Anda di halaman 1dari 5

1.

Asuransi sosial (social insurance) Asuransi sosial adalah skema perlindungan sosial yang diterima

berdasarkankontribusinya yang berupa premi, iuran atau tabungan. Progam ini mampu mengurangi resiko melalui penyediaan tunjangan penghasilan dalam situasi sakit, cacat, kecelakaan kerja, melahirkan, menganggur, semakin tua, dan kematian. Progam asuransi sosial mencakup: Asuransi atau tunjangan penganguran untuk menghadapi keadaan tidak adanya kesempatan kerja akibat factor structural maupun situasional. Asuransi kecelakaan kerja untuk member kompensasi bagi pekerja yang mengalami kecelakaan atau sakit terkait pekerjaannya. Asuransi kecacatan atau ketidakmampuan kerja yang biasanya dikaitkan dengan pensiun hari tua atau member kompensasi sebagian atau seluruh kerugian akibat kecacatan. Asuransi kesehatan untuk melindungi orang dari penyakit atau dari kehilangan pendapat/asset akibat mengalami sakit. Asuransi hari tua untuk memberikan tunjangan penghasilan setelah pensiun. Asuransi kelangsungan hidup yang dapat menjamin keluargaatau anakanak yang menjadi tanggungan dapat hidup layak akibat pencari nafkah utama meninggal atau kehilangan penghasilan akibat kecacatan permanen.

A. Hambatan Proses Perlindungan Sosial 1. Kesiapan Masyarakat a. Belum adanya atau belum meratanya lembaga masyarakat penyedia pelayanan sosial: Asuransi Sosial. b. Pelayanan sosial: anak yang membutuhkan perlindungan khusus (ADKK), lansia terlantar, orang dengan kecacatan. c. Sumber yang tersedia belum diarahkan: kurangnya SDM yang memadai. Rendahnya kualitas penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Penyandang cacat memiliki kendala untuk kemandirian, produktivitas, dan hak untuk hidup normal, seperti akses ke pelayanan sosial dasar untuk berbafai jenis kecacatan, akses terhadap pelayanan umum. 2. Kesiapan Aparatur Pemerintah a. Data akurat belum tersedia Belum adanya online penduduk, contoh: kelemahan utama Jamkesmas yaitu (a) belum memilikinya data akurat keluarga miskin, terutama gelandangan dan orang terlantar yang tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). (b)

Pengidentifikasian orang miskin yang layak mendapat Jamkesmas, kriteria dan metoda yang digunakan beberapa instansi (Badan Pusat Statistik(BPS) dan BKKBN) berbeda. b. Peta sosial, yaitu gambaran masalah sosial nasional atau lokal belum memadai. c. Masih adanya diskriminasi alokasi anggaran: APBN/APBD untuk pelayanan sosial. d. Pelayanan sosial masih ujicoba. e. SDM pusat/daerah belum memadai, rendahnya kualitas manejemen, dan profesionalisme pelayanan sosial. 3. Kebijakan Sosial Belum serasinya kebijakan kesejahteraan sosial di tingkat nasional dan daerah. a. Undang-undang UU no. 23/2002 tentang PA sudah ada advokasi bagi anak yang berkebutuhan khusus tapi belum ada PERDA, dan lain-lain.

UU no. 40/2004 tentang SJSN sudah ada pembayaran premi bagi warga miskin tapi belum ada PERDA, dan lain-lain. UU 11/2009 tentang kesejahteraan sosial sudah diatur tentang asuransi kesejahteraan sosial tapi belum ada PERDA, dan lain-lain. UU No. 16/2001 diubah UU 28/2004 tentang yayasan lebih mengatur normatif internal yayasan belu mengatur teknis pelayanan sosial. b. Peraturan Pemerintah PP 29/1980 tentang pelaksanaan pengumpulan sumbangan, telah mengatur ijin dan cara pengumpulan sumbangan. Belum ke teknis pemanfaatannya. c. Peraturan Daerah Perda kota Bandung No. 03/2005 tentang penyelenggara ketertiban, kebersihan, dan keindahan,. Penanganan masalah kesejahteraan sosial secara persuasive, interogratif seharusnya dilakukan asesmen

DAFTAR PUSTAKA

Edi Suharto, Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia; Menggagas Model Jaminan Sosial Universal bidang kesehatan. Bandung: Alfabeta.

Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, dimana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut. Menurut Undang-Undang No.2 Tahun 1992 Pasal 1 :

Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak Penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. Pada hakekatnya asuransi adalah suatu perjanjian antara nasabah asuransi (tertanggung) dengan perusahaan asuransi (penanggung) mengenai pengalihan resiko dari nasabah kepada perusahaan asuransi. Resiko yang dialihkan meliputi: kemungkinan kerugian material yang dapat dinilai dengan uang yang dialami nasabah, sebagai akibat terjadinya suatu peristiwa yang mungkin/belum pasti akan terjadi (Uncertainty of Occurrence & Uncertainty of Loss). *Mub, apakah asuransi dibagi lagi menurut bidangnya? *

Sip, ya benar, asuransi menurut bidangnya dibagi lagi menjadi 3 golongan, yaitu: ASURANSI UMUM: Yang terdiri dari asuransi untuk Harta Benda (Property), Kepentingan Keuangan (Pecuniary), Tanggung Jawab Hukum (Liability), dan Asuransi Diri (Asuransi Kecelakaan dan Asuransi Kesehatan). ASURANSI JIWA: Yang menyangkut masalah meninggalnya tertanggung dalam periode asuransi atau tetap hidup sampai akhir periode Polis Asuransi Jiwa yang bersangkutan. Perusahaan Asuransi Jiwa juga diperbolehkan untuk memasarkan produk Asuransi Kecelakaan dan Kesehatan.

ASURANSI SOSIAL: Adalah program Asuransi Wajib yang diselenggarakan Pemerintah berdasarkan UndangUndang. Maksud dan tujuan Asuransi Sosial adalah menyediakan jaminan dasar bagi masyarakat dan bertujuan tidak mendapatkan keuntungan-keuntungan komersial.
\ Sumber : http://mubaroki.com/pengertian-asuransi.html

Asuransi Kesehatan adalah kebutuhan yang sangat penting untuk menjamin kesehatan dan kesejahteraan setiap Pegawai Negeri Sipil. Bagi anda PNS dan TNI/Polri yang belum memiliki ASKES sebaiknya anda segera membuat ASKES baru. Syarat pembuatan ASKES baru adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Mengisi blangko ASKES (distempel dan ditandatangani oleh kepala instansi) Foto Copy SPJ Daftar Gaji Terbaru (bukan perincian gaji) Foto Copy SK Pangkat terakhir Pas foto 23 = 2 lembar (balita belum memakai foto) Foto Copy Surat Nikah Foto Copy Akte kelahiran anak Foto Copy KTP/Surat keterangan domisili (dari RT sampai dengan kelurahan) Surat keterangan masih kuliah terbaru (untuk anak usia 21 tahun, maksimal 25 tahun) Kartu ASKES lama (peserta pindahan dari Kabupaten/Propinsi lain)

Sumber : http://www.askes.org/syarat-pembuatan-askes-baru-pns-tni-polri.html