KUMPULAN KTI & ASKEB BeJo_NeT

UNIVERSITAS BAKTI INDONESIA BANYUWANGI

Minggu, 02 Mei 2010
KTI PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA -TANDA BAHAYA MASA NIFAS
PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA -TANDA BAHAYA MASA NIFAS DI WILAYAH PUSKESMAS PESANGGARAN KECAMATAN PESANGGARAN KABUPATEN BANYUWANGI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kematian dan kesakitan akibat komplikasi kehamilan, persalinan, nifas saat ini di dunia masih sangat tinggi. Tahun 2007 setiap 1 menit di dunia seorang ibu meninggal dunia. Dengan demikian dalam 1 tahun ada sekitar 600.000 orang ibu meninggal sia-sia saat melahirkan. Sedangkan di Indonesia dalam 1 jam terdapat 2 orang ibu meninggal karena komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas (Ide Bagus, 2009).

Di Propinsi Jawa Timur pada tahun 2007 terdapat 690.282 jumlah ibu hamil, dari sejumlah kelahiran, tercatat 354 kasus kematian maternal, yang terjadi pada saat kehamilan 65 orang, kematian pada saat persalinan 221 orang dan kematian ibu nifas 68 orang ( Raffel Subakhi, 2008).

Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6-8 minggu ( Sarwono Prawirohardjo, 2005). Dimana selama waktu tersebut pada seorang ibu nifas seringkali terjadi masalah tanda bahaya masa nifas. Hal ini sangat penting dan perlu untuk di ketahui oleh ibu nifas. Karena dengan di ketahuinya tanda bahaya masa nifas, bila terjadi masalah tersebut akan di ketahui atau terdeteksi secara dini adanya suatu komplikasi.

Pada wanita atau ibu nifas penjelasan mengenai tanda-tanda bahaya masa nifas sangat penting dan perlu, oleh karena masih banyak ibu atau wanita yang sedang hamil atau pada masa nifas belum mengetahui tentang tanda-tanda bahaya masa nifas, baik yang diakibatkan masuknya kuman kedalam alat kandungan seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh) dan endogen (dari jalan lahir sendiri) (Prawirohardjo, 2005).

Hasil studi pendahuluan di Wilayah Puskesmas Pesanggaran pada bulan Juni 2009, di dapatkan data dari 9 orang ibu nifas, yang mempunyai masalah masa nifas di antaranya 1 orang dengan masalah penyulit menyusui yaitu bendungan ASI, 1 orang ibu nifas dengan masalah infeksi pada bekas jahitan dan 1 orang ibu nifas dengan masalah sub-involusi karena adanya sisa plasenta.

Berdasarkan uraian di atas di dapatkan 3 orang yang mempunyai masalah bahaya masa nifas. Data tersebut merupakan sebagian data dari ibu nifas dengan masalah bahaya masa nifas, yang di ketahui atau terdeteksi oleh tenaga kesehatan. Tapi sebenarnya masih banyak ibu nifas yang mengalami masalah bahaya masa nifas, yang tidak di ketahui atau terdeteksi oleh tenaga kesehatan. Penyebab tidak di ketahuinya masalah bahaya masa nifas yaitu kurangnya pengetahuan ibu nifas. Dimana yang mempengaruhi pengetahuan dari ibu nifas yaitu faktor yang mempengaruhi pengetahuan (pendidikan, usia, pekerjaan,

informasi, pengalaman, lingkungan, sosial ekonomi, sosial budaya) dan juga konseling dari tenaga kesehatan selama kehamilan dan setelah persalinan (Notoadmodjo, 2005).

Asuhan masa nifas sangat di perlukan dalam periode ini karena masa nifas merupakan masa kritis untuk ibu dan bayi. Dengan demikian di perlukan suatu upaya untuk mencegah terjadinya suatu masalah tanda bahaya masa nifas. Untuk itu di perlukan suatu peran serta dari masyarakat terutama ibu nifas untuk memiliki pengetahuan tentang tanda-tanda bahaya masa nifas. Selain itu juga di perlukan peran serta dari tenaga kesehatan dengan memberikan konseling selama kehamilan, setelah persalinan, dan melakukan kunjungan rumah yaitu KN.1 dan KN.2 sesuai standart pelayanan. Dari upaya tersebut di harapkan dapat mengetahui dan mengenal secara dini tanda-tanda bahaya masa nifas, sehingga bila ada kelainan dan komplikasi dapat segera terdeteksi (Prawirohardjo, 2005).

Memperhatikan angka kematian ibu dan perinatal dapat diperkirakan bahwa sekitar 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Salah satu faktor penting dalam upaya penurunan angka kematian tersebut yaitu penyediaan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jumlah tenaga medis dan non paramedis di perbanyak sehingga pelayanan kesehatan umumnya dan pelayanan kebidanan khususnya mutu dan jangkauannya, secara bertahap di tingkatkan (Rustam Mochtar, 2002).

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah

1. Batasan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini, dibatasi hanya sebatas tahu tentang pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas.

2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: Bagaimanakah Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Tanda-Tanda Bahaya Masa Nifas Di Wilayah Puskesmas Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi?

3. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas di wilayah Puskesmas Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi.

D. Manfaat Penelitian

1. Secara Teoritis.

Penelitian ini sangat bermanfaat untuk mengetahui secara spesifik mengenai gambaran pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas.

2. Secara Praktis.

Meningkatkan kualitas pengetahuan kesehatan khususnya tentang tanda-tanda bahaya masa nifas.

3. Bagi Peneliti.

Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan ilmu pada bidang asuhan kebidanan nifas khususnya tentang tanda-tanda bahaya masa nifas.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Kata kerja untuk mengukur . Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung 2 aspek positif dan aspek negatif. Sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui mata dan telinga (Soekidjo Notoadmodjo. Ke-2 aspek inilah yang akan menentukan sikap seseorang terhadap objek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari objek di ketahui maka menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tesebut. penciuman. raba. dan pengecapan. tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif terdiri dari 6 tingkatan : 1) Tahu ( Know ) Pengetahuan di artikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelumnya. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini tejadi setelah seseorang melakukan suatu pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Tingkat Pengetahuan Menurut Soekidjo Notoadmodjo (2005). Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali ( Recall ) terhadap yang spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah di terima. oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. Pengindraan tejadi melalui panca indra manusia yaitu indra penglihatan. rasa. Landasan Teori 1. 2005). b. Konsep Pengetahuan a.A.

3) Aplikasi ( Aplication ) Aplikasi dapat di artikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah di pelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya ). Aplikasi di sini dapat di artikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum. rumus. 2) Memahami ( Comprehension ) Memahami di artikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang di ketahui dan dapat di interpretasikan materi tersebut secara benar. dan sebagainya. menyebutkan menguraikan mendefinisikan. meramalkan. Kemampuan analisis ini dapat di lihat dari penggunaan kata kerja seperti : pengelompokan. 4) Analisis ( Analysis ) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. 5) Sintesis ( Syntesis ) Syntesis adalah suatu kemampuan meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. prinsip. dan sebagainya. Sintesis adalah . tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain. Dalam konteks atau kondisi yang lain. Orang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. dan sebagainya. menyimpulkan. menyatakan. metode. membedakan. dan sebagainya.

Cara Memperoleh Pengetahuan Menurut Soekidjo Notoadmodjo (2005). misal: dapat menafsirkan tanda bahaya nifas. dan sebagainya. Pada waktu itu seseorang apabila menghadapi masalah. Penilaian. Cara ini telah di pakai orang sebelum adanya peradaban.penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang telah ada. dapat meringkas. 6) Evaluasi ( Evaluation ) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Cara coba-coba ini di lakukan dengan menggunakan . dapat merencanakan. terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. yaitu : 1) Cara Tradisional atau Non-Ilmiah Cara tadisional untuk memperoleh pengetahuan. dapat di kelompokkan menjadi 2. upaya pemecahan nya dengan cara cobacoba saja. cara memperoleh pengetahuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah. dapat menyesuaikan. antara lain meliputi : a) Cara Coba-Salah ( Trial and Error ) Cara ini paling tradisional yang pernah di gunakan oleh manusia untuk memperoleh pengetahuan yaitu melalui cara coba-coba. c.suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada misal: dapat menyusun.

Hal ini di lakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang di peroleh dalam memecahkan permasalahan yang di hadapi pada masa yang lalu. b) Cara Kekuasaan atau Otoriter Sumber pengetahuan tersebut berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal.kemungkinan memecahkan masalah. baik tradisi otoritas pemerintahan. Dengan kata lain. d) Melalui Jalan Pikiran Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuan. bila gagal dengan cara tersebut ia tidak akan mengulangi cara itu dan berusaha untuk mencari cara lain sehingga dapat berhasil memecahkannya. . pengetahuan tesebut dapat diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan. baik berdasarkan fakta empiris atau penalaran sendiri. Dimana prinsip ini orang lain berpendapat yang di kemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas tanpa menguji dulu atau membuktikan kebenarannya. apabila tidak berhasil di coba kemungkinan yang lain sampai masalah terselesaikan. c) Berdasarkan Pengalaman Pribadi Pengalaman pribadi dapat di gunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan. pemegang pemerintahan dan sebagainya. ahli agama. otoritas pemerintahan agama maupun ahli ilmu pengetahuan.

sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang di perkenalkan. baik melalui pernyataanpernyataan khusus kepada yang umum di sebut induksi. dan ilmiah yang di sebut metode penelitian ilmiah. . sebagai berikut : 1) Pendidikan Menurut Kuncoroningrat yang di kutip oleh Nur Salam (2003) menyebutkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang. d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Menurut Soekidjo Notoadmodjo (2005) mengemukakan ada 5 faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan. sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang di miliki. logis.manusia telah menggunakan jalan pikirannya. Kemudian metode berpikir induktif yang di kembangkan oleh B.Bacon di lanjutkan oleh Van Dalen bahwa dalam memperoleh kesimpulan di lakukan dengan mengadakan observasi langsung dan membuat pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan objek yang di amati. semakin mudah menerima informasi. 2) Cara Modern atau Ilmiah Cara baru memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis. Sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum kepada yang khusus.

3) Pekerjaan Seseorang yang bekerja pengetahuannya akan lebih luas dari pada seseorang yang tidak bekerja.Jadi pendidikan menuntun manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupannya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. makin tua umur seseorang. 4) Informasi Dengan memberikan informasi tentang kebiasaan hidup sehat dan cara pencegahan penyakit diharapkan akan terjadi peningkatan pengetahuan sikap dan perilaku kesehatan dalam diri individu / kelompok sasaran yang berdasarkan kesadaran dan kemauan individu yang bersangkutan (Notoatmodjo: 2005). usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat di lahirkan sampai saat berulang tahun. tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Menurut Long yang di kutip oleh Nur Salam (2003). makin konstruktif dalam menghadapi masalah yang di hadapi. 5) Pengalaman . 2) Usia Menurut Elisabeth yang di kutip oleh Nur Salam (2003). semakin cukup umur. pendidikan di perlukan untuk mendapatkan informasi. karena dengan bekerja seseorang akan mempunyai banyak informasi dan pengalaman.

e. Kriteria Tingkat Pengetahuan Menurut Arikunto (2006).Menurut Notoadmodjo (2005) merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. 8) Sosial Budaya Dapat mempengaruhi proses pengetahuan khususnya dalam penyerapan nilai-nilai sosial. jika orang hidup dalam lingkungan yang berpikiran luas maka tingkat pengetahuan akan lebih baik dari pada orang yang tinggal di lingkungan orang yang berpikiran sempit. mengemukakan bahwa untuk mengetahui secara kualitas tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang dapat dibagi menjadi empat tingkat yaitu : . Pengalaman dapat menuntun seseorang untuk menarik kesimpulan dengan benar. akan tidak merasa takut untuk mengambil sikap atau tindakan. 7) Sosial Ekonomi Mempengaruhi tingkah laku seseorang ibu atau masyarakat yang berasal dari sosial ekonomi tinggi di mungkinkan lebih memiliki sikap positif memandang diri dan masa depannya. tetapi bagi ibu-ibu atau masyarakat yang sosial ekonomi rendah. kagamaan untuk memperkuat super egonya. 6) Lingkungan Lingkungan berpengaruh terhadap pengetahuan. sehingga dari pengalaman yang benar di perlukan berfikir yang logis dan kritis.

2001). Tujuan Asuhan Masa Nifas Menurut Prawirohardjo (2002). Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira – kira 6 minggu (Arif Mansjoer. 2005) Masa nifas (puerperium) adalah di mulai setelah placenta lahir dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Konsep Nifas a. baik fisik maupun psikologik. Pengertian Nifas Nifas (Puerperium) adalah dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. 2002). mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya. tujuan asuhan masa nifas : 1) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya.55 % 4) Buruk : <40> 2. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6-8 minggu (Prawirohardjo. Masa nifas berlangsung selama kira – kira 6 minggu (Prawirohardjo. . 2) Melaksanakan skrining yang komprehensif.1) Baik : 76 – 100 % 2) Cukup : 56 – 75 % 3) Kurang : 40 . b. mendeteksi masalah.

3) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri. 3) Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Periode Masa Nifas Menurut Arif Mansjoer (2002). 4) Memberikan pelayanan keluarga berencana. atau tahunan. 2) Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8 minggu. dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari. Kunjungan Masa Nifas Menurut Prawirohadjo (2002) paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi dan untuk mencegah.8 jam setelah melahirkan . 1) 6 . Dalam agama Islam. mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi. keluarga berencana. nifas di bagi dalam 3 periode : 1) Puerperium dini yaitu kepulihan di mana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. menyusui. d. c. bulanan. nutrisi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu. pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.

a) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. e) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir. d) Pemberian ASI awal. fundus dibawah umbilikus tidak ada perdarahan abnormal. cairan dan istirahat. infeksi. tidak ada bau. b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan rujuk bila perdarahan berlanjut. b) Menilai adanya tanda-tanda demam. menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi seharihari. c) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. 2) 6 (enam) hari setelah melahirkan (persalinan) a) Memastikan involusi uterus berjalan baik (normal) uterus berkontraksi. atau perdarahan abnormal. e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi. fundus dibawah umbilikus tidak ada perdarahan abnormal. 3) 2 (dua) minggu setelah persalinan a) Memastikan involusi uterus berjalan baik (normal) uterus berkontraksi. c) Memastikan ibu mendapat cukup makanan. . tidak ada bau. d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit. tali pusat.

apabila tidak dilaporkan atau tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian ibu (Pusdiknakes. sebagai berikut : 1) Perdarahan Post Partum Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir (Prawirohardjo. e. menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari hari. e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi. c) Memastikan ibu mendapat cukup makanan. 2002) Menurut waktu terjadinya di bagi atas 2 bagian : . b) Memberikan konseling untuk KB secara dini. d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyuIit. infeksi. tali pusat. 4) 6 (enam) minggu setelah persalinan a) Menanyakan pada ibu tentang penyulit yang ibu atau bayi alami. Tanda-Tanda Bahaya Masa Nifas Adalah suatu tanda yang abnormal yang mengindikasikan adanya bahaya/ komplikasi yang dapat terjadi selama masa nifas. cairan dan istirahat. atau perdarahan abnormal. Tanda-tanda bahaya masa nifas.b) Menilai adanya tanda-tanda demam.2003).

b) Perdarahan post partum sekunder (Late Post Partum Hemorrhage) yang terjadi setelah 24 jam. 2) Lochea yang berbau busuk (bau dari vagina) Lochea adalah cairan yang dikeluarkan uterus melalui vagina dalam masa nifas sifat lochea alkalis. . Terbanyak dalam 2 jam pertama. retensio placenta.persalinan dengan tindakan paksa. jumlah lebih banyak dari pengeluaran darah dan lendir waktu menstruasi dan berbau anyir (cairan ini berasal dari bekas melekatnya placenta). Faktor-faktor penyebab perdarahan post partum adalah : a) Grandemultipara. Penyebab utama adalah atonia uteri.a) Perdarahan Post Partum Primer (Early Post Partum Hemorrhage) yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir. 2002). biasanya terjadi antara hari ke 5 sampai 15 post partum. Penyebab utama adalah robekan jalan lahir dan sisa placenta (Prawirohardjo. Menurut Manuaba (2005). sisa placenta dan robekan jalan lahir. perdarahan post partum merupakan penyebab penting kematian maternal khususnya di negara berkembang. persalinan dengan narkosa. pertolongan persalinan oleh dukun. c) Persalinan yang di lakukan dengan tindakan : pertolongan kala uri sebelum waktunya. b) Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun.

keluar cairan seperti nanah berbau busuk. dan mekoneum. sel-sel desidua. d) Lochea alba: cairan putih. setelah 2 minggu. f) Lochiostasis: lochea tidak lancar keluarnya. membuat kontraksi uterus kurang baik sehingga lebih lama mengeluarkan lochea dan lochea berbau anyir atau amis. 2002) : a) Lochea rubra (cruenta): berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban. . b) Ibu yang tidak menyusui anaknya. c) Lochea serosa: berwarna kuning. lanugo. Apabila pengeluaran lochea lebih lama dari pada yang disebutkan di atas kemungkinan adanya : a) Tertinggalnya placenta atau selaput janin karena kontraksi uterus yang kurang baik. verniks kaseosa. cairan tidak berdarah lagi. pada hari ke 7-14 pasca persalinan. e) Lochea purulenta: terjadi infeksi.Lochea dibagi dalam beberapa jenis (Rustam Mochtar. pengeluaran lochea rubra lebih banyak karena kontraksi uterus dengan cepat. b) Lochea sanguinolenta: berwarna merah kuning berisi darah dan lendir hari ke 37 pasca persalinan. c) Infeksi jalan lahir. selama 2 hari pasca persalinan.

4) Nyeri pada perut dan pelvis Tanda-tanda nyeri perut dan pelvis dapat menyebabkan komplikasi nifas seperti : Peritonitis. 2002). fundus masih tinggi. 2005). antara lain: sisa plasenta dalam uterus. dan tidak jarang terdapat pula perdarahan (Prawirohardjo. Bila pengobatan terlambat atau kurang adekuat dapat menjadi abses pelvik. Faktor penyebab sub-involusi. 2005). 2005). Bila ada sisa plasenta lakukan kuretase. disertai nyeri perut bagian bawah kemungkinan diagnosisnya adalah metritis. Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan yang merupakan salah satu penyebab terbesar kematian ibu. Pada pemeriksaan bimanual di temukan uterus lebih besar dan lebih lembek dari seharusnya. adanya mioma uteri (Prawirohardjo. . Pengobatan di lakukan dengan memberikan injeksi Methergin setiap hari di tambah dengan Ergometrin per oral. Berikan Antibiotika sebagai pelindung infeksi (Prawirohardjo. menjadi 40-60 mg 6 minggu kemudian. peritonitis. Bila pengecilan ini kurang baik atau terganggu di sebut sub-involusi (rustam Mochtar. endometritis. peritonitis umum dapat menyebabkan kematian 33% dari seluruh kematian karena infeksi. 2002).Bila lochea bernanah dan berbau busuk. Peritonitis adalah peradangan pada peritonium. syok septik (Rustam Mochtar. lochea banyak dan berbau. 3) Sub-Involusi Uterus (Pengecilan Rahim yang Terganggu) Involusi adalah keadaan uterus mengecil oleh kontraksi rahim dimana berat rahim dari 1000 gram saat setelah bersalin.

Menurut Rustam Mochtar (2002) gejala klinis peritonitis dibagi 2 yaitu : a) Peritonitis pelvio berbatas pada daerah pelvis Tanda dan gejalanya demam. nyeri perut bagian bawah tetapi keadaan umum tetap baik. pusing merupakan tanda-tanda bahaya pada nifas. c) Minum sedikitnya 3 liter setiap hari. kulit dingin. anorexsia. kadang-kadang muntah. dimana keadaan lemas disebabkan oleh kurangnya istirahat dan kurangnya asupan kalori sehingga ibu kelihatan pucat. pusing bisa disebabkan oleh karena tekanan darah rendah (Sistol <> 160 mmHg dan distolnya 110 mmHg. perut nyeri tekan. tekanan darah rendah (sistol <> a) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari. b) Peritonitis umum Tanda dan gejalanya: suhu meningkat nadi cepat dan kecil. . pucat muka cekung. pada pemeriksaan dalam kavum daugles menonjol karena ada abses. b) Makan dengan diit berimbang untuk mendapatkan protein. mineral dan vitamin yang cukup. Pusing dan lemas yang berlebihan dapat juga disebabkan oleh anemia bila kadar haemoglobin <> Lemas yang berlebihan juga merupakan tanda-tanda bahaya. 5) Pusing dan lemas yang berlebihan Menurut Manuaba (2005).

g) Kurang istirahat akan mempengaruhi produksi ASI dan memperlambat proses involusi uterus. f) Istirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan. Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat genetalia dalam masa nifas (Rustam Mochtar. Namun apabila terjadi peningkatan melebihi 380C beturut-turut selama 2 hari kemungkinan terjadi infeksi. Hal itu adalah normal. dalam hal ini disebut demam reabsorbsi. e) Minum kapsul vitamin A (200. Penanganan umum bila terjadi Demam : a) Istirahat baring b) Rehidrasi peroral atau infuse c) Kompres atau kipas untuk menurunkan suhu . 6) Suhu Tubuh Ibu > 38 0C Dalam beberapa hari setelah melahirkan suhu badan ibu sedikit baik antara 37. 2002).80C oleh karena reabsorbsi benda-benda dalam rahim dan mulainya laktasi.d) Pil zat besi harus di minum untuk menambah zat setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.20C-37.000 unit) agar bisa memberikan kadar vitaminnya kepada bayinya.

pencegahan infeksi nifas sebagai berikut: a) Masa kehamilan Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia. alat-alat harus suci hama. sekalipun tidak jelas gejala syok. 2002). 2) Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama. lakukan bila ada indikasi dengan sterilitas yang baik. apalagi bila ketuban telah pecah. kalau ini terjadi infeksi akan mudah masuk dalam jalan lahir. b) Masa persalinan 1) Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang. harus waspada untuk menilai berkala karena kondisi ini dapat memburuk dengan cepat (Prawirohardjo.d) Jika ada syok. Pencegahan Infeksi Nifas: Menurut Rustam Mochtar (2002). Begitu pula koitus pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan hati. Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu. 3) Jagalah sterilitas kamar bersalin dan pakailah masker. . malnutrisi.hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban. dijahit sebaik-baiknya dan menjaga sterilitas. serta mengobati penyakitpenyakit yang diderita ibu. 4) Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun perabdominam dibersihkan. dan kelemahan. segera beri pengobatan.

2001). begitu pula alatalat dan pakaian serta kain yang berhubungan dengan alat kandungan harus steril. bila terjadi darah yang hilang harus segera diganti dengan transfusi darah. menghilangkan kerak pada puting susu sehingga duktusnya tidak tersumbat (Arif Mansjoer. Cairan yang telah kental lebih dari air susu. . 2) Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam ruangan khusus.5) Pakaian dan barang-barang atau alat-alat yang berhubungan dengan penderita harus terjaga kesucihamaannya. Pada hari pertama keluar kolostrum. mengandung banyak protein. globulin dan kolostrum. tidak bercampur dengan ibu sehat. 7) Penyulit dalam Menyusui Kelenjar mamae telah dipersiapkan semenjak kehamilan. dilakukan persiapan sejak awal hamil dengan melakukan massase. c) Masa nifas 1) Luka-luka dirawat dengan baik jangan sampai kena infeksi. 6) Perdarahan yang banyak harus dicegah. Umumnya produksi ASI baru terjadi pada hari ke 2 atau 3 pasca persalinan. 3) Tamu yang berkunjung harus dibatasi. Untuk dapat melancarkan ASI. albumin.

2005). putting diberi lanolin monelia di terapi dan menyusui pada payudara yang tidak lecet. Pengeluaran ASI pun dapat bervariasi seperti tidak keluar sama sekali (agalaksia). putting harus kering saat menyusui. menyusui 24-48 jam dan ASI dikeluarkan dengan tangan atau dipompa (Arif Mansjoer. 1) Penyebab (a) Penyempitan duktus laktiferus (b) Kelenjar kelenja yang tidak dikosongkan dengan sempurna (c) Kelainan pada puting susu. 2001). . ibu dapat menariknarik putting susu dan ibu harus tetap menyusui agar putting selalu sering tertarik (Arif Mansjoer. Beberapa keadaan Abnormal pada masa menyusui yang mungkin terjadi: a) Bendungan ASI Adalah pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktoferi atau oleh kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna/karena kelainan pada putting susu (Arif Mansjoer. 2001). bila lecetnya luas. ASI sedikit (aligolaksia). 2001). dan terlalu banyak (poligalaksia) dam pengeluaran berkepenjangan (galaktoria) (Manuaba.Untuk menghindari putting rata sebaiknya sejak hamil. Selain itu putting lecet dapat disebabkan oleh karena cara menyusui dan perawatan payudara yang tidak benar dan infeksi monelia. Sedangkan untuk menghindari putting lecet yaitu dengan melakukan tehnik menyusui yang benar.

2) Gejala (a) Timbul pada hari ke 3-5 (b) Payudara bengkak. Peroral setiap 4 jam. 2001). panas dan nyeri (c) Suhu tubuh naik. b) Mastitis Adalah suatu peradangan pada payudara biasanya terjadi pada 3 minggu setelah melahirkan. . keras. 3) Penatalaksanaan (a) susukan payudara sesering mungkin (b) kedua payudara disusukan (c) kompres hangat payudara sebelum disusukan (d) bantu dengan rnemijat payudara untuk permulaan menyusui sangga payudara (e) kompres dingin pada payudara diantara menyusui. (Arif Mansjoer. (f) bila diperlukan berikan parasetamol 500 Mg. 2001). tegang. Penyebab kuman terutama stapilokokus aureus melalui luka pada puting susu atau melalui peredaran darah (Arif Mansjoer.

Tanda dan Gejala : (1) Payudara membesar dan keras (2) payudara nyeri. B. (2) Sangga payudara (3) Kompres dingin (4) Susukan bayi sesering mungkin (5) Banyak minum dan istirahat yang cukup (6) Bila terjadi abses lakukan insisi radial (Arif Mansjoer. Gejala sama dengan Mastistis terdapat bisul yang pecah dan mengeluarkan pus (nanah) (Arif Mansjoer. 2001). Kerangka Konseptual . dan bengkok (3) payudara memerah dan membisul (4) suhu badan naik dan menggigil (Arif Mansjoer. Penatalaksanaan : (1) Beri antibiotik 500 mg/6 jam selama 10 hari. 2001). 2001). c) Abses Payudara Adalah terdapat masa padat mengeras di bawah kulit yang kemerahan terjadi karena mastistis yang tidak segera diobati.

Tahu .Menurut Notoadmodjo (2005). meliputi : 1. Dari uraian di atas. Macam-macam tanda bahaya masa nifas 3. sedangkan Kerangka Konsep Penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu dengan konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian. Pengertian 2. peneliti membuat kerangka konsep penelitian sebagai berikut: Pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas. penatalaksaan Tingkat Pengetahuan: 1. Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi suatu pengertian.

pekerjaan. Gambar 2. Sedangkan pada tingkat . Penjelasan kerangka konseptual gambaran pengetahuan ibu nifas tentang tandatanda bahaya masa nifas. pengalaman.1 kerangka konseptual pengetahuan ibu nifas tentang tanda–tanda bahaya masa nifas. usia. semuanya tidak di teliti. Modifikasi Nursalam (2003). informasi. Dari faktor pengetahuan tersebut. dan sosial budaya.Pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas cukup Pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas baik Pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas baik Pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas baik Pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas baik Keterangan : : di teliti : tidak di teliti Sumber : Notoatmodjo (2005). lingkungan. sosial ekonomi. Berdasarkan pengetahuan dari kerangka konseptual di atas dapat di jelaskan bahwa pengetahuan ibu di pengaruhi oleh faktor yang terdiri dari pendidikan.

Haryanto. Dalam penulisan ini menggunakan desain penelitian survei. 2003) 1. BAB 3 METODE PENELITIAN A. yaitu suatu desain yang digunakan untuk menyediakan informasi yang berhubungan dengan prevalensi. Jenis Variabel Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas. dan lain-lain) (Soeparto. Variabel Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda. Taat Putra. 2. manusia. Jenis dan Rancang-bangun Penelitian Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yaitu desain yang bertujuan untuk mendeskripsikan (memaparkan) pengetahuan ibu nifas tentang tandatanda bahaya masa nifas.pengetahuan yang di teliti hanya pada sebatas tahu saja yaitu tentang tanda-tanda bahaya masa nifas. B. distribusi dan hubungan antar variabel dalam suatu populasi (Nursalam. 2003). Definisi Operasional Variabel . 2005) (Nursalam.

Pengertian 2.1 Definisi Operasional Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Tanda-Tanda Bahaya Masa Nifas Variabel Pengetahuan ibu nifas tentang tandatanda bahaya masa nifas Definisi Operasional Segala sesuatu yang di ketahui oleh seorang ibu nifas dalam periode masa nifas tentang tandatanda bahaya masa nifas . 2009). Penatalaksanaan C. 2006) Skala Ordinal 3. Macam-macam tanda bahaya masa nifas Kriteria Baik : 76–100% Cukup : 56-75 % Kurang : 40-55 % Buruk : <> (Arikunto. definisi operasional merupakan teori atau konsep yang telah di jabarkan dalam bentuk variabel penelitian tersebut agar variabel tersebut mudah di pahami. Tabel 3. 2006). Sampel yang di gunakan . Pada penelitian ini populasinya adalah ibu nifas yang ada di Wilayah Puskesmas Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009 dengan jumlah 34 orang. Sampel Sampel adalah sebagian yang di ambil dari keseluruhan objek penelitian dan di anggap mewakili populasi (Suyanto & Umi Salamah. di ukur atau di amati. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto. D.Menurut Suyanto & Umi Salamah (2009). meliputi: 1.

sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi. Teknik Dan Instrumen Pengumpulan Data 1.dalam penelitian ini adalah ibu nifas yang ada di Wilayah Puskesmas Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009 dengan jumlah 34 orang. F. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Puskesmas Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi. Teknik sampling. Waktu penelitian Waktu penelitian di mulai tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009. E. Menurut Nursalam (2003). Maka peneliti mulai pengumpulan data dan sebelum nya peneliti membuat informed concent (persetujuan) dari klien sebagai responden penilitian. maka peneliti membagikan kuisioner yang berisi daftar pernyataan yang diajukan secara tertulis dan responden tinggal memberikan jawaban/pendapat sesuai dengan pengetahuan nya . Teknik Pengumpulan Data Setelah mendapat izin di Puskesmas Pesanggaran dan untuk memperoleh data yang relevan. Setelah responden bersedia akan dilakukan penelitian. 2. 2003). yang digunakan dalam penelitian ini adalah non propability sampling dengan metode total sampling (Nursalam.

Teknis Analisa Data Teknik Pengolahan Data Dari hasil data dengan menggunakan rekam medik secara deskriptif melalui tabel distribusi yang dikonfirmasikan dalam bentuk prosentase dan narasi . G. 2005).(Notoatmodjo.2005). Kuesioner yaitu suatu cara pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah dengan menyediakan pernyataan kepada sejumlah objek (Notoatmodjo. 2005). Langkah – langkah pengolahan data sebagai berikut : 1. 2. sedangkan untuk jawaban yang salah di beri nilai 0 (Notoatmodjo. Editing Proses editing dengan memeriksa kembali data yang telah dikumpulkan reka medik ini berarti semua data harus diteliti kelengkapan data yang diberikan. . Untuk kuesioner pengetahuan ibu tentang tandatanda bahaya masa nifas. Sedangkan daftar pernyataan tersebut sesuai dengan variabelvaribel penelitian. menggunakan skala Guttman yaitu nilai jawaban yang benar di beri nilai 1. Dalam pengumpulan pada penelitian di gunakan alat berupa kuesioner tertutup yang di berikan pada responden. Instrumen Penelitian Untuk data yang relevan dengan tujuan penelitian maka peneliti menggunakan instrumen pengumpulan data berupa angket atau kuesioner.

sedangkan untuk jawaban yang salah di beri nilai 0. Tidak ada pedoman yang baku untuk skoring. kemudian di beri skor. 4. Coding Untuk memudahkan dalam pengolahan data maka untuk setiap jawaban dari kuesioner yang telah disebarkan diberi kode sesuai dengan karakter. Untuk jawaban yang benar di beri nilai 1. aspek pengetahuan diukur dengan : Keterangan : P : Prosentase . Menurut Eko Budiarto (2001). Tabulating Mentabulasi dengan memuat tabel – tabel sesui dengan analisis yang dibutuhkan. Dari hasil jawaban responden. Skoring Tahap ini di lakukan setelah di tetapkan kode jawaban atau hasil observasi. namun skoring harus di berikan. 3.2. Analisa data Untuk variabel pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas di kumpulkan melalui kiesioner kemudian di tabulasi dan di kelompokkan. selanjutnya diadakan presentasi dengan membagi frekuensi setiap alternatif jawaban dengan jumlah skor maksimal semua jawaban yang benar kemudian dikalikan 100%. Sehingga setiap jawaban dari responden atau hasil observasi dapat di berikan skor.

Kurang : 40 . oleh karena itu peneliti tidak boleh mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data. H. Etika Penelitian Penelitian ini dimulai dengan melakukan berbagai prosedur yang berhubungan dengan etika penelitian yang meliputi: 1. Buruk : <40 style=""> (1-3 jawaban yang benar) (Arikunto. 2006). Cukup : 56 – 75 % ( 7-9 jawaban yang benar) 3.55 % (4-6 jawaban yang benar) 4.∑F : Jumlah jawaban yang benar n : Jumlah skor maksimal semua jawaban yang benar Kemudian data penelitian tersebut di interprestasikan dengan menggunakan kriteria tingkat pengetahuan : 1. . Informed Consent (Lembar Persetujuan Menjadi Responden) adalah lembar persetujuan yang akan di berikan pada subyek yang akan di teliti. Baik : 76 – 100 % (10-12 jawaban yang benar) 2. Anonimity (Tanpa Nama) adalah kerahasiaan identitas responden harus di jaga. 2. Confidentiality (Karakteristik) adalah kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti karena hanya kelompok data tertentu saja yang akan di sajikan atau di laporkan sebagai hasil penelitian. 3.

2.180 jiwa 1. sehingga validitas dan reabilitasnya masih pelu di uji coba adanya karakteristik yang di gabungkan.450 m² dengan luas bangunan 558. Jumlah penduduk : 21. . A.167 jiwa. 43 km². HASIL PENELITIAN Puskesmas Pesanggaran terletak di Desa Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi.013 jiwa.I. Luas wilayah Puskesmas Pesanggaran 37. Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini penulis memiliki beberapa keterbatasan sebagai berikut: 1. Perempuan : 11. BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang hasil penelitian yang dilaksanankan di Wilayah Puskesmas Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi Pada Tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009.25 m². 2. Sampel yang di ambil hanya terbatas pada ibu nifas di Wilayah Puskesmas Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi pada tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009 sehingga hasil nya kurang representative. Laki-laki : 10. Dibangun diatas tanah + 4. Instrument pengumpulan data berdasakan kuesioner yang di rancang sendiri oleh peneliti.

Perawat : 12 orang 5. Sebelah Selatan berbatasan dengan laut selatan 3.3 . Dokter umum : 2 orang 2.1 Distribusi frekuensi umur ibu nifas di wilayah Puskesmas Pesanggaran Tanggal 27 Juli . Dokter gigi : 1 orang 3. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sumberagung 2.8 Agustus Tahun 2009. Bidan : 8 orang 4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Siliragung Tenaga kesehatan di Puskesmas Pesanggaran antara lain : 1.Batasan wilayah Puskesmas Pesanggaran yaitu : 1. PLKB : 1 orang 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Bangorejo dan Tegalsari 4. Karakteristik Responden Menurut Umur Tabel 4. Data Umum a. No 1.82 85. Usia (tahun) <20 20 . 2.35 Frekuensi (f) 3 29 Prosentase (%) 8. Administrasi : 3 orang 6.

Ibu Rumah Tangga 2.94 11. Pegawai Negeri Jumlah Frekuensi (f) 23 6 1 4 34 Peosentase (%) 67. Wiraswasta 5. 2.88 100 Berdasarkan tabel 4. Pendidikan SD SMP SMA Perguruan tinggi Jumlah Frekuensi (f) 8 15 9 2 34 Prosentase (%) 23.65 2.76 100 . b.2 diatas dapat diketahui sebagian besar responden berpendidikan SMP yaitu 15 responden (44. Tani 3. 3. Pegawai Tidak Tetap 4.3 Distribusi frekuensi pekerjaan ibu nifas di wilayah Puskesmas Pesanggaran Tanggal 27 Juli .53 44. >35 Jumlah 2 34 5.3%). No 1.12 26. Karakteristik Responden Menurut Pendidikan Tabel 4.88 100 Berdasarkan tabel 4.47 5.12%).8 Agustus Tahun 2009 No Pekerjaan 1. 4. Karakteristik Responden Menurut Pekerjaan Tabel 4.3.1 diatas dapat diketahui sebagian besar responden berumur 20-35 tahun yaitu 29 responden (85.65 17.2 Distribusi frekuensi pendidikan ibu nifas di wilayah Puskesmas Pesanggaran Tanggal 27 Juli – 8 Agustus Tahun 2009. c.

Sumber Informasi Media (cetak dan elektronik) Frekuensi (f) 14 18 2 34 Prosentase (%) 41.94 5. Kriteria Pengetahuan Baik Cukup Kurang Buruk Jumlah Frekuensi (f) 17 12 5 34 Prosentase (%) 50 35.8 Agustus Tahun 2009 No 1. 3.65%).3 diatas dapat diketahui sebagian besar responden sebagai ibu rumah tangga yaitu 23 responden (67. Data khusus Tabel 4.94%).71 100 Berdasarkan tabel 4.4 Distribusi frekuensi sumber informasi yang didapat ibu nifas di wilayah Puskesmas Pesanggaran Tanggal 27 Juli .29 14.Berdasarkan tabel 4. 2. Tidak pernah Jumlah Berdasarkan tabel 4. Karakteristik Responden Menurut Sumber Informasi Tabel 4.5 Distribusi pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas di wilayah Puskesmas Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi Tanggal 27 Juli .5 diatas dapat diketahui sebagian besar responden mempunyai pengetahuan baik yaitu 17 responden (50%). . Penyuluhan (konseling dari nakes) 3.18 52. d. 4.4 diatas dapat diketahui sebagian besar responden memperoleh informasi dari penyuluhan (konseling dari nakes) yaitu 18 responden (52. 2.88 100 2.8 Agustus Tahun 2009 No 1.

Menurut Long yang di kutip oleh Nur Salam (2003). Dari data dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berumur 20-35 tahun yaitu 29 responden (85. Dengan demikian semakin tua umur responden maka tingkat pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas semakin baik. tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.39%). makin konstruktif dalam menghadapi masalah yang di hadapi. semakin cukup umur. Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berpendidikan SMP yaitu 15 responden (44. usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat di lahirkan sampai saat berulang tahun.3%). Semakin banyak umur atau semakin tua seseorang maka akan mempunyai kesempatan dan waktu yang lebih lama dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan.12%).71%).banyaknya. Hasil analisis ini didukung oleh umur responden. Menurut Elisabeth yang di kutip oleh Nur Salam (2003). Usia 20-35 tahun merupakan usia yang reproduktif bagi seseorang untuk dapat memotivasi diri memperoleh pengetahuan yang sebanyak.B. Sedangkan yang lainnya mempunyai pengetahuan cukup yaitu 12 responden (35. Hasil analisis juga dipengaruhi oleh pendidikan responden. PEMBAHASAN Berdasarkan analisa dan interpretasi data yang didapat bahwa 50% responden berpengetahuan baik yaitu 17 responden. . makin tua umur seseorang. dan yang mempunyai pengetahuan kurang yaitu 5 responden (14.

Hal ini dikarenakan tanda-tanda bahaya masa nifas adalah informasi khusus. Penelitian ini didapatkan bahwa pengetahuan responden tentang tanda-tanda bahaya masa nifas 50% baik. . Hal ini sebagaimana yang dikutip oleh Kuntjoroningrat yang dikutip oleh Nursalam dan Pariani (2003).Menurut Nursalam (2003). Sebagian besar responden bakerja sebagai ibu rumah tangga. Faktor lain disebabkan karena status pekerjaan responden sebagian besar responden sebagai ibu rumah tangga yaitu 23 responden (67. maka makin mudah menerima informasi sehangga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. memperoleh informasi dari media masa terutama berkaitan dengan tanda-tanda bahaya masa nifas. menyebutkan bahwa bekerja umumnya pekerjaan yang menyita waktu untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan yang benar. Responden yang berpendidikan tinggi akan mudah menyerap informasi. Adapun informasi mengenai tanda-tanda bahaya masa nifas biasanya diperoleh melalui penyuluhan kesehatan atau konseling dari tenaga kesehatan. bahwa makin tinggi pendidikan seseorang. maka menyebabkan responden mempunyai waktu yang cukup untuk mendapatkan informasi disebabkan karena hanya melakukan pekerjaan rumah tangga. Untuk 50% responden yang lain berpengetahuan cukup dan kurang. sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki lebih tinggi namun sebaliknya orang tua yang berpendidikan rendah akan mengalami hambatan dalam penyerapan informasi sehingga ilmu yang dimiliki juga lebih rendah yang berdampak pada kehidupannya.65%). Responden mempunyai waktu yang cukup untuk mendapatkan penyuluhan kesehatan dan konseling dari tenaga kesehatan. yang tidak didapatkan di bangku sekolah atau Perguruan Tinggi umum kecuali sekolah kesehatan.

Hal ini dapat di lihat dari jawaban yang benar pada kuesioner tentang pengertian tentang tanda-tanda bahaya masa nifas. Menurut Notoatmodjo (2005). Hal ini dapat di lihat dari latar belakang mayoritas pendidikan responden yaitu SMP dan SMA.Dengan demikian pemberian informasi mengenai tanda-tanda bahaya masa nifas yang diberikan akan mudah diterima oleh responden sehingga akan semakin termotivasi untuk lebih tanggap tentang tanda-tanda bahaya masa nifas.24%). sebagian besar mendapatkan sumber informasi dari penyuluhan (konseling dari tenaga kesehatan) yaitu 18 responden (52. surat kabar ataupun yang lainnya. . di samping itu juga di tunjang sebelumnya responden mendapatkan informasi tentang tanda-tanda bahaya masa nifas dari media atau penyuluhan. Berdasarkan analisa data didapatkan dari 34 responden. majalah. Karena dengan mendapatkan informasi tentang tanda-tanda bahaya masa nifas maka masyarakat akan lebih tahu dan tanggap tentang tanda-tanda bahaya masa nifas. Tingkat pengetahuan masyarakat juga di pengaruhi oleh informasi yang di peroleh (Notoatmodjo: 2005).94%). Di harapkan dengan adanya pengetahuan lebih tentang tanda-tanda bahaya masa nifas oleh masyarakat maka angka bahaya masa nifas di masyarakat dapat di tekan seminimal mungkin. Menurut Nursalam (2003). Berdasarkan analisa dan interpretasi data yang di dapat sebagian besar responden mempunyai pengetahuan baik dan cukup 13 yaitu responden (38. Dimana jumlah frekuensi (prosentase) yaitu sama besar. bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka makin tinggi pula pengetahuan seseorang. tingkat pengetahun masyarakat juga dipengaruhi oleh informasi yang diperoleh baik melalui tenaga kesehatan.

Hal ini di perkuat oleh Nursalam (2003) yang menyatakan semakin tinggi pendididkan seseorang maka makin tinggi pula pengetahuan seseorang.Berdasarkan analisa dan interpretasi data yang di dapat sebagian besar responden mempunyai pengetahuan baik yaitu 13 responden (38. . dimana Usia 20-35 tahun merupakan usia yang reproduktif bagi seseorang untuk dapat memotivasi diri memperoleh pengetahuan yang sebanyak. Menurut Long yang di kutip oleh Nur Salam (2003). dimana semakin tinggi pendidukan seseorang maka semakin tinggi pula pengetahuan seseorang (Nursalam. pekerjaan. Dari faktor pendidikan responden berpendidikan SMP dan SMA. Responden mayoritas mempunyai pengetahuan baik. dan sumber informasi. pendidikan. makin tua umur seseorang. Pengetahuan responden tentang penatalakasanaan tanda-tanda bahaya masa nifas di dapatkan mayoritas mempunyai pengetahuan cukup. makin konstruktif dalam menghadapi masalah yang di hadapi. Sebagian besar responden berusia antara 20-35 tahun. Hal ini dapat di lihat dari latar belakang usia. Hal ini dapat di lihat dari jawaban yang benar pada kuesioner tentang penatalaksanaan tentang tandatanda bahaya masa nifas.banyaknya. 2003).82%).24%). Serta di sebabkan oleh sumber informasi yand di dapat (Notoatmodjo: 2005) Berdasarkan analisa dan interpretasi data yang di dapat sebagian besar responden mempunyai pengetahuan cukup yaitu 20 responden (58. hal ini di latar belakangi oleh pendidikan dan pernah mendapatkan informasi dari media atau penyuluhan. Hal ini dapat di lihat dari jawaban yang benar pada kuesioner tentang macam tanda-tanda bahaya masa nifas.

Bagi Teoritis. menyebutkan bahwa bekerja umumnya pekerjaan yang menyita waktu untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan yang benar. A. BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini penulis akan menyajikan hasil kesimpulan dan saran dari penelitian tentang pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas di wilayah Puskesmas Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi. Maka menyebabkan responden mempunyai waktu yang cukup untuk mendapatkan informasi disebabkan karena hanya melakukan pekerjaan rumah tangga. dimana mayoritas responden bekerja sebagai ibu rumah tangga. memperoleh informasi dari media masa terutama berkaitan dengan tanda-tanda bahaya masa nifas. .Dari faktor usia dan sumber informasi. B. Simpulan Dari hasil penelitian di atas diketahui bahwa pengetahuan ibu nifas tentang tandatanda bahaya masa nifas di wilayah Puskesmas Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi berpengetahuan baik yaitu 17 responden (50%). Saran 1. Responden mempunyai waktu yang cukup untuk mendapatkan penyuluhan kesehatan dan konseling dari tenaga kesehatan. Hal ini sebagaimana yang dikutip oleh Kuntjoroningrat yang dikutip oleh Nursalam dan Pariani (2003).

R. I.. I. K. no.K. Jakarta: EGC. I. C. Triyanti. k. U. & Bagus.. Pedoman diagnosis-terapi dan bagan alir pelayanan pasien. Wardhiana. Rineka Cipta. M. M. I. Manuaba.” Indoskrip (online). (2003). M. Patologi obstetric (untuk mahasiswa kebidanan). W. Asuhan persalinan normal (buku acuan). 2. G. Vol. (http://one. Suwiyogo. penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan. 3. Bagi Praktis. M. Jakarta: EGC. Prosedur penelitian (suatu pendekatan praktis). (2004).Di harapkan dari penelitian ini dapat di ketahuai secara spesifik mengenai tandatanda bahaya masa nifas. . W. Suharsimi. “Survei demogravi dan kesehatan Indonesia.. (2006). Setiowulan. I. P.. Di harapkan dapat meningkatkan kualitas pengetahuan kesehatan khususnya tentang tanda-tanda bahaya masa nifas. Jakarta: Media Aesculapius. B. I. Departemen Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan. F. Jakarta: Departemen Kesehatan. (2009). Denpasar: Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Ayu. Jakarta: PT.. B. Di harapkan lebih menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan ilmu pada bidang asuhan kebidanan nifas khususnya tentang tanda-tanda bahaya. Indoskripsi. Ida..8.33. Savitri. Bagus. Karkata. G. Ilmu kebidanan.. G. Bagi Peneliti-Peneliti Selanjutnya. Wardani. (2005). Kapita selekta kedokteran (jilid 1). Mansjoer. di akses 29 Juni 2009. Com/node/4953). I. (2009). Arif.. Bagus. 45 DAFT AR PUST AKA Arikun to.. G. & Pemaron.

Metode penelitian kesehatan. Konsep dan penerapan metodelogi penelitian ilmu keperawatan (pedoman skripsi. Soekidjo. Umi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: PT. Nursalam. Mochtar. Prawirohardjo. Sinopsis obstetri (obtetri fisiologi. Notoatmodjo. Rineka Cipta. Diposkan oleh BeJo Net Community di 10:50 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Label: KTI PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA -TANDA BAHAYA MASA NIFAS Reaksi: 0 komentar: Poskan Komentar Link ke posting ini Buat sebuah Link Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Archives    ► 2012 (5) ► 2011 (6) ▼ 2010 (101) o ► Desember (6) o ► Juli (4) o ► Juni (11) o ▼ Mei (44) . Jakarta: EGC. (2002). & Salamah. (2006). Sarwono. Riset kebidanan. Prawirohardjo. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Sinopsis obstetri (obtetri operatif. (2002). Rustam. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Sarwono. Prawirohardjo. Jogjakarta: Mitra Crndikia Press. (2002). Sarwono. (2005).Mochtar. obstetri sosial). Jakarta: EGC. Ilmu kandungan. obstetric patologi). (2005). tesis. dan intrumen penelitian). (2003). Ilmu kebidanan . Jakarta: Media Salemba. Suyanto. Rustam. (2009). Jakarta: Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo.

KTI HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PLASENT.....  PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE  KTI ASI  ENSEFALITIS  Pembiayaan Kesehatan  BAYI PREMATUR  golongan darah sistem ABO  UTERUS  PENYAKIT KARDIOVASKULER  VAGINA  Ovarium  Efisi pleura  Meningitis ► April (36)          ........  KTI PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG SENAM PASC.  KTI TINGKAT PENgetahuAN IBU TENTANG PERAWATAN TA.....  KTI TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG EFEK SAM.  KTI PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PEMILIHAN AL. KTI TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG... PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ANTARA PENGE..... KTI PENGARUH OBESITAS TERHADAP TERJADINYA HY.... KTI GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMENUH.  Penyakit Jantung Pada Kehamilan  TERMOLOGI PADA BAYI BARULAHIR  KECEMASAN MENGHADAPI PERSALINAN  IMKOMPATIBILITAS DARAH RHESUS  Efisi pleura  KTI HUBUNGAN PEMAKAIAN KONTRASEPSI DENGAN .. KTI SIKAP WANITA DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN F..........o KTI PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MAKANAN......  KTI PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PERAWATAN PA.  KTI GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA USIA REPROD. KTI PENGETAHUAN WANITA USIA 35 – 55 TAHUN TEN.  KTI PENGETAHUAN IBU INPARTU TENTANG PROSES ..  KTI GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU INPARTU D.  KTI TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI DALAM MENGG....  KTI TINGKAT KECEMASAN SISWA DALAM MENGHADAPI M.  KTI PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN ASI EKSK. KTI PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG HIPEREMESIS....  KTI PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA -TANDA.  KTI PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG IMUNISASI ...  KTI PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL  KTI PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL  KTI TINGKAT PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR TENTANG ...  KTI GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KE.

Keb (1) ANEMIA PADA NEONATUS (1) ASFIKSIA (1) ASI Eksklusif (1) ASKEB ANC (1) ASKEB BBL (1) ASKEB DIARE PADA ANAK (1) ASKEB IMUNISASI (1) ASKEB KEHAMILAN (1) ASKEB Kehamilan post mature (1) ASKEB KELUARGA (1) ASKEB LETAK SUNGSANG (1) ASKEB PERSALINAN (1) Aspek Feminisme Dan Maskulinitas Keperawatan (1) ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU “M” DENGAN KONTRASEPSI IMPLANT (1) Asuhan Kebidanan Pada Ny “W” P30003 NIFAS Hari Ke – 2 (1) ASUHAN KEBIDANAN BAYI “H” NEONATUS DENGAN ASFIKSIA (1) ASUHAN KEBIDANAN PADA PERSALINAN PATOLOGIS (1) ASUHAN KEBIDANAN. POST PARTUM NORMAL HARI INI DENGAN BENDUNGAN PAYUDARA (1) BAYI PREMATUR (1) BIO OPTIK (1) BIOMEKANIKA (1) BIOSTATISTIK (1) BRONCHOPNEUMONI (1) DI DESA KARETAN (1) Efisi pleura (2) ENSEFALITIS (1) GAMBARAN PELAKSANAAN 7T PADA IBU HAMIL (1) golongan darah sistem ABO (1) HEPATITIS AKUT (1) Hiperemesis gravidarum (1) HIPOTERMIA (1) IBU HAMIL DENGAN VARISES VULVA (1) Ikterus Neonatorum (1) IMKOMPATIBILITAS DARAH RHESUS (1) INFEKSI SITOMEGA LOVIRUS PADA BAYI BARU LAHIR (1) KABUPATEN BANYUWANGI (1) KARYA TULIS ILMIAH (1) KECAMATAN PURWOHARJO (1) KECEMASAN MENGHADAPI PERSALINAN (1) Konsepsi (1) KTI (5) KTI GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA USIA REPRODUKSI SEHAT TENTANG KONTRASEPSI HORMONAL DI DESA PONDOKREJO KECAMATAN TEMPUREJO KABUPATEN JEMBER (1) .Categories                                            Amd.

2009 (1) KTI PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG SENAM PASCA PERSALINAN (1) KTI PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI YANG TEPA (1) KTI PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI UMUR 0-6 BULAN (1) KTI PENGARUH OBESITAS TERHADAP TERJADINYA HYPERTENSI DALAM KEHAMILAN DI PUSKESMAS SILO I DESA SEMPOLAN KECAMATAN SILO KABUPATEN JEMBER (1) KTI PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BAYI UMUR 6 .BANYUWANGI TAHUN 2008 .                         KTI PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG HIPEREMESIS GRAVIDARUM DI PUSKESMAS GRAJAGAN PURWOHARJO BANYUWANGI (1) KTI GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMENUHAN GIZI PADA ANAK RETARDASI MENTAL DI SLB PGRI CLURING (1) KTI HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RSUD GENTENG .12 BULAN DI DESA WRINGINPITU KECAMATAN TEGALDLIMO BANYUWANGI (1) KTI PENGETAHUAN WANITA USIA 35 – 55 TAHUN TENTANG KANKER SERVIKS DI DESA BENCULUK KECAMATAN CLURING KABUPATEN BANYUWANGI (1) KTI SIKAP WANITA DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN FISIK PADA MASA PREMENOPAUSE DI DESA KAJARHARJO KECAMATAN KALIBARU KABUPATEN BANYUWANGI (1) KTI TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG EFEK SAMPING IMUNISASI DPT I (1) KTI TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG PENDIDIKAN SEKSUAL DI SMA NEGERI I GLENMORE (1) KTI GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0 – 1 TAHUN (1) KTI GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU INPARTU DALAM MENGHADAPI PROSES PERSALINAN FISIOLOGIS (1) KTI HUBUNGAN PEMAKAIAN KONTRASEPSI DENGAN PENINGKATAN BERAT BADAN (1) KTI PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI (1) KTI PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL (2) KTI PENGETAHUAN IBU INPARTU TENTANG PROSES PERSALINAN FISIOLOGI KALA II (1) KTI PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA -TANDA BAHAYA MASA NIFAS (1) KTI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA PEMBERIAN ASI SECARA DINI DI BIDAN PRAKTEK HENY WAHYUNI (1) KTI TINGKAT PENgetahuAN IBU TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT PADA BAYI (1) KTI TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI DALAM MENGGUNAKAN CAIRAN PEMBERSIH GENETALIA (1) KTI ASI (1) KTI TINGKAT PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR TENTANG KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN (1) KUMPULAN ASKEB (1) .

(1) NIFAS (1) Ovarium (1) Pembiayaan Kesehatan (1) PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE (1) pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik pada anak usia toddler (1) Penyakit Jantung Pada Kehamilan (1) PENYAKIT KARDIOVASKULER (1) PLASENTA (1) PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL DENGAN KEPATUHAN AKSEPTOR DALAM MENGKONSUMSI PIL KB DI BPS ANIS DESA LEDOKOMBO KECAMATAN SEMPOLAN KABUPATEN JEMBER (1) Proses Sosialisasi Penderita Autisme (2) PROTEIN ASAM AMINO AKPER (1) SAP (1) Sepsis Neonatorum (1) SIKLUS MENSTRUASI (1) SISTEM ORGAN REPRODUKSI WANITA (1) Sumplemen Fe (Besi) (1) Tentang Pembiayaan Kesehatan (1) TERMOLOGI PADA BAYI BARULAHIR (1) tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia di BPS Hj.                            KUMPULAN LEALET KESEHATAN (1) MASTITIS (1) Meningitis (1) NADI (1) NEONATUS PADA PERSALINAN PATOLOGI.Indriyati srono (1) TUBA FALLOPI (1) UTERUS (1) VAGINA (1) VAGINA KANDIDIASIS (1) UBI BEJO_NET COMMUNITY RADEN MAS BAGUS SASONGKO ALIAS BEJO .

BeJo Net Community Masih Belum sukses Lihat profil lengkapku Pengikut Template Travel. . Diberdayakan oleh Blogger.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful