Anda di halaman 1dari 26

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IIIB SD NEGERI 10 MUNTOK MATA PELAJARAN MATEMATIKA TENTANG SUDUT SIKU-SIKU, SUDUT

LANCIP, DAN SUDUT TUMPUL DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR


DAN MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS III SD NEGERI 10 MUNTOK BANGKA BARAT TENTANG JENIS PEKERJAAN DENGAN METODE MAKE A MATCH
B

Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PDGK 4501) sebagai salah satu syarat dalam menempuh Tugas Akhir Program S-1 PGSD

Disusun Oleh :

ISRIYANTO NIM. 814129473

UNIVERSITAS TERBUKA UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH PANGKALPINANG 2010

LEMBAR IDENTIFIKASI DAN PENGESAHAN

Nama Mahasiswa NIM Program Studi Tempat Mengajar

: ISRIYANTO : 814129473 : S1 PGSD : SD Negeri 10 Muntok Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat

Perbaikan Pembelajaran Tempat Pelaksanaan Tanggal Pelaksanaan Judul

: 3 siklus : SD Negeri 10 Muntok : 11 Mei 2010 sampai tanggal 15 Mei 2010 : Meningkatkan Aktifitas Belajar Siswa Kelas IIIB SD Negeri 10 Muntok Mata Pelajaran Matematika tentang Sudut Siku-siku, Sudut Lancip, dan Sudut Tumpul dengan Menggunakan Media Gambar

Masalah yang menjadi fokus perbaikan : Bagaimana Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas IIIB SD Negeri 10 Muntok - Bangka Barat tentang Sudut Siku-siku, Sudut Lancip, dan Sudut Siku-siku dengan Menggunakan Media Gambar?

Supervisor,

Muntok, 1 Juli 2010 Mahasiswa,

SURADI, M .Pd NIP. 19630413 198308 1 002 196505211991031003

ISRIYANTO NIM. 814129473

Mengetahui, Kepala UPBJJ Pangkalpinang

Dr. MAMAN RUMANTA, M.Si NIP : 196305091989031002

SURAT PERNYATAAN

Laporan PKP Program S1 PGSD yang berjudul Meningkatkan

Hasil

Belajar Siswa Kelas IIIB Sd Negeri 10 Muntok Mata Pelajaran Matematika Tentang Sudut Siku-Siku, Sudut Lancip, dan Sudut Tumpul dengan Menggunakan Media Gambar. Adalah hasil karya sendiri, dan seluruh sumber yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan benar. Apabila dikemudian hari ternyatakan ditemukan adanya penjiplakan (plagiat), maka saya bersedia meneria sanksi akademik berupa pembatalan kelulusan saya.

Muntok, 1 Juli 2010 Yang Menyatakan,

ISRIYANTO NIM. 814129473

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IIIB SD NEGERI 10 MUNTOK MATA PELAJARAN MATEMATIKA TENTANG SUDUT SIKU-SIKU, SUDUT LANCIP, DAN SUDUT TUMPUL DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR

Oleh : ISRIYANTO NIM. 81429473

ABSTRAK
Pemahaman siswa tentang materi pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya adalah minat siswa dalam pembelajaran dan penggunaan alat peraga/media pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan materi pembelajaran. Pengajaran yang sistematis dan sesuai dengan karakteristik siswa akan turut mempengaruhi pemahaman siswa. Penelitian masalah meningkatkan aktivitas siswa pada materi Sudut Siku-siku, Sudut Lancip, dan Sudut Tumpul di kelas IIIB SD Negeri 10 Muntok telah dilaksanakan pada bulan Mei 2010(11 15 Mei 2010). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya nilai hasil belajar siswa karena minat siswa dalam pembelajaran sangat kurang. Hal ini disebabkan oleh penggunaan alat peraga/media pembelajaran guru yang tidak efektif untuk materi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, hasil belajar siswa dan aktivitas siswa dalam mata pelajaran Matematika khususnya materi Sudut Siku-siku, Sudut Lancip, dan Sudut Tumpul. Selain itu juga untuk meningkatkan profesionalisme guru dengan menambah pengalaman dan pengetahuan dalam menerapkan metode mengajar. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melalui 3 siklus pembelajaran. Subjek pelaku penelitian ini adalah guru wali kelas IIIB dan subjek penerima tindakan siswa kelas IIIB semester II tahun pelajaran 2009 / 2010 SD Negeri 10 Muntok. Data penelitian diperoleh hasil bahwa nilai rata-rata siswa selama proses perbaikan pembelajaran dari siklus I sampai siklus III mengalami peningkatan mencapai 95 % sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran/alat peraga gambar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IIIB SD Negeri 10 Muntok pada mata pelajaran Matematika materi Sudut Siku-siku, Sudut Lancip, dan Sudut Tumpul.

Kata Kunci : Media Gambar, Hasil Belajar, Sudut Siku-siku, Sudut Lancip, dan Sudut Tumpul.

KATA PENGANTAR

egala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam, kepada-Nya kita berbakti, dan kepada-Nya pula kita memohon ampun atas segala dosa dan alpa kita. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, kepada

para sahabat, para tabiin dan penerus perjuangan mereka. Atas karunia dan nikmat yang melimpahruah dari Allah SWT penulis dapat menyelesaikan Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini. Laporan ini berisi laporan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research) yang dilakukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional dan merupakan salah satu syarat untuk menempuh tugas akhir pada program S-1 PGSD. Penelitian Tindakan Kelas dilakukan untuk materi Jenis dan Besar Sudut (Siku-siku, Tumpul, dan Lancip) dalam mata pelajaran Matematika. Dengan penyusunan laporan ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, maka sudah selayaknya penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Bapak Dr. Maman Rumanta, M.Si selaku Kepala UPBJJ UT Pangkalpinang. 2. Bapak Suradi, M.Pd. selaku Supervisor 3. Sahana, S.Pd selaku teman sejawat 4. Bapak H. Zumrowi, S.Ag selaku kepala SD Negeri 10 Muntok 5. Rekan-rekan guru dan siswa tercinta SD Negeri 10 Muntok 6. Rekan-rekan mahasiswa S1 PGSD UT Pangkalpinang Pokjar Muntok Bangka Barat. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi penyusunan laporan yang sejenis ini dikemudian hari dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis mengucapkan selamat membaca semoga bermanfaat juga menambah pengetahuan dan wawasan dibidang pendidikan.

Muntok, 30 Juni 2010 Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Lembar Identifikasi dan Pengesahan ......................................................................... i Surat Pernyataan ........................................................................................................ ii Abstrak ...................................................................................................................... iii Kata Pengantar ........................................................................................................... iv Daftar Isi ..................................................................................................................... v Daftar Lampiran ......................................................................................................... vi Daftar Grafik ............................................................................................................. vii I. PENDAHULUAN A. B. C. D. II. Latar Belakang .......................................................................................... 1 Rumusan Masalah ..................................................................................... 2 Tujuan Perbaikan ...................................................................................... 2 Manfaat Perbaikan .................................................................................... 2

KAJIAN PUSTAKA A. B. C. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar ............................................ 3 Media Pembelajaran ................................................................................. 4 Hasil Belajar .............................................................................................. 7

III. PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN A. B. Subjek Penelitian ..................................................................................... 11 Deskripsi Persiklus .................................................................................. 11

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. B. V. Hasil Pengolahan Data ............................................................................. 14 Pembahasan .............................................................................................. 16

KESIMPULAN DAN SARAN A. B. Kesimpulan .............................................................................................. 18 Saran ........................................................................................................ 18

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 19 LAMPIRAN ............................................................................................................. 20

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9

Rencana Pembelajaran ....................................................................... 20 Rencana Perbaikan Pembelajaran Siklus I ......................................... 23 Sistematika Laporan Siklus I ............................................................. 26 Rencana Perbaikan Pembelajaran Siklus II ....................................... 27 Sistematika Laporan Siklus II .......................................................... 30 Rencana Perbaikan Pembelajaran Siklus III ...................................... 31 Sistematika Laporan Siklus III........................................................... 34 Lembar Kerja Siswa ........................................................................... 35 Tabel Hasil Evaluasi Siswa Setiap Siklus .......................................... 36

Lampiran 10 Tabel Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran ...................................... 37 Lampiran 11 Tabel Lembar Observasi Guru ........................................................... 38 Lampiran 12 Dokumentasi Pelaksanaan Pembelajaran Siklus III .......................... 39

Lampiran 13 Surat Pernyataan Teman Sejawat ....................................................... 40 Lampiran 14 Surat Keterangan Kepala Sekolah ..................................................... 41 Lampiran 15 Lembar Konsultasi ............................................................................. 42 Lampiran 16 Laporan Hasil Penelitian .................................................................... 43

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan sebagai lembaga dan usaha pembangunan bangsa dan watak bangsa. Pendidikan yang demikian mencakup ruang lingkup yang amat luas, yaitu pendidikan kemampuan mental, pikir (rasio, intelek) dan kepribadian manusia seutuhnya. Guru yang baik adalah guru yang berhasil dalam pengajaran, dan mampu mempersiapkan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Untuk mengarahkan siswa agar dapat mencapai tujuan itu, maka setiap guru dituntut memiliki berbagai kemampuan atau kualifikasi professional. Tugas professional ini meliputi tugas-tugas mendidik (mengembangkan kepribadian siswa), mengajar (mengembangkan kemampuan berpikir) dan melatih (mengembangkan ketrampilan siswa). Pendukung utama tercapainya tujuan pengajaran juga adalah suasana kelas yang baik dalam arti seluas-luasnya. Karena itu segala macam tindakan pembinaan pendidikan sepatutnya diarahkan pada kelas. Di kelaslah segala aspek pengajaran bertemu dan berproses. Guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan sifat individunya, kurikulum dengan segala komponennya, materi, sumber pelajaran dengan segala aspek pokok bahasannya, metode beserta model pembelajaran yang dilakukan berpadu dan berinteraksi di kelas. Bahkan hasil dari pendidikan dan pengajaran sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, maka betapa perlunya disampaikan salah satu metode mengajar dalam kelas untuk memperlancar proses belajar mengajar, sehingga dapat diminati oleh siswa yang pada dasarnya untuk mengantarkan siswa mencapai prestasi yang optimal. Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang harus dikuasai siswa. Selama ini Matematika merupakan mata pelajaran yang menjadi momok bagi siswa apalagi dengan cara mengajar yang kurang menarik dan tidak menggunakan alat peraga, maka semakin hilanglah minat untuk belajar Matematika. Pembelajaran dapat dikatakan berhasil jika penguasaan materi yang diberikan dapat dikuasai siswa secara keseluruhan. Untuk mengetahui tingkat penguasaan materi, biasanya dapat diukur dengan menggunakan standar materi yang telah ditentukan. Berdasarkan hail evaluasi akhir pembelajaran mata pelajaran Matematika tentang Sudut Siku-siku, Sudut Lancip, dan Sudut tumpul di kelas IIIB SD Negeri 10

Muntok, dari 20 siswa yang mendapatkan nilai >= KKM 60 hanya 3 siswa, sedangkan 17 siswa lainnya mendapatkan nilai dibawah 60. Berdasarkan data yang ada, penulis terdorong untuk merefleksikan diri dan melakukan rencana perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas. Penulis mempunyai keyakinan apabila penyampaian materi dengan menggunakan media dan alat peraga yang baik, dapat memotivasi dan hasil belajar akan meningkat, adapun upaya penulis untuk meningkatkan hasil belajar siswa tersebut yaitu meggunakan alat peraga / media gambar. B. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi dan analisis masalah, rumusan masalah yang menjadi fokus perbaikan dan pelitian adalah : Apakah Alat Peraga / Media Gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IIIB SD Negeri 10 Muntok Bangka Barat tentang Sudut Siku-siku, Lancip dan tumpul ? C. Tujuan Perbaikan 1. Untuk mengetahui apakah penggunaan Media Gambar dapat meningkatkan Hasil Belajar siswa kelas kelas IIIB SD Negeri 10 Muntok Bangka Barat tentang Sudut Siku-siku, Lancip dan Tumpul. 2. Untuk mengetahui apakah penggunaan Media Gambar dalam pembelajaran Sudut Siku-siku, Lancip, dan Tumpul dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas IIIB di SD Negeri 10 Muntok Bangka Barat. D. Manfaat Perbaikan 1. Bagi Siswa a. Dapat meningkatkan minat belajar siswa b. Menambah tingkat penguasaan materi pelajaran dari sebelumnya 2. Bagi Guru a. Dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar b. Dapat merefleksi kegiatan belajar mengajar 3. Bagi Sekolah a. Dapat meningkatkan mutu dan keberhasilan sekolah b. Membawa nama baik sekolah II. KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Matematika di SD

Belajar adalah suatu proses yang terjadi karena adanya usaha untuk mengadakan perubahan terhadap dirinya, baik berupa pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Sedangkan pembelajaran adalah segala sesuatu yang yang digunakan untuk menimbulkan kegiatan belajar yang memungkinkan siswa untuk memperoleh atau mencapai pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap (Suharsimi Arikonto. 1980). Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang paling tidak disukai anak-anak, atau paling banyak murid yang tidak menyukainya. Ini tidak hanya berlaku di negeri kita. Padahal, Matematika merupakan salah satu pengetahuan dasar terpenting untuk sains dan teknologi, yang sangat perlu bagi pembangunan. Lebih dari itu, dalam kehidupan sehari-hari tidak ada orang yang terbebas dari hubungannya dengan Matematika. Oleh sebab itu ketidaksukaan terhadap Matematika, yang tentunya mengakibatkan kekurang terampilan dalam Matematika serta bisa menimbulkan kesulitan atau mengesalkan hati. (Soeparmo. 1992) Menurut pakar belajar Tuntas Block (1980), bentuk anak itu pada dasarnya berbeda, namun setiap dapat mencapai taraf penguasaan penuh. Yang membedakan individu satu dari yang lain dalam belajar adalah waktu. Artinya ada orang yang dapat menguasai sesuatu dengan penuh dalam waktu singkat dan ada yang memerlukan waktu lebih lama. Peaget dalam Crawford R (1999) menyatakan pengetahuan meliputi fakta yang telah dibangun merupakan kondisi perkembangan biologis secara umum yang berinteraksi dengan lingkungan dan dibangun kedalam konsepsi yang berkembang dalam bentuk kognitif. Menurut Rogers, belajar harus memiliki makna bagi peserta didik. Pengorganisasian bahan dan ide baru harus dalam kerangka member makna kepada peserta didik. Belajar yang optimal akan terjadi jika peserta didik berpartisipasi penuh serta memiliki tanggung jawab dalam belajar. Jadi belajar mengalami (Experintal Learning) merupakan suatu hal yang sangat penting agar peserta didik dapat lebih kreatif dan melakukan evaluasi serta kritik diri. Menurut Kline (1973) bahwa Matematika itu bukan pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi beradanya itu untuk membantu manusia dalam memahami permasalahan social, ekonomi dan alam.

10

Menurut Jean Peageat bahwa anak tidak bertindak dan berpikir sama seperti orang dewasa. Lebih-lebih dalam pembelajaran Matematik di SD. Sesuatu yang abstrak dapat saja dipandang sederahan menurut kita yang sudah formal, namun dapat saja sesuatu yang sulit dimengerti oleh anak yang belum formal. Oleh karena itu tugas utama guru ialah menolong anak mengembangkan kemampuan intlektualnya sesuai dengan perkembangan intlektual anak. Berdasarkan apa yang diukur diatas, penulis mencoba mengggunakan media gambar dalam usaha meningkatkan kemampuan dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika tentang Sudut Siku-siku, Lancip dan Tumpul. B. Media Pembelajaran /Alat Peraga Media Gambar Media pembelajaran dalam pembelajaran Matematika SD adalah alat bantu pembelajaran yang digunakan untuk menampilkan, mempresentasikan, menyajikan, atau menjelaskan bahan pelajaran kepada peserta didik, yang mana alat-alat itu sendiri bukan merupakan bagian dari pelajaran yang diberikan. Secara harfiah media diartikan sebagai medium atau perantara. Dalam kaitannya dengan proses komunikasi pembelajaran, media diartikan sebagai wahana pesan pembelajaran. NEA (1969) mengartikan media pembelajaran sebagai sarana komunikasi, baik dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk perangkat kerasnya. Wilbur Schramm (1977) mendefinisikan media pembelajaran sebagai teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajran. Miarso (1980) menegaskan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan anak didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya : 1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.

11

2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik. 3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya. 4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan 5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis. 6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru. 7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar. 8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana untuk menyalurkan pesan atau informasi dari guru ke siswa atau sebaliknya, secara terkoordinir untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran. Sedangkan gambar dalam kamus Bahasa Indonesia diartikan tiruan barang, objek, benda, orang, binatang, tumbuhan dan sebagainya. Maka,secara sederhana media gambar dalam pembelajaran dapat diartikan sarana komunikasi sebagai pembawa pesan pembelajaran kepada peserta didik melalui tiruan objek atau benda yang dapat membantu tercapainya proses pembelajaran yang diharapkan. Secara sederhana pula media pembelajaran dapat dipilah menjadi tiga bagian saja, yaitu : a. Media Visual Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indra penglihatan. Jenis media inilah yang sering digunakan oleh guru-guru untuk membantu menyampaikan isi atau materi pelajaran. Media visual ini terdiri atas media yang tidak dapat diproyeksikan (project visual). Media yang dapat diproyeksikan ini dapat berupa gambar diam (still pictures) atau bergerak (motion pictures)

12

b. Media Audio Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan para siswa untuk mempelajari bahan ajar. c. Media Audiovisual Sesuai dengan namanya, media ini merupakan kombinasi audio dan visual atau biasa disebut media pandang-dengar. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan media visual (gambar), dengan deskripsi melihat gambar, menentukan nama gambar dan jenis sudut yang ada pada gambar. Karena menurut Jean Piaget, usia 7 sampai 11 tahun (usia anak SD), tahap yang dimilikinya adalah Tahap Konkret Operasional. Dalam tahap ini anak sudah mulai melakukan operasi, mulai dapat berpikir rasional. Namun demikian, kemampuan berpikir intuitifnya seperti pada masa praoperasional tidak hilang sampai anak memasuki masa remaja. Pada periode ini seorang anak mulai memperoleh tambahan kemampuan yang disebut satuan langkah berpikir (system of operations) yang berfungsi untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam system pemikirannya sendiri sehingga ia mampu mengambil keputusan secara logis. Operasi-operasi dalam periode ini terikat pada pengalaman perorangan yang bersifat konkret dan bukan operasi formal. Aristoteles pun melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang ada dalam dunia fisik bukan dalam pikiran. Ini berarti, mengacu pada proses belajar memahami sesuatu hal dengan cara melihat perbedaan karakteristik yang dimiliki oleh objek pada gambar yang dipelajari. Dengan melihat perbedaan yang dimilki oleh objek, individu dapat memahami sudut benda, suasana, keadaan atau objek lain yang ada dilingkungannya. Menurut Winataputra U.S et al (2008), media sebagai sumber pembelajaran erat kaitannya dengan peran guru sebagai mediator dan fasilitator. Sebagai mediator, guru harus mampu memilih dan menggunakan media yang sesuai dengan tujuan, materi, metode, dan evaluasi, serta tetap bertujuan untuk memperlancar pencapaian tujuan dan mampu menarik minat siswa. Media gambar merupakan salah satu jenis media yang paling disukai peserta didik, terutama peserta didik usia anak-anak (tingkat Sekolah Dasar). Media gambar lebih memudahkan mereka dalam memahami materi pembelajaran, apalagi peserta

13

didik kelas bawah yang sebagian besar belum lancar baca tulis. Menilik pada pernyataan Winaputra di atas, dapat dilihat bahwa media visual (gambar), memiliki peranan yang paling besar dalam memudahkan peserta didik untuk memperoleh informasi. Adapun beberapa manfaat yang dapat dilihat dari penggunaan media gambar dalam pembelajaran ini, adalah : 1. Meningkatkan semangat belajar siswa 2. Meningkatkan pemahaman siswa tentang materi yang diberikan 3. Adanya interaksi positif antar guru dan siswa 4. Pembelajaran yang aktif dan menyenangkan 5. Meningkatkan hasil nilai belajar siswa. Sedangkan kelemahan yang dilihat adalah Guru perlu persiapan banyak gambar yang jelas dan memadai. C. Hasil Belajar Setiap berakhirnya suatu proses belajar mengajar yang dilakukan antar siswa dan guru, maka akan memperoleh suatu hasil belajar. Menurut Oemar Hamalik (2006) hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Sedangkan untuk mendapatkan hasil belajar yang baik hanya dapat dicapai melalui proses belajar yang bermutu, jika proses belajar tidak optimal sangat sulit dihasilkan belajar yang baik. Sebagaimana pengertian hasil belajar di atas, sebagai titik akhir dari pembelajaran diharapkan terjadinya suatu perubahan dalam diri manusia. Terjadinya perubahan yang diperoleh manusia tersebut merupakan akibat dari pada perubahan belajar yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Pada umumnya untuk mengetahui hasil belajar pada siswa digunakan beberapa cara yang merupakan alat berupa tes yang disusun sedemikian rupa, sehingga dapat mengungkapkan segala sesuatu yang telah diperoleh siswa dari proses belajar baik pengetahuan, keterampilan dan sebagainya. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut:

14

1. Ranah Kognitif Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian. 2. Ranah Afektif Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai. 3. Ranah Psikomotor Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi

neuromuscular (menghubungkan, mengamati). Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah. Menurut Ngalim Purwanto bahwa ada faktor-faktor yang mempengruhi proses dan hasil belajar pada setiap siswa yaitu : 1. Faktor dari luar diri siswa, terbagi menjadi dua golongan yaitu : a. Faktor Lingkungan yang terdiri dari 1) Alam, misalnya keadaan udara, keadaan iklim, dan keadaan budaya. 2) Sosial, misalnya lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan kelompok. b. Faktor Instrumental yang terdiri dari : 1) Kurikulum 2) Guru yang memberikan pelajaran 3) Sarana dan fasilitas 4) Managemen yang berlaku disekolah 2. Faktor dari dalam diri siswa, terbagi menjadi dua golongan yaitu : a. Faktor Fisiologi (jasmaniah), terdiri dari : 1) 2) Kondisi fisik siswa, misalnya tubuh tidak dalam kekurangan nutrisi Kondisi panca indera, misalnya penglihatan, pendengaran.

b. Faktor Psikologi terdiri dari : Bakat; Minat; Kecerdasan; Motivasi; Kemampuan kognitif. Proses belajar mengajar matematika akan berhasil dengan baik apabila didukung oleh kedua faktor di atas, yakni faktor dari luar dan faktor dari dalam diri

15

siswa. Guru yang profesional akan memberikan pelajaran secara maksimal apabila disertai oleh sarana, prasarana dan fasilitas yang memadai. Oleh karena itu, agar dapat menumbuhkan minat dan mempertinggi intelegensi siswa, diperlukan alat untuk mewujudkannya, salah satunya dengan nyanyian. Dengan siswa yang mempunyai minat tinggi disertai oleh intelegensi yang tinggi, akan menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru dengan lebih maksimal pula, sehingga proses belajar mengajar akan berhasil dengan baik. Seorang siswa dikatakan telah belajar jika adanya perubahan tingkah laku pada siswa tersebut, yaitu perubahan tingkah laku yang menetap. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku pada siswa tersebut merupakan hasil dari belajar. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan : Dimyati dan Mudjiono (1999), hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi. Howard Kingsley membagi 3 macam hasil belajar : a. Keterampilan dan kebiasaan b. Pengetahuan dan pengertian c. Sikap dan cita-cita Pendapat dari Horward Kingsley ini menunjukkan hasil perubahan dari semua proses belajar. Hasil belajar ini akan melekat terus pada diri siswa karena sudah menjadi bagian dalam kehidupan siswa tersebut. Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disintesiskan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut diketahui bahwa hasil belajar yang telah diperoleh siswa merupakan pedoman bagi guru untuk mengetahui sejauhmana

16

siswa menguasai materi yang diajarkan. Hasil belajar siswa mencerminkan kemampuan yang dimiliki siswa setelah belajar. Hal ini berarti hasil belajar tidak terlepas dari pembelajaran yang diberikan guru namun, untuk mengetahui hasil belajar tersebut diperlukan evaluasi, sesuai dengan konsep respons (Pavlop, Thorndike, Watson) dalam Udin S.W (2008) menjelaskan bahwa: hasil belajar diterapkan dalam bentuk jawaban siswa terhadap soal-soal tes dan atau ujian setelah materi disajikan, atau hasil karya siswa setelah prosedur pembuatan karya disampaikan. Dengan mengadakan evaluasi kita mengetahui kebaikan dan kekurangan usaha kita yang memperkaya kita sebagai pengajar, yang dapat kita gunakan di masa mendatang dengan anggapan bahwa keberhasilan sekarang juga akan memberikan hasil yang baik bagi murid-murid lain di kemudian hari. Dengan evaluasi, guru dapat memperhatikan sejauhmana keberhasilan mengajar seperti ketepatan memilih metode, memilih alat peraga yang digunakan terhadap proses belajar mengajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil usaha yang diperoleh siswa melalui proses belajar berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, yang diukur melalui tes.

III.

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subjek Penelitian

17

Perbaikan pembelajaran materi Sudut Siku-siku, Lancip, dan Tumpul dilaksanakan di kelas IIIB SD Negeri 10 Muntok Kabupaten Bangka Barat dengan jumlah siswa 20 orang, terdiri dari laki-laki 12 orang dan perempuan 8 orang pada tanggal 11, 14 dan 15 Mei 2010, dengan jadwal sbb : No. 1. 2. Hari / Tanggal Selasa / 11 Mei 2010 Jumat / 14 Mei 2010 Siklus I II Pokok Bahasan Jenis dan Besar Sudut Sudut Siku-siku, Lancip, dan Tumpul serta Besarnya. Sudut Siku-siku, Lancip, dan Tumpul serta Besarnya.

3.

Sabtu / 15 Mei 2010

III

B. Deskripsi Per Siklus Siklus 1 a. Rencana Menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus I, menyiapkan sistematika laporan siklus I. b. Pelaksanaan Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I ini , di kegiatan awal guru memotivasi siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengetahuan awal siswa yang dapat dikaitkan dengan materi. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa. Kemudian di kegiatan inti guru menjelaskan materi dan melontarkan pertanyaan benda-benda yang ada disekitar siswa. Dan di kegiatan akhir guru memberikan latihan soal kepada siswa secara individu. c. Pengamatan Setelah perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan, diadakanlah diskusi dengan teman teman sejawat, dari pengamatan yang telah dilakukan bersama menunjukkan hasil yang belum sesuai dengan yang diharapkan.

d.

Refleksi

18

Berdasarkan tidak optimalnya pembelajaran siklus I yang didapat dari hasil diskusi bersama teman sejawat, maka peneliti perlu melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II. Siklus II a. Rencana Menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus II, menyiapkan sistematika laporan siklus II, menyiapkan gambar-gambar benda yang memiliki sudut dan tidak memiliki sudut. b. Pelaksanaan Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II ini, di awal pertemuan guru memotivasi siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengetahuan siswa yang berkaitan dengan materi. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Di kegiatan inti, guru menjelaskan materi pelajaran sambil memperlihatkan gambar sudut siku-siku, sudut lancip, dan sudut tumpul. Kemudian guru melakukan tanya jawab tentang materi. Dan di kegiatan akhir guru dan siswa membuat rangkuman tentang materi. Kemudian memberikan latihan soal kepada siswa untuk dikerjakan secara individu. c. Pengamatan Setelah perbaikan pembelajaran siklus II dilaksanakan, diadakanlah diskusi dengan teman sejawat, dari pengamatan yang telah dilakukan bersama menunjukkan hasil yang lebih baik dari siklus I namun masih belum seperti yang diharapkan. d. Refleksi Berdasarkan penyebab tidak optimalnya pembelajaran siklus II dan hasil diskusi bersama teman sejawat, maka peneliti perlu melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus III. Siklus III a. Rencana Menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus III, menyiapkan sistematika laporan siklus III, menyiapkan gambar-gambar benda yang memiliki sudut dan tidak memiliki sudut.

b.

Pelaksanaan

19

Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus III ini di awal pertemuan, guru memotivasi siswa dengan menunjukkan gambar dan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengetahuan siswa yang berkaitan dengan materi. Setelah itu guru menyampaikan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran. Di kegiatan inti, guru menjelaskan materi pelajaran sambil

memperlihatkan gambar sudut siku-siku, sudut lancip, dan sudut tumpul. Kemudian guru membagikan setiap siswa kertas yang berisi gambar-gambar benda yang ada di sekitar kelas atau di rumah, kemudian guru memberi tanya jawab kepada setiap siswa, apa nama benda yang ada pada gambar?, setiap siswa yang menjawab benar, guru menyuruh siswa tersebut menulis nama benda di papan tulis serta menuliskan sudut apa yang dimilki benda tersebut . Di kegiatan akhir guru dan siswa merangkum materi pembelajaran dan kemudian memberikan latihan soal kepada siswa untuk dikerjakan secara individu. c. Pengamatan Sesudah perbaikan pembelajaran siklus III dilaksanakan diadakan diskusi dengan teman sejawat, dari pengamatan yang dilakukan bersama menunjukkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. d. Refleksi Berdasarkan pengamatan bersama teman sejawat tentang perbaikan

pembelajaran siklus III maka hasil refleksi dijadikan sebagai bahan laporan penelitian tindakan kelas.

20

IV.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengolahan Data Pada pembelajaran siklus I pembelajaran sudah mulai tampak mengarah kepada pembelajaran yang diinginkan, pada pembelajaran siklus II sebagian sudah tumbuh minat untuk memperhatikan materi, akan tetapi hanya sesaat selebihnya sibuk dengan kegiatan yang lain. Dan pada siklus yang ke III suasana pembelajaran tampak menyenangkan. Siswa antusias melakukan pembelajaran dengan kertas

gambar yang diberikan. Pembelajaran terlihat lebih efektif dan menyenangkan dan tumbuh minat untuk belajar dengan mengamati gambar. Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran terlihat adanya peningkatan hasil belajar siswa, baik dari nilai rata-rata kelas maupun jumlah siswa yang memperoleh nilai. Berikut disampaikan grafik peningkatan jumlah siswa yang mendapat nilai 60 ke atas. Diagram 4.1 Ketuntasan Belajar Siswa Selama Pembelajaran

20 siswa 15 siswa 10 siswa

19 siswa 17 siswa 15 siswa 11 siswa 9 siswa 5 siswa

5 siswa 0 siswa

3 siswa

1 siswa

PRA SIKLUS

SIKLUS I TUNTAS

SIKLUS II TIDAK TUNTAS

SIKLUS III

Dari grafik diatas terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajarnya, mulai dari Praiklus sampai ke siklus III. Jumlah siswa yang tuntas (yang nilai KKM > 60) di Prasiklus adalah 3 orang 15%, jumlah siswa yang memperoleh nilai KKM > (60) pada siklus I berjumlah 5 orang atau 25%, pada siklus II berjumlah 11 orang atau 55%, dan pada siklus III meningkat menjadi 19 orang atau 95%.

21

Demikian pula pada nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan setelah diadakan perbaikan pembelajaran. Berikut grafik perolehan rata-rata kelas pada siklus I, siklus II, dan siklus III : Diagram 4.2 Nilai Rata-rata Siswa Selama Pembelajaran

SIKLUS III SIKLUS II SIKLUS I PRA SIKLUS 0.00 20.00 40.00 48.25 47.00 60.00 80.00 60.75

80.75

100.00

Dari grafik diatas terlihat bahwa nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan. Pada prasiklus nilai rata-rata siswa 47,00, kemudian pada siklus I nilai rata-rata kelas adalah 48,25, terjadi peningkatan 1,25. Pada siklus II nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 60,75, dan pada siklus III meningkat lagi menjadi 80.75. Ini berarti perbaikan pembelajaran yang dilakukan sudah berhasil. Berikut ini adalah diagram dari aktivitas siswa pada setiap siklus. Diagram 4.3 Aktivitas Siswa setiap Siklus
10 siswa 10 siswa 8 siswa 7 siswa 5 siswa 3 siswa 3 siswa 2 siswa 2 siswa 2 siswa 1 siswa PRA SIKLUS Melontarkan Pertanyaan SIKLUS I SIKLUS II SIKLUS III Keaktifan Berkomentar 8 siswa 10 siswa 9 siswa

0 siswa

Berani Menjawab Pertanyaan Guru

Pada diagram di atas, terlihat adanya peningkatan aktivitas siswa mulai dari siklus I sampai siklus III. Peningkatan itu terlihat di saat siswa semakin berani melontarkan pertanyaan, berani menjawab pertanyaan yang diberi guru dan aktif berkomentar mengenai materi pelajaran dan yang sedang dipelajari. Selain dari

22

data aktivitas siswa, selama perbaikan pembelajaran juga dilakukan pengamatan terhadap aktivitas mengajar guru disamping itu juga dikumpulkan data tentang hasil evaluasi belajar siswa yang diperoleh dari tes tertulis yang dilakukan selama perbaikan pembelajaran. B. Pembahasan Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I dan siklus II ternyata hasilnya masih belum memuaskan dan tidak seperti yang diharapkan. Menurut guru dan teman sejawat hal ini dikarenakan pada siklus I metode pembelajaran yang digunakan guru tidak disertai dengan penggunaan alat peraga, dalam proses pembelajaran cenderung guru mengaktualisasikan diri-sendiri dengan metode ceramah, tidak memberikan perhatian untuk menarik minat siswa, serta tidak menginformasikan arah dan tujuan pembelajaran yang akan diberikan, sehingga siswa lebih cenderung memperhatikan yang lain. Maka akibat yang didapatkan, hasil kemampuan siswa mempunyai nilai rata-rata kelas yang rendah yaitu 48,25. Sedangkan pada siklus II, pada dasarnya cenderung lebih baik dibandingkan pada siklus I, karena guru sudah lebih memberikan perhatian secara terfokus terhadap materi yang akan diberikan kepada siswa dengan

menginformasikan tujuan dan indicator yang akan dicapai dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan, serta penjelasan disertai dengan gambar. Akan tetapi ternyata perhatian siswa terhadap materi hanya ketika guru memperlihatkan gambar, sehingga pada siklus II, peningkatan yang didapat dominan kepada aktifitas belajar siswa, sedangkang hasil belajar belum memuaskan bagi guru dan teman sejawat, yaitu 60,75. Maka atas dasar pengalaman dua siklus yang sudah dilaksanakan, guru dan teman sejawat sepakat pada siklus III dalam proses pembelajaran setelah menggali pengetahuan siswa dengan pertanyaan, menginformasikan tujuan pembelajaran dan juga untuk lebih terfokus kepada penggunaan media gambar dalam pembelajaran yang lebih efektif dan optimal yaitu penggunaan gambar bukan hanya gambar dari sudut siku-siku, sudut lancip, dan sudut tumpul, akan tetapi juga menyediakan gambar-gambar benda yang berhubungan dengan materi sudut yang diberikan ketika memberikan materi pelajaran pada siklus III. Dari kegiatan siklus III inilah yang mendapatkan hasil lebih maksimal baik dari hasil belajar

23

yang mencapai rata-rata kelas 80,75 maupun tingkat aktivitas belajar siswa yang lebih tinggi. Maka dengan pelaksanaan perbaikan pembelajaran dalam tiga siklus ini, hasil yang dicapai siswa setelah pelaksanaan perbaikan pembelajaran diantaranya: 1. Berani mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat 2. Siswa lebih cepat menguasai materi 3. Siswa merasa senang dan aktif mengikuti pembelajaran. 4. Nilai total evaluasi siswa meningkat. Keberhasilan penelitian ini terlihat jelas pada deskripsi temuan dan

refleksi pada siklus I, siklus II, dan siklus III, ternyata penggunaan media gambar dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan siswa dalam pembelajaran. Menurut Hoover KH (2008) media atau alat pengajaran tertentu lebih tepat

daripada yang lain berdasarkan jenis, pengertian atau dalam hubungannya dengan tujuan. Sehubungan dengan pembelajaran Matematika tentang Sudut Siku-siku, Sudut Lancip, dan Sudut Tumpul, menggunakan media gambar dapat menggugah minat dan menimbulkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Fokus materi yang disampaikan benar-benar tertanam dalam pemahaman siswa tidak hanya sekedar numpang lewat, indikator pembelajaran tercapai dengan baik dan hasil pembelajaran meningkat serta memuaskan. Kelemahan yang ditemukan pada siklus I dapat diatasi pada siklus II kemudian pada siklus III pembelajaran dinyatakan berhasil. Oleh karena itu peneliti dan teman sejawat sepakat untuk tidak lagi melanjutkan pada siklus berikutnya.

24

V.

KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A.

Kesimpulan Dari hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan: 1. Alat Peraga Media Gambar ternyata dapat meningkatkan Hasil Belajar siswa kelas IIIB SD Negeri 10 Muntok Bangka Barat tentang Sudut Siku-siku, Sudut Lancip, dan Sudut Tumpul. 2. Alat Peraga Media Gambar ternyata juga dapat meningkatkan aktivitas dan minat belajar siswa kelas IIIB SD Negeri 10 Muntok Bangka Barat tentang Sudut Siku-siku, Sudut Lancip, dan Sudut Tumpul.

B.

Saran Berdasarkan kesimpulan diatas, untuk meningkatkan kualitas

pembelajaran dan menumbuhkan motivasi siswa dalam pembelajaran, perlu kiranya guru memperhatikan hal sebagai berikut : a. Menggunakan media pembelajaran yang menyenangkan seperti pengunaan media gambar. b. Memberikan penjelasan yang mudah dipahami siswa c. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

25

DAFTAR PUSTAKA

Ali M. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Moderen. Jakarta : Pustaka Amani. Hal. 101 Dimyati dan Mudjiono. 1999. Hal. 250-251. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hernawan AH, Susilana R, Julaiha S, dan Sanjaya W. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta :Universitas Terbuka. Hal. 2.14 & 11.18. Jahja Y. 2004. Wawasan Kependidikan. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan. Hal. 17. Jemaie. 2008. Upaya Peningkatan Keterampilan Operasi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat dengan Model Bilangan Bertangga. Pangkalpinang : Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Prov. Kep. Bangka Belitung. Hal. 103 Muhsetyo G. 2008. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta Hal. 2.1 : Universitas Terbuka.

Oemar Hamalik. 2006. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara. Hal. 30. Soeparmo. 1992. System Kilat Matematika Dasar Metode Trachtenberg. Jakarta : PT Rosda Jayaputra. Hal. iii Winataputra US, Djahrudin, Suharwan W, Sriyono, Ningrum E, Hayati S, Sobandi M, Darojat O, dan Sapriya. 2008. Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Universitas Terbuka. Hal. 9.23. Wiranataputra US. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka. Hal. 1.5, 2.12, & 3.41.

Sumber Internet : Sudrajat A. 2008. Blogspot Media Pembelajaran. http akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/media-pembelajaran. (14 Maret 2010).

//

26