Anda di halaman 1dari 26

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jalan Arjuna Utara No.

6, Jakarta Barat, 11470 Indonesia Makalah PBL Blok 23 Katarak senilis dan Penatalaksanaannya Nama: Selly Jaimon NIM: 102009304 Emel: himynameisselly@rocketmail.com

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Katarak adalah suatu keadaan patologi dimana terjadi kekeruhan pada lensa akibat hidrasi cairan dan denaturasi protein. Penyebab kekeruhan lensa ini bisa primer: gangguan perkembangan dan metabolism dasar lensa. Sekunder: akibat tindakan pembedahan lensa dan komplikasi penyakit lokal maupun umum. Faktor yang mempengaruhi terjadinya katarak antara lain: degeneratif, pemakaian obat kortikosteroid dalam jangka panjang, berbagai penyakit peradangan dan metabolik, faktor lingkungan seperti trauma, penyinaran atau sinar ultraviolet.1 1.2 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang dan kasus yang diberikan, dapat dirumuskan permasalahan yaitu: a. Laki-laki 57 tahun keluhan penglihatan kanan kabur seperti berasap sejak 6 bulan, tidak disertai mata merah dan nyeri. b. Terdapat riwayat Diabete Mellitus sejak 10 tahun yang lalu. c. Status ophthalmology: visus OD 1/300 pin hole tetap, visus OS 20/40 pin hole 20/30 d. Pupil keruh dan tampak banyangan coklat pada OD. e. Lensa keruh sebahagian pada OS.
Universitas Kristen Krida Wacana Page 1

f. Funduskopi OD sulit dinilai. 1.3 Tujuan Makalah yang berjudul Katarak senile dan Pentalaksanaannya ini bertujuan untuk mengetahui pemeriksaan terhadap pasien yang menderita katarak senile, tipe-tipe katarak, diagnosis penyakit, etiologi, epidemiologi dan faktor resiko, patofisiologi, komplikasi, terapi/ penatalaksanaan, pencegahan dan prognosis terhadap penyakit tersebut. 1.4 Manfaat a. Bagi Mahasiswa Dilatih untuk memecahkan berbagai macam kasus yang memerlukan pertimbangan dari beberapa aspek terkait mengenai katarak senile. b. Bagi Universitas Dapat menambah referensi mengenai katarak senile.

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Anamnesis Keluhan utama Penglihatan mata kanan bertambah kabur seperti berasap sejak 6 bulan yang lalu, tidak disertai mata merah dan nyeri. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mempunyai riwayat Diabetes Mellitus sejak 10 tahun yang lalu. Antara pertanyaan yang bisa ditanya adalah:1 a. Adakah penglihatan kabur dan berkabut? b. Adakah merasa silau terhadap sinar matahari? c. Adakah merasa seperti ada film atau titik gelap di depan mata? d. Adakah terdapat double vision? e. Ada kesukaran melihat benda yang menyilaukan? f. Adakah perubahan pada warna mata? g. Adakah kesukaran dalam pekerjaan sehari-hari? h. Adakah keluhan sukar mengendarai kendaraan di malam hari? 2.2 Pemeriksaan 2.2.1 Pemeriksaan fisik a. Status umum Keadaan umum: Compos mentis Tanda-tanda vital: Tekanan darah, Frekuensi pernapasan, Suhu, Tekanan nadi semuanya dalam batas normal.

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 3

b. Status oftalmologi OD Visual Acuity Untuk menilai fungsi penglihatan mata Funduskopi Reflex fundus, vitreus, papil, C/D ratio, rasio arteri vena macula lutea, retina Gerak bola mata Sulit dinilai Samar kesan normal 1/300 pin hole tetap OS 20/40 pin hole 20/30

Pada pemeriksaan funduskopi, sebaiknya dilakukan dengan pupil berdilatasi. Pemeriksaan harus dilakukan terutama pada katarak imatur dimana kita harus melihat keadaan fundus. c. Melihat lensa melalui senter tangan dan kaca pembesar Dengan penyinaran miring (45o dari poros mata) dapat dinilai kekeruhan lensa dengan mengamati lebar pinggir iris pada lensa yang keruh (iris shadow). Bila letak bayangan jauh dan besar berarti kataraknya imatur, sedang bayangan kecil dan dekat dengan pupil terjadi pada katarak matur. d. Slit lamp Pemeriksaan tekanan bola mata: Normal.1 2.2.2 Pemeriksaan penunjang a. Amsler Grid - Cara pemeriksaan yang dapat dilakukan penderita untuk memantau progresitifitas penyakit. Sediakan kartu Amsler Grid Pemeriksaan dilakukan satu mata secara bergantian Lihat kartu dalam jarak baca, gunakan kacamata baca Lihat titik hitam ditengah kartu Amsler Grid dan daerah sekitarnya. Penderita yang masih baik, dapat melihat semua garis vertical dan horizontal dalam ukuran yang
Universitas Kristen Krida Wacana Page 4

sama. Perubahan pada pemeriksaan Amsler Grid dapat menunjukan adanya progresitifitas penyakit. b. Uji diskriminasi 2 sinar (Uji untuk fungsi makula) Biasanya digunakan untuk meramal prognosis tajam penglihatan pasien pasca bedah katarak. Dengan pemeriksaan mengecilkan jarak 2 sumber sinar akan didapatkan kesan kasar fungsi makula. Di dalam ruang yang digelapkan 2 sinar dipegang berdekatan dengan jarak 60cm di depan mata pasien yang akan diperiksa atau dengan katarak. Penderita diminta menentukan adanya 2 sinar di depan matanya. Kemudian ditanyakan apakah pasien melihat kedua lampu itu terpisah. Bila kedua lampu tidak terpisah maka perlahan-lahan kedua lampu itu dijauhkan satu terhadap lainnya. Jarak antara kedua lampu pada keadaan mana pasien dapat menyatakan kedua lampu terpisah diukur, bila: Jarak antara kedua lampu 12,5cm atau kurang maka tajam penglihatannya adalah 1/3001/~ Jarak kedua lampu 7,5cm, berarti tajam penglihatan pasca bedah akan 5/100-1/60 Jarak lampu 5cm, tajam penglihatan akan lebih baik dari 5/100

Uji ini sekarang dianggap kurang memadai. c. Uji Ishihara (untuk buta warna) Untuk mengetahui adanya defek penglihatan warna, didasarkan pada menentukan angka atau pola yang ada pada kartu dengan berbagai ragam warna. Pemeriksaan ini memakai satu seri gambar titik bola kecil dengan warna dan besar berbeda (gambar pseudokromatik), sehingga dalam keseluruhan terlihat warna pucat dan menyukarkan pasien dengan kelainan penglihatan warna melihatnya. Pada pemeriksaan pasien diminta melihat dan mengenali tanda gambar yang diperlihatkan dalam waktu 10 detik. Buta biru kuning terdapat pada pasien retinopati hipertensif, retinopati diabetes dan degenarasi macula senil. - Pemeriksaan tes urine dan pengukuran darah gula puasa1

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 5

2.3 Working Diagnosis Definisi Katarak adalah suatu keadaan dimana lensa mata yang biasanya jernih dan bening menjadi keruh.1 OD: Katarak Brunesen Katarak yang berwarna coklat sampai hitam terutama pada nucleus lensa juga dapat terjadi pada katarak pasien Diabetes Mellitus dan myopia tinggi. Sering tajam penglihatan lebih baik daripada dugaan sebelumnya dan biasanya terdapat pada orang berusia lebih dari 65 tahun yang belum memperlihatkan adanya katarak kortikal posterior.1 OS: Katarak senilis immature Katarak yang terjadi pada usia lanjut dimana sebagian lensa keruh dan belum mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil sehingga terjadi glaukoma sekunder.1 2.4 Differential Diagnosis Retinopati diabetik Retinopati diabetic adalah suatu mikroangiopati progresif yang ditandai oleh kerusakan dan sumbatan pembuluh-pembuluh halus, meliputi arteriol prekapiler retina, kapiler-kapiler dan vena-vena.2 Gejala klinis Subjektif: kesulitan membaca penglihatan kabur penglihatan tiba-tiba menurun pada satu mata melihat lingkaran-lingkaran cahaya kelap-kelip

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 6

Objektif: Mikroaneurisme: penonjolan dinding kapiler terutama daerah vena dengan bentuk berupa bintik merah kecil yang terletak dekat pembuluh darah terutama polus posterior. Perdarahan dapat dalam bentuk titik, garis dan bercak yang biasanya terletak dekat mikroaneurisme di polus posterior. Dilatasi pembuluh darah dengan lumennya ireguler dan berkelok-kelok. Hard exudates merupakan infiltrasi lipid ke dalam retina. Gambarannya khusus yaitu ireguler, kekuning-kuningan. Pada permulaan eksudat pungtata membesar dan bergabung. Eksudat ini dapat muncul dan hilang dalam beberapa minggu. Soft exudates yang sering disebut cotton wool patches merupakan iskemia retina. Pada pemeriksaan oftalmoskopi akan terlihat bercak berwarna kuning bersifat difus dan berwarna putih. Biasanya terletak dibagian tepi daerah nonirigasi dan dihubungkan dengan iskemia retina. Pembuluh darah baru (Neovaskularisasi) pada retina biasanya terletak dipermukaan jaringan. Tampak sebagai pembuluh yang berkelok-kelok, dalam, berkelompok dan ireguler. Mulamula terletak dalam jaringan retina, kemudian berkembang ke daerah preretinal, ke badan kaca. Edema retina dengan tanda hilangnya gambaran retina terutama daerah macula sehingga sangat mengganggu tajam penglihatan.2

Gambar 1. Patofisiologi diabetik retinopati.2


Universitas Kristen Krida Wacana Page 7

Degenerasi makula Degenerasi Makula adalah suatu keadaan dimana makula mengalami kemunduran sehingga terjadi penurunan ketajaman penglihatan dan kemungkinan akan menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan sentral. Makula adalah pusat dari retina dan merupakan bagian yang paling vital dari retina. Makula merupakan bagian dari retina yang memungkinkan mata melihat detil-detil halus pada pusat lapang pandang.3 Etiologi Degenerasi terjadi sebagai akibat dari kerusakan pada epitel pigmen retina. Epitel pigmen retina adalah lapisan pemisah antara retina dan koroid (lapisan pembuluh darah di belakang retina). Fungsi dari epitel pigmen retina adalah sebagai penyaring yang menentukan zat gizi dari koroid yang sampai ke retina. Bagian dari darah yang berbahaya bagi retina dibuang/dijauhkan dari retina oleh epitel pigmen retina. Kerusakan pada epitel pigmen retina mempengaruhi metabolism pada retina. Terjadi penipisan retina sehingga memungkinkan masuknya bahan yang berbahaya dari darah ke dalam retina dan menyebabkan kerusakan serta pembentukan jaringan parut. Dengenerasi makula terjadi pada usia lanjut, cenderung diturunkan, lebih banyak ditemukan pada orang kulit putih dan tampaknya lebih sering ditemukan pada perokok.3 Gejala Klinis Secara tiba-tiba ataupun secara perlahan dan terjadi kehilangan fungsi penglihatan tanpa rasa nyeri. Kadang gejala awalnya berupa gangguan penglihatan pada salah satu mata, dimana garis yang sesungguhnya lurus terlihat bergelombang. Degenerasi makula menyebabkan kerusakan penglihatan yang berat (misalnya kehilangan kemampuan untuk membaca atau mengemudi), tetapi jarang menyebabkan kebutaan total. Penglihatan pada tepi luar dari lapang pandang dan kemampuan untuk melihat warna biasanya tidak terpengaruh, yang terkena hanya penglihatan pada pusat lapang pandang.3 Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata.3

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 8

Beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai retina:3 Ketajaman penglihatan Tes refraksi Respon pupil Pemeriksaan slit lamp Fotografi retina Angiobrafi fluoresensi

2.5 Gejala Klinis 1. Penglihatan kabur dan berkabut 2. Merasa silau terhadap sinar matahari dan kadang merasa seperti ada film di depan mata 3. Seperti ada titik gelap di depan mata 4. Penglihatan ganda 5. Sukar melihat benda yang menyilaukan 6. Halo, warna disekitar sumber sinar 7. Warna manic mata berubah atau putih 8. Sukar mengerjakan pekerjaan sehari-hari 9. Penglihatan di malam hari lebih berkurang 10. Sukar mengendarai kenderaan di malam hari 11. Waktu membaca penerangan memerlukan sinar lebih cerah 12. Sering berganti kaca mata 13. Penglihatan menguning 14. Untuk sementara jelas melihat dekat4 2.6 Etiologi Etiologi utama katarak adalah proses penuaan. Pada katarak yang terkait usia, kerusakan fotooksidatif pada serat-serat 9nzi min dan protein lensa dikatakan menjadi penyebab utama. Beberapa penilitian menunjukkan peningkatan produk oksidasi seperti oxidized glutathione dan penurunan antioksidan dan enzim superoksidase pada penderita katarak senilis. Selain itu, seiring
Universitas Kristen Krida Wacana Page 9

dengan bertambahnya usia terjadi peningkatan akumulasi pigmen di dalam lensa, juga penambahan cairan dan pemecahan protein lensa yang membuat berat dan ketebalannya bertambah, sementara kekuatannya menurun. Anak dapat mengalami katarak yang biasanya merupakan penyakit yang diturunkan, peradangan di dalam kehamilan, yang disebut katarak kongenital. Berbagai faktor dapat mengakibatkan tumbuhnya katarak lebih cepat. Faktor lain dapat mempengaruhi kecepatan berkembangnya kekeruhan lensa seperti DM, obat tertentu, sinar UV B dari sinar matahari, efek racun dari merokok dan alcohol, gizi kurang vitamin E dan radang menahun di dalam bola mata. Penyakit infeksi tertentu dan penyakit seperti DM dapat mengakibatkan timbulnya kekeruhan lensa yang akan menimbulkan katarak komplikata. Cedera mata dapat mengenai semua umur seperti pukulan keras, tusukan benda, terpotong, panas yang tinggi, bahan kimia dapat merusak lensa mata.1,4 2.7 Patogenesa 2.7.1 Klasifikasi katarak dapat dibagi menjadi: 1. Berdasarkan usia: a. Katarak kongenital (terlihat pada usia dibawah 1 tahun): Dibagi menjadi 2 jenis yaitu katarak kapsulolentikular (mengenai kapsul dan kortex) dan katarak lentikular (mengenai korteks atau nukleus saja, tanpa disertai kekeruhan kapsul). b. Katarak juvenile (terlihat sesudah usia 1 tahun)

Katarak yang lembek, biasanya merupakan kelanjutan dari katarak kongenital. Katarak ini biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik maupun metabolik dan penyakit lainnya.

c. Katarak senile (setelah usia 50 tahun) 2. Katarak traumatic 3. Katarak komplikata Kelainan congenital dan hereditary (siklopia, koloboma, mikroftalmia, aniridia, pembuluh hialoid persisten, heterokromia iridis), katarak degenerative (dengan myopia dan distrofi
Universitas Kristen Krida Wacana Page 10

vitreoretinal), seperti Wagner dan retinitis pigmentosa, dan neoplasma, katarak anoksik, toksid (kortikosteroid sistemik atau topical, ergot, naftalein, dinitrofenol, triparanol [MER-29], antikolinesterase, klorpromazin, miotik, busulfan, dan besi) dan katarak radiasi. 4. Katarak sekunder Terjadi akibat terbentuknya jaringan fibrosa pada sisi lensa yang tertinggal . Lebih cepat terlihat setelah 2 hari EKEK . bentuk lainnya adalah profilerasi epitel lensa berupa: mutiara Elsching adalah epitel subscapular yang berproliferasi dan membesar sehingga tampak sebagai busa atau telur kodok cincing soemering dapat bertambah besar karena daya regenarasi epitel didalamnya , dimana cincin ini terjadi akibat kapsul anterior yang pecah dan traksi kearah pingirpingir melekat pada kapsula posterior menimbulkan daerah yang jernih ditengah . 5. Katarak diabetic4 Patofisiologi Secara umum ada dua proses patogenesis katarak yaitu: Hidrasi: Terjadi perubahan komposisi nukleus pada korteks lensa dan penimbunan cairan di antara celah-celah serabut lensa. Sklerosis: Serabut-serabut lensa yang terbentuk lebih dahulu akan mendorong nucleus ke tengah sehingga nukleus menjadi lebih padat, mengalami dehirasi serta penimbunan kalsium dan pigmen. Perubahan lensa pada usia lanjut:

Kapsul

Menebal dan kurang elastic (1/4 dibanding anak) Mulai presbiopia Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur Terlihat bahan granular

Epitel makin tipis


Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata
Page 11

Universitas Kristen Krida Wacana

Serat lensa

Lebih irregular Pada korteks jelas kerusakan serat sel Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah protein nucleus (histidin, triptofan, metionin, sistein, dan tirosin) lensa, sedang warna coklat protein lensa mengandung histidin dan triptofan dibanding normal.

Korteks tidak berwarna karena:


Kadar a. askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda5

Tabel 1. Bentuk dari katarak dan morfologinya.4

Katarak Insipien Pada stadium ini akan terlihat hal-hal berikut: Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). Vakuol mulai terlihat didalam korteks.

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 12

Katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi jaringan degenaratif (benda morgagni) pada katarak mini. Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.5

Katarak intumessen Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat yang degenerative menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal disbanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulit glaucoma. Katarak intumessen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan myopia lentikular. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah yang akan memberikan miopisasi. Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa.5

Katarak Imatur Sebagian lensa keruh atau katarak. Katarak yang belum mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan 13nzi mi bahan lensa yang degenerative. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaucoma sekunder.5

Katarak matur Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa. Kekeruhan ini bias terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila katarak imatur atau intumessen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan keluar sehingga lensa kembali pada ukuran yang normal. Akan terjadi kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan mengakibatkan kelsifikasi lensa. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali, tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif.5

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 13

Katarak Hipermatur Katarak hipermatur, katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut, dapat menjadi keras atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi keluar dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. Kadang-kadang pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula zinn menjadi kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal maka korteks akan memperlihatkan bentuk menjadi sekantong susu disertai dengan nucleus yang terbenam didalam korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak morgagni. Tidak diketahui kenapa katarak senile pada orang tertentu berbentuk korteks anterior dengan celah air, nucleus, dan korteks subkapsular posterior. Mungkin terdapat factor penentu lainnya.5 Insipien Kekeruhan Ringan Imatur Sebagian Matur Seluruh Hipermatur Masif Berkurang (air+masa lensa keluar) Tremulans

Cairan lensa Iris Bilik mata depan Sudut bilik mata Shadow test

Normal Normal

Bertambah (masuk) Terdorong

Normal Normal

Normal

Dangkal

Normal

Dalam

Normal Negatif

Sempit Positif

Normal Negatif

Terbuka Pseudopos Uveitis + glaukoma

Penyulit

Glaukoma

Table 2. Perbedaan stadium katarak senile 4,5


Universitas Kristen Krida Wacana Page 14

2.7.2 Anatomi Mata

Gambar 2. Anatomi Mata6 Struktur dan fungsi: Sklera: lapisan luar mata yang berwarna putih dan 15nzi min kuat. Konjuntiva: selaput tipis yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian luar 15nzi m Kornea: struktur transparan yang menyerupai kubah, merupakan pembungkus dari iris, pupil dan bilik anterior serta memfokuskan cahaya. Pupil: daerah hitam di tengah-tengah iris. Iris: jaringan berwarna yang membentuk cincin, menggantung di belakang kornea dan di depan lensa; berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata dengan caramerubah ukuran pupil. Lensa: struktur cembung ganda yang tergantung di antara HA dan vitreus; berfungsi membantu memfokuskan cahaya. Retina: lapisan jaringan peka cahaya yang terletak di bagian belakang bola mata; berfungsi mengirimkan pesan visual melalui saraf optikus ke otak. Saraf optikus: serat saraf yang membawa rangsang visual dari retina ke otak. Humor aqueus: cairan jernih dan encer yang mengalir di antara lensa dan kornea (mengisi segmen anterior mata), serta merupakan sumber makanan bagi lensa dan kornea, dan dihasilkan oleh korpus siliaris. Humor vitreus: gel transparan yang terdapat di belakang lensa dan di depan retina (mengisi segmen posterior mata).6
Universitas Kristen Krida Wacana Page 15

Bola mata terbagi menjadi 2 bagian, masing-masing terisi oleh cairan: Segmen anterior: mulai dari kornea sampai lensa, segmen ini berisi HA yang merupakan sumber energy bagi struktur mata di dalamnya. Segmen posterior: mulai dari tepi lensa bagian belakang sampai ke retina, segmen ini berisi HV yang membantu menjaga bentuk bola mata.6 Otot, Saraf dan Pembuluh Darah Otot penggerak bola mata, terdiri dari enam otot: 1) M. oblique inferior- memiliki aksi primer eksotorsi dalam abduksi dan aksi sekunder elevasi dalam adduksi, abduksi dalam elevasi. 2) M. oblique superior- memiliki aksi primer intorsi dalam aduksi, dan aksi sekunder berupa depresi dalam aduksi dan abduksi dalam depresi. 3) M. rectus inferior- memiliki aksi primer berupa gerakan depresi pada abduksi, dan memiliki aksi sekunder berupa gerakan ekstorsi pada abduksi dan aduksi dalam depresi. 4) M. rectus lateralis- memiliki aksi gerakan abduksi. 5) M. rectus medius- memiliki aksi gerakan aduksi. 6) M. rectus superior- memiliki aksi primer yaitu elevasi dalam abduksi dan aksi sekunder berupa intorsi dalam aduksi serta aduksi dalam elevasi.6 Beberapa otot bekerjasama menggerakkan mata. Setiap otot dirangsang oleh saraf 16nzi mi tertentu. N. optikus membawa gelombang saraf yang dihasilkan di dalam retina ke otak. N. lakrimalis merangsang pembentukan air mata oleh kelenjar lakrimalis. Saraf lainnya menghantar sensasi ke bagian mata yang lain dan merangsang otot pada tulang orbita. Arteri oftalmika dan arteri retinalis menyalurkan darah ke mata kiri dan kanan, sedangkan darah dari mata dibawa oleh vena oftalmika dan vena retinalis. 6

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 16

Struktur PelindungMelindungi dan memungkinkan mata bergerak secara bebas ke segala arah. Juga melindungi mata terhadap debu, angin, bakteri, virus, jamur dan bahan-bahan berbahaya lainnya, tetapi juga memungkina mata tetap terbuka sehingga cahaya masih bisa masuk. Orbita: rongga bertulang yang mengandung bola mata, otot-otot, saraf, pembuluh darah, lemak dan struktur yang menghasilkan dan mengalirkan air mata. Kelopak mata: lipatan kulit tipis yang menlindungi mata. Kelopak mata secara reflex segera menutup untuk melindungi mata dari benda asing, angin, debu dan cahaya yang sangat terang. Ketika berkedip, kelopak mata membantu menyebarkan cairan ke seluruh permukaan mata dan ketika tertutup, kelopak mata mempertahankan kelembaban permukaan mata. Tanpa kelembaban tersebut, kornea bisa menjadi kering, terluka dan tidak tembus cahaya. Bagian dalam kelopak mata adalah selaput tipis (konjungtiva) yang juga membungkus permukaan mata. Bulu mata merupakan rambut pendek yang tumbuh di ujung kelopak mata dan berfungsi membantu melindungi mata dengan bertindak sebagai barrier (penghalang). Kelenjar kecil di ujung kelopak mata menghasilkan bahan berminyak yang mencegah penguapan air mata. Kelenjar lakrimalis terletak di puncak tepi luar dari mata kiri dan kanan dan menghasilkan air mata yang encer. Air mata mengalir dari mata ke dalam hidung melalui 2 duktus lakrimalis; setiap duktus memiliki lubang di ujung kelopak mata atas dan bawah, di dekat hidung. Air mata berfungsi menjaga kelembaban dan kesehatan mata, juga menjerat dan membuang partikel-partikel kecil yang masuk ke mata. Selain itu, air mata kaya akan 17nzi min yang membantu mencegah terjadinya infeksi.6

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 17

2.8 Epidemiologi Diperkirakan 5-10 juta individu mengalami kerusakan penglihatan akibat katarak setiap tahun. Di USA sendiri 300.000-400.000 ekstraksi mata tiap tahunnya. Insiden tertinggi pada katarak terjadi pada populasi yang lebih tua. Diketahui kebutaan di Indonesia berkisar 1,2% dari jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut katarak mempunyai presentasi 0,70%. Manakala penyakit yang lain yanjg menyebabkan kebutaan adalah seperti kelainan kornea, glaucoma, kelainan refraksi, kelainan retina dan kelainan nutrisi. Menurut catatan The Framingham eye studi, katarak 18% pada usia 65-74 tahun dan 45% pada usia 75-84 tahun. Beberapa derajat katarak diduga terjadi pada semua orang pada usia 70 tahun. Sehingga 95% penyebab katarak adalah katarak senilis. 2.9 Komplikasi Katarak dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi antara lain: Glaukoma sekunder oleh karena lensa glaukoma fakomorfik glaukoma fakotopik glaukoma fakolitik

lens induced uveitis subluksasi lensa dislokasi lensa Tindakan operatif merupakan satu-satunya cara untuk mengobati katarak, tapi prosedur operasi itu sendiri dapat menimbulkan komplikasi pada penderitanya. Komplikasi ini dapat terjadi selama dan setelah operasi. 5 Komplikasi Intraoperasi a. Kerusakan endotel kornea b. Ruptur kapsula posterior c. Prolaps vitreus
Universitas Kristen Krida Wacana Page 18

d. Hifema e. Expulsive haemorrhage f. Dislokasi lensa ke dalam vitreus Komplikasi pascabedah dini a. Edema kornea b. Kebocoran luka c. Prolaps iris d. BMD dangkal atau flat e. Hifema f. Hipotoni g. Glaukoma sekunder h. Dislokasi IOL i. Endoftalmitis Komplikasi pascabedah lanjut a. Posterior Capsular Opacification (PCO) b. Cystoid Macular Edema (CME) c. Vitreous touch syndrome d. Bullous Keratopathy e. Glaukoma sekunder 1

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 19

2.10 Faktor resiko Faktor resiko untuk mudah terjadinya katarak pada seseorang adalah:1 Diabetes mellitus Riwayat keluarga dengan katarak Penyakit infeksi atau cedera mata terdahulu Pembedahan mata Pemakaian kortikosteroid Terpajan sinar UV Merokok

2.11 Penatalaksanaan Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala katarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan.Kadang kala cukup dengan mengganti kacamata.Hingga saat ini belum ada obat-obatan, makanan, atau kegiatan olahraga yang dapat menghindari atau menyembuhkan seseorang dari gangguan katarak.Akan tetapi melindungi mata terhadap sinar matahari yang berlebihan dapat memperlambat terjadinya gangguan katarak. Kacamata gelap atau kacamata regular yang dapat menghalangi sinar ultraviolet sebaiknya digunakan ketika berada diruang terbuka pada siang hari. Tingkat keberhasilan operasi katarak cukup tinggi, lebih 95% tindakan operasi menghasilkan perbakan penglihatan apabila tidak terdapat gangguan pada kornea, retina saraf mata atau masalah mata lainnya. Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala katarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala cukup dengan mengganti kacamata. Sejauh ini tidak ada obat-obatan yang dapat menjernihkan lensa yang keruh. Namun, aldose reductase inhibitor, diketahui dapat menghambat konversi glukosa menjadi sorbitol, sudah memperlihatkan hasil yang menjanjikan dalam pencegahan katarak gula pada hewan. Obat anti katarak lainnya sedang diteliti termasuk diantaranya agen yang menurunkan kadar sorbitol, aspirin, agen glutathione-raising, dan antioksidan vitamin C dan E. Penatalaksanaan untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Lebih dari bertahuntahun, tehnik bedah yang bervariasi sudah berkembang dari metode yang kuno hingga tehnik hari ini
Universitas Kristen Krida Wacana Page 20

fakoemulsifikasi. Hampir bersamaan dengan evolusi IOL yang digunakan, yang bervariasi dengan lokasi, material, dan bahan implantasi. Bergantung pada integritas kapsul lensa posterior, ada 2 tipe bedah lensa yaitu intra capsuler cataract ekstraksi (ICCE) dan ekstra capsuler cataract ekstraksi (ECCE). Berikut ini akan dideskripsikan secara umum tentang tiga prosedur operasi pada ekstraksi katarak yang sering digunakan yaitu ICCE, ECCE, dan fakoemulsifikasi.1,4,5 1. Intra Capsuler Cataract Ekstraksi (ICCE) Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan depindahkan dari mata melalui incise korneal superior yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama popular. ICCE tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis dan perdarahan.4,5 2. Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE) Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan kortek lensa dapat keluar melalui robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra ocular posterior, perencanaan implantasi sekunder lensa intra ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah mengalami prolap badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid macular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder.4,5

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 21

3. Phakoemulsifikasi Phakoemulsifikasi (phaco) maksudnya membongkar dan memindahkan kristal lensa. Pada tehnik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di kornea. Getaran ultrasonic akan digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin PHACO akan menyedot massa katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah lensa Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena insisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Tehnik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik dan kebanyakan katarak senilis. Tehnik ini kurang efektif pada katarak senilis padat, dan keuntungan insisi limbus yang kecil agak kurang kalau akan dimasukkan lensa intraokuler, meskipun sekarang lebih sering digunakan lensa intra okular fleksibel yang dapat dimasukkan melalui insisi kecil seperti itu.4,5 4. SICS Teknik operasi Small Incision Cataract Surgery (SICS) yang merupakan teknik pembedahan kecil.teknik ini dipandang lebih menguntungkan karena lebih cepat sembuh dan murah. Penatalaksanaan pasca operasi terutama ditujukan untuk mencegah infeksi dan terbukanya luka operasi. Pasien diminta tidak banyak bergerak dan menghindari mengangkat beban berat selama sebulan. Mata ditutup selama beberapa hari atau dilindungi dengan kacamata atau pelindung pada siang hari. Selama beberapa hari atau dilindungi dengan kacamata atau pelindung pada siang hari. Selama beberapa minggu harus dilindungi dengan pelindung logam pada malam hari. Kacamata permanent diberikan 6-8 minggu setelah operasi.4,5 Apabila lensa mata penderita katarak telah diangkat maka penderita memerlukan lensa pengganti untuk memfokuskan penglihatannya dengan cara sebagai berikut: Kacamata afakia yang tebal lensanya Lensa kontak Lensa intraokular, yaitu lensa permanen yang ditanamkan di dalam mata pada saat pembedahan untuk mengganti lensa mata asli yang telah diangkat

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 22

Perawatan Pasca Bedah Jika digunakan tehnik insisi kecil, maka penyembuhan pasca operasi biasanya lebih pendek. Pasien dapat bebas rawat jalan pada hari itu juga, tetapi dianjurkan untuk bergerak dengan hatihati dan menghindari peregangan atau mengangkat benda berat selama sekitar satu bulan, olahraga berat jangan dilakukan selama 2 bulan. Matanya dapat dibalut selama beberapa hari pertama pasca operasi atau jika nyaman, balutan dapat dibuang pada hari pertama pasca operasi dan matanya dilindungi pakai kacamata atau dengan pelindung seharian. Kacamata sementara dapat digunakan beberapa hari setelah operasi, tetapi biasanya pasien dapat melihat dengan baik melui lensa intraokuler sambil menantikan kacamata permanen (biasanya 6-8 minggu setelah operasi).5 Selain itu juga akan diberikan obat untuk : - Mengurangi rasa sakit, karena operasi mata adalah tindakan yang menyayat maka diperlukan obat untuk mengurangi rasa sakit yang mungkin timbul benerapa jam setelah hilangnya kerja bius yang digunakan saat pembedahan. - Antibiotik mencegah infeksi, pemberian antibiotik masih dianggap rutin dan perlu diberikan atas dasar kemungkinan terjadinya infeksi karena kebersihan yang tidak sempurna. - Obat tetes mata streroid. Obat yang mengandung steroid ini berguna untuk mengurangi reaksi radang akibat tindakan bedah. - Obat tetes yang mengandung antibiotik untuk mencegah infeksi pasca bedah. Hal yang boleh dilakukan antara lain : - Memakai dan meneteskan obat seperti yang dianjurkan - Melakukan pekerjaan yang tidak berat - Bila memakai sepatu jangan membungkuk tetapi dengan mengangkat kaki keatas.

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 23

Yang tidak boleh dilakukan antara lain: - Jangan menggosok mata - Jangan membungkuk terlalu dalam - Jangan menggendong yang berat - Jangan membaca yang berlebihan dari biasanya - Jangan mengedan keras sewaktu buang air besar - Jangan berbaring ke sisi mata yang baru dibedah 2.12 Pencegahan 80% kebutaan atau gangguan penglihatan mata dapat dicegah atau dihindari. Edukasi dan promosi tentang masalah mata dan cara mencegah gangguan kesehatan mata. Sebagai sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Usaha itu melipatkan berbagai pihak, termasuk media massa, kerja sama pemerintah, LSM, dan Perdami. Katarak dapat dicegah, di antaranya dengan menjaga kadar gula darah selalu normal pada penderita diabetes mellitus, senantiasa menjaga kesehatan mata, mengonsumsi makanan yang dapat melindungi kelainan degeneratif pada mata dan antioksidan seperti buah-buahan banyak yang mengandung vitamin C, minyak sayuran, sayuran hijau, kacang-kacangan, kecambah, buncis, telur, hati dan susu yang merupakan makanan dengan kandungan vitamin E, selenium, dan tembaga tinggi. Vitamin C dan E dapat memperjelas penglihatan. Vitamin C dan E merupakan antioksidan yang dapat meminimalisasi kerusakan oksidatif pada mata, sebagai salah satu penyebab katarak. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 3.000 orang dewasa selama lima tahun menunjukkan, orang dewasa yang mengonsumsi multivitamin atau suplemen lain yang mengandung vitamin C dan E selama lebih dari 10 tahun, ternyata risiko terkena katarak 60% lebih kecil Seseorang dengan konsentrasi plasma darah yang tinggi oleh dua atau tiga jenis antioksidan ( vit C, vit E, dan karotenoid) memiliki risiko terserang katarak lebih rendah dibandingkan orang yang konsentrasi salah satu atau lebih antioksidannya lebih rendah. Hasil penelitian lainnya yang dilakukan Farida (1998-1999) menunjukkan, masyarakat yang pola makannya kurang riboflavin (vitamin B2) berisiko lebih tinggi terserang katarak. Menurut Farida, ribovlafin memengaruhi aktivitas enzim glutation
Universitas Kristen Krida Wacana Page 24

reduktase. Enzim ini berfungsi mendaur ulang glutation teroksidasi menjadi glutation tereduksi, agar tetap menetralkan radikal bebas atau oksigen.5 2.13 Prognosis Dengan tehnik bedah yang mutakhir, komplikasi atau penyulit menjadi sangat jarang. Hasil yang baik dapat mencapai 95%. Pada bedah katarak resiko ini kecil dan jarang terjadi. Keberhasilan tanpa komplikasi pada pembedahan dengan ECCE atau fakoemulsifikasi menjanjikan prognosis dalam penglihatan dapat meningkat hingga 2 garis pada pemeriksaan dengan menggunakan Snellen chart.5 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Katarak merupakan penyakit yang pertama dari lima area prioritas utama pada prakarsa global untuk mengurangi angka kebutaan. Katarak dipilih karena merupakan penyebab utama gangguan penglihatan didunia. Katarak merupakan masalah nasional yang perlu segera ditanggulangi karena katarak dapat menyebabkan penurunan produktivitas.4 3.2 Saran Diharapkan kepada para dokter dan peneliti untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang hubungan katarak dengan faktor-faktor predisposisinya. Oleh karena banyak data di dalam status penderita yang kurang lengkap, maka perlu kiranya pengisian status pasien ditulis secara lengkap terutama identitas, anamnesis faktor-faktor risiko, serta keseragaman dalam menganamnesis pasien.4

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 25

DAFTAR PUSTAKA 1. Sidarta I. Katarak dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2003. Edisi ke-2. Cetakan ke-2. H.207-18. 2. Bhavsar AR, Drouilhet JH. Retinopathy Diabetic Background. 2009. Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com, 12 Maret 2012. 3. Penfold PL, Provis JM. Macular Degeneration. Berlin: Springer-Verlag; 2009. H. 45-57. 4. Vaughan Daniel, et al. Gangguan Mata yang Menyertai Penyakit Sistemik dalam Oftalmologi Umum. Jakarta: Widya Medika; 2000. Cetakan ke-1. Hal. 328-29. 5. Suhardjo, Budihardjo. Katarak dalam Ilmu Penyakit Mata II. Yogyakarta: Laboratorium Ilmu Penyakit Mata FK-UGM; 2001. Hal. 1-17. 6. Mason H. Anatomy and Physiology of the Eye. London: David Fulton Publishers; 2009. Hal. 30-8.

Universitas Kristen Krida Wacana

Page 26