Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN PRAKERIN SMK FARMASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Farmasi, siswa dibekali dengan materi pendidikan umum (normatif), pengetahuan dasar penunjang (adaptif), serta teori dan keterampilan dasar kejuruan (produktif). Selain itu, SKM Farmasi juga mengadakan program Praktek Kerja Industri (Prakerin) di Instalasi yang beregrak di bidang kefarmasian yang sesuai dengan kompetensi yang telah diberikan di sekolah. Sarana yang beregrak di bidang kefarmasian, diantaranya rumah sakit dan apotek. Pada dasarnya, kegiatan ini merupakan kegiatan pelatihan di lapangan yang dirancang untuk memberikan pengalaman, pengetahuan dan keahlian praktis kepada siswa khususnya mengenai obat-obatan bagi SMK Farmasi. Harapan utama dari kegiatan prakerin yaitu dapat meningkatkan keahlian profesi, meningkatkan kualitas sesuai tuntutan kebutuhan usaha/industri, meliputi: etos kerja, kemampuan, motivasi, disiplin, inisiatif dan kreatif. 1.2 Maksud dan Tujuan Dengan melakukan kerja praktek diharapkan siswa dapat menerapkan dan memahami hal-hal teknis di bidang kefaramsian, ketenagaan, dan informasi kesehatan di suatu instansi. Adapun maksud dan tujuan dari Prakerin diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk : 1. Memahami pengelolaan perbekalan farmasi di apotek 2. Menambah wawasan dan pengetahuan 3. Mendapat pengalaman kerja secara nyata sebelum memasuki dunia kerja 1.3 Lokasi dan Waktu Prakerin Praktek Kerja Industri dilaksanakan di Apotek Tunas yang beralamat di Jalan Sutisna Senjaya No. 191 Tasikmalaya Jawa Barat Telp. (0265) 321451. Waktu pelaksanaan Prakerin di Apotek Tunas selama 3 (tiga) bulan dimulai tanggal 18 Agustus sampai dengan tanggal 18 November 2009, dengan pembagian shift sebagai berikut: Pagi : 07.00 10.00 Sore : 16.00 20.00

BAB II URAIAN UMUM 2.1 Definisi Apotek Dalam rangka menunjang pembangunan nasional pada bidang kesehatan perlu dikembangkan iklim baik mengenai pengelolaan apotek sehingga pemerintah dapat menguasai, mengatur, dan mengawasi pensediaan, pembuatan, penyimpanan, peredaran dan pemakaian obat dan perbekalan farmasi lainnya, sehingga perlu diadakan perubahan atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 1965. Sebagai gantinya mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980 yang merupakan perubahan atas perndang-undangan No. 26 Tahun 1965 tentang apotek. Menurut Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980 yang dimaksud dengan apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian, dan penyaluran obat kepada masyarakat. Pekerjaan kefarmasian yang dimaksud adalah pembuatan, pengolahan,

peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat atau bahan obat. Sejalan dengan perkembangan zaman dan dinamika kefarmasian, maka definisi apotek diperbaharui kembali dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) No. 922/MENKES/PER/X/1993, tentang definisi apotek diperbaharui dan tata cara pemberian izin apotek. Penyelenggaraan pelayanan apotek yang tercantum pada Permenkes RI No. 922/MENKES/PER/X/1993, sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan IPTEK, dan kebutuhan masyarakat serta jiwa semangat otonomi daerah, sehingga dikeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Kepmenkes RI) Nomor: 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang perubahan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor: 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Menurut Kepmenkes RI Nomor: 1332/MENKES/SK/X/2002, definisi apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. 2.2 Tugas dan Fungsi Apotek Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1980 pasal 2, apotek sebagai sarana pelayanan kesehtaan memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut: a. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan. b. Sarana farmasi yang melakukan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan. c. Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata. 2.3 Peraturan Perundang-undangan Tentang Apotek Beberapa Peraturan Perundang-undangan yang berhubungan dengan penyelenggaraan apotek adalah: a. Peraturan Pemerintah RI No. 26 tentang apotek. b. Undang-undang No. 9 Tahun 1976 tentang narkotika. c. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 28/Menkes/Per/1978 tentang penyiapan narkotika. d. Peraturan Pemerintah RI No. 25 Tahun 1980 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1965 tentang apotek. e. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 26/Menkes/Per/1981 tentang pengelolaan dan perizinan apotek. f. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 278/Menkes/SK/V/1981 tentang persyaratan apotek. g. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 279/Menkes/SK/V/1981 tentang ketentuan dan tata cara perizinan apotek. h. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 280/Menkes/SK/V/1981 tentang ketentuan dan tata cara pengelolaan apotek. i. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 213/Menkes/Per/V/1985 tentang Obat Keras Tertentu (OKT). j. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 347/Menkes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek (OWA). k. Keputusan Direktorat Jenderal Pengawasan Obta dan Makanan No. 2401/A/SK/X/1990 tentang tata cara penyesuaian dan perubahan izin apotek. l. Undang-undang Ri No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan sebagai pengganti undangundang No. 7 Tahun 1863 dan No. 9 Tahun 1960. m. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek. n. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek.

2.4 Pengelolaan Apotek Pengelolaan apotek secara khusus meliputi: a. Pembuatan, pengelolaan, peracikan, perubahan bentuk, pencampuran penyimpanan, dan penyerahan obat atau bahan obat. b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi lainnya. c. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi. Pelayanan inforamsi yang dimaksud meliputi: a. Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi lainnya yang diberikan baik kepada dokter dan tenaga kesehatan lainnya maupun kepada masyarakat. b. Pelayanan informasi mengenai khasiat, keamanan, bahaya dan mutu obat serta perbekalan farmasi lainnya. Pengelolaan apotek secara umum meliputi: a. Bidang pelayanan kefarmasian. b. Bidang material. c. Bidang administrasi dan keuangan. d. Bidang ketenagaan. e. Bidang lain yang berkaitan dengan tugas dan fungsi apotek. 2.5 Persyaratan Apotek Berdasarkan Permenkes RI No. 26/MENKES/PER/X/1981 dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 278/MENKES/SK/V/1981, dinyatakan bahwa persyaratan minimal yang harus dipenuhi untuk mendirikan suatu apotek adalah adanya lokasi, bangunan, perlengkapan apotek, perbekalan farmasi dan tenaga kesehatan, dan pelayanan apotek. Artinya untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan minimal, harus telah siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan di bidang farmasi, serta tenaga kesehatan. 2.5.1 Lokasi Menurut Menteri Kesehatan RI No. 278 Tahun 1981 dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan lokasi apotek adalah tempat bangunan apotek didirikan, lokasi apotek yang baru atau berpindah, jumlah dan jarak minimal antar apotek ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Penentuan lokasi yang harus menjadi pertimbangan segi penyebaran dan pemerataan pelayanan kesehatan adalah jumlah penduduk, jumlah dokter yang praktek, sarana pelayanan kesehatan lainnya, hygiene lingkungan dan faktor-faktor yang terkait setelah adanya otonomi daerah maka faktor jarak sudah tidak dipermasalahkan lagi. 2.5.2 Bangunan Bangunan apotek adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk mengelola apotek. Berdasarkan Keputusan Menkes No. 278 Tahun 1981, bangunan apotek harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Bangunan apotek mempunyai ukuran sekurang-kurangnya 50 m2 terdiri dari ruang tunggu, ruang peracikan dan penyerahan resep, ruang administrasi, ruang penyimpanan obat, tempat pencucian alat dan toilet (WC). b. Bangunan apotek harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut: a) Dinding harus kuat dan tahan air, permukaan sebelah dalam rata, tidak mudah mengelupas dan mudah dibersihkan.

b) Langit-langit harus terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak dan permukaan sebelah dalam berwarna terang. c) Atap tidak boleh bocor, terbuat dari genteng, sirap atau bahan lain yang memadai. d) Lantai tidak boleh lembab, terbuat dari ubin atau bahan lain yang memadai. c. Apotek memiliki sumber aiar yang memenuhi persyaratan kesehatan. d. Bangunan apotek harus memiliki ventilasi dan sanitasi yang baik, serta memenuhi persyaratan hygiene lainnya. e. Harus memiliki penerangan yang cukup sehingga dapat menjamin pelaksanaan tugas dan fungsi apotek dengan baik. f. Harus ada alat pemadam kebakaran sekurang-kurangnya dua buah dan masih berfungsi dengan baik. g. Apotek harus memasang papan nama yang terbuat dari seng atau bahan lainnya yang memadai dengan ukuran minimal panjang 60 cm, tebal 5 cm, dan lebar 55 cm, papan nama harus memuat nama apotek, nama APA, nomor surat izin apotek (SIA), nomor telepon apotek. 2.5.3 Perlengkapan Apotek Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 278 Tahun 1981, yang dimaksud perlengkapan apotek adalah semua peralatan yang digunakan untuk melaksanakan pengelolaan apotek. Pada Bab IV Pasal 7 Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 278 Tahun 1981, suatu apotek harus memiliki perlengkapan sebagai berikut: a. Alat pembuatan, pengolahan dan peracikan b. Perlengkapan dan alat penyimpanan perbekalan kesehatan di bidang farmasi c. Tempat penyimpanan khusus untuk narkotika d. Tempat penyimpanan khusus untuk racun e. Alat dan perlengkapan laboratorium f. Kumpulan perundang-undangan yang berkaitan dengan apotek g. Farmakope Indonesia dan Ekstra Farmakope Indonesia edisi terbaru serta buku lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal. 2.5.4 Perbekalan Kesehatan di Bidang Farmasi Menurut Kepmenkes No. 1332 Tahun 2002 yang dimaksud dengan perbekalan farmasi adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Apotek berkewajiban untuk menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin. Sediaan farmasi yang karena suatu hal tidak dapat digunakan lagi atau dilarang digunakan, harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri (Depkes RI, 2002). Perbekalan farmasi yang disalurkan oleh apotek meliputi obat, bahan obat, obat asli Indonesia (obat tradisional), bahan obat asli Indonesia, alat kesehatan dan kosmetika. Apotek harus menyediakan perbekalan kesehatan dibidang farmasi yang berobat dan bahan obat yang didasarkan pada daftar obat esensial untuk puskesmas dan rumah sakit. Dalam Permenkes No. 26 Tahun 1981 dinyatakan bahwa apotek berkewajiban untuk menyimpan dan menyalurkan perbekalan farmasi yang bermutu baik. Ini berarti bahwa perbekalan farmasi yang tersedia di apotek harus berasal dari pabrik farmasi, pedagang besar farmasi, apotek atau sarana distribusi resmi lainnya. Penyimpanan obat-obat golongan narkotika dan psikotropika di apotek harus dalam golongan lemari khusus yang terpisah dari penyimpanan obat-obat golongan ini. Pengelolaan obatobatan golongan narkotika dan psikotropika termasuk pengadaan penyimpanan, penyaluran, dan pemusnahannya memiliki peraturan perundan-undangan sendiri.

2.5.5 Pelayanan Apotek Pelayanan yang harus diberikan oleh apotek adalah sebagai berikut: a. Apotek wajib dibuka untuk melayani masyarakat dari pukul 08.00-22.00 b. Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan. Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab apoteker pengelola apotek. c. Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat. Apoteker tidak diizinkan untuk mengganti obat generik yang ditulis dalam resep dengan obat paten. Dalam hal pasien tidak mampu menembus obat tertulis didalam resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang lebih tepat. d. Apoteker wajib memberikan informasi: a) Yang berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien b) Penggunaan obat secara tepat, aman, rasional atas permintaan masyarakat. e. Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep ada kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat, apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep. Bila dokter penulis resep tetap pada pendiriannya dokter wajib membutuhkan tanda tangan yang lazim diatas resep atau dinyatakan tertulis. f. Salinan resep harus ditandatangani oleh apoteker g. Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik dalam jangka waktu 3 tahun. Resep atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita, pencerita yang bersangkutan, petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang belaku. Ketentuan-ketentuan umum yang berlaku tentang perapotekan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No. 1332/Menkes/SK/X/2002 adalah sebagai berikut: a. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker, mereka yang berdasarkan perundang-undangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker. Tugas dan Kewajiban Apoteker a) Bertanggung jawabatas proses pembuatan obat, meskipun obat dibuat oleh asisten apoteker. b) Kehadirannya ditempat petugas diatur oleh undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan. c) Wajib berada ditempat selama jam apotek buka d) Wajib menerangkan kekonsumen tentang kandungan obat yang ditebus. Penjelasan ini tidak dapat diwakilkan kepada asisten atau petugas apotek. e) Membahas dan mendiskusikan resep obat langsung kepada dokter bukan asisten atau petugas apotek. f) Wajib menjaga keserasian apotek b. Surat Izin Apotek (SIA) adalah surat izin yang diberikan oleh Menteri kepada apoteker atau apoteker bekerja sama dengan Pemilik Sarana Apotek (PSA) untuk menyelenggarakan apotek disuatu tempat tertentu. c. Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek dari Dinas Kesehatan Kota/kabupaten dimana apotek tersebut didirikan. Tugas, Kewajiban dan Wewenang: a) Memimpin semua kegiatan apotek, antara lain mengelola kegiatan kefarmasian serta membina karyawan menjadi bawahan apotek. b) Secara aktif berusaha sesuai dengan bidang tugasnya untuk meningkatkan dan mengembangkan hasil usaha apotek. c) Mengatur dan mengawasi penyimpanan serta kelengkapan terutama di ruang peracikan.

d) Membina serta memberi petunjuk teknis farmasi kepada bawahannya terutama dalam memberikan informasi kepada pasien. d. Apoteker pendamping adalah apoteker yang bekerja di apotek disamping Apoteker Pengelola Apotek dan atau menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek. e. Apoteker pengganti adalah apoteker yang menggantikan Apoteker Pengelola Apoteker selama Apoteker Pengelola Apotek tersebut tidak berada ditempat lebih dari tiga bulan secara terus-menerus, telah memiliki surat izin kerja dan tidak bertindak sebagai Apoteker Pengelola Apotek lain. f. AsistenApoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai asisten apoteker. 2.6 Perizinan Apotek Izin apotek diberikan oleh Menteri Kesehatan, yang kewenangannya dilimpahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kepala Dinas Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin dan pencabutan izin apotek sekali setahun kepada Menteri kesehatan dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan. 2.7 Perubahan Surat Izin Apotek Menurut Surat Keputusan Dirjen POM No. 02401/SK/X1990, perubahan Surat Izin Apotek (SIA) diperlukan apabila: a. Terjadi pengantian nama apotek b. Terjadi perubahan nama jalan dan nomor bangunan pada alamat apotek tanpa perpindahan lokasi apotek. c. Surat Izin Apotek (SIA) rusak atau hilang d. Terjadi penggantian Apoteker Pengelola Apotek (APA) e. Terjadi penggantian Pemilik Sarana Apotek (PSA) f. Surat Izin Kerja (SIK) APA dicabut dalam hal APA bukan sebagai PSA g. Terjadi perpindahan lokasi apotek h. Apoteker Pengelola Apotek meninggal dunia 2.8 Pencabutan Izin Apotek Pencabutan izin apotek dapat dilakukan apabila sesuai dengan hal-hal dibawah ini, yaitu: a. Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan yang telah di tetapkan seperti ijazah yang terdaftar pada Departemen Kesehatan, melanggar sumpah atau janji sebagai apoteker, tidak lagi memenuhi persyaratan fisik dan mental dalam menjalankan tugasnya, bekerja sebagai penanggung jawab pada apotek atau indrustri farmasi lainnya. b. Apoteker tidak menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu dan terjamin keabsahannya atau c. Apoteker tidak menjalankan tugasnya dengan baik seperti dalam hal melayani resep, memberikan informasi yang berkaitan dengan penggunaan obat secara tepat, aman atau rasional atau d. Bila apoteker berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2 tahun berturut-turut atau e. Bila apoteker melanggar perundang-undangan narkotika, obat keras atau ketentuan lainnya atau f. SIK APA dicabut atau g. PSA berbukti terlibat dalam pelanggaran perundang-undangan dibidang obat atau h. Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan yang ditetapkan Berdasarkan Kepmenkes No. 1332/Menkes/SK/X/2002 pengganti Permenkes No. 992/Menkes/Per/X/1993, pelaksanaan pencabutan izin dilakukan dengan cara:

a. Pemberian peringatan secara tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek sebanyak tiga kali berturut-turut dan tenggang waktu masing-masing dua bulan. b. Pembekuan Izin apotek dilakukan untuk jangka waktu selama-lamanya enam bulan sejak dikeluarkannya surat penetapan pembekuan kegiatan apotek. Pembekuan izin apotek dapat dicairkan kepada apabila apotek telah memenuhi segala persyaratan sesuai dengan peraturan dan ketentuanyang berlaku. Pencairan izin apotek dilakukan setelah menerima hasil laporan pemeriksaan dari Kepala Balai POM setempat, atau Tim Pemeriksaan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Keputusan untuk pencabutan SIA oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat, serta Kepala Balai POM setempat. Apabila Surat Izin Apotek (SIA) dicabut, APA atau apoteker pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengamanan dimaksud wajib mengikuti tata cara sebagai berikut: a. Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan obat-obat narkotika, obat keras tertentu dan obat lainnya, serta seluruh resep yang ada di apotek. b. Obat-obat narkotika, psikotropika dan resep-resep harus dimasukan dalam satu tempat yang tertutup serta terkunci. c. APA wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, tentang penghentian kegiatan yang disertai laporan inventarisasi. 2.9 Pengertian Resep Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter, dokter gigi atau doketr hewan yang diberi izin berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotek untuk menyediakan dan menyerahkan obat-obatan bagi penderita. Resep disebut juga formulae medicate, terdiri dari formulae officinalis (yaitu resep yang tercantum dalam buku farmakope atau buku lainnya dan merupakan standar) dan formulae magistralis (yaitu resep yang tertulis oleh dokter). Resep selalu dimulai dengan tanda R yang artinya recipe (ambilah). Dibelakang tanda ini (R/) biasanya baru tertera nama jumlah obat. Umumnya resep ditulis dalam bahasa latin. Suatu resep yang langka harus memuat: a. Nama, alamat dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi atau dokter hewan b. Tanggal penulisan, nama setiap obat atau komposisi obat c. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep d. Tanda tangan/ paraf dokter penulis resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku e. Nama pasien, jenis hewan, umur, serta alamat/pemilik hewan f. Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal. Pembagian suatu resep yang lengkap: a. Tanggal dan tempat ditulisnya resep (incriptio) b. Aturan pakai dari obat yang tertulis (signatura) c. Paraf / tanda dokter yang menulis resep (subcriptio) d. Tanda buka penulisan resep dengan R/ (invecatio) e. Nama obat, jumlah dan cara membuatnya (praescriptio atau ordinatio) Yang berhak menulis resep adalah dokter, dokter gigi (terbatas pada pengobatan gigi dan mulut) dan dokter hewan (terbatas pada pengobatan gigi dan mulut) dan dokter hewan (terbatas pada pengobatan hewan). Dokter gigi diberi izin resep dari segala macam obat untuk pemakaian melalui mulut, injeksi (parental) atau cara pemakaian lainnya, khusus untuk mengobati penyakit gigi dan mulut. Sedangkan pembiusan/patirasa secara umum tetap dilarang bagi dokter gigi Depkes No. 19/Ph/62 Mei 1962.

2.10 Salinan Resep Salinan resep adalah salinan yang dimuat oleh apotek, selain memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep asli juga memuat: a. Nama dan alamat apotek b. Nama dan nomor izin apotek pengelola apotek c. Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola apotek d. Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan dan ditanda nedet (nedetur) untuk obat yang belum diserahkan, pada resep tanda X diberi tanda detur / detur X e. Nomor resep dan tanggal pembuatan Istilah lain dari copy resep adalah apograph, exemplum, afschrtif. Apabila Apoteker Pengelola Apoteker berhalangan melakukan tugasnya, penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan resep yang dimaksud atas dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan. Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis atau yang merawat penderitapenderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku (contohnya petugas pengadilan bila diperlukan untuk suatu perkara). Dalam hal ini resep terdapat beberapa pengaturannya, sebagai berikut: a. Salinan resep harus ditanda tangani oleh apoteker b. Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dalam jangka waktu 3 tahun c. Resep atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau merawat penderita, penderita bersangkutan, petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut undang-undang yang berlaku. 2.11 Penggolongan Obat Mengingat peredaran obat saat ini jumlahnya lebih dari 5000 jenis obat, maka perlu mengenal penggolongan obat yang beredar. Hal ini sangat diperlukan karena seperti yang dikatakan dalam pengertian penggolongan obat yang menyatakan bahwa penggolongan obat yang dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan distribusi. Pengertian tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 917/Menkes/Per/X/1993 yang kini telah diperbaiki dengan Permenkes RI Nomor 949/Menkes/Per/IV/2000. Penggolongan obat ini terdiri dari: obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib apotek, obat keras, psikotropika dan narkotika. a. Obat Bebas Dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Depkes pengertian obat bebas jarang didefinisikan, namun pernah ada salah satu Peraturan Daerah Tingkat II Tangerang yakni Perda Nomor 12 Tahun 1994 Tentang izin Pedagang Eceran Obat (PEO) memuat pengertian obat bekas adalah obat yang dapat dijual bebas kepada umum tanpa resep dokter, tidak termasuk kedalam daftar narkotika, psikotropika, obat keras, obat bebas terbatas dan sudah terdaftar di Depkes RI. Contoh: a) Minyak Kayu Putih b) Obat Batuk Hitam c) Obat Batuk Putih d) Tablet Paracetamol e) Tablet Vit C, B Kompleks, E dan lain-lain Penandaan obat bebas diatur berdasarkan S.K Menkes RI Nomor 2380/SK/VI/1983 tentang tanda khusus untuk obat bebas terbatas.

Tanda khusus untuk obat bebas yaitu bulatan berwarna hijau dengan garis tepi warna hitam. b. Obat Bebas Terbatas Obat bebas terbatas atau obat yang masuk dalam daftar W menurut bahasa Belanda W singkatan dari Waarschung artinya peringatan. Jadi maksudnya obat yang bebas penjualannya disertai dengan tanda peringatan. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang menetapkan obat-obatan kedalam daftar obat W memberikan pengertian obat bebas terbatas adalah Obat Keras yang dapat diserahkan kepada pemakaianya tanpa resep dokter, bila penyerahannya memenuhi Persyaratan sebagai berikut: a) Obat tersebut hanya boleh dijual dalam bungkusan asli dari pabriknya atau pembuatnya. b) Pada penyerahannya oleh pembuat atau penjual harus mencantumkan tanda peringatan yang tercetak sesuai contoh. Tanda peringatan tersebut berwarna putih sebagai berikut: P No. 1 : Awas! Obat Keras Bacalah aturan memakainya P No. 2 : Awas! Obat Keras Hanya untuk kumur jangan ditelan P No. 3 : Awas! Obat Keras Hanya untuk bagian luar dari badan P No. 4 : Awas! Obat Keras Hanya untuk dibakar P No. 5 : Awas! Obat Keras Tidak boleh ditelan P No. 6 : Awas! Obat Keras Obat wasir, jangan ditelan Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 2380/A/SK/VI/83 tanda khusus untuk obat bebas terbatas berupa lingkaran warna biru dengan garis tepi berwarna hitam. Tanda khusus harus diletakan sedemikian rupa sehingga jelas terlihat dan mudah dikenal. c. Obat Keras Obat keras atau obat daftar G menurut bahasa Belanda G singkatan dari Gevaarlijk artinya berbahaya maksudnya obat dalam golongan ini berbahaya jika pemakaiannya tidak berdasarkan resep dokter. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang menetapkan/memasukan obat-obatan kedalam daftar obat keras, memberikan pengertian obat keras, memberikan pengertian obat keras adalah obat-obat yang ditetapkan sebagai berikut: a) Semua obat yang pada bungkus luarnya oleh si pembuat disebutkanbahwa obat itu hanya boleh diserahkan dengan resep dokter b) Semua obat yang dibungkus sedemikian rupa yang nyata-nyata untuk dipergunakan secara parental, baik degan cara suntikan maupun dengan cara pemakaian lain dengan jalan merobek rangkaian asli dari jaringan. c) Semua obat baru, terkecuali apabila oleh Departemen Kesehatan telah dinyatakan secara tertulis bahwa obat baru itu tidak membahayakan kesehatan manusia. d) Semuaobat yang tercantum dalam daftar obat keras: obat itu sendiri dalam substansi dan semua sediaan yang mengandung obat itu, terkecuali apabila dibelakang nama obat disebutkan ketentuan lain, atau ada pengecualian Daftar Obat Bebas Terbatas. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 02396/A/SK/VIII/1986 tentang tanda khusus Obat Keras daftar G adalah lingkaran bulatan warna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi.

d. Obat Wajib Apotek Peraturan tentang Obat Wajib Apotek berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 347/Menkes/SK/VII/1990 yang telah diperbaharui dengan Keputusan Menteri No. 924/Menkes/Per/x/1993, dikeluarkan dengan pertimbangan sebagai berikut: 1. Pertimbangan yang utama untuk obat wajib apotek sama dengan pertimbangan obat yang diserahkan tanpa resep dokter, yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan, dengan meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional. 2. Pertimbangan yang kedua untuk peningkatan peran apoteker di apotek dalam pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi serta pelayanan obat kepada masyarakat. 3. Pertimbangan ketiga untuk peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan sendiri. Obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker di apotek tanpa resep dokter. Pada penyerahan obat wajib apotek ini terhadap apoteker terdapat kewajiban sebagai berikut: 1. Memenuhi kebutuhan dan batas setiap jenis obat ke pasien yang disebutkan dalam obat wajib apotek yang bersangkutan 2. Membuat catatan pasien serta obat yang diserahkan 3. Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pakai, kontra indikasi, efek samping, dan lain-lin yang perlu diperhatikan. e. Obat Golongan Narkotika Pengertian narkotika menurut UU Nomor 22 Tahun 1997 tentang narkotika, adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan ke dalam golongan I, II, dan III. Contoh: 1. Tanaman Papaver Somniferum 2. Tanaman Koka 3. Tanaman Ganja 4. Heroina (dalam keseharian yang dikenal sebagai putaw sering disalah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab) 5. Morfina 6. Opium 7. Kadeina Penandaan narkotika berdasarkan peraturan yang terdapat dalam Ordonansi Obat Bius yaitu Palang Medali Merah f. Obat Psikotropika Pengertian psikotropika menurut UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang psikotropika adalah zat atau obat baik, alamiah maupun sintesis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas mental dan perilaku. Ruang lingkup pengaturan psikotropika dalam Undang-Undang ini adalah psikotropika yang mempunyai potensi sindroma ketergantungan, yang menurut Undang-Undang tersebut dibagi kedalam 4 (empat) golongan yaitu: golongan I, II, III, IV. Untuk psikotropika penandaan yang digunakan sama dengan penandaan untuk obat keras, hal ini karena sebelum diundangkannya UU RI No. 5 tahun 1997 tentang psikotropika, maka obat-obat psikotropika termasuk obat keras yang pengaturannya ada dibawah ordonansi obat keras STBL 1949 Nomor 419, hanya saja karena efeknya dapat mengakibatkan sindroma

ketergantungan sehingga dulu disebut obat keras tertentu. Sehingga untuk psikotropika penandaannya: lingkaran bulat berwarna merah, dengan huruf K berwarna hitam yang menyentuh garis tepi yang berwarna hitam. 2.12 Berdasarkan Narkotika dan Psikotropika BerdasarkanUndang-Undang RI Nomor 9 Tahun 1976 tentang narkotika pasal 5 ayat 1, menyatakan bahwa Menteri Kesehatan memberikan izin kepada apotek untuk membeli, menyediakan, memiliki dan menyimpan untuk persediaan, menguasai, menjual, menyalurkan, menyerahkan, mengirimkan dan membawa atau mengangkut dan menggunakan narkotika untuk kepentingan pengobatan. Apotek dilarang untuk mengulangi menyerahkan obat-obat narkotika atas dasar resep yang sama dari seorang Dokter atau dasar salinan resep. Dalam UU No. 2 Tahun 1997 tentang narkotika dan UU No. 5 Tahun 1997 tentang psikotropika, dinyatakan bahwa penyerahan obat-obat narkotika dan psikotropika hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dan dokter. Penyerahan obat-obat psikotropika oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, dan balai pengobatan hanya dapat dilakukan berdasarkan resep dokter.

Penyimpanan obat-obat narkotika menurut Permenkes No. 28 Tahun 1978 dilakukan pada: a. Tempat khusus untuk menyimpan obat-obat narkotika berupa lemari yang dapat dikunci dengan baik. b. Tempat khusus tersebut harus memenuhi persyaratan a) Dibuat seluruhnya atau bahan lain yang kuat b) Harus mempunyai kunci yang kuat c) Tempat tersebut dibagi dua, masing-masing dengan kunci yang berlainan. Bagian pertama untuk menyimpan morfin, petidin, dan garam-garamnya. Bagian kedua untuk menyimpan persediaan obat-obat narkotika lainnya yang akan dipakai sehari-hari. d) Jika tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari 40x80x100 cm, maka lemari tersebut harus dilakatkan pada tembok atau lantai. e) Lemari khusus tersebut jika boleh digunakan untuk menyimpan barang-barang lain selain obat-obat narkotika, kecuali ditentukan oleh Menteri Kesehatan. f) Anak kunci dari lemari harus dikuasai oleh penanggung jawab apotek atau pegawai lain yang dikuasakan. g) Lemari khusus tersebut disimpan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum. c. Untuk obat-obat narkotika yang rusak atau sudah tidak memenuhi syarat lagi, maka pemegang izin khusus atau apoteker pengelola apotek, dapat memusnahkannya, dengan disaksikan oleh: a) Petugas Badan POM untuk importer, pabrik farmasi dan unit pedagang pusat. b) Petugas Dinas Kesehatan, untuk pedagang besar farmasi penyalur narkotika dan unit pergudangan propinsi. c) Petugas Dinas Kesehatan DT II, untuk apotek, rumah sakit, puskesmas dan dokter. d. Pemusnahan obat-obat narkotika harus disertai dengan pembuatan berita acara pemusnahannya paling sedikit rangkap tiga yang memuat: a) Hari, tanggal, bulan, dan tahun pemusnahan b) Nama pedagang izin khusus, atau APA c) Nama seorang saksi dari pemerintah, dan seorang saksi lain dari perusahaan atau badan tersebut. d) Nama dan jumlah narkotika yang dimusnahkan e) Cara pemusnahan

f) Tanda tangan penanggung jawab apotek/pemegang izin khusus atau saksi. POM dan Dinasa Kesehatan setempat. Apotek berkewajiban untuk menyusun dan mengirimkan laporan bulanan mengenai pemasukan dan pengeluaran obat-obat narkotika dan psikotropika ke Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan ke Balai POM.

BAB III URAIAN KHUSUS 3.1 Sejarah Apotek Tunas merupakan usaha swasta milik perseorangan dengan modal yang berasal dari Pemilik Sarana Apotek dr. H. Asep Hidayat Surdjo, Sp. A,M. Kes. Apotek Tunas berdiri pada tanggal 11 Mei 2007 dengan Surat Izin Apotek No. 442/SIA-89/1462/VIII-VIII19/DKK/07 yang bertempat di jalan Sutisna Senjaya No. 191 Tasikmalaya Jawa Barat. Pemilik Apotek bekerja sama dengan APA dalam mengelola Apotek Tunas. Apotek Tunas dikelola oleh seorang apoteker yang bernama Sridana, S.Farm, Apt. 3.2 Pengelolaan Apotek Apotek Tunas dikelola dengan baik dimulai dari struktur sampai kinerja apotek dalam melayani masyarakat. Meski Apotek Tunas terbilang apotek kecil tetapi kualitasnya tak kalah dengan apotek lainnya hal ini dikarenakan pengelolaan apotek yang teratur. Pengelolaan apotek meliputi: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan penilaian kinerja apotek. 3.3 Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan di Apotek Tunas telah diatur sesuai tugas dan fungsinya. Apotek Tunas mempunyai beberapa orang karyawan yang terdiri dari APA, asisten apoteker, administrasi dan pembantu umum. APA mempunyai hubungan koordinasi dengan Pemiliki Sarana Apotek (PSA), yaitu dalam hal pengambilan kebijakan yang berhubungan dengan perubahan model apotek (pengangkatan karyawan, perluasan usaha). Apotek Tunas dalam melaksanakan tugas dan fungsinya memberitahukan pelayanan kepada masyarakat dan penanganan administrasi secara teratur memerlukan personil-personil yang dapat menguasai bidangnya masing-masing. Apotek Tunas memiliki 7 orang karyawan yang terdiri dari: a. Apoteker Pengelola Apotek : 1 orang b. Asisten Apoteker : 4 orang c. Administrasi administrasi : 1 orang d. Pembantu umum : 1 orang Karyawan yang bekerja setiap harinya dibagi dalam 2 shift yaitu pagi dan sore. Pembagian waktu kerja ini setiap hari dari hari Senin sampai Sabtu tetap yaitu: a. Shift pagi orang terdiri dari 2 orang Asisten Apoteker, 1 orang Administrasi yang memiliki jam kerja dari jam 07.30 10.00 b. Shift sore terdiri dari 2 orang Asisten Apoteker, 1 orang Adminstrasi yang memiliki jam kerja dari jam 16.00 20.00 3.4 Pengelolaan Obat Pengelolaan obat di Apotek Tunas prinsipnya sama dengan apotek lainnya. Apotek Tunas hanya menyediakan beberapa macam alkes seperti termometer, masker, alat nebulizer.

a. Perencanaan Untuk menghindari kekosongan obat atau maupun alkes, maka harus dibuat perencanaan yang baik. Di Apotek Tunas setiap harinya dilakukan pengecekan terhadap obat-obatan terutama obat-obat yang fast moving. Pengecekan terbilang mudah dikarenakan obat-obatnya sedikit. Apabila ada obat yang habis atau menjelang habis maka ditulis pada buku defekta, kemudian dari buku defekta nama-nama obat yang akan dipesan diklarifikasikan sesuai dengan PBF-nya masing-masing untuk kemudian ditulis pada surat pesanan (SP). Surat pesanan diserahkan kepada distributor yang datang atau dapat melalui telepon. Khusus untuk pemesanan melalui telepon surat pesanan diberikan menyusul pada saat barang dikirim ke apotek. Pembayaran dapat dilakukan secara tunai atau kredit. b. Penerimaan Barang Obat-obat yang telah datang dari distributor disertai dengan faktur rangkap empat, yaitu satu fraktur asli dan satu salinan untuk PBF dan dua salinanannya diberikan pihak apotek untuk keperluan adminstrasi. Setelah pengecekan barang baik jumlah, waktu kadaluarsa, dan kondisi fisik, maka fraktur ditanda tangani oleh petugas yang menerima dan distempel untuk menyatakan kesesuaian barang yang diterima. c. Penyimpanan Barang Obat-obat yang telah diterima kemudian disimpan. Penyimpanan dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan baik fisik maupun khasiatnya. Penyimpanan di Apotek Tunas dikelompokan sesuai dengan bentuk sediaan disimpan pada sebuah lemari yang berukuran sedang. Misalnya obat yang sediaan sirup dipisah dengan tablet. Sementara itu obat yang memerlukan penanganan khusus seperti suppositoria, vaksin dan obat lainnya disimpan dalam lemari pendingin sesuai dengan suhunya. Di ApotekTunas tidak ada penyimpanan khusus untuk obat golongan psikotropika dan narkotika. Hal ini dikarenakan obatnya hanya sedikit untuk narkotika hanya ada satu jenis yakni codein, dan psikotropika ada empat jenis yakni piptal drop, luminal, stesolid 5 mg dan 10 mg, yang penyimpanannya disatukan dengan obat lainnya. d. Pemakaian Barang Obat-obat yang digunakan di Apotek Tunas hanya obat-obat khusus untuk anak, jadi dalam pemakaian tidak ada sistem khusus. Pemberian obat disertai dengan informasi bagaimana aturan pakainya, cara penggunaan dan efek yang terjadi sehingga pasien bisa mengetahui.

BAB IV PEMBAHASAN Pengadaan obat dan alat kesehatan yang berada di Apotek Tunas untuk saat ini berdasarkan kebutuhan dokter yang bersangkutan. Proses pengadaan barang dilakukan dengan pemesanan terlebih dahulu, dengan cara pengecekan pada barang yang telah atau hampir habis. Pengecekan dilakukan setiap hari oleh asisten apoteker. Barang yang telah atau ha,pir habis dicatat pada buku defecta dan dipindahkan ke Surat Pesanan (SP) yang kemudian dipesankan ke PBF. Biasanya pemesanan barang dilakukan melalui telepon ataupun langsung kepada sales yang datang ke apotek. Untuk pemesanan obat golongan narkotika dan obat golongan psikotropika dilakukan dengan menggunakan Surat Pesanan khusus narkotika dan spikotropika. Penerimaan barang terlebih dahulu dilakukan pengecekan, apakah sesuai dengan yang dipesankan atau tidak. Dicek pula kondisi fisik dan expired date. Setelah itu, fraktur ditandatangani oleh orang yang menerima barang disertai nama jelas, cap/stempel apotek.

Dalam pembayaran faktur, ada yang dibayar secara tunai dan ada juga yang dibayar batas waktu yang telah ditentukan. Penyimpanan di Apotek Tunas tidak berdasarkan alfabetis dan farmakologinya. Tetapi disimpan menurut sediaan farmasi dengan rapi dan baik. Disamping itu dalam penyimpanan juga digunakan pola FIFO (first in first out) yaitu barang yang datang lebih awam maka dikeluarkan lebih dulu, dan tiak ada pemisahan antara obat narkotika dan obat psikotropika dengan obat yang lainnya, dikarenakan jumlah obat narkotika dan psikotropika hanya sedikit. Pelayanan resep di Apotek Tunas prinsipnya sama dengan apotek lainnya. Kelebihan Apotek Tunas dalam penyerahan resep adalah dengan menggunakan medis elektronik (komputer). Setelah pasien diperiksa oleh dokter, dokter langsung menulis resep pada komputer yang berada di ruangnnya dan dikirimkan ke komputer yang berada di ruang peracikan. Setelah resep diterima di komputer yang berada di ruang peracikan, asisten apoteker (AA) memberi harga, kemudian mengerjakan resep, meracik obat dan memberi etiket. Setelah selesai, dilakukan pengeekan terlebih dahulu, apakah obat sesuai dengan resep atau tidak. Kemudian resep yang telah dikerjakan diserahkan ke bagian administrasi untuk diserahkan ke pasien. Dalam penyerahan obat harus ramah dan menerangkan informasi tentang penggunaan, khasiat dan aturan pakai. Jika ada pasien yang memerlukan copy resep, asisten apoteker memberikan copy resep tertulis. Dan jika ada resep yang dibeli setengahnya ataupun obat yang dibutuhkan tidak tersedia atau habis, maka asisten menuliskan copy resep. Resep yang telah dikerjakan kemudian disalin pada buku yang memuat resep.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dilihat dari kegiatan prakerin dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pengelolaan perbekalan farmasi di lapangan kerja yang bergerak dibidang kefarmasian seperti apotek, meliputi: perencanaan atau pengadaan, pemesananm penerimaan dan penyimpanan barang. 2. Prakerin di Apotek Tunas menambah wawasan dan pengetahuan dibidang kefarmasian bagi siswa-siswi. 3. Prakerin ini memberikan pengalaman bagi para siswa siswi dalam menerapkan pelajaran yang didapat dari sekolah ke tempat lapangan kerja. 5.2 Saran a. Saran untuk pihak apotek: 1. Penyimpanan barang di Apotek Tunas sebaiknya ditata lebih rapi kembali agar mempermudah dalam pengambilan. 2. Para siswa siswi lebih diterapkan sistem pembelajaran dalam ruang lingkup lapangan kerja. b. Saran untuk pihak sekolah: Pembelajaran dalam teori dan praktek dalam bidang farmasi lebih ditingkatkan kembali, agar siswa siswi paham mengenai pengelolaan apotek.

DAFTAR PUSTAKA 1. Anief, Moch. 1996. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek. Gajdah Mada Univercity Press. Yogyakarta.

2. Buku Undang-undang Kesehatan Cetakan Kedua. 1997. Jakarta. 3. Buku Ilmu Resep Cetakan Kedua. Jakarta. 1997. 4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2002 Tentang Definisi Apotek. 5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 1981 Tentang Persyaratan Apotek. 6. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 1978 Tentang Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika.

TINJAUAN UMUM

Persyaratan dan prosedur perijinan apotek


Menurut KepMenKes RI No.1332/Menkes/SK/X/2002, disebutkan bahwa persyaratanpersyaratan apotek adalah sebagai berikut:

Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan farmasi yang lain yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan pelayanan komoditi yang lain di luar sediaan farmasi. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi yang lain di luar sediaan farmasi.

Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam pendirian apotek adalah: Lokasi dan Tempat Jarak antara apotek tidak lagi dipersyaratkan, namun sebaiknya tetap mempertimbangkan segi penyebaran dan pemerataan pelayanan kesehatan, jumlah penduduk, dan kemampuan

daya beli penduduk di sekitar lokasi apotek, kesehatan lingkungan, keamanan dan mudah dijangkau masyarakat dengan kendaraan. Bangunan dan Kelengkapan Bangunan apotek harus mempunyai luas dan memenuhi persyaratan yang cukup, serta memenuhi persyaratan teknis sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi apotek serta memelihara mutu perbekalan kesehatan di bidang farmasi. Bangunan apotek sekurang-kurangnya terdiri dari :

ruang tunggu, ruang administrasi dan ruang kerja apoteker, ruang penyimpanan obat, ruang peracikan dan penyerahan obat, tempat pencucian obat, kamar mandi dan toilet. Bangunan apotek juga harus dilengkapi dengan : Sumber air yang memenuhi syarat kesehatan, penerangan yang baik, Alat pemadam kebakaran yang befungsi baik, Ventilasi dan sistem sanitasi yang baik dan memenuhi syarat higienis, Papan nama yang memuat nama apotek, nama APA, nomor SIA, alamat apotek, nomor telepon apotek.

Perlengkapan Apotek Apotek harus memiliki perlengkapan, antara lain:

Alat pembuangan, pengolahan dan peracikan seperti timbangan, mortir, gelas ukur dll. Perlengkapan dan alat penyimpanan, dan perbekalan farmasi, seperti lemari obat dan lemari pendingin. Wadah pengemas dan pembungkus, etiket dan plastik pengemas. Tempat penyimpanan khusus narkotika, psikotropika dan bahan beracun. Buku standar Farmakope Indonesia, ISO, MIMS, DPHO, serta kumpulan peraturan per-UU yang berhubungan dengan apotek. Alat administrasi, seperti blanko pesanan obat, faktur, kwitansi, salinan resep dan lain-lain.

Prosedur perizinan apotek Untuk mendapatkan izin apotek, APA atau apoteker pengelola apotek yang bekerjasama dengan pemilik sarana harus siap dengan tempat, perlengkapan, termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya. Surat izin apotek (SIA) adalah surat yang diberikan Menteri Kesehatan RI kepada apoteker atau apoteker bekerjasama dengan pemilik sarana untuk membuka apotek di suatu tempat tertentu. Wewenang pemberian SIA dilimpahkan oleh Menteri Kesehatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotek sekali setahun kepada Menteri Kesehatan dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. Sesuai dengan Keputusan MenKes RI No.1332/MenKes/SK/X/2002 Pasal 7 dan 9 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, yaitu:

Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-lambatnya 6 hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan. Dalam hal pemerikasaan dalam ayat (2) dan (3) tidak dilaksanakan, apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Kantor Dinas Kesehatan setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi. Dalam jangka 12 hari kerja setelah diterima laporan pemeriksaan sebagaimana ayat (3) atau persyaratan ayat (4), Kepala Dinas Kesehatan setempat mengeluarkan surat izin apotek. Dalam hasil pemerikasaan tim Dinas Kesehatan setempat atau Kepala Balai POM dimaksud (3) masih belum memenuhi syarat Kepala Dinas Kesehatan setempat dalam waktu 12 hari kerja mengeluarkan surat penundaan. Terhadap surat penundaan sesuai dengan ayat (6), apoteker diberikan kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan sejak tanggal surat penundaan. Terhadap permohonan izin apotek bila tidak memenuhi persyaratan sesuai pasal (5) dan atau pasal (6), atau lokasi apotek tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan Dinas setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 hari kerja wajib mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasan-alasannya.

BAB I PENDAHULUAN

Definisi kesehatan menurut ketentuan umum dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemerintah dan atau masyarakat perlu menyelenggarakan upaya kesehatan melalui pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit

(preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang

dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Derajat kesehatan yang optimal ini dapat terwujud melalui berbagai upaya kesehatan, salah satunya dengan membangun sarana kesehatan. Apotek sebagai tempat pengabdian profesi apoteker merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang turut berperan serta dalam mensukseskan pembangunan kesehatan. Apotek menyediakan dan menyalurkan obat serta perbekalan farmasi lainnya kepada masyarakat, disamping itu apotek berperan sebagai lembaga informasi obat yang menyediakan layanan komunikasi, informasi, dan edukasi di bidang farmasi kepada masyarakat yang membutuhkannya. Pengelolaan apotek adalah segala upaya dan kegiatan yang dilakukan oleh seeorang Apoteker Pengelola Apotek (APA) da;am rangka tugas dan fungsinya yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan penilaian (Permenkes No. 26/Men.Kes/Per/I/1981). Pengelolaan apotek ini menjadi tugas dan tangungjawab seorang apoteker dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Undang-undang No. 7 Tahun 1963 tentang Farmasi. APA tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan dan kemampuan di bidang teknis farmasi saja, namun juga di bidang manajemen agar ia dapat menjalankan usaha apoteknya dengan baik, karena di dalam usaha apotek terdapat unsur-unsur dagang (bisnis), sosial dan profesi. Sebagai pengelola apotek, apoteker bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup apoteknya. Ia harus dapat mengelola dan mengembangkan apotek sehingga memperoleh laba dari usaha apoteknya tersebut, tanpa melanggar etika profesi dan fungsi sosial. APA dituntut untuk dapat membuat perencanaan, mengenali permasalaha apotek serta dapat memilih jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut. Oleh karena itu, penting bagi seorang calon apoteker untuk dapat mengetahui dan melihat secara langsung bagaimana pelaksanaan praktek profesi apoteker di apotek,

mengetahui permasalahan-permasalahan yang biasa terjadi di apotek, melihat bagaimana cara penyelesaiannya, dan mengetahui hal-hal lainnya yang belum tentu dapat diperoleh di bangku kuliah. Pengetahuan itu dapat diperoleh dengan cara melakukan latihan kerja profesi di lapangan sehingga diharapkan para calon apoteker dapat membiasakan dirinya dengan pekerjaan profesinya dan menjadikan sebagai modal yang berguna bagi dirinya di kemudian hari jika mengelola apotek. Program Profesi Apoteker Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan PT. Kimia Farma Unit Perapotekan Daerah Jawa Barat memberikan kesempatan kepada calon apoteker untuk mengadakan Latihan Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma. Laporan ini berisi hasil Latihan Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma 14 yang beralamat di Jl. Cihampelas No. 7 Bandung. Latihan Kerja Profesi Apoteker ini dilaksanakan pada bula Juli 2004 dengan tugas khusus Pembuatan Poster mengenai Diabetes Mellitus, sebagai salah satu upaya komunikasi, informasi dan edukasi bagi masyarakat.

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI APOTEK

2.1 Definisi Apotek Usaha apotek merupakan suatu kombinasi dari usaha profesi, usaha sosial, dan usaha dagang yang masing-masing tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/Menkes/SK/X/2002, apotek adalah suatu tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat asli Indonesia, alat kesehatan, dan kosmetika.

Sedangkan perbekalan kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Apoteker Pengelola Apotek adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA), yaitu surat yang diberikan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang kesehatan kepada apoteker atau apoteker bekerjasama dengan pemilik sarana untuk menyelenggarakan apotek di suatu tempat tertentu. Menurut Undang-undang Republik Indonesia No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional.

2.2 Tugas dan Fungsi Apotek Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 25 Tahun 1980 menyatakan bahwa tugas dan fungsi apotek adalah: 1. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan. 2. Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat. 3. Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata.

2.3 Persyaratan Apotek Peraturan mengenai persyaratan apotek diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 26 Tahun 1981 dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.278 Tahun 1981 yang kemudian dicabut dengan dikeluarkannya Permenkes No.922 Tahun 1993 Bab IV pasal 6. Persyaratan apotek ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 10 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Sumber Daya Kesehatan di Kota Bandung, yaitu :

1.

Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker yang bekerja sama dengan Pemilik Sarana Apotek (PSA) yang telah memiliki persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan, tenaga Asisten Apoteker, dan termasuk sediaan farmasi serta perbekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.

2.

Sarana apotek dapat didirikan pada lahan yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan farmasi.

3. 4.

Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan farmasi. Dalam hal apoteker menggunakan sarana pihak lain diperkenankan adanya perjanjian kerjasama antara apoteker dengan pemilik sarana. Adapun persyaratan minimal yang harus dipenuhi dalam mendirikan apotek yang meliputi persyaratan bangunan, perlengkapan apotek dan tenaga kesehatan.

2.3.1 Lokasi Lokasi apotek sangat mempengaruhi maju mundurnya usaha apotek tersebut. Akan lebih baik lokasi apotek berada di daerah yang ramai, aman, dekat dengan rumah sakit/klinik, ada beberapa dokter yang praktek, daerah yang mudah dijangkau, mudah dicapai oleh masyarakat banyak dengan kendaraan serta daerah yang cukup padat penduduknya dan cukup mampu. (Hartono, 1998) Lokasi apotek adalah tempat apotek didirikan. Lokasi apotek ditentukan sesuai dengan permohonan pada saat pengajuan izin apotek. Jarak antar apotek tidak dibatasi lagi sejak dikeluarkannya Permenkes No. 244 tahun 1990 (Depkes RI, 1990)

2.3.2 Bangunan Bangunan adalah gedung atau bagian gedung yang dipergunakan untuk mengelola apotek. Berdasarkan Permenkes No 244 tahun 1990 luas bangunan apotek tidak ditentukan

tetapi disesuaikan dengan kebutuhan untuk pelayanan farmasi. Dalam Permenkes No.922 tahun 1993, bangunan apotek sekurang-kurangnya memiliki ruangan khusus untuk peracikan dan penyerahan resep, ruang administrasi dan kamar kerja apotek serta WC. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan komoditi lainnya diluar sediaan farmasi. Sedangkan kelengkapan bangunan apotek harus memenuhi syarat : a. Luas bangunan apotek disesuaikan dengan kebutuhan, dan yang paling terpenting adalah pelayanan kefarmasian dapat dilakukan dengan baik. b. Bangunan apotek sekurang-kurangnya terdiri dari ruang tunggu, ruang racik dan penyerahan, ruang administrasi dan apoteker, serta kamar mandi (WC). c. Dinding harus kuat dan tahan air, permukaan sebelah dalam rata, tidak mudah mengelupas dan mudah dibersihkan. d. Langit-langit terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak dan permukaan sebelah dalam berwarna terang. e. f. Atap tidak boleh bocor, terbuat dari genteng, dan bahan lain yang memadai. Lantai tidak boleh lembab, terbuat dari ubin, semen, atau bahan lain yang memadai serta mudah dibersihkan. g. Bangunan apotek harus memiliki ventilasi dan sistem sanitasi yang baik serta memenuhi persyaratan hygiene lainnya. h. Apotek harus mempunyai sumber air yang memenuhi persyaratan kesehatan. i. Ruang apotek harus mempunyai penerangan yang cukup, sehingga dapat menjamin pelaksanaan tugas dan fungsi apotek dengan baik. j. Alat pemadam kebakaran yang berfungsi dengan baik sekurang-kurangnya dua buah.

k. Apotek harus memasang papan nama pada bagian muka apotek yang terbuat dari seng, papan atau bahan lain yang memadai. Dalam papan nama tercantum nama apotek, nama APA, nomor Surat Izin Apotek, alamat dan nomor telepon apotek. (Depkes RI, 1993)

2.3.3 Perlengkapan Perlengkapan apotek adalah semua peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan pengelolaan apotek. Menurut Permenkes No. 92 tahun 1993, perlengkapan apotek meliputi : 1. Alat pembuatan, pengolahan dan peracikan meliputi : Timbangan milligram dan gram dengan anak timbangan yang sudah ditera masing-masing minimal satu set. Dan perlengkapan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan. 2. Perlengkapan dan alat perbekalan farmasi, meliputi : a. Lemari dan rak penyimpan obat .

b. Lemari pendingin. c. Lemari khusus menyimpan narkotik dan psikotropika. 3. Wadah pengemas dan pembungkus untuk penyerahan obat dengan jenis, ukuran dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan, serta dilengkapi dengan etiket yang sesuai. 4. Alat administrasi yang terdiri dari blangko pemesanan obat, blangko kartu stok obat, blangko salinan resep, faktur dan nota penjualan, buku pencatatan narkotik, buku pesanan narkotik, buku pembelian dan penerimaan obat, format laporan narkotik, buku penjualan, buku pembukuan keuangan, dan alat tulis. 5. Buku standar yang diwajibkan yaitu Farmakope Indonesia edisi terbaru satu buah dan kumpulan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan apotek.

2.3.4 Perbekalan Kesehatan di Bidang Farmasi

Menurut Permenkes No. 244 tahun 1990 dan Permenkes No. 922 tahun 1993, perbekalan farmasi yang harus disediakan oleh apotek sekurang-kurangnya terdiri dari obat generik sesuai dengan Daftar Obat Esensial Indonesia (DOEN) untuk Rumah Sakit Kelas C dan D. (Depkes, 1990; Depkes, 1993)

2.3.5 Tenaga Kesehatan Berdasarkan Permenkes RI No. 922 tahun 1993, tenaga kesehatan di apotek terdiri dari Apoteker Pengelola Apotek (APA), apoteker pendamping dan Asisten Apoteker (AA). Sebuah apotek harus memiliki seorang APA yang dibantu oleh sekurang-kurangnya seorang Asisten Apoteker. Jika APA berstatus sebagai pegawai negeri atau ABRI, maka harus ada apoteker pendamping atau asisten apoteker kepala. Menurut Permenkes No. 922 tahun 1993 disebutkan bahwa apabila APA berhalangan tugas, maka APA dapat menunjuk apoteker pendamping, dan bila APA dan apoteker pendamping tidak berada di tempat selama lebih dari tiga bulan terus menerus, maka dapat digantikan oleh apoteker pengganti. Penggantian tersebut harus dilaporkan ke Dinkes Kota dengan tembusan ke Balai POM setempat. 1. Apoteker Pengelola Apotek Syarat-syarat yang harus dimiliki Apoteker Pengelola Apotek menurut Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 10 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Sumber Daya Kesehatan di Kota Bandung Pasal 108 ayat 1. 2. Apoteker Pendamping Menurut Permenkes No. 922 tahun 1993, apoteker pendamping adalah apoteker yang bekerja di samping Apoteker Pengelola Apotek, dan menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek. Apoteker pendamping bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas

pelayanan kefarmasian selama yang bersangkutan bertugas menggantikan Apoteker Pengelola Apotek (APA). 3. Apoteker Pengganti Menurut Permenkes No. 922 tahun 1993, apoteker pengganti adalah apoteker yang bertugas menggantikan Apoteker Pengelola Apotek selama Apoteker Pengelola Apotek tidak berada di tempat lebih dari tiga bulan secara terus menerus. 4. Asisten Apoteker Kepala Menurut Permenkes No. 26 tahun 1981, yang dimaksud asisten apoteker kepala adalah Asisten Apoteker yang telah memperoleh surat izin dari Dirjen POM sebagai asisten apoteker kepala. Menurut Kepmenkes No. 279 tahun 1981, seorang asisten apoteker kepala harus memenuhi persyaratan sebagai seorang Asisten Apoteker. Asisten Apoteker yang akan menjadi asisten apoteker kepala harus memiliki surat izin asisten apoteker kepala yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan melalui Dirjen POM. 5. Asisten Apoteker Menurut Permenkes No. 922 tahun 1993 Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek di bawah pengawasan apoteker.

2.4 Surat Izin Apotek Dengan adanya otonomi daerah, Izin apotek diberikan oleh Walikota/ Bupati melalui Dinas Kesehatan Kota/ Kabupaten. Menurut Permenkes RI no.922/Menkes/Per/X/1993, tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, sebelum melaksanakan

kegiatannya, Apoteker Pengelola Apotek (APA) wajib memiliki Surat Izin Apotek (SIA). Izin apotek ini berlaku untuk seterusnya selama apotek bersangkutan masih aktif melakukan

kegiatan dan APA dapat melaksanakan tugas, dan melaksanakan daftar ulang setiap satu tahun sekali.

2.4.1 Tata Cara Pemberian Izin Apotek Persyaratan izin apotek yang diajukan apoteker kepada Walikota melalui Dinkes Kota, yaitu : 1. Mengisi formulir permohonan dan ditandatangani di atas materai, 2. Salinan/fotokopi Surat Penugasan (SP) Apoteker Pengelola Apotek, 3. Salinan/fotokopi Kartu Tanda Penduduk APA dan PSA, 4. Salinan/fotokopi denah bangunan dan denah lokasi, 5. Surat yang menyatakan status bangunan dalam bentuk akte hak milik/sewa/kontrak, 6. Daftar Asisten Apoteker dengan nama, alamat, tanggal lulus dan SIK, 7. Asli dan salinan/fotokopi daftar terperinci alat perlengkapan apotek, 8. Surat pernyataan dari APA bahwa tidak bekerja tetap pada perusahan farmasi lain dan tidak menjadi APA di apotek lain, 9. Asli dan fotokopi Surat Izin Atasan (bagi pemohon Pegawai Negeri Sipil, anggota ABRI, dan instasi pemerintah lainnya). 2.4.2 Pengalihan dan Perubahan Surat Izin Apotek Perubahan izin berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 297/Men.Kes/SK/V/1981 pasal 14, diperlukan Apabila : 1. Terjadi pergantian nama apotek, 2. Terjadinya perubahan nama jalan dan nomor bangunan apotek tanpa adanya pemindahan lokasi apotek, 3. Surat Izin Apotek hilang atau rusak, 4. Terjadinya pergantian Apoteker Pengelola Apotek,

5. SIK Apotek dicabut dalam hal APA bukan sebagai PSA, 6. Terjadi pemindahan lokasi apotek, 7. APA meninggal dunia.

2.4.3 Pencabutan Surat Izin Apotek Surat Izin Apotek (SIA) seperti telah dikatakan berlaku untuk seterusnya selama tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku, tetapi dalam hal tertentu Walikota dapat mencabut Surat Izin Apotek apabila : 1. Apoteker sudah tidak lagi dapat memenuhi kewajiban persyaratan sebagai Apoteker Pengelola Apotek (APA). 2. Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan. 3. Surat Izin Kerja apoteker atau rekomendasi organisasi profesi dicabut. 4. Pemilik Sarana Apotek terbukti terlibat pelanggaran perundang-undangan. 5. Apotek tidak lagi sesuai dengan Surat Izin Apotek yang telah diterbitkan. Pelaksanaan pencabutan izin apotek dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/MenKes/Per/X/1993, yaitu setelah dikeluarkan : 1. Peringatan secara tertulis kepada APA sebanyak tiga kali beturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing dua bulan. 2. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan apotek. Pembekuan izin dapat dicairkan kembali apabila apotek telah membuktikan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan dalam peraturan. Hal ini dapat dilakukan setelah Dinkes menerima laporan pemeriksaan dari kepala Balai POM. Keputusan pencabutan SIA disampaikan langsung kepada yang bersangkutan dengan tembusan kepada Balai POM.

Apabila SIA dicabut, APA atau apoteker pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengamanan tersebut mengikuti tatacara sebagai berikut : 1. Dilakukan inventaris terhadap seluruh persediaan narkotik, obat keras tertentu dan obat lainnya serta seluruh resep yang tersedia diapotek. 2. Narkotika, psikotropika, dan resep harus dimasukan ke dalam tempat tertutup dan terkunci. 3. APA wajib melaporkan secara tertulis kepada Dinkes atau petugas yang diberi wewenang olehnya tentang penghentian kegiatan disertai laporan inventarisasi.

2.5 Fungsi dan Peran Apoteker Pengelola Apotek Apoteker sebagai pengelola apotek dan sumber informasi bagi masyarakat luas harus selalu meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya baik dalam bidang farmasi sendiri, maupun bidang manajerial serta hubungan antar personal. Dengan kemampuan tersebut diharapkan Apoteker dapat menjadi sumber informasi obat dan kesehatan yang lengkap serta terpercaya bagi masyarakat luas hingga dapat melayani dan mengelola obat serta perbekalan farmasi secara profesional. Selain itu Apoteker harus dapat meningkatkan kreativitas dan pengembangan dirinya untuk menunjang kemajuan apotek yang dikelolanya sehingga mampu bertahan dan bersaing dalam menghadapi era globalisasi yang akan datang. Pekerjaan kefarmasian seorang apoteker di apotek adalah bentuk hakiki dari profesi apoteker berdasarkan peraturan pemerintah, yaitu apotek adalah tempat pengabdian profesi apoteker. Pengabdian profesi apoteker harus dilandasi serta berpegang teguh pada kode etik apoteker, yang selaras dengan sumpah dan janji apoteker. Pekerjaan kefarmasian seorang apoteker di apotek merupakan suatu rangkaian kegiatan berdasarkan keilmuan, tanggung jawab, dan etik profesi. Etik profesi apoteker adalah suatu aturan yang membatasi seorang apoteker dalam menjalankan pekerjaaan kefarmasian secara profesional serta menghindarkan dirinya dari tindakan tercela yang merugikan profesi apoteker maupun organisasi profesi. Apoteker merupakan tenaga profesional di bidang kesehatan yang mempunyai tujuan luhur dalam pengabdian bagi kemanusiaan. Pengabdian apoteker berpegang teguh pada etika profesi apoteker Indonesia. Apoteker mempunyai 2 tanggung jawab yaitu sebagai penanggung jawab teknis kefarmasian dan manajer pengelola.

Menurut Undang-Undang RI No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolahan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Sedangkan yang dimaksud Perbekalan farmasi terdiri dari obat, bahan obat, obat-obat asli Indonesia (obat tradisional), bahan obat asli Indonesia (bahan obat tradisional), alat kesehatan dan kosmetika. Dalam penanggung jawab teknis kefarmasian di apotek, apoteker dapat menjalankan fungsinya : 1. Mengawasi pelayanan resep (baik pelayanan resep tunai maupun resep kredit), 2. Mengawasi mutu obat yang dibeli dan yang akan dijual, 3. Memberikan pelayanan informasi obat, 4. Membuat laporan mengenal obat-obatan khusus (Narkotika, OKT, KB, dan lain-lain). Dalam pengelolaan manajerial di apotek, apoteker harus memiliki atau mempunyai kemampuan dalam menjalankan fungsi manajerialnya, yaitu : 1. Perencanaan (Planning), sebagai pengelola apotek, apoteker harus mampu menyusun perencaan dari suatu pekerjaan, cara dan waktu pengerjaan, serta siapa yang mengerjakan. Apoteker harus mampu menyusun rencana agar tujuan apotek tercapai. 2. Pengorganisasian (Organizing), apoteker harus mampu mengatur dan menentukan (mendelegasikan) perkerjaan yang akan dilaksanakan oleh karyawan dengan efektif dan efisien sesuai dengan pendidikan dan pengalaman. Pengaturan ini dapat dilakukan dengan mengelompokkan pekerjaan sesuai keahlian karyawan, menentukan tanggung jawab dan wewenang untuk tiap pekerjaan dan hasil yang hendak dicapai, serta menjalin hubungan yang harmonis dengan karyawan.

3. Pelaksanaan (Actuating), apoteker harus dapat menjadi pemimpin yang menjadi panutan karyawan, yaitu mengetahui permasalahan, dapat menunjukan jalan keluar masalah, dan turut berperan aktif dalam kegiatan. 4. Pengawasan (Controlling), apoteker harus selalu melakukan evaluasi setiap kegiatan dan mengambil tindakan demi perbaikan dan peningkatan kualitas, apakah semua sudah berjalan sesuai arah dan tujuan dengan membandingkan hasilnya terhadap suatu standar tertentu.(Hartono, 1998)

2.6 Pengelolaan Apotek 2.6.1 Bidang Pelayanan Kefarmasian Menurut Permenkes No. 922 tahun 1993, pengelolaan Apotek dalam bidang pelayanan kefarmasian meliputi: 1. Pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat. 2. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi. 3. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi. Permenkes No. 922 tahun 1993 menyatakan bahwa apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi, dan dokter hewan sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat. Apoteker tidak diizinkan untuk mengganti obat generik yang tertulis dalam resep dengan obat paten. Bila pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis di dalam resep, maka apoteker harus berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang tepat.

Selain obat yang diberikan melalui resep, apotek juga diberi izin untuk menjual obatobat keras yang dinyatakan sebagai Obat Wajib Apotek. Kriteria obat yang dapat diserahkan kepada pasien tanpa menggunakan resep dokter adalah: 1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak dibawah usia 2 tahun dan orang tua diatas 65 tahun. 2. Pengobatan sendiri dengan obat yang dimaksud tidak memberikan resiko pada kelanjutan penyakit. 3. Penggunaannya tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan. 4. 5. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia. Obat yang dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.

2.6.2 Bidang Pelayanan Informasi Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 922 tahun 1993, pengelolaan bidang pelayanan informasi meliputi: 1. Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi lainnya yang diberikan kepada dokter dan tenaga kesehatan lainnya maupun kepada masyarakat. 2. Pengamatan dan pelaporan informasi mengenai khasiat, keamanan, bahaya dan atau mutu obat dan perbekalan farmasi lainnya. Pelayanan informasi di apotek bertujuan memberikan pengertian mengenai penggunaan obat yang aman dan efektif serta memberikan informasi yang objektif kepada berbagai pihak, dan dalam pelaksanaannya pelayanan informasi ini harus didasarkan kepada kepentingan masyarakat.

Dalam KepMenkes No. 347 tahun 1990 tentang Obat Wajib Apotek, dinyatakan bahwa apoteker dapat menyerahkan obat keras tanpa resep dokter kepada pasien di Apotek. Hal ini menyebabkan perlunya peran apoteker di apotek dalam pelayanan konsultasi, informasi dan edukasi (KIE). Apoteker wajib memberikan informasi tentang obat yang diserahkan kepada pasien terutama obat keras tanpa resep dokter. Pemberian informasi meliputi dosis dan aturan pakai, kontra indikasi, efek samping dan informasi lain yang perlu diperhatikan penderita (Depkes RI, 1990). Pemberian informasi obat kepada masyarakat juga dapat dilakukan melalui brosur, poster dan artikel-artikel pada surat kabar atau majalah atau informasi yang tidak langsung berhubungan dengan obat kepada masyarakat

2.6.3 Bidang Material Pengelolaan di bidang material meliputi pengelolaan perbekalan farmasi. Dalam Permenkes No. 26 tahun 1981 disebutkan bahwa apotek berkewajiban untuk menyimpan dan menyalurkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin. Perbekalan farmasi yang disalurkan meliputi obat, bahan obat, obat asli Indonesia, alat kesehatan, kosmetika, dan sebagainya. Ini berarti perbekalan farmasi yang tersedia harus berasal dari pabrik farmasi, Pedagang Besar Farmasi (PBF), apotek atau sarana distribusi resmi lainnya.(Depkes RI, 1981) Penyimpanan perbekalan farmasi harus di tempat yang aman, tidak kena sinar matahari langsung, bersih, tidak lembab, dan disusun secara sistematis. Setiap barang disertai kartu stok untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran barang.

2.6.4 Bidang Administrasi dan Keuangan

Pengelolaan bidang administrasi apotek meliputi administrasi pengadaan, penerimaan, penyimpanan, penyaluran, peracikan, penyerahan dan pemusnahan perbekalan farmasi serta administrasi penyimpanan dan penggunaan obat-obat narkotika dan psikotropika.(Hartono, 1998) Pengelolaan administrasi keuangan meliputi proses administrasi pembayaran tunai, pembayaran kredit, pembukuan keuangan, laporan keuangan, pajaj/restribusi dan lalu lintas uang di apotek.

2.6.5 Bidang Ketenagakerjaan Secara garis besar tenaga kerja yang terlibat di apotek dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1. Tenaga kerja farmasi, yaitu apoteker dan Asisten Apoteker yang bertugas melakukan pekerjaan kefarmasian. 2. Tenaga kerja non-farmasi, yaitu tenaga kerja yang membantu pelaksanaan pengelolaan apotek, misalnya administrasi umum, administrasi keuangan, kasir, juru resep dan pekerja lainnya. Setiap tenaga kerja mempunyai wewenang dan tanggung jawab masing-masing sesuai dengan pembagian tugasnya. Masing-masing bagian tidak dapat bekerja secara sendiri-sendiri namun memerlukan kerjasama antara satu dengan lainnya dalam mencapai tujuan bersama. Dalam hal ini apoteker berperan penting dalam menyusun sistem kerja dan mengorganisir setiap tenaga kerja agar dapat memberikan hasil yang optimal (Hartono, 1998).

2.6.6 Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika Penyaluran narkotika harus berdasarkan resep dokter dan hanya boleh dilakukan oleh apotek. Apotek dilarang mengulangi penyerahan narkotika atas dasar resep dokter yang sama

dari resep dokter atau atas dasar salinan resep dokter. Apoteker wajib melaporkan mengenai pemasukan dan pengeluaran narkotika kepada Departemen Kesehatan setiap bulan (Depkes RI, 1976) Penyimpanan Narkotika menurut Permenkes No. 28 tahun 1978 yaitu : 1. Apotek harus memiliki tempat khusus untuk menyimpan narkotika yang terkunci dengan baik. 2. Tempat khusus tersebut harus memenui persyaratan : Terbuat dari kayu, harus mempunyai kunci yang kuat, tidak boleh digunakan untuk menyimpan barang lain selain narkotika, bila tempat khususnya berupa lemari berukuran 40 x 80 x 100 cm, maka lemari harus dibuat pada tembok/lantai, anak kunci dikuasai oleh penanggungjawab atau pegawai yang diberi kuasa, lemari disimpan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum. 3. Untuk narkotika yang rusak/tidak memenuhi syarat, maka apoteker dapat memusnahkan narkotika disaksikan oleh petugas Balai POM, dan Dinas Kesehatan Kota/ Kabupaten. 4. Pemusnahan narkotika harus disertai berita acara yang memuat waktu pemusnahan, nama APA, nama seorang saksi dari pemerintah dan dari perusahaan, nama dan jumlah narkotika yang dimusnahkan, cara pemusnahan dan tandatangan penanggung jawab apotek dan saksi. 5. Berita acara tersebut dikirimkan ke Balai POM dan Dinkes Kota setempat. (Depkes RI, 1978) Penyaluran psikotropika dilakukan oleh pabrik obat, PBF, apotek, sarana penyimpan sediaan farmasi pemerintah, rumah sakit, dan lembaga pendidikan/ penelitian. Seperti narkotika, penyimpanan psikotropika dilakukan secara terpisah dari obat lain untuk memudahkan pengawasan dan pelaporan. Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan kepada penderita berdasarkan resep dokter. Seperti halnya narkotika, apoteker wajib

membuat dan menyimpan catatan tentang psikotropika dan melaporkannya ke Depkes setiap bulan. (Depkes RI, 1997)

KONTROVERSI PP 51/2009 TTG PEKERJAAN KEFARMASIAN


Pekerjaan Kefarmasian Sudahkah anda mengetahui isi dari Peraturan Pemerintah (PP) yang diundangkan pada tanggal 1 September 2009 ini ? Jika belum, silahkan download disini. Pada saat saya membacanya, entah mengapa bukan rasa amarah yang menghinggapi dada ini. Tetapi perasaan luar biasa yang saya dapati. Padahal bila dilihat sekilas, maka saya yang merupakan seorang Asisten Apoteker (AA) seharusnya marah karena aturan yang seakan-akan menginjak harkat dan martabat kita. Namun saya mencoba untuk berpikir kembali, apakah aturan ini memang benarbenar menindas ataukah sebaliknya melindungi kaum AA yang sebenarnya sudah merasa tertindas sejak lama ini. Ada beberapa perubahan besar dalam pekerjaan kefarmasian yang akan dirubah oleh PP 51/2009 ini. Berikut saya coba simpulkan perubahan-perubahan tersebut:

Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian. Istilah Asisten Apoteker yang selama ini seakan-akan dijabat oleh lulusan Sekolah Menengah Farmasi (SMF)/ Sekolah Menengah Kejuruan Farmasi (SMK Farmasi); Akademi Farmasi (AKFAR)/ Ahli Madya Famasi; dan Analis Farmasi, dirubah menjadi Tenaga Teknis Kefarmasian. Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dokter dilaksanakan oleh Apoteker. Pekerjaan Kefarmasian wajib dicatat oleh Tenaga Kefarmasian sesuai dengan tugas dan fungsinya. Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian (STRTTK), sebagai persyaratan mutlak untuk melakukan pekerjaan kefarmasian. Memiliki rekomendasi tentang kemampuan dari Apoteker yang telah memiliki STRA di tempat Tenaga Teknis Kefarmasian bekerja. Setiap Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi berupa obat harus memiliki seorang Apoteker sebagai penanggung jawab. Dalam hal di daerah terpencil tidak terdapat Apoteker, Menteri dapat menempatkan Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah memiliki STRTTK pada sarana pelayanan kesehatan dasar yang diberi wewenang untuk meracik dan menyerahkan obat kepada pasien. Fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat dilakukan secara mandiri oleh Tenaga Teknis Kesehatan.

Asisten Apoteker dan Analis Farmasi yang telah memiliki Surat Izin Asisten Apoteker dan/atau SIK, tetap dapat menjalankan Pekerjaan Kefarmasian dan dalam jangka waktu 2 (dua) tahun wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini.

Coba kita bahas satu persatu. Yang pertama ialah pekerjaan kefarmasian hanya dapat dilakukan oleh tenaga kefarmasian yaitu Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian, pengecualian pada pasal 22 PP ini dalam keadaan tertentu dokter dan dokter gigi dapat meracik dan menyerahkan obat kepada pasien. Hal ini dapat menyanggah pendapat tenaga kesehatan lain yang merasa mendapatkan pendidikan kefarmasian untuk melakukan pekerjaan kefarmasian.
Pertanyaan yang sering kita dengar dari semua orang, kenapa kita dinamakan Asisten Apoteker. Jabatan atau profesi, sebenarnya kita ini. Insya Allah, pertanyaan itu akan hilang dengan sendirinya. Karena dengan adanya PP Pekerjaan Kefarmasian ini, profesi kita bernama Tenaga Teknis Kefarmasian atau disingkat sebagai TTK. Yah, ada kemungkinan ada kebingungan perbedaan AA dan TTK. Bahkan dengan peraturan No. 51/2009 TTK mendapat anggota baru, yaitu Sarjana Farmasi yang selama ini saya juga bingung mengkategorikannya karena tak ada dasar hukumnya. Semoga semuanya menerima istilah TTK ini, . Mengenai masalah resep dokter, memang terjadi pengambilalihan wewenang. Tapi hal ini juga beralasan, bahwa Apoteker bertanggungjawab atas pekerjaan kefarmasian secara keseluruhan atas resep dokter tersebut walaupun sebagian pekerjaan kefarmasian dikerjakan oleh tenaga kefarmasian lain. Tujuannya tentu baik untuk melindungi pasien dan tenaga kefarmasian dari kekhilafan dari menerima sampai penyerahan dan pelayanan resep dokter. Kita semua pasti pernah mendengar bahwa Apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian dapat dibantu oleh Asisten Apoteker. Hal yang tersurat dalam hal tersebut mendasari bahwa Apoteker bisa dibantu asisten apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian atau bila tidak, dibantu tenaga lain untuk melakukannya. Contoh pegawai administrasi melakukan pencatatan stok obat, penyimpanan obat, pelaporan narkotika & psikotropika, dan lain-lain . Nah, disebutkan dalam peraturan pemerintah ini untuk segala pencatatan pekerjaan kefarmasian harus dilakukan oleh tenaga kefarmasian, yang tentu saja sesuai dengan tugas dan fungsi yang diserahkan kepadanya. Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian (STRTTK). Mendengarnya tentu saja sudah membuat cape, persyaratan apalagi nih. Padahal SIAA dan SIKAA saja banyak yang belum melaksanakannya. STRTTK ini bukti bahwa Tenaga Teknis Kefarmasian tersebut telah diregistrasi. Tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu ijasah pendidikan, surat keterangan sehat, surat rekomendasi kemampuan dari Apoteker ditempat bekerja, dan surat pernyataan mematuhi dan melaksanakan etika kefarmasian.

Telah disebut diatas untuk mendapat STRTTK, Tenaga Teknis Kesehatan harus mendapat surat rekomendasi kemampuan dari Apoteker ditempat bekerja. Mengenai hal ini mungkin berkaitan dengan tanggung jawab Apoteker, namun kepastiannya nanti dapat kita lihat dengan peraturan pelaksananya dikemudianhari. Untuk sementara saya abstain.
Yang jelas sekarang ini yang namanya distributor farmasi itu ya Pedagang Besar Farmasi (PBF), tetapi ada juga yang namanya instalasi sediaan farmasi seperti gudang farmasi atau instalasi lainnya. Sebagai Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi yang selama ini penanggung jawabnya

terletak pada Asisten Apoteker tentunya akan menimbulkan keresahan yang luar biasa, terutama yang AA yang telah lama bekerja di PBF. Karena selain terancam kehilangan pekerjaan, tentu dari segi keilmuan tidak sedikit yang mengaku telah lupa akan pekerjaan kefarmasian di fasilitas pelayanan kefarmasian. Yah, sekali lagi semoga saja peraturan pelaksananya dapat memberikan pertimbangan yang terbaik untuk semua. Oh ya, bagi yang bekerja di Pedagang Besar Alat Kesehatan (PB Alkes) bisa berlega hati, karena ketentuan ini hanya untuk PBF distributor obat. Seperti halnya dokter dan dokter gigi, Tenaga Teknis Kefarmasian juga dapat melakukan pekerjaan kefarmasian di daerah terpencil yang tidak terdapat Apoteker. Tentu saja, TTK harus memiliki ijin dari menteri untuk dapat melakukan pekerjaan kefarmasian tersebut. Yang persyaratan dan tatacara perolehannya diatur kemudian dengan peraturan menteri. Pasal 26 dalam PP No. 51/2009 menyebutkan bahwa fasilitas pelayanan kefarmasian, toko obat, dilaksanakan oleh Tenaga Teknis Kefarmasian sesuai dengan tugas dan fungsinya. Artinya, bahwa khusus toko obat pelaksanaannya hanya terdapat pada TTK. Peraturan ini juga menegaskan TTK disini tidak hanya sebagai penanggung jawab sebagaimana yang berlaku selama ini, namun TTK tersebut harus berperan altif dalam pelayanan kefarmasian dalam toko obat itu. Ada yang nyeletuk, asal sesuai aja itunya . Bila SIAA dan SIAA penyesuaiannya 5 (lima) tahun dari permenkes tentang registrasi AA yaitu 2003, maka tentang Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian ini wajib dilakukan penyesuaian dalam jangka waktu 2 (dua) tahun dari PP ini. Dan bagi PBF distributor obat, wajib melakukan penyesuaian penanggungjawab dalam janka waktu 3 (tiga) tahun. Akibat tidak dipatuhinya aturan PP ini ialah izin melakukan pekerjaan kefarmasian baik dari individual maupun badan usaha yang terkait, akan dicabut atau batal demi hukum.

Akhir kata, semoga Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian ini berfaedah bagi kita semua dan dapat kita terima kehadirannya. Kalaupun tidak, saya berharap kita tidak bersikap anarkis. Karena Indonesia adalah negara hukum, dimana segala sesuatu mengenai penyelesaian permasalahan di kehidupan masyarakat Indonesia harus mengedepankan cara-cara yang diatur dalam peraturan perundang-undangan negara kita. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya organisasi profesi sebagai tempat penyaluran aspirasi. Insya Allah, kita kan selesaikan dengan musyawarah untuk mufakat sebagaimana bunyi sila IV Pancasila yang merupakan dasar philosophy kita.

Materi tentang APOTEK

APOTEK A.Pengertian PP No 26 tahun 1965 Apotek = tempat ttt dimana dilakukan usaha dan pekerjaan kefarmasian. PP No 25 tahun 1980 Apotek = suatu tempat ttt, tempat diadakan pekerjaan kefarmasian & penyaluran obat kpd masyarakat. KepMenKes No.1332(2002) Apotek = tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. KepMenKes No.1027/2004 Apotek = tempat ttt, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Pekerjaan kefarmasian (UU Kes No.23 tahun 1992)\ Adalah pembuatan, pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional. KepMenKes No.1027/2004 Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Sedangkan yang dimaksud dengan perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat & peralatan yang diperlukan utk menyelenggarakan upaya kesehatan. B.Tugas dan Fungsi Apotek Menurut PP No.25 tahun 1980 pasal 2, adalah: a.Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan. b.Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat. c.Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan secara luas dan merata. C.Peraturan PerUU-an Apotek Undang-undang Tentang UU RI No. 23 th 1992 Kesehatan UU RI No. 5 th 1997 Psikotropika UU RI No. 22 th 1997 Narkotika Permenkes No.922 th 1993 Tata cara pemberian ijin apotek Kepmenkes No. 1027 th 2004 Standar pelayanan kefarmasian di apotek Hal-hal yang terkait dengan Kepmenkes 1027 Alat kesehatan : bahan, instrument apparatus, mesin, implant yg tidak mengandung obat yg digunakan utk mnecegah, mendiagnosis, menyembuhkan & meringankan penyakit, merawat org sakit serta memulihkan kesehatan pd manusia dan/atau membentuk struktur & memperbaiki fungsi tubuh. R/ = permintaan tertulis dari dr, drg, drh, kpd Apt utk menyediakan dan menyerahkan obat bagi Px sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Perlengkapan Apotek = semua peralatan yg dipergunakan utk melaksanakan keg pelayanan kefarmasian diApotek. Pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical Care/ PC) = bentuk pelayanan & tanggung jawab langsung profesi Apt. dalam pekerjaan kefarmasian utk mneiungkatkan kualitas hidup px. Medication error (ME) = kejadian yg merugikan Px akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan yg sebetulnya dapat dicegah. Konseling = suatu proses komunikasi 2 arah yg sistematik antara Apt dan Px utk mnegidentifikasi dan memecahkan masalah yg berkaitan dg obat dan pengobatan. Pelayanan residensial (home care) = pelayanan Apt sbg care giver dlm pelayanan kefarmasian dirumah2 khususnya unt lansia & Px dg pengobatan kronis. D.Sarana dan Prasarana Menurut KepMenKese No.1027/2004, bahwa apotek 1.Berlokasi pada daerah yg mudah dikenali oleh masyarakat 2.Terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek 3.Mudah diakses oleh masyarakat 4.Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi resiko kesalahan pelayanan. 5.Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling. 6.Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya. 7.Apotek harus bebas dari hewan pengerat, serangga 8.Memiliki supply listrik yang konstan terutama untuk lemari pendingin. Apotek harus memiliki : 1.Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien 2.Tempat unt memberi informasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur/materi informasi. 3.Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien. 4.Ruang racikan 5.Keranjang sampah yang tersedia untuk staf maupun pasien. 6.Perabotan harus tertata rapi, lengkap dgn rak-rak penyimpanan obat & barang2 lain yg tersusun rapi, terlindung dari debu, kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi ruangan dengan temperatur yang telah ditetapkan. E.Aspek Pengelolaan Apotek Pengelolaan Sumber Daya Apoteker Pengelola Apotek (APA) Tugas dan tanggung jawab Apoteker yaitu: 1.Bidang Pengabdian Profesi a.Meneliti semua jenis obat & bhn obat yang dibeli secara kualitatif dan kuantitatif. b.Mengadakan pengontrolan terhadap bagian pembuatan. c.Mengontrol pelayanan atas resep yg telah dibuat dan diserahkan kepada pasien. d.Memberikan informasi tentang obat pada Px, dr, dsb. e.Menyelenggarakan komunikasi dengan pihak luar. 2.Bidang Administrasi a.Memimpin, mengatur, serta mengawasi pekerjaan tata usaha, keuangan, dan perdagangan. b.Membuat laporan-laporan keuangan dan surat menyurat. c.Mengadakan pengawasan, penggunaan, dan pemeliharaan akte perusahaan.

3.Bidang Komersial a.Merencanakan dan mengatur kebutuhan barang (obat, alat kesehatan, dll) untuk suatu periode tertentu sesuai aturan yang berlaku. b.Mengatur & mengawasi penjualan R/, bebas, langganan dsb. c.Menentukan kalkulasi harga dan kebijakan harga. d.Berusaha meningkatkan penjualan. e.Memupuk hubungan baik dengan para pelanggan. f.Menentukan kpd siapa dpt dilayani kredit atas pembelian obat. g.Mengadakan efisiensi dalam segala hal. 4.Bidang Tanggungjawab dan Wewenang a.Internal, bertanggung jawab mengenai segala aktivitas perusahaan kepada PSA. Eksternal bertanggungjawab kepada Departemen Kesehatan. b.Memimpin dan menggelola karyawan dalam melakukan pengabdian profesinya. c.Mengatur sistem penerimaan pegawai dan sistem penggajian Asisten Apoteker (AA) Tugas : 1.Membantu Apt dalam hal pelayanan R/, OTC (over the counter), pembuatan sediaan obat, 2.Mencatat dan memeriksa keluar masuknya obat 3.Menyusun buku defekta 4.Pembuatan laporan narkotika & psikotropika 5.Pengarsipan R/ Tanggung Jawab : AA bertanggung jawab kepada APA Reseptir Tugas : 1.Membuat sediaan dibawah pengawasan Apt dan AA 2.Membantu membuat R/ racikan yg bahan2nya telah disiapkan oleh Apt / AA 3.Membantu mneyelesaikan racikan obat seperti tinggal menggerus dan membungkus Kasir Tugas : Mencatat penerimaan uang setelah dihitung (dilengkapi kuitansi, nota, tanda setoran yg sudah diparaf Apt atau petugas yg ditunjuk. Tenaga Administrasi Tugas : 1.Membuat laporan harian (catatan penjualan, pembelian, hasil penjualan, tagihan, pengeluaran harian 2.Membuat laporan bulanan seperti daftar gaji dan pajak bertangggung jawab kepada APATanggung Jawab PENGELOLAAN OBAT A.PERENCANAAN Tujuan agar proses pengadaan perbekalan farmasi/ obat yang ada di apotek menjadi lebih efektif dan efisien dan sesuai dengan anggaran yang tersedia. Faktor2 yg harus dipertimbangkan dalam menyusun perencanaan : 1)Pemilihan pemasok, yg perlu diperhatikan antara lain: a)Legalitas pemasok(PBF) b)Service, meliputi ketepatan waktu, barang yang dikirim, ada tidaknya diskon/bonus, layanan obat ED dan tenggang waktu penagihan.

c)Kualitas obat, perbekalan farmasi lain d)Ketersediaan obat yang dibutuhkan. e)Harga 2)Ketersediaan barang/perbekalan farmasi Beberapa hal yg harus diperhatikan : sisa stok, rata-rata pemakaian obat dalam satu periode pemesanan, frekuensi pemakaian dan waktu tunggu pemesanan, pemilihan metode perencanaan Adapun metode perencanaan yaitu : a)metode konsumsi memperkirakan penggunaan obat berdasarkan pemakaina sebelumnya sbg dasar perencanaan yg akan datang. b)metode epidemiologi berdasarkan penyebaran penyakit yg paling banyak terdapat didaerah sekitar apotek c)metode kombinasi mengkombinasikan antara metode konsumsi epidemiolog d)JIT (Just In Time) Membeli obat pada saat dibutuhkan B.PENGADAAN Dapat dilakukan dg cara : membeli obat ke PBF1.Pembelian PBF menitipkan barang di apotek dan dibayar setelah laku terjual2.Konsinyasi Proses pengadaan barang dengan cara pembelian dilakukan melalui beberapa tahapan berikut: 1)Persiapan untuk mengetahui persediaan yang dibutuhkan apotek untuk melayani pasien. Persediaan yang habis dapat dilihat di gudang atau di kartu stok gudang sehingga jika barang habis dapat dilakukan pemesanan. Persiapan dilakukan dengan cara mengumpulkan data barang-barang yang akan dipesan dari buku defecta, termasuk obat2 baru yg ditawarkan supplier. 2)Pemesanan Pemesanan dapat dilakukan jika persediaan barang habis, yang dapat dilihat dalam buku defecta. Pemesanan dapat dilakukan langsung ke PBF melalui telepon maupun pesan melalui salesman yang datang ke apotek. 3)Pemesanan dilakukan dgn menggunakan Surat Pesanan (SP). SP minimal dibuat 2 lembar (untuk supplier dan arsip apotek) dan dittd oleh Apt. Biasanya SP dibuat 3 lembar. SP pembelian narkotika dibuat 5 lembar. (utk KF pusat, KF kota, Dinkes kab, BPOM, Arsip apt) Narkotika (1 sp utk 1 jenis obat) Psikotropika (1 sp bisa utk lebih dari 1 macam obat) 4)Penerimaan Dilakukan setelah menerima barang kiriman harusoleh AA yg mempy SIK mencocokkan barang dengan DO/faktur dan SP lembar ke-2 mengenai jumlah, nama obat, harga satuan, perhitungan harga. Bila ada obat dengan ED, dicatat dalam buku tersendiri dn urutan tanggalnya. 5)Pencatatan. a)Dari catat dlm buku penerimaan barang, ditulis namafaktur yang diterima PBF, nama obat, nomor batch, tgl ED, jumlah harga satuan, potongan harga, jumlah harga, nomor urut dan tanggal penerimaan. b)Satu hari sekali dilakukan pencatatan penerimaan barang shg dapat diketahui jmlh barang yg dibeli & untuk menjaga agar barang yang dibeli tidak melebihi anggaran pembelian obat. c)Faktur yang diterima kemudian disimpan untuk diperiksa lagi dan digunakan untuk

mencocokkan jika barang harus dilunasi. 6)Pembayaran a)dilakukan jika sudah jatuh tempo & faktur dikump tiap debitur b)masing-masing dibuatkan bukti kas keluar serta cek dan giro, c)kemudian diserahkan ke bagian keuangan utk dittd sebelum dibayarkan kepada supplier. d)Pembayaran dapat dilakukan secara cash atau kredit, tergantung dari jenis obat, serta perjanjian dengan pihak distributor. e)utk obat narkotika hrs secara COD (Cash On Delivery). C.PENYIMPANAN apotek hrs memiliki perlengkapan & alat penyimpanan perbekalan farmasi : botol dgn ukuran tertentu, jenis & jumlah sesuai dgn kebutuhan, lemari dan rak penyimpanan obat, lemari pendingin untuk menjamin mutu perbekalan farmasi tersebut. Penyusunan dan penyimpanan obat/barang dpt dilakukan berdasarkan kelas terapeutik, alfabetis, / bentuk sediaannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1)Bahan yg mudah terbakar sebaiknya disimpan terpisah dari bahan yang lainnya. 2)Narkotika disimpan dalam lemari khusus. 3)Obat-obatan yang memerlukan kondisi tertentu seperti insulin, vaksin atau serum perlu disimpan dalam lemari pendingin. D.PELAYANAN Menurut Kepmenkes No 1027 th 2004, yg termasuk dlm pelayanan yaitu : pelayanan pelayananR/, promosi dan edukasi, pelayanan residential (Home Care) farmasi yg bersifat kunjungan rumah khususnya utk kelompok lansia den pasien dengan penyakit kronis. PENGELOLAAN R/ PENGELOLAAN OBAT WAJIB APOTEK (OWA) Apoteker dapat menyerahkan Obat Keras tanpa resep dokter kepada pasien. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No.347/MENKES/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek. Adapun latar belakang dari keputusan Menteri Kesehatan tersebut adalah : 1)Meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman, dan rasional. 2)Meningkatkan peran apoteker dalam KIE. Oleh karena itu perlu ditetapkan keputusan menteri kesehatan tentang obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter di apotek. Hal ini tercantum dalam Permenkes No. 919/Menkes/Per/1993 tentang kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep, yaitu : 1)Tidak dikontraindikasikan untuk wanita hamil, anak dibawah 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun. 2)Tidak memberikan resiko pada kelanjutan penyakit. 3)Penggunaan tidak memerlukan cara/alat khusus yang harus dilakukan oleh/bantuan tenaga kesehatan. 4)Untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia 5)Memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam keputusan ini, pelayanan OWA yang dilakukan oleh apoteker harus memenuhi cara dan ketentuan, diantaranya sebagai berikut : 1)Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien 2)Membuat catatan pasien dan obat yang diberikan Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pakai, kontra indikasi, efek samping, dan lain-lain yang perlu diperhatikan pasien.

PENGELOLAAN NARKOTIKA dan PSIKOTROPIKA Tujuan diadakannya pengelolaan narkotika dan psikotropika adalah untuk mencegah penyalahgunaan obat narkotika dan psikotropika. Sehingga obat-obat narkotika dan psikotropika harus ditangani secara khusus. 1)Narkotika Narkotika berdasarkan UU Kesehatan No. 2 tahun 1997 pasal 1, adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. a)Pengeluaran Narkotika Narkotika hanya diberikan kepada pasien yang membawa resep dokter. Resep yang terdapat narkotika diberi tanda garis bawah berwarna merah kemudian dipisahkan untuk dicatat dalam buku register narkotika. Pencatatan meliputi tanggal, nomor resep, tanggal pengeluaran, jumlah obat, nama pasien, alamat pasien, dan nama dokter. Dilakukan pencatatan tersendiri untuk masing-masing nama obat narkotika. Untuk setiap pengeluaran narkotika dicatat dalam kartu stelling, kemudian dicatat pada buku narkotika yang digunakan sebagai pedoman dalam pembuatan laporan bulanan yang dikirim ke Dinas Kesehatan Propinsi, Balai Besar POM Propinsi, Dinas Kesejahteraan Sosial Propinsi dan sebagai arsip yang dilaporkan setiap tanggal 10 tiap bulan. Untuk setiap penggunaan obat tersebut dicatat jumlah pengeluaran dan sisa yang ada, jika ada perbedaan dilakukan pengontrolan lebih lanjut. Hal ini untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan obat. b)Pemusnahan Narkotika Sesuai dengan pasal 60 dan 61 UU No. 22 tahun 1997 pemusnahan narkotika harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: (1)Dikarenakan obat kadaluwarsa (2)Tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan untuk pelayanan kesehatan (3)Dilakukan dengan menggunakan berita acara yang memuat: (a)Nama, jenis, sifat dan jumlah (b)Keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun. (c)Tanda tangan dan identitas pelaksana dan pejabat yang menyaksikan (ditunjuk oleh MenKes). (4)Ketentuan lebih lanjut syarat dan tata cara pemusnahan diatur dengan Keputusan Menteri Kesehatan. c)Pelaporan Laporan penggunaan narkotika setiap bulannya dikirim ke Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial kabupaten/kota dan dibuat tembusan ke Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial propinsi, Balai Besar POM DIY dan untuk arsip apotek. Pelaporan selambat-lambatnya tanggal 10 tiap bulannya. Laporan bulanan narkotika berisi nomor urut, nama sediaan, satuan, jumlah pada awal bulan, pemasukan, pengeluaran, dan persediaan akhir bulan serta keterangan. Khusus untuk penggunaan morphin, pethidin, dan derivatnya dilaporkan dalam lembar tersendiri disertai dengan nama dan alamat pasien serta nama dan alamat dokter. 2)Psikotropika UU No.5 tahun 1997 tentang psikotropika menyatakan bahwa psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah maupun sintesa yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Berdasarkan UU No.5 Tahun 1997, pasal 3 tentang Psikotropika, tujuan pengaturan di bidang psikotropika adalah:

a)Menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan. b)Mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropik. c)Memberantas peredaran gelap psikotropik (1)Pengadaan Menurut UU No.5 tahun 1997 pemesanan psikotropika menggunakan surat pesanan yang telah ditandatangani oleh apoteker kepada PBF atau pabrik obat. Penyerahan psikotropika oleh apoteker hanya dapat dilakukan untuk apotek lain, Rumah Sakit, Puskesmas, Balai Pengobatan, dokter dan pelayanan resep dokter (2)Penyimpanan Penyimpanan obat golongan psikotropika belum diatur oleh peraturan perundang-undangan. Obat-obat psikotropik cenderung disalahgunakan, maka disarankan penyimpanan obat-obat golongan psikotropika diletakan tersendiri dalam rak atau lemari khusus. (3)Pengeluaran Penggunan psikotropika perlu dilakukan monitoring dengan mencatat resep-resep yang berisi psikotropika dalam buku register psikotropika yang berisi nomor, nama sediaan, satuan, persediaan awal, jumlah pemasukan, nama PBF, nomor faktur PBF, jumlah pengeluaran, persediaan akhir, nama pasien dan nama dokter. Penyerahan psikotropika menurut pasal 14 UU No. 5 tahun 1997: a)Penyerahan psikotropika dalam rangka peredaran hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan dan dokter. b)Penyerahan psikotropik oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan kepada pengguna/pasien. c)Penyerahan psikotropika oleh rumah sakit, balai pengobatan, puskesmas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan kepada pengguna/pasien. d)Penyerahan psikotropika oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, dan balai pengobatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan resep dokter. e)Penyerahan psikotropika oleh dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam hal: (1)Menjalankan praktek terapi dan diberikan melalui suntikan. (2)Menolong orang sakit dalam keadaan darurat. (3)Menjalankan tugas di daerah terpencil. f)Psikotropika yang diserahkan dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (5) hanya dapat diperoleh dari apotek. (4)Pemusnahan Pemusnahan psikotropika dilakukan karena: (a)Kadaluarsa (b)Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan. (c)Dilakukan dengan pembuatan berita acara yang memuat: nama, jenis, sifat dan jumlah, keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun, tanda tangan dan identitas pelaksana dan pejabat yang menyaksikan (ditunjuk MenKes). (5)Laporan Laporan penggunaan psikotropika dikirim kepada Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial DIY, Balai Besar POM DIY, dan untuk arsip apotek. Pelaporan selambat-lambatnya tanggal 10 tiap bulannya. Laporan bulanan psikotropika berisi nomor urut, nama sediaan jadi (paten), satuan, jumlah awal bulan, pemasukan, pengeluaran, persediaan akhir bulan serta keterangan. PENGELOLAAN OBAT ED Obat-obat yang rusak dan kadaluarsa merupakan kerugian bagi apotek, oleh karenanya diperlukan pengelolaan agar jumlahnya tidak terlalu besar. Obat-obat yang rusak akan dimusnahkan karena tidak dapat digunakan dan tidak dapat dikembalikan lagi ke PBF.

Obat kadaluarsa yang dibeli oleh apotek dapat dikembalikan ke PBF sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati antara kedua belah pihak. Batas waktu pengembalian obat yang kadaluarsa yang ditetapkan oleh PBF 3-4 bulan sebelum tanggal kadaluarsa, tetapi ada pula yang bertepatan dengan waktu kadaluarsanya. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/MenKes/Per/X/1993 pasal 12 ayat (2), menyebutkan bahwa obat dan perbekalan farmasi lainnya yang karena sesuatu hal tidak dapat digunakan lagi atau dilarang digunakan, harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal. Pada pasal 13 menyebutkan bahwa pemusnahan yang dimaksud dilakukan oleh Apoteker Pengelola Apotek atau Apoteker Pengganti, dibantu oleh sekurang-kurangnya seorang karyawan apotek yang bersangkutan, disaksikan oleh petugas yang ditunjuk Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan setempat. Pada pemusnahan dengan bentuk yang telah ditentukan dalam rangkap lima yang ditandatangani oleh Apoteker Pengelola atau Apoteker Pengganti dan petugas Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan setempat. Pemusnahan obatobat narkotika dan psikotropika yang sudah kadaluarsa dilaksanakan oleh apoteker dengan disaksikan oleh petugas Dinas Kesehatan dan sekurang-kurangnya seorang karyawan apotek. Sedangkan untuk obat non narkotika-psikotropika dilaksanakan oleh apoteker dibantu oleh sekurang-kurangnya seorang karyawan apotek.

73ini menyebabkan pengaktifan sistem complement dan pembebasan enzimlisosom dari leukosit. Kedua reaksi ini menyebabkan inflamasi.Kompleks imun yang tersimpan didalam membrane synovial atau lapisansuperficial kartilago, adalah pagositik yang terdiri atas polimorphonuklear(PMN) leukosit, monosit, dan limfosit. Pagositik menonaktifkan kompleks imundan menstimulasi produksi enzim additional (radikal oksigen, asam arasidonik)yang menyebabkan hyperemia, edema, bengkak, dan menebalkan membranesynovial (Black & Hawks).Hipertropi synovial menyebabkan aliran darah tersumbat dan lebih lanjutmanstimulasi nekrosis sel dan respon inflamasi. Sinovium yang menebalmenjadi ditutup oleh jaringan granular inflamasi yang disebut panus. Panus dapat menyebar keseluruh sendi sehingga menyebabkan inflamasi danpembentukan jaringan parut lebih lanjut. Proses ini secara lambat akan merusaktulang dan menimbulkan nyeri hebat deformitas (Corwin, 2009).Pannus menutupi kartilago dan kemudian masuk ke tulang sub chondria.Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisikartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis. Tingkat erosi dari kartilagomenentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Bila kerusakan kartilago sangat luasmaka terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atautulang bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendondan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi daripersendian. Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosissetempat.

74

75 E. Manifestasi Klinik Ada beberapa gambaran/manifestasi klinik yang lazim ditemukan pada penderitaReumatik. Gambaran klinik ini tidak harus muncul sekaligus pada saat yangbersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinik yang sangatbervariasi diantaranya meliputi :1. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, kurang nafsu makan, berat badanmenurun dan demam. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya.2. Poliartritis simetris (peradangan sendi pada sisi kiri dan kanan) terutamapada sendi perifer, termasuk sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidakmelibatkan sendi-sendi antara jari-jari tangan dan kaki. Hampir semua sendidiartrodial (sendi yang dapat digerakan dengan bebas) dapat terserang.3. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam, dapat bersifat umum tetapiterutama menyerang sendisendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuansendi pada osteoartritis (peradangan tulang dan sendi), yang biasanya hanyaberlangsung selama beberapa menit dan selama kurang dari 1 jam.4. Artritis erosif merupakan merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaranradiologik. Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan pengikisan ditepitulang .5. Deformitas merupakan kerusakan dari struktur penunjang sendi denganperjalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari, pergeseran sendipada tulang telapak tangan dan jari, deformitas boutonniere dan leher angsaadalah beberapa deformitas tangan yang sering dijumpai pada penderita. .Pada kaki terdapat tonjolan kaput metatarsal yang timbul sekunder darisubluksasi metatarsal. Sendisendi yang besar juga dapat terserang danmengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukangerakan ekstensi.6. Nodula-nodula reumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan padasekitar sepertiga orang dewasa penderita rematik. Lokasi yang paling seringdari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku) atau di sepanjangpermukaan ekstensor dari lengan, walaupun demikian tonjolan) ini dapat juga 76timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya nodula-nodula ini biasanyamerupakan petunjuk suatu penyakit yang aktif dan lebih berat.7. Manifestasi ekstra-artikular (diluar sendi): reumatik juga dapat menyerangorgan-organ lain diluar sendi. Seperti mata: Kerato konjungtivitis siccs yangmerupakan sindrom Sjgren, sistem cardiovaskuler dapat menyerupaiperikarditis konstriktif yang berat, lesi inflamatif yang menyerupai nodulrheumatoid dapat dijumpai pada myocardium dan katup jantung, lesi ini dapatmenyebabkan disfungsi katup, fenomena embolissasi, gangguan konduksidan kardiomiopati (Price & Wilson 1995).Bila ditinjau dari stadium, maka pada RA terdapat tiga stadium yaitu:a. Stadium sinovitisPada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandaiadanya hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat istirahat maupunsaat bergerak, bengkak, dan kekakuan.b. Stadium destruksiPada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi jugapada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon. Selain tandadan gejala tersebut diatasterjadi pula perubahan bentuk pada tangan yaitubentuk jari swan-neck .c. Stadium deformitasPada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali,deformitas dan anggguan fungsi secara menetap. Perubahan pada sendidiawali adanya sinovitis, berlanjut pada pembentukan pannus, ankilosisfibrosa, dan terakhir ankilosis tulang. F.

Diagnosis1. Anamnesis a. Riwayat penyakit, diperlukan riwayat penyakit yang deskriptif dankronologis, tanyakan faktor yang memperberat penyakit dan hasilpengobatan untuk mengurangi keluhan penyakit.