Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara yang dua pertiga wilayahnya merupakan lautan yang memilki berbagai macam kekayaan yang terdiri dari kekayaan hayati maupun non-hayati. Salah satu kekayaan hayati laut Indonesia adalah tanaman laut yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia terutama di bidang kesehatan yang banyak digunakan sebagai nutrisi untuk perawatan kulit. Kulit merupakan salah satu bagian tubuh yang paling mudah mengalami penuaan dini (aging) yang menyebabkan kulit menjadi kering dan kasar, kendur, terdapat bercak-bercak, timbul lipatan pada leher, berkerut, dan timbul garis-garis halus di wajah. Penuaan dini (aging) disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik disebabkan karena pengaruh makanan yang memilki kadar kalori tinggi yang menyebabkan kemunduran fungsi kelenjar lemak kulit yang berkaitan dengan penurunan kadar hormon (Cyntia C. ,2009). Faktor ekstrinsik disebabkan karena pengaruh lingkungan seperti radikal bebas (free radical) dan pengaruh sinar UV (Ultaviolet). Faktor-faktor penuaan dini (aging) dapat diatasi dengan penggunaan zat antioksidan yang dapat meredam munculnya radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh. Antioksidan mengikat radikal bebas yang merupakan senyawa yang tidak memilki pasangan atomnya, sehingga radikal bebas tersebut tidak terikat pada jaringan hidup. Mekanisme ini yang menyebabkan meningkatnya zat

antioksidan, sehingga konsentrasi tertinggi antioksidan terdapat di lapisan kulit hidup. Salah satu zat antioksidan yang banyak digunakan yaitu lutein. Lutein merupakan suatu senyawa antioksidan yang dihasilkan oleh mikroalga Chlorella pyrenoidosa. Chlorella memiliki senyawa pigmen yang disebut karotenoid. Senyawa pigmen ini menghasilkan zat betakaroten dan xantofil. Xantofil merupakan salah satu pigmen yang berwarna hijau mengandung klorofil yang mampu melindungi sel dari bakteri dan radikal bebas, sehingga mampu berfungsi sebagai antioksidan. Lutein dihasilkan dari xantofil yang memiliki kandungan klorofil yang sama, sehingga mampu berfungsi sebagai antioksidan dan dapat diaplikasikan penggunannya pada kulit dalam sediaan emulgel. Emulgel merupakan suatu sediaan yang diaplikasikan pada kulit untuk tujuan penggunaan secara lokal. Emulgel terdiri dari kombinasi antara sediaan emulsi dan gel. Emulsi adalah sediaan yang memiliki suatu sistem dispers yang terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur (Ansel, 2005). Emulsi yang digunakan untuk tujuan topikal pada kulit memiliki tipe air dalam minyak (a/m) dengan menggunakan bahan pengemulsi (emulsyfying agent) berupa tween dan span yang termasuk dalam sistem HLB. Gel adalah sediaan setengah padat yang terdiri dari suatu sistem dispers yang tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik besar dan saling diresapi cairan (Ansel, 2005). Dasar gel (gelling agent) yang digunakan adalah HPMC (Hydroxyprophyl Cellulose). Kombinasi dari kedua sediaan dapat memberikan rasa nyaman dan kemudahan penggunaan tersebut pada pasien.

Formulasi emulgel dibuat dalam empat formula yang berbeda. Masingmasing formula tersebut dibedakan konsentrasi pada emulsifying agent dan gelling agent untuk mengetahui stabilitas fisik dan kenyamanan penggunaan sediaan tersebut.

B. PERUMUSAN MASALAH 1. 2. 3. Apakah senyawa lutein dapat dibuat menjadi sediaan emulgel yang Berapa konsentrasi HPMC untuk menghasilkan sediaan emulgel yang Berapa konsentrasi emulsifying agent dan paraffin cair untuk stabil secara fisik. stabil secara fisik. menghasilkan sediaan emulgel yang stabil secara fisik. C. TUJUAN PENELITIAN 1. 2. Membuat sediaan emulgel dari senyawa lutein yang stabil secara fisik. Mencari konsentrasi HPMC pada sediaan emulgel yang stabil secara fisik. 3. Mencari konsentrasi emulsifying agent dan paraffin cair pada sediaan emulgel yang stabil secara fisik. D. MANFAAT PENELITIAN Diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai pemanfaatan tanaman laut terutama yang mengandung senyawa lutein dalam formulasi sediaan emulgel.

BAB II METODE PENELITIAN

1. Ekstrasi senyawa lutein dari mikroalga Chlorella pyrenoidosa 2. Senyawa lutein dikeringkan dengan menggunakan metode freeze drying. 3. Senyawa lutein hasil ekstrasi diuji aktivitas antioksidannya dengan menggunkan metode DPPH sebagai baku pembanding digunakan vitamin C. 4. Serbuk lutein yang didapat diformulasikan dalam 4 formula sediaan emulgel dengan membedakan konsentrasi pada emulsifying agent dan gelling agent. Formula Bahan Lutein Parrafin Cair Tween 80 Span 80 HPMC Propilen Glikol Metil Paraben Propil Paraben I II III IV

5% 10% 5% 5% 2% 15% 0,18% 0,02%

5% 15% 6% 6% 4% 15% 0,18% 0,02%

5% 20% 7% 7% 6% 15% 0,18% 0,02%

5% 25% 8% 8% 8% 15% 0,18% 0,02%

Sediaan emulgel yang dibuat untuk masing-masing formula adalah tiga puluh gram (30 gram).

5. Diformulasikan dalam sediaan emulgel. Emulgel yang terbentuk dilakukan evaluasi atau uji stabilitas fisiknya. Evaluasi emulgel terdiri dari: a. Organoleptik b. Volume sedimentasi c. Viskositas dan sifat alir d. Penentuan konsistensi e. Kemampuan menyebar f. Tipe emulsi g. Ukuran partikel h. pH i. Uji stabilitas sediaan emulgel

BAB III RENCANA PENELITIAN

A. Prinsip Penelitian Senyawa lutein dari mikroalga Chlorella pyrenoidosa diformulasikan menjadi emulgel. Pembuatan emulgel dengan cara mencampurkan emulsi dengan gel. Setelah terbentuk emulsi kemudian ditambahkan HPMC sebagai gelling agent. Sediaan emulgel yang terbentuk kemudian dievaluasi meliputi pemeriksaan organoleptik ( warna, bau, bentuk), volume sedimentasi, viskositas dan sifat alir, penentuan konsistensi, kemampuan menyebar, tipe emulsi, ukuran partikel, pemeriksaan pH. B. TempatPenelitian 1. Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Jakarta. 2. Laboratorium Bioproses 3 Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong. C. Tahap Penelitian 1. Pengumpulan dan penyediaan bahan penelitian 2. Kultur sel Chlorella pyrenoidosa yang digunakan merupakan kultur sel yang telah dikembangkan di Laboratorium Bioproses 3 Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong. 3. Pemeriksaan bahan tambahan sediaan emulgel 4. Optimasi konsentrasi HPMC 5. Optimasi proses pembuatan sediaan gel 6. Pembuatan sediaan emulgel 7. Evaluasi sediaan emulgel : a. b. c. Pemeriksaan organoleptik (warna, bau, bentuk) Pemeriksaan volume sedimentasi Pemeriksaan viskositas dan sifat alir 6

d. e. f. g. h.

Penentuan konsistensi Kemapuan menyebar Tipe emulsi Ukuran partikel pH

8. Uji stabilitas sediaan emulgel 9. Analisis data