan : Melaporkan ttg ketdkcukupan waktu & energi Perasaan depresi, marah Kesulitan melakukan aktivitas pemberian asuhan yg dibutuhkan

Intervensi : Memberikan empati Bicarakan pengaruh ttg jadwal yg ada & tanggung jawab pd kes fisik, emosi Bantu u/ mengidentifikasi bantuan aktivitas yg diperlukan Identifikasi sumber bantuan yg ada 11

Definisi :

Buat jadwal pengasuhan

4. Kerusakan interaksi sosial Individu mengalami respon negatif, ketdkadekuatan, ketdkpuasan dari interaksi Tdk mampu mempertahankan hub Ketdkpuasan dg jaringan social Isolasi sosial Menghindari orang lain Menyalahkan orla Perasaan ttg penolakan, tdk dimengerti Orla melaporkan ttg interaksi bermasalah Berkomunikasi dengan lansia harus dengan kontak mata Ajak lansia untuk melakukan kegiatan sesuai kemampuan fisiknya Menyediakan waktu untuk berbincang dengan lansia Beri kesempatan lansia untuk mengekspresikan perasaannya Hargai pendapat lansia

Batasan :

Intervensi menarik diri

12