Anda di halaman 1dari 77

PROPOSAL / USULAN PTK A.

Judul PENINGKATAN KWALITAS PEMBELAJARAN IPS MELALUI

PENDEKATAN SETS (SCIENCE ENVIRONTMEN TECHNOLOGY AND SOCIENTY ) PADA SISWA KELAS III SDN 2 BOLOH B. Bidang Kajian Pada Penelitian Tindakan Kelas kali ini peneliti menitik beratkan pada bidang pendekatan pembelajaran dan proses pembelajaran di Sekolah Dasar. C. Pendahuluan 1. Latar Belakang Masalah Menurut Undang Undang Repoblik Indonesia nomor 20 pasal 1 poin 2 tahun2003 tentang system pendidikan nasional dijelaskan bahwa : Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Dalam pasal 3 undang-undang no.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dijelaskan sebagai berikut ini :Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulai, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab Berdasarkan rumusan tujuan pendidikan nasional di atas, kita dapat melihat sejumlah kompetensi yang diharapkan muncul setelah

1|Page

dilakukannya proses pendidikan. Kompetensi yang dimaksud adalah sejumlah kemampuan yang dapat dikuasai dan ditunjukan oleh siswa sebagai hasil dari proses pendidikan. Tujuan pendidikan nasional tersebut menjadi acuan dalam pengembangan tujuan pendidikan IPS. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional

(Permendiknas) Nomor 22 Tahun 2006, tujuan pembelajaran IPS di tingkat Sekolah Dasar adalah sebagai berikut: 1. 2. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa 3. 4. ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global Tujuan pendidikan IPS menurut James Banks meliputi serangkaian kemampuan yang mencakup pengetahuan, keterampilan dalam segi akademik dan thingking skills serta pengembangan nilai. Selain itu, Schunke menambahkannya dengan pengembangan dan pembentukan kewarganegaraan (citizenship). Dengan demikian maka kompetensi yang dikembangkan dalam pendidikan IPS meliputi kemampuan pengembangan aspek intelektualisme serta pengembangan keterampilan sosial yang dibutuhkan oleh siswa dalam kehidupan bermasyarakat. Selama ini fokus guru-guru IPS hanya sebatas pada pengenalan konsep masyarakat dan sosial (tujuan pertama) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22 Tahun 2006. Tujuan yang

2|Page

lain, pengembangan kemampuan dasar berpikir logis dan kritis, pengembangan komitmen dan kesadaran nilai-nilai sosial, serta pengembangan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan sebegainya hanya sepintas lalu saja. Artinya, belum ada keseimbangan antara pengembangan sisi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Guru mengasah kemampuan berpikir siswa sebatas berpikir konsep IPS. Padahal semua aspek tujuan pendidikan IPS di SD sangatlah penting mengingat kompentensi tujuan pendidikan tersebut sangatlah dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga siswa dapat diterima oleh masyarakat dimanapun berada. Berdasarkan permasalahan di atas dimana guru hanya mengasah kemampuan berfikir siswa sebatas berfikir konsep, menyebabkan siswa kurang memaknai tentang pembelajaran IPS yang kebanyakan bersifat abstrak, sehingga berpengaruh terhadap prestasi siswa dalam pembelajaran IPS menjadi menurun, Berdasarkan hasil observasi dan data yang diperoleh peneliti bersama tim kolaborasi, Pada siswa kelas III SDN 2 Boloh pada mata pelajaran IPS, disimpulkan bahwa siswa kelas III SDN 2 Boloh kurang memahami mata pelajaran IPS. Dimana dari 44 siswa, terdapat 27 siswa (61,4%) yang mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 61. Siswa kelas III SDN 2 Boloh juga belum dapat menerapkan nilai nilai yang terdapat dalam pembelajaran IPS.

3|Page

Tabel Nilai Mid Semester I Mata Pelajaran IPS Kelas III SDN 2 Boloh
N O N A IP IL I S 1 3 6 2 3 9 3 4 0 4 5 0 5 5 1 6 5 3 7 5 5 8 5 6 9 5 7 1 0 5 9 1 1 6 0 1 2 6 1 1 3 6 7 1 4 6 9 1 5 7 0 1 6 7 1 1 7 7 3 1 8 7 4 1 9 7 6 2 0 8 0 2 1 8 1 2 2 8 4 2 3 8 7 2 4 8 9 2 5 JU L H MA F E WN I RK E S 1 1 1 4 3 5 1 5 3 2 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 4 4 P OE T S R SN A E 2% ,3 2% ,3 2% ,3 9% ,1 6% ,8 1, % 1 4 2% ,3 1, % 1 4 6% ,8 4% ,5 2% ,3 2% ,3 4% ,5 4% ,5 4% ,5 2% ,3 2% ,3 2% ,3 2% ,3 2% ,3 2% ,3 2% ,3 4% ,5 2% ,3 100 0, % N F X 3 6 3 9 4 0 20 0 13 5 25 6 5 5 20 8 11 7 18 1 6 0 6 1 14 3 18 3 10 4 7 1 7 3 7 4 7 6 8 0 8 1 8 4 14 7 8 9 29 62 KTR N A EE A G N T A LLS ID K UU T A LLS ID K UU T A LLS ID K UU T A LLS ID K UU T A LLS ID K UU T A LLS ID K UU T A LLS ID K UU T A LLS ID K UU T A LLS ID K UU T A LLS ID K UU T A LLS ID K UU LLS UU LLS UU LLS UU LLS UU LLS UU LLS UU LLS UU LLS UU LLS UU LLS UU LLS UU LLS UU LLS UU

JUMLAH SISWA : 44 NXF RATA-RATA : 2692 : 2692/44 = 61

Dari tabel distribusi di atas diketahui bahwa siswa yang tidak lulus dalam pembelajaran IPS sebanyak 61.40% ( 27 siswa dari 44 siswa ) dengan nilai terendah 36 dan nilai tertinggi 89. Permaslahan prestasi belajar siswa kelas III SDN 2 Boloh dalam mata pelajaran IPS di atas disebabkan oleh beberapa factor, antara lain :
1. Factor siswa

Siswa belum memiliki pengetahuan awal sebelum memulai pembelajaran Siswa kurang antusias dalam mengukuti pembelajaran.

4|Page

Siswa ramai sendiri saat guru mnjelaskan materi pembelajaran. : Guru lebih banyak mengajar dengan menggunakan metode ceramah. Guru kurang menguasai kelas, Dalam mengajar : guru belum memanfaatkan media pembelajaran yang ada secara maksimal.

2. Factor guru

3. Factor KBM

dalam pelaksanaan pembelajaran guru mengajar kurang sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat.

4. Factor peralatan / fasilitas :

Media pembelajaran yang ada di kelas kurang terawat, 60% media yang ada rusak. Media media yang masih bagus di simpan di dalam almari ruang guru, sehingga siswa belajar menggunakan media seadanya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka factor factor

penyebab munculnya masalah harus segera di atasi. Berdasarkan hasil diskusi peneliti dengan tim kolaborasi, untuk mengatasi factor factor penyebab masalah tersebuk maka peneliti akan menerapkan pendekatan SETS ( Science Environtmen Technology And Socienty ) Pada pembelajaran IPS siswa kelas III SDN 2 Boloh. Dipilihnya pendekatan SETS ( Science Environtmen Technology And Socienty ) untuk mengatasi permasalahan di atas dikarenakan pendekata SETS pada hakekatnya akan membimbing peserta didik untuk berpikir global dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari. Pendidikan SETS ini dapat mengatasi kelemahan pendidikan klasik dimana peserta didik diajak melaju untuk menyelesaikan materi pelajaran, tanpa diketahui dengan jelas implementasi peserta didik terhadap daya serap materi pelajaran (apakah materi pelajaran dapat dikuasai keseluruhan atau sebagian, dan kompetensi dasar apa yang sudah dicapai). Sehingga

5|Page

pendidikan SETS dapat mengantisipasi beberapa hal pokok dalam membekali peserta didik, diantaranya : a. Menghindari materi oriented dalam pendidikan tanpa tahu masalah-masalah di masyarakat secara lokal, nasional, maupun internasional.
b. Mempunyai

bekal yang cukup bagi peserta didik untuk

menyongsong era globalisasi. c. Peserta didik mampu menjawab dan mengatasi setiap masalah yang berkaitan dengan kelestarian bumi, isu-isu sosial, dan isu-isu global. d. Membekali peserta didik dengan kemampuan memecahkan masalah-masalah dengan penalaran sains, lingkungan, teknologi, dan sosial secara integral, baik dalam maupun diluar kelas. Pendidikan SETS mencakup konsep maupun topik yang berhubungan dengan sains, teknologi, lingkungan, dan berbagai hal yang diperkirakan melanda masyarakat. Obyek-obyek pendidikan yang dipelajari pada akhirnya diharapkan dimengerti dengan baik korelasinya dengan keempat elemen utama SETS. Pendidikan SETS benar-benar membahas sesuatu yang riil atau nyata bisa dipahami, dapat dilihat dan dibahas, dan bisa dipecahkan jalan keluarnya. Dengan pendidikan SETS kemampuan ketrampilan guru dalam mengajar juga dapat ditingkatkan, karena pendekatan SETS memaksa guru harus terampil dan mempunyai wawasan yang luas tentang kejadian kejadian yang sedang banyak dibicarakan. Berdasarkan ulasan di atas maka peneliti dalam PTK kali ini akan mengangkat judul Peningkatan Kwalitas Pembelajaran IPS Melalui Pendekatan Pembelajaran SETS ( Science Environtmen Technology And Socienty ) Pada Siswa Kelas III SDN 2 Boloh 2. Rumusan Masalah a. Rumusan Masalah Umum
6|Page

i.

Bagaimanakah cara meningkatkan kwalitas pembelajaran IPS kelas III SDN 2 Boloh ? b. Rumusan Masalah Khusus
i.

Apakah dengan pendekatan pembelajaran SETS ( Science Environtmen Technology and Socienty ) dapat meningkatkan ketrampilan guru dalam mengajar pembelajaran IPS?

ii.

Apakah dengan pendekatan pembelajaran SETS ( Science Environtmen Technology and Socienty ) dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam melaksanakan pembelajaran IPS?.

iii.

Apakah dengan pendekatan pembelajaran SETS ( Science Environtmen Technology and Socienty ) siswa SDN 2 Boloh dapat meningkatkan hasil belajarnya dalam pembelajaran IPS?

3. Pemecahan Masalah Berdasarkan diskusi bersama tim kolaborasi, bertolak

berdasarkan akar penyebab masalah dan didasarkan kajian teori maka didapatkan alternative pemecahan masalah yaitu dengan menggunakan pendekatan pembelajaran SETS ( Science Environtmen Technology and Socienty ) Secara garis besar, tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran berbasis SETS adalah sebagai berikut: 1. 2. Inisiasi: pendahuluan pembelajaran SETS dengan mengangkat dan mendiskusikan isu atau masalah. Penetapan kompetensi sains: mengumpulkan kompetensi sains yang diperlukan untuk lebih memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi. 3. Dekontekstualisasi: pemisahan konsep dan prinsip sains (yang perlu dicapai kompetensinya) dari konteks isu atau masalah yang diangkat.
7|Page

4.

Pembelajaran konsep dan prinsip sains: pemantapan penguasaan konsep dan prinsip sains, melalui metode pembelajaran yang sesuai.

5. 6.

Penerapan: menerapkan konsep dan prinsip sains pada isu atau masalah. Integrasi: membangun keterkaitan antar konsep dan prinsip sains, serta antar konsep/prinsip tersebut dengan spektrum terapannya dalam kehidupan.

7.

Perangkuman: merangkum kompetensi yang seharusnya telah dimiliki peserta didik, termasuk kemampuan menerapkannya pada kasus tertentu.

4. Tujuan Penelitian Adapun tujuan umum penelitian ini adalah : Untuk meningkatkan kwalitas pembelajaran pada kelas III SDN 2 Boloh dalam pembelajaran IPS. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah :
a.

Mendeskripsikan

peningkatkan

ketrampilan

guru

dalam

mengajar pembelajaran IPS dengan pendekatan pembelajaran SETS ( Science Environtmen Technology and Socienty ).
b.

Mendeskripsikan

peningkatan

keaktifan

siswa

dalam

melaksanakan pembelajaran IPS dengan pendekatan pembelajaran SETS ( Science Environtmen Technology and Socienty ).
c.

Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS

dengan pendekatan pembelajaran SETS ( Science Environtmen Technology and Socienty ). 5. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu juga dapat memberikan manfaat bagi : a. Bagi siswa

8|Page

1)

Meningkatkan minat belajar siswa, khususnya mata Meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami Meningkatkan prestasi hasil belajar siswa. Memperoleh hasil belajar siswa yang lebih baik dan Mendapatkan alternatif model pembelajaran di sekolah Meningkatkan prestasi sekolah. Untuk mengetahui kelemahan / kelebihan guru dalam Memberikan alternatif pemecahan masalah dalam suatu Meningkatkan keterampilan guru dalam mengajar.

pelajaran IPS.
2)

konsep konsep pembelajaran IPS. 3) b.


1)

Bagi Sekolah memuaskan.


2)

melalui PTK. 3) c.
1)

Bagi Guru menyampaikan materi pelajaran dan mengelola kelas. 2) 3) pembelajaran.

d.

Bagi Pembaca

Sebagai bahan acuan dan alternatif pemecahan dalam mengantisipasi kegagalan pembelajaran di kelas kususnya matapelajaran IPS. e. Bagi Peneliti 1) Sebagai pengalaman dalam upaya meningkatkan kemampuan belajar siswa. Sebagai bahan perbandingan atas penggunaan pendekatan / metode pembelajaran

9|Page

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. KAJIAN TEORI 1. Pengertian Belajar Menurut James O. Whittaker (dalam Djamarah 2000:12) belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Cronbach (dalam Djamarah 2000:13) berpendapat bahwa belajar sebagai suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Sedangkan Howard L. Kingskey (dalam Djamarah 2000:13) belajar adalah proses di mana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan. Dan Drs. Slameto (dalam Djamarah 2000:13) merumuskan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Slavin mengutarakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan karena pengalaman. Berdasarkan karena proses pengertian-pengertian individu di dalam atas maka dapat dengan disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang terjadi pengalaman interaksi lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik. 2. Ciri-Ciri Belajar Menurut Djamarah 2000:12, belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : a. Perubahan yang terjadi secara sadar. Ini berarti setiap individu yang belajar akan menyadari adanya perubahan atau paling tidak individu akan merasakan telah terjadi perubahan yang terjadi dalam dirinya. b. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.

10 | P a g e

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung secara terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar berikutnya. c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif. Dalam belajar, perubahan-perubahan selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan yang bersifat aktif artinya perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri. d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara. Perubahan yang terjadi karena belajar bersifat menetap atau permanen yang berarti tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah. Ini berarti perubahan tingkah laku terjadi karena ada tujuan yang ingin dicapai. f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku. Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. 3. Pembelajaran Pembelajaran merupakan dasar proses terjadinya belajar mengajar yaitu kegiatan yang menunjang proses belajar baik dari perencanaan maupun fasilitas. Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk mempermudah pebelajar untuk mencapai tujuan belajarnya. Seperti pendapat yang dikemukakan oleh Winataputra dkk (2008:1.18) bahwa pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi, memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik. Begitu pula menurut Gagne, Briggs, dan Wager bahwa pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa. Menurut Sanjaya (2008:78) pembelajaran adalah proses pengaturan lingkungan yang diarahkan untuk mengubah perilaku siswa
11 | P a g e

kearah yang positif dan lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa. Dari pernyataan tersebut diharapkan adanya perubahan positif siswa dari hasil pembelajran. Keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh guru sebagai fasilitator yang mengatur lingkungan dalam pembelajaran. Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instruction yang berarti self instruction (dari internal) dan external instruction (dari eksternal) (Sugandi, dkk, 2007:9). Pembelajaran yang bersifat eksternal antara lain datang dari guru yang disebut pengajaran. Pengajaran tersebut mencakup perilaku guru yang beroriantasi pada teori belajar, diantaranya: 1) usaha guru untuk membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan, agar terjadi hubungan stimulus (lingkungan) dengan tingkah laku si belajar. 2) cara guru untuk memberikan kesempatan pada si belajar untuk berfikir agar memahami apa yang dipelajari. 3) memberikan kebebasan pada si belajar untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya. Sedangkan pembelajaran yang bersifat internal merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individu, yang merubah stimulus dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi, yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang. Sebagai suatu proses, kegiatan pembelajaran memiliki ciri-ciri tertentu. Menurut Jamaludin (2003), terdapat delapan ciri-ciri pembelajaran yaitu adanya tujuan yang ingin dicapai, adanya suatu prosedur yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan, adanya materi pelajaran tertentu yang menjadi bahan garapan dalam proses pembelajaran, adanya aktivitas para pembelajar sebagai subjek didik, adanya aktivitas guru selaku perencana dan pengelola kegiatan pembelajaran, adanya kedisiplinan dalam kegiatan

12 | P a g e

pembelajaran, adanya batas waktu kegiatan pembelajaran, dan adanya pelaksanaan evaluasi sebagai sarana untuk mengukur keberhasilan tujuan dan prosas pembelajaran yang sedang atau telah dilaksanakan. Ciri-ciri tersebut harus ada dalam suatu kegiatan pembelajaran yang tidak terlepas dari keterlibatan guru dan siswa. Secara konseptual, istilah pembelajaran mengacu pada proses yang melibatkan dua komponen utama dalam suatu kegiatan belajar mengajar yaitu guru dan siswa. 1) Keterampilan Guru Keterampilan keberhasilan yaitu: a) Keterampilan membuka dan menutup pelajaran Membuka pelajaran merupakan kegiatan guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada apa yang dipelajari. Komponen yang berkaitan dengan membuka pelajaran adalah menarik perkatian siswa, menimbulkan motivasi, memberikan acuan, dan membuat kaitan. Menutup pelajaran adalah kegiatan guru untuk mengakhiri kegiatan inti pelajaran. Cara yang dilakukan guru dalam menutup pelajaran yakni meninjau kembali dengan cara merangkum inti pelajaran dengan membuat ringkasan dan mengevaluasi dengan berbagai bentuk evaluasi, misalnya mendemonstrasikan mengaplikasikan soal-soal tertulis. b) Keterampilan menjelaskan ide keterampilan, baru dalam meminta situasi yang siswa lain, suatu guru merupakan salah Menurut satu penunjang dan pembelajaran. Hasibuan

Moedjiono (.......) Macam keterampilan dasar yang diutamakan

mengekspresikan pendapat siswa sendiri, dan memberikan

13 | P a g e

Menjelaskan berarti menyajikan informasi lisan yang diorganisasikan secara sistematis dengan tujuan menunjukkan hubungan. Komponen keterampilan menjelaskan meliputi: (1) (2) (3) (4) (5) c) Kejelasan Penggunaan contoh dan ilustrasi Memberi penekanan pada materi yang penting Pengorganisasian materi yang disampaikan Memberikan balikan

Keterampilan menggunakan variasi Menggunakan variasai diartikan sebagai perbuatan guru dalam konteks proses belajar mengajar yang bertujuan mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajarnya siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, keantusiasan, serta berperan secara aktif. Komponen keterampilan tersebut yaitu: (1) Variasi dalam gara mengajar guru, yang meliputi variasi suara, pemusatan perhatian, kesenyapan, kontak pandang, gerakan badan dan mimik, dan perubahan posisi. (2) Variasi penggunaan media dan bahan pengajaran, yang meliputi variasi oral, variasi visual, serta variasi alat bantu yang bisa dipegang dan dimanipulasi. (3) Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa

d) Keterampilan memberi penguatan Memberi penguatan diartikan sebagai tingkah laku guru dalam merespon secara positif suatu tingkah laku tertentu siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali. (1) (2) (3) (4) Beberapa komponen keterampilan memberi penguatan adalah: Penguatan verbal Penguatan gestural (melalui bentuk mimik, Penguatan dengan cara mendekati Penguatan dengan sentuhan

gerakan wajah, atau anggota badan)

14 | P a g e

(5) (6) e)

Penguatan dengan memberikan kegiatan yang Penguatan berupa tanda atau benda

menyenangkan Keterampilan bertanya Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon dari seseorang yang dikenai. Mengajukan pertanyaan dengan baik adalah mengajar yang abik. Karena guru dalam bertanya sama dengan guru yang membimbing siswa dalam belajar. Komponen keterampilan bertanya yaitu: (1) (a) jelas (b) (c) (d) (e) (f) (g) (2) (a) (b) (c) (d) f) Pemberian acuan Pemusatan ke arah jawaban yang diminta Pemindahan giliran menjawab Penyebaran pertanyaan Pemberian waktu berpikir Pemberian tuntutan Keterampilan lanjutan, yang meliputi: Pengubahan tuntutan tingkat kognitif pertanyaan Urutan pertanyaan logis Pertanyaan dapat digunakan untuk melacak Mendorong terjadinga interaksi siswa Keterampilan dasar, yang meliputi: Pengungkapan pertanyaan secara singkat dan

kemampuan siswa Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan Mengajar kelompok kecil dan perorangan diartikan sebagai perbuatan guru dalam konteks belajar mengajar yang hanya melayani 2-6 siswa untuk kelompok kecil, dan hanya seorang untuk perorangan. Komponennya yakni: (1) (2) Keterampilan untuk mengadakan pendekatan Keterampilan Mengorganisasikan secara pribadi

15 | P a g e

(3) (4)

Keterampilan Membimbing dan memudahkan Keterampilan merencanakan dan melaksanakan

belajar siswa kegiatan belajar mengajar g) Keterampilan mengelola kelas Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalokannya ke kondidi optimal jika terjadi gangguan. Keterampilan mengelola kelas dikelompokka menjadi dua, yaitu: (1) Meliputi: (a) (b) (c) (d) (e) (f) (2) (a) (b) (c) Menunjukkan sikap tanggap Membagi perhatian Memusatkan perhatian kelompok Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas Menegur Memberi penguatan Keterampilan yang berhubungan dengan Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal

pengembalian kondisi belajar yang optimal meliputi: Modifikasi tingkah laku Pengelolaan kelompok Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang

menimbulkan masalah h) Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur dengan melibatkan sekelompok siswa dalam interaksi tatap muka kooperatif yang optimal dengan tujuan berbagai informasi atau pengalaman, mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah. Komponen keterampilannya yaitu:

16 | P a g e

(1) (2) (3)


(4)

Memusatkan perhatian Memperjelas masalah Menganalisa pandangan siswa Meningkatkan urunan pikiran siswa Menyebarkan kesempatan berpartisipasi Menutup diskusi

(5) (6)

2) Aktivitas Siswa Dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas. Tanpa aktivitas, kegiatan belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik. Sadirman (2004: 95) berpendapat bahwa Belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Dalam pembelajaran perlu diperhatikan bagaimana keterlibatan siswa dalam pengorganisasian pengetahuan, apakah mereka aktif atau pasif. Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa selama mengikuti pembelajaran. Berkenaan dengan hal tersebut, Paul B. Dierich (dalam Sardiman, 2004: 101) menggolongkan aktivitas siswa dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut:
a.

Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya,

membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.


b.

Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, dan memberi saran, mengeluarkan pendapat,

bertanya,
c.

mengadakan wawancara, diskusi, interupsi. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: Writing activities, seperti misalnya menulis karangan, uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
d.

karangan, laporan, angket, dan menyalin.

17 | P a g e

e.

Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain:

grafik, peta, diagram.


f.

melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, dan beternak.
g.

Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi,

mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan.


h.

Emotional activities, seperti misalnya: menaruh minat,

merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, dan gugup. Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan siswa dalam mengikuti pembelajaran sehingga menimbulkan perubahan perilaku belajar pada diri siswa, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu atau dari tidak mampu melakukan kegiatan menjadi mampu melakukan kegiatan. Jadi, pembelajaran merupakan interaksi antara guru dan siswa dalam rangka membentuk lingkungan belajar dimana guru sebagai fasilitator untuk mengolah lingkungan dan sumber belajar sedangkan siswa sebagai subjek belajar yang pada akhir pembelajaran akan menghasilkan hasil belajar. Hasil belajar yang dicapai berupa hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif, dan hasil belajar psikomotorik. Penguasaan bagaimana guru keterampilan guru sangat mempengaruhi Guru keberhasilan pembelajaran. Keaktivan siswa bergantung dari mengorganisasikan pembelajaran. membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan, agar terjadi hubungan lingkungan dengan tingkah laku siswa. Jadi, keterampilan mengajar guru akan sangat mempengaruhi aktivitas siswa dalam pembelajaran. Dimana pembelajaran dikatakan berhasil jika siswa senantuasa aktiv dan antusias
18 | P a g e

mengikuti pembelajaran. Dengan demikian hasil belajar siswa akan meningkat. 4. Prestasi Belajar Definisi prestasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Prestasi belajar adalah penguasan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran yang biasanya ditunjukkan dengan nilai tes atau nilai yang diberikan guru (Depdiknas. 2005:895) Menurut Anni (2006:5) prestasi atau hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktifitas belajar. Dengan demikian prestasi belajar merupakan tingkat penguasaan terhadap suatu hal setelah mengelami suatu proses dan aktifitas belajar yang dinyatakan dengan nilai yang meliputi keterampilan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik.
5. Pelajaran IPS untuk Sekolah Dasar

Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan kebutuhan anak yang berusia antara 6-12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7-11 tahun menurut Piaget (1963) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan kongkrit operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun yang akan sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan adalah sekarang (kongkrit), dan bukan masa depan yang belum mereka pahami (abstrak). Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan adalah konsep-

19 | P a g e

konsep abstrak yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan kepada siswa SD. Berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan konsep-konsep abstrak itu dIPShami anak. Bruner (1978) memberikan pemecahan berbentuk jembatan bailey untuk mengkongkritkan yang abstrak itu dengan enactive, iconic, dan symbolic melalui percontohan dengan gerak tubuh, gambar, bagan, peta, grafik, lambing, keterangan lanjut, atau elaborasi dalam kata-kata yang dapat dIPShami siswa. Itulah sebabnya IPS SD bergerak dari yang kongkrit ke yang abstrak dengan mengikuti pola pendekatan lingkungan yang semakin meluas (expanding environment approach) dan pendekatan spiral dengan memulai dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang sempit menjadi lebih luas, dari yang dekat ke yang jauh, dan seterusnya : dunia-negara tetangga-negara-propinsi-kota/kabupaten-kecamatankelurahan/desa RT/RW-tetangga-keluarga-Aku. Pembelajaran IPS SD akan dimulai dengan pengenalan diri (self), kemudian keluarga, tetangga, lingkungan RT, RW, kelurahan/desa, kecamatan, kota/kabupaten, propinsi, negara-negara tetangga, kemudian dunia. Anak bukanlah sehelai kertas putih yang menunggu untuk ditulisi, atau replika orang dewasa dalam format kecil yang dapat dimanipulasi sebagai tenaga buruh yang murah, melainkan, anak adalah entitas yang unik, yang memiliki berbagai potensi yang masih latent dan memerlukan proses serta sentuhan-sentuhan tertentu dalam perkembangannya. Mereka yang memulai dari egosentrisme dirinya kemudian belajar, akan menjadi berkembang dengan kesadaran akan ruang dan waktu yang semakin meluas, dan mencoba serta berusaha melakukan aktivitas yang berbentuk intervensi dalam dunianya. Maka dari itu, pendidikan IPS adalah salah satu upaya yang akan membawa kesadaran

20 | P a g e

terhadap ruang, waktu, dan lingkungan sekitar bagi anak (Farris and Cooper, 1994 : 46). 6. Pelajaran IPS dalam Struktur KTSP SD Pendidikan IPS SD disajikan dalam bentuk synthetic science, karena basis dari disiplin ini terletak pada fenomena yang telah diobservasi di dunia nyata. Konsep, generalisasi, dan temuan-temuan penelitian dari synthetic science ditentukan setelah fakta terjadi atau diobservasi, dan tidak sebelumnya, walaupun diungkapkan secara filosofis. Para peneliti menggunakan logika, analisis, dan keterampilan (skills) lainnya untuk melakukan inkuiri terhadap fenomena secara sistematik. Agar diterima, hasil temuan dan prosedur inkuiri harus diakui secara public (Welton and Mallan, 1988 : 66-67). IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di SD yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial . Memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, anak diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta amai. Mata pelajaran IPS bertujuan agar anak didik memiliki kemampuan sbb: a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya b. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis,rasa ingin tahu,inkuiri, memecahkan masalah, dan keteramplan dalam kehidupan social c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan d. Memiliki kemampuan berkomonikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang mejemuk, ditingkat lokal,nasional, dan global

21 | P a g e

Ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek sbb: a. Manusia, tempat, dan lingkungan b. Waktu, keberlanjutan, dan perubahan c. Sistem sosial dan budaya d. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan
7. Tema-tema IPS SD yang Perlu Mendapat Perhatian

Secara gradual, di bawah ini akan diungkapkan beberapa tema IPS SD yang perlu mendapat perhatian kita bersama, antara lain : a. IPS SD sebagai Pendidikan Nilai (value education), yakni : Mendidikkan nilai-nilai yang baik yang merupakan norma-norma keluarga dan masyarakat; Memberikan klarifikasi nilai-nilai yang sudah dimiliki siswa; Nilai-nilai inti/utama (core values) seperti menghormati hak-hak perorangan, kesetaraan, etos kerja, dan martabat manusia (the dignity of man and work) sebagai upaya membangun kelas yang demokratis. b. IPS SD sebagai Pendidikan Multikultural (multicultural _ocial_on), yakni Mendidik siswa bahwa perbedaan itu wajar; Menghormati perbedaan etnik, budaya, agama, yang menjadikan kekayaan budaya bangsa; Persamaan dan keadilan dalam perlakuan terhadap kelompok etnik atau minoritas. c. IPS SD sebagai Pendidikan Global (global education), yakni : Mendidik siswa akan kebhinekaan bangsa, budaya, dan peradaban di dunia; Menanamkan kesadaran ketergantungan antar bangsa; Menanamkan kesadaran semakin terbukanya komunikasi dan transportasi antar bangsa di dunia; Mengurangi kemiskinan, kebodohan dan perusakan lingkungan.

8. Konsep Pendekatan SETS (Sains Environment Technology and Society)

22 | P a g e

Pendekatan sains-teknologi-masyarakat (SETS = science, environment, technology, society) merupakan salah satu model atau pendekatan untuk menyesuaikan diri terhadap perkembangan sains yang cepat dan menjawab perubahan paradigma di atas. Pendekatan SETS pada awalnya dikembangkan untuk pembelajaran sains, khususnya sains alam, walaupun dapat dikaji penggunaannya pada pembelajaran bidang-bidang lain. Kerangka pembelajaran SETS yang menempatkan tanggung jawab sosial sebagai tujuan utama dalam pembelajaran sains, akhirnya menuntut perubahan tidak hanya pada metode pembelajaran di kelas, tetapi juga perubahan mendasar pada kurikulum. Beberapa negera telah berusaha menempatkan pembelajaran berbasis SETS dalam kurikulum sekolah menengah mereka, seperti Kanada(4) dan Australia, tetapi beberapa laporan menyebutkan bahwa tidaklah mudah untuk akhirnya benar-benar diterapkan di kelas, karena diperlukan pengenalan yang intensif kepada guru-guru sekolah menengah. Walaupun para pendukung pembelajaran SETS selalu

menekankan pentingnya perubahan standar atau kurikulum, pada artikel ini, tidak akan dibahas pendidikan berbasis salingtemas yang memerlukan penyesuaian standar isi. Pembelajaran salingtemas hanya akan dibahas dalam konteks metode atau model pembelajaran, untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan dalam kurikulum yang ada. Dengan demikian, semangat dalam penerapan pembelajaran berbasis SETS yang diangkat dalam artikel ini hanyalah untuk tujuan melek sains, atau tujuan peningkatan motivasi dan pemahaman peserta didik dalam pembelajaran sains, atau paling jauh bisa mewarnai penyusunan kurikulum di tingkat satuan pendidikan. 1. Visi, Misi, dan Tujuan Pembelajaran dengan Pendekatan SETS

23 | P a g e

Visi, misi, dan tujuan pendekatan SETS sekurang-kurangnya dapat membuka wawasan peserta didik untuk memahami hakikat pendidikan sain, lingkungan, teknologi, dan masyarakat secara utuh. Maksudnya ialah bahwa visi dan misi pendekatan SETS ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui sain dan bagaimana perkembangan sain dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi, dan masyarakat secara timbal balik. Ada dua visi dan tujuan pendekatan SETS dalam pendidikan seperti dikutip oleh Pedersen dari tulisan NSTA, yaitu: 1) SETS melibatkan peserta didik dalam pengalaman dan isuisu/masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan kehidupan mereka; dan 2) SETS memberdayakan peserta didik dengan berbagai

keterampilan sehingga mereka menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan lebih aktif merespons isu/masalahmasalah yang mempengaruhi kehidupan mereka (Pedersen, 1992:26). Program SETS telah menjadi suatu gerakan dalam pendidikan sain di negara-negara yang telah maju, bertujuan mengintegrasikan sain, lingkungan, dan teknologi dengan kehidupan masyarakat (Yager & Roy, 1993:7). Sementara dalam Diwa Learning System (Gregorio, 1991:37) dinyatakan bahwa: 1) SETS merupakan suatu perubahan penekanan dalam pengajaran sains di sekolah, dan bukan evolusi dalam pengajaran sains; 2) tujuannya adalah humanisasi pengajaran sain dengan

menempatkannya dalam konteks sosial dan teknologi, dan bukan memandang sains sebagai tujuan yang terlepas dari atau di luar pengalaman sehari-hari;

24 | P a g e

3) SETS merupakan suatu pendekatan pembelajaran untuk sains yang disesuaikan dengan kecakapan kelompok, dan bukan melemahkan atau menghambat perkembangan sains; 4) SETS merupakan suatu program atau kurikulum sains, dan bukan sains itu sendiri; dan 5) SETS merupakan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner, dan bukan suatu disiplin atau ruang lingkup pelajaran. Berhubungan dengan visi dan tujuan-tujuan Pendekatan SETS, Gregorio (1991:40) mengungkapkannya dengan suatu kalimat yang diletakkan di antara dua tanda kutip, yakni Give a man a fish, and he will survive for a day, but teach him how to culture fish, and he will survive a lifetime. Sedangkan Yager (1993:13) menyatakan bahwa salah satu tujuan pokok dari pendekatan SETS adalah mengaktifkan peserta didik dalam kegiatan pemecahan isu-isu/masalah-masalah yang telah diidentifikasi. Demikian halnya Gregorio (1991:39) menyatakan bahwa dalam pembelajaran sains dengan Pendekatan SETS, peserta didik diikutsertakan pengambilan dalam aktivitas Sementara pemecahan Rosenthal masalah dan keputusan. (Lo, 1991:146)

menyatakan bahwa isu-isu sosial dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan dalam pembelajaran sain yang didasarkan pada aspek-aspek sosial dari sain. Sejalan dengan pernyataan Heath (Heath, 1992:55) bahwa isu-isu atau masalah-masalah dalam masyarakat dapat menjadi suatu basis pembelajaran dengan pendekatan SETS sekaligus sebagai perekat yang membolehkan integrasi belajar dan mengajar lintas disiplin ilmu dalam upaya membantu peserta didik dan warga negara untuk menyadari dan memahami adanya interaksi antara sain, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. Tujuan utama pendidikan dengan Pendekatan SETS adalah mempersiapkan peserta didik menjadi wagra negara dan warga masyarakat yang memiliki suatu kemampuan dan kedasaran untuk:
25 | P a g e

1) menyelidiki,

menganalisis,

memahami

dan

menerapkan

konsep-konsep/prinsip-prinsip dan proses sain dan teknologi pada situasi nyata 2) melakukan perubahan 3) membuat keputusan-keputusan yang tepat dan mendasar tentang isu/masalah-masalah yang sedang dihadapi yang memiliki komponen sain dan teknologi 4) merencanakan kegiatan-kegiatan baik secara individu maupun kelompok dalam rangka pengambilan tindakan dan pemecahan isu-isu atau masalah-masalah yang sedang dihadapi 5) bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan dan tindakannya 6) mempersiapkan peserta didik untuk menggunakan sain bagi pengembangan hidup dan mengikuti perkembangan dunia teknologi, 7) mengajar para peserta didik untuk mengambil tanggung jawab dengan isu-isu lingkungan, teknologi, atau masyarakat 8) mengidentifikasi pengetahuan fundamental sehingga peserta didik secara tuntas memperoleh kepandaian dengan isu-isu SETS Dengan demikian, ada beberapa aspek yang perlu mendapat penekanan dan dipresentasikan secara proporsional dan terintegrasi dalam pembelajaran sains di sekolah dengan pendekatan SETS, yaitu: 1) kemampuan peserta didik mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada alam dan menemukan jawabannya;

26 | P a g e

2) kemampuan peserta didik mengidentifikasi isu/masalahmasalah yang sedang dihadapi masyarakat dan berupaya memecahkannya; 3) penguasaan pengetahuan ilmiah (sains) dan 4) keterampilan (teknologi) dan berupaya menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari; 5) mempertimbangkan nilai-nilai dan konteks sosial budaya masyarakat; dan 6) pengembangan sikap, nilai-nilai sosial budaya lokal, personal, dan global. 2. Ruang Lingkup Pembelajaran dengan Pendekatan SETS Menurut Yager & McCormack (Yager, 1996b:3-4; 1992b:5-6), ada enam domain utama SETS untuk pengajaran dan penilaian, yaitu domain konsep, proses, kreativitas, sikap, aplikasi, dan keterkaitan. Keenam domain tersebut selanjutnya dinyatakan : 3. Enam Domain SETS untuk Pengajaran dan Penilaian Domain konsep meliputi fakta-fakta, konsep-konsep, hukum (prinsip-prinsip), serta teori dan hipotesis yang digunakan oleh para saintis. Domain ini dapat juga disebut rana pengetahuan ilmiah/sain atau aspek minds-on/brains-on dalam belajar sain (Glynn & Duit, 1995; Butts & Hofman, 1993). Domain proses meliputi aspek-aspek yang berhubungan dengan sbagaimana para saintis berpikir dan bekerja, misalnya melakukan observasi dan eksplanasi; pengklasifikasian dan pengorganisasian data; pengukuran dan pembuatan grafik; pemahaman dan berkomunikasi; penyimpulan dan prediksi; perumusan dan pengujian hipotesis;

27 | P a g e

identifikasi

dan

pengontrolan

variabel;

penginterpretasian

data/informasi; pembuatan instrumen dan alat-alat sederhana; serta pemodelan. Domain ini dapat dibedakan antara keterampilan proses dasar (observasi, pengukuran, klasifikasi, prediksi, komunikasi, dan inferensi) dan keterampilan proses terintegrasi (perumusan/pengujian hipotesis, interpretasi data/informasi, dan pemodelan), atau aspek hands-on belajar sain (Rossman, 1993; Butts & Hofman, 1993; Hausfather, 1992; Pedersen, 1992; Alvarez, 1991; Glasson, 1989). Domain kreativitas meliputi: visualisasi-produksi gambaran mental; pengkombinasian objek dan ide atau gagasan dalam cara baru; memberikan eksplanasi terhadap objek dan peristiwa-peristiwa yang dijumpai; mengajukan pertanyaan; menghasilkan alternatif atau menggunakan objek/ide yang luar biasa; menyelesaikan masalah dan hal-hal yang membingungkan atau menjadi teka-teki; merancang alat; menghasilkan ide-ide yang luar biasa; serta menguji alat baru untuk eksplanasi yang dibuat. Domain sikap meliputi: pengembangan sikap positif terhadap guru-guru dan pelajaran sain di sekolah, kepercayaan diri, motivasi, kepekaan, daya tanggap, rasa kasih sayang sesama manusia, ekspresi perasaan pribadi, membuat keputusan tentang nilai-nilai pribadi, serta membuat keputusan-keputusan tentang isu-isu lingkungan dan sosial. Sejalan dengan pernyataan Alvarez (1991:80) bahwa sikap adalah prilaku yang diadaptasi dan diterapkan pada situasi khusus, dapat berupa minat/perhatian, apresiasi, suka, tidak suka, opini, nilai-nilai, dan ide-ide dari seseorang. Dalam literatur sain dibedakan antara sikap terhadap sain dan sikap ilmiah (Shibeci, 1984; Aiken & Aiken, 1969; Gardner, 1975). Sikap terhadap sain dihubungkan dengan reaksi emosional terhadap perhatian/minat peserta didik, kebingungan dan kesenangan pada sain, perasaan, dan nilai-nilai dalam kelas. Sedangkan sikap ilmiah

28 | P a g e

mencakup karakter sifat ilmiah yang lainnya, seperti kejujuran, keterbukaan, dan keingintahuan (Alvarez, 1991:80). Domain aplikasi dan keterkaitan meliputi:

melihat/menunjukkan contoh konsep-konsep ilmiah dalam kehidupan sehari-hari; menerapkan konsep-konsep sain dan keterampilan pada masalah-masalah teknologi sehari-hari; memahami prinsip-prinsip ilmiah dan teknologi pada alat-alat teknologi yang ada dalam rumah tangga; menggunakan proses ilmiah dalam menyelesaikan masalahmasalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari; memahami dan mengevaluasi laporan media massa tentang perkembangan ilmiah; membuat keputusan yang berhubungan dengan kesehatan pribadi, nutrisi, dan gaya hidup yang didasarkan pada pengetahuan ilmiah; dan mengintegrasikan sain dengan pelajaran lain. 4. Ragam Pendekatan SETS Pendekatan SETS bisa amat beragam, mulai dari yang mengangkat topik atau isu sebagai payung pembelajaran lebih dari satu bidang, mulai dari Fisika, Kimia dan Ilmu Sosial, atau penggunaan isu lingkungan untuk pembahasan satu bab saja dalam Kimia, misalnya. Secara garis besar, berdasarkan cakupannya, kita bisa melakukan beragam pendekatan STM, antara lain: 1) Menempatkan pembelajaran bab tertentu bidang tertentu dalam konteks sains, teknologi dan masyarakat. 2) Pendekatan SETS untuk pembelajaran lintas bab pada satu mata pelajaran. 3) Pendekatan SETS untuk pembelajaran lintas mata pelajaran. 4) Pendekatan SETS dengan perluasan tujuan instruksional secara eksplisit di luar tuntutan standar kompetensi yang tertulis di kurikulum dari mata-mata pelajaran yang terlibat dalam
29 | P a g e

pembelajaran STM tersebut, seperti kepekaan terhadap permasalahan lingkungan, atau pengenalan dampak sains dan teknologi pada pranata sosial, dll. 5) Pendekatan SETS yang disertai kerja nyata di masyarakat, seperti gerakan penyelamatan lingkungan, dll. Pada pembelajaran bab tertentu dengan pendekatan SETS, guru memulai dengan suatu topik dari lingkungan peserta didik yang berkaitan dengan materi bab tersebut. Untuk pembelajaran lintas bab, tentunya perlu persiapan yang lebih matang pada pemilihan topik dan penelusuran target kompetensi dasar yang bisa diikutsertakan lewat pembelajaran di bawah payung topik itu. Untuk pembelajaran lintas mata-pelajaran lewat pembelajaran berbasis SETS, diperlukan koordinasi guru beberapa bidang yang relevan. Pendekatan ini akan berguna sebagai wahana integrasi pengetahuan peserta didik. Pemahaman peserta didik terhadap mata pelajaran tidak lagi terkotak-kotak, melainkan saling bertautan dan terpadu, yang amat berguna bagi peserta didik dalam memahami realitas kehidupan. Jika pembelajaran berbasis salingtemas diharapkan

memunculkan kompetensi lain di luar kompetensi dasar yang tertulis dalam kurikulum saat ini, maka agar pencapaiannya optimal diperlukan penyesuaian standar nasional (khususnya standar isi) agar dapat mencakup semangat ini. Dalam hal ini, salingtemas tidak lagi sekedar metode pembelajaran, melainkan paradigma baru yang diharapkan menjiwai keseluruhan kurikulum. Sejauh pemahaman penulis, pada pengembangan pembelajaran salingtemas, Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas membatasi diri pada pengembangan metode atau model pembelajaran inovatif yang dapat memberi nilai tambah pada kurikulum tingkat satuan pendidikan, dengan target kompetensi dasar

30 | P a g e

seperti yang tertulis dalam standar isi yang berlaku saat ini. Artikel ini juga membatasi pembahasan dalam konteks tersebut. 9. Implementasi Pendekatan SETS dalam Pembelajaran Pembelajaran dengan pendekatan SETS memililiki karakteristik sebagai berikut: a. Relevansi Pembelajaran berorientasi konteks dan menempatkan proses pembelajaran pada masalah otentik dan memperhatikan kebutuhan pembelajar. b. Metodologi Menggunakan metodologi pembelajaran yang self-directed dan co-operative. c. Masalah Masalah dalam konteks diarahkan agar peserta didik dapat berpikir terarah, interdisipliner dan global. d. Konsep Untuk menerapkan pendekatan SETS dalam pembelajaran yang harus dilakukan pertama kali adalah membuat peta consequence yang menggambarkan konteks, konsep serta strategi pembelajaran yang akan dilakukan. Peta consequence dapat dIPSndang sebagai peta konsep yang diperkaya dengan isu permasalahan di masyarakat, konteks materi pebelajaran dalam aspek teknologi dan lingkungan. Peta consequence tersebut kemudian dapat diturunkan dalam bentuk alur pembelajaran dengan penekanan membangun keterampilan untuk mengambil keputusan dengan justifikasi sosio-saintifik (Holbrook, 2006).
31 | P a g e

10. Panduan Pembelajaran Berbasis SETS Selain menjanjikan kualitas pembelajaran yang lebih baik (dan berbagai penelitian pendidikan menunjukkan hal itu), pembelajaran berbasis SETS juga mengandung beberapa risiko. Panduan ini disusun untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran berbasis SETS, dan meminimalkan risiko yang mungkin terjadi. Secara garis besar, tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran berbasis SETS adalah : 8. 9. Inisiasi: pendahuluan pembelajaran SETS dengan mengangkat dan mendiskusikan isu atau masalah. Penetapan kompetensi sains: mengumpulkan kompetensi sains yang diperlukan untuk lebih memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi. 10. Dekontekstualisasi: pemisahan konsep dan prinsip sains (yang perlu dicapai kompetensinya) dari konteks isu atau masalah yang diangkat. 11. Pembelajaran konsep dan prinsip sains: pemantapan penguasaan konsep dan prinsip sains, melalui metode pembelajaran yang sesuai. 12. 13. Penerapan: menerapkan konsep dan prinsip sains pada isu atau masalah. Integrasi: membangun keterkaitan antar konsep dan prinsip sains, serta antar konsep/prinsip tersebut dengan spektrum terapannya dalam kehidupan. 14. Perangkuman: merangkum kompetensi yang seharusnya telah dimiliki peserta didik, termasuk kemampuan menerapkannya pada kasus tertentu. 1. Inisiasi

32 | P a g e

Pada tahap ini, guru mengangkat isu atau masalah yang ada dalam kehidupan peserta didik sehari-hari, atau yang hangat di media (koran, TV, dll.). Isu atau masalah yang diangkat bisa pula berasal dari peserta didik. Setelah pemilihan isu, dilakukan penggalian cara pandang dan pemahaman peserta didik terhadap isu atau masalah tersebut. Untuk melangkah ke tahap berikut, guru bersama-sama peserta didik merumuskan masalah, atau menegaskan batas-batas topik isu tersebut untuk mengarahkan perhatian yang memusat pada isu yang jelas. Pembatasan ini akan memperjelas kompetensi sains apa yang diperlukan untuk memahami atau memecahkan masalah tersebut. 2.Penetapan Kompetensi Sains Guru mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terkait dengan isu yang diangkat. Seperti dijelaskan pada ragam pendekatan SETS, kompetensi dasar yang relevan bisa berasal dari satu bab, atau lintas bab, atau bahkan lintas mata pelajaran. Dari kajian ini, dikumpulkan kompetensi dasar (sains dan non-sains) yang diperlukan untuk lebih memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi. Jika guru sebenarnya telah mempersiapkan topik yang akan diangkat sebelum tahap inisiasi, maka guru bisa mengetahui daftar target kompetensi sains sebelum pertemuan inisiasi di atas. 3. Dekontekstualisasi Pada tahap ini, peserta didik perlu dipersiapkan untuk menghadapi tahap sesudahnya yaitu pembelajaran konsep dan prinsip sains[1], yang dalam kasus-kasus tertentu akan merupakan tahap yang memiliki learning curve yang tajam. Tahap penyiapan peserta didik ini disebut dekontekstualisasi, karena peserta didik perlu dipersiapkan agar fokus pada pembelajaran konsep dan prinsip-prinsip yang perlu dikuasai, tanpa terganggu oleh konteks, isu, atau masalah yang diangkat.

33 | P a g e

Tahap ini bisa berupa peralihan yang tak kentara dan mulus dari tahap inisiasi pemilihan konteks ke tahap setelah dekontekstualisasi yaitu pembelajaran sains. Guru bisa menciptakan suasana kelas yang memungkinkan peralihan mulus ini. Tahap ini bisa pula berupa permintaan tegas kepada peserta didik, agar meninggalkan diskusi tentang isu/masalah, tapi mulai memusatkan perhatian pada pencapaian kompetensi sains (atau bidang lain) yang dibutuhkan untuk memahami atau menyelesaikan masalah. Proses dekontekstualisasi yang gagal akan menyebabkan keberhasilan-semu pada pembelajaran berbasis STM. Peserta didik terlihat antusias terhadap kegiatan pembelajaran, tertarik pada isu atau masalah yang diangkat, aktif dalam pencarian solusi masalah (atau bergairah dalam diskusi untuk memahami masalah), tetapi tidak terjadi pembelajaran konsep dan prinsip sains, yang justru merupakan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendak dicapai. Landasan keilmuan yang digunakan untuk berusaha memahami isu atau memecahkan masalah hanya konsep dan prinsip yang telah dimiliki peserta didik sebelumnya, dan tidak terjadi proses pembelajaran konsep dan prinsip baru yang diharapkan. Tanpa penguasaan prinsip dan konsep itu, pemecahan masalah yang dihasilkan tidak memiliki landasan yang kuat, atau bahkan keliru! 4. Pembelajaran Sains Pada tahap ini terjadi pembelajaran konsep dan prinsip sains (atau pembelajaran bidang-bidang lain yang relevan, jika pembelajaran berbasis STM digunakan untuk lintas mata-pelajaran). Pada tahap ini, diperlukan sarana untuk memastikan bahwa peserta didik memahami dan diharapkan mampu menerapkan konsep dan prinsip yang mewakili kompetensi dasar dalam standar isi. Pengujian penguasaan peserta didik dapat pula dilakukan lewat pengamatan guru terhadap tahap sesudah ini

34 | P a g e

(yaitu tahap menerapkan prinsip dan konsep untuk memecahkan atau memahami masalah, dengan landasan keilmuan yang lebih kuat). Pada pembelajaran ini, guru dapat memilih metode

pembelajaran yang sesuai dengan bahan yang disampaikan. Karena pembelajaran yang dilakukan telah diawali dengan konteks yang memayungi, yang dekat dengan kehidupan peserta didik, maka diharapkan kualitas pembelajaran bisa meningkat, dengan peserta didik yang lebih aktif, dll. Seperti dijelaskan sebelumnya, keberhasilan tahap ini selain ditentukan oleh metode pembelajaran yang dipilih dan proses pembelajaran yang terjadi, juga sangat bergantung pada keberhasilan tahap dekontekstualisasi sebelumnya, yang mempersiapkan suasana yang baik untuk tahap ini. Untuk sebagian peserta didik, proses dekontekstualisasi yang baik dan pembelajaran konsep/prinsip yang berhasil dapat secara tajam mengubah persepsi peserta didik terhadap permasalahan yang dihadapi. 5. Penerapan Pada tahap ini, guru dan peserta didik secara bersama menerapkan konsep dan prinsip sains pada isu atau masalah yang diangkat. Guru perlu menahan diri untuk tidak terlalu cepat membantu peserta didik menerapkan apa yang baru dipelajarinya pada isu tersebut. Guru sejauh mungkin hanya memfasilitasi usaha peserta didik untuk memahami atau memecahkan masalah yang dihadapi bersama. Pada tahap ini, seharusnya terjadi pemantapan konsep dan prinsip pada diri peserta didik. Proses menerapkan pengetahuan, konsep, dan prinsip pada hal yang nyata akan memberi makna lebih terhadap pengetahuan tersebut.

35 | P a g e

Pada bentuknya yang paling sederhana, tahap ini tidak menuntut terjadinya proses pemecahan masalah, melainkan hanya peningkatan pemahaman peserta didik pada isu yang diangkat. Guru dapat mengajukan permintaan sederhana kepada peserta didik untuk mencoba menjelaskan isu tersebut berdasarkan pengetahuan baru yang telah diperoleh pada pembelajaran yang dilakukan. 6. Integrasi Tahap penerapan dilanjutkan dengan usaha membangun keterkaitan antar konsep dan prinsip sains yang diajarkan. Wawasan terapan yang diperoleh pada tahap sebelumnya akan memperkaya cara pandang terhadap keterkaitan antar konsep dan prinsip tersebut. Wawasan tersebut juga akan memberi gambaran keterkaitan yang jelas antara konsep/prinsip sains dengan spektrum terapannya dalam kehidupan. Untuk memperkaya tahap ini, guru dapat mengajak peserta didik untuk berdiskusi tentang kemungkinan penerapan konsep/prinsip baru yang dipelajari pada konteks selain isu atau masalah yang diangkat pada pembelajaran berbasis STM ini. Pengayaan ini akan memberi kemampuan kepada peserta didik untuk menerapkan suatu prinsip pada situasi yang berbeda. 7. Perangkuman Akhirnya, guru atau peserta didik dapat merangkumkan hasil pembelajaran berbasis STM yang telah dilakukan. Lewat tahap perangkuman ini, ditegaskan berbagai kompetensi dasar yang telah dimiliki peserta didik, dan wawasan terapan yang telah dimiliki. Tahap ini harus dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kepercayaan diri peserta didik dalam mempelajari sesuatu yang baru, dan dalam memecahkan kehidupannya. atau memahami masalah yang relevan dengan

36 | P a g e

8. Peralihan Menuju Pembelajaran SETS/Salingtemas Karena pembelajaran berbasis SETS akan terus berkembang, maka akan terus hadir berbagai pendekatan yang berbeda untuk meningkatkan efisiensi dan ketercapaian pembelajaran berbasis SETS. Tahap-tahap yang dijelaskan di atas haruslah dIPSndang sebagai salah satu alternatif pendekatan dalam pembelajaran berbasis SETS. Pendekatan yang bisa digunakan bisa amat beragam, dari mulai penyederhanaan terhadap tahap-tahap di atas untuk awal peralihan menuju pembelajaran berbasis SETS hingga penambahan tahap pengayaan dengan mengundang pakar yang berkompeten dalam bidang yang relevan dengan isu/masalah yang diangkat. Untuk yang terakhir ini, pakar diundang untuk turut berdiskusi dengan peserta didik setelah peserta didik mendapat pembekalan pemahaman konsep dan prinsip dasar yang diperlukan. Yang diharapkan adalah terciptanya suasana diskusi yang saling mengisi: peserta didik mendapat tambahan kompetensi dari pakar yang diundang, sebaliknya pakar tersebut bisa saja memperoleh gagasan-gagasan segar dari peserta didik. Untuk mulai beralih menuju pembelajaran berbasis SETS, guru perlu merasa bebas untuk bereksperimen. Tahap-tahap di atas bisa disederhanakan, disesuaikan dengan keadaan yang dihadapi (peserta didik, prasarana, sumber belajar, dll.). Pada tingkatnya yang paling sederhana, guru harus mengenal ciri minimal berikut yang membedakannya dari pembelajaran tradisional. Pembelajaran tradisional mulai dengan pembelajaran konsep dan prinsip, diikuti dengan contohcontoh terapan, sedangkan pembelajaran yang baru ini memulai dengan isu atau masalah yang dekat dengan kehidupan peserta didik, diikuti dengan pembelajaran konsep dan prinsip, untuk akhirnya kembali ke isu/masalah untuk difahami atau dipecahkan dengan menerapkan konsep atau prinsip yang dipelajari.

37 | P a g e

Pada keadaan dimana guru belum siap dengan pembelajaran berbasis SETS, guru bisa tetap mulai mengumpulkan gagasan isu atau masalah melalui peserta didik, yang dapat digunakan untuk pembelajaran SETS di kemudian hari. Tahap brainstorming ini bisa dengan pertanyaan sederhana kepada peserta didik tentang peristiwa atau isu apa saja yang menarik perhatiannya akhir-akhir ini, di lingkungan terdekatnya atau dalam berita, dll. Untuk sedikit memperkaya isu/topik/masalah, bisa dilakukan diskusi kecil tentang beberapa isu tersebut. Guru bisa mencatat isu-isu yang kira-kira dapat digunakan untuk merancang pembelajaran berbasis SETS suatu saat nanti. Akhirnya, tidak ada peralihan yang sempurna dari pembelajaran tradisional. Kita tidak mungkin menghadapi kondisi ideal dimana seluruh kompetensi dasar yang dituntut oleh kurikulum atau standar isi dapat ditumbuhkan melalui pembelajaran berbasis SETS. Guru perlu mencatat kompetensi apa saja yang telah ditumbuhkan lewat pembelajaran SETS, dan melakukan pembelajaran non-SETS untuk mencapai kompetensi-kompetensi dasar yang belum disentuh. 9. Implikasi Model Pembelajaran dengan Pendekatan SETS Implementasi model pembelajaran dengan menggunakan visi dan pendekatan SETS, menuntun peserta didik untuk mengaitkan konsep sain dengan unsur lain dalam SETS. Cara ini memungkinkan peserta didik memperoleh gambaran lebih jelas tentang keterkaitan konsep tersebut dengan unsur lain dalam SETS, baik dalam bentuk kelebihan ataupun kekurangannya. Setiap peserta didik memiliki kemampuan dasar berbeda-beda, melalui penerapan konstruktivisme peserta didik dapat melakukan pembelajaran dari berbagai titik awal yang mereka kenal dekat dengan konsep sain yang akan dipelajari. Model pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS dengan sain sebagai titik awal yang disesuaikan
38 | P a g e

dengan minat dan bakat peserta didik diharapkan mendorong keingintahuan dan memperkuat inisiatif peserta didik untuk mengaitkan dengan unsur-unsur SETS lainnya. Tanggung jawab pendidik yang terutama adalah tidak hanya sadar akan prinsip umum mengenai pengalaman belajar sain sesuai dengan kondisi lingkungan keseharian peserta didik, tetapi juga mengaitkan dengan teknologi, lingkungan, masyarakat yang terus berkembang untuk memperoleh pengalaman yang membawa ke arah pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Implikasi terkait dengan penerapan model pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS adalah: 1. Diperlukan penurunan silabus mata pelajaran berdasarkan standar isi dan kompetensi yang bervisi dan berpendekatan SETS. 2. 3. 4. Diperlukan pengembangan perencanaan pembelajaran yang subjeknya bervisi dan berpendekatan SETS Diperlukan pengembangan atau penyediaan bahan pembelajaran yang bervisi dan berpendekatan SETS. Diperlukan pengembangan instrumen evaluasi bervisi dan berpendekatan SETS untuk pembelajaran topik pada subyek yang diperkenalkan. 10. Pedoman Khusus Penyusunan Silabus Bermuatan SETS Silabus bermuatan SETS harus mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang sudah ditetapkan . Silabus ini harus memberi arah yang jelas mulai kompetensi yang dikembangkan ke dalam beberapa indikator serta kegiatan pembelajaran yang harus dialami siswa, serta bahan ajar dan cara penilaiannya. Silabus bermuatan SETS dikembangkan oleh guru, sesuai dengan kebutuhan dan potensi siswanya. Silabus ini pada dasarnya

39 | P a g e

mengandung butir-butir penting yang perlu diimplementsikan secara utuh dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah penyusunan silabus bermuatan SETS adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. B. Identifikasi SK dan KD yang dapat dikaitkan dengan SETS Penyusunan indikator bermuatan SETS Pengembangan materi pembelajaran bermuatan SETS Penetapan kegiatan pembelajaran bermuatan SETS Menetapkan jenis penilaian bermuatan SETS Penentuan alokasi waktu Penentuan sumber bahan/alat bermuatan SETS.

KAJIAN EMPIRIS Penelitian ini didasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan

sebelumnya terhadap model pembelajaran SETS dalam meningkatkan prestasi belajar IPS, adapun hasil penelitian tersebut antara lain :
a. Penelitian yang dilakukan oleh Jakoba Layaba, jurusan PGSD

Universitas Negeri Malang tahun 2010 pada siswa SD Susukanrejo I-II dengan judul Peningkatan Hasil Belajar IPA melalui Model Pembelajaran SETS Siswa Kelas V SDN Susukanrejo I-II Kecamatan Pohjentrek Kabupaten menunjukkan hasil penelitian yang diperoleh ternyata ada peningkatan hasil tes. Pada siklus I hasil tes mencapai 66,93 sedangkan pada siklus II hasil tes mencapai 81,45. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil tes siswa dengan diterapkannya model pembelajaran SETS.
b. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Mukminatun, tahun 2010 pada

siswa SD Negeri Sragen dengan judul Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPS melalui Pembelajaran CTL Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 12 Sragen tahun pelajaran 2009/2010 menunjukkan hasil penelitian yang diperoleh ternyata ada peningkatan hasil tes. Pada siklus I hasil tes mencapai 72 sedangkan pada siklus II hasil tes mencapai 75, aspek afektif

40 | P a g e

siklus I sebesar 67,5, siklus II sebesar 76, aspek psikomotorik siklus I 68, siklus II sebesar 75. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan diterapkannya model pembelajaran jigsaw.
c. Penelitian yang dilakukan oleh Imtihanah, Myristica Umanaaul

Jurusan Fisika Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang, tahun 2009 pada siswa XI IPA 1 SMA Negeri 3 Malang terhadap 32 siswa pada tanggal 9 Februari 2 April 2009 menunjukkan hasil keterlaksanaan penerapan pembelajaran Fisika dengan pendekatan SETS mengalami peningkatan dari 76,79% pada siklus I ke 91,25% pada siklus II dengan peningkatan sebesar 14,46%, peningkatan keterlaksanaan ini membuktikan pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan SETS perlu latihan dan pembiasaan diri baik dari guru maupun siswa, aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I 85,11% ke siklus II 92,22% dengan peningkatan sebesar 7,11% karena siswa termotivasi dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan SETS, kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa mengalami peningkatan 30%, dari siklus I 50% ke siklus II 80% yang ditunjukkan dengan peningkatan tingkat kompetensi kognitif dan kemampuan menganalisis masalah, kemampuan menganalisis masalah yang tinggi setelah menerapkan pembelajaran dengan pendekatan SETS, hasil belajar siswa juga meningkat 9,37%, dari siklus I 78,13% ke siklus II 87,5% yang ditunjukkan dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa.

C.

KERANGKA BERFIKIR pembelajaran merupakan interaksi antara siswa dengan guru dan

sumber belajar yang ada dalam suatu lingkungan belajar. Berdasarkan hal tersebut dibutuhkan suatu model pembelajaran sebagai sarana untuk mendorong aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar yang dapat meningkatkan hasil belajarnya. Salah satu model pembelajaran yang ada adalah model pembelajaranSETS. Dalam penelitian ini, akan digunakan pembelajaran

41 | P a g e

dengan model SETS yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkaji isu isu social dan mengkaitkannya dengan Sains. Pendekatan (SETS = science, environment, technology, society) merupakan salah satu model atau pendekatan untuk menyesuaikan diri terhadap perkembangan sains yang cepat dan menjawab perubahan paradigma. pendekatan SETS sekurang-kurangnya dapat membuka wawasan peserta didik untuk memahami hakikat pendidikan sain, lingkungan, teknologi, dan masyarakat secara utuh. Maksudnya ialah bahwa visi dan misi pendekatan SETS ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui sain dan bagaimana perkembangan sain dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi, dan masyarakat secara timbal balik.

- Siswa tidak aktif saat pembelajaran Kondisi Awal - Siswa cepat bosan karena pembelajaran kurang menarik
- Pembelajaran masih menggunakan - pendekatan kovensional. Siswa aktif dalam pembelajaran sebab disini siswa Pendekatan SETS merupakan konsep belajar yang membangun pengetahuannya sendiri. membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan - Siswa tidak cepat merasa bosan karena siswa dengan situasi dunia nyata siswa. Pendekatan ini melakukan sendiri apa yang dipelajarinya. memungkinkan siswa untuk membangun pengetahuan - Pendekatan yang dulunya konvensional yaitu hanya 42 | P a g e sendiri dan melakukan sendiri apa yang dipelajari,sehingga dengan ceramah, sekarang diganti dengan pendekatan siswa tidakyang memungkinkan siswamendengar informasi SETS cepat bosan karena hanya berinteraksi dan dari bertukar pikiran. guru.

Tindakan Kondisi Akhir

D.

HIPOTESIS TINDAKAN Berdasarkan uraian pada kerangka teori dan kerangka berpikir di atas,

maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah : Dengan pembelajaran SETS prestasi belajar IPS siswa kelas III SD N Boloh 2 Grobogan tahun pelajaran 2011/2012 dapat ditingkatkan.

43 | P a g e

BAB III A. Metode Penelitian 1. Subyek Penelitian Dalam penelitian tindakan kelas ini subyek penelitiannya adalah siswa kelas III SD N Boloh 02, Kec. Toroh, Kab. Grobogan. Dengan jumlah siswa 44 anak, yang terdiri dari 23 anak laki-laki dan 21 anak perempuan. 2. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.

Aktivitas siswa dalam pembelajaran SETS

b. Keterampilan guru dalam pembelajaran SETS

c.

Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS.

3. Prosedur / Langkah-langkah PTK Rancangan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Adapun langkah-langkah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut: a. Perencanaan Dalam tahap perencanan ini meliputi sebagai berikut:
1) Menelaah materi dalam pembelajaran IPS serta menelaah indikator

bersama tim kolaborasi.


2) Menyusun RPP sesuai indikator yang telah ditetapkan dan skenario

pembelajaran SETS 3) Menyiapkan alat peraga dan media pembelajaran. 4) Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa. 5) Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa, guru, dan lembar wawancara.

44 | P a g e

b. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan di dalam kancah, yaitu mengenakan tindakan di kelas (Arikunto, 2006:99). Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam 2 siklus, siklus pertama yaitu melakasanakan rencana pembelajaran yang telah disusun tentang Memahami lingkungan dan melaksanakan kerjasama di sekitar rumah dan sekolah dan siklus kedua yaitu melaksanakan perbaikan pembelajaran yang telah dibuat tentang Memahami lingkungan dan melaksanakan kerjasama di sekitar rumah dan sekolah. c. Observasi Observasi atau pengamatan yaitu pelaksanaan pengamatan oleh pengamat (Arikunto, 2006:99). Observasi atau pengamatan secara langsung dilakukan pada penelitian ini untuk memperoleh gambaran secara umum tentang pembelajaran IPS di SD N Boloh 02. d. Refleksi Refleksi atau pantulan, yaitu kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi (Arikunto, 2006:99). Setelah mengkaji proses pembelajaran yaitu aktivitas siswa, ketrampilan guru dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal tentang Memahami lingkungan dan melaksanakan kerjasama di sekitar rumah dan sekolah apakah sudah efektif dengan melihat ketercapaian dalam indicator kinerja pada siklus pertama, serta mengkaji kekurangan yang muncul dalam pelaksanaan siklus pertama, dan perencanaan tindak lanjut untuk siklus berikutnya. 4. Siklus Penelitian Perencanaan dalam Siklus Pelaksanaan pembelajaran IPS di Kelas III semester 1 dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing siklus melalui empat tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.

45 | P a g e

4.1 Siklus Pertama a. Perencanan


1)

Menyusun RPP dengan materi Memahami lingkungan dan melaksanakan kerjasama di sekitar rumah dan sekolah

2) 3)

Mempersiapkan sumber dan media pembelajaran / alat peraga Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa.

4)

Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa dan aktivitas guru.

b. Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran siklus pertama dilaksanakan sebagai berikut : 1) Guru melaksanakan apersepsi. 2) Inisiasi: pendahuluan pembelajaran SETS dengan mengangkat dan mendiskusikan isu atau masalah. 3) Penetapan kompetensi sains: mengumpulkan kompetensi sains yang diperlukan untuk lebih memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi. 4) Dekontekstualisasi: pemisahan konsep dan prinsip sains (yang perlu dicapai kompetensinya) dari konteks isu atau masalah yang diangkat. 5) Pembelajaran konsep dan prinsip sains: pemantapan penguasaan konsep dan prinsip sains, melalui metode pembelajaran yang sesuai. 6) Penerapan: menerapkan konsep dan prinsip sains pada isu atau masalah.

46 | P a g e

7) Integrasi: membangun keterkaitan antar konsep dan prinsip sains, serta antar konsep/prinsip tersebut dengan spektrum terapannya dalam kehidupan. 8) Perangkuman: merangkum kompetensi yang seharusnya telah dimiliki peserta didik, termasuk kemampuan menerapkannya pada kasus tertentu. c. Observasi
1) Melakukan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran

SETS siklus pertama.


2) Melakukan pengamatan aktivitas guru dalam pembelajaran

SETS siklus pertama. d. Refleksi 1) 2) 3) 4) Mengkaji pelaksanan pembelajaran pada siklus pertama. Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran siklus pertama. Membuat daftar permasalahan yang terjadi pada siklus pertama. Merencanakan perencanaan tindak lanjut untuk siklus kedua.

4.2 Siklus Kedua a. Perencanan

Mengadakan rencana perbaikan untuk pembelajaran siklus pertama. Rencana perbaikan yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1) Menyusun RPP dengan materi Memahami lingkungan dan

melaksanakan kerjasama di sekitar rumah dan sekolah 2) Mempersiapkan sumber dan media pembelajaran / alat peraga 3) Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa.
4) Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa

b.

Pelaksaan Tindakan
47 | P a g e

Pembelajaran siklus kedua dilaksanakan sebagai berikut : 1) Guru melaksanakan apersepsi.

(2) Inisiasi: pendahuluan pembelajaran SETS dengan mengangkat dan mendiskusikan isu atau masalah. (3) Penetapan kompetensi sains: mengumpulkan kompetensi sains yang diperlukan untuk lebih memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi. (4) Dekontekstualisasi: pemisahan konsep dan prinsip sains (yang perlu dicapai kompetensinya) dari konteks isu atau masalah yang diangkat. (5) Pembelajaran konsep dan prinsip sains: pemantapan penguasaan konsep dan prinsip sains, melalui metode pembelajaran yang sesuai. (6) Penerapan: menerapkan konsep dan prinsip sains pada isu atau masalah. (7) Integrasi: membangun keterkaitan antar konsep dan prinsip sains, serta antar konsep/prinsip tersebut dengan spektrum terapannya dalam kehidupan. (8) Perangkuman: merangkum kompetensi yang seharusnya telah dimiliki peserta didik, termasuk kemampuan menerapkannya pada kasus tertentu. c. Observasi
1) Melakukan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran

SETS siklus kedua.


2) Melakukan pengamatan aktivitas guru dalam pembelajaran SETS

siklus kedua. d. 1. 2. 3. Refleksi Mengkaji pelaksanan pembelajaran pada siklus kedua. Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran siklus kedua. Membuat daftar permasalahan yang terjadi pada siklus kedua.

48 | P a g e

4. Membuat laporan. 5. Data dan Cara Pengumpul Data 5.1 Sumber Data a. Siswa Sumber data siswa diperoleh dari hasil observasi yang siperoleh secara sistematik selama pelaksanaan siklus pertama sampai siklus kedua, hasil evaluasi, dan hasil wawancara siswa. b. Guru Sumber data guru berasal dari lembar observasi keterampilan guru dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan pendekatan SETS. c. Data Dokumen Sumber data dokumen berupa data awal nilai hasil tes sebelum dilakukan tindakan. d. Catatan Lapangan Sumber data yang berupa catatan lapangan berasal dari catatan selama proses pembelajaran berupa data aktivitas siswa, keterampilan guru, dan hasil belajar siswa dala pembelajaran IPS. 5.2 Jenis Data a. Data Kuantitatif Data kuantitatif diwujudkan dengan hasil belajar berupa

kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal IPS dengan materi Memahami lingkungan dan melaksanakan kerjasama di sekitar rumah dan sekolah b. Data Kualitatif Data kuantitatif diperoleh dari hasil observasi dengan

menggunakan lembar pengamatan aktivitas siswa, keterampilan guru,

49 | P a g e

dan wawancara serta catatan lapangan dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan pendekatan SETS. 5.3 Teknik Pengumpul Data Teknik pengumpul data yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode observasi, metode tes, metode dokumentasi dan wawancara. a. Metode Observasi Orang seringkali mengartikan observasi sebagai suatu aktiva yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata. Di dalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indra (Arikunto, 2006 : 156). Observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa dan aktivitas guru dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan pendekatan SETS. b. Metode Tes Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2006 : 150). Tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal IPS tentang Memahami lingkungan dan melaksanakan kerjasama di sekitar rumah dan sekolah. c. Metode Dokumentasi Dokumentasi dari asal katanya dokumen, yang artinya barangbarang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dsb (Arikunto, 2006 : 231). Sumber dokumentasi dalam penelitian ini adalah semua data yang

50 | P a g e

diperoleh dari SD N Boloh 02 mengenai pembelajaran IPS, misalnya : video, foto, dll. d. Metode Wawancara Wawancara atau interview adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Wawancara digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variable latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu (Arikunto, 2006 : 155). Metode wawancara dalam penelitian ini digunakan penulis untuk mengambil data tentang pembelajran IPS kelas III di SD N Boloh 02. 6. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Kuantitatif Data kuantitatif berupa hasil belajar kognitif, dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dengan menentukan mean atau rata-rata. Adapun penyajian data kuantitatif dipaparkan dalam bentuk persentase. Adapun rumus persentase tersebut adalah sebagai berikut: = x 100%

Keterangan : n N = Jumlah frekuensi yang muncul. = Jumlah total siswa. = Persentase frekuensi. Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan kriteria ketuntasan belajar siswa yang dikelompokan ke dalam dua kategori tuntas dan tidak tuntas, dengan kriteria sebagai berikut : Kriteria ketuntasan 70 < 70 Kualifikasi Tuntas Tidak tuntas

51 | P a g e

b. Kualitatif Data kualitatif berupa data hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran SETS, serta hasil catatan lapangan dan wawancara dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Data kualitatif dSETSparkan dalam kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Hasil dapat dilihat pada tabel berikut : Kriteria A B C D Kualifikasi Amat Baik Baik Cukup Kurang

7. Indikator Kriteria Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan SETS dapat

meningkatkan kemampuan siswa kelas III pada SD N Boloh 02 dalam menyelesaikan soal-soal IPS tentang Memahami lingkungan dan melaksanakan kerjasama di sekitar rumah dan sekolah dengan indikator keberhasilan sebagai berikut:
a.

Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS menggunakan pendekatan SETS meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik.

b. Aktivitas guru dalam pembelajaran IPS menggunakan pendekatan SETS

meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik.


c.

80% siswa kelas III SD N Boloh 02 mengalami ketuntasan belajar individual sebesar >70 dalam pembelajaran IPS khusunya dalam materi Memahami lingkungan dan melaksanakan kerjasama di sekitar rumah dan sekolah

B. Jadwal Penelitian No Pelaksanaan Penelitian 1 2 Juli 3 Agustus 2 3 4 September 2 3 4 Oktober 2 3 4

52 | P a g e

1. 2.

3.

4.

Proposal PTK Siklus I Perencanan Tindakan Observasi Refleksi Siklus II Perencanaan Tindakan Observasi Refleksi Pelaporan

C. Rencana Anggaran Biaya Rencana anggaran biaya dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Fotocopy : Rp 50.000,00

2. Kertas folio 2 bendel : Rp 4.000,00 3. Jilid buku : Rp 15.000,00

4. Penggandaan laporan : Rp 50.000,00 5. Alat Peraga Jumlah D. Tim Peneliti


1. Nama

: Rp 31.000,00 : Rp 150.000,00

: Dafid Indra Jaya Ningrat : 1402408301 : SD N Boloh 02, Kec. Toroh, Kab. Grobogan

NIM Lokasi Penelitian

53 | P a g e

I. Daftar Pustaka Anni, Catharina Tri, dkk. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES. http://akhmadsudrajat.wordpress.com. 2008. Pendekatan strategi metode teknik dan model pembelajaran. (Diunduh 11 juli 2011) http://basinasmanding.blogspot.com. 2009. Hakikat menulis. (Diunduh 11 juli 2011)

http://sunartombs.wordpress.com. 2009. Pengertian hasil belajar. (Diunduh 11 juli 2011) http://techonly13.wordpress.com. 2009. Pendekatan pembelajaran menulis di sd. (Diunduh 11 juli 2011)

Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo

Rifai, Achmad dan Catharina Tri Anni. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES PRESS. Sugandi, Ahmad, dkk. 2007. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK UNNES.

54 | P a g e

KISI KISI INSTRUMEN PENELITIAN JUDUL : Peningkatan Kwalitas Pembelajaran IPS Melalui Pendekatan SETS (Science Environtmen Technology And Socienty ) Pada Siswa Kelas III SDN 2 Boloh No 1 Variabel Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS dengan pendekatan SETS Indikator 1. Inisiasi : merumuskan masalah Sumber Data Siswa Alat/ Instrumen Lembar observasi Catatan lapangan

yang akan dibahas bersama guru. Foto 2. Mempelajari konsep konsep yang diperlukan untuk memecahkan masalah dari kompetensi kompetensi yang telah ditetapkan. 3. Menerapkan konsep konsep yang telah dipelajari. 4. Memahami isu isu social yang telah diangkat . 5. Mencari keterkaitan antara konsep konsep yang telah dipelajari.
6. Menjawab pertanyaan sendiri

maupun teman yang disampaikan di depan kelas


7. Penerapan konsep terhadap isu

Keterampilan guru dalam pembelajaran IPS menggunakan pendekatan SETS

masalah pada kehidupan. 1. Melakukan apersepsi


2. Menyampaikan tujuan

Guru

Lembar

observasi Catatan lapangan Wawancara

pembelajaran 3. Menetapkan isu masalah 4. Bersama siswa merumuskan masalah (pembatasan topik) 5. Menetapkan kompetensi yang akan

55 | P a g e

dipelajarai 6. Mempersiapkan suasana yang baik untuk pemantapan konsep siswa 7. Membimbing siswa dalam diskusi kelompok
8. Membimbing siswa dalam

menentukan solusi permasalahan 9. Membimbing siswa dalam menerapkan konsep pada kasus tertentu 10. Melakukan refleksi Melakukan penilaian dan 3 Keterampilan siswa dalam pembelajaran IPS dengan materi melakukan kerjasama di lingkungan rumah, sekolah, dan kelurahan/desa memberikan umpan balik 1........Mengidentifikasi kerjasama yang ada dilingkungan rumah sekolah dan desa. 2.......Mendeskripsikan pengertian kerjasama. 3....Mengidentifikasi manfaat dari kerjasama. 4..............Melakukan kerjasama di lingkungan sekolah. Hasil evaluasi siswa
Tes tertulis

Nontes

56 | P a g e

LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA Pertemuan . Siklus.. Nama Siswa Nama SD Kelas Konsep Hari/Tanggal Petunjuk : : SD N Boloh 02, Kec. Toroh, Kab. Grobogan : III : melakukan kerjasama di lingkungan rumah, sekolah, dan kelurahan/desa : ... :

Tulis skor yang diperoleh, dengan ktiteria sebagai berikut:


a.

Skor 4: jika 4 deskriptor tampak Skor 2: jika 2 deskriptor tampak

b. Skor 3: jika 3 deskriptor tampak c.

d. Skor 1: jika 1 deskriptor tampak

No 1

Indikator Inisiasi : merumuskan masalah yang akan dibahas bersama guru.

Deskriptor a. Mengkaji isu yang di angkat dengan mengajukan pendapat b. Mencatat penyebab penyebab timbulnya permasalahan c. Mencatat pembatasan masalah d. Merumuskan masalah

Skor

Mempelajari konsep yang untuk memecahkan masalah kompetensi kompetensi yang dari konsep diperlukan

a. Menyiapkan buku buku pelalajaran yang terkait dengan topic masalah. b. Mencari konsep konsep yang terkait dari buku. c. Membaca konsep konsep terkait. d. Menyimpulkan konsep konsep yang telah dibaca.

57 | P a g e

telah ditetapkan Menerapkan konsep konsep yang telah dipelajari

a. Menyebutkan contoh nyata masalah yang ada di lapangan. b. Menyebutkan konsep konsep yang terkait dengan contoh. c. Menerangkan keterkaitan konsep dan masalah d. Memberikan pemecahan masalah berdasarkan konsep. a. Mendiskripsikan isu social yang telah diangkat. b. Mendiskripsikan akar penyebab isu sasial c. Menjelaskan pentingnya isu tersebut d. Mencari alternative pemecahan masalah a. Menyiapkan buku buku mata pelajaran b. Membaca konsep konsep yang telah ditentukan c. Mengkaji semua konsep yang telah dibaca d. Mengaitkan konsep konsep yang telah dibaca a. Membaca seluruh pertanyaan yang ada b. Memahami maksud pertanyaan c. Menentukan solusi dan pemecahan masalah dari setiap pertanyaan d. Dilaksanakan berdasarkan batas waktu yang ditentukan a. Memahami konsep dari isi materi b. Mengaitkan pada kasus-kasus tertentu c. Memilih kasus tertentu untuk mengimplementasikan isu masalah d. Menerapkan setiap konsep isu masalah pada kehidupan Jumlah skor Jumlah skor = .. kategori .

Memahami isu isu social yang telah diangkat

Mencari keterkaitan antara konsep konsep yang telah dipelajari

Menjawab pertanyaan sendiri maupun teman yang disampaikan di depan kelas

Penerapan konsep terhadap isu masalah pada kehidupan

Keterangan Penilaian: R = skor terendah = 7


58 | P a g e

T = skor tertinggi = 28 n = banyaknya skor = 20 Q2 = median Letak Q2 = ( n+1 ) = ( 20 +1 ) = x 21 = 10,5 Jadi Q2 adalah 13+8= 21 Q1 = kuartil pertama Letak Q1 = = = ( n +1 ) ( 20+1 ) x 21

= 5,25 Jadi Q1 adalah 6,5+8= 14,5 Q3 = kuartil ketiga Letak Q3 = (n +1 ) = = x 21

= 15,75 Skor 27,5 skor 32 21 skor < 27,5 14,5 skor < 21 8 skor < 14,5 Kriteria Sangat Baik Baik Cukup Kurang Keterangan Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas

Boloh, .. Observer

59 | P a g e

60 | P a g e

LEMBAR PENGAMATAN KETERAMPILAN GURU Pertemuan . Siklus.. Nama Siswa Nama SD Kelas Konsep Hari/Tanggal Petunjuk : : SD N Boloh 02, Kec. Toroh, Kab. Grobogan : III : melakukan kerjasama di lingkungan rumah, sekolah, dan kelurahan/desa : ... :

Tulis skor yang diperoleh, dengan ktiteria sebagai berikut:


a. Skor 4: jika 4 deskriptor tampak b. Skor 3: jika 3 deskriptor tampak c. Skor 2: jika 2 deskriptor tampak d. Skor 1: jika 1 deskriptor tampak

No 1

Kriteria pengamatan Membuka pelajaran

Indikator a. Memeriksa kesiapan siswa mengikuti pelajaran b. Membangkitkan minat dan perhatian siswa c. Menyampaikan tujuan dan kompetensi pelajaran d. Membangun pengetahuan awal siswa mengenai ilegal loging dan hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya. a. Menggunakan kalimat yang mudah dipahami b. Menjelaskan pemilihan dan pembatasan isu masalah (topik) c. Memberikan gambaran isi materi dan penanaman konsep melalui tahapan SETS d. Penjelasan diberikann bersamaan dengan pelaksanaan tahap-tahap SETS a. Memberikan variasi suara, volume suara, dan penekanan intonasi b. Melibatkan peran siswa kedalam kompetensi pembelajaran c. Menggunkan bacaan dan nama kelompok sesuai

Skor

Menjelaskan pelajaran

Menggunakan variasi

konsep materi d. Terdapat perubahan posisi guru di dalam kelas Memberi a. Memberikan kehangatan melalui gerakan, mimik, suara, serta anggukan serius saat siswa penguatan menampilkan hasil presentasi pekerjaan/berpendapat di depan kelas b. Ada penguatan verbal c. Ada penguatan non verbal d. Penguatan bervariasi dan bermakna Bertanya dalam a. Pengungkapan pertanyaan secara bebas dalam pembelajaran koridor materi b. Pertanyaan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa terhadap isu masalah pada kasus tertentu c. Melakukan penyebaran pertanyaan pada seluruh siswa didepan kelas d. Memberikan konfirmasi jawaban yang tepat

Membimbing diskusi kelompok kecil

dari pertanyaan-pertanyaan yang dibuat a. Menunjukkan solusi dari perumusan masalah yang dipilih b. Membimbing siswa membuat dan menjawab pertanyaan sebagai bentuk curah pendapat c. Memberi kesempatan semua siswa untuk mengemukakan pendapatnya mengenai bahasan diskusi d. Menyimpulkan solusi pemecahan masalah

Mengelola kelas

berdasarkan hasil diskusi a. Memberi batasan waktu yang jelas dalam setiap tahap SETS b. Membagi perhatian visual dan verbal kepada siswa secara menyeluruh c. Membuat kontrak sosial pada awal pelajaran d. Menemukan dan memecahkan tingkah laku

Mengajar kelompok kecil dan perorangan

yang menimbulkan masalah a. Membagi siswa dalam kelompok kecil b. Membagikan LK serta petunjuk yang jelas untuk tugas yang harus dilaksanakan c. Membimbing siswa dalam pelaksanaan perumusan masalah dan mencari solusi. d. Membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan pemahaman konsep materi pada penerapannya dengan isu masalah tertentu

Menutup pelajaran

a. Menyimpulkan hasil pelajaran berupan penerapan pada isu masalah tertentu b. Memberikan evaluasi penerapan konsep, isu masalah pada kehidupan c. Memberikan soal evaluasi sesuai materi bacaan d. Menyampaikan pesan moral berkaitan dengan materi bacaan

Jumlah skor = .. kategori .

Keterangan Penilaian: R = skor terendah = 9 T = skor tertinggi = 36 n = banyaknya skor = 28 Q2 = median Letak Q2 = ( n+2 ) = ( 28 +2 ) = x 30 = 15 Jadi Q2 adalah 15+9= 24 Q1 = kuartil pertama Letak Q1 = = = ( n +2 ) ( 28+2 ) x 30

= 7,5 Jadi Q1 adalah 7,5+9= 16,5

Q3 = kuartil ketiga Letak Q3 = (n +2) = = x 30

= 22,5 Jadi Q3 adalah 22,5+9= 31,5 Q4= kuartil keempat = T = 36

64 | P a g e

Skor 31,5 skor 36 24 skor < 31,5 16,5 skor < 24 9 skor < 16,5

Kriteria Sangat Baik Baik Cukup Kurang

Keterangan Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas

Boloh, .. Observer

65 | P a g e

LEMBAR CATATAN LAPANGAN Siklus Hari, Tanggal : :

Boloh, .. Observer

66 | P a g e

67 | P a g e

Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) SIKLUS 1 Sekolah Kelas Mata Pelajaran Semester Alokasi Waktu Hari/tanggal Standar Kompetensi Memahami lingkungan dan melaksanakan kerjasama di sekitar rumah dan sekolah Kompetensi Dasar Melakukan kerjasama di lingkungan rumah, sekolah, dan kelurahan/desa Indikator 1. Mengidentifikasi kerjasama yang ada dilingkungan rumah sekolah dan desa. 2. Mendeskripsikan pengertian kerjasama. 3. Mengidentifikasi manfaat dari kerjasama. 4.. Melakukan kerjasama di lingkungan sekolah A. Tujuan Pembelajaran 1. 2. 3. 4. Melalui penjelasan guru siswa dapat menyebutkan jenis jenis kerjasama yang Melalui gambar gotongroyong siswa dapat mendiskripsikan pengertia Melalui gambar gotong royong siswa dapat menyebutkan manfaat kerjasama. Melalui contoh dari guru siswa dapat melakukan kerjasama di sekolah. ada di lingkungannya. kerjasama. : SDN 02 Boloh : III : IPS : I (satu) : 3 jam pelajaran (3x 35 menit) :

B. Materi Pembelajaran Kerja sama. C. Metode Pembelajaran 1. Model

SETS (Science, Environment, Technology, Society)

2. Metode
68 | P a g e

a. b. c.

Ceramah Diskusi / kerja kelompok Penugasan

d. Tanya jawab / Presentasin

D. Langkah-Langkah Kegiatan
1. Kegiatan awal ( 15 menit )

1. 3.

Doa bersama dan presensi Apersepsi:


a. Guru bercerita dan melakukan tanya jawab kepada siswa seputar kerjasama.

2. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.

4.

Guru menjelaskan tentang kegiatan yang akan dilaksanakan dan memotivasi siswa agar memperhatikan pelajaran.

2. Kegiatan Inti (65 menit) Eksplorasi (5 menit) - Siswa membentuk kelompok untuk menerima pertanyaan dari guru, pembentukan kelompok dibimbing oleh guru.
-

Apa yang kalian ketahui tentang kerjasama? Elaborasi (50 menit)

- Berikan contoh kerjasama di sekitar lingkunganmu!

Guru menjelaskan kepada siswa bahwa topik pembelajaran bersumber dari Guru mengangkat isu masalah yang ada dari sumber media atau dari siswa

materi yang berjudul kerjasama.


-

sendiri tentang hilangnya rasa gotongroyong di perkotaan terlebih dahulu guru mengaitkannya dengan materi kerjasama (inisiasi)
-

Guru mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terkait dengan

isu yang diangkat yang telah disiapkan oleh guru sebelum tahap inisiasi dan menyiapkan solusi dari isu masalah tentang hilangnya rasa kerja sama di lingkungan perkotaan yang terkait dengan kerjasama.
-

Guru menjelaskan bahwa siswa harus membaca dan mendalami isi materi

tersebut kemudian melakukan curah pendapat berupa pegajuan pertanyaan bebas yang masih dalam koridor materi tersebut. Kemudian mereka menjawabnya

69 | P a g e

sendiri secara diskusi kelompok dengan menciptakan suasana belajar yang kindusif (dekontekstualisasi)
-

Guru memberikan materi beserta penjelasan kepada siswa tentang kerjasama. Guru meminta siswa membaca, mempelajari dan mendalami isi materi yang

telah diberikan serta mengingatkan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan berkaitan dengan dampak hilangnya rasa gotongroyong dengan lingkungan . (pembelajaran sain) - Pertanyaan tersebut nantinya diklarifikasi oleh guru dan dijawab oleh siswa sendiri. Alokasi waktu yang diberikan pada siswa untuk membaca dan membuat pertanyaan adalah 35 menit. - Guru meminta siswa untuk menuliskan pertanyaan mereka di papan tulis.
-

Guru melakukan klarifikasi terhadap sejumlah pertanyaan. Pertanyaan yang

ada dilempar kembali pada siswa untuk dijawab.(penerapan) - Meminta pada siswa untuk menjawab pertanyaan yang belum bisa dijawab pada pertemuan ini secara berdiskusi kelompok. - Pembagian kelompok didasarkan pada masing-masing minat individu pada sejumlah pertanyaan yang ada dan masih belum bisa dijawab. - Guru meminta kepada siswa untuk menerapkan materi ini dengan kasus tertentu mengenai isu masalah baik secara global,tekhnologi yang sedang terjadi. (integrasi)
-

Guru membimbing siswa dalam merangkum materi yang telah dibahas sesuai

dengan kompetensi dasar yang telah dimiliki siswa Tahap ini harus dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kepercayaan diri peserta didik dalam mempelajari sesuatu yang baru, dan dalam memecahkan atau memahami masalah yang relevan dengan kehidupannya.(perangkuman) - Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran. Konfirmasi (10 menit) - Siswa menjawab pertanyaan dari guru dan menyimpulkan hasil diskusinnya
3. Kegiatan Akhir (25 menit)

1. Evaluasi dan refleksi Evaluasi tes tertulis


70 | P a g e

Refleksi diri siswa dan guru

2. Tindak Lanjut E. Sumber Belajar


1. Buku IPS BSE Kelas III SD/MI, Budi Wahyono Setya Nurachmandani 2. Buku IPS BSE Kelas III SD/MI, Poppy K Devi

Pemberian tugas rumah

F. Penilaian 1. Prosedur penilaian a. Penilaian Awal (dilaksanakan dalam kegiatan apersepsi) b. Penilaian Proses (tanya jawab selama proses pembelajaran) c. Penilaian Hasil Belajar (Post tes) 2. Teknik Penilaian a. Tes lisan b. Tes tertulis c. Isian singkat 3. Soal evaluasi (terlampir)

SOAL PENIALAIN SIKLUS I PRE TES


1. Apa yang kamu ketahui dengan kerjasama ?

2. Sebutkan jenis jenis kerja sama yang kamu ketahui! POST TES A. Isilah titik-titik dibawah ini ! 1. Sebutkan pengertian kerjasama ! 2. Apa yang dimaksudkan dengan gotong royong? 3. Sebutkan jenis jenis kerja sama yang ada di lingkungan rumah sekolah dan desa! 4. Sebutkan manfaat dari kerjasama !

71 | P a g e

5. Apa yang akan terjadi jika rasa kerjasama dan gotong royong antar masyarakat sudah hilang? Setiap butir soal berbobot 5 Aspek Penilaian Siswa menjawab sebuah pertanyaan dengan benar Siswa menjawab sebuah pertanyaan tapi salah Siswa tidak menjawab pertanyaan Jumlah skor tertinggi = 75 Menentukan nilai akhir: (Rumus jika menggunakan skala 100) Keterangan: B = Jumlah skor jawaban benar pada setiap butir soal = Skor teoritis Kriteria ketuntasan: Kriteria Ketuntasan Kualifikasi Tuntas Tidak Tuntas Skor maksimal 5 0 0

LEMBAR KERJA KELOMPOK SIKLUS I


Kelompok : ...................................... Nama :

1. .............................................. 2. .............................................. 3. .............................................. 4. ..............................................

Tujuan : Siswa dapat menemukan isu masalah dari teks bacaan dan mencari solusi pemecahan masalahnya.
72 | P a g e

Petunjuk
1.

Pelajari isi bacaan diatas rumuskan masalahnya dan fikirkan solusinya. Isilah titik-titik sesuai perintah dan jawablah.

Crilah permasalahan yang kalian ketahui yang berkaitan dengan gotongroyong, kemudian tulis di lembar kerja kalian ! ....................................................................................................................................... 2. Batasi permasalahan yang telah kalian temukan !

...................................................................................................................................... 3. Fikirkan solusi pemecahan masalah yang tepat, dari topik yang kalian pilih !

......................................................................................................................................
4.

Kaitkan permasalahan kalian dengan materi pembelajaran tentang kerjasama

.................................................................................................................................... 5. Terapkan konsep tersebut dengan isu masalah yang kalian temukan dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi dilingkungan kalian ! ......................................................................................................................................

Kriteria Penilaian: Setiap butir soal berbobot 10 Aspek Penilaian Siswa menjawab sebuah pertanyaan dengan benar Siswa menjawab sebuah pertanyaan tapi salah Siswa tidak menjawab pertanyaan Jumlah skor tertinggi = 50 Menentukan nilai akhir: (Rumus jika menggunakan skala 100) Keterangan: B = Jumlah skor jawaban benar pada setiap butir soal = Skor teoritis Kriteria ketuntasan: Kriteria Ketuntasan Kualifikasi Skor maksimal 10 0 0

73 | P a g e

62 <62

Tuntas Tidak Tuntas

Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) SIKLUS II Sekolah Kelas Mata Pelajaran Semester Alokasi Waktu Hari/tanggal Standar Kompetensi Memahami lingkungan dan melaksanakan kerjasama di sekitar rumah dan sekolah Kompetensi Dasar Melakukan kerjasama di lingkungan rumah, sekolah, dan kelurahan/desa Indikator 4. Mengidentifikasi kerjasama yang ada dilingkungan rumah sekolah dan desa. 5. Mendeskripsikan pengertian kerjasama. 6. Mengidentifikasi manfaat dari kerjasama. 4.. Melakukan kerjasama di lingkungan sekolah A. Tujuan Pembelajaran 5. Melalui penjelasan guru siswa dapat menyebutkan jenis jenis kerjasama yang ada di lingkungannya. : SDN 02 Boloh : III : IPS : I (satu) : 2 jam pelajaran (2x 35 menit) :

74 | P a g e

6. 7.

Melalui gambar gotongroyong siswa dapat mendiskripsikan pengertia Melalui gambar gotong royong siswa dapat menyebutkan manfaat kerjasama.

kerjasama. Melalui contoh dari B Materi Pembelajaran Kenampakan alam C. Metode Pembelajaran 3. Model

SETS (Science, Environment, Technology, Society) Ceramah Diskusi / kerja kelompok Penugasan

4. Metode e. f. g.

h. Tanya jawab / Presentasin

D. Langkah-Langkah Kegiatan
4. Kegiatan awal ( 15 menit )

1. 3.

Doa bersama dan presensi Apersepsi:


a. Guru bercerita dan melakukan tanya jawab kepada siswa seputar kenampakan

2. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.

alam. 4. Guru menjelaskan tentang kegiatan yang akan dilaksanakan dan memotivasi siswa agar memperhatikan pelajaran. 5. Kegiatan Inti (65 menit) Eksplorasi (5 menit) - Siswa membentuk kelompok untuk menerima pertanyaan dari guru, pembentukan kelompok dibimbing oleh guru.
-

Apa yang kalian ketahui tentang kerjasama? Elaborasi (50 menit)

- Berikan contoh kerjasama di sekitar lingkunganmu!

Guru menjelaskan kepada siswa bahwa topik pembelajaran bersumber dari

materi yang berjudul kenampakan alam.


75 | P a g e

Guru mengangkat isu masalah yang ada dari sumber media atau dari siswa

sendiri tentang illegal loging terlebih dahulu guru mengaitkannya dengan materi kenampakan alam (inisiasi)
-

Guru mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terkait dengan

isu yang diangkat yang telah disiapkan oleh guru sebelum tahap inisiasi dan menyiapkan solusi dari isu masalah tentang illegal loging yang terkait dengan kenampakan alam.
-

Guru menjelaskan bahwa siswa harus membaca dan mendalami isi materi

tersebut kemudian melakukan curah pendapat berupa pegajuan pertanyaan bebas yang masih dalam koridor materi tersebut. Kemudian mereka menjawabnya sendiri secara diskusi kelompok dengan menciptakan suasana belajar yang kindusif (dekontekstualisasi)
-

Guru memberikan materi beserta penjelasan kepada siswa tentang Guru meminta siswa membaca, mempelajari dan mendalami isi materi yang

kenampakan alam.
-

telah diberikan serta mengingatkan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan berkaitan dengan dampak illegal loging dengan lingkungan .(pembelajaran sain) - Pertanyaan tersebut nantinya diklarifikasi oleh guru dan dijawab oleh siswa sendiri. Alokasi waktu yang diberikan pada siswa untuk membaca dan membuat pertanyaan adalah 35 menit. - Guru meminta siswa untuk menuliskan pertanyaan mereka di papan tulis.
-

Guru melakukan klarifikasi terhadap sejumlah pertanyaan. Pertanyaan yang

ada dilempar kembali pada siswa untuk dijawab.(penerapan) - Meminta pada siswa untuk menjawab pertanyaan yang belum bisa dijawab pada pertemuan ini secara berdiskusi kelompok. - Pembagian kelompok didasarkan pada masing-masing minat individu pada sejumlah pertanyaan yang ada dan masih belum bisa dijawab. - Guru meminta kepada siswa untuk menerapkan materi ini dengan kasus tertentu mengenai isu masalah baik secara global,tekhnologi yang sedang terjadi. (integrasi)
-

Guru membimbing siswa dalam merangkum materi yang telah dibahas sesuai

dengan kompetensi dasar yang telah dimiliki siswa Tahap ini harus dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kepercayaan diri peserta didik dalam mempelajari

76 | P a g e

sesuatu yang baru, dan dalam memecahkan atau memahami masalah yang relevan dengan kehidupannya.(perangkuman) - Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran. Konfirmasi (10 menit) - Siswa menjawab pertanyaan dari guru dan menyimpulkan hasil diskusinnya
6. Kegiatan Akhir (25 menit)

3. Evaluasi dan refleksi Evaluasi tes tertulis Refleksi diri siswa dan guru

4. Tindak Lanjut E. Sumber Belajar


3. Buku IPS BSE Kelas III SD/MI, Budi Wahyono Setya Nurachmandani 4. Buku IPS BSE Kelas III SD/MI, Poppy K Devi

Pemberian tugas rumah

F. Penilaian 4. Prosedur penilaian d. Penilaian Awal (dilaksanakan dalam kegiatan apersepsi) e. Penilaian Proses (tanya jawab selama proses pembelajaran) f. Penilaian Hasil Belajar (Post tes) 5. Teknik Penilaian d. Tes lisan e. Tes tertulis f. Isian singkat 6. Soal evaluasi (terlampir)

77 | P a g e