HUBUNGAN KEBIASAAN OLAHRAGA DENGAN DISMENORE PADA SISWI SMA SANTO THOMAS 1 MEDAN TAHUN 2011/2012

Oleh : TOH CHIA THING 080100273

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

HUBUNGAN KEBIASAAN OLAHRAGA DENGAN DISMENORE PADA SISWI SMA SANTO THOMAS 1 MEDAN TAHUN 2011/2012

KARYA TULIS ILMIAH

Oleh : TOH CHIA THING 080100273

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

i

LEMBAR PENGESAHAN

Hubungan Kebiasaan Olahraga dengan Dismenore pada Siswi SMA Santo Thomas 1 Medan Tahun 2011/2012

Nama NIM

: TOH CHIA THING : 080100273

Pembimbing

Penguji I

................................................ (dr. Dudy Aldiansyah, Sp.OG) NIP: 197712142008121001

................................................ (dr. Rina Amelia, M.A.R.S.) NIP: 197604202003122002 Penguji II

................................................ (dr. Eka Roina Megawati, M. Kes) NIP: 197812232003122002

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

................................................ (Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp. PD-KGEH) NIP: 19540220 198011 1 001

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif-analitik dengan pendekatan cross sectional. Pada penelitian ini didapatkan bahwa prevalensi dismenore dari semua siswi SMA Santo Thomas 1 Medan adalah sebanyak 53. olahraga dipercaya bermanfaat dalam mengurangi kejadian dismenore. Hasil analisa data dengan menggunakan metode uji Chi Square menunjukkan kejadian dismenore terjadi secara signifikan pada responden yang tidak berolahraga (p = 0.6%. Jumlah sampel penelitian sebanyak 89 orang diambil secara acak dengan menggunakan simple random sampling dari semua siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012.ii ABSTRAK Dismenore merupakan salah satu keluhan ginekologi yang paling umum dirasakan perempuan usia produktif dimana definisi dismenore primer adalah sensasi nyeri selama menstruasi tetapi tidak berkaitan dengan kelainan organik. cross sectional . penelitian ini juga menunjukkan bahwa prevalensi dismenore sedang (50.8%) lebih dominan terjadi pada kejadian dismenore. tingkat gangguan yang dialami selama menstruasi dan kebiasaan berolahraga. Sebagai kesimpulan didapatkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan berolahraga dengan dismenore pada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012 dimana kejadian dismenore lebih rendah pada responden yang mempunyai kebiasaan berolahraga.0%) dan dismenore ringan (45. Kata Kunci: Dismenore.01).3%). Namun. Selain itu. Dari prevalensi dismenore dan kebiasaan olahraga ini didapatkan kejadian dismenore pada responden yang memiliki kebiasaan berolahraga adalah 10 orang (34. olahraga. tidak banyak penelitian yang dapat membuktikan pendapat ini dan kepustakaan ilmiah menunjukkan bukti yang beraneka ragam. Secara umum. Prevalensi dismenore primer cenderung lebih tinggi pada remaja putri dibandingkan dengan wanita yang lebih dewasa. siswi.5%) sedangkan kejadian dismenore pada responden yang tidak berolahraga adalah 38 orang (63. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk meneliti apakah terdapat hubungan antara dismenore dengan kebiasaan berolahraga. Responden diberi kuesioner yang berisi pertanyaan tentang gejala yang dialami sebelum dan selama menstruasi.9% dan prevalensi kebiasaan berolahraganya adalah sebanyak 32.

Through this study. The main objective of this study was to determine the effects of exercise on primary dysmenorrhea.9% and the prevalence of exercising habit was found to be 32. but it does not relate to the physical cause. A chisquare test was used for statistical analyses found that the incidence of dysmenorrhea occurred significantly among the respondents who did not exercise (p=0. the level of disturbance experienced during menstruation and their exercise habits. it was found that the incidence of dysmenorrhea among the respondents who exercise regularly were 10 people (34. it was found that the prevalence of dysmenorrhea among the student from St. The prevalence of primary dysmenorrhea tends to be higher in young ladies than in older women. Thomas 1 Medan Senior High School was 53.3%). student.0%) following by mild dysmenorrhea (45. A descriptive-analytic method with the approach to cross-sectional studies was used to conduct the research. exercise.01).iii ABSTRACT Dysmenorrhea is one of the most common gynecologic complaints among women during childbearing age. The primary dysmenorrhea is the pain sensation of lower abdomen during menstruation. In this study.8%) among the respondents who experienced dysmenorrhea. In conclusion. However.5%) whereas the incidence of dysmenorrhea among the respondents who did not exercise regularly were 38 people (63.6%. anecdotal believes that exercise is beneficial and efficient in reducing the dysmenorrhea. the analysis showed that there was a significant correlation between exercise and dysmenorrhea where the incidence of dysmenorrhea was found lower among the respondents who had exercising habit. Thomas 1 Medan Senior High School year of 2011/2012. Key words: Dysmenorrhea. cross sectional . A total of 89 samples were taken at random by using simple random sampling from the St. In general. only a few studies can prove this fact and the scientific literature displays mixed evidence. The respondents were given a questionnaire regarding the symptoms experienced before and during menstruation. The results also showed higher incidence of moderate dysmenorrhea (50.

15 Desember 2011 …………………………… (Toh Chia Thing) .iv KATA PENGANTAR Terima kasih saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan anugerah-Nya saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Rina Amelia. Penelitian ini adalah mengenai Hubungan Kebiasaan Olahraga dengan Dismenore pada Siswi SMA Santo Thomas 1 Medan Tahun 2011/2012. Semoga dengan adanya karya tulis ilmiah ini dapat memberi manfaat kepada semua dan penulis sendiri. Dudy Aldiansyah.Kes. Saya sangat berharap saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat menyempurnakan lagi penelitian ini.A. Saya menyadari bahwa penyusunan dan penulisan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna. dan dr. Medan.S. Kepada semua yang membaca karya tulis ilmiah ini saya mengucapkan terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk membacanya. Terima kasih kepada keluarga dan segenap teman-teman yang telah mendukung saya selama ini. Sp. dr.OG yang telah meluangkan banyak waktu dan pikirannya serta memberikan petunjuk dan sarannya selama proses pembuatan karya tulis ilmiah dijalankan. M. Eka Roina Megawati. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing penulis yaitu dr.R. M. Ucapan terima kasih juga ditujukan untuk dosen-dosen yang mengajar Ilmu Kesehatan Kedokteran (IKK) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberi petunjuk dan bimbingan dalam mengerjakan karya tulis ilmiah ini serta pihak SMA Santo Thomas 1 Medan yang memberi kesempatan untuk melakukan penelitian ini. selaku dosen penguji kepada peneliti yang telah banyak memberi saran dan pengetahuan kepada peneliti.

............ 2........2....................................................... 2........ ..1.........................................1........... KATA PENGANTAR . 2......3.... 2....................................... 2........... ABSTRACT............................................1..................1.................................. Tujuan Khusus ...4.........................3..............5................ 2....1........... .....2.... Rumusan Masalah .. 2.............................1.....8.......................... Tingkat Keparahan Dismenore ............ Penatalaksanaan Non-Farmakologi ..2. Penatalaksanaan Dismenore ......... ABSTRAK .. Diagnosis Dismenore Sekunder ..........................................2.......... DAFTAR SINGKATAN.............1............................................................. 2.......................1..........3............................ Gejala Klinis Dismenore Sekunder .............................................................1................1.........7.....5..........1....................................... Gejala Klinis Dismenore Primer . Diagnosis Dismenore Primer ....................1...........1.....................1.. 2..................1.................. 2. Patofisiologi Dismenore Primer ....................... 2.... 2............................ Tipe Latihan Olahraga..... 1.......1...................................... 2........2....................................................... Patofisiologi Dismenore ...................1.... Tujuan Penelitian ..................................................2............................. Penatalaksanaan Farmakologi .................1........3.........1....................2...........3..................................1.........................7....................1.. Dismenore . i ii iii iv v vii viii ix 1 1 2 2 2 3 3 4 4 4 4 4 4 5 5 5 7 8 8 9 9 10 10 10 11 11 11 12 12 13 14 .............. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………..............1.......2................... DAFTAR GAMBAR .. Patofisiologi Dismenore Sekunder...........................................................................3........... Dismenore dan Olahraga ..... 1......... 2..................................4... Tingkat Aktivitas Fisik ......................................................... Diagnosis Dismenore ..2................................ 1..............................6...........................2......................... BAB 1 PENDAHULUAN ............1.........................................................................................1.............v DAFTAR ISI Halaman LEMBAR PENGESAHAN .................... 2. 2... DAFTAR TABEL ...................... Manfaat Penelitian ...... Tujuan Umum ..........................1...2......................................... DAFTAR ISI ...1.. Epidemiologi Dismenore ... 2.................... Olahraga ......... 1............................................... 1... 2............... 2...2...............................4............................................. 2..............................8.. 2........ 2......... 1................ 2...................... Latar Belakang .........................................4........................................ Etiologi Dismenore Sekunder ..............................1.5..... Etiologi Dismenore ...1......................................... Definisi Dismenore ..................................7........................ Etiologi Dismenore Primer ......... Gejala Klinis Dismenore ................................3..................8.........................2...................

................................2............................. 4........................2...............................1..................... 4.....3........... 4............................ 3..3.....................1.. Hasil Penelitian .............................. 5.............5...................................3..3... Jenis Penelitian............2.......... 5............. Deskripsi Lokasi Penelitian .......1.......................2....... Sample Penelitian...... 4.2................................ 6.................3.........1.................................. Kesimpulan ..................................................1... 4...............................................2.................... Pembahasan ...........6..... 5..... Deskripsi Karakteristik Responden .................................................. 3......1.......... 3.......2.........................2.... 3......... Waktu Penelitian ............................................ 3....1...................................1.......................... 3.... Saran ..........5................................................ Populasi Penelitian ..............…………………….................... 4...............................4.........vi BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL……............................................3.... Dismenore......2....... Subjek Penelitian........……………………............................................................................................... BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.....2.......... Definisi Operasional. BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN………………....................................................... Lokasi Penelitian ................... 4............. LAMPIRAN 36 .... Olahraga........3.... Cara Ukur………………….... Populasi dan Sampel Penelitian ............1......................................... Kerangka Konsep Penelitian............................................. Alat Ukur..... Metode Pengolahan dan Analisis Data ............1............1......... Kriteria Eksklusi .........................................2.................................... 3...... 5..............1.............................. 6................ Kriteria Inklusi ........ 4.............. 4.................... Hipotesis..........................................2.. 3.......................... Teknik Pengumpulan Data ................ 16 16 16 16 17 17 17 18 18 18 19 19 19 19 19 19 19 20 20 20 21 21 22 22 22 22 23 30 34 34 35 DAFTAR PUSTAKA.2......................................... Lokasi dan Waktu Penelitian ............ 5........................1..... Hasil Analisa Data ....................................3................ 4................... BAB 4 METODE PENELITIAN…………………………………………… 4. Skala Pengukuran…………...2........1......... 3.................................................................4......

7 Distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan frekuensi gangguan aktivitas sehari-hari. 26 5. 25 5. 30 .9 Distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan frekuensi keperluan obat tahan sakit (analgesik).5 Distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan frekuensi gejala. 28 5.6 Distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan distribusi frekuensi gejala sistemik. 27 5.8 Distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan frekuensi gangguan kemampuan kerja.vii DAFTAR TABEL Nomor 2.4 Distribusi frekuensi dismenore Distribusi frekuensi kebiasaan olahraga.1 3.2 5. 23 24 24 5.1 Judul Tingkat Keparahan Dismenore Tingkat Keparahan Dismenore Halaman 9 17 23 5. Distribusi frekuensi kebiasaan olahraga berdasarkan frekuensi dismenore.3 5.1 Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan usia 5. 29 5.10 Distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan berdasarkan tingkat keparahan dismenore.

viii DAFTAR GAMBAR Nomor Gambar 2.1 Judul Skema Patofisiologi Dismenore Halaman 7 .

C4. D4. B4. E4) Magnetic Resonance Imaging Obat Anti-Inflamasi Non Steroid Prostasiklin Prostaglandin E2 Prostaglansin F2α Penyakit Radang Panggul Tromboksan A2 . D4.ix DAFTAR SINGKATAN AKDR COX FSH GnRH IUD LH LT (A4. C4. E4) MRI OAINS PG 12 PGE2 PGF2α PRP TX A2 Alat Kontrasepsi dalam Rahim Cyclooxygenase Folikel Stimulating Hormone Gonadotropin-Releasing Hormone Intrauterin Device Luteinizing Hormone Leukotrien (A4. B4.

diperkirakan mempengaruhi 60% sampai 90% perempuan pada usia produktif. 17% melaporkan absensi dari kantor dan 36% mengadukan nyeri haid sedang atau berat (Burnett. 2004). 2005). Keluhan ini mungkin merupakan penyebab utama banyaknya absensi baik dari sekolah maupun dari kantor di kalangan wanita muda (Havens. dengan lima hingga dua puluh persen dilaporkan mengalami dismenore berat atau menghambat mereka dari berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari (Harlow. Penelitian lain di India menemukan 55% wanita yang berusia 18 hingga 45 tahun mengalami dismenore dengan catatan terdapatnya 18% mengalami dismenore berat (Patel. Prevalensi dismenore primer cenderung lebih tinggi pada remaja putri dibanding dengan wanita yang lebih dewasa (Proctor. 2002). Dismenore dikelompokkan menjadi dua. 2006). salah satu keluhan ginekologi yang paling umum.7% dari wanita usia dewasa muda melaporkan beberapa unsur nyeri haid (Patruno. Dismenore. Diantaranya. Dalam penelitian di Kanada menemukan 60% wanita mengalami dismenore primer dengan 51% melaporkan keterbatasan kegiatan sehari-hari. yaitu dismenore primer dan dismenore sekunder. 2006). Sepuluh persen daripada wanita usia 24 tahun melaporkan nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari (French.1. 2005). 59.1 BAB 1 PENDAHULUAN 1. Studi peninjauan sistematis di negara-negara berkembang menemukan bahwa 25-50% wanita dewasa dan sekitar 75% dari remaja mengalami sensasi nyeri selama menstruasi. 2006). 2005). 2007). Latar Belakang Istilah dimenore (dysmenorrhea) berasal dari Yunani berarti nyeri haid yang terjadi sebelum dan selama siklus menstruasi pada wanita (Perheentupa. Prevalensi dismenore primer berkurang dengan bertambahnya usia dan semakin menurun setelah usia 24 tahun (Dawood. Dismenore primer mengacu sebagai nyeri haid tanpa .

Sedangkan dismenore sekunder didefinisikan sebagai nyeri haid yang dikaitkan dengan kelainan pelvis yang mendasarinya (Stenchever. Tujuan Penelitian 1. 1. diduga disebabkan oleh peningkatan sekresi prostaglandin oleh endometrium sehingga menyebabkan kontraksi uterus abnormal yang diikuti dengan pengurangan aliran darah rahim dan terjadinya sensasi nyeri akibat iskemik (Dawood.1. Rapkin. Berdasarkan hal tersebut di atas. Wanita yang berolahraga sekurang-kurangnya satu kali seminggu dapat menurunkan intensitas rasa nyeri dan ketidaknyamanan pada bagian bawah abdominal. Rumusan Masalah Dengan memperhatikan latar belakang permasalahan yang ada maka pokok permasalahan adalah untuk menentukan apakah adanya hubungan kebiasaan olahraga dengan dismenore pada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012? 1. Namun. Tujuan Umum Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kebiasaan berolahraga dengan dismenore pada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012. 2001).3. Pada wanita yang aktif secara fisik dilaporkan kurang terjadinya dismenore.3.2. 2007). .2 kelainan anatomi atau pelvis. Fenomena ini kemungkinan diinduksi oleh endorfin yang dilepaskan di sirkulasi selama olahraga (Irwin. hanya beberapa studi yang telah meneliti efek latihan fisik terhadap dismenore (Carlberg. Tampaknya secara umum dipercayai bahwa olahraga dapat mengurangkan gejala dismenore. 2007). 2001. 2006). peneliti akan mencoba melakukan penelitian tentang hubungan kebiasaan olahraga dengan dismenore pada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012 supaya dapat mencari alternatif terapi yang mudah dilaksanakan tanpa memerlukan obat-obatan untuk mengatasi masalah dismenore serta meningkatkan kebiasaan berolahraga di kalangan siswi.

2. Mengetahui kejadian dismenore pada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012. 2. Menambahkan kepustakaan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan mengenai dismenore. Tujuan Khusus Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah: 1. Memahami hubungan kebiasaan olahraga dengan dismenore serta memberikan informasi kesehatan reproduksi mengenai upaya penanganan dan pencegahan dismenore. 4. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk: 1. 3.2. Mengetahui kebiasaan olahraga siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012.3 1. Menjadi masukan bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemberian asuhan kesehatan reproduksi wanita. Sebagai landasan untuk penelitian sejenis selanjutnya yang terkait dengan dismenore. 1.3. . Mengetahui tingkat keparahan dismenore pada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012.4. 3.

khususnya PGF2α dan PGE2. diduga peningkatan kadar prostaglandin. Epidemiologi Dismenore Prevalensi dismenore sulit untuk ditentukan karena terdapat perbedaan definisi dalam pelbagai kondisi dan perbedaan kelompok studi.4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. 2011). diduga meningkatkan kontraksi .3.1. diperkirakan prevalensi dismenore bervariasi dari 60% hingga 90% (Dang.1. Sedangkan dismenore sekunder adalah sensasi nyeri selama menstruasi. Prostaglandin. dan pelepasan vasopressin selama peluruhan endometrium memegang peranan utama dalam simtomatologi dismenore. Antaranya.1.2. Dismenore Gangguan haid dilaporkan sebagai sebahagian besar masalah yang menyebabkan morbiditas wanita pada usia reproduktif. Definisi Dismenore Dismenore adalah sakit saat menstruasi hingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari (Manuaba. dan mempunyai patologi panggul yang nyata (Morgan. 2. Dismenore dibagi menjadi dua berdasarkan penyebabnya yaitu dismenore primer dan sekunder. tetapi tidak berkaitan dengan penyebab fisik yang nyata. Dismenore primer adalah sensasi nyeri selama menstruasi. 2001). dismenore adalah salah satu masalah ginekologis yang paling umum pada wanita usia reproduksi (Fritz.1. 2001).1. 2.3. 2. 2010).1. Etiologi Dismenore 2. Etiologi Dismenore Primer Penyebab utama dismenore primer tidak diketahui. leukotriens. dan merupakan salah satu daripada empat sebab mereka konsultansi ke dokter umum (Warner. Namun. 2009).1.

penyakit radang panggul (PRP).5 miometrium sehingga terjadi iskemia uteri dan sensitivitas saraf terminalis. produk kontrasepsi yang tertinggal setelah abortus spontan. polip atau fibroid uterus. atau melahirkan serta kanker ovarium atau uterus (Morgan. Respon inflamasi yang dimediasi oleh prostaglandin juga menimbulkan gejala sistemik seperti nausea. Dismenore sekunder dapat disebabkan oleh endometriosis. Setelah ovulasi. 2009). . perdarahan uterus disfungsional.3. dan kadar prostaglandin yang dilepaskan dalam cairan haid (Vuong. Hal ini kemudian mencetuskan suatu respon inflamasi yang menyebabkan kontraksi abnormal pada uterus.4.2. atau terjadi hipersensitivitas saraf tepi (Dang. terjadi progesteron withdrawal sehingga asam lemak khususnya asam arakidonat dilepaskan dan menginisiasi kaskade prostaglandin dan leukotrien dalam uterus.1. terjadi penumpukan asam lemak pada fosfolipid membran sel sebagai respon terhadap progesteron. 2006).1 Patofisiologi Dismenore Primer Nyeri menstruasi yang terjadi pada dismenore primer terutama disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi hiperkontratilitas uterin. Prostaglandin dan Leukotrien Terjadinya dismenore primer. kurangnya aliran darah ke uterin. Patofisiologi Dismenore 2. maladaptasi pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). prolaps uterus. 2010). 2010). abortus terapeutik.1. muntah.2 Etiologi Dismenore Sekunder Penyebab dismenore sekunder bergantung pada kelainan yang terjadi pada panggul. Kemudian tepat sebelum menstruasi. jumlah aliran menstruasi. 2. berhubungan dengan siklus ovulasi yang normal tanpa disertai kelainan patologi pada panggul yang jelas. Tingkat keparahan dismenore sangat berkorelasi dengan durasi mentruasi. 2. perut kembung dan sakit kepala (Dang.4.

dan akhirnya menyebabkan hipoksia pada uterus dan hipersensitivitas miometrium (Dang. Leukotrien sudah dikenal sebagai faktor yang menyebabkan hipersensitivitas serabut nyeri pada uterus. Walaupun peran dan mekanisme leukotrien dalam peristiwa dismenore masih belum jelas. Peningkatan produksi leukotrien melalui jalur yang melibatkan enzim 5-lipo-oksigenase dan bukannya melaui jalur siklooksigenase (COX) meningkatkan kemungkinan bahwa tipe dismenore yang tertentu tidak beresponsi terhadap terapi OAINS (Dang. Vasopresin Vasopresin merupakan suatu hormon yang dilepaskan oleh kelenjar pituitari posterior. Hal ini dikemukakan karena ditemukan kadar leukotrien yang meninggi pada wanita dewasa yang mengalami dismenore. 2010). 2010). Perbandingan PGF2α: PGE2 yang abnormal memicu terjadinya dismenore (Dang.6 Diketahui bahwa kebanyakkan wanita dengan dismenore primer melepaskan prostaglandin F2α (PGF2α) yang luar biasa tinggi dalam cairan menstruasi dan jaringan endometrium. . Intensitas kram dan gejala lain yang terjadi saat menstruasi berbanding lurus dengan kadar progesteron yang dilepaskan. PGF2α yang dilepaskan ini akan menyebabkan vasokonstriksi dan kontraksi miometrium sehingga terjadi kram. tetapi substansi ini merupakan vasokonstriktor dan mediator inflamasi yang poten. Dikemukakan bahwa peningkatan kadar vasopresin saat menstruasi menyebabkan kontraksi disritmia pada uterus diikuti dengan penurunan aliran darah ke uterus. peranan vasopressin dalam menyebabkan dismenore belum diketahui. Akan tetapi. 2010).

metroragia.7 Withdrawal progesteron Fosfolipase A2 5lipoksigenase Fosfolipid membran sel Asam arakidonat Leokotrien (LT) A4 Sikloksigenase Siklik Endoperoksida PGE2 PGF2-α PG12 (Prostasiklin) Kontraksi dan vasokonstriksi miometrim LT-B4 LT-C4 TXA2 Tromboksan A2 LT-D4 LT-E4 Nyeri Gambar 2. dispareunia.1.2.4. . Mekanisme patologi nyeri yang berhubungan dengan dismenore sekunder khususnya disebabkan oleh etiologi yang mendasarinya (Dang. Respon inflamasi diperantarai oleh PG dan LT seperti yang ditampilkan di atas. nyeri siklus pertengahan (nyeri yang berlangsung terus-menerus atau intermiten). Dismenore sekunder biasanya ditemukan dengan nyeri pelvik yang kronik. Dismenore Sekunder Dismenore sekunder adalah rasa nyeri saat menstruasi yang disertai dengan abnormalitas pada panggul. atau menoragia. 2010). (Dang. 2010) 2.1 Skema patofisiologi dismenore. PG = prostaglandin. LT = leukotrien.

pening.5. sehingga terjadinya dismenore dan menoragia. Tingkat rasa nyeri terutama dipengaruhi oleh lokasi dan kedalaman terjadinya implant endometriosis (Dang. gelisah.1. Gejala Klinis Dismenore 2.5. 2. atau apabila siklus ovulasi menjadi teratur. dispareunia dan gangguan dalam menstruasi (Dang. Hal ini ditandai dengan nyeri abdominal (daerah suprapubik) yang berfluktuasi dan kram spasmodik yang biasanya dimulai beberapa jam sebelum atau saat terjadinya menstruasi. 2010. Endometriosis merupakan kelainan yang estrogen-dependent. 2010).1. gementar. Adenomiosis adalah kondisi lain yang jinak pada uterus di mana endometrium (membran mukosa yang melapisi bagian dalam uterus) tumbuh ke dalam miometrium (otot uterus yang tepat pada bagian luar endometrium). Akibat akumulasi estrogen dan prostaglandin. berkeringat. perut kembung. nyeri pada paha. Umumnya. rasa nyeri pada payudara dan perubahan suasana hati (Dang. penyebab umum dismenore sekunder. Pertumbuhan jaringan endometrium terutama terjadi pada panggul dan umumnya pada ovarium.8 Endometriosis. sinkop. Patruno. . dismenore juga disertai dengan nyeri punggung. tarkikardia. meningkatnya frekuensi defekasi. Peninggian kadar estrogen mungkin berperan dalam peningkatan aktivitas COX dan diikuti dengan peningkatan produksi prostaglandin. 2006). nausea. muntah. kira-kira 6-12 bulan setelah menarke. kelelahan. merupakan pertumbuhan jaringan endometrium di luar rongga uterus (etopik). sakit kepala. Etiologi lain seperti yang telah dipaparkan di atas yang mengakibatkan suatu distorsi dan displacement uterus yang normal umumnya juga berhubungan dengan nyeri panggul kronis. Gejala Klinis Dismenore Priner Dismenore primer biasanya ditemukan pada remaja. pusing. terjadi suatu proses peradangan yang poten disertai dengan nyeri panggul. 2010). Rasa nyeri yang paling hebat terjadi pada 24-48 jam pertama dari onset menstruasi.1. muah. dan gejala-gejalanya dapat berlanjutan sampai 72 jam.

Tingkat Keparahan Dismenore Dismenore dibagi dalam beberapa tingkat keparahan berdasarkan gejala sistemik yang mengalami. 2010).9 2. 2010) . Unsal. tergantung pada kondisi yang mendasarinya (Dang. Dismenore sekunder juga disertai dengan gejala ginekologi yang lain seperti dispareunia. umumnya pada wanita setelah usia 25 tahun. kemampuan kerja dan keperluan analgesik. 2. dan perdarahan pasca-koitus. 2004. lelah.5. Dismenore sekunder harus dicurigai bila nyeri muncul pada seseorang wanita yang berusia 30-an atau 40-an dan nyeri berrsifat unilateral (Morgan. # Gejala vegetative positif (sakit kepala.6. perdarahan intermenstrual.1. 2009). gangguan aktivitas sehari-hari. muntah. infertilitas. dan diarea) (Tangchai.2.1.1. menoragia. Gejala Klinis Dismenore Sekunder Dismenore sekunder bisa terjadi kapan saja setelah menarke. Tingkat keparahan dismenore dapat dilihat pada Tabel 2. Rasa sakit yang berhubungan dengan dismenore sekunder biasanya dimulai beberapa hari atau 1-2 minggu sebelum timbulnya perdarahan atau menstruasi dan dapat berlangsung sampai akhir fase menstruasi. Tabel 2.1 Tingkat keparahan dismenore Tingkat Keparahan Ringan (Derajat 1) Sedang (Derajat 2) Berat (Derajat 3) * Sangat terganggu Sangat terganggu Aktivitas Sehari-Hari Jarang menganggu Terganggu Kemampuan Kerja Jarang terganggu Terganggu Terdapat beberapa #Sangat jelas Gejala Sistemik Tidak ada Jarang diperlukan Sangat membantu Tidak membantu Analgesik * Sehingga memerlukan istirahat.

2. apabila tidak ada perbaikan. 2004). Tidak ada tes laboratorium yang khusus diperlukan. Diagnosa Dismenore Primer Dalam mendiagnosa dismenore primer. Histeroskopi dan laparaskopi biasanya dilakukan sebagai prosedur diagnostik untuk mengolongkan dan mengobati kelainan yang mendasari dismenore sekunder (Rothblatt.1. 2002). Di samping itu. kontraseptif oral. atau keduanya (Dang. sedikit berespon atau langsung tidak berespon terhadap obat anti-inflamasi non steroid (OAINS).1. 2002). 2002). Tidak adanya pertemuan positif dalam pemeriksaan fisik adalah kunci diagnosis pada dismenore primer (Dang. 2010). Diagnosis Dismenore 2. Permeriksaan radiografi yang paling sering digunakan adalah ultrasonografi panggul disertai dengan transabdominal dan transvaginal sebagai pemeriksaan penunjang untuk diagnosis dismenore sekunder. perdarahan menstruasi yang berat atau pola haid yang tidak teratur.7.1. Pemeriksaan klinis ini biasanya dilakukan selama tiga sampai empat bulan. atau keduanya dapat digunakan untuk tujuan diagnostik apabila pemeriksa mencurigai suatu kelainan yang merupakan dismenore primer. hasil pemeriksaan fisik menunjukkan suatu kelainan organik (Ostrzenski.1. 2010). Diagnosa Dismenore Sekunder Penderita dismenore sekunder tidak mempunyai riwayat nyeri sebelumnya.7.10 2.7.2. anamnese yang cermat dan pemeriksaan fisik (termasuk pemeriksaan panggul palpasi rektovaginal) diperlukan untuk menyingkirkan keadaan patologi pada panggul (Ostrzenski. Terapi dengan inhibitor prostaglandin sintetase. kontrasepsi oral. . evaluasi yang lebih lanjut diperlukan untuk membedakan dismenore primer dari dismenore sekunder (Ostrzenski. riwayat nyeri pertama kali terjadi setelah usia 25 tahun.

akupuntur dan intervensi yang lain olahraga seperti Haman’s exercises juga dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan pengobatan atau terapi adjuvan terhadap dismenore (Wang. Penatalaksanaan 2. Kontraseptif oral dapat mengurangkan jumlah dan durasi aliran menstruasi serta menurunkan frekuensi siklus menstruasi pada wanita yang mengalami haid dengan interval yang pendek (Rothblatt.1. 2005 ). dan asam mefenamat mempunyai hasil yang efektif terhadap dismenore (Rothblatt. . Sachdeva. kombinasi kontraseptif oral sangat dianjurkan sebagai first-line therapy. Oleh hal yang demikian. 2004). 2. Untuk pasien yang ingin berkontrasepsi atau intoleransi terhadap OAINS.11 2. 2004).8. 2004).8. Penatalaksanaan Non-Farmakologi Tingkat kegagalan pegunaan OAINS sebagai kontrol bisa mencapai 2025%. ibuprofen. Dari penelitian menunjukkan bahwa OAINS seperti naproxen. 2011. penatalaksanaan harus menuju terhadap penyakit yang mendasarinya (Rothblatt. Pasien harus mulai mengkonsumsi OAINS saat terjadinya menstruasi atau sebelum terjadinya menstruasi.1. maka diagnosis dismenore primer harus dipertanyakan supaya evaluasi yang lebih lanjut (termasuk laparaskopi) harus dianjurkan. Bila OAINS dan kontrasepsi oral tidak berhasil dalam pengurangan rasa sakit pada pasien yang mengalami dismenore. Bila penderita dismenore sekunder dengan penyebab yang jelas seperti stenosis servikal atau IUD.1 Penatalaksanaan Farmakologi Pengobatan dismenore primer bertujuan untuk menurunkan produksi prostaglandin dan pelepasannya dari endometrium dan OAINS merupakan pendekatan yang efektif sebagai first-line therapy. 2005). Bedah (pelvikskopi) baik digunakan sebagai diagnostik maupun terapeutik dijamin kualitasnya pada penanganan dismenore sekunder (Sachdeva.8.2.1.

berjalan.1. 2. naik tangga. Contohnya. Latihan weight bearing merupakan latihan yang melawan gaya gravitasi. lompat tali. Contohnya. meningkatkan efisiensi pengangkutan oksigen ke jaringan serta meningkatkan kadar high-density lipoprotein (HDL). Latihan ini mengurangkan resiko penyakit jantung koroner dan tekanan darah tinggi dengan memperkuat jantung dan paru-paru.12 2. jogging. 2004). melebarkan pembuluh darah. . yoga. tai chi. meningkatkan massa tulang dan ketangkasan serta keseimbangan. berenang. Contohnya. juga disebut latihan ketahanan (endurance exercise) meningkatkan denyut jantung dan kebutuhan terhadap oksigen secara signifikan. Bukti terkini menunjukkan bahwa latihan ini membantu meningkatkan metabolisme saat istirahat sehingga mempermudahkan seseorang menurunkan atau mempertahankan berat badan secara sehat. dan qi gong semuanya bisa meningkatkan keseimbangan dan fleksibilitas (Carlson.2. menaik tangga dan menari (Carlson. Tipe Latihan Olahraga Secara umum. 2004).2. bersepeda menanjak atau jarak jauh. Latihan aerobik. menari dan memain tenis (Carlson. Hal ini penting untuk meminimalkan resiko ketegangan dan tarikan otot baik selama olahraga maupun selama aktivitas sehari-hari. 2004). Latihan fleksibilitas menekankan peregangan otot dan mobilisasi sendi. program fitness/ olahraga yang lengkap untuk wanita mencakup 3 tipe latihan yang dasar yaitu latihan fleksibilitas. latihan aerobik dan latihan weight-bearing (Carlson. 2004). tetapi juga kegiatan jasmani pada waktu senggang sebagai pelepas lelah untuk tujuan pembinaan kebugaran jasmasi (Lutan. berjalan cepat. jogging. mendaki. latihan beban. 2007). Olahraga Olahraga mencakup pengertian yang luas bukan hanya olahraga kompetitif yang berisi kegiatan perlombaan untuk memperagakan prestasi yang optimal.

kelompok ini tidak berolahraga atau tidak berpartisipasi dalam olahraga secara teratur. menonton televisi. seseorang yang berpatisipasi dalam olahraga yang sedang hingga berat seperti jogging/ berlari. 2004). 2.13 Walaupun terdapat berbagai tipe latihan yang dasar. Contohnya. American College of Sports Medicine dan American Heart Association merekomendasikan latihan aerobik intensitas sedang selama 5 hari (150 menit) atau latihan intensitas berat selama 3 hari dalam satu minggu (Heyward. sedang (aktif). 2004). membaca. Contohnya. Kelompok sedentary atau gaya hidup dengan aktivitas ringan melakukan pekerjaan yang tidak memerlukan tenaga fisik. diyakini pada saat ini yang paling efektif hampir untuk semua wanita adalah melakukan latihan aerobik intensitas sedang kira-kira 30 menit setiap hari (Carlson. dan menghabiskan sebagian besar waktu terluang mereka dengan duduk atau berdiri dengan pemindahan posisi tubuh yang minimal (misalnya. Tingkat Aktivitas Fisik Aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari dapat dibagi dalam beberapa tingkatan. dan umumnya menggunakan kenderaan bermotor sebagai transportasi. mendengar radio. tarian aerobik atau berbagai . seseorang laki yang bekerja di kantor daerah kota yang jarang melakukan kegiatan fisik selama atau di luar jam kerja (Food and Agriculture Organization of the United Nations. bersepeda. tidak perlu berjalan jauh. Selain itu. mengunakan komputer). 2004). 2010). kelompok ini kemungkinan terdiri dari individu yang mempunyai pekerjaan yang beraktivitas rendah tetapi sering berpartipasi dalam olahraga atau aktivitas fisik yang sedang hingga berat secara teratur. yaitu aktivitas ringan (sendentary). Selain itu. Kelompok aktif atau gaya hidup dengan aktivitas sedang melakukan pekerjaan yang memerlukan kebutuhan energi yang sederhana.2. namun mengkomsumsi energi yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok gaya hidup dengan aktivitas ringan. berbicara.2. Hal ini lebih ideal lagi jika dilengkapi dengan beberapa sesi latihan beban dan latihan peregangan (Carlson. dan berat (vigorous).

2001). 2004). 1997). Kelompok vigorous atau gaya hidup dengan aktivitas berat berpartisipasi dalam kerja yang berat secara teratur atau kegiatan rekreasi yang berat selama beberapa jam. Bryant. . Pelepasan endorfin akibat olahraga berfungsi untuk menstimulasi asupan makanan dan melegakan rasa nyeri (Bijlani. 2007. ditemukan bahwa kadar beta-endorfin lebih tinggi pada wanita yang berolahraga dibandingkan dengan kontrol yang kurang beraktivitas secara fisikal (sedentary) (Arena. 2001). Tiga puluh delapan dari seratus wanita yang mengalami dismenore sering menggunakan terapi medikal untuk mengurangi nyeri haid mereka (Ostrzenski. (Vad. tetapi kebanyakkan dari mereka tidak mengunjungi layanan kesehatan (Dang. Di samping itu. 2. 2010). 2010). gejala dismenore berkurang atau dapat menghilang pada perempuan yang melakukan olahraga secara teratur (Carlberg. Dalam hal ini. Fenomena ini kemungkinan diinduksi oleh endorfin atau prostaglandin yang dilepaskan di sirkulasi selama olahraga (Irwin. 2010. endorfin juga berfungsi menurunkan sensitivitas terhadap rasa nyeri (Vad. Endorfin mempunyai fungsi yang mirip dengan opiat yang memberikan efek analgesia. 2004). Bijlani. Kadar endorfin yang tinggi menurunkan tingkat peradangan dalam tubuh.14 kegiatan olahraga satu jam sehari (Food and Agriculture Organization of the United Nations.2. Wanita yang berolahraga sekurang-kurangnya satu kali seminggu dapat menurunkan intensitas rasa nyeri dan ketidaknyamanan pada bagian bawah abdominal dibandingkan dengan wanita yang berolahraga kurang dari satu kali seminggu.3. 2010). Dismenore dan Olahraga Meskipun prevalensi dismenore tinggi pada remaja dan dewasa muda. berdasarkan hasil tinjauan sistematis beberapa tahun terakhir ditemukan bahwa latihan fisik dapat menurunkan resiko dismenore (Dang. Rata-ratanya. 2010). wanita yang mempunyai pekerjaan yang berat dan berenang atau menari rata-rata dua jam setiap hari (Food and Agriculture Organization of the United Nations. Akan tetapi. Contohnya. rasa nyeri dan efek negatif akibat dari stres (Vad. 2002). 2004). 2004).

2010). Oleh karena itu. 2001). tidak banyak studi yang dapat membuktikan fakta ini. tidak berolahraga sejak usia muda dan olahraga kurang dari 2 jam seminggu lebih rentang terhadap endometriosis (Carlberg. 2000). Namun. secara umum olahraga dipercaya dapat bermanfaat dalam mengurangi gejala dismenore. akan tetapi gejala pada wanita muda yang menderita dismenore primer dapat berkurang. Cramer et al. sekresi endorfin yang tinggi selama latihan olahraga juga menghambat pelepasan gonadotropin-releasing hormone (GnRH) dari hipotalamus. Studi prospektif menunjukkan bahwa walaupun hanya dengan olahraga ringan. McMurray. mendapati bahwa wanita yang mempunyai riwayat tidak berolahraga dengan teratur.15 Wanita yang berolahraga secara teratur dapat menurunkan kadar estrogen dan progesteron serta irregular menstruasi atau amenore (Rahl. Penurunan GnRH mensupresi pulsasi luteinizing hormone (LH) dan folikel stimulating hormone (FSH) dan seterusnya menurunnya kadar estrogen dan progesteron. Penurunan kadar progesterone akan menurunkan insidensi terjadinya dismenore (Arena. 2001. Selain itu. Begitu juga dengan dismenore sekunder. .

Definisi Operasional 3.2. . Dismenore digolongkan sebagai negatif (-) bila subjek tidak mengalami nyeri haid (kram perut). Dismenore digolongkan sebagai positif (+) bila subjek mengalami nyeri haid (kram perut) dan diklasifikasikan mengikut tingkat keparahan dismenore yaitu dismenore ringan. sedang dan berat berdasarkan gejala sistemik yang mengalami.1. Kerangka Konsep Penelitian Pada penelitian ini akan dikaji tentang hubungan kebiasaan olahraga dengan dismenore pada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012.2.2. Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah: Variabel Independen Kebiasaan Olahraga  Ada  Tidak ada Variabel Dependen   Dismenore Ada Tidak ada 3.1. Dismenore Dismenore adalah nyeri haid yang terjadi sebelum (24-48 jam) dan selama siklus menstruasi. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini terdiri dari siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012. gangguan aktivitas sehari-hari.16 BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.2. 3. Variabel independen adalah kebiasaan olahraga sedangkan variabel dependennya pada penelitian ini adalah dismenore.

Subjek digolongkan ke dalam kelompok olahraga negatif (-) bila subjek berolahraga kurang dari 60 menit seminggu (boleh dibahgi menjadi enam sesi dengan satu sesi selama 10 menit). lelah.3. dan keperluan analgesik sebelum (24-48 jam) dan selama siklus menstruasi. 3.3. Olahraga Olahraga yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah olahraga aerobik yang menggunakan pelbagai kumpulan otot (dipertahankan secara berterusan atau secara berirama) sehingga terjadinya peningkatan denyut jantung dan frekuensi pernafasan untuk memenuhi kebutuhan oksigen oleh tubuh.17 kemampuan berkerja. Responden akan diberikan daftar lampiran pertanyaan yang berkaitan dengan dismenore dan kebiasaan olahraga. dan diarea) 3. muntah. # Gejala vegetatif positif (sakit kepala. Subjek digolongkan ke dalam kelompok olahraga positif (+) bila subjek berolahraga lebih dari 60 menit seminggu (boleh dibahgi menjadi enam sesi dengan sesi satu sesi selama 10 menit). Daftar pertanyaan berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan responden digunakan sebagai pedoman pengelompokan responden . Cara Ukur Penelitian ini akan dilaksanakan untuk pengumpulan data dengan penyebaran angket yaitu pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner kepada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012.1 Tingkat keparahan dismenore Tingkat Keparahan Ringan (Derajat 1) Sedang (Derajat 2) Berat (Derajat 3) Aktivitas Sehari-Hari Jarang menganggu Terganggu * Sangat terganggu Kemampuan Kerja Jarang terganggu Terganggu Sangat terganggu Gejala Sistemik Tidak ada Terdapat beberapa #Sangat jelas Analgesik Jarang diperlukan Sangat membantu Tidak membantu * Sehingga memerlukan istirahat. Tabel 3.2.

2009).18 masing-masing sesuai dengan tingkat keparahan dismenore dan kebiasaan olahraga yang berbeda. Alat Ukur Penelitian ini menggunakan daftar lampiran pertanyaan yang berkaitan dengan dismenore dan kebiasaan olahraga yang disediakan dalam bentuk kuensioner sebagai alat ukur. 3. 2002). tetapi antara kelompok itu ada hubungan (rangking). (Wahyuni. 2009) 3. 3. Pengukuran ini tidak hanya membagi objek menjadi kelompok-kelompok yang tidak tumpang tindih.5.4.6. atau sebaliknya dari jenjang yang paling tinggi sampai yang paling rendah (Wahana. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapatnya hubungan kebiasaan olahraga dengan dismenore. subkategori masih bersifat kualitatif seperti pada skala nominal. Ciri data dengan skala ordinal adalah adanya perbedaan antar-subkategori (Budiarto. Pada skala ordinal. Skala ordinal termasuk skala statistik yang diurutkan dari jenjang yang paling rendah sampai ke jenjang yang paling tinggi. Skala Pengukuran Skala pengukuran yang digunakan untuk penelitian ini adalah skala ordinal. .

Waktu Penelitian Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juli tahun 2011 setelah mendapatkan Ethical Clearance dari komisi etik. Pendekatan yang digunakan pada desain penelitian ini adalah studi potong lintang (cross sectional study). . Populasi Dan Sampel Penelitian 4.19 BAB 4 METODE PENELITIAN 4. Tujuan studi ini adalah meneliti subjek-subjek populasi untuk menegaskan hubungan antara penyakit dan variable kepentingan saat mereka berada dalam kelompok pada waktu tertentu.1.3.1. Lokasi Dan Waktu Penelitian 4. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian yang terpilih adalah SMA Santo Thomas 1 Medan.3. Populasi Penelitian Populasi yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012 yang terdiri daripada golongan remaja yang mempunyai prevalensi mengalami dismenore primer cenderung lebih tinggi.1. Alasan pemilihan lokasi ini adalah karena lokasi ini mempunyai populasi yang ingin diteliti yaitu siswi yang terdiri daripada golongan remaja.2. 4. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan metode deskriptif-analitik di mana penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan kebiasaan olahraga dengan dismenore pada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012.2. 4.2. 4.2.

59 9.1. Sampel Penelitian Sampel penelitian akan diambil secara acak dengan menggunakan simple random sampling. 4.64 = 86. Semua sampel yang didapat dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah sampel yang dibutuhkan terpenuhi.5) 834.1.96) = Proporsi populasi (0. Dalam menentukan minimal sampel yang akan diteliti ditentukan dengan menggunakan rumus Lemeshow (1994) dalam Wahyuni (2009) sebagai berikut: n= Z2 · P (1-P) · N d · (N-1) + Z2 · P (1-P) 2 Keterangan : N n d Z P n= = = Besar populasi (869) = Besar sampel = Kesalahan absolute yang dapat ditolerasi (0. Tidak bersedia ikut serta dalam penelitian. Tidak mengisi kuesioner secara lengkap. 4.5 (1-0. Kriteria Inklusi 1.12 · (869-1) + 1.2 Kriteria Eksklusi 1.962 · 0.1.57 ≈ 87 .5 (1-0. Siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012. Belum mengalami menarke atau sedang hamil. Penderita dismenore sekunder. Sedang atau sudah pernah mengalami menstruasi.1) = Tingkat Kepercayaan (95% = 1.2.5) · 869 0.962 · 0. 2. 3.3.3. 4.20 4. 2.5) 1.3.

4. .5. Data diperoleh langsung dari responden melalui angket yaitu pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner kepada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012.4. Responden akan diberikan daftar lampiran pertanyaan kombinasi antara pertanyaan tertutup yang berkaitan dengan dismenore dan kebiasaan olahraga.21 Dengan besar populasi siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011 yang berjumlah 869 orang dan berdasarkan rumus diatas maka minimal sampel yang diperlukan dalam penelitian ini adalah 87 orang. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data untuk penelitian ini diperoleh dari data primer. Metode Pengolahan dan Analisa Data Data yang terkumpul dari setiap responden penelitian akan dianalisis dengan menggunakan program Statistic Package for Social Science (SPSS) di mana hubungan kebiasaan olahraga dengan dismenore akan diuji dengan metode uji Chi Square. Data yang diperoleh akan disusun dan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram batang (diagram balok). 4.

20 WIB.Parman No.1.2.1. ruang guru.1. 5. 4 ruang laboratorium. 5. Semua data yang diperoleh adalah data primer yang langsung diperoleh dari responden. ruang tata usaha. Setelah kegiatan belajar selesai terdapat kegiatan ekstrakulikuler dan les tambahan bagi para siswa. SMA Santo Thomas 1 merupakan salah satu SMA di Medan yang statusnya terakreditasi A (sangat baik). aula serba guna. Sebelah barat sekolah ini adalah kompleks perumahan. Deskripsi Lokasi Penelitian SMA Santo Thomas 1 Medan didirikan oleh Vikariat Apolostik Medan pada tahun 1955.22 BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5. Hasil Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik yang mengkaji hubungan antara kebiasaan olahraga dan dismenore dengan menggunakan siswi SMA Santo Thomas 1 tahun 2011/2012 sebagai subjek penelitian. lapangan olah raga. sebanyak 89 responden dipilih dari beberapa kelas SMA Santo Thomas 1 tahun 2011/ 2012. perpustakaan. SMA ini berada di pusat kota tepatnya bertempat di Jalan Jendral S. . 109 Medan. Deskripsi Karakteristik Responden Dalam penelitian ini. Sekolah ini memiliki bangunan yang berbentuk persegi dan mempunyai satu lapangan. Kegiatan belajar berlangsung dari pukul 7. studio musik. Sampel yang diambil diseleksi menurut kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Bangunan sekolah ini terdiri dari 33 ruang kelas. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2011. sebelah timur adalah SMA Santo Thomas 2 Medan dan SMP Santo Thomas 4 Medan. dan ruang kepala sekolah.20 WIB hingga pukul 13.1. Subjek penelitian ini diambil secara acak dengan menggunakan teknik simple random sampling. kantin.

23

Gambaran

karakteristik

responden

dalam

penelitian

ini

diamati

berdasarkan usia responden. Data lengkap tentang distribusi frekuensi usia responden dapat dilihat pada tabel 5.1. Tabel 5.1. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan usia Usia 15 16 17 18 19 Jumlah Frekuensi (n) 1 21 63 3 1 89 Persentase (%) 1,1 23,6 70,8 3,4 1,1 100,0

Dari tabel 5.1. di atas dapat dilihat bahwa kelompok umur yang terbanyak adalah kelompok usia 17 tahun yang berjumlah 63 orang (70,8%) sedangkan kelompok umur yang paling sedikit adalah kelompok usia 15 tahun dan 19 tahun yang masing-masing berjumlah 1 orang (1,1%). Untuk kelompok umur 16 tahun berjumlah 21 orang (23,6%) dan kelompok umur 18 tahun berjumlah 3 orang (3,4%). 5.1.3. Hasil Analisa Data Dari 89 responden, didapatkan bahwa 48 orang diantranya (53,9%) mengalami dismenore atau nyeri kram pada bahagian bawah abdomen sedangkan 41 orang lainnya (46.1%) tidak mengalami dismenore. Data lengkap distribusi frekuensi berdasarkan frekuensi dismenore pada responden dapat dilihat pada tabel 5.2. Tabel 5.2. Distribusi frekuensi dismenore Dismenore Ada Tidak Jumlah Frekuensi (n) 48 41 89 Persentase (%) 53,9 46,1 100,0

24

Data lengkap tentang distribusi frekuensi kebiasaan olahraga pada responden dapat dilihat pada tabel 5.3. Tabel 5.3. Distribusi frekuensi kebiasaan olahraga Kebiasaan Olahraga Ada Tidak Jumlah Frekuensi (n) 29 60 89 Persentase (%) 32,6 67,4 100,0

Dari tabel 5.3 di atas didapatkan bahwa hanya 29 orang (32,6%) dari seluruh responden mempunyai kebiasaan olahraga sedangkan 60 orang (67.4%) responden yang lain tidak mempunyai kebiasaan olahraga. Data lengkap tentang distribusi frekuensi dismenore berdasarkan frekuensi kebiasaan olahraga pada responden dapat dilihat pada tabel 5.4. Tabel 5.4. Distribusi frekuensi kebiasaan olahraga berdasarkan frekuensi dismenore Kebiasaan Olahraga Ada Tidak Jumlah

Dismenore Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase (n) Ada Tidak Jumlah X2= 6,54 10 19 29 (%) 34,5 65,5 100,0 (n) 38 22 60 f=1 (%) 63,3 36,7 100,0 (n) 48 41 89 (%) 53,9 46,1 100,0 p = 0,010

Dari tabel 5.4 di atas dapat dilihat bahwa dari 29 responden yang memiliki kebiasaan berolahraga, 10 orang (34,5%) diantaranya mengalami dismenore dan 19 orang (65,5%) lainnya tidak mengalami dismenore. Sedangkan dari 60 responden yang tidak memiliki kebiasaan berolahraga, 38 orang (63,3%) diantaranya mengalami dismenore dan 22 orang (36,7%) tidak mengalami dismenore. Dari hasil analisa data di atas dengan menggunakan metode uji Chi Square, kejadian dismenore terjadi secara signifikan pada responden yang tidak berolahraga (p = 0,010).

25

Data lengkap tentang distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan frekuensi gejala dapat dilihat pada tabel 5.5. Tabel 5.5. Distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan frekuensi gejala Gejala Berolahraga
Frekuensi Persentase

Dismenore Tidak Berolahraga
Frekuensi Persentase

Jumlah

Frekuensi Persentase

(n) NP Mual SK Lelah Diare PSH 3 0 1 8 1 7

(%) 30,0 0 10,0 80,0 10,0 70,0

(n) 12 7 10 22 3 34

(%) 31,6 18,4 26,3 57,9 7,9 89,5

(n) 15 7 11 30 4 41

(%) 31,3 14,6 22,9 62,5 8,3 85,4

NP: Nyeri Punggung; SK: Sakit Kepala; PSH: Perubahan Suasana Hati Dari tabel 5.5 di atas dapat dilihat bahwa dari 48 responden yang mengalami dismenore, 15 orang diantaranya (31,3%) mengalami nyeri punggung, tujuh orang (14,6%) merasa mual, 11 orang (22,9%) mengalami sakit kepala, 30 orang (62,5%) merasa lelah, empat orang (8,3%) mengalami diare dan 41 orang (85,4%) mengalami perubahan suasana hati. Data lengkap tentang distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan distribusi frekuensi gejala sistemik dapat dilihat pada tabel 5.6.

6.3%) yang lain mengalami gejala sistemik yang sangat jelas dengan gejala vegetatif yaitu muntah.7. .6 di atas dapat dilihat bahwa sebanyak 10 orang (100%) yang mempunyai kebiasaan berolahraga mengalami dismenore yang disertai dengan beberapa gejala sistemik.2 100 38 100 48 100 Dari tabel 5.3%) diantaranya tidak ada gejala yang lain.7 0 2 5. sakit kepala. lelah dan diare. Distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan distribusi frekuensi gejala sistemik Gejala Sistemik Berolahraga Frekuensi Persentase Dismenore Tidak Berolahraga Frekuensi Persentase Jumlah Frekuensi Persentase (n) Tidak Ada Terdapat Beberapa Sangat Jelas Jumlah 10 0 10 0 (%) 0 (n) 2 (%) 5. Data lengkap tentang distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan frekuensi gangguan aktivitas sehari-hari dapat dilihat pada tabel 5.5 44 91. sedangkan responden yang tidak mempunyai kebiasaan berolahraga dan mengalami dismenore dua orang (5.4%) disertai dengan beberapa gejala sistemik dan dua orang (5.3 2 4.3 (n) 2 (%) 4.2 100 34 89. 34 orang (89.26 Tabel 5.

6 8.5 19 4 39. . 14 orang (36.9%) merasa terganggu aktivitas sehari-hari dan empat orang (10.5%) merasa sangat terganggu aktivitas sehari-hari sehingga memerlukan istirahat waktu menstruasi.3 Berolahraga Frekuensi Persentase Dismenore Tidak Berolahraga Frekuensi Persentase Jumlah Frekuensi Persentase (n) 5 (%) 50.27 Tabel 5.0 14 4 36.7.9 10.6%) yang jarang terganggu aktivitas sehari-hari. Data lengkap tentang distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan frekuensi gangguan kemampuan dapat dilihat pada tabel 5.0 (n) 20 (%) 52.6 (n) 25 (%) 52. Sedangkan pada responden yang tidak mempunyai kebiasaan berolahraga dan mengalami dismenore terdapat 20 orang (52.8.7 di atas dapat dilihat bahwa responden yang mempunyai kebiasaan berolahraga tetapi mengalami dismenore yang jarang terganggu aktivitas sehari-harinya ada sebanyak lima orang (50%) dan lima orang (50%) yang lain merasa terganggu aktivitas sehari-harinya waktu mengalami menstruasi. Distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan frekuensi gangguan aktivitas sehari-hari Gangguan Aktivitas Seharihari Jarang Terganggu Terganggu Sangat Terganggu Jumlah 10 100 38 100 48 100 5 0 50.1 Dari tabel 5.0 0.

. Distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan frekuensi gangguan kemampuan kerja Gangguan Kemampuan Kerja Berolahraga (n) Jarang Terganggu Terganggu 6 60.2 (n) 28 (%) 58.6%) merasa sangat terganggu saat bekerja.28 Tabel 5.9.1 10 100 38 100 48 100 Dari tabel 5.2%) diantaranya jarang terganggu kemampuan kerjanya. 13 orang (34. Sedangkan dari 38 orang responden yang mengalami dismenore dan tidak memiliki kebiasaan olahraga.8 di atas dapat dilihat bahwa dari 10 responden yang mengalami dismenore dan memiliki kebiasaan olahraga.2 19 39.3 Sangat Terganggu Jumlah 0 0 1 2.6 1 2.0 13 34.8. 24 orang (63.6 4 (%) 40.2%) merasa terganggu kemampuan kerjanya sewaktu menstruasi dan satu orang (2. Data lengkap tentang distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan frekuensi keperluan obat tahan sakit (analgesik) dapat dilihat pada tabel 5. empat orang (40%) diantaranya jarang terganggu kemampuan kerjanya dan enam orang (60%) merasa terganggu kemampuan kerjanya sewaktu menstruasi.0 Dismenore Tidak Berolahraga Persentase Jumlah Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase Frekuensi (n) 24 (%) 63.

1 18.9 di atas dapat dilihat bahwa. .0 0.6%) merasa analgesik tidak dapat membantu sewaktu dismenore.9.29 Tabel 5.8 2.1 100 Jumlah Dari tabel 5. 29 (76.0 10. Distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan frekuensi keperluan obat tahan sakit (analgesik) Keperluan Obat Tahan Sakit Jarang Diperlukan Sangat Membantu Tidak Membantu Dismenore Berolahraga (n) 9 1 0 10 (%) 90.3 21.0 100 Tidak Berolahraga Persentase Jumlah Frekuensi Persentase Frekuensi Frekuensi Persentase (n) 29 8 1 38 (%) 76. Sedangkan dari 38 responden yang mengalami dismenore dan tidak memiliki kebiasaan olahraga.10. sembilan orang (90%) diantaranya tidak memerlukan analgesik untuk dismenorenya dan satu orang (10%) merasa analgesik sangat membantu saat dismenore. Data lengkap tentang distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan berdasarkan tingkat keparahan dismenore dapat dilihat pada tabel 5. dari 10 responden yang mengalami dismenore dan memiliki kebiasaan olahraga.6 100 (n) 38 9 1 48 (%) 79.1%) merasa analgesik sangat membantu sewaktu dismenore dan satu orang (2. delapan orang (21.1 2.3%) orang tidak memerlukan analgesik untuk dismenore.

5. Dismenore merupakan gangguan ginekologi yang paling sering pada dialami wanita selama menstruasi (Mir Heidari.4%). biasanya dikenal sebagai kram menstruasi atau nyeri mense.2%) yang lain mengalami dismenore berat. Empat orang (40%) responden mengalami dismenore ringan dan enam responden (60%) yang lain mengalami dismenore sedang. Hal ini dapat dilihat dari penelitian ini di mana sebanyak 48 orang (53.2 100 Dari tabel 5.4 47.96% mengalami .10. Pembahasan Dismenore primer adalah nyeri spasmodik pada panggul yang terjadi secara siklik dan kronis selama menstruasi tanpa penyebab patologik yang mendasarinya. Penelitian oleh Agarwal (2010) mendapatkan mayoritas remaja perempuan yaitu sebanyak 71. 2011).2.9%) dari 89 responden mengalami dismenore atau nyeri kram pada bagian bawah abdomen.0 4.0 100 Dismenore Tidak Berolahraga Frekuensi Persentase Jumlah Dismenore Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase (n) 18 18 2 38 (%) 47. sedangkan dua orang (5. Penelitian yang dilakukan oleh Liliwati (2007) menunjukkan bahwa prevalensi dismenore di kalangan remaja perempuan di sekolah menengah sebesar 62. Kelompok dengan tingkat keparahan dismenore ringan dan sedang masingmasing berjumlah 18 orang (47.30 Tabel 5. Distribusi frekuensi dismenore dan kebiasaan beolahraga berdasarkan berdasarkan tingkat keparahan dismenore Tingkat Keparahan Berolahraga (n) Ringan Sedang Berat Jumlah 4 6 0 10 (%) 40.8 50.3%.3 100 (n) 22 24 2 48 (%) 45.10 di atas didapatkan bahwa jumlah responden yang mempunyai kebiasaan olahraga tetapi mengalami dismenore sebanyak 10 orang.4 5.0 0. sedangkan jumlah responden yang tidak mempunyai kebiasaan olahraga dan mengalami dismenore ada sebanyak 38 orang.0 60.

depresi dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi pada pekerjaan. diare dan perubahan suasana hati. penelitian ini juga menganalisis prevalensi kebiasaan olahraga pada anak remaja perempuan. Gejala yang paling banyak dirasakan bersamaan dengan dismenore pada responden baik yang mempunyai kebiasaaan berolahraga maupun tidak adalah perubahan suasana hati sebanyak 41 orang (85. sakit kepala. peningkatan dua kali lipat mortalitas akibat sistem kardiovaskuler dan peningkatan mortalitas sebanyak 29% akibat kanker jika dibanding dengan wanita yang aktif. Dari hasil penelitian didapati hanya 29 orang (32. Dari penelitian Agarwal (2010). Selain dismenore. Hal ini mirip dengan penelitian Al-Kindi (2011) yang melaporkan 68% responden mengalami perubahan suasana hati dan 51. Total waktu olaharaga minimal yang dibutuhkan untuk menjaga kebugaran fisik adalah 60 sampai 90 menit dalam seminggu (Lemura. Dalam penelitian ini. Saat ini. lelah. Kelelahan dan perubahan suasana hati adalah masalah persisten pada anak perempuan yang mengalami dismenore.4%) dan rasa lelah sebanyak 30 orang (62.31 dismenore. beberapa gejala yang dianalisis adalah sakit punggung. Dari penelitian Warburton (2006) didapatkan bahwa wanita yang tidak aktif secara fisik (olahraga kurang dari satu jam seminggu) mengalami peningkatan mortalitas secara umum sebanyak 52%. Didapatkan . Di samping itu.6%) yang responden mempunyai kebiasaan olahraga minimum 1 jam setiap minggu. hal ini juga penting sebagai indikasi untuk mendalami status psikososial yang mendasari responden yang mengeluh dismenore. Perbedaan hasil ini mungkin karena terdapat perbedaan persepsi dalam kebudayaan.5%). 2001). didapatkan tiga gejala yang paling umum dirasakan pada hari sebelum dan hari pertama mulanya siklus menstruasi yaitu lesu dan kelelahan. mual. jenis kelamin masih sangat menentukan partisipasi remaja dalam olahraga (Hasbrook. Hal ini penting untuk menghindari ketidakhadiran gadis-gadis remaja dari sekolah dengan memberikan konseling dan manajemen yang tepat. 2004).1% responden merasa lelah. pelaporan gejala dan secara keseluruhannya status kesehatan yang lebih baik.

7% responden mempunyai kebiasaan olahraga 30 menit atau lebih dan 53. responden yang tidak mempunyai . tetapi juga menghilangkan atau mengurangi kebutuhan terhadap obat dalam pengendalian nyeri kram dan gelaja-gejala lain yang dialami sewaktu menstruasi.. Dismenore lebih jarang dialami atlet dibandingkan dengan kelompok kontrol (Mir Heidari et.29%. 2011). Angka ini menunjukkan bahwa masih kurangnya kebiasaan olahraga di kalangan remaja perempuan walaupun pikiran bahwa olahraga bermanfaat dalam pencegahan dan pengobatan penyakit sudah bertahuntahun lamanya. Gadis yang menjalani latihan olahraga menunjukkan kurangnya gejala manifestasi ketegangan saraf pusat.32 bahwa kebanyakan siswi tidak mempunyai kebiasaan olahraga sekurangkurangnya 60 menit seminggu. 42% responden mengalami dismenore sedang dan 20% yang lain mengalami dismenore berat.5%) sedangkan responden yang mempunyai kebiasaan olahraga dan tidak mengalami dismenore ada sebanyak 19 orang (65. 30. Dalam penelitian Yamamoto (2009) melaporkan bahwa hanya 27. Hal ini dianggap bahwa lebih banyak responden mengalami dismenore ringan dan sedang daripada dismenore berat. Berdasarkan hasil analisa terhadap tingkat keparahan dismenore pada responden didapatkan bahwa 22 orang (45. Sedangkan pada penelitian Singh (2008).8% yang mempunyai kebiasaan berolahraga satu hari atau lebih dalam satu minggu dengan 30 menit sehari. Singh (2008) melaporkan 63. Dalam penelitian ini. didapatkan bahwa responden yang mempunyai kebiasaan olahraga dan mengalami dismenore ada sebanyak 10 orang (34. sedang dan berat.37% dan 6.5%). Sedangkan. al.0%) responden yang lain mengalami dismenore sedang dan dua orang (4. Perbedaan hasil ini mungkin karena terdapat perbedaan definisi operasional penelitian. Dalam penelitian Tariq (2009) melaporkan bahwa 38% responden mengalami dismenore ringan.23% peserta masing-masing menderita dismenore dari tingkat keparahan ringan.8%) responden mengalami dismenore ringan dan 24 orang (50.2%) responden yang lain mengalami dismenore berat pada seluruh responden yang mengalami dismenore. khususnya sakit kepala.3% yang lain tidak ada kebiasaan olahraga. didapatkan bahwa terdapat 46. Perilaku intervensi seperti olahraga tidak hanya mengurangi dismenore.

Dari hasil analisa data di atas dengan menggunakan metode uji Chi Square.01). . analisa Blakey (2009) dan Singh (2008) menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara partisipasi dalam olahraga dan dismenore primer. Hal ini juga sejalan dengan penelitian oleh Abbaspour (2006) dimana keparahan dan durasi dismenore juga berkurang dengan adanya kebiasaan berolahraga (p < 0.33 kebiasaan olahraga dan mengalami dismenore sebanyak 38 orang (63. Penelitian Jahromi (2008) menekan bahwa melakukan olahraga yang menitikberatkan latihan sistem kardiovaskular dan otot sebanyak dua kali seminggu yang berlangsung selama 12 minggu dapat menurunkan dismenore secara signifikan (p < 0.01).3%) sedangkan responden yang tidak mempunyai kebiasaan olahraga dan tidak mengalami dismenore ada sebanyak 22 orang (36. kejadian dismenore terjadi secara signifikan pada responden yang tidak berolahraga (p=0.01).7%). Akan tetapi.

Kesimpulan Berdasarkan tujuan dan hasil penelitian. Prevalensi dismenore siswi SMA Santo Thomas 1 Medan 2011/2012 adalah 48 orang (53. kebiasaan merokok.34 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6. Sedangkan kejadian dismenore pada responden yang tidak berolahraga ada sebanyak 38 orang (63. 5.6%) dari 89 responden. Saran Adapun saran yang diberikan peneliti berkaitan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Kejadian dismenore lebih rendah pada responden yang mempunyai kebiasaan berolahraga.1. 6. pola makan dan diet. 3.8%). 2. keaturan siklus menstruasi. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1.2. Prevalensi kebiasaan berolahraga siswi SMA Santo Thomas 1 Medan 2011/2012 adalah 29 orang (32. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapatnya hubungan kebiasaan olahraga dengan dismenore pada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012.5%).9%) dari 89 orang.3%). 4. yaitu sebanyak 10 orang (34. durasi menstruasi. status sosio-ekonomi. status psikologi . Bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian sejenis maka peneliti disarankan untuk memasukkan variabel lain seperti usia menarke.0%) diikuti dismenore ringan (45. jumlah perdarahan mense. kebiasaan mengkonsumsi alkohol. Tingkat keparahan dismenore yang dominan pada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan 2011/2012 adalah dismenore sedang (50.

2. . peneliti juga disarankan untuk memaksimalkan sampel penelitian supaya sampel lebih mewakili populasi yang diteliti.35 dan status sosioekonomi serta variabel lain yang mungkin memberi efek pada kejadian dismenore. 4. 3. Pada penelitian yang berikutnya disarankan supaya melakukan studi prospektif untuk meningkatkan akurasi hasil penelitian. Selain itu. Jenis penelitian ini merupakan studi retrospektif yang berarti “melihat kembali. kilas balik” kejadian dismenore dan kebiasaan berolahraga pada responden. Bagi pihak SMA Santo Thomas 1 Medan disarankan supaya meningkatkan kegiatan olahraga khususnya untuk siswi sebagai penanganan dan pencegahan dismenore.

. Churchill Livingstone. The Female Athlete.. Burnett. A. Chan.. Najjar. ed. 487-490 Arena. Blakey.4. India. Journal of Obstestics and Gynecology Canada Vol. A. C. Malina. Vol 6. 135.. Agarwal. Chapter 11. Is exercise associated with primary dysmenorrhoea in young women.. Section 11 Nerve. H.. 768. A. 27. K. Daley. E. 2010. 2001. 13. Al-Kindi. 643. B. R. The effect of exercise on primary dysmenorrheal.. Chisholm. K. Bryant. 1997. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.. M.J.. 11. Penerbit Buku Kedokteran EGC. A. RL. Bokor. UK. B. Harris. SQU Med J. BJOG.. Prevalence and Impact of Dysmenorrhoea among Omani High School Students. Jakarta. Maffulli. Endocrinological Changes in Exercising Women. Jaypee Brother Publishers. Indian J Community Med. London. In: Bijlani ed. Vol.M. Sh. C. 2001. Lea. G... 2006.K.. A study of dysmenorrheal during menstruation in adolescent girls.. Antao V. Hartwell. F. In: Matffulli. Sports Medicine for Specific Ages and Abilities. A.... N.A. R.. Black. Bijlani. Sport Medicine: Problems and Practical Management.. Jolly. D.M.. Foo. 35. In: Sherry.. Canada... et al. K. No 1. Prevalence of primary dysmenorrhoea in Canada.. Muscle and Work Physiology. Budiarto. 2004.. Part II 17. 6. Understanding Medical Physiology A Textbook for Medical Students 3rd Edition. Feldman. 250. A. Parker. E. 27-28 Agarwal. Dear. Iss. Al-Bulushi.. R. J Res Health Sci.. 159-164. Section 2 Women Athlets. Greenwich Medical Media.. 2011. R. A. 117.W. Z. K. Mak.. ed.36 DAFTAR PUSTAKA Abbaspour. R. Rostami..8 Physiology of Exercise.... Grenville. 2005. 2009. M. N. . Macdonald.

Harvard University Press. Calis. 2004.B. K. 2010.M. Food and Agriculture Nations.A. Ziporyn.. Primary Dysmenorrhea. Fritz.Y. ed. Vol 111. 39.. French. Chapter 10 Reproductive Cycles: Effects of Exercise Training on Dysmenorrhea. In: Borgelt. F. Dawood.. USA.D. 152-153. Eisenstat.. 108. An Aspen Publication.. USA... K.37 Carlberg. Women’s Health Across the Lifespan: A Pharmacotherapeutic Approach. United Nations University. Number 2. J. Campbell. American College of Obstetricians and Gynecologists. Food and Agriculture Organization of the United Nations. O. 2006. Organization of the United . Women’s Sports Medicine and Rehabilitation. Speroff.A. 579.a. 2004. K. In: Sweden. World Health Organization. American Academy of Family Physicians.J. N. L.. Rome. Calis. D.. 2011.A. 2001. American Society of Health-System Pharmacists.. USA.. 2004. L.. L. Dysmenorrhea. 181-182. Harlow. S.A. M. ed. BJOG. 8. M. Human Energy Requirements: FAO Food and Nutrition Technical Report Series 1: 5. Epidermiology of Menstrual Disorders in Developing Countries: A Systemic Review.. S.. Carlson.D. a Wolters Kluwer Business. 428. Vol.K. Vol 71. Smith.A. Advances in Pathogenesis and Management. Dang. K. 229-230. Energy Requirements of Adults: Report of a Joint FAO/ WHO/ UNU Expert Consultation. M.. Chapter 14 Menstrual Disorder... M. Wang. Dysmenorrhea.. The New Harvard Guide to Women’s Health.. ed. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility. O’connell.. Speroff. Chapter 12: Dysmenorrhea.A. L.M. 2005. USA. In: Fritz. Lippincott Williams & Wilkins. T. No 2. 285.

H.S. Basic Principles for Exercise Program Design. Gender: its relevance to sports medicine. M. Heyward. Terbitan pertama.. Influence of a physical fitness course on menstrual cycle characteristics. 65962.38 Hasbrook CA. Gaeini. K.K.P. USA.. Principles and practice of primary care sports medicine. editors. Havens. . Kirkendall DT. I. Gambina. Liliwati. PT Imperial Bhakti Utama.Verna. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. ed. In: Heyward. 24(11). A. Malaysia. In: Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI ed. O.. Prescription. Dysmenorrhoea and its Effects on School Activities Among Adolescent Girls in a Rural School in Selangor. USA... 2004. Manual of Outpatient Gynaecology 4th Edition: 14.D. LeMura. L. M. p. Lippincott Williams & Wilkins. 2007. Clinical Exercise Physiology Application and Physiological Principles. USA.. 2008. 19..M. Advanced Fitness Assessment and Exercise Prescription 6th edition. Jakarta.S. ed. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian 3 Pendidikan Displin Ilmu. 845.. 173. Baumgardner. Conservative Management of Sports Injuries 2nd Edition: USA. Irwin. S. T.A.. Sullivan. 215– 20.. 2007. In: Garrett Jr WE. Lippincott Williams & Wilkins Publishers. A. 2(1). Chapter 19 The Female Athlete. Pedagogik Olahraga. R. 2010. von Duvillard.. V. 21. Z.E.M.. 42-47 Lutan.... Nancy D. Chapter 3 Principles of Assessment. Hood. Khairani. Jones and Bartlett Publisher. Med & Health... Rahimi.. and Exercise Program Adherence. K. Jahromi. In: Hyde. Gynecol Endocrinol. Human Kinetics. 445. Dysmenorrhea. C. L. 2001.K. V. Squire DL. Gengenbach. 49.M. 2007. 2002. Cetakan kedua.

R.E.M. Jourkesh. C. In: Garrett Jr.. Ravnikar. M. I.. 2009. Penerbit Buku Kedokteran ECG. A. Lippincott Williams & Wilkins. American College of Physicians. Scholars Research Library. 2011. 27-28. G. Hackney. Hamilton. Cetakan I. USA. 180-186.. Cetakan I. Perheentupa. S. Proctor. 2 (2). 2. Clinical Evidence: Dysmenorrhoea. 5 Dysmernorrhea.39 Manuaba. Farquhar. M. The Burden and Determinants of Dysmenorrhoea: A Population-Based Survey of 2262 Women in Goa. Penerbit Buku Kedokteran. Obstetri & Ginekologi Panduan Praktik. 10 Endocrine Responses to Exercise and Training.. Sahasrabhojanee. V.. Kirkendall. 452-453 Morgan. W. 2001. Exercise and Sport Science. Gupte.. Ostrzenski.L.... BJOG. L.G.. 42-43.. Complementary. USA. 153. S. Ostojic. . In: Rees. McMurray. The Abnormal Menstrual Cycle: UK. Gynecology.G. 2007.M. J. 2005. BlackWell. ECG. USA. P. S. Painful Menstruation: Primary Dysmenorrhea.. A. India. Patruno. Edisi 2.... Erkkola. R. 456.. Annals of Biological Research. M. Jakarta. Jakarta. ed... C.B. 97-98. Menstrual Disorder: 5. 2006. 2002. 2000.T. and Natural Alternative Therapy. Dysmenorrhea.. Lippincott Williams & Wilkins. Compared incidence dysmenorrheal between A and B behavior types of University Female student athletes and non-athletes. Patel. V.. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. M. 3.C.E.. Tanksale. Integrating Conventional. ed. Taylor & Francis Group... Hope. 518-524. A. Mir Heidari.. BMJ Publishing Group Ltd. D. V. Nevrekar. 2006. Vol 111..

. and Conditons from Authoritative Sources. J. In: Lemcke. Endometriosis. Rathore.. Pattison.J. & Pelvic Pain.. H. K.B... Firness Levels. The Royal Thai College of Obstericians and Gynaecologists. USA. 394. Physical Activity and Health Guidelines: Recommendations for Various Ages. ed. A. Titapant. Kiran. Diagnosis. Nel. D..40 Rahl. W. A.. L. D. 2001.M. Rapkin. USA.. Droegemueller. 2004. M. D.S. P.. Dysmenorrhea in Thai Adolescents: Prevalence. Boriboonhirunsarn. The McGraw Hill Lange. In: Stenchever. Rothblatt. D. Howe.. Indian J Physiol Pharmacol. USA.. India.L. 6 Dysmenorrhea and Premenstrual Syndrome: Hormonal Management In: Zutshi. A. Mahajan. Part 5 Reproductive Endocrinology and Infertility: Chapter 36 Primary and Secondary Dysmenorrhea and Premenstrual Syndrome Etiology..... S70. Current Care of Women Diagnosis & Treatment. P. Herbst.. Elsevier Science... A. 516. 2010. Singh. Stenchever.A.L. C..R. M.. V..A. Hormones in Obstetrics and Gynaecology 2nd edition. R. D. Comprehensive Gynecology 4th Edition: USA. 2008. ed. Prevalence and severity of dysmenorrheal: a problem related to menstruation. Sharma. 52 (4). Tiwari. 3. ed. J. 2005.S. Singh. Marshall..S. 1065-1066. 87 Suppl.A. Cowley. 2004. 469-470. ed. B. In: Berek. Berek and Novak's gynecology 14th Edition. Sachdeva. Mishell Jr . Chapter 15 Pelvic Pain and Dysmenorrhea. Human Kinetics. V.. among first and second year female medical students.. Impact and Knowledge of Treatment: J Med Assoc Thai Vol. . How Exercise Reduces the Risk of Cancer.... Section XVI Gynecologic Disorders Chapter 45 Dysmenorrhea. A. Lippincott Williams & Wilkins. J. Singh. Tangchai.N. 146. A... K. Management. 2007. 53. Jaypee Brothers Medical Publishers.

Ara.E. Review Health Benefits of Physical Activity: The Evidence. M. V. PT Elex Media Komputindo. Vuong. 8th edition. Warburton. Lippincott Williams & Wilkins. . Sami. Section V Ob/Gyn Disorder. Z. 374. A.... C.S.A. Stop Pain: Inflammation Relief for an Active Life.. Arslan.A. Jaffery. USA. et.W. Upsala Jornal of Medical Sciences.. ed. R. D. Hashim.D... S. M.. Ayranci.. 140.J. Wahyuni.S. CMAJ. British Journal of Medical Pratitioners.. Quan. Bredin.R. Chapter Five: Exercise. Nicol. D.T. Gourley. Zeind. 2010. Statistika Kedokteran (Diserati Statistika Dengan SPSS). Solusi Mudah dan Cepat Menguasai SPSS 17. Impact and healthcare-seeking behavior of premenstrual symptoms and dysmenorrhoea.J. Urman.. T. 80. Hines. Tozun. ed. S. N. 353354.L. U. V. E. 16 Acupuncture In: Vadivelu. Vol 115. 2009. al. E. 801. ed... S. Hay House.41 Tariq.. S. Vad. Badar.Q... Ijaz. Herfindal. USA. New York. Textbook of Therapeutics... Jakarta. 2006.M. Wang.. In: Vad. In: Helms. Prevalence of Dysmenorrhea and Its Effect on Quality of Life among A Group of Female University Students. A. 11.. Part II: Self-Care. 2009.. Hudson. 2011. 41. N. Volume 2. Wahana Komputer. L... 2006. J..R. 2010. Informa Healthcare. Unsal.. D. LLC. C. Drug and Disease Management. Number 4. Dysmenorrhea.K. R. S. 2009.. Section V Non-pharmacologic Management of Pain. G.0 untuk Pengolahan Data Statistik. Essentials of Pain Management.. R. & Calik.. Springer Science+Business Media.S. 174 (6).D.. 17 Gynecologic Disorder. Jakarta Timur: Bamboedoea Communication.

A. M. Douglas. Campbell-brown.42 Warner. Gritchley. Okazaki.. Menstrual Pain. 28. A. M. Vol 323. . Lumsden. and Management. P. 131.... Referral For Menstrual Problems: Cross Sectional Survey of Symptoms. British Medical Journal.. Reasons for Referral.OD. Sakamoto.. Journal of Physiological Anthropology. The Relationship between memenstrual Symptoms. and Psychosocial Stress among Japanese College Students.A. M. 24. 2009. H. Yamamoto. Irregular Menstrual Cycles. Y.. UK... 2001. Funatsu. K. Murray. G.

Persatuan Kebangsaan Pelajar-pelajar Malaysia seIndonesia-Cawangan Medan (PKPMI-CM) . Medan : 1. Union Primary School 2. No. Chung Ling High School Riwayat Organisasi : 1. Union Secondary School 3.LAMPIRAN 1 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama Tempat/ Tanggal Lahir Agama Alamat Riwayat Pendidikan : Toh Chia Thing : Penang/ 19 November 1988 : Buddha : Jl. Labu II. 3M. Persatuan Mahasiswa Malaysia USU (PM-USU) 2.

Kuesioner ditinggalkan pada siswi dan peneliti akan kembali mengambilnya pada tanggal dan waktu yang ditetapkan. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu kegiatan dalam menyelesaikan proses belajar mengajar pada semester ketujuh. NIM 080100273 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.………. 9 Juli 2011 Peneliti. Saya yang bernama Toh Chia Thing. Data diperoleh langsung dari siswi melalui kuesioner titipan formulir survei. saya mengucapkan terima kasih.……………………………….LAMPIRAN 2 LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN Dengan hormat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari hubungan kebiasaan olahraga dengan dismenore pada siswi. Atas perhatian dan kesediaan Saudari berpatisipasi dalam penelitian ini. Saat ini saya sedang melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Kebiasaan Olahraga dengan Dismenore pada Siswi SMA Santo Thomas 1 Medan Tahun 2011/2012”. gejala yang mengalami sebelum (24-48 jam) dan saat menstruasi dan tingkat gangguan yang mengalami saat menstruasi serta kebiasaan olahraga sehari-hari. Siswi akan diberikan daftar lampiran pertanyaan kombinasi antara pertanyaan tertutup yang ditanyakan tentang pola haid. (Toh Chia Thing) . Medan. .

Saya paham bahwa semua data akan dirahsiakan. Hasilnya akan diintegrasikan untuk mencari alternatif terapi yang mudah dilaksanakan tanpa memerlukan obat-obatan untuk mengatasi masalah dismenore di kalangan mahasiswi dengan meningkatkan kebiasaan berolahraga. Dalam tahap ini. Tanggal dan tanda tangan partisipan . saya paham bahwa saya akan mengisi kuesioner ini dengan jujur. saya dapat menghubungi peneliti. Keputusan saya. Hasil kuesioner ini akan dianalisa dengan tujuan untuk mendapatkan hubungan kebiasaan olahraga dengan dismenore pada siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012. Nama Kelas Tanggal lahir : : : ………………………………………………………….. Saya menyadari bahwa partisipasi dalam penelitian ini tidak membahayakan saya secara fisik maupun psikologis. Jika saya membutuhkan informasi lebih lanjut. Publikasi yang berhubungan dengan penelitian ini tidak akan disertai nama sehingga kerahsiaan tetap akan terjamin. Saya menyadari bahwa partisipasi ini bersifat sukarela dan bisa mundur setiap saat serta tidak berdampak pada penilaian dalam ujian saya. Saya telah membaca dan memahami formulir persetujuan. Saya telah mendapatkan penjelasan tentang penelitian ini. Semua pertanyaan saya telah dijawab dan saya setuju untuk berpartisipasi.LAMPIRAN 3 LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN Judul Penelitian: Hubungan Kebiasaan Olahraga dengan Dismenore pada Siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012 Saya telah diminta untuk berpartisipasi dalam studi tentang Hubungan Kebiasaan Olahraga dengan Dismenore pada Siswi SMA Santo Thomas 1 Medan tahun 2011/2012.

Seberapa lamanya perdarahan menstruasi anda? ≤ 7 hari Soal dari 4 – 17 menanyakan tentang GEJALA YANG ANDA MENGALAMI SEBELUM (24-48 JAM) dan SAAT MENSTRUASI. Apakah anda rasa jantung berdebar-debar? Tidak 12. Soal dari 1 – 3 menanyakan tentang POLA HAID ANDA. Apakah anda rasa pening/ pusing? Tidak 7.LAMPIRAN 4 KUESIONER UNTUK HUBUNGAN KEBIASAAN OLAHRAGA DENGAN DISMENORE PADA SISWI SMA SANTO THOMAS 1 MEDAN TAHUN 2011/2012 Petunjuk:  Bulatkan jawaban yang anda anggap paling benar sesuai dengan pengatuhan anda. Apakah anda mengalami perubahan suasana Tidak hati? 16. . ……………….  Tuliskan jawaban anda pada garis yang disediakan sesuai dengan pertanyaan. Apakah anda rasa lelah? Tidak 11. Seberapa sering anda mengganti pembalut sehari ≤4 saat menstruasi? 3. Apakah anda rasa sakit kepala? Tidak 9. Sebutkan: ………………. Apakah anda berkeringat banyak? Tidak 13. 1. Apakah anda mengalami diare? Tidak 15. Apakah anda mempuyai gejala-gejala yang lain Tidak selain yang disebutkan di atas? Tidak >4 > 7 hari Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya. Apakah anda rasa nyeri pada payudara? Tidak 17. Apakah anda mengalami perut kembung? Tidak 14. Apakah anda mengalami sakit punggung? Tidak 6. 4. Apakah anda rasa gelisah/ gementar? Tidak 10. Apakah anda rasa mual/ muntah? Tidak 8. Apakah anda mengalami sensasi kram disertai Tidak dengan rasa nyeri pada bagian bawah perut? 5. Apakah siklus haid anda teratur? Ya 2.

Apakah anda memerlukan obat tahan sakit Tidak Jarang Sangat Tidak (analgesik) saat nyeri haid? perlu diperlukan membantu membantu Soal 21 – 22 menanyakan tentang KEBIASAAN OLAHRAGA ANDA. . 18. 21. Apakah kemampuan kerja anda terganggu? Tidak Jarang Terganggu Sangat terganggu terganggu terganggu 20. Terima kasih atas penyertaan anda. Apakah anda sering melakukan olahraga yang menggunakan pelbagai kumpulan otot (dipertahankan secara berterusan atau secara Tidak Ya berirama) sehingga terjadinya peningkatan denyut jantung dan frekuensi pernafasan? 22. Apakah anda berolahraga seperti yang dinyatakan pada soal 21 lebih dari 60 menit seminggu (boleh Tidak Ya dibahgi menjadi enam sesi dengan satu sesi selama 10 menit)? Soal selidik tamat.Soal 18 – 20 menanyakan tentang TINGKAT GANGGUAN YANG ANDA MENGALAMI SAAT MENSTRUASI. Apakah aktivitas sehari-hari anda terganggu? Tidak Jarang Terganggu *Sangat * memerlukan istirahat terganggu terganggu terganggu 19.

123 .260 p19 .660 .257 .471 .000** .094 .482 20 -.519 20 .519 20 .450 .385 1.731 20 .419 .482 20 -.450 .459* .066 1.078 .120 .833 20 .274 .673 20 .605 20 -.000 .323 20 .066 20 1 .000 .229 p18 .429 20 .179 .519 20 .179 .000 20 20 .506 .519 20 .250 .269 20 .180 .276 .331 20 -.660 20 -.385 .101 p6 -.544 20 .385 . (2-tailed) .000 .663 20 -.101 Total .612** p2 1 .123 20 .612** p3 -.004 20 1 .519 20 .104 .043 .858 1.066 .042 .519 20 -.288 20 .177 .858 20 -.167 .605 1.105 p5 .170 .074 20 -.187 .444 .408 p13 .605 20 -.171 .LAMPIRAN 5 HASIL OUTPUT UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS Correlations p1 p1 Pearson Correlation Sig.388 20 .000 p12 -.153 .094 .204 p7 .239 20 .324 20 -.471 .153 .050 .458* .050 .388 20 .000 .082 .050 .144 . (2-tailed) N p3 Pearson Correlation Sig.123 -.209 .833 20 .419 20 .153 .105 .050 .519 20 .030 .660 20 -.293 .250 p4 .153 .833 20 .673 20 .000 20 -.673 20 .485* .232 .167 .101 p14 .000 20 .204 p9 -.204 p22 .153 .615 20 .179 .419 .314 .153 .167 .317 20 .179 .254 p21 .042 20 -.388 20 .288 20 -.101 p8 .862 20 . (2-tailed) N p4 Pearson Correlation Sig.398 20 .105 .042 20 -.288 20 -.388 20 .450 .050 20 .673 1.204 p10 .179 20 -.105 p16 -.000 20 .519 20 -.000 20 -.000 .200 p17 -.833 1.313 .204 p15 .474 20 .482 20 -.101 p11 .450 .628 20 .153 20 1 .115 p20 -.094 .004 20 -.236 .233 .450 .605 20 -.182 .279 20 -. (2-tailed) N p2 Pearson Correlation Sig.250 20 .744 20 .858 .123 .153 .043 20 -.833 20 -.043 .660 .171 .673 20 .158 .388 20 .

000** .862 20 1 .158 20 .204 .000 20 -.042 .482 20 .015 20 -.328 20 20 20 -.101 .123 .082 .385 .257 .131 20 .429 20 .204 .519 20 .001 20 .250 .731 20 .042 20 .673 20 .657** .605 20 .082 .328 .731 20 .208 20 .328 .187 .158 20 .123 20 -.158 20 .808 20 .471 20 .250 .380 20 .058 .000** .171 20 -.224 20 .171 .082 .074 20 .388 20 -.158 20 .158 20 .082 1.482 20 .772 20 .673 20 .772 20 .605 20 .000 20 .673 20 .482 20 .001 20 .042 .342 20 .458* .000 20 20 .158 20 -.533* 1.000** .000** .408 .000 .153 .274 20 . (2-tailed) N 20 .731 20 20 -.644 20 .179 20 1 20 20 20 .257 20 .482 20 .862 20 .731 20 . (2-tailed) N p6 Pearson Correlation Sig.450 20 .192 20 .000 20 .429 20 .862 20 .167 .328 1.082 20 .158 20 .069 .158 20 .167 .158 20 .153 .021 .862 20 .082 1.274 20 .731 20 1 .082 .094 1.204 -.050 20 .388 20 .167 20 .082 .471 1.179 20 .158 20 .042 .000 20 .158 20 .274 20 .187 .328 .000 .328 .482 20 .519 20 -.224 20 .731 20 1 .673 20 -.328 .000 20 .323 20 .673 20 .731 20 .187 .418 20 .000** -.153 .482 20 .731 20 . (2-tailed) N p7 Pearson Correlation Sig.000 20 .167 .731 1.388 20 -.350 20 20 20 -.673 20 .042 .328 . (2-tailed) N p8 Pearson Correlation Sig.000 20 -.000 20 .388 20 .380 20 -.000 .342 20 .731 20 .000 20 .192 .288 20 .094 20 .101 20 .082 .808 20 .058 20 .328 . (2-tailed) N p9 Pearson Correlation Sig.000** .250 .204 .167 .024 20 -.179 1.385 .236 .158 20 .450 20 .002 20 -.110 -.257 .131 20 .069 .288 20 .000 20 .126 20 .158 20 1 .704** .000 20 .101 20 .167 -.101 .082 .082 .328 20 .450 20 .731 20 .450 20 .208 .354 .783** .328 1.350 .328 20 -.082 .731 20 .101 20 .000 .833 20 -.082 1.929 1.204 .731 20 .418 20 -.233 .328 .042 .000** .429 20 .000 20 -.000** .704** .833 20 -.862 20 20 .482 20 .N p5 Pearson Correlation Sig.167 .050 .101 .502* 1.388 20 .317 20 .179 20 .519 20 .288 20 .

(2-tailed) N p12 Pearson Correlation Sig.171 .204 .290 -.015 20 .000 .314 .418 20 .153 .388 20 .450 20 .019 20 .388 20 .167 .153 .167 20 .250 .502* 1.808 20 .673 20 .094 20 .328 .062 20 .722 20 .328 .328 .158 20 .082 .328 .204 .167 -.179 1.179 .281 20 .862 20 .342 20 .281 .334 .177 1.204 .204 .192 -.533* 1 -.158 20 -.000 .131 20 -.051 20 .000 20 -.101 .000 20 -.000** .158 20 .388 20 -.482 20 .519 20 .015 20 .082 1 -.p10 Pearson Correlation Sig.158 20 .074 20 .673 20 1 .192 .179 .101 .519 20 .424 .328 .050 .082 .388 20 .000 1.000** .058 .101 .000 20 .388 20 1 .250 20 -.673 20 .123 -.167 .085 .229 .002 20 .215 20 .328 -.363 -.783** .482 20 .000 20 .158 20 -.512 20 .328 .350 .000** . (2-tailed) N p13 Pearson Correlation Sig.520* -.000 20 20 .126 20 .187 .408 20 -.000 1.605 20 .158 20 .167 .101 .000 .158 20 -.230 20 .192 .158 20 .388 20 .388 20 .533* .050 .673 20 .215 20 .673 20 .385 .254 -.000 20 -.418 20 .204 .015 20 20 .158 20 .101 .328 1.118 .171 20 .388 20 .156 .290 -.000 20 -.731 20 .388 1.000 20 .482 20 .533* .208 .000** .450 20 .731 20 .101 .082 .380 20 . (2-tailed) N p14 Pearson Correlation Sig.042 .328 1.704** .443 -.328 .621 20 .192 .167 .158 20 -.158 20 -.082 .101 .328 .094 1.328 .001 20 -.331 20 .000 .731 20 .673 20 .224 .418 20 .204 .000 20 -.015 20 1 .082 1.537* -.673 20 .288 20 .354 .471 20 -.000 20 .450 20 -.288 20 -.115 20 -.462* 1.204 .533* -.000** -.204 .731 20 20 .833 20 .482 20 . (2-tailed) N .158 20 -.673 20 .101 20 .000 .673 20 .314 .471 20 -.101 .673 20 .150 20 -.158 20 -.328 20 -.101 .418 20 .101 .192 .015 20 .000 20 .482 20 .482 20 -.177 20 .450 20 -.482 20 .673 20 -.657** .429 20 .731 20 .167 . (2-tailed) N p11 Pearson Correlation Sig.179 .385 .833 20 -.204 .418 20 .040 20 .024 20 .731 20 .

000 20 20 .657** 1 .916 20 .398 1.158 .429 20 .269 20 .204 .657** . (2-tailed) N p16 Pearson Correlation Sig.471 20 .179 .115 .260 20 -.254 20 -.808 20 .229 .171 .317 20 .012 20 .290 .233 .000 20 .101 .179 .126 20 .444 20 .126 20 .101 .471 20 .570** .380 20 .506 20 .808 20 .115 20 .444 1.009 20 1 .236 .171 -.342 20 .459* .342 20 .180 20 .450 20 .187 .313 .025 .269 1.380 20 .224 .074 20 .450 20 .000 20 .177 20 .313 20 .380 20 .000 .000 20 .929 20 .744 20 .621 20 .257 .323 20 .043 -.808 20 .229 .313 .450 20 -.180 20 .548* .260 .657** -.660 20 -.009 20 20 .660 20 1 .331 20 -.385 .385 .058 .175 20 -.132 .363 .722 1.673 1.208 20 -.331 20 .126 20 .236 .380 20 .105 .002 20 .224 .167 20 .000 .187 .000 20 20 .628 20 .002 20 .274 20 .215 20 .331 20 -. (2-tailed) N p17 Pearson Correlation Sig.058 .179 .187 .342 20 .208 20 -.088 20 .132 .000 20 .673 20 .281 .429 20 .058 -.144 .000** .229 .660 20 -.042 20 .293 .000 .118 .281 20 .000 1.260 .179 .322 .429 20 -.101 .000 20 -.000 20 -.180 20 . (2-tailed) N .317 20 .182 .429 20 .105 -.224 .460 20 .544 20 .078 .187 .066 20 . (2-tailed) N p18 Pearson Correlation Sig.105 -.673 1.419 1.130 .000 20 .450 20 .506 20 -.559* .000 .385 1 .030 20 .208 20 .158 .314 .269 20 .002 20 .101 .010 20 .021 .224 .101 .354 .208 .000 .000 .182 .015 20 -.462* .233 .808 1.000 .570** .331 20 1 .182 .660 20 -.094 20 .673 1.388 20 .209 20 -.187 20 .187 .578 20 .578 20 .858 20 .085 .392 .342 20 .229 20 -.179 -.105 .167 20 20 .722 20 .485* .506 20 .323 20 .p15 Pearson Correlation Sig.354 .230 20 .673 1.094 20 .000 .000 20 -.631** .444 20 .354 .058 .537* .000 .003 20 .158 .429 20 .200 .000 20 .040 20 . (2-tailed) N p19 Pearson Correlation Sig.085 -.322 20 .408 .429 20 .585 20 .450 20 .094 20 .

450 20 .131 20 .000** .085 -.342 20 .482 20 .328 . *.001 20 .865 N of Items 12 .783** .158 20 .502* .276 .290 .000** .131 20 .05 level (2-tailed).001 20 1 . (2-tailed) N Total Pearson Correlation Sig.158 20 .000 20 .000 20 .418 20 .443 .673 20 .392 1 .388 20 .094 20 .215 20 .158 20 .502* .131 20 .000 20 .175 .585 20 .704** -.833 20 -. Correlation is significant at the 0.533* 1.000 20 .328 .274 20 .012 20 .082 1.024 20 .559* .657** .000 20 .003 20 .450 20 .328 .000 20 .328 .601** .482 20 .204 .010 20 .000 20 .615 20 .051 20 .704** .328 .110 .024 20 .p20 Pearson Correlation Sig.167 .862 20 .000 20 .424 .001 20 20 **.350 .126 20 .062 20 -.257 .101 .024 20 . (2-tailed) N -.131 20 .704** .187 .772 20 .069 .783** .328 .722 20 .334 .328 1.069 .000** -.123 .030 20 .605 20 .350 -.167 -.204 .005 20 .150 20 .808 20 .485* .673 20 -.704** .179 1.019 20 .025 .158 20 .548* .601** .482 20 .158 20 .512 20 . Correlation is significant at the 0.094 1.279 20 .000** -.224 .485* .350 .354 20 .192 .460 20 .293 .328 .170 .644 20 .631** .663 20 .002 20 .179 20 .158 20 .005 20 .158 20 20 .254 -.350 20 .209 20 . (2-tailed) N p22 Pearson Correlation Sig.783** . Reliability Statistics Cronbach's Alpha .000 .380 20 .429 20 .232 .156 -.015 20 -.385 .088 20 .000 20 .101 .731 20 .350 .104 -.772 20 .731 20 . (2-tailed) N p21 Pearson Correlation Sig.502* .293 -.519 20 -.209 20 .783** .042 .474 20 .01 level (2-tailed).000 20 .673 20 .030 20 .520* .131 20 .153 .208 .167 .385 .000** 1 .082 1.324 20 .502* -.024 20 1 .388 20 -.001 20 .101 .130 .058 .001 20 .050 .704** .916 20 .120 .158 20 .239 20 -.

20. Usia Dismen NyPun 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 19 17 17 17 17 17 17 17 Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Ya Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya Tidak Mual Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak SaKep Lelah Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Diare Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak PSH Ya Ya Tidak Tidak Ya Ya Tidak Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya GgnAktivitas Sangat Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Terganggu Jarang terganggu Sangat terganggu Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Jarang terganggu Tidak terganggu Terganggu Jarang Terganggu Terganggu GgnKemampKerja Sangat Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Jarang terganggu Terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Terganggu Jarang Terganggu Terganggu KeperluanObat Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Sangat Membantu Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Sangat Membantu Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Oraga Durasi Ya Ya Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Tidak Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Ya Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Tidak Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya Tidak Tidak Tidak . 8. 17. 14. 6. 19. 2.LAMPIRAN 6 DATA INDUK Hubungan Kebiasaan Olahraga dengan Dismenore pada Siswi SMA Santo Thomas 1 Medan Tahun 2011/2012 No 1. 4. 10. 18. 11. 13. 15. 7. 16. 3. 5. 9. 12.

16 Tidak 44. 17 Tidak 45. 16 Ya 46. 16 Tidak 43. 16 Ya 33. 17 Ya 32. 17 Ya 22.No Usia Dismen 21. 17 Ya 34. 16 Ya NyPun Tidak Ya Ya Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Ya Ya Tidak Ya Ya Tidak Tidak Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Mual Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak SaKep Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Lelah Ya Ya Tidak Ya Ya Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Tidak Tidak Diare Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak PSH Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya GgnAktivitas Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Tidak terganggu Tidak terganggu Jarang terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Terganggu Jarang Terganggu Jarang terganggu Terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Jarang Terganggu Jarang terganggu Terganggu Tidak terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu GgnKemampKerja Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Tidak terganggu Tidak terganggu Tidak terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Terganggu Jarang Terganggu Jarang terganggu Terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Jarang Terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu KeperluanObat Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Sangat Membantu Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Sangat Membantu Sangat Membantu Jarang Diperlukan Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Jarang diperlukan Jarang Diperlukan Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Oraga Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Ya Ya Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Durasi Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Ya Ya Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak . 17 Tidak 39. 17 Ya 26. 17 Ya 30. 18 Tidak 29. 17 Tidak 40. 18 Tidak 27. 17 Tidak 38. 17 Ya 24. 16 Tidak 41. 16 Ya 31. 17 Ya 37. 17 Ya 25. 17 Tidak 28. 17 Ya 36. 16 Ya 35. 17 Ya 42. 17 Ya 23.

17 Ya 65. 16 Ya 64. 17 Tidak 48. 17 Ya 70. 17 Tidak 59. 17 Ya 56. 17 Ya 67. 17 Tidak 58. 17 Ya 66. 16 Tidak 51. 16 Ya 72. 16 Tidak 71. 16 Ya 57. 17 Tidak 62. 17 Ya 68. 17 Ya 53. 17 Ya 52.No Usia Dismen 47. 17 Tidak 61. 17 Ya 63. 16 Tidak 49. 16 Ya 54. 17 Tidak 60. 15 Tidak 50. 17 Ya 69. 17 Ya NyPun Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Mual Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak SaKep Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Lelah Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Ya Tidak Ya Ya Tidak Ya Diare Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak PSH Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Ya Ya Tidak Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya GgnAktivitas Jarang terganggu Tidak terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Jarang terganggu Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Tidak terganggu Tidak terganggu Jarang terganggu Terganggu Sangat Terganggu Terganggu Terganggu Sangat Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Jarang terganggu Jarang Terganggu Sangat Terganggu GgnKemampKerja Jarang terganggu Tidak terganggu Tidak terganggu Jarang terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu Terganggu Jarang terganggu Jarang Terganggu Terganggu KeperluanObat Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Sangat Membantu Sangat Membantu Jarang Diperlukan Jarang diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Tidak Membantu Jarang Diperlukan Sangat Membantu Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Tidak membantu Jarang Diperlukan Sangat Membantu Oraga Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Durasi Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak . 17 Tidak 55.

16 Ya NyPun Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Mual Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak SaKep Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Lelah Tidak Ya Ya Tidak Tidak Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Diare Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak PSH Tidak Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya GgnAktivitas Tidak terganggu Tidak terganggu Jarang terganggu Terganggu Terganggu Tidak terganggu Tidak terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Jarang Terganggu Terganggu Jarang terganggu Tidak terganggu Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu GgnKemampKerja Tidak terganggu Tidak terganggu Tidak terganggu Terganggu Terganggu Tidak terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Jarang terganggu Jarang Terganggu Terganggu Jarang terganggu Tidak terganggu Terganggu Jarang Terganggu Jarang Terganggu KeperluanObat Tidak perlu Tidak perlu Jarang diperlukan Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Jarang Diperlukan Jarang Diperlukan Oraga Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Durasi Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak . 16 Tidak 86. 17 Ya 89. 17 Tidak 79. 17 Tidak 82. 16 Ya 84. 17 Tidak 75.No Usia Dismen 73. 16 Ya 77. 17 Tidak 88. 17 Ya 85. 17 Tidak 80. 17 Tidak 83. 17 Tidak 76. 18 Tidak 87. 17 Tidak 74. 16 Tidak 81. 16 Ya 78.

0 Valid Percent 32.1 23.0 Cumulative Percent 32.1 23.9 100.0 .4 100.6 67.1 53.1 53.4 1.4 1.7 95.6 100.6 70.0 Valid Percent 46.0 Cumulative Percent 46.6 67.LAMPIRAN 7 HASIL OUTPUT Hubungan Kebiasaan Olahraga dengan Dismenore pada Siswi SMA Santo Thomas 1 Medan Tahun 2011/2012 Usia Usia Frequency Valid 15 16 17 18 19 Total 1 21 63 3 1 89 Percent 1.0 Cumulative Percent 1.1 100.5 98.0 Valid Percent 1.1 100.9 100.4 100.8 3.1 24.9 100.0 Kebiasaan Olahraga Kebiasaan Olahraga Frequency Valid Ya Tidak Total 29 60 89 Percent 32.0 Dismenore Dismenore Frequency Valid Tidak Ya Total 41 48 89 Percent 46.6 70.8 3.1 100.

1% 38 48 63.010 .5% 29 100. (2.9% 60 89 100.36.0% 100.0% Chi-Square Tests Asymp.010 a.010 sided) 6.7% 46.5% 10 34.0% Tidak 22 Total 41 36.440 6. 0 cells (.Dismenore * Kebiasaan Olahraga Crosstabulation Kebiasaan Olahraga Ya Dismenore Tidak Count % within Kebiasaan Olahraga Ya Count % within Kebiasaan Olahraga Total Count % within Kebiasaan Olahraga 19 65.020 .013 .Exact Sig.0%) have expected count less than 5. Computed only for a 2x2 table . (1sided) df a sided) 1 1 1 .011 b Exact Sig. Sig.550 5.607 .3% 53. b.476 1 . The minimum expected count is 13. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 89 6.

3% 48 100.0% Berolahraga 26 68.0% .NyeriPunggung * DismenoreXBerolahraga Crosstabulation Dismenore Tidak Berolahraga Nyeri Punggung Ya Tidak Count % within DismenXBerolahraga Count % within DismenXBerolahraga Total Count % within DismenXBerolahraga 7 70.6% 48 100.0% 1 10.1% 11 22.0% Total 33 68.0% Total 41 85.0% 10 100.0% Berolahraga 28 73.0% 3 30.6% 38 100.0% Berolahraga 31 81.6% 7 18.3% 38 100.0% 0 .9% 48 100.8% 15 31.4% 7 14.7% 10 26.0% Mual * DismenoreXBerolahraga Crosstabulation Dismenore Tidak Berolahraga Mual Tidak Count % within DismenXBerolahraga Ya Count % within DismenXBerolahraga Total Count % within DismenXBerolahraga 10 100.0% SakitKepala * DismenoreXBerolahraga Crosstabulation Dismenore Tidak Berolahraga Sakit Kepala Ya Tidak Count % within DismenXBerolahraga Count % within DismenXBerolahraga Total Count % within DismenXBerolahraga 9 90.0% Total 37 77.0% 10 100.0% 10 100.4% 38 100.4% 12 31.

1% 22 57.0% Berolahraga 35 92.Lelah * DismenoreXBerolahraga Crosstabulation Dismenore Tidak Berolahraga Lelah Tidak Count % within DismenXBerolahraga Ya Count % within DismenXBerolahraga Total Count % within DismenXBerolahraga 2 20.0% Total 44 91.6% .0% Total 18 37.0% 10 34 89.0% 10 100.5% 30 62.5% 38 41 85.1% 3 7.5% Total 7 14.7% 4 8.4% 48 Tidak Count % within DismenXBerolahraga 3 30.0% Diare * DismenoreXBerolahraga Crosstabulation Dismenore Tidak Berolahraga Diare Tidak Count % within DismenXBerolahraga Ya Count % within DismenXBerolahraga Total Count % within DismenXBerolahraga 9 90.0% Berolahraga 16 42.0% 10 100.0% 8 80.0% Berolahraga 4 10.9% 38 100.3% 48 100.0% 1 10.0% PerubahanSuasanaHati * DismenoreXBerolahraga Crosstabulation Dismenore Tidak Berolahraga Perubahan Suasana Hati Ya Count % within DismenXBerolahraga Total Count 7 70.5% 48 100.9% 38 100.

2% 44 91.4% 48 100.0% 10 100.PerubahanSuasanaHati * DismenoreXBerolahraga Crosstabulation Dismenore Tidak Berolahraga Perubahan Suasana Hati Ya Count % within DismenXBerolahraga Total Count % within DismenoreXBerolahraga 7 70.0% Tidak Count % within DismenXBerolahraga 3 30.0% 48 100.3% 34 89.5% 2 5.0% Berolahraga 2 5.0% 34 89.3% Total 2 4.5% 38 100.0% Tidak Ada Count % within DismenXolahraga Count % within DismenXolahraga Count % within DismenXolahraga 0 .0% Berolahraga 4 10.0% 38 100.0% 41 85.2% .0% 10 100.6% GejalaSistemik* DismenoreXBerolahraga Crosstabulation Dismenore Tidak Berolahraga Gejala Sistemik Terdapat Beberapa Sangat Jelas dengan Vegatatif Simptom Total Count % within DismenXolahraga 10 100.5% Total 7 14.0% 0 .7% 2 4.

3% 5 50.0% 0 .0% 14 36.1% 48 100.0% 10 100.2% 13 34.1% GgnKemampuanKerja * DismenoreXBerolahraga Crosstabulation Dismenore Tidak Berolahraga GgnKemampuan Jarang Kerja Terganggu Count % within DismenXolahraga 4 40.6% Total 25 52.5% 4 8.GgnAktivitas * DismenoreXBerolahraga Crosstabulation Dismenore Tidak Berolahraga GgnAktivitas Jarang Terganggu Count % within DismenXolahraga Terganggu Count % within DismenXolahraga Sangat Terganggu Count % within DismenXolahraga Total Count % within DismenXolahraga 10 100.0% 48 100.0% Berolahraga 20 52.0% Total 28 58.6% 1 2.0% 4 10.6% 38 100.8% 19 39.0% 0 .0% Terganggu Count % within DismenXolahraga Sangat Terganggu Total Count % within DismenXolahraga Count % within DismenXolahraga .0% 6 60.6% 5 50.0% Berolahraga 24 63.3% 19 39.2% 1 2.0% 38 100.

0% 0 .0% 24 50.3% 8 21.4% Total 22 45.KeperluanObat * DismenoreXBerolahraga Crosstabulation Dismenore Tidak Berolahraga KeperluanObat Jarang Diperlukan Sangat Membantu Tidak Membantu Total Count % within DismenXolahraga Count % within DismenXolahraga Count % within DismenXolahraga Count % within DismenXolahraga 9 90.8% .2% 9 18.8% 1 2.0% Total 38 79.2% 48 100.4% 2 5.6% 38 100.1% 1 2.0% 10 100.1% 48 100.0% 0 .0% 2 4.0% 10 100.0% Berolahraga 29 76.0% 18 47.0% Ringan Count % within DismenXolahraga 4 40.0% Berolahraga 18 47.3% 38 100.0% TingkatKeparahanDismenore * DismenoreXBerolahraga Crosstabulation Dismenore Tidak Berolahraga Tingkat Keparahan Dismenore Sedang Count % within DismenXolahraga Berat Count % within DismenXolahraga Total Count % within DismenXolahraga 6 60.0% 1 10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful