Anda di halaman 1dari 2

Safeguards Iaea Dan Perkembangan Penerapannya Dalam Pemanfaatan Nuklir Tujuan Damai (bagian 1) 01 Sep 2010 02:59:07

Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) yang didirikan pada tahun 1957 adalah organisasi otonom antarpemerintah yang berada dalam lingkungan PBB. IAEA bertugas mempercepat dan memperluas peranan tenaga atom untuk perdamaian, kesehatan dan kesejahteraan dunia, serta menjamin bantuan yang diberikan atau disediakan olehnya tidak digunakan sedemikian rupa, untuk tujuan militer.

Sejak awal berdirinya, IAEA mengeluarkan acuan bagi negara anggota sebagai komitmen bersama dalam menjalankan tanggung jawab penggunaan nuklir untuk maksud damai dengan mengikat negara anggota dengan perjanjian non-proliferasi, perjanjian bilateral dan multilateral, yang kemudian dalam pelaksanaannya dikenal dengan sebutan Safeguards.

Sejak tahun 1945, dalam pertemuan antara pemerintah Amerika Serikat, Inggris dan Kanada pada hakekatnya konsep safeguards telahdiperkenalkan dan untuk pertama kali pada tahun 1946 Amerika Serikat meluncurkan skema yang lebih luas yang dikenal dengan Baruch Plan, yang merupakan nama yang diambil dari salah satu nama delegasi Amerika Serikat yang mempresentasikan skema tersebut. Skema tersebut dibuat dalam rangka mencegah penggunaan senjata nuklir, dengan titik berat pada tanggung jawab negara dalam perkembangan penggunaan energi nuklir untuk maksud damai.

Selanjutnya pada tahun 1957 di Sidang Umum PBB, Presiden Amerika Serikat Eisenhower mencanangkan pemanfaatan nuklir untuk maksud damai yang dikenal dengan istilah Atom for Peace . Hal ini menjadi dasar terbentuknya Statuta IAEA yang salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan promosi penggunaan nuklir untuk maksud damai dan perlucutan senjata nuklir.

Safeguardsmemberi tanggung jawab ganda bagi IAEA, yaitu selain untuk mempromosikan penggunaan energi nuklir untuk maksud damai dan aman, juga untuk menjamin kepastian bahwa energi nuklir tidak disalahgunakan untuk tujuan perang (bukan damai).

Pada tahap awal pelaksanaan safeguards, pengawasan lebih terkonsentrasi kepada perdagangan nuklir internasional yang diakui mempunyai peranan penting dalam proliferasi nuklir. Akan tetapi dengan

penerapan safeguards dalam perdagangan internasional, komoditi nuklir ternyata menjadi lebih meningkat terutamadalam kaitan dengan transfer teknologi nuklir.

Selanjutnya sistem safeguards dilaksanakan terhadap reaktor penelitian dan reaktor eksperimental sesuai dokumen IAEA INFIRC/26. Sesuai dokumen IAEA INFCIRC/66/Rev.2, IAEA kemudian membuat peraturan safeguards yang lebih luas lagi yaitu safeguards yang dapat menjangkau reaktor untuk segala jenis, termasuk didalamnya pengawasan kepada reprocessing plants dan seluruh fuel fabrication plants.

Pada tahun 1960-an, konsep dasar mengenai safeguards yang lebih baik mulai diformulasikan dan diterapkan. Meskipun masih berjalan lambat karena masih tergantung pada kemauan masing-masing negara untuk menerima safeguards, inspeksi dantipe atau fasilitas yang diinspeksimulai meningkat. Sebagai informasi, inspeksi safeguards IAEA pertama kali dilakukan di Norwegia, berdasarkan peraturan safeguards IAEA yang berlaku saat itu.

Selanjutnya pada tahun 1967 dibentuk suatu perjanjian nuklir antara negara-negara di Amerika Latin yang diberi nama Treaty for the Prohibition of Nuclear Weapons in Latin America atau lebih dikenal dengan nama Tlatelolco Treaty. Sebagaimana halnya NPT, Tlatelolco Treaty mengharuskan anggotaanggotanya untuk menandatangani safeguards agreements dengan IAEA. Begitu juga dengan Treaty of Bangkok (untuk kawasan Asia Tenggara). Traktat Zona bebas senjata nuklir di Pasifik Selatan (Treaty of Rarotonga) dan the Treaty of Pelindaba (untuk Afrika).

(Estopet M.D. Sormin)