Anda di halaman 1dari 8

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Mengenal Tanaman Sirih Merah 2.1.1 Taksonomi tanaman sirih merah Sirih merah secara ilmiah dikenal dengan nama Piper betle L.Var Rubrum termasuk dalam familia Piperaceae. Nama lokal dari sirih merah yaitu Guan Shang hu Jiao (Cina), ornamental pepper (Inggris) dan sirih merah (Indonesia). Sedangkan nama daerah tanaman sirih yaitu suruh, sedah (Jawa, seureuh (sunda); ranub (Aceh); Cambai (Lampung); base (Bali); Nahi (Bima); mata (flores), gapura, dontile, gamnjeng, perigi, (Sulawesi); bida (Maluku) (Mardiana, 2004). Adapun kedudukan tanaman sirih merah menurut Dasuki (1994) dalam sistematik (taksonomi) tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut : Divisi : Magnoliphyta Kelas : Liliopsida Anak kelas : Aracidae Bangsa : Arecales Suku : Arecaeceae / palmae Marga : Piper Jenis : Piper betle L.Var Rubrum 2.1.2 Ciri-ciri tananamn sirih merah Menurut Sudewo (2005) ciri dari tanaman yang termasuk dalam suku Araceae yaitu tumbuhan menjalar. Batangnya bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya bertangkai membentuk jantung dengan bagian atas meruncing bertepi rata dan permukaan mengkilap/tidak berbulu. Panjang daunnya bisa mencapai 15-20 cm. Warna daun bagian atas hijau bercorak putih keabu-abuan. Bagian bawah daun berwarna merah hati cerah. Daunnya berlendir, berasa sangat pahit, dan beraroma wangi khas sirih. Batangnya berjalur dan beruas dengan jarak buku 5-10 cm. Disetiap buku bakal akar. Menurut Syariefa (2006) sirih merah merupakan tanaman yang tumbuh merambat dan sosoknya mirip tanaman lada. Tinggi tanaman biasanya mencapai 10 m, tergantung pertumbuhan dan tempat merambatnya. Batang sirih berkayu lunak, beruas-ruas, beralur dan berwarna hijau keabu-abuan. Daun tunggal berbentuk seperti jantung hati, permukaan daun licin, bagian tepi rata dan pertulangannya menyirip. Bunga majemuk tersusun dalam bulir, merunduk dan panjangnya sekitar 5-15 cm seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1. Tanaman sirih merah

2.1.3 Habitat tanaman sirih merah

Tanaman sirih merah tergolong langka karena tidak tumbuh disetiap tempat / daerah. Sirih merah tidak dapat tumbuh baik. Jika terlalu banyak terkena sinar matahari, batangnya cepat mengering, tetapi jika disiram secara berlebih akar dan batang cepat membusuk. Pada musim hujan banyak tanaman sirih merah yang mati akibat batangnya membusuk dan daun yang rontok. Tanaman sirih merah akan tumbuh dengan baik jika mendapat 60 75 % cahaya matahari. Di Indonesia tanaman sirih merah banyak terdapat di daerah bandung dan yogyakarta. Pembibitan dan perbanyakan sirih merah dilakukan secara vegetatif dengan stek, cangkok dan runduk batang (Sudewo, 2005).

2.2 Kandungan Kimia Daun Sirih Merah

Menurut Sholikhah (2006) senyawa fitokimia yang terkandung dalam daun sirih merah yakni alkoloid, saponin, tannin dan flavonoid. Sedangkan menurut Sudewo (2005) dari hasil kromotogam dapat dilihat bahwa daun sirih merah mengandung flavonoid, polifenolad, tannin dan minyak atsiri.

2.2.1 Alkoloid Alkoloid adalah kelompok besar senyawa organik alami dalam hampir semua jenis organisme berbagai efek farmakologi yang ditimbulkan seperti antikanker, antiinflalasi dan antimikroba.

Alkoloid bersifat basa, di alam berada sebagai garam dengan asam-asam organik. Adanya sifat basa ini mempermudah memisahkan ekstrak total alkaloid dari komponen lainnya (Herborne, 1987). Alkaloid berdasarkan jenis cincin heterosiklik nitrogennya diklasifikasikan menjadi lima macam yaitu pirolidin, piperidin, isokuinolin, kuinolin dan indol. Struktur alkaloid tersebut dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Struktur alkaloid berdasarkan jenis cincin heterosiklik nitrogen

2.2.2 Saponin

Saponin meripakan glikosida yang membentuk basa dalam air. Apabila dihidrolisis dengan asam akan menghasilkan gula dan spogenin yang sesuai, saponin merupakan senyawa kimia aktif permukaan yang dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis sel darah (Harborne, 1987). Sholikhah (2006) menyatakan bahwa saponin dapat dipakai sebagai antimikroba (bakteri / virus). Struktur saponin seperti pada gambar 3.

Gambar 3. Sturuktur aglikona saponina

2.2.3 Tannin

Tannin adalah senyawa fenol yang terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angoispermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasannya, tannin dapat bereaksi dengan protein membentuk kapolismer mantap yang tidak larut dalam air. Dalam industri, tannin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuannya menyambung silang protein (Harborne, 1987). Ssenyawa tannin seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.

Gambar 4. Struktur Tannin

2.2.4 Flavonoid

Flavonoid adalah kelompok senyawa fenol yang terbesar ditemukan dialam. Senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru dan sebagian kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan (Harbrone, 1987). Flavonoid dapat dikasifikasikan maenjadi 3 yaitu flavoniod, isoflavonoid dan neoflavonoid. Struktr flavonoid tersebut dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Struktur flavonoid

2.2.5 Polifenolad

Merupakan senyawa fenol yang memiliki gugus OH. Senyawa polivenol ini adalah antioksidan yang kekuatannya 100 kali lebih efektif dibandingkan vitamin C dan 25 kali lebih efektif dibandingkabn vitamin E

2.2.6 Minyak atsiri

Menurut Achmad dalam Fitriani (1999) sejak dahulu orang mengetahui bahwa bunga, daun dan akar dari berbagai tumbuhan mengandung bahan yang mudah menguap dan berbau wangi yang disebut minyak atsiri. Minyak atsiri pada sirih merah ini berfungsi sebagai antiradang dan antiseptik. 2.3 Khasiat dan Manfaat Daun Sirih Senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam siri merah memiliki khasiat sebagai berikut:Senyawa flavonoid dan polivenol berfungsi sebagai antioksidan, antideabetik, antikanker, antiseptik dan antiflamasi. senyawa alkoloid pada sirih merah juga dapat dimanfaatkan sebagai penghambat pertumbuhan sel-sel kanker.Suatu penelitian yang dilakukan dengan media tikus putih membuktikan bahwa rebusan daun sirih merah yang diberikan kepada tikus putih yang telah terkena diabetes dapat menurunkan kadar gula dalam darah pada tikus putih tersebut ini membuktikan bahwa Sirih merah dapat digunakan sebagai obat untuk menurunkan kadar gula darah dan mengontrol kadar gula darah dalam tubuh penderita diabetes militus yang di konsumsi secara rutin. selain berkhasiat sebagai pengontrol dan penurun kadar gula darah dalam tubuh sirih merah juga dapat dimanfaatkan untuk penyembuhan penyakit-penyakit lain seperti Hipertensi, radang lever, radang prostat, radang mata, keputihan maag, kanker payu darah, nyeri sendi dan juga dapat dimanfaatkan sebagai penjaga stamina. selain sebagai obat sirih merah juga di manfaatkan oleh masyarakat jogja sebagai uborampe dalam acara-acara adat kraton yang digunakan untuk ngadi saliro dan juga digunakan sebagai alat kecantikan oleh beberapa putri-putri keraton sebagai penghalus kulit. Kandungan karvakol pada daun sirih merah bermanfaat sebagai desenfektan, dan anti jamur, sehingga berfungsi sebagai obat kumur dan obat keputihan. Kandungan senyawa eugenol berfungsi sebagai obat pereda nyeri atau analgetik. kandungan tanin berfungsi sebagai penyembuh sakit perut khusunya diare dan juga dapat digunakan sebagai obat antiseptik pada luka. Sirih merah juga dapat dibudidayakan karena tanaman ini bernilai ekonomis sangat tinggi 4 5 lembar daun sirih merah mencapai harga 7 15 ribu rupiah sehingga dapat digunakan segabai mata pencaharian.

2.4 Efek samping Selama penggunaan sirih merah sebagai tanaman obat belum ada informasi yang berkaitan dengan efek samping mengkonsumsi tanaman ini sebagai obat, akan tetapi utnuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan sirih merah tidak di anjurkanuntuk di konsumsi oleh para wanita yang sedang hamil, menyusui dan anak-anak dibawah umur 7 tahun 2.5 Fungsi dan Peranan Antioksidan dan Antiseptik pada Daun Sirih Merah Antioksidan biasanya senyawa organik yang lebih mudah dioksidasi dan karenanya dapat menghambat sifat oksidatif zat kedua itu bila ditambahkan kepadanya(Gupte.1990). Menurut Mardiana (2004) antioksidan adalah zat yang mampu mematikan zat lain yang membuat sel menjadi rapuh dan mampu memperbaiki sel yang rusak. Dengan cara mengonsumsi buah dan sayur yang mengandung antioksidan secara teratur dan sesuai dosis maka terbukti dapat mengurangi resiko terserang kanker. Antioksidan merupakan senyawa penting dalam menjaga kesehatan tubuh karena berfungsi sebagai penangkal radikal bebas yang banyak terbentuk dalam tubuh. Selain dikonsumsi dalam bentuk makanan, antioksidan juga dimanfaatkan untuk bagian luar tubuh. Radikal bebas itu merupakan senyawa yang keadaannya bebas dan mempunyai satu atau lebih electron bebas yang tidak berpasangan. Radikal lebih reaktif oleh karena sangat reaktif, radikal bebas mudah menyerang sel-sel yang sehat dalam tubuh. Bila pertahanan tubuh kurang maka sel-sel sehat menjadi sulit. Disinilah peran antioksidan cukup penting dalam membantu pencegahan kerusakan sel-sel sehat akibat adanya radikal bebas. Kandungan kimia senyawa aktif yang terdapat pada daun sirih merah adalah polifenolad dan tannin. Kedua senyawa tersebut termasuk golongan fenol dan aktivitas biologis sebagai pengkal radikal bebas sehingga dapat dimanfaatkan sebagai obat melawan penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas seperti kanker (Hernani, 2004). Menurut Fessenden & Fessenden (1989) Produk radikal bebas dari senyawa fenol ini terstabilkan secara resonansi. Disamping sebagai antioksidan, menurut Cahyana (2006) sirih merah juga bersifat sebagai antiseptik artinya ia mampu mengeliminasi pertumbuhan mikroorganisme pada kulit. Misal jamur Candida albacans penyebab sariawan pada mulut dan gatal-gatal pada alat kelamin. Golongan senyawa yang memiliki sifat sebagai antiseptik pada daun sirih merah yaitu alkaloid, saponin, flavonoid, minyak atsiri dan tannin .

Tanaman sirih merah dapat dimanfaatkan sebagai obat, baik untuk obat luar ataupun obat yang diminum. Ramuan sirih merah yang digunakan untuk obat biasanya berupa sirih merah yang diramu secara tunggal maupun dicampur dengan tanaman obat lainnya untuk mendapatkan khasiat yang maximal. Menurut Syariefa (2006) zat aktif yang terkandung diseluruh bagian tanaman dapat merangsang saraf pusat, daya pikir, meningkatkan peristaltik, merangsang kejang dan meredakan sifat dengkur. Disamping kedua fungsi dan peran yang menguntungkan, sirih merah juga dapat bersifat sitoksis artinya pada dosis berlebih akan menyebabkan keracunan, dan karena sifat antiseptiknya sirih merah dapat menyebabkan ovarium kering jika digunakan secara terus menerus (Duryatmo, 2006). Menurut Cahyana (2006), agar sirih merah dapat bermanfaat dengan semestinya maka dalam penggunaannya tidak dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan harus memperhatikan dosisnya, misalnya yang dibutuhkan sebagai obat efektif 500 mg, tapi tanaman itu hanya 5 mg. Baginya tanaman herbal termasuk sirih merah memang bermanfaat sebagai kesehatan dan pencegah penyakit. Namun, jangan gantikan tanaman herbal sebagai obat utama, tetapi hanya boleh sebagai pelengkap. Menurut pengalaman Ny. Sudiasih penderita kanker payudara stadium II dan keputihan, setelah mengkonsumsi kapsul ekstrak sirih merah, teh celup sirih merah dan teh herbal yang bahan bakunya juga ada daun sirih merahnya. Setelah minggu ketujuh menggunakan sirih merah sebagai obat alternatif benjolan tinggal tersisa sangat kecil, pipih dan sama sekali tidak sakit. Bersama dengan sembuhnya benjolan di payudara, keluhan infeksi disaluran mulut rahim pun berangsur sembuh (Sudewo, 2005). 2.6 Pengolahan dan Pemanfaatan Daun Sirih Merah Pengolahan ramuan daun sirih merah dapat dilakukan secara tunggal atau pun pencampuran dengan tanaman obat yang lain. Biasanya ramuan tersebut diolah dengan cara direbus, perebusan tidak berdasarkan menit / jam tetapi dilihat dari banyaknya pengurangan jumlah air, biasanya pengurangan sekitar separuhnya. Sirih merah biasanya dimanfaatkan untuk mengobati berbagai macam penyakit, seperti kencing manis, jantung koroner, kanker rahim, kanker payudara, ambeien, TBC, obat eksim, obat sakit gigi, sariawan, keputihan akut, bau badan, penyakit kelamin dan masih banyak lagi penyakit yang dapat diobati dengan sirih merah. Produk olahan daun sirih merah yang banyak ditemukan dikalangan masyarakat dalam bentuk kapsul yang bisa langsung dikonsumsi. Tetapi ada juga sebagian masyarakat meramunya sendiri baik untuk obat luar ataupun obat dalam.

2.6.1 Teh Celup Daun Sirih Merah Bagi seorang yang tidak sempat membuat rebusan sirih merah maka ada cara praktis untuk mengkonsumsi daun sirih merah yaitu dengan cara mengkonsumsi ekstrak sirih merah dengan dikeringkan dan dibuat sebagai teh seduhan atau daun segar yang dicuci dan direndam dalam air panas 1 gelas dan di diamkan sampai minuman dingin lalu dapat dikonsumsi dengan aman Prosedur : Cuci daun sirih merah yang cukup tua hingga bersih. Iris kecil-kecil. Jemur sampai kering. Remas-remas dengan tangan sampai hancur (menjadi bubuk kasar). Agar rasanya lebih segar, bisa ditambahkan teh hijau, mint, atau bunga melati kering. Masukkan bubuk daun tersebut ke dalam kantong teh celup. Pemakaiannya sama dengan teh celup pada umumnya, yakni diseduh dan diminum selagi hangat