Anda di halaman 1dari 19

Maserasi Curcuma aeruginosa rhizoma A. Tujuan 1. Mahasiswa diharapkan mampu membuat serbuk dengan derajat kehalusan tertentu. 2.

Mahasiswa diharapkan memahami dan mampu melakukan penyarian bahan 3. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan kontrol kualitas terhadap ekstrak. B. Dasar Teori Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Anonim,1995). Hal yang penting dalam teknologi farmasi adalah cara mengekstraksi. Jenis ekstraksi dan cairan mana yang sebaiknya digunakan sangat tergantung dari kelarutan bahan kandungan serta stabilitasnya (Voight, 1994). Derajat halus serbuk dinyatakan dengan satu atau dua nomor. Jika derajat halus serbuk dinyatakan satu nomor, berarti semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor tersebut. Jika dinyatakan dengan dua nomor, berarti semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor terendah dan tidak lebih dari 40% melalui pengayak dengan nomor tertinggi. Sebagai contoh serbuk 22/60, dimaksudkan bahwa serbuk dapat melalui pengayak nomor 22 seluruhnya, dan tidak lebih dari 40% melalui pengayak nomor 60. Nomor pengayak menunjukkan jumlah-jumlah lubang tiap 2,54 cm dihitung searah dengan panjang kawat. Pengayak dibuat dari kawat logam atau bahan lain yang cocok dengan penampang melintang yang sama di seluruh bagian.

Dalam beberapa hal digunakan juga istilah umumn untuk menyatakan kehalusan serbuk yang disesuaikan dengan nomor pengayak sebagai berikut: serbuk sangat kasar adalah serbuk (5/8) serbuk kasar adalah serbuk (10/40) serbuk agak kasar adalah serbuk (22/60) serbuk agak halus adalah serbuk (44/85) serbuk halus adalah serbuk (85) serbuk sangat halus adalah serbuk {120/200(300)} (Anief, 2007) Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat, daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna (Ansel, 1989). Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi

dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif dan zat aktif akan larut (Anonim, 1986). Simplisia yang akan diekstraksi ditempatkan pada wadah atau bejana yang bermulut lebar bersama larutan penyari yang telah ditetapkan, bejana ditutup rapat kemudian dikocok berulangulang sehingga memungkinkan pelarut masuk ke seluruh

permukaan simplisia (Ansel,1989). Rendaman tersebut disimpan terlindung dari cahaya langsung (mencegah reaksi yang dikatalisis oleh cahaya atau perubahan warna). Waktu maserasi pada umumnya 5 hari, setelah waktu tersebut keseimbangan antara bahan yang diekstraksi pada bagian dalam sel dengan luar sel telah tercapai. Dengan pengocokan dijamin keseimbangan konsentras i bahan ekstraksi lebih cepat dalam cairan. Keadaan diam selama maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif (Voight, 1994).

Etanol Etanol tidak menyebabkan pembengkakan membran sel dan memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut. Keuntungan lain, etanol mampu mengendapkan albumin dan menghambat kerja enzim. Umumnya yang digunakan sebagai cairan pengekstraksi adalah campuran bahan pelarut yang berlainan, khususnya campuran etanol-air. Etanol (70%) sangat efektif dalam menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal, dimana bahan penganggu hanya skala kecil yang turut ke dalam cairan pengekstraksi (Voight, 1994). Farmakope Indonesia menetapkan bahwa sebagai cairan penyari adalah air, etanol, etanol-air atau eter. Etanol dipertimbangkan seba gai penyari karena lebih selektif, kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol 20% keatas, tidak beracun, netral, absorbsinya baik, etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan dan panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit (Anonim, 1986). Etanol dapat melarutkan alkaloid basa, minyak menguap, glikosida, kurkumin, kumarin, antrakinon, flavonoid, steroid, damar dan klorofil. Lemak, malam , tanin dan saponin hanya sedikit larut. Dengan demikian zat pengganggu yang terlarut hanya terbatas. Untuk meningkatkan penyarian biasanya menggunakan campuran etanol dan air. Perbandingan jumlah etanol dan air tergantung pada bahan yang disari (Anonim, 1986). Kontrol Kualitas Ekstrak Susut Pengeringan Susut pengeringan adalah persentase senyawa yang menghilang selama proses pemanasan (tidak hanya menggambarkan air yang hilang, tetapi juga senyawa menguap lain yang hilang).Pengukuran sisa zat dilakukan dengan pengeringan pada temperatur 105C selama 30 menit atau sampai berat konstan dan dinyatakan dalam persen (metode gravimetri).

susut pengeringan = (bobot awal - bobot akhir)/bobot awal x 100%

Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut organik menguap, susut pengeringan diidentikkan dengan kadar air, yaitu kandungan air karena simplisia berada di atmosfer dan lingkungan terbuka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.(Siskha,2008) Parameter Bobot Jenis Bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara pada suhu 25 C terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot zat dengan bobot air dalam piknometer, kecuali dinyatakan lain dalam monografi, keduanya ditetapkan pada suhu 25 C (anonim, 1995) Uji kelengketan Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan sesuatu dapat melekat pada kulit (Triayu, 2009) Organoleptis Uji organoleptik didasarkan pada kegiatan penguji-penguji rasa (panelis) yang pekerjaannya mengamati, menguji, dan menilai secara organoleptik. Sensoris berasal dari kata sense yang berarti timbulnya rasa, dan timbulnya rasa selalu dihubungkan dengan panca indera. Leptis berarti menangkap atau menerima. Jadi pengujian sensoris atau organoleptik mempunyai pengertian dasar melakukan suatu kejadian yang melibatkan pengumpulan data-data, keterangan-keterangan atau catatan mekanis dengan tubuh jasmani sebagai penerima. Pengujian secara sensoris/organoleptik dilakukan dengan sensasi dari rasa, bau/ aroma, penglihatan, sentuhan/rabaan, dan suara/pendengaran pada saat makanan dimakan. Sebagai contoh rasa enak adalah hasil dari sejumlah faktor pengamatan yang masing-masing mempunyai sifat tersendiri. (Madbardo,2010) Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponennya. Seluruh bentuk kromatografi berkerja berdasarkan prinsip ini. Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran berdasarkan

perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponenkomponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda Proses kromatografi juga digunakan dalam metode pemisahan komponen gula dari komponen non gula dan abu dalam tetes menjadi fraksi-fraksi terpisah yang diakibatkan oleh perbedaan adsorpsi, difusi dan eksklusi komponen gula dan non gula tersebut terhadap adsorbent dan eluent yang digunakan. FASE DIAM Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Jel silika (atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendar flour dalam sinar ultra violet.Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki

gugus -OH. Apa yang kita sebutkan tentang jel silika kemudian digunakan serupa untuk alumina. FASE GERAK Dalam kromatografi, eluent adalah fasa gerak yang berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fasa diam (adsorbent). Interaksi antara adsorbent dengan eluent sangat menentukan

terjadinya pemisahan komponen. Oleh sebab itu pemisahan komponen gula dalam tetes secara kromatografi dipengaruhi oleh laju alir eluent dan jumlah umpan. Eluent dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan teradsorpsinya pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan dalam hal ini yang banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau sebuah lapis tipis silika. Penggolongan ini dikenal sebagai deret eluotropik pelarut. Suatu pelarut yang bersifat larutan relatif polar, dapat mengusir pelarut yang relatif tak polar dari ikatannya dengan alumina (jel silika). Kecepatan gerak senyawa-senyawa ke atas pada lempengan itu tergantung pada: Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut. Hal ini bergantung pada bagaimana besar atraksi antara molekul-molekul senyawa dengan pelarut. Bagaimana senyawa melekat pada fase diam, misalnya jel silika. Hal ini tergantung pada bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan jel silika. (Haqiqi,2008)

CURCUMA AERUGINOSA Roxb Famili : Zingiberaceae Nama Daerah : Sumatra:temu hitam(Minang);Jawa:koneng ereng(Madura);Sulawesi:tamu tenggara:temu ireng(Bali) Pemerian Bau aromatik; rasa sangat pahit, lama-lama menimbulkan rasa tebal Pemeriksaan Makroskopik Makroskopik kepingan, pipih, keras, panjang 1 cm sampai 5 cm, lebar 1 cm sampa 3 cm, tebal sampai 0,5 cm, tapi agak melengkung, permukaan berwarna coklat keabu-abuan atau jingga keabu-abuan. Batas korteks dengan silinder pusat jelas. Bekas patahan agak rata, tidak berserat, agak berdebu. Pemeriksaan Mikroskopik Epidermis terdiri dari 1 lapis sel, pada epidermis terdapat rambut penutup berbentuk kerucut, lurus atau agak bengkok, panjang 200 m sampai 750 m. Hipodermis terdiri dari beberapa lapis sel berwarna kuning kecoklatan. Periderm terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk segi empat sampai persegi panjang, warna kuning kecoklatan sampai coklat kehitaman. Korteks parenkimatik, terdiri dari sel-sel berbentuk isodiametrik, berisi butir pati; sel sekresi dan berkas pembuluh tersebar di korteks, butir pati umumnya berbentuk lonjong dengan ujung menonjol hingga mirip berbentuk botol, lamela jelas, panjang butir pati 10 m sampai 30 m. Sel sekresi berisi minyak dan berukuran 20 m sampai 60 m. Berkas pembuluh kolateral dengan pembuluh kayu berpenebalan bentuk tangga dan jala, lebar 10 m sampai 50 m. Endodermis terdiri dari sel-sel yang agak pipih. erang,temu hideung(Sunda),temu leteng (Makasar),temu itam(Melayu),temu ireng (Jawa),temo

lotong(Bugis),Nusa

Silinder pusat terdiri dari sel parenkim serupa parenkim dikorteks; berkas pembuluh, sel sekresi dan butir pati serupa di korteks. Serbuk warna coklat muda. Fragmen pengenal adalah buti pati berbentuk bulat telur dengan ujung menonjol atau berbentuk mirip botol, lamela jelas; fragmen pembuluh kayu dengan penebalan tangga dan jala; rambut penutup; sel minyak dalam parenkim; fragmen gabus. Cara Identifikasi a. Pada 2 mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes asam sulfat P; terjadi warna coklat kehitaman lama-lama berubah menjadi ungu kehitaman..

b. Pada 2 mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes asam sulfat 10N; terjadi warna coklat tua hitam. c. Pada 2 mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes asam klorida pekat P terjadi warna coklat tua. d. Pada 2 mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes larutan kalium hidroksida P 5% b/v; terjadi warna coklat tua. e. Pada 2 mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes amonia (25%) P; terjadi warna coklat tua. f. Pada 2 mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes larutan besi (III) klorida P 5% b/v ; terjadi warna kuning kehijauan. Uji Kemurnian Kadar abu : tidak lebih dari 6,1% Kadar abu yang tidak larut dalam asam : tidak lebih dari 2,4% Kadar sari yang larut dalam air tidak kurang dari 19,6%

Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 2,4% Bahan organik asing tidak lebih dari 2% Kegunaan Karminatif Kandungan Senyawa Minyak atsiri 2%, pati, damar, lemak. Budidaya Belum dibudidayakan secara teratur.Sering ditanam penduduk sebagai tanaman pekarangan.Hama dan penyakit seperti pada jenis curcuma lainnya hama yang sering menimbulkan kerusakan adalah ulat kerana diocles dan pada

penyimpanan di gudang yang menimbulkan kerusakan adalah kumbang lasioderma serricorne.

Ekologi dan penyebaran Terdapat di Burma,Kamboja sampai Jawa.Di Jawa tumbuh pada ketinggian tempat antara 400 m sampai 750 m di atas permukaan laut., tumbuh liar pada daratan yang ditumbuhi rumput-rumput atau dalam hutan jati(Anonim,1978).
Kandungan kimia pada rimpang Curcuma aeruginosa yang sudah diketahui antara lain minyak atsiri, curcumol, kardione, isofortungemakrene, germakrene, tetrametilfrazine, zat pati, lemak, damar, tanin, zat warna biru, alkaloid, zat pahit, saponin, dan mineral. (Hariana,2006)

C. Alat dan Bahan Alat : Blender Toples Kaca Kain Flanel Rotary Evaporator

Pengayak No.40 dan No.80 Piknometer Oven Botol timbang Seperangkat alat uji kelengketan Pengaduk Silika gel GF 254 Lampu UV254 dan UV366

Lemari asam Alat penyemprot/sprayer

Bahan : Simplisia Curcuma aeroginosa Etanol 70% Reagen serium sulfat, Lieberman burchad, dragendorf dan vanili sulfat.

D. Cara Kerja a. Pembuatan Serbuk

b. Proses Maserasi

c. Kontrol Kualitas Ekstrak


Kontrol Kualitas Ekstrak

Dibagi dalam

1.Penghitungan Rendemen

2.Susut Pengeringan

3.Organolepti s

4.Uji Kelengketan

5.Kermatografi Lapis Tipis

1. Rendemen yang dihasilkan Pada percobaan ini, menghitung kadar rendemen yang dihasilkan dengan rumus :

Kadar rendemen (%) =

x 100%

2. Susut Pengeringan
Botol timbang yang telah ditara

Dipijarkan suhu 105o C selama 30 menit


1 gram ekstrak Botol timbang yang panas

Dimasukkan

Dipijarkan dg tutup terbuka


Bobot tetap

suhu 105o C

Setelah didapatkan bobot tetap kita hitung kadar susut pengeringannya menggunakan rumus:

(%) = 100%

3. Organoleptis Uji Organoleptis yaitu mendeskripsikan dari ekstak yang diperoleh berupa bentuk, warna dan bau.

4. Uji kelengketan
100 mg ekstrak

Diletakkan
Obyek glass

Diberi

Pemberat 1kg selama 5 menit

Diuji
Alat uji

dihitung
Catat waktu

Diulangi 3x

5. Kromatografi Lapis Tipis

E. Hasil dan Pembahasan Hasil Penyerbukan : 100 gram serbuk simplisia dengan derajat halus 40/80. Ekstraksi : diperoleh 17,27 gram ekstrak kental. Kontrol Kualitas Ekstrak : 1. Rendemen yang dihasilkan % rendemen = = 17,27 % 2. Susut Pengeringan Botol Timbang = 27,29 gram Berat ekstrak = 1 gram Berat ekstrak dalam botol timbang mula- mula 28,29 gram Berat ekstrak dalm btol timbang dengan bobot tetap 27,81 gram % susut pengeringan = = 48% x 100% x 100%

3. Organoleptis Bentuk : Semi padat, kental, lengket Warna : Coklat tua Bau : Khas temu hitam 4. Uji Kelengketan 1. 1,92 detik 2. 1,79 detik 3. 1,71 detik Sehingga rata-ratanya 1,8067 detik
5. Kromatografi Lapis Tipis Panjang Plat adalah 7cm.

Sebelum di semprot dengan reagen, plat pada KLT: KLT I berwarna ungu (1,5cm) dan hijau (3cm) KLT 2 berwarna ungu (3,3cm) dan hijau (5,7 cm) Setelah disemprot : KLT 1 dengan reagen Lieberman Buchart, diperoleh Bercak hijau sepanjang 2,7 cm. KLT 2 dengan reagen dragendorf dan diperoleh:

Paling atas (a): 5 cm Tengah(b): 2,7 cm Paling bawah (c) : 1 cm Pembahasan Penyerbukan dilakukan dengan tujuan untuk memperluas luas permukaan dari simplisia, sehingga lebih mudah menarik zat aktif didalamnya. Derajat halus dari simplisia ini adalah 40/80. Artinya semua serbuk simplisia harus dapat melewati ayakan no.40 dan tidak lebih dari 40% melewati ayakan no.80. Penyerbukan dilakukan menggunakan blender, yang didahului dengan nyortir serbuk simplisia dan hanya dipilih yang berkualitas baik. Setelah itu serbuk diayak dengan ayakan no.40 dan no.80. Hasil diberi label dan disimpan dalam eksikator. Maserasi adalah salah satu metode ekstraksi yang dipilih dalam praktikum ini. Maserasi bertujuan untuk menarik zat aktif (metabolit sekunder) yang ada didalam serbuk simplisia. Prinsip kerja dari maserasi adalah cairan penyari yang digunakan akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan luar sel, maka larutan yang terpekat di desk keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan diluar sel dan di dalam sel. Etanol 70% dipilih karena etanol dapat menghambat kerja enzim (kerja enzim dapat menginaktifkan zat aktif), bukan media yang baik bagi mikrobakteria untuk berkembang sehingga kemungkinan terkontaminasi oleh bakteri kecil, memperbaiki stabilitas zat aktif yang terlarut selain itu etanol 70% dapat melarutkan curcumin dan alkanoid secara optimal. Maserasi pada praktikum ini dilakukan dengan diambil 100 gram serbuk dari simplisia Curcuma aeruginosa. Lalu direndam dengan 750ml etanol 70% dalam bejana berupa stoples dan dibiarkan selama 1 hari dengan 2

jam pertama diaduk-aduk. Setelah 1 hari diserkai dengan kain flanel. Lalu dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Karena kurangnya waktu, evaporasi dilakukan hanya 2,5 jam dan dari 750 ml larutan tinggal 250 ml cairan yang tersisa. Kemudian di pekatkan kembali menggunakan water bath diatas cawa dan diaduk-aduk hingga diperoleh ekstrak yang kental. Hasil yang diperoleh di simpan dalam pot salep yang sebelumnya telah ditara, kemudian bersama pot salep hasil ditimbang. Sehingga diperoleh ektrak kental Curcuma aeruginosa dengan berat 17,27 gram. Susut pengeringan dilakukan untuk memberikan batasan maksimal tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan. Prinsip kerjanya adalah pengeringan di oven pada suhu 1050C selama 30 menit atau sampai berat konstan. Hasil persentase dari susut pengeringan ini adalah 48% berarti senyawa yang hilang dalam proses pengeringan maksimal adalah 48%. Parameter bobot jenis bertujuan untuk memberi batasan tentang besarnya massa per satuan volume yang merupakan parameter khusus ekstrak cair sampai kental yang masih bisa dapat dituang dan memberikan gambaran kandungan kimia terlarut. Namun uji ini tidak dilakukan pada ekstak Curcuma aeruginosa karena ekstrak ini kental dan akan menempel pada dinding piknometer. Uji organoleptis yang dilakukan menunjukkan bahwa ekstrak tersebut benar temuhitam. Dilihat dari warnanya yang coklat tua, bentuk semi-pada dan berbau khas temu hitam. Uji kelengketan dilakukan untuk mengetahui daya lekat ekstrak. Prinsip kerjanya adalah, menghitung waktu seberapa lama dua objek glass yang ditengahnya diberi ekstrak dan diberi beban 1kg selama 5 menit, dapat terpisah. Hasil rata-rata dari uji kelengketan adalah 1,8067 detik. Kromatografi lapis tipis bertujuan untuk mengetahui kandungan kimia dalam suatu tanaman secara kualitatif.

Pada praktikum ini digunakan reagen liebermann buchart dan draggendorff. Liebermann burchart digunakan untuk uji terpenoid yang ditandai dengan perubahan warna menjadi hijau kebiruan. Sedangakan draggendorff digunakan untuk menguji alkaloid dengan perubahan warna coklat jingga berlatar belakang kuning. Dari hasil praktikum, di identifikasi bahwa Curcuma aeruginosa mengandung terpenoid. Hal ini dilihat dari perubahan warna setelah disemprot dengan lieberman buchart plat KLT menjadi hijau. Padahal sesuai dengan dasar teori, Curcuma aeruginosa seharusnya tidak mengandung alkaloid, tapi mengandung terpenoid. Ketidak sesuaian ini dapat terjadi karena mungkin fase gerak yang digunakan dalam uji kurang sesuai. Selain itu mungkin terdapat kontaminasi pada plat KLT yang digunakan sehingga hasil yang didapat kurang sempurna. Metabolit sekunder alkaloid tidak terdeteksi kemungkinan terdapat kesalahan dalam praktikum. Seperti serbuk yang terlalu halus sehingga merusak sel. Selain itu maserasi yang kurang lama (hanya dilakukan sehari, padahal di buku petunjuk 5 hari) juga berpengaruh, karena zat aktif yang terambil lebih sedikit dan hasilnya tidak maksimal.

F. Kesimpulan Maserasi dengan simplisia Curcuma aeruginosa rhizoma dilakukan dengan merendam simplisia selama 24 jam sambil diaduk 2 jam pertama, lalu diserkai dengan kain flanel, dipekatkan dengan rotary evaporator lalu di jadikan ekstrak pekat di atas water bath. Dihasilkan ekstrak kental 17,27 gram, rendemen 17,27%, susut pengeringan 48%, organoleptisnya semipadat, kental, lengket, berbau khas temu hitam dan berwarna coklat hitam. Hasil dari uji kelengketannya rataratanya 1,8067 detik. Sedangkan tidak ada senyawa yang sesuai teori muncul pada bercak plat KLT.

Kemungkinan terdapat kesalahan pada pengolahan simplisia ataupun dalam ekstraksi simplisia, sehingga zat aktif yang terkandung hilang atau terdegradasi sehingga menjadi sangat sedikit. G. Daftar Pustaka Anonim. 1986. Sediaan Galenik. Departemen kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Anonim.1995. Farmakope Indonesia KesehatanRepublik Indonesia. Anief,Moh. 2007. Farmasetika. Jogjakarta : UGM Press. Anif,N dan Heru,S. 2012. Petunjuk Praktikum Galenika. Surakarta : FMIPA UNS Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Jakarta : Universitas Indonesia Press. Haqiqi,Sohibul Himam. 2008. Kromatografi Lapis Tipis. Jakarta. Hariana, Arief. 2006. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya seri 3. Jakarta : Penebar Swadaya Madbardo.2010. Pengertian Pengujian Organoleptik. http://madbardo.blogspot.com/2010/02/pengertian-pengujianorganoleptik.html (diakses pada tanggal 6 April 2012, pukul 11.10) Siskha.2010.Pembuatan dan Penetapan Kontrol. http://siskhana.blogspot.com/2010/01/pembuatan-dan-penetapankontrol.html (diakses pada tanggal 6 April 2012, pukul 10.50) Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Edisi ke-5. Edisi IV. Jakarta : Departemen

Yogyakarta : UGM Press.