Anda di halaman 1dari 13

Hendik Budi Yuwono (3J/12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Korupsi sudah sering kita dengar saat ini, baik di media masa maupun media elektronik. Korupsi berada di sekitar kita, bahkan mungkin kita tidak menyadarinya. Korupsi bisa terjadi mulai dari hal yang sangat kecil dan sepele sampai dengan hal yang besar. Korupsi juga bisa terjadi di rumah, di sekolah, di masyarakat, maupun di insatansi tertinggi serta dalam pemerintahan. Mereka yang melakukan korupsi terkadang mengangap remeh hal yang dilakukan itu. Hal ini sangat menghawatirkan, sebab bagaimana pun, apabila suatu organisasi dibangun dari korupsi akan dapat merusaknya. Maraknya praktek korupsi di Indonesia tampaknya sudah sangat parah. Korupsi terlanjur kuat, tak terkendali, dan menjadi sistem tersendiri yang mengakar di Indonesia. Orang yang awalnya baik, dapat dengan mudah berubah menjadi korup. Hal ini menyebabkan kepercayaan publik terhadap instansi pemerintah menurun drastis. Celah hukum dan pengawasan yang lemah sering dianggap sebagai penyebab utama terjadinya korupsi. Namun demikian sebenarnya sikap individu dan masyarakat yang menganggap remeh praktek korupsi merupakan pendorong yang sangat kuat untuk melakukan tindakan korupsi. Sering kali oknum pejabat mau menerima pemberian dari orang lain berupa makanan atau oleh-oleh. Memang hal itu sangatlah sepele, namun apabila dibiarkan dan diremehkan secara terus menerus, nantinya pemberian tersebut berubah menjadi parcel, uang saku, atau lebih besar lagi dan jadilah tindakan penyuapan. Kebiasaan-kebiasaan seperti inilah yang menyebabkan tindakan korupsi tumbuh subur di Indonesia. Nampaknya pengajaran atau pengetahuan mengenai penanggulangan korupsi ini kurang ditekankan dalam pendidikan di Indonesia. Atau bisa jadi metode yang digunakan kurang tepat. Hal ini membuat kita sering menganggap remeh bahkan malas untuk mempelajari penanggulangan korupsi, karena kurangnya motivasi pada diri sendiri, sehingga sering sekali berasumsi untuk apa mempelajari padahal itu sangat penting untuk diketahui agar tahu hak dan kewajiban kita untuk Negara ini. Oleh karena itu penulis merasa perlu membuat makalah berjudul Pemberantasan Korupsi Di Indonesia ini.

Hendik Budi Yuwono (3J/12)

B. Rumusan Masalah
1. 2. 3. Apa penyebab seseorang melakukan korupsi? Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari tindakan korupsi? Bagaimana langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk memberantas korupsi?

A. Tujuan
1. Untuk mengetahui penyebab seseorang melakukan tindakan korupsi. 2. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari tindakan korupsi. 3. Untuk mengetahui langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk memberantas korupsi.

Hendik Budi Yuwono (3J/12)

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Korupsi
Korupsi berasal dari bahasa latin corupto cartumpen yang berarti; busuk atau rusak. Korupsi ialah prilaku buruk yang dilakukan pejabat publik secara tadak wajar atau tidak legal untuk memparkaya diri sendiri. Dari segi hukum korupsi mempunyai arti: a. b. c. d. Melawan hukum Menyalahgunakan kekuasaan Memperkaya diri Merugikan keuangan Negara

Peraturan perundang-undangan yang khusus mengatur tentang tindak pidana korupsi sudah ada. Di Indonesia sendiri, undang-undang tentang tindak pidana korupsi sudah 4 (empat) kali mengalami perubahan. Adapun peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang korupsi, yakni : 1. Undang-undang nomor 24 Tahun 1960 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, 2. Undang-undang nomor 3 Tahun 1971 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, 3. Undang-undang nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, 4. Undang-undang nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undangundang pemberantasan tindak pidana korupsi. Berdasarkan undang-undang bahwa korupsi diartikan: 1. Barang siapa dengan melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan yang secara langsung merugikan keuangan Negara dan atau perekonomian Negara dan atau perekonomian Negara atau diketahui patut disangka olehnya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan Negara (Pasal 2);

Hendik Budi Yuwono (3J/12) 2. Barang siapa dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu badan menyalah gunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan secara langsung dapat merugikan Negara atau perekonomian Negara (Pasal 3). 3. Barang siapa melakukan kejahatan yang tercantum dalam pasal 209, 210, 387, 388, 415, 416, 417, 418, 419, 420, 425, 435 KUHP. Baharuddin Lopa mengutip pendapat dari David M. Chalmers, menguraikan arti istilah korupsi dalam berbagai bidang, yakni yang menyangkut masalah penyuapan, yang berhubungan dengan manipulasi di bidang ekonomi, dan yang menyangkut bidang kepentingan umum. (Evi Hartanti, S.H., 2005:9). Kemudian pengertian korupsi menurut Blacks Law Dictionary, korupsi adalah perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak resmi dengan hak-hak dari pihak lain secara salah menggunakan jabatannya atau karakternya untuk mendapatkan suatu keuntungan untuk dirinya sendiri atau orang lain, berlawanan dengan kewajibannya dan hak-hak dari pihak lain. Pengertian korupsi kini lebih ditekankan pada pembuatan yang merugikan kepentingan publik atau masyarakat luas atau kepentingan pribadi atau golongan. Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) Korupsi yaitu menyelewengkan kewajiban yang bukan hak kita. Kolusi ialah perbuatan yang jujur, misalnya memberikan pelicin agar kerja mereka lancar, namun memberikannya secara sembunyi-senbunyi. Nepotisme adalah mendahulukan orang dalam atau keluarga dalam menempati suatu jabatan. Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, di antaranya: memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan); penggelapan dalam jabatan; pemerasan dalam jabatan; ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara); menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).

Hendik Budi Yuwono (3J/12)

B. Sebab Sebab Terjadinya Korupsi


Perlu kita telaah kembali apa yang disebut korupsi dan faktor penyebab korupsi itu sendiri. Secara umum korupsi itu adalah setiap penyalahgunaan, artinya dalam bentuk jabatan, uang, kewenangan, waktu, dan lain-lain bila disalahgunakan oleh seseorang yang berkewenangan memegang amanah dan tanggung jawab tetapi ia justru menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompoknya. Seperti itulah korupsi, begitu menggoda untuk dilakukan dan cenderung mudah untuk dilakukan bahkan terkadang pelakunya tidak sadar telah melakukan korupsi. Hal itu dapat terjadi bisa karena pelakunya tidak tahu, atau bisa juga karena korupsi telah membudaya di lingkungannya. Lantas pertanyaannya adalah, apa yang menjadi penyebab terjadinya korupsi yang telah membudaya ini? Merican (1971) menyatakan sebab-sebab terjadinya korupsi adalah sebagai berikut : a. Peninggalan pemerintahan kolonial. b. Kemiskinan dan ketidaksamaan. c. Gaji yang rendah. d. Persepsi yang populer. e. Pengaturan yang bertele-tele. f. Pengetahuan yang tidak cukup dari bidangnya. Di sisi lain Ainan (1982) menyebutkan beberapa sebab terjadinya korupsi antara lain: a. Perumusan perundang-undangan yang kurang sempurna. b. Administrasi yang lamban, mahal, dan tidak luwes. c. Tradisi untuk menambah penghasilan yang kurang dari pejabat pemerintah dengan upeti atau suap. d. Berbagai macam korupsi dianggap biasa, tidak dianggap bertentangan dengan moral, sehingga orang berlomba untuk korupsi. e. Di India, misalnya menyuap jarang dikutuk selama menyuap tidak dapat dihindarkan. f. Menurut kebudayaannya, orang Nigeria Tidak dapat menolak suapan dan korupsi, kecuali mengganggap telah berlebihan harta dan kekayaannya. g. Manakala orang tidak menghargai aturan-aturan resmi dan tujuan organisasi pemerintah, mengapa orang harus mempersoalkan korupsi.

Hendik Budi Yuwono (3J/12) Ada beberapa teori yang mengelaborasi sebab-sebab terjadinya kejahatan (korupsi). Teori Anomie dari Emile Durkheim memaparkan bahwa anomie terjadi karena hancurnya keteraturan sosial sebagai hilangnya patokan-patokan dan nilai-nilai. Dekadensi moral mengakibatkan koruptor merasa bahwa korupsi itu lumrah karena banyak yang telah melakukannya. Ada pula teori Psikoanalisis dari Sigmun Freud, yang menyatakan bahwa perilaku kejahatan didorong oleh hati nurani yang lemah hingga tak mampu menahan kuatnya desakan nafsu. Nafsu untuk memiliki harta, kekayaaan dan kemewahan, meskipun diperoleh dari cara-cara yang tidak halal. Lain halnya dengan teori radikal, yang berpendapat bahwa kapitalisme merupakan kausa kriminalitas. Analisa yang lebih detil lagi tentang penyebab korupsi diutarakan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dalam bukunya berjudul "Strategi Pemberantasan Korupsi," antara lain : 1) Aspek Individu Pelaku a. Sifat tamak manusia Kemungkinan orang melakukan korupsi bukan karena orangnya miskin atau penghasilan tak cukup. Kemungkinan orang tersebut sudah cukup kaya, tetapi masih punya hasrat besar untuk memperkaya diri. Unsur penyebab korupsi pada pelaku semacam itu datang dari dalam diri sendiri, yaitu sifat tamak dan rakus. b. Moral yang kurang kuat Seorang yang moralnya tidak kuat cenderung mudah tergoda untuk melakukan korupsi. c. Penghasilan yang kurang mencukup Penghasilan seorang pegawai dari suatu pekerjaan selayaknya memenuhi kebutuhan hidup yang wajar. Bila hal itu tidak terjadi maka seseorang akan berusaha memenuhinya dengan berbagai cara. Tetapi bila segala upaya dilakukan ternyata sulit didapatkan, hal ini yang akan memberi peluang besar untuk melakukan tindak korupsi, baik itu korupsi waktu, tenaga. d. Kebutuhan hidup yang mendesak Keterdesakan itu membuka ruang bagi seseorang untuk mengambil jalan pintas diantaranya dengan melakukan korupsi. e. Gaya hidup yang konsumtif Kehidupan di kota-kota besar acapkali mendoronggaya hidup seseong konsumtif. Perilaku konsumtif semacam ini bila tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai akan membuka peluang seseorang untuk melakukan

Hendik Budi Yuwono (3J/12) berbagai tindakan untuk memenuhi hajatnya. Salah satu kemungkinan tindakan itu adalah dengan korupsi. f. Malas atau tidak mau kerja Sebagian orang ingin mendapatkan hasil dari sebuah pekerjaan tanpa keluar keringat alias malas bekerja. Sifat semacam ini akan potensial melakukan tindakan apapun dengan cara-cara mudah dan cepat, diantaranya melakukan korupsi. g. Ajaran agama yang kurang diterapkan Indonesia dikenal sebagai bangsa religius yang tentu akan melarang tindak korupsi dalam bentuk apapun. Kenyataan di lapangan menunjukkan bila korupsi masih berjalan subur di tengah masyarakat. Situasi paradok ini menandakan bahwa ajaran agama kurang diterapkan dalam kehidupan. 2) Aspek Organisasi a. Kurang adanya sikap keteladanan pimpinan Posisi pemimpin dalam suatu lembaga formal maupun informal mempunyai pengaruh penting bagi bawahannya. Bila pemimpin tidak bisa memberi keteladanan yang baik di hadapan bawahannya, misalnya berbuat korupsi, maka kemungkinan besar bawahnya akan mengambil kesempatan yang sama dengan atasannya. b. Tidak adanya kultur organisasi yang benar Apabila kultur organisasi tidak dikelola dengan baik, akan menimbulkan berbagai situasi tidak kondusif mewarnai kehidupan organisasi. Pada posisi demikian perbuatan negatif, seperti korupsi memiliki peluang untuk terjadi. c. Sistim akuntabilitas yang benar di instansi pemerintah yang kurang memadai Pada institusi pemerintahan yang belum merumuskan dengan jelas visi dan misi yang diembannya dan juga belum merumuskan dengan tujuan dan sasaran yang harus dicapai dalam periode tertentu, menyebabkan instansi pemerintah sulit dilakukan penilaian apakah instansi tersebut berhasil mencapai sasaranya atau tidak. Akibat lebih lanjut adalah kurangnya perhatian pada efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki. Keadaan ini memunculkan situasi organisasi yang kondusif untuk praktik korupsi. d. Kelemahan sistim pengendalian manajemen Pengendalian manajemen merupakan salah satu syarat bagi tindak pelanggaran korupsi dalam sebuah organisasi. Semakin longgar/lemah pengendalian

Hendik Budi Yuwono (3J/12) manajemen sebuah organisasi akan semakin terbuka perbuatan tindak korupsi anggota atau pegawai di dalamnya. e. Manajemen cenderung menutupi korupsi di dalam organisasi Pada umumnya jajaran manajemen selalu menutupi tindak korupsi yang dilakukan oleh segelintir oknum dalam organisasi. Akibat sifat tertutup ini pelanggaran korupsi justru terus berjalan dengan berbagai bentuk. 3) Aspek Tempat Individu dan Organisasi Berada a. Nilai-nilai di masyarakat kondusif untuk terjadinya korupsi Korupsi bisa ditimbulkan oleh budaya masyarakat. Misalnya, masyarakat menghargai seseorang karena kekayaan yang dimilikinya. Sikap ini seringkali membuat masyarakat tidak kritis pada kondisi, misalnya dari mana kekayaan itu didapatkan. b. Masyarakat kurang menyadari sebagai korban utama korupsi Masyarakat masih kurang menyadari bila yang paling dirugikan dalam korupsi itu masyarakat. Anggapan masyarakat umum yang rugi oleh korupsi itu adalah negara. Padahal bila negara rugi, yang rugi adalah masyarakat juga karena proses anggaran pembangunan bisa berkurang karena dikorupsi. c. Masyarakat kurang menyadari bila dirinya terlibat korupsi Setiap korupsi pasti melibatkan anggota masyarakat. Hal ini kurang disadari oleh masyarakat sendiri. Bahkan seringkali masyarakat sudah terbiasa terlibat pada kegiatan korupsi sehari-hari dengan cara-cara terbuka namun tidak disadari. d. Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi akan bisa dicegah dan diberantas bila masyarakat ikut aktif Pada umumnya masyarakat berpandangan masalah korupsi itu tanggung jawab pemerintah. Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi itu bisa diberantas hanya bila masyarakat ikut melakukannya. e. Aspek peraturan perundang-undangan Korupsi mudah timbul karena adanya kelemahan di dalam peraturan perundangundangan yang dapat mencakup adanya peraturan yang monopolistik yang hanya menguntungkan kroni penguasa, kualitas peraturan yang kurang memadai, peraturan yang kurang disosialisasikan, sangsi yang terlalu ringan, penerapan sangsi yang tidak konsisten dan pandang bulu, serta lemahnya bidang evaluasi dan revisi peraturan perundang-undangan.

Hendik Budi Yuwono (3J/12)

C. Dampak dari Korupsi


1. Dampak Korupsi Terhadap Masyarakat a. Meningkatnya Kemiskinan Banyak proyek pemerintah ataupun bantuan asing untuk rakyat miskin tidak efektif, karena disunat oleh oknum pejabat pemerintah yang tidak bertanggung jawab. Dalam banyak kasus korupsi, masyarakat miskin sering menjadi korban karena ketidak berdayaan mereka. b. Meningkatkan Angka Kriminalitas Korupsi menyuburkan berbagai jenis kejahatan yang lain dalam masyarakat. Semakin tinggi tingkat korupsi, semakin besar pula kejahatan. Menurut Transparency International, terdapat pertalian erat antara jumlah korupsi dan jumlah kejahatan. Rasionalnya, ketika angka korupsi meningkat, maka angka kejahatan yang terjadi juga meningkat. Sebaliknya, ketika agka korusi berhasil dikurangi, maka kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum (law enforcement juga meningkat. Dengan mengurangi korupsi dapat juga (secara tidak langsung) mengurangi kejahatan yang lain. c. Demoralisasi Secara tidak langsung korupsi akan meruntuhkan otoritas pemerintah, mematikan etika sosial-politik, dan menyebabkan tidak efektifnya peraturan dan perundang-undangan. Korupsi yang merajalela yang berlarut-larut membuat masyarakat pesimis akan keberhasilan upaya pemberantasan korupsi, padahal optimisme masyarakat merupakan modal utama sukses perang melawan korupsi. Pesimisme ini membuat masyarakat melakukan pembiaran terhadap aktifitas korupsi, walaupun mereka jelas-jelas menjadi korban. d. Menurunkan Tingkat Kepercayaan Masyarakat Terhadap Pemerintah Bila kasus korupsi berlangsung terus menerus, masyarakat akan cenderung meragukan segala hal yang berhubungan dengan pemerintah. Sebagai contoh, pemilu tidak akan berjalan lancar sebagaimana mestinya karena masyarakat enggan ikut berpartisipasi. Menurut masyarakat, mengikuti pemilu sama saja turut serta memilih koruptor baru. Dan apabila kasus korupsi dibiarkan terus menerus, dampak korupsi yang paling besar adalah perlawanan masyarakat karena ketidak puasan terhadap pemerintah.

Hendik Budi Yuwono (3J/12) 2. Dampak Korupsi Terhadap Pelakunya a. Memberikan Rasa Tidak Tenang Melakukan tindak korupsi tentunya akan mempengaruhi kehidupan batin dari pelakunya. Meskipun belum tentu tindakannya diketahui pihak berjawib, pelaku pasti terbayang-bayangi rasa was-was, tidak tenang selama bekerja, dan takut yang berkepanjangan karena khawatir perbuatannya diketahui umum. b. Degradasi Moral Secara tidak sadar tindakan korupsi yang dibiarkan terus-menerus akan mempengaruhi kepribadian dari pelakunya. Mulai dari terbiasa untuk berbohong, bertindak kecurangan, hingga menipu orang lain. c. Hukuman Pidana Bagi para pihak atau pejabat yang terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi, maka pasti ia akan diproses oleh pihak yang berwajib. Hukuman pidana terhadap pelaku korupsi dapat berupa denda dan/atau hukuman penjara. d. Tekanan Sosial Seumur Hidup Bagi bekas pelaku korupsi yang telah selesai menjalani masa hukumannya, bukan berarti ia dapat hidup seperti masyarakat lain pada umumnya. Telah diketahui bertindak korupsi oleh khalayak ramai akan menyebabkan pelaku menanggung rasa malu seumur hidup dan terus tertekan. Setiap kegiatan yang pelaku lakukan akan distigma negatif oleh orang lain. Hal-hal apapun yang pelaku kerjakan akan disangkut pautkan dengan korupsi. Hal ini akan terus melekat terhadap individu pelaku sampai dengan ia mati nanti. e. Dijauhi Oleh Orang-Orang Dekatnya Seringkali apabila seseorang telah terkait kasus korupsi, maka ia akan ditingglkan oleh orang-orang yang dulu pernah dekat dengannya, bisa saja itu teman, kerabat, istri bahkan suami. Hal itu wajar terjadi karena tidak ada orang yang ingin namanya ikut tercemar akibat dari perbuatan orang lain.

Hendik Budi Yuwono (3J/12)

D. Mengatasi Korupsi Di Indonesia


1. Mengatasi Korupsi Jangka Pendek Pada dasarnya untuk mengatasi terjadinya tindakan dalam jangka pendek adalah dengan menekankan jiwa anti korupsi di masing-masing individu itu sendiri. Tanamkan dalam diri untuk tidak melakukan korupsi dalam bentuk apapun. Bahkan mulai dari yang terkecil sekalipun seperti datang kerja tepat waktu dan pulang kerja tidak lebih awal dari ketentuan yang seharusnya sebab itu merupakan salah satu bentuk korupsi waktu. Kemudian sebisa mungkin tidak menerima pemberian dari orang lain selain pemberi kerja dalam bentuk apapun entah itu sekedar bingkisan maupun parcel. Meskipun hal itu sangat sepele namun avabila terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan individu tersebut menjadi terbiasa menerima pemberian dari orang lain bahkan dalam bentuk yg lebih material seperti uang . Hal ini akan mendorong seseorang untuk terdorong menerima suap. 2. Mengatasi Korupsi Jangka Panjang Persoalan korupsi beraneka ragam cara melihatnya, oleh karena itu cara pengkajiannya pun bermacam-macam pula. Untuk mengatasi korupsi jangka panjang dapat dilakukan: a. b. Penegakan hukum yang konsisten dan tidak pandang bulu Peningkatan iman dan taqwa kepada masyarakat pada umumnya dan aparatur pada khususnya. c. Kontrol sosial dari masyarakat, yang menyadari bahwa perbuatan korupsi merugikan semua orang, dan korupsi uang negara adalah perbuatan jahat yang direncanakan dan menyengsarakan rakyat. d. e. f. Pengawasan internal dan eksternal yang baik. Menciptakan aparatur pemerintah yang jujur dan berintegritas. Mengusahakan perbaikan penghasilan (gaji) bagi pejabat dan pegawai negeri sesuai dengan kemajuan ekonomi dan kemajuan swasta. g. Menumbuhkan kebanggaan-kebanggaan dan atribut kehormatan diri setiap jabatan dan pekerjaan. h. Menumbuhkan pemahaman dan kebudayaan politik yang terbuka untuk kontrol, koreksi dan peringatan, sebab wewenang dan kekuasaan itu cenderung disalahgunakan.

Hendik Budi Yuwono (3J/12)

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN
Korupsi adalah suatu tindak pidana yang memperkaya diri yang secara langsung merugikan negara atau perekonomian negara. Beberap unsur yang terdapat dalam perbuatan korupsi meliputi menerima hadiah atau janji (penyuapan), pemerasan dalam jabatan, ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara), menerima gratifikasi, serta menyalahgunakan kewenangan. Adapun penyebabnya antara lain, moral individu yang kurang kuat, sifat tamak, gaya hidup konsumtif, kurang diterapkannya ajaran agama dengan baik, lemahnya sistim pengendalian internal, lemahnya kekuatan hukum, kurang tegasnya aparat penegak hukum. Kemudian korupsi ini memberikan dampak antara lain, menurunnya laju perekonomian, menambah parah kemiskinan, menurunkan kepercayaan masyarakat, dan demoralisasi. Sedangkan dampak yang dialami individu pelaku antara lain, memberikan rasa tidak tenang, degradasi moral, hukuman pidana, tekanan sosial seumur hidup, dijauhi oleh orang-orang dekatnya. Untuk mengatasi maraknya tindakan korupsi dapat ditempuh dengan cara antara lain, perbaikan moral dari diri sendiri, penegakan hukum yang tidak pandang bulu, pengawasan internal dan eksternal yang baik, kontrol sosial dari masyarakat, mengusahakan perbaikan gaji aparatur negara, peningkatan iman dan taqwa, serta menumbuhkan kebanggaan dan atribut kehormatan diri setiap jabatan dan pekerjaan. Sebagai penutup, saya berjanji bahwa kelak saya tidak akan melakukan tindak korupsi sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai pejabat pemerintah yang berkewajiban untuk bertindak amanah dan memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat.

B. SARAN
Sikap untuk menghindari korupsi seharusnya ditanamkan sejak dini.Dan pencegahan korupsi dapat dimulai dari hal yang kecil.

Hendik Budi Yuwono (3J/12)

DAFTAR PUSTAKA
Hartanti, Evi, S.H., 2005. Tindak Pidana Korupsi. Sinar Grafika : Jakarta Marpaung, Leden, S.H., 1992. Tindak Pidana Korupsi : Masalah dan Pemecahannya Bagian kedua. Sinar Grafika : Jakarta Kompas. Surat Kabar Harian. Jakarta. Bulan Oktober sampai Februari 2012. Susanto, Agus. http://my.opera.com/a6us/blog/show.dml/4944371. diakses tanggal 01 Februari 2012 http://intl.feedfury.com/content/30095993-makalah-korupsi-di-indonesia.html. diakses tanggal 01 Februari 2012 Hutabarat, Agus. http://agusthutabarat.wordpress.com/2009/11/06/tindak-pidana-korupsi-diindonesia-tinjauan-uu-no-31-tahun-1999-jo-uu-no-20-tahun-2001-tentangpemberantasan-tindak-pidana-korupsi/. Diakses tanggal 03 Februari 2012-02-03 http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3800/1/fisip-erika1.pdf. diakses tanggal 12 Februari 2012 http://najmudincianjur.blogspot.com/2011/09/definisi-korupsi-dan-sebab-korupsi.html. diakses tanggal 12 Februari 2012 http://www.slideshare.net/akungbgl/materi-5-dampak-korupsi-2010. diakses tanggal 12 Februari 2012 http://www.anneahira.com/dampak-korupsi.htm. diakses tanggal 12 Februari 2012 http://hukum.kompasiana.com/2011/12/12/mengapa-indonesia-korupsi. diakses tanggal 12 Februari 2012 http://www.scribd.com/doc/57680938/Dampak-Korupsi-Terhadap-HAK-dan-KEWAJIBANbagi-Rakyat-Sipil. diakses tanggal 12 Februari 2012