Anda di halaman 1dari 10

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN STENOSIS MITRAL DI RUANG KARDIOLOGI RSUD Dr.

SOETOMO SURABAYA
OLEH : DAVID A. MANDALA NIM : 010030206 B

I. Pengertian : Penyakit pada daun katup mitral. Insiden tertinggi penyakit katup adalah pada katup mitralis, diikuti oleh katup aorta. II. Etiologi Secara etiologis stenosis metral dibagi atas rematik (> 90%) dan non rematik. Stenosis metral rematik berasal dari demam rematik, suatu peradangan non supratif pada berbagai jaringan tubuh dengan berbagai manifestasinya, misalnya : jantung (Karditis) dan otak (Khorea). Dinegara yangs edang berkembang (termasuk Indonesia) stenosis mitrals ebagian terjadi pada usia dibawah 20 tahun yang disebut sebagai juvenil mitral stenosis.

IV. Pemeriksaan fisik Stenosis metral yang murni (isolated) dapat didengar bising meddiastolikyang bersifat kasar, bising menggenderang (Rumble), Aksentuasi presistolik dan bunyi jantung satu yang mengeras. Jika terdengar bunyi tambahan opening snap berarti katup masih relatif lemas (pliable) sehingga waktu terbuka mendadak saat distole menimbulkan bunyi yang menyentak (seperti tali putus). Jarak bunyi jantung dua dengan opening snap memberikan gambaran beratnya stenosis. Makin pendek jarak ini berarti makin berat derajat penyempitannya. Komponen pulmunal bunyi jantung kedua dapat mengeras disertai bising sistolik karena adanya hipertensi pulmunal. jika sudah terjadi insufisiensi pulmunal maka dapat terdengar bising diastolik dini dari katup pulmunal. V. Pemeriksaan Diagnostik 1. Kateterisasi jantung : Gradien tekanan (pada distole) antara atrium kiri dan ventrikel kiri melewati katup mitral, penurununan orivisium katup (1,2 cm), peninggian tekanan atrium kiri, arteri pulmunal, dan ventrikel kanan ; penurunan curah jantung. 2. Ventrikulografi kiri : Digunakan untuk mendemontrasikan prolaps katup mitral. 3. ECG : Pembesaran atrium kiri ( P mitral berupa takik), hipertropi ventrikel kanan, fibrilasi atrium kronis. 4. Sinar X dada : Pembesaran ventrikel kanan dan atrium kiri, peningkatan vaskular, tanda-tanda kongesti/edema pulmunal. 5. Ekokardiogram : Dua dimensi dan ekokardiografi doppler dapat memastikan masalah katup. Pada stenosis mitral pembesaran atrium kiri, perubahan gerakan daun-daun katup. VI. Manejemen Keperawatan 1. 1) a. b. 2) Pengkajian Data Subyektif Riwayat penyakit sekarang Dyspnea atau orthopnea Kelemahan fisik (lelah) Riwayat medis Adakah riwayat penyakit demam rematik/infeksi saluran pernafasan atas. Data Obyektif 1) Gangguan mental : lemas, gelisah, tidak berdaya, lemah dan capek. 2) Gangguan perfusi perifer : Kulit pucat, lembab, sianosis, diaporesis.

3) Gangguan hemodenamik : tachycardia, bising mediastolik yang kasar, dan bunyi jantung satu yang mengeras, terdengar bunyi opening snap, mur-mur/S3, bunyi jantung dua dapat mengeras disertai bising sistole karena adanya hipertensi pulmunal, bunyi bising sistole dini dari katup pulmunal dapat terdengar jika sudah terjadi insufisiensi pulmunal, CVP, PAP, PCWP dapat meningkat, gambaran EKG dapat terlihat P mitral, fibrilasi artrial dan takikardia ventrikal. 4) Gangguan fungsi pulmunary : hyperpnea, orthopnea, crackles pada basal. 2. a. b. diagnosa. c. d. Perubahan penampilan peran b/d krisis situasional; proses Resiko kelebihan volume cairan b/d adanya perpindahan penyembuhan; ragu-ragu akan masa depan. tekanan pada kongestif vena pulmonal; Penurunan perfusi organ (ginjal); peningaktan retensi natrium/air; peningakatn tekanan hidrostatik atau penurunan e. f. g. h. i. fase distolik. j. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d sesak napas. protein plasma (menyerap cairan dalam area interstitial/jaringan). Resiko kerusakan pertukaran gas b/d perubahan membran Pola nafas tidak efektif b/d penurunan ekspansi paru. Ansietas b/d ancaman kehilangan/kematian; krisis situasional; Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan sirkulasi darah Penurunan curah jantung b/d adanya hambatan aliran darah kapiler-alveolus (perpindahan cairan ke dalam area interstitial/alveoli). Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Timbul Koping individu tidak efektif b/d krisis situasional; sistem Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) b/d kurang pendukung tidak adekuat; metode koping tidak efektif. pengetahuan; misinterpretasi informasi; keterbatasan kognitif; menyangkal

ancaman terhadap konsep diri (citra diri). perifer; penghentian aliran arteri-vena; penurunan aktifitas. dari atrium kiri ke ventrikel kiri, adanya takikardi ventrikel, pemendekan

k. l. m. n. fisik. 3. a. fase distolik b. c. d.

Gangguan eleminasi urine b/d penurunan perfusi glomerulus; Resiko kurang volume cairan tubuh b/d penurunan kardiak Intoleran aktifitas b/d adanya penurunan curah jantung, Gangguan pemenuhan ADL b/d immobilisasi; kelemahan

penurunan kardiak output. output; penurunan filtrasi glomerulus. kongestif pulmunal.

Diagnosa Keperawatan Utama Yang Akan Dibahas Penurunan curah jantung b/d adanya hambatan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri, adanya takikardi ventrikel, pemendekan Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan sirkulasi darah Intoleran aktifitas b/d adanya penurunan curah jantung, Resiko kelebihan volume cairan b/d adanya perpindahan

perifer; penghentian aliran arteri-vena; penurunan aktifitas. kongestif pulmunal. tekanan pada kongestif vena pulmonal; Penurunan perfusi organ (ginjal); peningaktan retensi natrium/air; peningakatn tekanan hidrostatik atau penurunan e. 4. a. fase distolik. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari, penurunan curah jantung dapat diminimalkan. Kriteria hasil: Vital sign dalam batas normal, Gambaran ECG normal, bebas gejala gagal jantung, urine output adekuat 0,5-2 ml/kgBB, klien ikut serta dalam aktifitas yang mengurangi beban kerja jantung. Rencana intervensi dan rasional: Intervensi Kaji frekuensi nadi, RR, Rasional Memonitor adanya protein plasma (menyerap cairan dalam area interstitial/jaringan). Resiko kerusakan pertukaran gas b/d perubahan membran Rencana Intervensi dan Rasional Penurunan curah jantung b/d adanya hambatan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri, adanya takikardi ventrikel, pemendekan kapiler-alveolus (perpindahan cairan ke dalam area interstitial/alveoli).

TD secara teratur setiap 4 jam. Catat bunyi jantung. Kaji perubahan warna kulit terhadap sianosis dan pucat.

perubahan sirkulasi jantung sedini mungkin. Mengetahui adanya perubahan irama jantung. Pucat menunjukkan adanya perfusi perifer penurunan

terhadap tidak adekuatnya curah jantung. Sianosis terjadi sebagai akibat adanya obstruksi aliran Pantau intake dan output setiap 24 jam. darah pada ventrikel. Ginjal berespon curah untuk jantung menurunkna Batasi adekuat. aktifitas secara dan natrium. Istirahat memadai diperlukan memperbaiki jantung efisiensi dan untuk

dengan menahan produksi cairan

kontraksi

menurunkan komsumsi O2 dan kerja berlebihan. Berikan kondisi psikologis lingkungan yang tenang. TD Stres emosi menghasilkan dan meningkatkan kerja vasokontriksi yang meningkatkan jantung. b. Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan sirkulasi darah

perifer; penghentian aliran arteri-vena; penurunan aktifitas. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari perfusi jaringan adekuat. Kriteria hasil: vital sign dalam batas yang dapat diterima, intake output seimbang, akral teraba hangat, sianosis (-), nadi perifer kuat, pasien sadar/terorientasi, tidak ada oedem, bebas nyeri/ketidaknyamanan. Rencana intervensi dan rasional: Intervensi Monitor perubahan tiba-tiba atau gangguan mental kontinu (camas, bingung, letargi, Rasional Perfusi serebral langsung berhubungan secara dengan

curah jantung, dipengaruhi oleh

pinsan). Observasi sianosis, nadi perifer. pada Kaji tanda Homan (nyeri betis Dorong aktif/pasif. Pantau pernafasan. dengan latihan posisi kaki dorsofleksi), eritema, edema. adanya pucat, kulit

elektrolit/variasi

asam

basa, sistemik

hipoksia atau emboli sistemik. Vasokonstriksi belang, diakibatkan oleh penurunan curah jantung mungkin dibuktikan oleh penurunan perfusi kulit dan penurunan nadi. Indikator adanya trombosis vena dalam. Menurunkan stasis vena,

dingin/lembab, catat kekuatan

meningkatkan aliran balik vena dan menurunkan resiko tromboplebitis. Pompa jantung gagal dapat mencetuskan menunjukkan tromboemboli paru. Penurunan aliran darah ke mesentrika dapat mengakibatkan disfungsi GI, contoh kehilangan peristaltik. dan Penurunan pemasukan/mual terus-menerus dapat mengakibatkan penurunan volume sirkulasi, yang berdampak negatif pada perfusi dan organ. distres pernafasan. komplikasi Namun dispnea tiba-tiba/berlanjut

Kaji anoreksia, usus,

fungsi

GI,

catat bising distensi

penurunan

mual/muntah,

abdomen, konstipasi. Pantau masukan

perubahan keluaran urine.

c.

Intoleran aktifitas b/d adanya penurunan curah jantung,

kongestif pulmunal Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari, klien dapat beraktifitas sesuai batas toleransi yang dapat diukur.

Kriteria hasil: menunjukkan peningaktan dalam beraktifitas, dengan frekuensi jantung/irama dan TD dalam batas normal, kulit hangat, merah muda dan kering.

Rencana intervensi dan rasional: Intervensi Kaji toleransi pasien Rasional Parameter menunjukkan respon fisiologis pasien terhadap stres aktifitas dan indikator derajat penagruh kelebihan kerja jnatung.

terhadap aktifitas menggunakan parameter berikut: nadi 20/mnt di atas frek nadi istirahat, catat peningaktan TD, dispnea, nyeri dada, kelelahan berat, kelemahan, berkeringat, pusing atau pinsan. Tingkatkan batasi aktifitas. Batasi pengunjung atau kunjungan oleh pasien. istirahat dan

Menghindari distole.

terjadinya

takikardi dan pemendekan fase Pembicaraan yang panjang sangat mempengaruhi pasien, naum periode kunjungan yang tenang bersifat terapeutik. Stabilitas istirahat menunjukkan individu. fisiologis tingkat pada untuk aktifitas penting

Kaji

kesiapan

untuk

meningaktkan aktifitas contoh: penurunan kelemahan/kelelahan, TD stabil/frek nadi, peningaktan perhatian pada aktifitas dan perawatan diri. Dorong memajukan aktifitas/toleransi perawatan diri.

Konsumsi miokardia aktifitas selama dapat oksigen

oksigen berbagai yang ada. meningkatkan bertahap

Berikan kebutuhan

bantuan (makan,

sesuai mandi,

jumlah Kemajuan

aktifitas

berpakaian, eleminasi). Anjurkan menghindari pasien

mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung. Teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.

peningkatan tekanan abdomen, mnegejan saat defekasi.

Aktifitas yang memerlukan

menahan nafas dan menunduk (manuver Jelaskan pola peningkatan bertahap dari aktifitas, contoh: posisi duduk ditempat tidur bila tidak pusing dan tidak ada nyeri, bangun dari tempat tidur, belajar berdiri dst. menurunkan TD. Aktifitas memberikan meningaktkan yang kontrol regangan maju jantung, dan valsava) curah dapat jantung, mengakibatkan bradikardia,

takikardia dengan peningaktan

mencegah aktifitas berlebihan.

d.

Resiko kelebihan volume cairan b/d adanya perpindahan

tekanan pada kongestif vena pulmonal, Penurunan perfusi organ (ginjal); peningaktan retensi natrium/air; peningakatn tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma (menyerap cairan dalam area interstitial/jaringan). Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari kelebihan volume cairan tidak terjadi. Kriteria hasil: balance cairan masuk dan keluar, vital sign dalam batas yang dapat diterima, tanda-tanda edema tidak ada, suara nafas bersih. Rencana intervensi dan rasional: Intervensi Auskultasi bunyi untuk adanya krekels. Catat adanya DVJ, adanya nafas Rasional Mengindikaiskan jantung. Dicurigai adanya gagal edema

paru skunder akibat dekompensasi

edema dependen. catat sifat Ukur masukan/keluaran, pengeluaran, Hitung penurunan

jantung kongestif.kelebihan volume cairan. Penurunan ginjal, retensi curah jantung dan urine. positif klebihan mengakibatkan gangguan perfusi cairan/Na, keluaran cairan penurunan Keseimbangan menunjukkan

konsentrasi.

keseimbnagan cairan.

berulang pada adanya gejala lain Pertahankan pemasukan volume/gagal jantung. Memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa pembatasan tetapi pada retensi untuk memerlukan Berikan natrium/garam. Delegatif diiretik. pemberian diet rendah Na

total cairan 2000 cc/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler.

adanya dekompensasi jantung. meningkatkan perlu cairan dan harus dibatasi. Mungkin memperbaiki kelebihan cairan.

e.

Resiko kerusakan pertukaran gas b/d perubahan membran

kapiler-alveolus (perpindahan cairan ke dalam area interstitial/alveoli). Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari pertukaran gas adekuat. Kriteria hasil: sianosis tidak ada, edema tidak ada, vital sign dalam batas dapat diterima, akral hangat, suara nafas bersih, oksimetri dalam rentang normal. Rencana intervensi dan rasional: Intervensi Auskultasi bunyi nafas, catat krekels, mengii. Rasional Menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan menunjukkan Anjurkan pasien batuk kebutuhan jalan intervensi lanjut. Membersihkan Membtau nafas efektif, nafas dalam. Dorong perubahan posisi sering. dan memudahkan aliran oksigen. mencegah atelektasis dan pneumonia. sekret untuk

Pertahankan semifowler, dengan bantal. sokong

posisi tangan

Menurunkan oksigen/kebutuhan meningkatkan maksimal.

komsumsi dan paru ekspansi

Pantau GDA (kolaborasi tim medis), nadi oksimetri. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. Delegatif diuretik. pemberian gas.

Hipoksemia dapat menjadi berat selama edema paru. Meningkatkan oksigen alveolar, konsentrasi yang dapat

memperbaiki/menurunkan hipoksemia jaringan. Menurunkan kongesti alveolar, meningkatkan pertukaran

DAFTAR PUSTAKA Arthur C. Guyton and John E. Hall ( 1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta