Anda di halaman 1dari 9

1

RINGKASAN Teknologi senjata nuklir merupakan sebuah penemuan yang cukup fenomenal dalam sejarah umat manusia, dunai menjadi saksi bagaiamana Amerika Serikat dengan senjata nuklirnya berhasil meluluh lantahkan Hiroshima dan Nagasaki yang kemudian berhasil menghentikan Perang Dunia II. Pada perang dingin, perkembangan jumlah senjata nuklir meningkat pesat, terutama di pihak Amerika Serikat dan Uni Soviet. Meskipun perang senjata nuklir tidak terjadi, namun saat saat itu merupakan sebuah masa yang mencekam dibawah bayang bayang kehancuran dunia oleh nuklir. Seiring dengan perkembangan zaman yang ada, senjata nuklir malah menjadi sebuah arsenal militer yang wajib dimiliki oleh negara negara besar. Meskipun dampak yang disebabkan seudah cukup jelas dengan berbagai percobaan yang dilakukan, namun negara negara besar tetap bersikeras untuk memproduksinya. Kemudian, munculah NPT (Non-Proliferation Treaty) yang hanya memperbolehkan negara negara dewan kemanan saja yang memiliki senjata nuklir. Namun pada pelaksanaanya, 4 negara lain yang tidak termasuk kedalam dewan keamanan ikut memproduksi senjata nuklir. Hal ini kemudian secara tidak langsung mengancam negara negara lain di dunia. Dengan banyaknya jumlah sejata nuklir yang ada, perbedaan ideologi, perebutan pengaruh, kepentingan ekonomi, dan lain-lain, perang seolah olah sangat mungkin untuk terjadi, dan senjata nuklir yang ada akan sangat mungkin digunakan. Ancaman inilah yang kemudian berusaha untuk dihilangkan oleh ASEAN di wilayahnya. ASEAN merupakan wilayah yang sangat strategis bagi setiap kegiatan ekonomi, tidak jarang hal ini kemudian mengundang pihak luar untuk mendapatkan pengaruh yang besar di ASEAN. Hal inilah yang kemudian berusaha untuk dihindari oleh ASEAN dengan menajdi zona yang netral dan aman. Selain itu, seringkali perebutan pengaruh yang terjadi melibatkan kekuatan militer yang ada, sehingga, nuklir menjadi sebuah sarana yang efektif dalam mendapatkan pengaruh sebuah negara ataupun sebuah regional. Maka dari itu, untuk menghindari ancmaan nuklir yang ada, ASEAN memutuskan untuk menjadi sebuah negara bebas senjata nuklir. ZOPFAN dan SEANWFZ merupakan 2 instrumen yang digunakan oleh ASEAN dalam rangak mendeklarasikan kenetralannya dalam melakukan hubungan luar negeri dengan negara lain, sekaligus dalam rangka menunjukan bahwa wilayah ASEAN haruslah bebas dari ancaman dan pengaruh senjata nuklir dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia. Dalam pelaksanannya, SEANWFZ sudah ditanda tangai oleh anggota ASEAN, namun belum diakui oleh negara-negara dewan keamanan sebagai salah satu stakeholder dalam permasalahan kebebasan wilayah ASEAN dari pengaruh dan ancaman nuklir. Kerja sama yang intesif antar sesama anggota ASEAN merupakan salah satu cara agar kelangsungan ZOPFAN dan SEANWFZ bisa terlaksana dengan maksimal.

Bukan hanya dalam bidang kemanan, namun juga dalam segala kegiatan yang bisa memupuk kekompakan negara negara ASEAN. Selain itu, peranan pihak luar, khususnya negara negara anggota dewan keamanan dalam mewujudkan SEANWFZ juga bisa dirangkul dengan melakukan kerjasama yang tidak perlu dilandasi atas rasa takut ataupun segan terhadap arsenal nuklir yang dimilikinya. PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat pada masa Perang Dunia II telah banyak memberikan sumbangsihnya yang cukup besar dalam bidang pengembangan persenjataan militer negara-negara di dunia. Tidak dapat dipungkiri, bahwa kemenangan negara-negara peserta Perang Dunia II juga tidak lepas dari peran para ilmuan dalam mengembangakan persenjataan militer negaranya. Salah satu penemuan di bidang persenjataan militer yang paling berpengaruh saat itu dan masih dianggap sebagai sebuah senjata terhebat hingga saat ini adalah senjata nuklir. Senjata yang hanya pernah digunakan sebanyak 2 kali dalam peperangan yang terjadi di muka bumi oleh Amerika Serikat ini mempunyai daya pengahancur yang sangat besar. Hingga banyak kalangan yang menganggapnya sebagai sebuah ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia di berbagai dunia. Senjata nuklir sendiri pada awalnya belum mempunyai definisi yang jelas tentang senjata apa saja yang bisa dikategorikan sebagai sebuah senjata nuklir, hingga tahun 1985, dalam South South Pacific Nuclear Free Zone Treaty (Perjanjian Rarotonga) Dan perjanian pada tahun 1996, African Nuclear-Weapon-Free Zone Treaty (Perjnajian Pelindaba) yang mendefinisikan senjata nuklir sebagai : nuclear explosive device means any nuclear weapon or other explosive device capable of releasing nuclear energy, irrespective of the purpose for which it could be used1. Perkembangan senjata nuklir sendiri berkembang pesat pada masa antara Perang Dunia I dengan Perang Dunia II. Pada saat itu, ilmuan-ilmuan seperti Leo Szilard, Edward Teller dan Eugene Wigner adalah orang orang yang menjadi penggagas dalam pengembangan senjata nuklir di Amerika Serikat2. Bersama dengan Albert Enistein, ilmuan paling berpengaruh di Amerika saat itu, mereka menyadari bahwa jerman, sebagai musuh yang cukup berbahaya bagi Amerika Serikat mempunyai potensi yang cukup besar dalam mengembangkan senjata nuklir pada saat itu. Hal inilah yang kemudian menyebabkan kelompok ilmuan tadi menuliskan
1 2

Steve Fetter, The technical Dimension: Stockpile Declarations (sipri.org) h:133 Fakhrul Arief Siregar, Implementasi Dan Implikasi Terhadap Pemberlakuan Zona Bebas Senjata Nuklir Di ASEAN Pada Umumnya Dan Indonesia Pada Khususnya (Universitas Sumatera Utara, 2010) h: 20

suratnya yang berisi tentang pemberitahuan perkambangan persenjataan militer jerman kepada presiden Amerika saat itu, Franklin D. Roosevelt pada 2 agustus 19393. Sejak saat itu, pengembangan senjata nuklir di Amerika Serikat menjadi hal yang sangat diperhatikan oleh pemerintah. Hingga akhirnya pada akhir Perang Dunia, Amerika akhirnya menjatuhkan 2 buah bom nuklir yang bernama Fat Man dan Little Boy di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Pengeboman ini menurut banyak pihak mejadi akhir dari perang dunia II. Sekitar 220.000 orang tewas dalam pengeboman yang dilakukan Amerika Serikat dan masih bertambah lagi pada tahun-tahun berikutnya akibat radiasi yang ditimbulkannya. Belum lagi dampak lingkungan yang rusak akibat radiasi tidak akan bisa produktif lagi. Sebagai contoh, Chernobyl merupakan salah satu kawasan yang tidak bisa ditinggali lagi akibat radiasinya yang begitu besar saat kecelakaan nuklir terjadi di sana. Dengan dampak yang begitu besar yang diakibakan oleh senjata nuklir, senjata tersebut kini berubah menjadi ancaman yang nyata adanya bagi kelangsungan hidup manusia di negara manapun. Meskipun perjanjian Non-Proliferation Treaty yang memebahas tentang pelarangan senjata nuklir telah disepakati oleh masing masing negara, namun senjata nuklir yang dimiliki oleh negara-negara tertentu masih menajdi ancaman nyata bagi negara-negara lain, termasuk ASEAN di dalamnya. Meskipun bagi beberapa negara nuklir dinilai sebagai senjata yang bersifat defensif, dalam artian, bahwa nuklir sebenarnya hanya sebagai alat penyeimbang kekuatan yang ada diantara negara-negara super power di dunia, sehingga menurut mereka yang berfikir demikian, nuklir tidak akan pernah digunakan untuk menyerang, karena nuklir pada masa ini sama sekali tidak bersifat ofensif. Namun, pada kenyataannya, kemungkinan untuk digunakannya senjata nuklir dalam peperangan masih ada. Sehingga ancaman ini semakin nyata adanya. Oleh karena Itulah, ASEAN kemudian mengajukan dirinya sebagai wilayah bebas nuklir. Dengan hal ini, diharapakan ASEAN bisa menjadi sebuah kawasan yang aman dari ancaman senjata nuklir dan ikut dalam mencipakan perdamaian dunia. Tujuan Karya tulis ini bertujuan untuk merumuskan konsep ASEAN yang netral dan damai dengan terfokus pada perhatian negara-negara ASEAN terhadap acaman senjata nuklir melalui dua instrumennya, yaitu ZOPFAN dan SEANWFZ. Manfaat
3

D.W Hafemeister , A Chronology of the Nuclear Arms Race (California Polytechnic University) h: 297

Manfaat karya tulis ini adalah untuk pengembangan pengetahuan masyarakat luas mengenai ancaman nuklir di dunia pada umumnya dan ASEAN khususnya, serta memberikan pengetahuan secara umum bagaiama negara negara ASEAN menghadapinya. Selain itu, diharapkan juga bisa menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk menentukan sikapnya dalam isu yang dibahas dalam tulisan ini. GAGASAN Ancaman Senjata Nuklir Dewasa Ini Meskipun hanya 2 kali digunakan dalam peperangan, dan kini sudah banyak negara yang berkomitmen untuk tidak mengembangakan senjata nuklir di dunia, tapi dalam perkembangan dunia yang semakin pesat dewasa ini, terutama dalam bidang pengetahuan dan teknologi, pengembangan senjata nuklir yang dilakukan oleh negara negara besar seolah-olah membayangi negara-negara lainnya dengan anacaman kemusnahan massal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Percobaan-percobaan senjata nuklir yang dilakukan seolah-olah menjadi bayangan akan kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh senjata nuklir. Hiroshima dan Nagasaki sudah cukup menerima perasaan hancur dan kondisi yang luluh lantak akibat serangan bom nuklir. Meskipun peristiwa ini telah diketahui oleh bangsa-bangsa di dunia, namun pengembangan senjata nuklir yang ada bukan malah menjadi hal yang dihindari, namun malah menjadi hal yang dioptimalkan pengembangannya. Padahal mereka sadar betul kerusakan apa yang bisa ditimbulkannya. Ada 9 Negara yang telah diketahui memiliki senjata nuklir, 5 diantaranya memang dinyatakan boleh memiliki senajata nuklir oleh NPT (Non-Proliferation Treaty). 5 negara tersebut adalah Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Russia, Cina. sementara 4 negara lainnya tidak diperbolehkan memiliki senjata nuklir oleh NPT, namun mereka memilikinya4. 4 negara tersebut adalah India, Pakistan, Korea Utara, dan Israel. Dengan dimilikinya senjata nuklir oleh negara-negara tersebut, para pemimpinnya juga telah mengkonfirmasi bahwa penggunaaan senjata nuklir dalam rangka merespon ancaman yang mungkin terjadi di negaranya sangatlah dimungkinkan. Selain itu, perbedaan ideology antara negara-negara pemilik senjata nuklir juga menjadi ancaman tersendiri bagi negara-negara disekitarnya. Perang dingin merupakan sebuah bukti bagaimana ideologi bisa saja menimbulkan sebuah perang dalam skala besar (meskipun belum sempat terjadi).

George Bunn, The Nuclear Nonproliferation Treaty: History and Current Problems (www.armscontrol.org, 2003) h: 1 - 3

ASEAN, sebagai sebuah kawasan yang sangat strategis, baik sebagai pasar maupun sebagai arena kegiatan ekonomi memiliki peranan yang vital dalam perekonomian dunia. Dengan kondisi seperti ini, perebutan pengaruh antara negara negara super power yang memiliki persenjataan nuklir sangat memungkinkan terjadi di wilayah ASEAN. Dampak dari perebutan pengaruh yang terjadi tentunya akan mengurangi stabilitas keamanan yang ada di regional ASEAN. Ancaman sangat mungkin datang dari negara-negara pemilik senjata nuklir tersebut dalam rangka memperluas hegemoninya di dunia. Oleh karena itu, kemanan kolektif di regional ASEAN sangatlah diperlukan. Dengan semakin eratnya hubungan yang ada di antara negara-negara ASEAN dalam berbagai aspek, kemaman regional juga kemudian muncul sebagai sebuah isu yang harus diperhatikan dalam kelangsungan hubungan yang aman dan harmonis dalan regional ASEAN. Maka kemudian ASEAN mengadakan sebuah kerja sama dalam rangka membangun stabilitas kemanan di regional ASEAN. ZOPFAN dan SEANWFZ Dengan kecenderungan untuk membendung ancaman yang mungkin datang dari luar, maka timbulah kesadaran bahwa kemanan dan memeliharaan stabilitas regional merupakan sebuah kepentingan bersama negara-negara yang terlibat di dalamnya. Kemudian, kesamaan kepentingan dalam menjaga stabilitas regional ASEAN ini muncul dalam sebuah konsep Zone of Peace, Freedom, and Neutraly (ZOPFAN) yang muncul berdasarkan deklarasi di Kuala Lumpur pada tahun 19715. Deklarasi ZOPFAN terdiri dari dua bagian pokok, pendahuluan dan dua paragraf pokok. Paragraf pertama menyatakan bahwa negara-negara ASEAN bertekad menjamin pengakuan dan penghormatan atas Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai, bebas dan netral terlepas dari campur tangan kekuatan luar. Paragraf kedua menyatakan keinginan negara-negara Asia Tenggara memperluas bidang kejasama untuk memupuk kekuatan, solidaritas dan hubungan yang lebih erat dengan sesama negara kawasan. Dengan memperhatikan dua pokok tersebut, ASEAN telah melakukan sebuah langkah dalam rangka menjaga stabilitas regional dari campur tangan pihak luar terhadap keberlangsungan hidup negara-negara regional. Sehingga perebutan pengaruh negara-negara pemegang kekuatan nuklir di dunia diharapkan bisa dibendung dengan adanya ZOPFAN dan tidak perlu terjadinya gangguan keamanan yang terjadi di regional hanya karena perebutan pengaruh yang terjadi dari luar. Ancaman nuklir dari negara-negara yang berebut pengaruh juga bisa diredam dengan adanya ZOPFAN ini.

Drs. Syamsu Suryadi,et al, Prospek didirikannya SEANWFZ, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang, 1990, hal 2.

Namun, meskipun ZOPFAN telah ditandatangani, masih ada beberapa negara di ASEAN yang masih bergantung dan menganggap bahwa kekuatan luar juga penting untuk dilibatkan dalam kegiatan regional ASEAN. Negara-negara tersebut diantaranya adalah Thailand dan Singapura. Dalam pertemuan Menlu ASEAN ke-16 pada bulan Juni 1983, Indonesia melalui MENLU RI Mochtar Kusumaatmadja, mengusulkan konsep Nucleur Weapon Free Zone (SEANWFZ) sebagai elemen yang melengkapi konsep ZOPFAN. SEANWFZ sendiri merupakan sebuah pernjanjian yang mengukuhkan ASEAN sebagai kawasan yang bebas dari senjata nuklir. Maka pada tahun 1983, ASEAN mengembangkan konsep Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone (SEANWFZ) yang dihasilkan di Bangkok Thailand sebagai komponen dari ZOPFAN. SEANWFZ merupakan sebuah sumbangan ASEAN melalui kerjasama regional bagi dunia internasional untuk mengurangi senjata nuklir. Selain itu SEANWFZ ini merupakan tahap awal menuju zona damai yang lebih luas seperti yang dikehendaki oleh ZOPFAN. Adapun kewajiban kewajiban negara negara ASEAN adalam SEANWFZ adalah Negara-negara anggota berkewajiban untuk tidak mengembangkan, memproduksi, atapun membeli, mempunyai atau menguasai senjata nuklir, pangkalan senjata nuklir, ataupun melakukan uji coba atau menggunakan senjata nuklir dimanapun juga baik di dalam maupun diluar kawasan Asia Tenggara; tidak meminta ataupun menerima bantuan berkenan dengan nuklir; tidak melakukan segala suatu kegiatan pemberian bantuan ataupun menyokong pembuatan ataupun pengambil alihan peralatan nuklir apapun juga oleh negara manapun juga; tidak menyediakan sumber daya atau material khusus ataupun perlengkapan kepada negara persenjataan non nuklir dimanapun juga, atapun negara persenjataan nuklir terkecuali negara tersebut telah memenuhi perjanjian keselamatan dengan the International Atomic Energy Agency; untuk mencegah operasi atau penggelaran senjata nuklir di wilayahwilayah anggotanya dan mencegah pula dilakukannya uji coba nuklir; serta mencegah wilayah laut kawasan Asia Tenggara dari pembuangan sampah radioaktif dan ataupun bahan-bahan radioaktif lainnya oleh siapapun juga. Pihak Pihak yang Dapat Berkontribusi Dalam Pengimplementasian ZOPFAN dan SEANWFZ Negara-negara anggota ASEAN tentunya menjadi subjek utama dalam kategori pihak yang bisa mengimplementasikan ZOPFAN dan SEANWFZ. Hal ini tentunya karena stabilitas regional bisa terjaga terutama karena komitmnen anggota regional tersebut dalam melaksanakan kesepakatan yang ada. Dalam hal ini adalah kawasan bebas nuklir ASEAN. Karena tanpa adanya komitmen yang bulat dari setiap anggota ASEAN, SEANWFZ tidak akan bisa tercipta. Sehingga, SEANWFZ membutuhkan kerjasama dalam berbagai hal yang tidak hanya menyangkut kemanan, tapi segala hal yang bsia membangun kekompakan negara negara ASEAN dalam menghadapi pengruh pengaruh dari luar.

Selain negara-negara anggota ASEAN, negara-negara dewan kemanan selaku pemilik resmi senjata nuklir di dunia juga memiliki peranan penting dalam terciptanya SEANWFZ. Dalam berita yang dimuat di Antara, negara-negara dewan kemanan sudah memberikan komitmennya untuk tidak menyentuh kawasan ASEAN dengan senjata nuklir tanpa alasan yang mengancam. Keikutsertaan negara-negara pemilik senjata nuklir dalam SEANWFZ memiliki peranan yang sangat penting dalam terlaksananya sebuah regional yang bebas senjata nuklir. Karena bagaiamanapun, negara-negara tersebut merupakan negara-negara yang paling mungkin untuk menggunakan senjata nuklirnya secara legal dalam melakukan perebutan pengaruh di wilayah ASEAN. Langkah Langakh Strategis Implementasi Gagasan Sejauh ini, langkah langkah yang sudah dilakukan oleh negara-negara ASEAN hanya baru sebatas penandatanganan SEANWFZ oleh negara-negara ASEAN selaku pihak yang berkepentingan dalam terwujdunya kawasan bebas senjata nuklir di ASEAN. KESIMPULAN Inti gagasan Kawasan Bebas Nuklir di ASEAN merupakan salah satu langkah ASEAN dalam menciptakan perdamaian dunia lewat perdamian regional. Kawasan bebas nuklir di ASEAN seharusnya didukung dengan adanya perhatian yang nyata dan intesif dari masing-masing negara dalam menerapkan kegiatannya yang mengarah kepada prinsip prinsip ZOPFAN dan SEANWFZ. Peningkatan kerjsama dalam berbagai bidang merupakan sebuah factor yang menyokong terciptanya kekompakan yang akan mendukung terciptanya sebuah kemandirian regional, sehingga pengaruh pengaruh luar yang berdampak pada stabilitas dan kemanan regional bisa dihindari. Teknik Implementasi Gagasan Langkah langkah berikut merupakan langkah langkah yang bisa dilakukan untuk mencapai terwujdunya ASEAN yang netral dan bebas dari ancaman dan kepemilikan senjata nuklir. 1. Penandatanganan SEANWFZ oleh negara-negara dewan kemanan selaku pihak yang cukup berpengaruh dalam terciptanya kawasan bebas senjata nuklir di ASEAN 2. Komitmen yang kuat dari para penandatanganan SEANWFZ dalam melaksanakan prinsip-prinsip kawasan bebas senjata nuklir di ASEAN 3. Peningkatan kerja sama dalam berbagai bidang antara negara-negara ASEAN dalam rangka meningktakan kekompakan untuk membendung

masuknya pengaruh-pengaruh yang bisa merusak terciptanya SEANWFZ dan ZOPFAN 4. Peningkatna kerja sama dengan negara negara pemegang senjata nuklir dalam rangka menunjukan bahwa kerja sama yang positif bisa dilakukan tanpa harus menggunakan pengaruhnya yang berkitan dengan kepemilikan senjata nuklir 5. Pembentukan badan badan yang mengurus secara langsung kemanan di wilayah ASEAN yang merupakan salah satu bentuk dari kerja sama antar negara di ASEAN Prediksi Keberhasilan Gagasan Kawasan bebas nuklir merupakan sebuah kondisi yang diharapakan oleh semua negara-negara ASEAN. Maka dari itu, semakin konsiten negara negara regional ASEAN dalam menjalankan kehidupan bernegara dan regional nya, maka akan semakin besar pula kemungkinan terwujudnya kawasan bebas nuklir yang kuat dan berkesinambungan. Maka dari itu, semua hasil yang ada sangat bergantung terutama kepada negara-negara ASEAN sendiri, dan juga komitmen negara-negara pemegang senjata nuklir dalam menghormati SEANWFZ dan ZOPFAN.

DAFTAR PUSTAKA FETTER, STEVE (2010). The technical Dimension: Stockpile Declarations , sipri.org SIREGAR, FAKHRUL ARIEF (2010) Implementasi Dan Implikasi Terhadap Pemberlakuan Zona Bebas Senjata Nuklir Di ASEAN Pada Umumnya Dan Indonesia Pada Khususnya , Universitas Sumatera Utara HAFEMEISTER. D.W (2000) A Chronology of the Nuclear Arms Race. California Polytechnic University BUNN, GEORGE (2003) The Nuclear Nonproliferation Treaty: History and Current Problems ,www.armscontrol.org, 2003 SURYADI, SYAMSU,et al (1990) Prospek didirikannya SEANWFZ, Universitas Hasanuddin: Ujung Pandang DE JONG, DEREK; FROKLAGE, RAYMOND (2010) Regional Nuclear WeaponFree Zones. Canadian Centre For Treaty Compliance