Anda di halaman 1dari 158

SKRIPSI

PENERAPAN BALANCED SCORECARD SEBAGAI


TOLOK UKUR PENILAIAN KINERJA PADA
BADAN USAHA BERBENTUK RUMAH SAKIT
(Studi Kasusu Pada Rumah Sakit Kristen Tayu Pati)

Disusun Oleh :
Nama : Aji Dwi Prihananto
NIM : 99.60.0657

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI


UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2006
ABSTRAKSI

Pengukuran kinerja merupakan suatu hal penting bagi sebuah unit bisnis.
Ini dikarenakan pengukura kinerja dapat digunakan untuk menilai
keberhasilan suatu perusahaan. Selain itu juga dapat dipergunakan untuk
melakukan penyusunan strategi-strategi bisnis yang cocok dan dapat dijadikan
sebagai dasar dalam penyususnan system imbalan. Selama ini pengukuran
kinerja yang sering digunakan adalah pengukuran kinerja yang hanya
mengukur kinerja keuangan, tidak dapat mengambarkan kinerja perusahaan
secara keseluruan. Pengukuran kinerja keuangan hanya menilai kinerja untuk
jangka pendek dan tidak memperhitungkan harta-harta tak nampak yang
dimiliki rumah sakit. Dengan adanya kekurangan tersebut, maka diciptakan
suatu metode pengukuran kinerja yang mempertimbangkan aspek keuangan
dan non-keuangan yang dikenal dengan istilah Balance Scarecard. Pengukuran
kinerja Balance Scorecard menyangkut empat perspektif yaitu : Perspektif
Keuangan, Perspektif Pelanggan, Perspektif Proses Bisnis Internal dan
Perspektif Belajar dan Berkembang. Penulis memilih menggunakan Rumah
Sakit Kristen Tayu karena selama ini pengukuran kinerja yang dilakukan
perusahaan masih menitik beratkan pada aspek keuangan.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data primer dan skunder.
Tehnik pengmbilan sample yang digunakan adalah metode penelitian sensus,
yaitu mencatat semua elemen yang diselidiki ( Marzaki, 1997:41). Metode
pengujian instrument penelitian yang digunakan yaitu pengujian validitas dan
pengujian realibilitas. Sedangkan untuk metode analisis penulis menggunakan
metode kualitatif (untuk analisis tidak dengan angka) dan metode kwantitatif
(untuk analisis menggunakan angka-angka) yang nilai kinerja Rumah Sakit
melalui empat perspektif Balance Scorecard.
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan penulis dapat
mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Perspektif Keuangan, Rumah Sakit Kristen Tayu kinerja yang
dihasilkan Rumah Sakit dapat dikatan baik, karena pertumbuhan
ROI dan Rasio Efisiensi mengalami peningkatan.
2. Perspektif Pelanggan, Rumah Sakit Kristen Tayu mampu
mempertahankan dan menarik minat pelanggan untuk berobat di
Rumah Sakit, serta mampu memuaskan pelanggan dengan layanan
yang dihasilkan.
3. Perspktif Proses Bisnis Internal, Rumah Sakit Kriaten Tayu
mampu memberikan fasilitas pelayanan yang baik walaupun
pelayanan pencegahan dan kecepatan kurang memadai, tetapi
dilihat keseluruhannya sudah baik.
4. Perspektif Belajar dan Berkembang, Rumah Sakit Kristen Tayu
mampu mempertahankan karyawan dan mampu memuaskan
karyawan dengan fasilitas yang dimiliki Rumah Sakit dan tugas
yang diberikan.
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas semua karunia dan rahmat-
Nya yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini .
Skripsi dengan judul “Penerapan Balanced Scorecard Sebagai Tolak Ukur
Penilaian Kinerja Badan Usaha Berbentuk Rumah Sakit” ini disusun untuk
memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonami di Fakultas Ekonomi
Jurusan Akuntansi Universitas Soegijapranata Semarang.
Dalam pembuatan Skripsi ini tidak lepas dari bantuan beberapa pihak yang
telah memberikan bantuan matriel maupun moril kepada penulis, untuk itu penulis
mengucapkan terimaksih kepada:
1. Bapak Drs.Sentot Suciarto, A, MP, PhD selaku dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.
2. Ibu Theresia Dwi Hastuti, SE, MBI, Akt selaku ketua jurusan Akuntansi
Universitas Soegijapranata Semarang.
3. Ibu Clara Susilowati, SE, MSI selaku dosen pembimbing yang telah
banyak membantu dan melakukan bimbingan selama proses pembuatan
Skripsi.
4. Semua Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Soegijapranata
Semarang yang telah membantu dalam proses perkuliahan yang sudah
diberikan.
5. Manager Rumah Sakit Kristen Tayu ( dr. Vensi ) yang telah banyak
membantu penulis dalam mengumpulkan data-data yang dibutuhkan
dalam proses pembuatan Skripsi.
6. Orang tua, saudara-saudara penulis yang selalu memberikan dorongan dan
dukungan kepada penulis. Terutama Ibu yang selalu memberi dukungan
kepada penulis.
7. Istri penulis yang selalu bersama-sama dengan penulis dan selalu
memberi semangat saat aku baru membutuhkan dan sabar.
8. Saudara-saudara penulis di GKB Jubilee yang selalu berdiri satu sama
yang lain, khususnya Kak Darwini, Kak Yopy, Didik, Budi, Lina, Rika,
Yunita, Sari, Dito adikku.
9. Terima kasih untuk Oliv yang membuatku mempunyai harapan baru
untuk menjadi lebih dewasa lagi.
10. Teman-temanku di Unika, Oktaf, Resa, Bangkres, Cacing, semuanya yang
tidak dapat kusebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik yang membangun demi perbaikan
skripsi ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan
tambahan pengetahuan, wawasan yang semakin luas bagi pembaca.

Semarang, 12 Maret 2007


Penulis

Aji Dwi Prihananto


Telah diterima dan disahkan oleh Panitia Penguji pada :
Senin, 12 Maret 2006
Skripsi dengan Judul :

“Penerapan Balanced Scorecard


Sebagai Tolak Ukur Penilaian Kinerja Badan Usaha
Berbentuk Rumah Sakit”.

Oleh,
Aji Dwi Prihananto
99.60.0657

Penguji I Penguji II Penguji III

Drs. Hudi Prawoto, MM, Akt Stefani Lily Indarto, SE, MM Stephana Dyah Ayu R, SE, MSI

Mengetahui,
Dekan fakultas Ekonomi
Unika Soegijapranata

Dr. Sentot Suciarto, A, MP, Ph D

Skripsi dengan judul :


“Penerapan Balanced Scorecard
Sebagai Tolak Ukur Penilaian Kinerja Badan Usaha
Berbentuk Rumah Sakit”.

( Studi kasus pada Rumah Sakit Kristen Tayu )

Oleh :
Aji Dwi Prihananto
99.60.0657

Disetujui dan diterima baik oleh pembimbing


Semarang, 12 Maret 2007

Pembimbing,

Clara Susilawati, SE, MSi


Pernyataan Keaslian Skripsi

Saya yang bertanda tangan dibawah ini dengan sesungguhnya menyatakan bahwa
skripsi dengan judul :
“Penerapan Balanced Scorecard Sebagai Tolak Ukur Penilaian Kinerja Badan Usaha
Berbentuk Rumah Sakit”
Benar-benar merupakan karya saya. Saya tidak mengambil sebagian atau keseluruhan
karya orang lain yang seolah-olah saya akui sebagai karya saya. Apabila saya
melakukan hal tersebut, maka gelar dan ijasah yang saya peroleh dinyatakan batal dan
akan saya kembalikan kepada Universitas Katolik Soegijapranata.

Semarang, 12 Maret 2007


Yang menyatakan,

Aji Dwi Prihananta

Saksi I Saksi II Saksi III

Drs. Hudi Prawoto,MM, Akt Stefani Lily Indarto, SE,MM Stephana Dyah Ayu R,SE,MSI

Mengetahui,
Saksi IV

Clara Susilawati, SE, MSi


Persembahan

1. Tuhan Yesus yang menyelamatkanku dari dosa dan memangilku untuk bertobat
lahir baru.
2. Orang Tua yang dalanm kekurannyanya dan sahaja meperjuangakanku sampai
sarjana.
3. Istriku yang selalu setia kepadaku
4. Dosen UNIKA yang membibingku sampai lulusku dengan kesabarannya dan
mebuatku lebih dari sebelumnya.
5. Saudaraku di GKB Jubilee.
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................. I
HALAMAN PERSETUJUAN.............................................................................. II
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................... III
MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................................................ IV
KATA PENGANTAR...........................................................................................V
ABSTARKSI.........................................................................................................VIII
DAFTAR ISI.........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang............................................................................. 1
.....................................................................................................
1.2. Perumusan Masalah dan Pembatasan Masalah........................... 5
1.3. Tujuan dan Manfaat penelitian.................................................... 5
.....................................................................................................
1.3.1 Tujuan Penelitian.............................................................. 5
1.3.2 Manfaat penelitian............................................................ 6
1.4. Kerangka Pikir............................................................................. 6
1.5. Definisi dan Pengukuran Variabel............................................... 9
1.5.1 Kinerja Perspektif Keuangan............................................ 9
1.5.2 Kinerja Perspektif Konsumen........................................... 9
1.5.3 Kinerja Perspektif Proses Internal Bisnis......................... 10
1.5.4 Kinerja Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran......... 10
1.6. Sistematika Penulisan.................................................................. 11

BAB II LADASAN TEORI


2.1 Penilaian Kinerja......................................................................... 13
2.2 Penilaian Kinerja dengan Sistem Tradisional............................. 14
2.3 Balanced Scorerard..................................................................... 16
2.4 Kinerja Perspektif Keuangan...................................................... 19
2.5 Kinerja Perspektif Konsumen..................................................... 20
2.6 Kinerja Perspektif Proses Internal Bisnis.................................... 22
2.7 Kinerja Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran.................... 25
2.8 Pengertian Rumah Sakit.............................................................. 28
2.9 Penelitian Terdahulu................................................................... 29

BAB III METODE PENELITIAN


3.1 Objek dan Lokasi Penelitian........................................................ 32
3.2 Populasi dan Sampel.................................................................... 32
3.2.1 Populasi.............................................................................. 32
3.2.2 Sampel................................................................................ 33
3.3 Metode Pengumpulan Data.......................................................... 34
3.4 Teknik Pengumpulan Data........................................................... 34
3.5 Pengujian Instrumen Penelitian.................................................... 35
a. Uji Validitas....................................................................... 35
b. Uji Relibilitas..................................................................... 36
3.6 Metode Analisis............................................................................ 37

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


4.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian
4.1.1. Visi dan Misi...................................................................... 41
4.1.2. Tujuan................................................................................ 42
4.1.3. Bidang Usaha..................................................................... 42
4.2. Analisis Data
4.2.1 Kinerja Perspektif Keuangan............................................ 43
A. Indikator ROI............................................................... 46
B. Indikator Rasio Efesiensi ............................................ 47
......................................................................................
4.2.2 Kinerja Perspektif konsumen............................................ 47
4.2.3 Kinerja Perspektif Proses Internal Bisnis......................... 51
A. Indikator Bed Turnover Ratio (BTO).......................... 52
B. Indikator Gross Deatd Rate (GDR).............................. 52
C. Indikator Net Deatd Rate (NDR)................................ 53
4.2.4 Kinerja Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran......... 54
A. Indikator Produktifitas Karyawan............................... 55
B. Indikator Retensi Karyawan........................................ 55
C. Kepuasan karyawan .................................................... 56
4.2.5 Hasil keseluruhan Analisis Balanced Scorecard.............. 64

BAB V PENUTUP
5.1.Kesimpulan........................................................................................ 68
5.2.Keterbatasan...................................................................................... 70
5.3.Saran.................................................................................................. 70
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Untuk memasuki lingkungan bisnis yang kompetitif, manajemen perusahaan yang


baik merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Oleh
karena itu perusahaan memerlukan sistem manajemen yang didesain sesuai
dengan tuntutan lingkungan usahanya, karena dengan menggunakan sistem
manajemen yang sesuai dengan tuntutan lingkungan usaha maka perusahaan akan
mampu bersaing dan berkembang dengan baik.
Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang amat penting bagi

sebuah perusahaan. Pengukuran tersebut, dapat digunakan untuk menilai

keberhasilan perusahaan serta sebagai dasar penyusunan imbalan dalam

perusahaan. Selama ini pengukuran kinerja secara tradisional hanya

menitikberatkan pada sisi keuangan. Manajer yang berhasil mencapai tingkat

keuntungan yang tinggi akan dinilai berhasil dan memperoleh imbalan yang

baik dari perusahaan.

Akan tetapi, menilai kinerja perusahaan semata-mata dari sisi keuangan

akan dapat menyesatkan, karena kinerja keuangan yang baik saat ini dapat

dicapai dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan jangka panjang

perusahaan. Dan sebaliknya, kinerja keuangan yang kurang baik dalam jangka

pendek dapat terjadi karena perusahaan melakukan investasi-investasi demi

kekepentingan jangka panjang. Untuk mengatasi kekurangan ini, maka

diciptakan suatu metode pendekatan yang mengukur kinerja perusahaan

dengan mempertimbangkan 4 aspek yaitu aspek keuangan, pelanggan, proses

bisnis internal serta proses belajar dan berkembang (Ali Mutasowifin, 2002 :

245).

17
Metode ini berusaha untuk menyeimbangkan pengukuran aspek

keuangan dengan aspek non keuangan yang secara umum dinamakan Balanced

Scorecard. Dengan menerapkan metode Balanced Scorecard para manajer

perusahaan akan mampu mengukur bagaimana unit bisnis mereka melakukan

penciptaan nilai saat ini dengan tetap mempertimbangkan kepentingan-

kepentingan masa yang akan datang.

Rumah Sakit adalah bentuk organisasi pengelola jasa pelayanan

kesehatan individual secara menyeluruh. Di dalam organisasinya terdapat

banyak aktivitas, yang diselenggarakan oleh petugas berbagai jenis profesi,

baik profesi medik, paramedik maupun non-medik. Untuk dapat menjalankan

fungsinya, diperlukan suatu sistem manajemen menyeluruh yang dimulai dari

proses perencanaan strategik (renstra), baik untuk jangka panjang maupun

jangka pendek. Suatu renstra dapat disebut baik apabila perencanaan tersebut

dapat ditindaklanjuti secara praktis ke dalam program-program operasional

yang berorientasi kepada economic - equity - quality. Artinya rumah sakit

dikelola secara efektif dan efisien, melayani segala lapisan masyarakat dan

berkualitas.

Memasuki era globalisasi perdagangan antarnegara sejak 2003 ini,

pimpinan rumah sakit di Indonesia perlu memfokuskan strategi perencanaan,

pengorganisasian, pengoperasian, dan pengendalian sehingga betul-betul siap

dengan daya saing di tingkat global. Di dalam era tersebut, para konsumen

bebas memilih rumah sakit mana yang mampu memberikan pelayanan

memuaskan, profesional dengan harga bersaing, sehingga strategi dan kinerja

18
rumah sakit pun harus berorientasi pada keinginan pelanggan tersebut. Untuk

itu diterapkan balanced scorecard (BSC) yang diharapkan menjawab tuntutan

dan tantangan zaman.

Rumah Sakit Kristen Tayu Pati sebagai rumah sakit rujukan pelayanan

kesehatan di daerah sekitar murya dalam era kesejagatan (globalisasi), disatu

pihak diperhadapkan pada kekuatan-kekuatan dan masalah-masalah interen

yang ada, sedangkan di lain pihak secara, bersamaan juga diperhadapkan pada

kondisi lingkungan dengan berbagai faktor peluang dan tantangan yang

senantiasa berkembang dinamis. Oleh karena itu untuk dapat memberikan

pelayanan kesehatan yang prima bagi masyarakat perlu disusun Visi Misi,

Tujuan, Sasaran serta Indikator keberhasilan yang dirampungkan dalam bentuk

Rencana Stratejik (RENSTRA). Indikator keberhasilan merupakan alat ukur

yang harus dievaluasi secara periodik berkesinambungan. Indikator bukan saja

dalam bentuk finansial tapi juga dengan indikatoryang lain seperti pelangan,

bisnis inernal juga pembelanjaran dan pertumbuhan yang selanjutnya dijadikan

bahan untuk mengendalikan arah dan mutu pelayanan kesehatan agar visi yang

telah ditetapkan benar-benar dapat diwujudkan.

Rumah Sakit Kristen Tayu Pati merupakan salah satu Rumah Sakit

Umum di Tayu yang berusaha memberikan pelayanan kesehatan secara

propesonalisme dan meningkatkan mutu terus-menerus. Memaksa pihak

Rumah Sakit Kristen Tayu Pati untuk selalu memperbaiki kinerjanya, agar

dapat menambah kepercayaan masyarakat atas Rumah Sakit Kristen Tayu Pati.

Kepercayaan ini sangatlah penting, mengingat masyarakat merupakan

19
pengguna jasanya. Diharapkan dengan peningkatan kepercayaan masyarakat

terhadap Rumah Sakit menpunyai dampak pada pendapatan Rumah Sakit.

Melihat fenomena tersebut di atas, maka perlu digunakan alternatif

penilaian kinerja Rumah Sakit Kristen Tayu dengan menggunakan Balanced

Scorecard yang lebih komprehensif, akurat, terukur karena dalam menilai

kinerja suatu organisasi tidak hanya dinilai dari aspek keuangan saja, tetapi

juga dinilai dari aspek nonkeuangan.

Dari latar belakang dan uraian di atas, maka dalam penelitian ini

mengambil judul “PENERAPAN BALANCED SCORECARD SEBAGAI

TOLOK UKUR PENILAIAN KINERJA PADA BADAN USAHA

BERBENTUK RUMAH SAKIT (Studi Kasus Pada Rumah Sakit Kristen

Tayu Pati)”.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka

masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana kinerja

manajemen Rumah Sakit Kristen Tayu diukur dengan menggunakan Balanced

Scorecard ?

Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah oleh peneliti dengan maksud agar pembahasan

dapat lebih terfokus. Adapun penelitian ini hanya akan membahas mengenai

penerapan Balanced Scorecard dalam mengukur kinerja manajemen Rumah

Sakit Kristen Tayu ditinjau dari 4 aspek yaitu aspek keuangan (ROI dan Profit

Margin), Pelanggan (kepuasan pelanggan), Proses Bisnis Internal (BTO, GDR,

20
NDR), serta pembelajaran dan Pertumbuhan (Produktivitas karyawan, Rentensi

karyawan, Kepuasan karyawan) tahun 2004 – 2005.

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Memberikan gambaran penggunaan Balanced Scorecard terhadap

penilaian kinerja rumah sakit.

2. Untuk mengetahui sampai sejauh mana penerapan Balanced Scorecard

sebagai alat analisis yang komprehensif dan koheren pada suatu

perusahaan.

3. Memberikan suatu alternatif pengukuran kinerja perusahaan yang

memperhatikan aspek finasial dan aspek nonfinasial.

1.3.2 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada pihak-pihak yang

membutuhkan sebagai berikut :

a. Sebagai alternatif pengukuran kinerja yang lebih komprehensif dalam

menilai kinerja manajemen Rumah Sakit Kristen Tayu.

b. Menambah wawasan bagi manajemen dan pengurus mengenai pentingnya

faktor-faktor nonfinancial yang mempengaruhi kinerja manajemen

Rumah Sakit Kristen Tayu.

c. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah kepustakaan dan

bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang mengadakan penelitian yang

menyangkut kinerja manajemen suatu badan usaha berbentuk Rumah

21
Sakit Kristen Tayu.

1.4. Kerangka Pemikiran

Dalam skripsi ini akan dilakukan pengukuran kinerja dengan

menggunakan system pengukuran kinerja yang di sebut BALANCED

SCORECARD kepada sebuah perusahaan atau organisasi public yang belum

mengenal sistem pengukapan kinerja tersebut. BALANCED SCORECARD di

kembangkan untuk melengkapi pengukuran kinerja finasial dan sebagai alat

yang cukup penting bagi organisasi atau perusahaan untuk merefleksikan

pemikiran baru dalam era kompetitif dan efektifitas organisasi. BALANCED

SCORECARD merupakan solusi terbaik dalam pengukuran kinerja bisnis.

Empat perspekif utama di sorot melalui BALANCED SCORECARD

yaitu:

1. Perpektif keuangan

2. Perpektif konsumen atau pelanggan

3. Perpektif proses internal bisnis

4. Perpektif pembelajan dan pertumbuhan

Dalam BALANCED SCORECARD. Keempat perspektif tersebut

menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, juga merupakan indikator

pengukuran kinerja yang saling melengkapi dan memiliki hubungan sebab

akibat.

Seperti yang telah di jelaskan bahwa pengukuran kinerja bagi perusahan

jasa yang mempunyai kontak tinggi sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan

22
untuk menerapkan konsep BALANCED SCORECARD pada Rumah Sakit

Kristen Tayu.

Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat

digambarkan dengan bagan sebagai berikut.

Penerapan BSC pada


organisasi sektor swasta

Gambar 1.1.
Perspektif keuangan bukan merupakan
Kerangka
perspektif satu-satunya sebagai indikator Pemikiran
penilaian kinerja

Penerapan BSC pada organisasi sektor


publik (RSK Tayu Pati)

Keuangan Lap. keuangan perusahaan Pendukung non keuangan dan


menentukan tingkat pelayanan

Customer satisfaction, customer


Pelanggan
profitabilitas dan pangsa pasar

Menentukan
Proses Bisnis Internal
Inovasi dan operasi pencapaian misi dan
visi

Kemampuan karyawan,
Pembelajaran dan kemampuan sistem informasi,
Pertumbuhan motivasi, pemberdayaan dan
keserasian individu perusahaan

Menunjukkan atau memberikan 23


gambaran kinerja perusahaan
berdasarkan konsep Balanced
Scorecard
1.5. Definisi dan Pengukuran Variabel

Pada bab ini akan dijelaskan tentang variabel-variabel yang akan digunakan dalam
mengukur kinerja masing-masing perspektif. Variabel-variabel yang digunakan :
1.5.1 Kinerja Perspektif Keuangan

Dalam perspektif keuangan, kinerja untuk mengukur apakah suatu strategi


perusahaan, implementasi dan pelaksanaan akan membawa perbaikan
perusahaan (Mun’im Azka. 2001). Terdiri dari rasio-rasio keuangan yang
sesuai dari Laporan Keuangan yaitu :
1. ROI (Return On Investment)

Yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal yang

diinvestasikan dalam keseluruhan akvita untuk menghasilkan laba bersih.

Pengukurannya dilakukan dengan membandingkan laba usaha dengan

total aktiva.

2. Rasio Efesiensi

Yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa efisien rumah sakit

24
mempergunakan aktivannya. Pengukurannya dengan membandingkan

penjualan dengan aktiva lancar.

1.5.2 Kinerja Perspektif Pelaggan

Kinerja ini untuk mengetahui keinginan konsumen atau pelanggan agar


konsumen atau pelanggan tidak beralih ke pihak pesaing. Perhitungan kinerja
berdasarkan yang dipakai dalam perspektif konsumen ini menggunakan :
Kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction)
Yaitu mengukur seberapa jauh kepuasan konsumen atas pelayanan kesehatan
yang diberikan rumah sakit. Pengukurannya dari hasil survai terhadap
kepuasan konsumen yang dilakukan oleh perusahaan.

1.5.3 Kinerja Perspektif Proses Internal Bisnis

Dalam perspektif ini, perusahaan mendesain dan mengembangkan apa


yang dibutuhkan oleh konsumen kemudian memasarkan dan melakukan
pelayanan purna jual (Mun’im Azka. 2001). Perspektif ini menggunakan
perhitungan :
Operasi
Perspektif ini menggunakan perhitungan :
1. BTO (Bed Turn Over Ratio)
Prosentase tempat tidur yang tersisa.
2. GDR (Gross Death Rate)

Yaitu angka kematian umum untuk tiap-tiap 1000 pasien keluar.

3. NDR (Net Death Rate)

Yaitu angka kematian > 48 jam atau ≥ hari setelah dirawat untuk tiap-tiap

1000 pasien keluar.

1.5.4 Kinerja Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan

Dalam perspektif ini komponen pengukuran yang digunakan yaitu :

a. Produktivitas karyawan

Untuk mengetahui produktivitas karyawan dalam bekerja untuk periode

tertentu. Pengukurannya dengan membandingkan antara laba operasi

25
dengan jumlah karyawan.

b. Retensi karyawan

Untuk mengetahui perbandingan antara jumlah karyawan keluar dengan

total karyawan tahun berjalan.

c. Kepuasan karyawan

Penentu dari kedua pengukuran sebelumnya. Pengukurannya dilakukan

dengan survei kepuasan karyawan melalui kuesioner.

1.6. Sistematika Penulisan

BAB I : Pendahuluan

Dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang latar belakang

masalah, perumusan masalah dan pembatasan masalah, tujuan

dan kegunaan penelitian, kerangka pemikiran, definisi

operasional serta sistematika penulisan.

BAB II : Landasan Teori

Dalam bab ini penulis menguraikan tentang teori-teori yang

digunakan yang sesuai dengan permasalahan.


BAB III : Metode Penelitian

Dalam bab ini menguraikan tentang objek penelitian, definisi

operasional, populasi dan sampel, jenis data, metode

pengumpulan data, pengujian data, dan metode analisis.

BAB IV : Pembahasan
Dalam bab ini menguraikan tentang objek penelitian, dan

pembahasan serta analisis yang dilakukan dengan menggunakan

teknik analisis pada bab sebelumnya.

26
BAB V : Penutup
Dalam bab ini akan disebutkan kesimpulan dan saran yang

diambil setelah dilakukan pembahasan pada bab sebelumnya.

1.1. BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Penilaian Kinerja

Kinerja merupakan suatu istilah umum yang digunakan untuk sebagian atau

27
seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode, seiring
dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya-biaya masa lalu atau yang
diproyeksikan, suatu dasar efisiensi, pertanggung jawaban atau akuntabilitas
manajemen dan semacamnya (Fauzi, 1995 : 207).
Penilaian kinerja pada dasarnya merupakan kegiatan manusia dalam

mencapai tujuan organisasi. Mulyadi (1997 : 419) mendefinisikan penilaian

kinerja sebagai penentu secara periodik efektivitas operasional suatu

organisasi, bagian organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran, standar dan

kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Karena organisasi pada dasarnya

dioperasikan oleh sumber daya manusia maka penilaian kinerja sesungguhnya

merupakan penilaian atas perilaku manusia dalam melaksanakan peran yang

mereka mainkan dalam organisasi.

Setiap organisasi mengharapkan kinerja yang memberikan kontribusi

untuk menjadikan organisasi sebagai suatu institusi yang unggul di kelasnya.

Jika keberhasilan organisasi untuk mengadakan institusi yang unggul

ditentukan oleh berbagai faktor maka berbagai faktor yang menentukan

keberhasilan perusahaan (succes factor) untuk menjadikan organisasi suatu

institusi yang unggul tersebut digunakan sebagai pengukur keberhasilan

personal. Dengan demikian, dibutuhkan suatu penilaian kinerja yang dapat

digunakan menjadi landasan untuk mendesain sistem penghargaan agar

personel menghasilkan kinerjanya yang sejalan dengan kinerja yang

diharapkan oleh organisasi.

2.2 Penilaian Kinerja dengan Sistim Tradisional

Dalam masyarakat tradisional, ukuran kinerja yang biasa digunakan adalah

28
ukuran kinerja keuangan. Pengukuran kinerja ini mudah dilakukan sehingga

kinerja personel yang diukur hanyalah yang berkaitan dengan keuangan. Namun

ukuran keuangan tidak dapat menggambarkan penyebab yang menjadikan

perubahan kekayaan yang diciptakan oleh organisasi dan lebih memfokuskan

pada pengerahan sumber daya organisasi untuk tujuan-tujuan jangka pendek.

Ukuran keuangan yang biasa digunakan adalah rasio-rasio keuangan yang

meliputi :

1. Rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi

kewajiban jangka pendek bila jatuh tempo.

2. Rasio leverage yang mengukur hingga sejauh mana perusahaan dibiayai

oleh hutang.

3. Rasio aktivitas yang mengukur seberapa efektif manajemen yang ditujukan

oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan investasi perusahaan.

4. Rasio pertumbuhan yang mengukur kemampuan perusahaan

mempertahankan posisi ekonominya di dalam pertumbuhan ekonomi dan

industri.

5. Rasio penilaian yang mengukur kemampuan manajemen dalam

menciptakan nilai pasar yang melampaui pengeluaran biaya investasi.

Menurut Weston dan Copeland (1989) pengukuran kinerja dengan menggunakan

rasio-rasio seperti diatas mempunyai keterbatasan-keterbatasan yaitu :

1. Rasio ini disusun berdasarkan data akuntansi dan data ini dipengaruhi oleh cara penafsiran

yang berbeda dan bahkan bisa merupakan hasil manipulasi.

2. Jika perusahaan menggunakan tahun fiskal yang berbeda atau jika faktor

musiman merupakan pengaruh yang penting maka akan mempunyai

29
pengaruh pada rasio-rasio perbandingannya.

3. Analisis harus sangat hati-hati dalam menentukan baik buruknya suatu

rasio dalam membentuk suatu penilaian menyeluruh dari perusahaan

berdasarkan serangkaian rasio keuangan.

4. Rasio yang sesuai dengan rata-rata industri tidak memberikan kepastian

bahwa perusahaan berjalan normal dan memiliki manajemen yang baik.

Sedangkan menurut Robert S. Kaplan dan David P. Norton kelemahan-

kelemahan pengukuran kinerja yang menitik beratkan pada kinerja keuangan

yaitu :

1. Ketidakmampuan mengukur kinerja harta-harta tidak tampak (intangible

Assets) dan harta-harta intelektual (sumber daya manusia) perusahaan.

2. Kinerja keuangan hanya mampu bercerita mengenai sedikit masa lalu

perusahaan dan tidak mampu sepenuhnya menuntun perusahaan ke arah

yang lebih baik.

2.3 Balanced Scorecard

Scorecard merupakan kumpulan ukuran kinerja yang terintegrasi yang

diturunkan dari strategi perusahaan yang mendukung strategi perusahaan

secara keseluruhan. Balanced Scorecard memberikan suatu cara untuk

mengkomunikasikan strategi suatu perusahaan pada manajer-manajer di

seluruh organisasi. Balanced Scorecard juga menunjukkan bagaimana

perusahaan menyempurnakan prestasi keuangannya (Amin Widjaja Tunggal,

2002 : 1).

30
Balanced Scorecard menurut Robert S. Kaplan dan David P. Norton

(1997 : 7) merupakan suatu metode penilaian yang mencakup empat perspektif

untuk mengukur kinerja perusahaan, yaitu perspektif keuangan, perspektif

pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif pembelajaran dan

pertumbuhan. Balanced Scorecard menekankan bahwa pengukuran keuangan

dan non keuangan harus merupakan bagian dari informasi bagi seluruh

pegawai dari semua tingkatan bagi organisasi. Tujuan dan pengukuran dalam

Balanced Scorecard bukan hanya penggabungan dari ukuran-ukuran keuangan

dan non keuangan yang ada, melainkan merupakan hasil dari suatu proses atas

bawah (top-down) berdasarkan misi dan strategi dari suatu unit usaha, misi dan

strategi tersebut harus diterjemahkan dalam tujuan dan pengukuran yang lebih

nyata (Teuku Mirza, 1997 : 14).

Visi

Tujuan Tujuan Tujuan


(goal) (goal) (goal)

Sasaran Strategik Sasaran Strategik Sasaran Strategik


(strategic objectives) (strategic objectives) (strategic objectives)

Sumber : Mulyadi & Setyawan 1999. Sistem Perencanaan & Pengendalian Manajemen

Gambar 2.1
Penjabaran visi ke dalam tujuan dan sasaran strategi

1. Komunikasi & hubungan

Balanced Scorecard memperlihatkan kepada setiap karyawan apa

31
yang dilakukan perusahaan untuk mencapai apa yang menjadi keinginan

para pemegang saham konsumen karena untuk tujuan tersebut dibutuhkan

kinerja karyawan yang baik. Untuk itu Scorecard menunjukkan strategi

yang menyeluruh yang terdiri dari 3 kegiatan :

a. Communicating dan education

b. Setting goal

c. Linking reward to performance measure

2. Rencana Bisnis

Rencana bisnis memungkinkan organisasi mengintegrasikan antara

bisnis dan rencana keuangan mereka. Hampir semua organisasi pada saat

ini mengimplementasikan berbagai macam program yang mempunyai

keunggulan masing-masing yang saling bersaing antara satu dengan yang

lain, sehingga akan menyulitkan manajer untuk mengintegrasikan ide-ide

yang muncul dan berbeda di setiap departemen. Dengan menggunakan

Balanced Scorecard sebagai dasar untuk mengalokasikan sumber daya dan

mengatur mana yang lebih penting untuk diprioritaskan akan

menggerakkan mereka ke arah tujuan jangka panjang perusahaan

menyeluruh.

3. Umpan balik dan pembelajaran

Dengan Balanced Scorecard sebagai pusat system manajemen

perusahaan maka perusahaan tersebut akan dapat melakukan monitor

terhadap apa yang dihasilkan perusahaan dalam jangka pendek dari tiga

perspektif yang ada dalam Balanced Scorecard yaitu konsumen, proses

bisnis internal, dan pembelajaran dan pertumbuhan akan dijadikan sebagai

32
umpan balik dalam mengevaluasi strategi dalam kinerja.

2.4 Kinerja Perspektif Keuangan

Dalam Balanced Scorecard kinerja keuangan tetap menjadi perhatian,

karena ukuran keuangan merupakan suatu ikhtisar dan konsekuensi ekonomi

yang terjadi yang disebabkan oleh keputusan dan ekonomi yang diambil

(Teuku Mirza, 1997 : 15).

Ukuran kinerja keuangan menunjukkan apakah strategi, sasaran strategic, inisiatif


strategic dan implementasinya mampu memberikan kontribusi dalam
menghasilkan laba bagi perusahaan, Kaplan & Norton (1996 : 48)
mengidentifikasikan tiga tahapan dari siklus kehidupan bisnis yaitu :
a. Pertumbuhan (growth)

Growth adalah tahap pertama dan tahap awal dari siklus kehidupan

bisnis. Pada tahap ini suatu perusahaan memiliki produk atau jasa yang

secara signifikan memiliki tingkat pertumbuhan yang baik sekali atau

paling tidak memiliki potensi untuk berkembang biak.

Perusahaan dalam tahap ini mungkin secara actual beroperasi

dalam arus kas yang negatif dari tingkat pengembalian atas modal investasi

yang rendah. Sasaran keuangan dari bisnis yang berada pada tahap ini

seharusnya menekankan pengukuran pada tingkat pertumbuhan

penerimaan atau penjualan dalam pasar yang ditargetkan.

b. Bertahan (Sustain Stage)

Sustain stage merupakan suatu tahap dimana perusahaan masih

melakukan investasi dengan mempersyaratkan tingkat pengembalian yang

terbaik. Dalam hal ini perusahaan berusaha mempertahankan pangsa pasar

yang ada dan mengembangkannya apabila mungkin. Secara konsisten pada

33
tahap ini perusahaan tidak lagi bertumpuk pada strategi-strategi jangka

panjang. Sasaran keuntungan pada tahap ini diarahkan pada besarnya

tingkat pengembalian atas investasi yang dilakukan.

c. Menuai (Harvest)

Tahap ini merupakan tahap kematangan (mature), suatu tahap

dimana perusahaan melakukan panen terhadap investasi yang dibuat pada

dua tahap sebelumnya. Perusahaan tidak lagi melakukan investasi lebih

jauh kecuali hanya untuk pemeliharaan peralatan dan perbaikan fasilitas,

tidak untuk melakukan ekspansi/membangun suatu kemampuan baru.

Tujuan utama dalam tahap ini adalah memaksimumkan kas yang masuk ke

perusahaan.

Untuk menjadikan organisasi suatu institusi yang mampu berkreasi

diperlukan keunggulan di bidang keuangan. Melalui keunggulan di bidang

ini, organisasi menguasai sumber daya yang sangat diperlukan untuk

mewujudkan tiga perspektif strategi lain yaitu perspektif pelanggan,

perspektif proses bisnis internal dan perspektif proses pertumbuhan dan

pembelajaran.

2.5 Kinerja Perspektif Konsumen

Suatu produk atau jasa dikatakan mempunyai nilai bagi konsumennya jika
manfaat yang diterimanya relatif lebih tinggi dari pada pengorbanan yang
dikeluarkan oleh konsumen tersebut untuk mendapat produk dan jasa itu. Produk
atau jasa tersebut akan semakin mempunyai nilai apabila manfaatnya mendekati
ataupun melebihi dari apa yang diharapkan oleh konsumen.
Menurut Kaplan dan Norton (1956) perusahaan diharapkan mampu membuat
suatu segmentasi pasar dan ditentukan target pasarnya yang paling mungkin untuk
dijadikan sasaran sesuai dengan kamampuan sumber daya dan rencana jangka

34
panjang perusahaan. Dalam perspektif konsumen terdapat 2 kelompok perusahaan
yaitu :
1. Kelompok perusahaan inti konsumen (customer core measurement group)
a) Pangsa pasar (market share)
Menggambarkan seberapa besar penjualan yang dikuasai oleh
perusahaan dalam suatu segmen tertentu.
b) Kemampuan mempertahankan konsumen (customer retention)
Tingkat kemampuan perusahaan untuk mempertahankan hubungan
dengan konsumennya yang mungkin seberapa besar perusahaan
berhasil mempertahankan pelanggan lama.
c) Kemampuan meraih konsumen baru (customer acquisition)
Tingkat kemampuan perusahaan demi memperoleh dan menarik
konsumen baru dalam pasar.
d) Tingkat kepuasan konsumen (customer satiffation)
Merupakan suatu tingkat kepuasan konsumen terhadap kriteria
kinerja/nilai tertentu yang diberikan oleh perusahaan.
e) Tingkat protabilitas konsumen (customer profitability)
Mengukur seberapa besar keuntungan yang berhasil diperoleh
perusahaan dari penjualan kepada konsumen/segmen pasar.
2. Kelompok pengukur nilai konsumen (customer value measement)
Merupakan kelompok penunjang yang merupakan konsep kunci untuk
memahami pemicu-pemicu (driver).
Dari kelompok-kelompok pengukuran inti konsumen kelompok
pengukuran nilai konsumen terdiri dari :
a. Atribut-atribut produk dan jasa (product/service)
Atribut-atribut produk-produk jasa harga dan fasilitasnya.
b. Hubungan dengan konsumen (customer relationship)
Meliputi hubungan dengan konsumen yang meliputi melalui pengisian
produk/jasa kepada konsumen, termasuk dimensi respon dan waktu
pengirimannya dan bagaimana pula kesan yang timbul dari konsumen
setelah membeli produk atau jasa perusahaan tersebut.
c. Citra dan reputasi (image & reputation)
Dalam dimensi ini termuat faktor-faktor yang membuat konsumen
merasa tertarik pada perusahaan seperti hasil promosi baik secara
personal (melalui pameran-pameran, door to door) maupun lewat
media masa atau elektronik ataupun ungkapan-ungkapan yang mudah
diingat oleh konsumen.

2.6 Perspektif Proses Internal Bisnis

Dalam perspektif bisnis internal, perusahaan harus meng-identifikasikan proses


internal yang penting dimana perusahaan harus melakukannya dengan sebaik-
baiknya. Karena proses internal tersebut memiliki nilai-nilai yang diinginkan
pelanggan dan akan dapat memberikan pengembalian yang diharapkan oleh
pemegang saham (Ancella Hermawan, 1996 : 56).

35
Para manager harus memfokuskan perhatiannya pada proses bisnis

internal yang menjadi penentu kepuasan pelanggan kinerja perusahaan dari

perspektif pelanggan. Kinerja dari perspektif tersebut diperoleh dari proses

kinerja bisnis internal yang diselenggarakan perusahaan. Perusahaan harus

memilih proses dan kompetensi yang menjadi unggulannya dan menentukan

ukuran-ukuran untuk menilai kinerja-kinerja proses dan kompetensi tersebut.

Analisis atau proses bisnis internal perusahaan dilakukan melalui analisis rantai

nilai (value chain analysist) yang digambarkan sebagai berikut :

Customer need
Customer need design develop Make Market Service
dentified Satisfied

Time Supply
Market Chain
Business process :
• Innovation process
• Product design
• Product development
• Operator process
• Manufacture
• Marketing
• Postable service

Sumber : Norton dan Kaplan, 1996

Gambar 2.2
Generic Value Chain Mode

Masing-masing perusahaan mempunyai seperangkat proses penciptaan nilai

yang unik bagi pelanggannya. Secara umum Kaplan dan Norton (1996 : 96)

membaginya menjadi tiga prinsip dasar yaitu :

1. Inovasi

36
Pengukuran kinerja dalam proses inovasi selama ini kurang

mendapatkan perhatian, dibandingkan pengukuran kinerja yang dilakukan

dalam proses operasi. Pada tahap ini perusahaan mengidentifikasikan

keinginan dan kebutuhan para pelanggan di masa mendatang serta

merumuskan cara untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan tersebut.

2. Operasi

Tahap ini merupakan tahap akhir di mana perusahaan secara nyata

berupaya untuk memberikan solusi kepada para pelanggannya dalam

memenuhi keinginan dan kebutuhan langganan dan kebutuhan mereka.

Kegiatan operasional berasal dari penerimaan pesanan dari pelanggan dan

berakhir dengan pengiriman produk atau jasa pada pelanggan. Kegiatan ini

lebih mudah diukur kejadiannya yang rutin dan terulang.

3. Layanan pasca jual

Dalam tahap ini perusahaan berupaya memberikan manfaat

tambahan kepada para pelanggan yang telah membeli produk-produknya

dalam bentuk layanan pasca transaksi.

2.7 Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran

Tujuan dimasukkannya kinerja ini adalah untuk mendorong perusahaan

menjadi organisasi belajar (learning organization) sekaligus mendorong

pertumbuhannya (Teuku Mirza, Usahawan, 1997).

Kaplan dan Norton membagi tolak ukur perspektif ini dalam tiga prinsip yaitu :

1. People

37
Tenaga kerja pada perusahaan dewasa ini lebih lanjut dituntut

untuk dapat berpikir kritis dan melakukan evaluasi terhadap proses dan

lingkungan untuk dapat memberikan usulan perbaikan. Oleh sebab itu,

dalam pengukuran strategi perusahaan, salah satunya harus berkaitan secara

spesifik dengan kemampuan pegawai, yaitu apakah perusahaan telah

mencanangkan peningkatan kemampuan sumber daya manusia yang

dimiliki.

Dalam kaitannya dengan sumber daya manusia ada tiga hal yang perlu

ditinjau dalam menerapkan Balanced Scorecard :

a. Tingkat kepuasan karyawan

Kepuasan karyawan merupakan suatu para kondisi untuk

meningkatkan produktivitas, kualitas, pelayanan kepada konsumen dan

kecepatan bereaksi. Kepuasan karyawan menjadi hal yang penting

khususnya bagi perusahaan jasa.

b. Tingkat perputaran karyawan (retensi karyawan)

Retensi karyawan adalah kemampuan perusahaan untuk

mempertahankan pekerja-pekerja terbaiknya untuk terus berada dalam

organisasinya. Perusahaan yang telah melakukan investasi dalam

sumber daya manusia akan sia-sia apabila tidak mempertahankan

karyawannya untuk terus berada dalam perusahaan.

c. Produktivitas karyawan

38
Produktivitas merupakan hasil dari pengaruh rata-rata dari

peningkatan keahlian dan semangat inovasi, perbaikan proses internal,

dan tingkat kepuasan pelanggan. Tujuannya adalah menghubungkan

output yang dilakukan para pekerja terhadap jumlah keseluruhan

pekerja.

2. System

Motivasi dan ketrampilan karyawan saja tidak cukup untuk

menunjang pencapaian tujuan proses pembelajaran dan pertumbuhan

apabila mereka tidak memiliki informasi yang memadai. Pegawai di bidang

operasional memerlukan informasi yang memadai. Pegawai di bidang

operasional memerlukan informasi yang cepat, tepat waktu dan akurat

sebagai umpan balik, oleh sebab itu karyawan membutuhkan suatu system

informasi yang mempunyai kualitas dan kuantitas yang memadai untuk

memenuhi kebutuhan tersebut.

3. Organizational Procedure

Prosedur yang dilakukan suatu organisasi perlu diperhatikan untuk

mencapai suatu kinerja yang handal. Prosedur dan perbaikan rutinitas harus

diteruskan karena karyawan yang sempurna dengan informasi yang

berlimpah tidak akan memberikan kontribusi pada keberhasilan usaha

apabila mereka tidak dimotivasi untuk bertindak selaras dengan tujuan

perusahaan atau apabila mereka tidak diberikan kebebasan untuk

39
mengambil keputusan atau bertindak.

Core
measurement Result
Employee Employee
retention production
Employee
safaction

Enablers
Technology Climate for
Staff competence
infrastructure action

Gambar 2.3
Kerangka pengukuran pembelajaran dan pertumbuhan

2.8 Pengertian Rumah Sakit

Menurut American Hospital Association, rumah sakit adalah suatu organisasi


yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran
yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran asuhan keperawatan
yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh
pasien (Azrul Anwar, 1966).
Sesuai dengan perkembangan rumah sakit dapat dibedakan menjadi beberapa
jenis. Menurut Azrul Anwar, rumah sakit dibedaka menjadi empat macam yaitu :
1. Menurut pemilik

Ditinjau dari pemiliknya, rumah sakit dibagi menjadi dua macam yaitu :

a. Rumah sakit pemerintah

b. Rumah sakit swasta

2. Menurut filosofi yang dianut

Menurut filosofi yang dianut rumah sakit dibagi menjadi dua macam yaitu :

a. Rumah sakit yang tidak mencari keuntungan (non profit hospital). Salah

satu faktor yang membedakan rumah sakit milik pemerintah dengan

40
swasta adalah terletak orientasinya terhadap laba. Rumah sakit milik

pemerintah merupakan organisasi nirlaba yaitu organisasi yang

orientasi utamanya bukan untuk mencari laba tetapi lebih

mengutamakan peningkatan pelayanan.

b. Rumah sakit yang mencari keuntungan (profit hospital). Rumah sakit

swasta telah dikelola secara komersial serta berorientasi untuk mencari

keuntungan.

3. Mencari jenis pelayanan yang diselenggarakan

Jika dilihat dari sisi pelayanan yang diselenggarakan rumah sakit dibedakan

menjadi dua macam yaitu :

a. Rumah sakit umum (general hospital)

Disebut rumah sakit umum bila semua jenis pelayanan kesehatan

diselenggarakan.

b. Rumah sakit khusus (specialty hospital)

Jika hanya satu jenis pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.

4. Menurut lokasi rumah sakit

Jika ditinjau dari lokasinya rumah sakit dibedakan menjadi beberapa

macam tergantung dari sistem pemerintah yang dianut. Contohnya rumah

sakit pusat, jika lokasinya di ibu kota negara, rumah sakit propinsi jika

lokasinya di ibukota propinsi.

2.9 Penelitian Terdahulu

1. Helen Livingston (1999) melakukan penelitian mengenai penerapan BSC

41
pada organisasi nirlaba dengan judul “Creating a BSC Tempalate : O

Frame Work For Strategic Planning and Management at Deakin

University Library”.

Hasil penelitian tersebut adalah untuk perkembangan jangka perpustakaan

Deakin selama tiga tahun terakhir memfokuskan pada perencanaan strategi

untuk menerapkan strategi tersebut. Perpustakaan harus mempunyai tolok

ukur yang jelas yang akan dikomunikasikan ke seluruh karyawan.

Penerapan BSC dalam lingkungan perpustakaan Deakin akan semakin

relevan dengan penambahan perspektif dari keempat perspektif yang ada

yaitu perspektif sumber informasi.

2. Dwi Cahyono (2000) melakukan penelitian mengenai penerapan BSC di

sektor publik. Penelitian tersebut mengambil judul “Pengukuran Kinerja

BSC Untuk Organisasi Sektor Publik”.

Hasil analisis tersebut adalah bahwa untuk kinerja organisasi sektor publik

diperlukan banyak pendekatan selain pendekatan keuangan yang menjadi

kendala. Jika pendekatan non keuangan dapat diterapkan di organisasi ini.

Sebenarnya secara tidak langsung organisasi sektor publik sudah

menerapkan pengukuran kinerja BSC akan tetapi belum mengetahui apa

yang hendak dipakai dalam mengukur kinerjanya.

3. Azka Mun’in (2001) melakukan penelitian tingkat kepuasan terhadap

rumah sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang yang menyebutkan bahwa

selama tahun 1997 – 1999 perspektif konsumen menunjukkan tingkat

kepuasan pelanggan yang belum memuaskan sehingga menyebabkan

42
turunnya customer retention (42,04%) dan pertumbuhan new customer

(11,11%). Kemudian pada perspektif pertumbuhan dalam pembelajaran

memperlihatkan tingkat kepuasan karyawan yang rendah (45,16%), tingkat

kedisiplinan karyawan dan tingkat kesetiaan karyawan menurun (1,72%

dan 0,47%).

4. Endah Kusuma I (2003), melakukan penelitian dengan judul “Penerapan

BSC Sebagai Alat Ukur Kinerja Pada Organisasi Nirlaba” (Studi Kasus

Pada Yayasan Setoran Semarang).

Hasil dari penelitian tersebut adalah menyebutkan bahwa selama tahun

2000 – 2002 masing-masing perspektif yang diterapkan pada yayasan

tersebut mengalami peningkatan yaitu perspektif pembelajaran dan

pertumbuhan naik sebesar 11%, perspektif proses bisnis internal sebesar

74%, perspektif klien/pelanggan sebesar 68% dan perspektif keuangan

63%.

43
44
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Objek dan Lokasi Penelitian

Objek yang dipilih dalam penelitian ini adalah Rumah Sakit Kristen

Tayu dengan alasan bahwa penerapan Balanced Scorecard dalam mengukur

kinerja Rumah Sakit Kristen Tayu merupakan langkah strategik yang

berdampak besar terhadap kemampuan manajemen Rumah Sakit Kristen Tayu

dalam melipatgandakan kinerjanya, baik ditinjau dari aspek Keuangan maupun

aspek Non-Keuangan dan diharapkan Rumah Sakit Kristen Tayu akan mampu

bersaing serta berkembang dengan baik.

3.2 Populasi dan Sampel

3.2.1 Populasi

Populasi adalah sejumlah individu yang mempunyai sifat atau kepentingan


yang sama (Sutrisno Hadi, 1997 : 220). Dalam penelitian ini populasi adalah
para konsumen Rumah Sakit Kristen Tayu yang akan digunakan untuk
menilai kepuasan pada aspek konsumen dan karyawan Rumah Sakit Kristen
Tayu yang berjumlah 450 orang yang akan digunakan untuk menilai
kepuasan karyawan pada aspek pertumbuhan dan pembelajaran.

3.2.2 Sampel

Penentuan sempel yaitu yang menjadi responden adalah karyawan yang


terkait dengan penilaian yang akan dilaksanakan untuk mengetahui tingkat
kepuasan karyawan melalui penyebaran kuesioner. Sampel yang baik adalah
sampel yang mewakili populasi secara keseluruhan. Sampel dalam penelitian
ini adalah para responden yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
ada dalam kuesioner.
Sementara itu, metode pengambilan sampel untuk karyawan Rumah Sakit
Kristen Tayu adalah metode Non Random Sampling yaitu Convenience

45
Sampling dimana penentuan jumlah sampel dari elemen populasi yang
datanya mudah diperoleh peneliti. Elemen populasi yang dipilih sebagai
subjek adalah tidak terbatas sehingga peneliti memiliki kebebasan untuk
memilih sampel yang paling cepat dan murah (Nur Indriantoro & Bambang,
1999 : 130). Penentuan besarnya sampel menggunakan rumus Slovin yaitu :
N
n=
N .d2 + 1
350
n= = 77,8 (dibulatkan menjadi 78 orang)
350 . 0,12 + 1

keterangan :

N = populasi

n = sampel

3.3 Metode Pengumpulan Data

3.3.1 Jenis dan Sumber Data

1. Data Primer

Data primer adalah data yang didapat langsung dari sumbernya (Sutrisno Hadi,

1997 : 134).

Data primer ini berupa hasil jawaban responden mengenai

kepuasan karyawan tentang semagat kerja, motivasi, kondisi fisik tempat

kerja dan tentang rumah sakit secata umum.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung, berupa keterangan yang

ada hubungannya dengan penelitian yang sifatnya melengkapi atau mendukung data

primer (Sutrisno Hadi, 1997 : 134). Dalam penelitian ini data sekunder tersebut berupa

data mengenai pelangan atau komsumen, rasio-rasio kinerja Rumah Sakit dan gambaram

umum Rumah Sakit Kristen Tayu selama tiga tahun.

46
3.4 Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Wawancara yaitu dengan mengadakan Tanya jawab langsung dengan pihak

Rumah sakit.

2. Kuesoner yaitu melalui pengajuan kuessioner yang mengetahui seberapa

besar tingkat kepuasan karyawan Rumah Sakit.

3. Studi pustaka yaitu dengan cara mempelajari literatur-literatur yang relevan

dengan penelitian guna memperoleh gambaran teoritis mengenai aplikasi

Balanced Scorecard pada suatu perusahaan, khususnya Rumah Sakit.

Metode ini di perlukan untuk menujang kelengkapan dan ketajaman

analisis.

3.5 Pengujian Instrumen Penelitian

Sebelum dilakukan perhitungan dan pengolahan dengan menggunakan

alat analisis, maka semua instrumen penelitian diuji terlebih dahulu untuk

mengetahui apakah instrumen tersebut valid dan reliabel. Pengujian instrumen

dilakukan dengan menggunakan :

a. Uji Validitas

Uji validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur benar-benar cocok atau

sesuai sebagai alat ukur yang diinginkan. Pengujian validitas dilakukan untuk menguji

apakah hasil jawaban dari kuesioner oleh responden benar-benar cocok untuk digunakan

dalam penelitian ini.

Untuk menguji validitasnya menggunakan statistic factor analysis

47
significancy, nilai Loading Factor yang dipakai adalah 0,4.

Pengambilan Keputusan: (Augusty Ferdinand, 2002 : 133)

- Apabila nilai loading factor menunjukkan nilai lebih besar atau sama

dengan 0,4, maka butir pernyataan tersebut valid

- Apabila nilai loading factor menunjukkan nilai lebih kecil atau sama

dengan 0,4, maka butir pernyataan tersebut tidak valid.

b. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah tingkat kestabilan suatu alat pengukur dalam

mengukur suatu gejala atau kejadian. Pengujian reliabilitas dilakukan untuk

mengetahui apakah hasil jawaban dari kuesioner oleh responden benar-

benar stabil dalam mengukur suatu gejala atau kejadian. Semakin tinggi

reliabilitas suatu alat pengukur, semakin stabil pula alat pengukur tersebut

dan sebaliknya jika reliabilitas pengukur tersebut rendah maka alat tersebut

tidak stabil dalam mengukur suatu gejala. Teknik pengujian reliabilitas

dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis yang dikembangkan oleh

Cronbach Alpha ( α ), dengan rumus sebagai berikut : (Imam Ghozali,

2001;129)

k .r
α =
1 + (k − 1)r

Keterangan :

α = Koefisien reliabilitas

r = rata-rata korelasi antar butir

k = jumlah butir

Pengambilan Keputusan :

48
- Jika koefisien Cronbach Alpha ( α ) < 0,6 maka butir pertanyaan

dinyatakan tidak reliabel.

- Jika koefisien Cronbach Alpha ( α ) ≥ 0,6 maka butir pertanyaan

dinyatakan reliabel.

3.6 Metode Analisis

1. Analisis kualitatif meliputi klarifikasi visi, misi dan tujuan ke dalam


rencana strategi perusahaan.
2. Analisis kuantitatif

Pengukuran kinerja masing-masing perspektif.

Rumusnya :

a. Mengukur kinerja perspektif keuangan

Perspektif ini menggunakan perhitungan :

laba bersih
- ROI = x 100%
total aktiva

Penjualan
- Rasio Efesiensi = x 100%
Aktiva Lancar

b. Mengukur kinerja perspektif konsumen

Perspektif ini menggunakan perhitungan :

- Kepuasan pelanggan

Kepuasan pelanggan ini diketahui dari data sekunder yaitu survey

yang dilakukan oleh pihak manajemen Rumah Sakit. Mengukur

seberapa jauh kepuasan pelanggan atas pelayanan kesehatan yang

diberikan oleh Rumah Sakit. Kepuasan konsumen mengukur rata-

49
rata kepuasan pelanggan dengan meberikan nilai pada jawaban

kuesinoer sesuai dengan tingkat kepuasan yang dirasakan. Nilai

yang diberikan adalah:

1. 1: sangat tidak puas.

2. 2: tidak puas.

3. 3: ragu-ragu.

4. 4: puas.

5. 5: sangat puas.

Untuk mengetahui rata-rata kepuasan konsumen maka jumlah skor

jawaban kuesioner dibagi dengan jumlah konsumen yang menjadi

responden.

Penentuan kreteria rata-rata kepusan pelanggan.

c. Mengukur kinerja perspektif proses internal bisnis.

Berdasarkan data sekunder yang diambil dari Rumah Sakit perspektif

ini menggunakan perhitungan :

- BTO (Bed Turn Over Rate)

D
BTO =
A

- GDR (Gross Death Rate)

Pm
GDR = x 1000 mil
D

- NDR (Net Death Rate)

Pm > 48 jam
- NDR = x 1000 mil
D

50
Keterangan :

O = rerata tempat terisi dihitung dari jumlah tempat tidur yang terisi, kemudian

hasilnya dibagi jumlah hari dalam bulan yang bersangkutan

D = jumlah pasien keluar (hidup/mati)

A = rerata tempat tidur yang siap dipakai

T = jumlah hari perhitungan (30/31/365)

Pm = pasien mati

d. Mengukur kinerja perspektif pembelajaran dan pertumbuhan perspektif

ini menggunakan perhitungan :

laba operasi
- Produktivitas karyawan =
jumlah karyawan

- Perputaran karyawan =

jumlah karyawan keluar


x 100%
jml total karyawan pada thn berjalan

- Kepuasan karyawan

Dianggap sebagai penentu dari kedua pengukuran sebelumnya.

Pengukurannya dilakukan dengan survey kepuasan karyawan

melalui kuesioner. Kepuasan karyawan mengukur rata-rata

kepuasan karyawan dengan meberikan nilai pada jawaban kuesinoer

sesuai dengan tingkat kepuasan yang dirasakan. Nilai yang

diberikan adalah:

1. 1: sangat tidak puas.

2. 2: tidak puas.

3. 3: ragu-ragu.

51
4. 4: puas.

5. 5: sangat puas.

Jumlah karyawan x skor


Kepuasan karyawan = x 100%
Total bobot

Untuk mengetahui rata-rata kepuasan karyawan maka jumlah skor

jawaban kuesioner dibagi dengan jumlah karyawan yang menjadi

responden.

Penentuan kreteria rata-rata kepusan karyawan.

Tabulasi Perhitungan Keempat Perspektif Balanced Scarecard

Jenis Variabel Indikator Pengukuran


1. Perspektif
keuangan
- ROI - Peningkatan Laba - Prosentase laba bersih terhadap
Bersih total aktiva
- Rasio Efesiensi - Penurunan Biaya - Presentase penjualan bersih
Operasi terhadap aktiva lancar
2. Perspektif
pelanggan
- Kepuasan - Peningkatan - kuesuner terhadap kepuasan
pelanggan kepuasan pelanggan
pelanggan
3. Perspektif proses
internal bisnis
- BTO - Peningkatan BTO - Perbandingan antara jumlah pasien
keluar dengan tata tempat yang siap
pakai
- GDR - Penurunan GDR - Perbandingan antara pasien mati
dengan jumlah untuk tiap 1000
pasien keluar
- NDR - Penurunan NDR - Perbandingan antara pasien mati >
48 jam setelah dirawat dengan
jumlah untuk tiap-tiap 1.000 pasien
keluar

52
4. Perspektif
pembelajaran dan
pertumbuhan
- Produktivitas - Peningkatan - Perbandingan antara laba operasi
karyawan produktivitas dengan total karyawan
karyawan
- Retensi - Penurunan jumlah - Perbandingan antara jumlah
karyawan karyawan keluar karyawan keluar dengan total
karyawan tahun berjalan
- Kepuasan - Peningkatan - Kuesioner terhadap kepuasan
karyawan kepuasan karyawan
karyawan

53
BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.2.Gamabaran Umum Obyek Penelitian

Penelitian ini bermaksud untuk mengkaji kinerja menggunakan

Balance Scorecard yang diterapkan pada Badan Usaha berbentuk Rumah

Sakit (Studi kasus pada Rumah Sakit Krinten Tayu Pati. Rumah Sakit Kriten

Tayu Pati adalah Rumah Sakit Swasta Daerah Provinsi Jawa Tengah sebagai

unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan berdasarkan SK Gubernur No.

59/DH.TAP/1972, yang secara taknis fungsional bertanggung jawab kepada

Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah dan secara taktis operasional kepada

Bupati. Rumah Sakit Kristen Tayu Pati merupakan Rumah Sakit Kelas B

Non Pendidikan sesuai dengan SK Menkes No. 93/Menkes/SK/1995 yang

struktur organisasinya dan tata kerjanya diatur melalui peraturan Pemerintah

Daerah Propinsi Jawa Tengah No. 2 Tahun 2003 yang mengatur Tugas

Pokok dan fungsi dengan uraian tugas pada masing-masing unit kegiatan.

Rumah Sakit Kristen Tayu Pati beridiri di atas tanah seluas 41.057

M2 dengan luas bangunan 13.064 M2 dengan 200 tempat tidur yang

memberikan pelayanan melalui Instalasi Rawat Jalan, Rawat Inap dan

Rawat Darurat serta pelayanan penunjang lainnya dalam tiga belas bidang

keahlian/spesifik dan menjadi Rumah Sakit Pusat Rujukan untuk daerah Pati

dan sekitarnya.

41
4.2.Visi dan Misi

Rumah Sakit merupakan salah satu unit bisnis nir laba yang

didirikan dengan mempunyai Visi dan Misi yang hendak dicapai.

Adapun Visi dari didirikannya Rumah Sakit Kristen Tayu Pati adalah

terwujudnya pelayanan kesehatan masyarakat paripurna yang prima.

Sedangkan Misi yang hendak dicapai dari didirikannya rumah sakit

kristen Tayu Pati adalah :

.1 Menyiapkan dan mengembangkan Sumber Daya Manusia

.2 Mendukung sarana dan prasarana kesehatan yang berkualitas dan

bermanfaat secara optimal

.3 Kerjasama dengan mitra Rumah Sakit

.4 Memberikan pelayanan kesehatan yang Profesional

.5 Meningkatkan pendapatan Rumah Sakit

.6 Meningkatkan Kesejahteraan karyawan

4.2.Tujuan

Adapun tujuan dari didirikannya Rumah Sakit Kristen Tayu Pati

yaitu memberikan pelayanan kesehatan masyarakat.

4.2.Bidang Usaha

Rumah sakit Krintes Tayu Pati merupakan entitas bisnis nir laba yang

bergerak dalam bidang jasa pelayanan kesehatan adapun jasa yang

ditawarkan dilayani yaitu meliputi :

.1 Pelayanan Medis

.2 Pelayanan Gawat Darurat

.3 Kamar Operasi

42
.4 Pelayanan Intensif

.5 Pelayanan Prinital Resiko Tinggi

.6 Pelayanan Keperawatan

.7 Pelayanan Anestesi

.8 Pelayanan Radiologi

.9 Pelayanan Farmasi

.10 Pelayanan Laboratorium

.11 Pelayanan Rehabilitasi Medis

.12 Pelayanan Gizi

.13 Rekam Medis

.14 Pengendalian Infeksi di RS

.15 Pelayanan Sterilisasi Sentral

.16 Keselamatan kerja, kebakaran dan ka\ewaspadaan berencana

.17 Pemeliharaan suasana

.18 Pelayanan lain

.19 Perpustakaan

4.2.Analisis Data

4.2.1 Kinerja Perspektif Keuangan

Kinerja perspektif keuangan adalah merupakan ikhtisar dari

konsekuensi ekonomi yang telah dilakukan oleh pihak manajemen. Pada

perspektif ini terdapat beberapa indikator yang dijadikan pengukuran

kinerja perspektif keuangan tahun 2004-2005 dengan mengacu pada

laporan keuangan Rumah Sakit Kristen Tayu Pati. Berdasarkan data

43
skunder yang diperoleh, laporan keuangan tersebut dapat dilihat pada tabel

4.1 dan tabel 4.2 sebagai berikut :

Tabel 4.1
Neraca Rumah Sakit Kristen Tayu
Per 31 Desember 2004 dan 2005
AKTIVA
Akun Saldo 2004 (Rp) Saldo 2005 (Rp)
I Aktiva Lancar
Kas Rp 40.541.750 Rp 52.450.500
Piutang pasien Rp 15.580.000 Rp 25.855.000
Persediaan Rp 9.914.650 Rp 103.450.750

Total Aktiva lancar Rp 146.036.400 Rp 181.786.250

II Aktiva Tetap
Tanah Rp 67.850.000 Rp 80.850.000
Gedung dan Bangunan Rp 126.242.500 Rp 125.242.500
Akumulasi Penyusutan Rp 56.809.125 Rp 63.121.250
Alat Medik Rp 78.435.000 Rp 78.435.000
Akumulasi Penyusutan Rp 35.295.750 Rp 39.217.500
Mesin dan Instalasi Rp 85.750.000 Rp 85.750.000
Akumulasi Penyusutan Rp 38.587.500 Rp 42.875.000
Perabot Rp 45.625.000 Rp 45.625.000
Akumulasi Penyusutan Rp 20.531.250 Rp 22.812.500
Kendaraan Rp 124.850.000 Rp 124.850.000
Akumulasi Penyusutan Rp 56.182.500 Rp 62.425.000
Alat Kerja Rp 35.200.000 Rp 35.200.000
Akumulasi Penyusutan Rp 15.840.000 Rp 17.600.000

Total Aktiva Rp 486.742.775 Rp 510.687.500

HUTANG DAN EKUITAS


III Hutang Jangka Pendek
Hutang Pihak Ke III Rp 34.850.700 Rp 30.550.000

Total Hutang Jangka Pendek Rp 34.850.700 Rp 30.550.000

IV Ekuitas
Modal + Laba Rp 451.892.075 Rp 480.137.500

Total Modal Rp 451.892.075 Rp 480.137.500

Total Hutang dan Ekuitas Rp 486.742.775 Rp 510.687.500

44
Tabel 4.2
Laba-Rugi Rumah Sakit Kristen Tayu
Periode 2004 dan 2005

Akun Saldo 2004 (Rp) Saldo 2005 (Rp)


A Pendapatan
Rawat Inap Rp 705.833.600 Rp 823.334.500
Rawat Jalan Rp 450.853.000 Rp 503.415.000
Lain-lain Rp 6.362.200 Rp 8.448.800

Total Pendapatan Rp 1.163.048.800 Rp 1.335.198.300

B Biaya-biaya
Gaji dan tunjangan Rp 444.030.500 Rp 479.122.000
Pensiun Rp 64.470.600 Rp 77.882.400
Uang lelah Rp 168.065.300 Rp 172.261.200
Pemakaian dapur Rp 57.249.100 Rp 68.996.600
Pemakaian logistik Rp 76.353.050 Rp 86.412.200
Pemakaian obat Rp 84.364.350 Rp 87.457.300
Pemakaian alat RT, suplies, dll Rp 23.296.800 Rp 27.187.300
Pemeliharaan gedung Rp 6.474.300 Rp 4.897.500
Listrik Rp 21.806.700 Rp 37.226.800
Telpon Rp 11.761.225 Rp 15.004.900
BBM Rp 12.057.300 Rp 18.229.200
PMI Rp 23.840.000 Rp 25.360.000
Perjalanan Dinas Rp 12.273.200 Rp 15.092.800
Foto Copy Rp 2.574.300 Rp 1.297.500
Akses Rp 26.241.950 Rp 28.967.800
Penyusutan Rp 24.805.125 Rp 24.805.125
Lain-lain Rp 1.200.900 Rp 1.287.600

Total Biaya Rp 1.060.864.700 Rp 1.171.528.225

Laba (Rugi) kotor Rp 102.184.100 Rp 163.670.075


Pajak Rp 10.218.410 Rp 16.367.007

Laba (Rugu) bersih Rp 91.965.690 Rp 147.294.068


Sumber : Lampiran I dan II

45
Pada Tebel 4.3 berikut disajikan ukuran hasil dari kinerja perspektif

keuangan secara menyeluruh.

Tabel 4.3
Rasio-rasio Keuangan RS Kristen Tayu
PATI 2004-2005

Tahun
UKURAN
2004 2005
ROI (%) 18,98 % 28,84%
Rasio Efesiensi 7,9 % 7,3 %
Sumber : Lampiran I-IV dan VII

A. Indikator ROI

Indikator ROI bertujuan untuk mengukur peningkatan laba bersih

yang dihasilkan dari Rumah Sakit Kristen Tayu Pati pada tahun 2004-

2005 yang diukur dengan membagi prosentase laba bersih dengan total

aktova.

ROI tahun 2004 ROI tahun 2005

Rp.91.956.690 Rp.147.294.068
ROI = x 100% ROI = x 100%
Rp.486.742.775 Rp510.687.500

ROI = 18,98% ROI = 28,84 %


Berdasarkan data dan hasil perhitungan yang disajikan pada tabel

4.3 di atas, dapat dilihat bahwa nilai ROI dari tahun 2004-2005

mengalami peningkatas sebesar 9,86% (28,84%-18,98% = 9,86%). Hal ini

berarti bahwa tingkat pengembalian atas investasi/Return On Investment

(ROI) yang dilakukan mengalami peningkatan yang baik yaitu sebesar

9,86% karena berdasarkan penilaian kelayakan usaha, apabila

tingkat ROI lebih dari 5 % berarti telah dianggaplayak / baik

(www.depkes.go.it/kebijakan/rs/pusk/sistem)

46
B. Indikator Rasio Efesiensi

Indicator Rasio Efesiensi bertujuan untuk melihat penurunan biaya

operasi dalam hubungannya dengan pendapatan yang digunakan oleh

Rumah Sakit Kristen Tayu pada tahun 2004-2005, yang diukur dengan

membandingkan pendapatan aktiva lancar.

Rasio Efesiensi tahun 2004 Rasio Efesiensi tahun 2005

Rp.1.163.048.800 Rp.1.335.198.300
Rasio Efesiensi = x 100% Rasio Efesiensi = x 100%
Rp.146.036.400 Rp181.786.250

ROI = 18,98% ROI = 28,84 %


Berdasarkan data dan hasil perhitungan yang disajikan pada tabel 4.3 di

atas dapat dilihat bahwa nilai rasio efesiensi dari tahun 2004-2005

mengalami peningkatan sebesr 0,6%( 7,9% - 7,3% = 0,6%). Hal ini berarti

bahwa rasio efesiensi Rumah Sakit menurun sehingga biaya operasi dapat

ditekan.

4.22. Kinerja Perspektif Konsumen

Basisi dari perspektif ini adalah menciptakan konsumen yang mampu

menghasilkan financial return tinggi. Hal tersebut dapat terwujud jika

perusahaan memperhatikan proses (aspek waktu, kualitas, kinerja dan

layanan) dan hasilnya berupa ukuran hasil (Out Come Measure) sebagai

parameter perspektif ini. Tetapi Rumah Sakit Kristen Tayu didirikan bukan

sebagai Unit Usaha yang beroreintasi (Profit Oriented). Kinerja Perspektif

konsumen (pasien) diukur denganmenggunakanindikator kepuasan pasien

Rumah Sakit Kristen Tayu Pati.

A. Indikator Kepuasan Pelanggan

47
Indicator kepuasan pelanggan bertujuan untuk mmengukur

peningkatan kepuasan pelanggan (pasien), pelanggan adalah orang yang

melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Kristen Tayu, yang diukur

idukur dengan mengisi daftar pertanyaan kusioner yang telah

disediakan. Pasien yang telah menjadi responden sebanyak 100 orang

pasien. Hal yang khusus dan mutlak yang harus dilakukan dari

kuesioner adalah jawaban dari kuesioner tersebut harus diuji validitas

dan reliabilitas. Pengujian tersebut diperlukan agar jawaban yang

diberikan benar-benar dapat mengukur apa yang hendak kita ukur.

 Uji Validitas

Suatu instrument dikatakan valid apabila dapat mengukur apa

yang seharusnya dilakukan dan mengukur apa yang seharusnya

diukur. Bila instrument tidak valid, maka instrument tersebut tidak

bermanfaat bagi peniliti, karena tidak mengukur atau melakukan apa

yan seharusnya dilakukan.

Untuk melakukan uji validitas instrument penelitian digunakan

stsatistic factor analysis isgnificancy, nilai Loading Factor yang

dipakai adalah 0,4. Apabila nilai Loading Factor menunjukkan nilai

lebih besar dari 0,4, maka butir pernyataan tersebut valid (Augusty

Feerdinand, 2002 :133). Pada tabel 4.4 berikut disajikan hasil uji

validitas untuk item-item pernyataan tentang Kepuasan Pasien.

Tebl 4.4

Hasil Uji Validitas – Dimensi Kepuasan Pasien

48
Pernyataan Loading Factor Validiy Keterangan
K1 0,721 0,4 valid
K2 0,688 0,4 valid
K3 0,690 0,4 valid
K4 0,622 0,4 valid
K5 0,791 0,4 valid
K6 0,687 0,4 valid
K7 0,547 0,4 valid
K8 0,609 0,4 valid
K9 0,594 0,4 valid
K10 0,736 0,4 valid
K11 0,606 0,4 valid
K12 0,585 0,4 valid
K13 0,730 0,4 valid
K14 0,717 0,4 valid
K15 0,612 0,4 valid
K16 0,664 0,4 valid
K17 0,696 0,4 valid
K18 0,668 0,4 valid
Sumber : Lampiran XXII

Berdasarkan hasil uji validitas pada tabel 4.4 diatas dapat

dilihat bahwa nilai Loading factor untuk dimensi pernyataan mengenai

kepuasan pasien memiliki nilsi loading factor di atas atau lebi besar

dari 0,4. sehingga dapat disimpulkan bahwa butir masing-masing

pertanyaan mengenai Kepuasan Pasien dapat dikategorikan valid dan

memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke analisis uji reliabilitas dan

pengujian hipotesis

 Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana

suatu alat ukur dapat idpercaya atau dapat diandalkan (Singarimbun,

1989:140). Teknik pengujian reliabilitas dalam penlitian ini

49
menggunakan teknik analisis yang dikembangkan oleh Cronbach

Alpha ( α )

Uji relibilitas dilakukan dengan melihat hasil Cronbach`s alpha

coefficientlebih besar dari 0,6 maka instrument penelitian dari

konstruk tersebut dapat dikatakan reliable (Ima Ghozali, 2001). Pada

tebel 4.5 berikut ini disajikan hasil uji reliabilitas untuk item-item

pernyataan mengenai kepuasan pasien.

Tebel 4.5
Hasil Uji Reliabilitas

Cronback`s
Dimensi Reliability Keteranga
alpha
Kepuasan Pasien 0,9167 0,6 Reliabel

Sumber : Lampiran XXIII

Dari hasil uji reliabilitas yang disajikan pada tebel 4.5 di atas

diperoleh nilai cronbach`s alpha untuk dimensi kepuasan pasien sebesar

0,916>0,6. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh butir pernyataan

untuk kepuasan pasien adalah reliable. Pada tebl 4.7 berikut disajikan

ringkasan jawaban / tanggapan responden terhadap pelayanan rumah sakit.

Table 4.7
Statistic deskriptif kepuasan pasien

Kisaran Kisaran Median


Variable Rata-rata
teoritis aktual teoritis
Kepuasan
18 - 90 63 - 90 69,9800 54,000
pasien
Pengukuran variable tingkat kepuasan pasien menggunakan

50
instrumen Mun`im Azka (2001), terdiri dari 18 pertanyaan dengan skor 1

sampai 5. Tingkat kepuasan pasien tinggi dengan skala tinggi dan tingkat

kepuasan pasien rendah dengan skala rendah. Berdasarkan hasil

pengukuran variabel tingkat kepuasan pasien, skor jawaban responden

berkisar 63-90 dengan kisaran teoritis 18 – 90. Dari tabel statistik

deskriptif, nilai median teoritis untuk variabel tingkat kepuasan pasien

sebesar 54 dan nilai rata-ratanya sebesar 63,9800, sehingga data diketahui

bahwa tingkat kepuasan pasien dalam penelitian ini dalam kondisi yang

tinggi.

4.2.3 Kinerja Perspektif Proses Internal Bisnis

Kinerja perspektif proses bisnis internal diukur dengan menggunakan

tiga indikator yaitu : Bed Turnover Ratio (BTO), Gross Death Rate (GDR)

dan Net Death Rate (NDR). Hasil perhitungan dari ketiga indikator

perspektif proses bisnis internal dapat dilihat pada tabel 4. 8 berikut :

Tabel 4.8
Kinerja Proses Internal RS Kristen Tayu
Pati 2004-2005
Tahun
UKURAN
2004 2005
BTO (kali) 16,58 kali 19,39 kali
GDR (Permil) 45,8 permil 47,4 permil
NDR (Permil) 44,63 permil 30,03 permil
A. Indikator Bed Turnover Ratio (BTO)

Indikator Bed Turnover Ratio (BTO) bertujuan untuk mengukur

peningkatan Bed Turnover Ratio (BTO), yang diukur dengan

perbandingan antara jumlah pasien yang keluar dengan tempat tidur

yang siap pakai.

51
BTO tahun 2004 BTO tahun 2005
3316 3878
BTO = (kali) BTO = (kali)
200 200
BTO = 16,58 KALI BTO = 19,39 kali
Berdasarkan data dan hasil perhitungan yang disajikan pada tabel

4.8 di atas, dapat dilihat bahwa nilai Bed Turnover ratio dari tahun 2004-

2005 mengalami peningkatan sebesar 2,81 kali (19,39 kali – 16,58 kali =

2,81 kali). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat perputaran tempat tidur

yang terisi terus meningkat, artinya jumlah pasien yang dapat tertangani

oleh rumah sakit Kristen Tayu semakin banyak, karena pada tahun 2005

terjadi peningkatan pasien sebesar 2,81 kali jika dibanding dengan tahun

2004

B. Indikator Gross Death Rate (GDR)

Indikator Gross Death Rate (GDR) bertujuan untuk mengukur

penurunan jumlah pasien yang meninggal dunia di rumah sakit tersebut,

yang diukur dengan membandingkan antara pasien meninggal dunia

dengan jumlah untuk tiap pasien keluar.

GDR tahun 2004 GDR tahun 2005


152 184
GDR = x 1000 permil GDR = x 1000 permil
3316 3878
GDR = 45,8 permil GDR = 47,4 permil
Berdasarkan data dan hasil perhitungan yang disajikan pada tabel

4.8 di atas dapat dilihat bahwa nilai Gross Death Rate (GDR) dari tahun

2004-2005 mengalami peningkatan sebesar 1,6 permil (47,4 permil-45,8

permil = 1,6 permil). Hal ini berarti bahwa kinerja yang ditunjukkan

rumah sakit Kristen Tayu baik dalam hal perawatan, pencegahan,

kecepatan serta keamanan terhadap pasien kurang memuaskan karena

52
jumlah pasien yang meninggal belum dapat diminimalisir.

C. Indikator Net Death Rate (NDR)

Indikator Net Death Rate (NDR) bertujuan untuk mengukur

penurunan jumlah pasien yang meninggal setelah dirawat di rumah sakit

tersebut, yang diukur dengan membandingkan antara jumlah pasien yang

meninggal setelah dirawat di rumah sakit selama lebih 48 jam dengan

tiap-tiap 1000 pasien yang keluar dari rumah sakit.

NDR tahun 2004 NDR tahun 2005

148 132
NDR = x 1000 permil NDR = x 1000 permil
3316 3878

NDR = 44,63 permil NDR = 34,03 permil

Berdasarkan data dan hasilperhitungan yang disajikan pada tabel

4.8 di atas, dapat dilihat bahwa nilai Net Death Rate (NDR) dari tahun

2004-2005 mengalami penurunan sebesar 1,04 permil (44,63 permil –

34,03 permil = 1,04 permil). Hal ini berarti bahwa kinerja yang

ditunjukkan rumah sakit Kristen Tayu dalam hal perawatan intensif dan

keamanan terhadap pasien cukup memuaskan karena jumlah pasien yang

meninggal setelah dirawat di rumah sakit selama lebih dari 48 jam sudah

dapat diminimalisir.

4.2.4 Kinerja Perspektif pertumbuhan dan Pembelajaran

Pengukuran kinerja perspektif pertumbuhan dan pembelajaran

merupakan perspektif yang paling mendasar dalam Balance Scorecard.

Kinerja perspektif pertumbuhan dan pembelajaran diukur dengan

53
menggunakan indikator tiga indikator yaitu : Produktifitas karyawan,

Retensi Karyawan dan kepuasan karyawan. Produktifitas karyawan

ditentukan oleh kompetensi dan ketersediaan baik sarana maupun prasarana

untuk menjalankan aktifitasnya. Karyawan yang berkomitmen ditentukan

oleh kualitas lingkungan kinerjanya, yang tercermin dalam kepuasan

karyawan terhadap seluruh aspek oraganisasi. Sedangkan kepuasan

karyawan merupakan factor yang mempengaruhi tingkat produktifitas

karyawan.

Hasil perhitungan kinerja perspektif pertumbuhan dan pembelajaran

yang diukur dengan indikator produktifitas karyawan dan retensi karyawan

dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut :

Tabel 4.9
Kinerja Pertumbuhan dan Pembelajaran RS Kristen Tayu
Pati 2004-2005
Tahun
UKURAN
2004 2005
Produktifitas karyawan Rp 282.276,51/karyawan Rp 429.580,24/karyawan
Retensi karyawa 2,2 % 2,8 %
Kepuasan karyawan - -
Sumber : Lampiran X, VI dan I-II

A. Indikator Produktifitas Karyawan

Indikator produktifitas karyawan bertujuan untuk mengukur

peningkatan produktifitas karyawan, yang diukur dengan

membandingkan laba operasi dengan total karyawan.

Produktifitas karyawan 2004

Rp102.184.100
Produktifitas karyawan =
362

Produktifitas karyawan = Rp 282.276,51 perkaryawan

54
Produktifitas karyawan 2005

Rp163.670,075
Produktifitas karyawan =
381

Produktifitas karyawan = Rp 429.580,24

Berdasarkan data dan hasil perhitungan yang disajikan pada tabel

4.9 di atas, dapat dilihat bahwa nilai produktifitas karyawan mengalami

peningkatan dari tahun 2004-2005 sebesar 147.303,73 perkaryawan

(429.580,24-282.276,51 = Rp 147.303,73 perkaryawan). Hal ini berarti

bahwa karyawan rumah sakit memiliki semangat dan etos kerja tinggi

dalam menjalankan tanggung jawab yang telah dibebankan.

B. Indikator Retensi Karyawan

Indikator Retensi karyawan bertujuan untuk mengukur penurunan

jumlah karyawan yang keluar, yang diukur dengan membandingkan

antara jumlah karyawan dengan total karyawan.

Retensi Karyawan tahun 2004 Retensi Karyawan tahun 2005

8 11
Retensi Karyawan = x 100% Retensi Karyawan = x 100%
362 381

Retensi Karyawan = 2,2 % Retensi Karyawan = 2,8 %

Berdasarkan data dan hasil perhitungan yang disajikan pada tabel

4.9 di atas, dapat dilihat bahwa nilai retensi karyawan dari tahun 2004-

2005 mengalami peningkatan sebesar 0,6% (2,8%-2,2% = 0,6%). Hal ini

berarti bahwa kemampuan rumah sakit untuk mempertahankan

55
hubungan yang baik dengan karyawan dapat dikategorikan belum

berhasil. Hali ini dikarenakan jumlah karyawan yang kelaur bekerja dari

rumah sakit tidak mengalami penurunan.

C. Kepuasan Karyawan

Indikator kepuasan karyawan bertujuan untuk mengukur

peningkatan kepuasan karyawan, yang diukur dengan mengisi daftar

pertanyaan kuesioner yang telah disediakan. Karyawan yang menjadi

responden sebanyak 78 karyawan.

 Uji Validitas

Pada tebel 4.10 berikut disajikan hasil uji validitas untuk item-item

pernyataan tentang semangat kerja.

Tabel.4.10
Hasil Uji Validitas-Dimensi Semangat Kerja

Pernyataan Loading Factor Validity Keterangan


SK1 0,870 0,4 Valid
SK2 0,870 0,4 Valid
Sumber : lampiran XIII

Hasil uji validitas pada tabel 4.10 di atas dapat dilihat bahwa

nilai loading factor untuk dimensi pernyataan mengenai semangat

kerja memiliki nilai loading factor di atas atau lebih besar dari 0,4.

sehingga dapat disimpulkan bahwa butir masing-masing pertanyaan

mengenai semangat kerja karyawan dapat dikatergorikan valid dan

memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke analisis uji reliabilitas dan

pengujian hipotesis.

Tabel 4.11
Hasil Uji Validitas-Dimensi Kepemimpinan

56
Pernyataan Loading Factor Validity Keterangan
KP1 0,691 0,4 Valid
KP2 0,717 0,4 Valid
KP3 0,812 0,4 Valid
Sumber : Lampiran XIII

Hasil uji validitas pada tabel 4.11 di atas dapat dilihat bahwa

nilai loading factor untuk dimensi pernyataan mengenai

kepemimpinan memiliki nilai loading factor di atas atau lebih besar

dari 0,4. Sehingga dapat disimpulkan bahwa butir masing-masing

pertanyaan mengenai kepemimpinan karyawan dapat dikategorikan

valid dan memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke analisis uji reabilitas

dan pengujian hipotesis.

Tabel 4.12
Hasil Uji Validitas – Dimensi Motivasi
Pernyataan Loading Factor Validity Keterangan
MV1 0,770 0,4 Valid
MV2 0,909 0,4 Valid
MV3 0,784 0,4 Valid
Sumber : Lampiran XIV

Hasil Uji validitas pada tebel 4.12 di atas dapat dilihat bahwa

nilai loading factor untuk dimensi pernyataan mengenai motivasi

memiliki nilai loading factor di atas atau lebih dari 0,4. Sehingga

dapat disimpulkan bahwa butir masing-masing pernyataan mengenai

motivasi karyawan dapat dikategorikan valid dan memenuhi syarat

untuk dilanjutkan ke analisis uji reabilitas dan pengujian hepotesis.

Tabel 4.13
Hasil Validitas-Dimensi Komunikasi

Pernyataan Loading Factor Validity Keterangan

57
K1 0,671 0,4 Valid
K2 0,820 0,4 Valid
K3 0,763 0,4 Valid
Sumber : Lampiran XIV

Hasil Uji validitas pada tebel 4.13 di atas dapat dilihat bahwa

nilai loading factor untuk dimensi pernyataan mengenai komunikasi

memiliki nilai loading factor di atas atau lebih dari 0,4. Sehingga

dapat disimpulkan bahwa butir masing-masing pernyataan mengenai

komunikasi karyawan dapat dikategorikan valid dan memenuhi

syarat untuk dilanjutkan ke analisis uji reabilitas dan pengujian

hepotesis.

Tabel 4.14
Hasil Validitas-Dimensi Kondisi fisik tempat kerja

Pernyataan Loading Factor Validity Keterangan


K1 0,671 0,4 Valid
K2 0,820 0,4 Valid
K3 0,763 0,4 Valid
Sumber : Lampiran XV

Hasil Uji validitas pada tebel 4.14 di atas dapat dilihat bahwa

nilai loading factor untuk dimensi pernyataan mengenai kondisi fisik

tempat kerja memiliki nilai loading factor di atas atau lebih dari 0,4.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa butir masing-masing pernyataan

mengenai kondisi fisik tempat kerja dapat dikategorikan valid dan

memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke analisis uji reabilitas dan

pengujian hepotesis.

Tabel 4.15
Hasil Validitas-Dimensi tanggapan keputusan karyawan total
terhadap rumah sakit

58
Pernyataan Loading Factor Validity Keterangan
KKT1 0,759 0,4 Valid
KKT2 0,620 0,4 Valid
KKT3 0,859 0,4 Valid
KKT4 0,806 0,4 Valid
KKT5 0,845 0,4 Valid
Sumber : Lampiran XV

Hasil Uji Validitas pada tebel 4.15 di atas dapat dilihat bahwa

nilai loading factor untuk dimensi pernyataan mengenai tanggapan

keputusan karyawan total terhadap rumah sakit memiliki nilai

loading factor di atas atau lebih dari 0,4. Sehingga dapat disimpulkan

bahwa butir masing-masing pernyataan mengenai tanggapan

keputusan karyawan total terhadap rumah sakit dapat dikategorikan

valid dan memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke analisis uji reabilitas

dan pengujian hepotesis

 Uji Reliabilitas

Pada tabel 4.16 berikut ini disajikan hasil uji reliabilitas item-

item pernyataan dari semua dimensi.

Tabel 4.16
Hasil Uji Reliabilitas

Cronbach`s
Dimensi Reliability Keterangan
alpha
Semangat kerja 0,6748 0,6 Reliabel
Kepemimpinan 0,7285 0,6 Reliabel
Motivasi 0,7605 0,6 Reliabel
Komunikasi 0,6024 0,6 Reliabel
Kondisi fisik tmp kerja 0,7203 0,6 Reliabel
Keputusan karyawan total 0,8398 0,6 Reliabel

Sumber : Lampiran XVI-XXI

59
Dari hasil uji reabilitas yang dsiajikan dalam tabel 4.16 di atas

diperoleh nilai Cronbach`s alpha untuk seluruh dimensi kepuasan

karyawan sebesar lebih dari 0,6. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

seluruh butir pernyataan untuk kepuasan karyawan adalah Reliabel.

Hasil Pengujian Hipotesis

Statistik Deskriptif

Analisis stastistik deskriptf dilakukan berdasarkan jawaban dari 78

responden melalui kuestioner, untuk memberikan gambaran

mengenai variabel-variabel dalam penelitian ini, yaitu semangat

kerja, kepuasan karyawan. Hasil pengolahan data mengenai statistic

deskriptif disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4.16
Statistik Deskriptif Variabel

Kisaran Kisaran Median


Variabel Rata-rata
teoritis aktual teoritis
Semangat kerja 2 – 10 6 – 10 8,1282 6,0000
Kepemimpinan 3 – 15 9 – 15 13,1410 9,0000
Motivasi 3 – 15 13 – 15 12,2179 9,0000
Komunikasi 3 – 15 9 – 14 12,3205 9,0000
Kondisi fisik tempat kerja 3 – 15 9 – 14 12,1262 9,0000
Keputusan karyawan 5 – 25 14 – 24 20,5000 15,0000

Pengukuran variabel tingkat semangat kerja menggunakan

instrument Mun`im Azka (2001), terdiri dari 2 pernyataan dengan

skor 1 sampai 5. tingkat semangat kerja tinggi dengan skala tinggi

60
dan tingkat semangat rendah dengan skala renadah. Berdasarkan

hasil pengukuran variabel tingkat semangat kerja sebesar 6 – 10

dengan kisaran teoritis 2-10. dari tebel statistic deskriptif, nilai

median teoritis untuk variabel tingkat semangat kerja sebesar 6 dan

nilai rata-ratanya sebesar 8.1282, sehingga data diketahui bahwa

tingkat semangat kerja dalam penelitian ini dalam kondisi yang

tinggi.

Pengukuran variabel tingkat semangat kerja menggunakan

instrument Mun`im Azka (2001), terdiri dari 3 pertanyaan dengan

skor 1 sampai 5. tingkat kepemimpinan tinggi dengan skala tinggi

dan tingkat kepemimpinan rendah dengan skala rendah. Berdasarkan

hasil pengukuran variabel kepemimpinan skor jawaban responden

berkisar 9-15 dengan kisaran teoritis 3-15. dari tebel statistik

deskriptif, nilai median teoritis untuk variabel tingkat kepemimpinan

sebesar 9 dan nilai rata-ratanya sebesar 13.1410, sehingga data

diketahui bahwa tingkat kepemimpinan dalam penelitian ini dalam

kondisi yang tinggi.

Pengukuran variabel tingkat motivasi menggunakan

instrument Mun`im Azka (2001), terdiri dari 3 pertanyaan dengan

skor 1 sampai 5. tingkat motivasi tinggi dengan skala tinggi dan

tingkat motivasi rendah dengan skala rendah. Berdasarkan hasil

pengukuran variabel tingkat motivasi skor jawaban responden

berkisar 13-15 dengan kisaran teoritis 3-15. dari tebel statistik

61
deskriptif, nilai median teoritis untuk variabel tingkat motivasi

sebesar 9 dan nilai rata-ratanya sebesar 12.21779, sehingga data

diketahui bahwa tingkat komunikasi dalam penelitian ini dalam

kondisi yang tinggi.

Pengukuran variabel tingkat komuniasi menggunakan

instrument Mun`im Azka (2001), terdiri dari 3 pertanyaan dengan

skor 1 sampai 5. tingkat komuniasi tinggi dengan skala tinggi dan

tingkat komuniasi rendah dengan skala rendah. Berdasarkan hasil

pengukuran variabel tingkat komuniasi skor jawaban responden

berkisar 9 -14 dengan kisaran teoritis 3-15. dari tebel statistik

deskriptif, nilai median teoritis untuk variabel tingkat komuniasi

sebesar 9 dan nilai rata-ratanya sebesar 12.3205, sehingga data

diketahui bahwa tingkat komuniasi dalam penelitian ini dalam

kondisi yang tinggi.

Pengukuran variabel tingkat kondisi fisik tempat kerja

menggunakan instrument Mun`im Azka (2001), terdiri dari 3

pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. tingkat kondisi fisik tempat kerja

tinggi dengan skala tinggi dan tingkat kondisi fisik tempat kerja

rendah dengan skala rendah. Berdasarkan hasil pengukuran variabel

tingkat kondisi fisik tempat kerja skor jawaban responden berkisar 9

-14 dengan kisaran teoritis 3-15. dari tebel statistik deskriptif, nilai

median teoritis untuk variabel tingkat kondisi fisik tempat kerja

sebesar 9 dan nilai rata-ratanya sebesar 12.1229, sehingga data

62
diketahui bahwa tingkat kondisi fisik tempat kerja dalam penelitian

ini dalam kondisi yang tinggi.

Pengukuran variabel tingkat kepuasan karyawan

menggunakan instrument Mun`im Azka (2001), terdiri dari 5

pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. tingkat kepuasan karyawan

tinggi dengan skala tinggi dan tingkat kepuasan karyawan rendah

dengan skala rendah. Berdasarkan hasil pengukuran variabel tingkat

kepuasan karyawan skor jawaban responden berkisar 14 -24 dengan

kisaran teoritis 5-25. dari tebel statistik deskriptif, nilai median

teoritis untuk variabel tingkat kepuasan karyawan sebesar 15 dan

nilai rata-ratanya sebesar 20.5000, sehingga data diketahui bahwa

tingkat kepuasan karyawan dalam penelitian ini dalam kondisi yang

tinggi.

4.2.5 Hasil Keseluruhan Analisis Balance Scorecard

Secara umum pada perspektif keuangan menunjukkan hasil yang

sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari indikator ROI yang mengalami

peningkatan pada tahun 2005 sebesar 9,86% dan indikator rasio efesiensi

yang juga mengalami peningkatan sebesar 0,6 % peningkatan kedua

indikator tersebut telah melebihi keukuran kelayakan usaha.

Kinerja yang diperlihatkan pada perspektif konsumen (pasien) secara

umum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari

jawaban atau tanggapan rata-rata pasien 69,9800 ini masuk pada ketegori

tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa secara umum rumah sakit Kristen Tayu

63
sudah memperhatikan kepuasan pelanggan labih baik lagi.

Hasil kinerja pada perspektif proses bisnis internal yang diukur

dengan tiga indikator yaitu BTO, NDR, dan GDR secara umum

memperlihatkan bahwa kinerja pelayanan terhadap meningkatnya

kepercayaan konsumen (pasien) untuk berobat di rumah sakit yang sangat

cepat dan efektif. Hal ini dapat dilihat bahwa dari nilai BTO tahun 2004-

2005 mengalami peningkatan sebesar 2,81 kali, yang berarti bahwa jumlah

pasien rawat inap yang telah dirawat lebihd dari 48 jam sudah memuaskan,

hal ini dapat dilihat dari penurunan NDR sebesar 1,04%. Meskipun nilai

GDR pada tahun 2005 mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran yang diukur dengan

menggunakan 3 indikator yaitu produktifitas karyawan, retensi karyawan

dan kepuasan karyawan secara umum telah menunjukkan hasil yang baik,

hal ini juga dapat berdampak pada peningkatan kualitas karyawan yang

ujungnya bermuara pada kepuasan pelanggan dalam melayani pelanggan.

Hal ini dapat dilihat dari tingkat produktifitas karyawan yang mengalami

peningkatan sebesar 147.303,73 dan hasil survei terhadap karyawan rasa

puas mereka terhadap kebijaksanaan rumah sakit. Retensi karyawan

mengalami peningkatan sebesar 0,6 % berarti bahwa kemampuan rumah skit

untuk mempertahankan hubungan yang baik dengan karyawan dapat

dikatakan belum berhasil hal ini akan berdampak pada tingkat loyalitas dan

tingkat produktifitas karyawan.

64
65
66
Tabel 4.23
Tabulasi Perbandingan Hasil Perhitungan Balance Scorecard
Hasil Selama Tahun
Jenis Variabel Keterangan
Tahun 2004-2005 2004 2005
Perspektif Keuangan Baik
ROI Peningkatan ROI 9,86 % 18,98 % 28,84 % Peningkatan ROI berarti
Pengembalian tingkat investasi
meningkat, hal ini berarti
pengelolaan keuangan atas
investasi investor dapat
dikategorikan baik atau efisien.
Rasio Efisiensi Peningkatan Rasio Efisiensi 7,9 % 11,03 %
3,13%
Prespektif Konsumen Baik
Kepuasan Pasien Kepuasan Pasien tinggi rata- - Tinggi Kepuasan pasien yang tinggi
rata 69,98 dengan menunjukkan pasien merasa
medienteoritis 54 puas terhadap pelayanan Rumah
Sakit. Hal ini berarti Rumah
sakit sudah mampu melayani
pelanggan secara maksimal
Prespektif Proses Bisnis Baik
Internal
BTO Peningkatan BTO 2.81 kali 16,58 kali 19,39 kali Peningkatan BTO ini
mengakibatkan Semakin banyak
Pasien berobat ke rumah sakit.
Hal ini berarti tingkat
keparcayaan pasien terhadap
pelayanan rumah sakit
meningkat

66
41
GDR Peningkatan GDR 1,6 permil 45,8 Permil 47,4 Permil Pelayanan pencegahan dan
kecepatan kurang memadai. Hal
ini berarti bahwa ruhah sakit perlu
meningkatkan kinerja kualitas
pelayanan dalam hal penanganan
dini.

NDR Penurunan NDR 1,04 Permil 44,63 Permil 30,03 Permil Perawatan intensif dan keamanan
memadai. Hal ini berarti kualitas
perawatan intensif mengalami
peningkatan.

Perspektif Pertumbuhan dan


Pembelajaran

67 42
Baik
Produktifitas Peningkatan Produktifitas Rp. 282.267,51 Rp.429.580,24 Memiliki semangat dan etos
Karyawan Karyawan per karyawan per karyawan kerja yang tinggi dan
Rp. 147.303,73 berkualitas
per karyawan
Retensi Karyawan Peningkatan Retensi 2,2% 2,8% Belum mampu
Karyawan 0,6% mempertahankan hubungan
baik antar karyawan
Kepuasan Kepuasan Karyawan - Puas Karyawan merasa puas
Karyawan bernilai 4,11 dengan kebijakan manjemen
yang berlaku
Kesimpulan Balance Secara keseluruhan penilaian kinerja rumah sakit Kristen Tayu menggunakan analisis balance
Scorecard scorecard menunjukkan hasil yang baik karena tiap perspektif menunjukkan hasil yang baik,
tetapi perlu dilakukan pembenahan atau peningkatan kinerja pada indikator perspektif yang belum
menunjukkan kinerja yang maksimal.

68
BAB V

KESIMPULAN

5.1.Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka dapat

diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Kinerja Perspektif Keuangan dalam penelitian ini diukur dengan

menggunakan dua indikator rasio keuangan yaitu: Return On Invesment

(ROI) dan Rasio Efesiensi. Secara umum pada perspektif keuangan

menunjukkan hasil yang sudah maksimal. Hal ini dapat dilihat dari

indikator ROI yang mengalami peningkatan pada tahun 2005 sebesar

9,86 % dan indikator Rasio Efesiensi yang juga mengalami peningkatan

sebesar 0,6 % meskipun peningkatan kedua indikator tersebut tidak

terlalu signifikan.dikarenakan rumah sakit Kristen tayu 50% pasiennya

adalah pasien dankin (dana kemiskinan) oleh pemeruntah.

2. Kinerja Perspektif konsumen (pasien) diukur dengan menggunakan

indikator kepuasan pasien Rumah Sakit Kristen Tayu Pati. Berdasarkan

hasil survey pada 100 pasien rumah sakit dapat diketahui bahwa secara

umum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat

dari jawaban/tanggapan pasien menunjukkan nilai sebesar 3,88, nilai

masuk kategori ragu-ragu. Hasil ini menunjukkan bahwa secara umum

Rumah Sakit Kristen Tayu belum benar-benar memperhatikan kepuasan

pelanggan dan diharapkan prestasi ini dapat lebih ditingkatkan.

69
3. Kinerja Perspektif proses bisnis internal diukur dengan menggunakan

indikator tiga indikator yaitu: Bed Turnover Ratio (BTO), Gross Death

Rate (GDR) dan Net Death Rate (NDR) secara umum memperlihatkan

bahwa kinerja pelayanan terhadap pasien semakin baik. Hal ini dapat

dilihat bahwa dari nilai Bed Turnover Ratio dari tahun 2004-2005

mengalami peningkatan sebesar 2,81 kali, yang berarti bahwa jumlah

pasien yang dapat tertangani oleh rumah sakit Kristen Tayu semakin

banyak dan pasien rawat inap yang telah dirawat lebih dari 48 jam

sudah memuaskan, hal ini dapat dilihat dari penurunan NDR sebesar

1,04 %. Meskipun Nilai GDR pada tahun 2005 mengalami peningkatan

yang cukup signifikan.

4. Kinerja Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran diukur dengan

menggunakan indikator tiga indikator yaitu: Produktifitas karyawan,

Retensi Karyawan dan Kepuasan Karyawan secara umum telah

menunjukkan hasil yang baik. Hal ini dapat dilihat dari tingkat

produktivitas karyawan yang mengalami peningkatan sebesar

Rp.147.303,73 per karyawan dan hasil survey terhadap karyawan yang

juga menunjukkan rasa puas mereka terhadap kebijakan rumah sakit

selama mereka bekerja. Meskipun jika dilihat dari indikator rentensi

karyawan mengalami peningkatan sebesar 0,6 % yang berarti bahwa

kemampuan rumah sakit untuk mempertahankan hubungan yang baik

dengan karyawan dapat dikategorikan belum berhasil. Dalam hal ini

pihak manajemen rumah sakit perlu mengadakan evaluasi dan mencari

70
informasi, perihal apa yang menyebabkan tingkat retensi karyawan

mengalami peningkatan. Sehingga diharapkan dimasa yang akan

datang tingkat retensi karyawan dapat menurun yang berarti bahwa

keharmonisan hubungan dengan karyawan semakin meningkat. Hal ini

akan berdampak pada tingkat loyalitas dan tingkat produktivitas

karyawan yang tinggi.

5.2. Keterbatasan

Adapun keterbatasan pada penelitian ini yaitu :

1. Jangka waktu pengamatan penelitian ini hanya dua tahun, sehingga

kurang menggambarkan kondisi dalam jangka panjang.

2. Pengukuran kinerja pada penelitian ini hanya mendasarkan pada

indikator-indikator yang terbatas pada tersedianya data yang digunakan.

5.3. Saran

Dari kesimpulan dan keterbatasan yang telah diuraikan di atas, ada

beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan pihak rumah sakit

Kristen Tayu Pati, yaitu :

1. Pihak manajemen khususnya Sub. Bag Keuangan harus lebih

meningkatkan kinerja keuangan, dengan lebih menekan biaya-biaya

operasi dan meningkatkan sistem pengendalian internal. Meskipun

rumah sakit bukan merupakan lembaga yang berorientasi pada profit,

tetapi kinerja keuangan harus tetap diperhatikan dan ditingkatkan demi

kelangsungan hidup rumah sakit.

71
2. Pada perspektif bisnis internal khususnya yang diproksi dengan Gross

Death Rate (GDR) masih velum menunjukkan kinerja yang maksimal,

oleh karena itu pihak rumah sakit harus lebih meningkatkan kualitas

pelayanan dan profesionalitas dengan memberikan pelatihan dan

pendidikan intensif, agar dalam menangani pasien lebih efektif dan

efisien sehingga angka Gross Death Rate dapat menurun..

3. Kinerja perspektif Pertumbuhan dan pembelajaran rumah sakit perlu

lebih ditingkatkan khususnya yang diukur dengan retensi karyawan

yang masih belum belum menunjukkan hasil yang optimal. Dalam hal

ini pihak rumah sakit perlu lebih meningkatkan kompetensi akryawan

dan melibatkan karyawan dalam mengambil keputusan manajemen,

demi menjaga hubungan baik antar karyawan dan meningkatkan

kualitas dan pelayanan.

4. Kinerja perspektif pelanggan juga masih belum menunjukkan hasil yang

optimal. Dalam hal ini pihak manajemen rumah sakit perlu lebih

meningkatkan kualitas pelayanan dan profesionalismenya dan mencari

sebab-sebab mengapa maupun dalam hal apa yang menyebabkan

pelanggan (pasien) merasa kurang puas dengan pelayanan rumah sakit

selama ini mengingat rumah sakit merupakan bidang pelayanan jasa

kesehatan dan wajib memperhatikan kepuasan pelanggannya.

72
SUMMARY

PENERAPAN BALANCED SCORECARD SEBAGAI


TOLOK UKUR PENILAIAN KINERJA PADA
BADAN USAHA BERBENTUK RUMAH SAKIT
(Studi Kasusu Pada Rumah Sakit Kristen Tayu Pati)

Disusun Oleh :
Nama : Aji Dwi Prihananto
NIM : 99.60.0657

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI


UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2006

73
74
ABSTRAKSI

Pengukuran kinerja merupakan suatu hal penting


bagi sebuah unit bisnis. Pengukuran kinerja Balance
Scorecard menyangkut empat perspektif yaitu :
Perspektif Keuangan, Perspektif Pelanggan, Perspektif
Proses Bisnis Internal dan Perspektif Belajar dan
Berkembang. Penulis memilih menggunakan Rumah
Sakit Kristen Tayu karena selama ini pengukuran
kinerja yang dilakukan perusahaan masih menitik
beratkan pada aspek keuangan. Metode pengujian
instrument penelitian yang digunakan yaitu pengujian
validitas dan pengujian realibilitas.Berdasarkan hasil
penelitian yang sudah dilakukan penulis dapat
mengambil kesimpulan sebagai berikut,Perspektif
Keuangan,pertumbuhan ROI dan Rasio Efisiensi
mengalami peningkatan, menujukan keuangan
meningkat. Perspektif Pelanggan, mampu
mempertahankan dan menarik minat pelanggan dan
mampu memuaskan pelanggan. Perspktif Proses
Bisnis Internal, mampu memberikan fasilitas
pelayanan yang baik walaupun pelayanan pencegahan
dan kecepatan kurang memadai. Perspektif Belajar dan
Berkembang, mampu mempertahankan karyawan dan
mampu memuaskan karyawan.

75
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Untuk memasuki lingkungan bisnis yang kompetitif, manajemen perusahaan
yang baik merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh perusahaan.
Oleh karena itu perusahaan memerlukan sistem manajemen yang didesain
sesuai dengan tuntutan lingkungan usahanya, karena dengan menggunakan
sistem manajemen yang sesuai dengan tuntutan lingkungan usaha maka
perusahaan akan mampu bersaing dan berkembang dengan baik.
Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang amat penting
bagi sebuah perusahaan. Pengukuran tersebut, dapat digunakan untuk
menilai keberhasilan perusahaan serta sebagai dasar penyusunan imbalan
dalam perusahaan. Selama ini pengukuran kinerja secara tradisional hanya
menitikberatkan pada sisi keuangan. Manajer yang berhasil mencapai
tingkat keuntungan yang tinggi akan dinilai berhasil dan memperoleh
imbalan yang baik dari perusahaan.
Akan tetapi, menilai kinerja perusahaan semata-mata dari sisi
keuangan akan dapat menyesatkan, karena kinerja keuangan yang baik saat
ini dapat dicapai dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan jangka
panjang perusahaan. Dan sebaliknya, kinerja keuangan yang kurang baik
dalam jangka pendek dapat terjadi karena perusahaan melakukan investasi-
investasi demi kekepentingan jangka panjang. Untuk mengatasi kekurangan
ini, maka diciptakan suatu metode pendekatan yang mengukur kinerja
perusahaan dengan mempertimbangkan 4 aspek yaitu aspek keuangan,
pelanggan, proses bisnis internal serta proses belajar dan berkembang (Ali
Mutasowifin, 2002 : 245).
Metode ini berusaha untuk menyeimbangkan pengukuran aspek
keuangan dengan aspek non keuangan yang secara umum dinamakan

76
Balanced Scorecard. Dengan menerapkan metode Balanced Scorecard para
manajer perusahaan akan mampu mengukur bagaimana unit bisnis mereka
melakukan penciptaan nilai saat ini dengan tetap mempertimbangkan
kepentingan-kepentingan masa yang akan datang.
Rumah Sakit adalah bentuk organisasi pengelola jasa pelayanan
kesehatan individual secara menyeluruh. Di dalam organisasinya terdapat
banyak aktivitas, yang diselenggarakan oleh petugas berbagai jenis profesi,
baik profesi medik, paramedik maupun non-medik. Untuk dapat
menjalankan fungsinya, diperlukan suatu sistem manajemen menyeluruh
yang dimulai dari proses perencanaan strategik (renstra), baik untuk jangka
panjang maupun jangka pendek. Suatu renstra dapat disebut baik apabila
perencanaan tersebut dapat ditindaklanjuti secara praktis ke dalam program-
program operasional yang berorientasi kepada economic - equity - quality.
Artinya rumah sakit dikelola secara efektif dan efisien, melayani segala
lapisan masyarakat dan berkualitas.
Memasuki era globalisasi perdagangan antarnegara sejak 2003 ini,
pimpinan rumah sakit di Indonesia perlu memfokuskan strategi
perencanaan, pengorganisasian, pengoperasian, dan pengendalian sehingga
betul-betul siap dengan daya saing di tingkat global. Di dalam era tersebut,
para konsumen bebas memilih rumah sakit mana yang mampu memberikan
pelayanan memuaskan, profesional dengan harga bersaing, sehingga strategi
dan kinerja rumah sakit pun harus berorientasi pada keinginan pelanggan
tersebut. Untuk itu diterapkan balanced scorecard (BSC) yang diharapkan
menjawab tuntutan dan tantangan zaman.
Rumah Sakit Kristen Tayu Pati sebagai rumah sakit rujukan
pelayanan kesehatan di daerah sekitar murya dalam era kesejagatan
(globalisasi), disatu pihak diperhadapkan pada kekuatan-kekuatan dan
masalah-masalah interen yang ada, sedangkan di lain pihak secara,
bersamaan juga diperhadapkan pada kondisi lingkungan dengan berbagai
faktor peluang dan tantangan yang senantiasa berkembang dinamis. Oleh
karena itu untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang prima bagi

77
masyarakat perlu disusun Visi Misi, Tujuan, Sasaran serta Indikator
keberhasilan yang dirampungkan dalam bentuk Rencana Stratejik
(RENSTRA). Indikator keberhasilan merupakan alat ukur yang harus
dievaluasi secara periodik berkesinambungan. Indikator bukan saja dalam
bentuk finansial tapi juga dengan indikatoryang lain seperti pelangan, bisnis
inernal juga pembelanjaran dan pertumbuhan yang selanjutnya dijadikan
bahan untuk mengendalikan arah dan mutu pelayanan kesehatan agar visi
yang telah ditetapkan benar-benar dapat diwujudkan.
Rumah Sakit Kristen Tayu Pati merupakan salah satu Rumah Sakit
Umum di Tayu yang berusaha memberikan pelayanan kesehatan secara
propesonalisme dan meningkatkan mutu terus-menerus. Memaksa pihak
Rumah Sakit Kristen Tayu Pati untuk selalu memperbaiki kinerjanya, agar
dapat menambah kepercayaan masyarakat atas Rumah Sakit Kristen Tayu
Pati. Kepercayaan ini sangatlah penting, mengingat masyarakat merupakan
pengguna jasanya. Diharapkan dengan peningkatan kepercayaan
masyarakat terhadap Rumah Sakit menpunyai dampak pada pendapatan
Rumah Sakit.
Melihat fenomena tersebut di atas, maka perlu digunakan alternatif
penilaian kinerja Rumah Sakit Kristen Tayu dengan menggunakan
Balanced Scorecard yang lebih komprehensif, akurat, terukur karena dalam
menilai kinerja suatu organisasi tidak hanya dinilai dari aspek keuangan
saja, tetapi juga dinilai dari aspek nonkeuangan.
Dari latar belakang dan uraian di atas, maka dalam penelitian ini
mengambil judul “PENERAPAN BALANCED SCORECARD
SEBAGAI TOLOK UKUR PENILAIAN KINERJA PADA BADAN
USAHA BERBENTUK RUMAH SAKIT (Studi Kasus Pada Rumah
Sakit Kristen Tayu Pati)”.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka
masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana kinerja
manajemen Rumah Sakit Kristen Tayu diukur dengan menggunakan

78
Balanced Scorecard ?
Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah oleh peneliti dengan maksud agar pembahasan
dapat lebih terfokus. Adapun penelitian ini hanya akan membahas mengenai
penerapan Balanced Scorecard dalam mengukur kinerja manajemen Rumah
Sakit Kristen Tayu ditinjau dari 4 aspek yaitu aspek keuangan (ROI dan
Profit Margin), Pelanggan (kepuasan pelanggan), Proses Bisnis Internal
(BTO, GDR, NDR), serta pembelajaran dan Pertumbuhan (Produktivitas
karyawan, Rentensi karyawan, Kepuasan karyawan) tahun 2004 – 2005.

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian


1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Memberikan gambaran penggunaan Balanced Scorecard terhadap
penilaian kinerja rumah sakit.
2. Untuk mengetahui sampai sejauh mana penerapan Balanced Scorecard
sebagai alat analisis yang komprehensif dan koheren pada suatu
perusahaan.
3. Memberikan suatu alternatif pengukuran kinerja perusahaan yang
memperhatikan aspek finasial dan aspek nonfinasial.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada pihak-pihak
yang membutuhkan sebagai berikut :
a. Sebagai alternatif pengukuran kinerja yang lebih komprehensif dalam
menilai kinerja manajemen Rumah Sakit Kristen Tayu.
b. Menambah wawasan bagi manajemen dan pengurus mengenai
pentingnya faktor-faktor nonfinancial yang mempengaruhi kinerja
manajemen Rumah Sakit Kristen Tayu.
c. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah kepustakaan
dan bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang mengadakan penelitian
yang menyangkut kinerja manajemen suatu badan usaha berbentuk

79
Rumah Sakit Kristen Tayu.

1.4. Kerangka Pemikiran


Dalam skripsi ini akan dilakukan pengukuran kinerja dengan
menggunakan system pengukuran kinerja yang di sebut BALANCED
SCORECARD kepada sebuah perusahaan atau organisasi public yang belum
mengenal sistem pengukapan kinerja tersebut. BALANCED SCORECARD
di kembangkan untuk melengkapi pengukuran kinerja finasial dan sebagai
alat yang cukup penting bagi organisasi atau perusahaan untuk
merefleksikan pemikiran baru dalam era kompetitif dan efektifitas
organisasi. BALANCED SCORECARD merupakan solusi terbaik dalam
pengukuran kinerja bisnis.
Empat perspekif utama di sorot melalui BALANCED SCORECARD
yaitu:
1. Perpektif keuangan
2. Perpektif konsumen atau pelanggan
3. Perpektif proses internal bisnis
4. Perpektif pembelajan dan pertumbuhan
Dalam BALANCED SCORECARD. Keempat perspektif tersebut
menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, juga merupakan
indikator pengukuran kinerja yang saling melengkapi dan memiliki
hubungan sebab akibat.
Seperti yang telah di jelaskan bahwa pengukuran kinerja bagi
perusahan jasa yang mempunyai kontak tinggi sangat dibutuhkan. Penelitian
ini bertujuan untuk menerapkan konsep BALANCED SCORECARD pada
Rumah Sakit Kristen Tayu.
Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat
digambarkan dengan bagan sebagai berikut.

Gambar 1.1.
Kerangka Pemikiran

80
Penerapan BSC pada
organisasi sektor swasta

Perspektif keuangan bukan merupakan


perspektif satu-satunya sebagai indikator
penilaian kinerja

Penerapan BSC pada organisasi sektor


publik (RSK Tayu Pati)

Keuangan Lap. keuangan perusahaan Pendukung non keuangan dan


menentukan tingkat pelayanan

Customer satisfaction, customer


Pelanggan
profitabilitas dan pangsa pasar

Menentukan
Proses Bisnis Internal
Inovasi dan operasi pencapaian misi dan
visi

Kemampuan karyawan,
Pembelajaran dan kemampuan sistem informasi,
Pertumbuhan motivasi, pemberdayaan dan
keserasian individu perusahaan

Menunjukkan atau memberikan


gambaran kinerja perusahaan
berdasarkan konsep Balanced
Scorecard

1.1. BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Penilaian Kinerja


Kinerja merupakan suatu istilah umum yang digunakan untuk sebagian atau
seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode, seiring
dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya-biaya masa lalu atau yang

81
diproyeksikan, suatu dasar efisiensi, pertanggung jawaban atau akuntabilitas
manajemen dan semacamnya (Fauzi, 1995 : 207).
Penilaian kinerja pada dasarnya merupakan kegiatan manusia dalam
mencapai tujuan organisasi. Mulyadi (1997 : 419) mendefinisikan penilaian
kinerja sebagai penentu secara periodik efektivitas operasional suatu
organisasi, bagian organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran, standar
dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Karena organisasi pada
dasarnya dioperasikan oleh sumber daya manusia maka penilaian kinerja
sesungguhnya merupakan penilaian atas perilaku manusia dalam
melaksanakan peran yang mereka mainkan dalam organisasi.
Setiap organisasi mengharapkan kinerja yang memberikan kontribusi
untuk menjadikan organisasi sebagai suatu institusi yang unggul di
kelasnya. Jika keberhasilan organisasi untuk mengadakan institusi yang
unggul ditentukan oleh berbagai faktor maka berbagai faktor yang
menentukan keberhasilan perusahaan (succes factor) untuk menjadikan
organisasi suatu institusi yang unggul tersebut digunakan sebagai pengukur
keberhasilan personal. Dengan demikian, dibutuhkan suatu penilaian kinerja
yang dapat digunakan menjadi landasan untuk mendesain sistem
penghargaan agar personel menghasilkan kinerjanya yang sejalan dengan
kinerja yang diharapkan oleh organisasi.

2.2 Balanced Scorecard


Scorecard merupakan kumpulan ukuran kinerja yang terintegrasi
yang diturunkan dari strategi perusahaan yang mendukung strategi
perusahaan secara keseluruhan. Balanced Scorecard memberikan suatu cara
untuk mengkomunikasikan strategi suatu perusahaan pada manajer-manajer
di seluruh organisasi. Balanced Scorecard juga menunjukkan bagaimana
perusahaan menyempurnakan prestasi keuangannya (Amin Widjaja
Tunggal, 2002 : 1).
Balanced Scorecard menurut Robert S. Kaplan dan David P. Norton
(1997 : 7) merupakan suatu metode penilaian yang mencakup empat
perspektif untuk mengukur kinerja perusahaan, yaitu perspektif keuangan,

82
perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif
pembelajaran dan pertumbuhan. Balanced Scorecard menekankan bahwa
pengukuran keuangan dan non keuangan harus merupakan bagian dari
informasi bagi seluruh pegawai dari semua tingkatan bagi organisasi.
Tujuan dan pengukuran dalam Balanced Scorecard bukan hanya
penggabungan dari ukuran-ukuran keuangan dan non keuangan yang ada,
melainkan merupakan hasil dari suatu proses atas bawah (top-down)
berdasarkan misi dan strategi dari suatu unit usaha, misi dan strategi
tersebut harus diterjemahkan dalam tujuan dan pengukuran yang lebih nyata
(Teuku Mirza, 1997 : 14).

Visi

Tujuan Tujuan Tujuan


(goal) (goal) (goal)

Sasaran Strategik Sasaran Strategik Sasaran Strategik


(strategic objectives) (strategic objectives) (strategic objectives)
Sumber : Mulyadi & Setyawan 1999. Sistem Perencanaan & Pengendalian Manajemen

Gambar 2.1
Penjabaran visi ke dalam tujuan dan sasaran strategi

1. Komunikasi & hubungan


Balanced Scorecard memperlihatkan kepada setiap karyawan
apa yang dilakukan perusahaan untuk mencapai apa yang menjadi
keinginan para pemegang saham konsumen karena untuk tujuan tersebut
dibutuhkan kinerja karyawan yang baik. Untuk itu Scorecard
menunjukkan strategi yang menyeluruh yang terdiri dari 3 kegiatan :
a. Communicating dan education
b. Setting goal
c. Linking reward to performance measure
2. Rencana Bisnis

83
Rencana bisnis memungkinkan organisasi mengintegrasikan
antara bisnis dan rencana keuangan mereka. Hampir semua organisasi
pada saat ini mengimplementasikan berbagai macam program yang
mempunyai keunggulan masing-masing yang saling bersaing antara satu
dengan yang lain, sehingga akan menyulitkan manajer untuk
mengintegrasikan ide-ide yang muncul dan berbeda di setiap
departemen. Dengan menggunakan Balanced Scorecard sebagai dasar
untuk mengalokasikan sumber daya dan mengatur mana yang lebih
penting untuk diprioritaskan akan menggerakkan mereka ke arah tujuan
jangka panjang perusahaan menyeluruh.
3. Umpan balik dan pembelajaran
Dengan Balanced Scorecard sebagai pusat system manajemen
perusahaan maka perusahaan tersebut akan dapat melakukan monitor
terhadap apa yang dihasilkan perusahaan dalam jangka pendek dari
tiga perspektif yang ada dalam Balanced Scorecard yaitu konsumen,
proses bisnis internal, dan pembelajaran dan pertumbuhan akan
dijadikan sebagai umpan balik dalam mengevaluasi strategi dalam
kinerja.

2.3 Kinerja Perspektif Keuangan


Dalam Balanced Scorecard kinerja keuangan tetap menjadi
perhatian, karena ukuran keuangan merupakan suatu ikhtisar dan
konsekuensi ekonomi yang terjadi yang disebabkan oleh keputusan dan
ekonomi yang diambil (Teuku Mirza, 1997 : 15).
Ukuran kinerja keuangan menunjukkan apakah strategi, sasaran strategic,
inisiatif strategic dan implementasinya mampu memberikan kontribusi dalam
menghasilkan laba bagi perusahaan, Kaplan & Norton (1996 : 48)
mengidentifikasikan tiga tahapan dari siklus kehidupan bisnis yaitu :
a. Pertumbuhan (growth)
Growth adalah tahap pertama dan tahap awal dari siklus

84
kehidupan bisnis. Pada tahap ini suatu perusahaan memiliki produk atau
jasa yang secara signifikan memiliki tingkat pertumbuhan yang baik
sekali atau paling tidak memiliki potensi untuk berkembang biak.
Perusahaan dalam tahap ini mungkin secara actual beroperasi
dalam arus kas yang negatif dari tingkat pengembalian atas modal
investasi yang rendah. Sasaran keuangan dari bisnis yang berada pada
tahap ini seharusnya menekankan pengukuran pada tingkat
pertumbuhan penerimaan atau penjualan dalam pasar yang ditargetkan.
b. Bertahan (Sustain Stage)
Sustain stage merupakan suatu tahap dimana perusahaan masih
melakukan investasi dengan mempersyaratkan tingkat pengembalian
yang terbaik. Dalam hal ini perusahaan berusaha mempertahankan
pangsa pasar yang ada dan mengembangkannya apabila mungkin.
Secara konsisten pada tahap ini perusahaan tidak lagi bertumpuk pada
strategi-strategi jangka panjang. Sasaran keuntungan pada tahap ini
diarahkan pada besarnya tingkat pengembalian atas investasi yang
dilakukan.
c. Menuai (Harvest)
Tahap ini merupakan tahap kematangan (mature), suatu tahap
dimana perusahaan melakukan panen terhadap investasi yang dibuat
pada dua tahap sebelumnya. Perusahaan tidak lagi melakukan investasi
lebih jauh kecuali hanya untuk pemeliharaan peralatan dan perbaikan
fasilitas, tidak untuk melakukan ekspansi/membangun suatu kemampuan
baru. Tujuan utama dalam tahap ini adalah memaksimumkan kas yang
masuk ke perusahaan.
Untuk menjadikan organisasi suatu institusi yang mampu
berkreasi diperlukan keunggulan di bidang keuangan. Melalui
keunggulan di bidang ini, organisasi menguasai sumber daya yang
sangat diperlukan untuk mewujudkan tiga perspektif strategi lain yaitu
perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif
proses pertumbuhan dan pembelajaran.

85
2.4 Kinerja Perspektif Konsumen
Suatu produk atau jasa dikatakan mempunyai nilai bagi konsumennya jika
manfaat yang diterimanya relatif lebih tinggi dari pada pengorbanan yang
dikeluarkan oleh konsumen tersebut untuk mendapat produk dan jasa itu.
Produk atau jasa tersebut akan semakin mempunyai nilai apabila manfaatnya
mendekati ataupun melebihi dari apa yang diharapkan oleh konsumen.
Menurut Kaplan dan Norton (1956) perusahaan diharapkan mampu membuat
suatu segmentasi pasar dan ditentukan target pasarnya yang paling mungkin
untuk dijadikan sasaran sesuai dengan kamampuan sumber daya dan rencana
jangka panjang perusahaan. Dalam perspektif konsumen terdapat 2 kelompok
perusahaan yaitu :
1. Kelompok perusahaan inti konsumen (customer core measurement
group)
a) Pangsa pasar (market share)
Menggambarkan seberapa besar penjualan yang dikuasai oleh
perusahaan dalam suatu segmen tertentu.
b) Kemampuan mempertahankan konsumen (customer retention)
Tingkat kemampuan perusahaan untuk mempertahankan hubungan
dengan konsumennya yang mungkin seberapa besar perusahaan
berhasil mempertahankan pelanggan lama.
c) Kemampuan meraih konsumen baru (customer acquisition)
Tingkat kemampuan perusahaan demi memperoleh dan menarik
konsumen baru dalam pasar.
d) Tingkat kepuasan konsumen (customer satiffation)
Merupakan suatu tingkat kepuasan konsumen terhadap kriteria
kinerja/nilai tertentu yang diberikan oleh perusahaan.
e) Tingkat protabilitas konsumen (customer profitability)
Mengukur seberapa besar keuntungan yang berhasil diperoleh
perusahaan dari penjualan kepada konsumen/segmen pasar.
2. Kelompok pengukur nilai konsumen (customer value measement)
Merupakan kelompok penunjang yang merupakan konsep kunci untuk
memahami pemicu-pemicu (driver).

86
Dari kelompok-kelompok pengukuran inti konsumen
kelompok pengukuran nilai konsumen terdiri dari :
a. Atribut-atribut produk dan jasa (product/service)
Atribut-atribut produk-produk jasa harga dan fasilitasnya.
b. Hubungan dengan konsumen (customer relationship)
Meliputi hubungan dengan konsumen yang meliputi melalui
pengisian produk/jasa kepada konsumen, termasuk dimensi respon
dan waktu pengirimannya dan bagaimana pula kesan yang timbul
dari konsumen setelah membeli produk atau jasa perusahaan
tersebut.
c. Citra dan reputasi (image & reputation)
Dalam dimensi ini termuat faktor-faktor yang membuat konsumen
merasa tertarik pada perusahaan seperti hasil promosi baik secara
personal (melalui pameran-pameran, door to door) maupun lewat
media masa atau elektronik ataupun ungkapan-ungkapan yang
mudah diingat oleh konsumen.

2.5 Perspektif Proses Internal Bisnis


Dalam perspektif bisnis internal, perusahaan harus meng-identifikasikan proses
internal yang penting dimana perusahaan harus melakukannya dengan sebaik-
baiknya. Karena proses internal tersebut memiliki nilai-nilai yang diinginkan
pelanggan dan akan dapat memberikan pengembalian yang diharapkan oleh
pemegang saham (Ancella Hermawan, 1996 : 56).
Para manager harus memfokuskan perhatiannya pada proses bisnis
internal yang menjadi penentu kepuasan pelanggan kinerja perusahaan dari
perspektif pelanggan. Kinerja dari perspektif tersebut diperoleh dari proses
kinerja bisnis internal yang diselenggarakan perusahaan. Perusahaan harus
memilih proses dan kompetensi yang menjadi unggulannya dan menentukan
ukuran-ukuran untuk menilai kinerja-kinerja proses dan kompetensi
tersebut. Analisis atau proses bisnis internal perusahaan dilakukan melalui
analisis rantai nilai (value chain analysist) yang digambarkan sebagai
berikut :

87
Customer need
Customer need design develop Make Market Service
dentified Satisfied

Time Supply
Market Chain
Business process :
• Innovation process
• Product design
• Product development
• Operator process
• Manufacture
• Marketing
• Postable service
Sumber : Norton dan Kaplan, 1996
Gambar 2.2
Generic Value Chain Mode

Masing-masing perusahaan mempunyai seperangkat proses penciptaan nilai


yang unik bagi pelanggannya. Secara umum Kaplan dan Norton (1996 : 96)
membaginya menjadi tiga prinsip dasar yaitu :
1. Inovasi
Pengukuran kinerja dalam proses inovasi selama ini kurang
mendapatkan perhatian, dibandingkan pengukuran kinerja yang
dilakukan dalam proses operasi. Pada tahap ini perusahaan
mengidentifikasikan keinginan dan kebutuhan para pelanggan di masa
mendatang serta merumuskan cara untuk memenuhi keinginan dan
kebutuhan tersebut.
2. Operasi
Tahap ini merupakan tahap akhir di mana perusahaan secara
nyata berupaya untuk memberikan solusi kepada para pelanggannya
dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan langganan dan kebutuhan
mereka. Kegiatan operasional berasal dari penerimaan pesanan dari
pelanggan dan berakhir dengan pengiriman produk atau jasa pada

88
pelanggan. Kegiatan ini lebih mudah diukur kejadiannya yang rutin dan
terulang.
3. Layanan pasca jual
Dalam tahap ini perusahaan berupaya memberikan manfaat
tambahan kepada para pelanggan yang telah membeli produk-produknya
dalam bentuk layanan pasca transaksi.

2.6 Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran


Tujuan dimasukkannya kinerja ini adalah untuk mendorong
perusahaan menjadi organisasi belajar (learning organization) sekaligus
mendorong pertumbuhannya (Teuku Mirza, Usahawan, 1997).
Kaplan dan Norton membagi tolak ukur perspektif ini dalam tiga prinsip
yaitu :
1. People
Tenaga kerja pada perusahaan dewasa ini lebih lanjut dituntut
untuk dapat berpikir kritis dan melakukan evaluasi terhadap proses dan
lingkungan untuk dapat memberikan usulan perbaikan. Oleh sebab itu,
dalam pengukuran strategi perusahaan, salah satunya harus berkaitan
secara spesifik dengan kemampuan pegawai, yaitu apakah perusahaan
telah mencanangkan peningkatan kemampuan sumber daya manusia
yang dimiliki.
Dalam kaitannya dengan sumber daya manusia ada tiga hal yang perlu
ditinjau dalam menerapkan Balanced Scorecard :
a. Tingkat kepuasan karyawan
Kepuasan karyawan merupakan suatu para kondisi untuk
meningkatkan produktivitas, kualitas, pelayanan kepada konsumen
dan kecepatan bereaksi. Kepuasan karyawan menjadi hal yang
penting khususnya bagi perusahaan jasa.

89
b. Tingkat perputaran karyawan (retensi karyawan)
Retensi karyawan adalah kemampuan perusahaan untuk
mempertahankan pekerja-pekerja terbaiknya untuk terus berada
dalam organisasinya. Perusahaan yang telah melakukan investasi
dalam sumber daya manusia akan sia-sia apabila tidak
mempertahankan karyawannya untuk terus berada dalam
perusahaan.
c. Produktivitas karyawan
Produktivitas merupakan hasil dari pengaruh rata-rata dari
peningkatan keahlian dan semangat inovasi, perbaikan proses
internal, dan tingkat kepuasan pelanggan. Tujuannya adalah
menghubungkan output yang dilakukan para pekerja terhadap
jumlah keseluruhan pekerja.

2. System
Motivasi dan ketrampilan karyawan saja tidak cukup untuk
menunjang pencapaian tujuan proses pembelajaran dan pertumbuhan
apabila mereka tidak memiliki informasi yang memadai. Pegawai di
bidang operasional memerlukan informasi yang memadai. Pegawai di
bidang operasional memerlukan informasi yang cepat, tepat waktu dan
akurat sebagai umpan balik, oleh sebab itu karyawan membutuhkan
suatu system informasi yang mempunyai kualitas dan kuantitas yang
memadai untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

3. Organizational Procedure
Prosedur yang dilakukan suatu organisasi perlu diperhatikan
untuk mencapai suatu kinerja yang handal. Prosedur dan perbaikan
rutinitas harus diteruskan karena karyawan yang sempurna dengan
informasi yang berlimpah tidak akan memberikan kontribusi pada
keberhasilan usaha apabila mereka tidak dimotivasi untuk bertindak
selaras dengan tujuan perusahaan atau apabila mereka tidak diberikan

90
kebebasan untuk mengambil keputusan atau bertindak.

Core
measurement Result
Employee Employee
retention production
Employee
safaction

Enablers
Gambar 2.3 Technology Climate for
Staff competence
infrastructure action

Kerangka pengukuran pembelajaran dan pertumbuhan

2.7 Pengertian Rumah Sakit


Menurut American Hospital Association, rumah sakit adalah suatu organisasi
yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana
kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran asuhan
keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit
yang diderita oleh pasien (Azrul Anwar, 1966).
Sesuai dengan perkembangan rumah sakit dapat dibedakan menjadi beberapa
jenis. Menurut Azrul Anwar, rumah sakit dibedaka menjadi empat macam
yaitu :
1. Menurut pemilik
Ditinjau dari pemiliknya, rumah sakit dibagi menjadi dua macam yaitu :
a. Rumah sakit pemerintah
b. Rumah sakit swasta
2. Menurut filosofi yang dianut
Menurut filosofi yang dianut rumah sakit dibagi menjadi dua macam
yaitu :
a. Rumah sakit yang tidak mencari keuntungan (non profit hospital).
Salah satu faktor yang membedakan rumah sakit milik pemerintah

91
dengan swasta adalah terletak orientasinya terhadap laba. Rumah
sakit milik pemerintah merupakan organisasi nirlaba yaitu organisasi
yang orientasi utamanya bukan untuk mencari laba tetapi lebih
mengutamakan peningkatan pelayanan.
b. Rumah sakit yang mencari keuntungan (profit hospital). Rumah
sakit swasta telah dikelola secara komersial serta berorientasi untuk
mencari keuntungan.

3. Mencari jenis pelayanan yang diselenggarakan


Jika dilihat dari sisi pelayanan yang diselenggarakan rumah sakit
dibedakan menjadi dua macam yaitu :
a. Rumah sakit umum (general hospital)
Disebut rumah sakit umum bila semua jenis pelayanan kesehatan
diselenggarakan.
b. Rumah sakit khusus (specialty hospital)
Jika hanya satu jenis pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
4. Menurut lokasi rumah sakit
Jika ditinjau dari lokasinya rumah sakit dibedakan menjadi beberapa
macam tergantung dari sistem pemerintah yang dianut. Contohnya
rumah sakit pusat, jika lokasinya di ibu kota negara, rumah sakit
propinsi jika lokasinya di ibukota propinsi.

92
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Objek dan Lokasi Penelitian


Objek yang dipilih dalam penelitian ini adalah Rumah Sakit Kristen
Tayu dengan alasan bahwa penerapan Balanced Scorecard dalam mengukur
kinerja Rumah Sakit Kristen Tayu merupakan langkah strategik yang
berdampak besar terhadap kemampuan manajemen Rumah Sakit Kristen
Tayu dalam melipatgandakan kinerjanya, baik ditinjau dari aspek Keuangan
maupun aspek Non-Keuangan dan diharapkan Rumah Sakit Kristen Tayu
akan mampu bersaing serta berkembang dengan baik.

3.2 Populasi dan Sampel


3.2.1 Populasi
Populasi adalah sejumlah individu yang mempunyai sifat atau kepentingan
yang sama (Sutrisno Hadi, 1997 : 220). Dalam penelitian ini populasi
adalah para konsumen Rumah Sakit Kristen Tayu yang akan digunakan
untuk menilai kepuasan pada aspek konsumen dan karyawan Rumah Sakit
Kristen Tayu yang berjumlah 450 orang yang akan digunakan untuk
menilai kepuasan karyawan pada aspek pertumbuhan dan pembelajaran.

3.2.2 Sampel

93
Penentuan sempel yaitu yang menjadi responden adalah karyawan yang
terkait dengan penilaian yang akan dilaksanakan untuk mengetahui tingkat
kepuasan karyawan melalui penyebaran kuesioner. Sampel yang baik
adalah sampel yang mewakili populasi secara keseluruhan. Sampel dalam
penelitian ini adalah para responden yang akan menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang ada dalam kuesioner.
Sementara itu, metode pengambilan sampel untuk karyawan Rumah Sakit
Kristen Tayu adalah metode Non Random Sampling yaitu Convenience
Sampling dimana penentuan jumlah sampel dari elemen populasi yang
datanya mudah diperoleh peneliti. Elemen populasi yang dipilih sebagai
subjek adalah tidak terbatas sehingga peneliti memiliki kebebasan untuk
memilih sampel yang paling cepat dan murah (Nur Indriantoro &
Bambang, 1999 : 130). Penentuan besarnya sampel menggunakan rumus
Slovin yaitu :
N
n=
N .d2 + 1
350
n= = 77,8 (dibulatkan menjadi 78 orang)
350 . 0,12 + 1
keterangan :
N = populasi
n = sampel

3.3 Teknik Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah:
1. Wawancara yaitu dengan mengadakan Tanya jawab langsung dengan
pihak Rumah sakit.
2. Kuesoner yaitu melalui pengajuan kuessioner yang mengetahui seberapa
besar tingkat kepuasan karyawan Rumah Sakit.
3. Studi pustaka yaitu dengan cara mempelajari literatur-literatur yang
relevan dengan penelitian guna memperoleh gambaran teoritis mengenai

94
aplikasi Balanced Scorecard pada suatu perusahaan, khususnya Rumah
Sakit. Metode ini di perlukan untuk menujang kelengkapan dan
ketajaman analisis.

3.4 Pengujian Instrumen Penelitian


Sebelum dilakukan perhitungan dan pengolahan dengan
menggunakan alat analisis, maka semua instrumen penelitian diuji terlebih
dahulu untuk mengetahui apakah instrumen tersebut valid dan reliabel.
Pengujian instrumen dilakukan dengan menggunakan :

a. Uji Validitas
Uji validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur benar-benar cocok atau
sesuai sebagai alat ukur yang diinginkan. Pengujian validitas dilakukan untuk menguji
apakah hasil jawaban dari kuesioner oleh responden benar-benar cocok untuk
digunakan dalam penelitian ini.

Untuk menguji validitasnya menggunakan statistic factor


analysis significancy, nilai Loading Factor yang dipakai adalah 0,4.
Pengambilan Keputusan: (Augusty Ferdinand, 2002 : 133)
- Apabila nilai loading factor menunjukkan nilai lebih besar atau sama
dengan 0,4, maka butir pernyataan tersebut valid
- Apabila nilai loading factor menunjukkan nilai lebih kecil atau sama
dengan 0,4, maka butir pernyataan tersebut tidak valid.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah tingkat kestabilan suatu alat pengukur dalam
mengukur suatu gejala atau kejadian. Pengujian reliabilitas dilakukan
untuk mengetahui apakah hasil jawaban dari kuesioner oleh responden
benar-benar stabil dalam mengukur suatu gejala atau kejadian. Semakin
tinggi reliabilitas suatu alat pengukur, semakin stabil pula alat pengukur
tersebut dan sebaliknya jika reliabilitas pengukur tersebut rendah maka
alat tersebut tidak stabil dalam mengukur suatu gejala. Teknik pengujian
reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis yang
dikembangkan oleh Cronbach Alpha ( α ), dengan rumus sebagai berikut

95
: (Imam Ghozali, 2001;129)
k .r
α =
1 + (k − 1)r
Keterangan :
α = Koefisien reliabilitas
r = rata-rata korelasi antar butir
k = jumlah butir
Pengambilan Keputusan :
- Jika koefisien Cronbach Alpha ( α ) < 0,6 maka butir pertanyaan
dinyatakan tidak reliabel.
- Jika koefisien Cronbach Alpha ( α ) ≥ 0,6 maka butir pertanyaan
dinyatakan reliabel.

3.5 Metode Analisis


1. Analisis kualitatif meliputi klarifikasi visi, misi dan tujuan ke dalam
rencana strategi perusahaan.
2. Analisis kuantitatif
Pengukuran kinerja masing-masing perspektif.
Rumusnya :
a. Mengukur kinerja perspektif keuangan
Perspektif ini menggunakan perhitungan :
laba bersih
- ROI = x 100%
total aktiva
Penjualan
- Rasio Efesiensi = x 100%
Aktiva Lancar
b. Mengukur kinerja perspektif konsumen
Perspektif ini menggunakan perhitungan :
- Kepuasan pelanggan
Kepuasan pelanggan ini diketahui dari data sekunder yaitu
survey yang dilakukan oleh pihak manajemen Rumah Sakit.
Mengukur seberapa jauh kepuasan pelanggan atas pelayanan

96
kesehatan yang diberikan oleh Rumah Sakit. Kepuasan
konsumen mengukur rata-rata kepuasan pelanggan dengan
meberikan nilai pada jawaban kuesinoer sesuai dengan tingkat
kepuasan yang dirasakan. Nilai yang diberikan adalah:
1. 1: sangat tidak puas.
2. 2: tidak puas.
3. 3: ragu-ragu.
4. 4: puas.
5. 5: sangat puas.
Untuk mengetahui rata-rata kepuasan konsumen maka jumlah
skor jawaban kuesioner dibagi dengan jumlah konsumen yang
menjadi responden.
Penentuan kreteria rata-rata kepusan pelanggan.
c. Mengukur kinerja perspektif proses internal bisnis.
Berdasarkan data sekunder yang diambil dari Rumah Sakit perspektif
ini menggunakan perhitungan :
- BTO (Bed Turn Over Rate)
D
BTO =
A
- GDR (Gross Death Rate)
Pm
GDR = x 1000 mil
D
- NDR (Net Death Rate)
Pm > 48 jam
- NDR = x 1000 mil
D
Keterangan :
O = rerata tempat terisi dihitung dari jumlah tempat tidur yang terisi,
kemudian hasilnya dibagi jumlah hari dalam bulan yang bersangkutan

D = jumlah pasien keluar (hidup/mati)

A = rerata tempat tidur yang siap dipakai

T = jumlah hari perhitungan (30/31/365)

97
Pm = pasien mati

d. Mengukur kinerja perspektif pembelajaran dan pertumbuhan


perspektif ini menggunakan perhitungan :
laba operasi
- Produktivitas karyawan =
jumlah karyawan

- Perputaran karyawan =
jumlah karyawan keluar
x 100%
jml total karyawan pada thn berjalan

- Kepuasan karyawan
Dianggap sebagai penentu dari kedua pengukuran sebelumnya.
Pengukurannya dilakukan dengan survey kepuasan karyawan
melalui kuesioner. Kepuasan karyawan mengukur rata-rata
kepuasan karyawan dengan meberikan nilai pada jawaban
kuesinoer sesuai dengan tingkat kepuasan yang dirasakan. Nilai
yang diberikan adalah:
1. 1: sangat tidak puas.
2. 2: tidak puas.
3. 3: ragu-ragu.
4. 4: puas.
5. 5: sangat puas.
Jumlah karyawan x skor
Kepuasan karyawan = x 100%
Total bobot
Untuk mengetahui rata-rata kepuasan karyawan maka jumlah
skor jawaban kuesioner dibagi dengan jumlah karyawan yang
menjadi responden.
Penentuan kreteria rata-rata kepusan karyawan.

Tabulasi Perhitungan Keempat Perspektif Balanced Scarecard


Jenis Variabel Indikator Pengukuran
1. Perspektif
keuangan

98
- ROI - Peningkatan - Prosentase laba bersih terhadap
Laba Bersih total aktiva
- Rasio - Penurunan - Presentase penjualan bersih
Efesiensi Biaya Operasi terhadap aktiva lancar
2. Perspektif
pelanggan
- Kepuasan - Peningkatan - kuesuner terhadap kepuasan
pelanggan kepuasan pelanggan
pelanggan
3. Perspektif proses
internal bisnis
- BTO - Peningkatan - Perbandingan antara jumlah
BTO pasien keluar dengan tata tempat
yang siap pakai
- GDR - Perbandingan antara pasien mati
- Penurunan GDR dengan jumlah untuk tiap 1000
pasien keluar
- NDR - Perbandingan antara pasien mati
- Penurunan NDR > 48 jam setelah dirawat dengan
jumlah untuk tiap-tiap 1.000
pasien keluar
4. Perspektif
pembelajaran dan
pertumbuhan
- Produktivitas - Peningkatan - Perbandingan antara laba operasi
karyawan produktivitas dengan total karyawan
karyawan
- Retensi - Penurunan - Perbandingan antara jumlah
karyawan jumlah karyawan keluar dengan total
karyawan keluar karyawan tahun berjalan
- Kepuasan - Kuesioner terhadap kepuasan
karyawan - Peningkatan karyawan
kepuasan
karyawan

BAB IV
ANALISIS DATA PEMBAHASAN

99
4.1 Analisis Data
4.1.1 Kinerja Perspektif Keuangan
A. Indikator ROI
ROI dari tahun 2004-2005 mengalami peningkatas sebesar 9,86%
(28,84%-18,98% = 9,86%). Hal ini berarti bahwa tingkat pengembalian atas
investasi/Return On Investment (ROI) yang dilakukan mengalami peningkatan
yang baik yaitu sebesar 9,86% karena berdasarkan penilaian kelayakan usaha,
apabila tingkat ROI lebih dari 5 % berarti telah dianggaplayak/baik.
B. Indikator Rasio Efesiensi
nilai rasio efesiensi dari tahun 2004-2005 mengalami peningkatan
sebesr 0,6%( 7,9% - 7,3% = 0,6%). Hal ini berarti bahwa rasio efesiensi
Rumah Sakit menurun sehingga biaya operasi dapat ditekan.
4.1.2 Kinerja Perspektif Konsumen
Barisi dari perspektif ini adalah menciptakan konsumen yang mampu
menghasilkan financial return tinggi. Hal tersebut dapat terwujud jika
perusahaan memperhatikan proses (aspek waktu, kualitas, kinerja dan
layanan) dan hasilnya berupa ukuran hasil (Out Come Measure) sebagai
parameter perspektif.
Statistic deskriptif kepuasan pasien
Kisaran Kisaran Median
Variable Rata-rata
teoritis aktual teoritis
Kepuasan
18 - 90 63 - 90 69,9800 54,000
pasien

Pengukuran variable tingkat kepuasan pasien menggunakan


instrumen Mun`im Azka (2001), terdiri dari 18 pertanyaan dengan skor 1
sampai 5. Tingkat kepuasan pasien tinggi dengan skala tinggi dan tingkat
kepuasan pasien rendah dengan skala rendah. Berdasarkan hasil
pengukuran variabel tingkat kepuasan pasien, skor jawaban responden
berkisar 63-90 dengan kisaran teoritis 18 – 90. Dari tabel statistik
deskriptif, nilai median teoritis untuk variabel tingkat kepuasan pasien

100
sebesar 54 dan nilai rata-ratanya sebesar 63,9800, sehingga data diketahui
bahwa tingkat kepuasan pasien dalam penelitian ini dalam kondisi yang
tinggi.

4.1.3 Kinerja Perspektif Proses Internal Bisnis


Kinerja perspektif proses bisnis internal diukur dengan menggunakan
tiga indikator yaitu : Bed Turnover Ratio (BTO), Gross Death Rate (GDR)
dan Net Death Rate (NDR). Hasil perhitungan dari ketiga indikator
perspektif proses bisnis internal dapat dilihat pada tabel
Tahun
UKURAN
2004 2005
BTO (kali) 16,58 kali 19,39 kali
GDR (Permil) 45,8 permil 47,4 permil
NDR (Permil) 44,63 permil 30,03 permil

4.1.4 Kinerja Perspektif pertumbuhan dan Pembelajaran


Pengukuran kinerja perspektif pertumbuhan dan pembelajaran
merupakan perspektif yang paling mendasar dalam Balance Scorecard.
Kinerja perspektif pertumbuhan dan pembelajaran diukur dengan
menggunakan indikator tiga indikator yaitu : Produktifitas karyawan,
Retensi Karyawan dan kepuasan karyawan. Produktifitas karyawan
ditentukan oleh kompetensi dan ketersediaan baik sarana maupun prasarana
untuk menjalankan aktifitasnya. Karyawan yang berkomitmen ditentukan
oleh kualitas lingkungan kinerjanya, yang tercermin dalam kepuasan
karyawan terhadap seluruh aspek oraganisasi. Sedangkan kepuasan
karyawan merupakan factor yang mempengaruhi tingkat produktifitas
karyawan.
Hasil perhitungan kinerja perspektif pertumbuhan dan pembelajaran
yang diukur dengan indikator produktifitas karyawan dan retensi karyawan
dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut:
Tahun
UKURAN
2004 2005
Produktifitas karyawan Rp 282.276,51/karyawan Rp 429.580,24/karyawan

101
Retensi karyawa 2,2 % 2,8 %
Kepuasan karyawan - -

A. Kepuasan Karyawan
Indikator kepuasan karyawan bertujuan untuk mengukur peningkatan
kepuasan karyawan, yang diukur dengan mengisi daftar pertanyaan kuesioner
yang telah disediakan. Karyawan yang menjadi responden sebanyak 78
karyawan
Hasil Pengujian Hipotesis
Statistik Deskriptif
Analisis stastistik deskriptf dilakukan berdasarkan jawaban dari 78 responden
melalui kuestioner, untuk memberikan gambaran mengenai variabel-variabel
dalam penelitian ini, yaitu semangat kerja, kepuasan karyawan. Hasil
pengolahan data mengenai statistic deskriptif disajikan dalam tabel berikut :
Kisaran Kisaran Median
Variabel Rata-rata
teoritis aktual teoritis
Semangat kerja 2 – 10 6 – 10 8,1282 6,0000
Kepemimpinan 3 – 15 9 – 15 13,1410 9,0000
Motivasi 3 – 15 13 – 15 12,2179 9,0000
Komunikasi 3 – 15 9 – 14 12,3205 9,0000
Kondisi fisik tempat kerja 3 – 15 9 – 14 12,1262 9,0000
Keputusan karyawan 5 – 25 14 – 24 20,5000 15,0000

4.2. Hasil Keseluruhan Analisis Balance Scorecard


Secara umum pada perspektif keuangan menunjukkan hasil yang
sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari indikator ROI yang mengalami
peningkatan pada tahun 2005 sebesar 9,86% dan indikator rasio efesiensi
yang juga mengalami peningkatan sebesar 0,6 % peningkatan kedua
indikator tersebut telah melebihi keukuran kelayakan usaha.
Kinerja yang diperlihatkan pada perspektif konsumen (pasien) secara
umum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari
jawaban atau tanggapan rata-rata pasien 69,9800 ini masuk pada ketegori
tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa secara umum rumah sakit Kristen Tayu

102
sudah memperhatikan kepuasan pelanggan labih baik lagi.
Hasil kinerja pada perspektif proses bisnis internal yang diukur
dengan tiga indikator yaitu BTO, NDR, dan GDR secara umum
memperlihatkan bahwa kinerja pelayanan terhadap meningkatnya
kepercayaan konsumen (pasien) untuk berobat di rumah sakit yang sangat
cepat dan efektif. Hal ini dapat dilihat bahwa dari nilai BTO tahun 2004-
2005 mengalami peningkatan sebesar 2,81 kali, yang berarti bahwa jumlah
pasien rawat inap yang telah dirawat lebihd dari 48 jam sudah memuaskan,
hal ini dapat dilihat dari penurunan NDR sebesar 1,04%. Meskipun nilai
GDR pada tahun 2005 mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran yang diukur dengan
menggunakan 3 indikator yaitu produktifitas karyawan, retensi karyawan
dan kepuasan karyawan secara umum telah menunjukkan hasil yang baik,
hal ini juga dapat berdampak pada peningkatan kualitas karyawan yang
ujungnya bermuara pada kepuasan pelanggan dalam melayani pelanggan.
Hal ini dapat dilihat dari tingkat produktifitas karyawan yang mengalami
peningkatan sebesar 147.303,73 dan hasil survei terhadap karyawan rasa
puas mereka terhadap kebijaksanaan rumah sakit. Retensi karyawan
mengalami peningkatan sebesar 0,6 % berarti bahwa kemampuan rumah skit
untuk mempertahankan hubungan yang baik dengan karyawan dapat
dikatakan belum berhasil hal ini akan berdampak pada tingkat loyalitas dan
tingkat produktifitas karyawan.

103
104
105
BAB V
KESIMPULAN

5.1.Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Kinerja Perspektif Keuangan dalam penelitian ini diukur dengan
menggunakan dua indikator rasio keuangan yaitu: Return On
Invesment (ROI) dan Rasio Efesiensi. Secara umum pada perspektif
keuangan menunjukkan hasil yang sudah maksimal. Hal ini dapat
dilihat dari indikator ROI yang mengalami peningkatan pada tahun
2005 sebesar 9,86 % dan indikator Rasio Efesiensi yang juga
mengalami peningkatan sebesar 0,6 % meskipun peningkatan kedua
indikator tersebut tidak terlalu signifikan.dikarenakan rumah sakit
Kristen tayu 50% pasiennya adalah pasien dankin (dana kemiskinan)
oleh pemeruntah.
2. Kinerja Perspektif konsumen (pasien) diukur dengan menggunakan
indikator kepuasan pasien Rumah Sakit Kristen Tayu Pati.
Berdasarkan hasil survey pada 100 pasien rumah sakit dapat
diketahui bahwa secara umum sudah sesuai dengan apa yang
diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari jawaban/tanggapan pasien
menunjukkan nilai sebesar 3,88, nilai masuk kategori ragu-ragu.
Hasil ini menunjukkan bahwa secara umum Rumah Sakit Kristen
Tayu belum benar-benar memperhatikan kepuasan pelanggan dan
diharapkan prestasi ini dapat lebih ditingkatkan.
3. Kinerja Perspektif proses bisnis internal diukur dengan
menggunakan indikator tiga indikator yaitu: Bed Turnover Ratio
(BTO), Gross Death Rate (GDR) dan Net Death Rate (NDR) secara
umum memperlihatkan bahwa kinerja pelayanan terhadap pasien
semakin baik. Hal ini dapat dilihat bahwa dari nilai Bed Turnover
Ratio dari tahun 2004-2005 mengalami peningkatan sebesar 2,81
kali, yang berarti bahwa jumlah pasien yang dapat tertangani oleh
rumah sakit Kristen Tayu semakin banyak dan pasien rawat inap

106
yang telah dirawat lebih dari 48 jam sudah memuaskan, hal ini dapat
dilihat dari penurunan NDR sebesar 1,04 %. Meskipun Nilai GDR
pada tahun 2005 mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
4. Kinerja Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran diukur dengan
menggunakan indikator tiga indikator yaitu: Produktifitas karyawan,
Retensi Karyawan dan Kepuasan Karyawan secara umum telah
menunjukkan hasil yang baik. Hal ini dapat dilihat dari tingkat
produktivitas karyawan yang mengalami peningkatan sebesar
Rp.147.303,73 per karyawan dan hasil survey terhadap karyawan
yang juga menunjukkan rasa puas mereka terhadap kebijakan rumah
sakit selama mereka bekerja. Meskipun jika dilihat dari indikator
rentensi karyawan mengalami peningkatan sebesar 0,6 % yang
berarti bahwa kemampuan rumah sakit untuk mempertahankan
hubungan yang baik dengan karyawan dapat dikategorikan belum
berhasil. Dalam hal ini pihak manajemen rumah sakit perlu
mengadakan evaluasi dan mencari informasi, perihal apa yang
menyebabkan tingkat retensi karyawan mengalami peningkatan.
Sehingga diharapkan dimasa yang akan datang tingkat retensi
karyawan dapat menurun yang berarti bahwa keharmonisan
hubungan dengan karyawan semakin meningkat. Hal ini akan
berdampak pada tingkat loyalitas dan tingkat produktivitas karyawan
yang tinggi.

5.2. Saran
Dari kesimpulan dan keterbatasan yang telah diuraikan di atas, ada
beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan pihak rumah
sakit Kristen Tayu Pati, yaitu :
1. Pihak manajemen khususnya Sub. Bag Keuangan harus lebih
meningkatkan kinerja keuangan, dengan lebih menekan biaya-biaya
operasi dan meningkatkan sistem pengendalian internal. Meskipun
rumah sakit bukan merupakan lembaga yang berorientasi pada profit,
tetapi kinerja keuangan harus tetap diperhatikan dan ditingkatkan
demi kelangsungan hidup rumah sakit.

107
2. Pada perspektif bisnis internal khususnya yang diproksi dengan
Gross Death Rate (GDR) masih velum menunjukkan kinerja yang
maksimal, oleh karena itu pihak rumah sakit harus lebih
meningkatkan kualitas pelayanan dan profesionalitas dengan
memberikan pelatihan dan pendidikan intensif, agar dalam
menangani pasien lebih efektif dan efisien sehingga angka Gross
Death Rate dapat menurun..
3. Kinerja perspektif Pertumbuhan dan pembelajaran rumah sakit perlu
lebih ditingkatkan khususnya yang diukur dengan retensi karyawan
yang masih belum belum menunjukkan hasil yang optimal. Dalam
hal ini pihak rumah sakit perlu lebih meningkatkan kompetensi
akryawan dan melibatkan karyawan dalam mengambil keputusan
manajemen, demi menjaga hubungan baik antar karyawan dan
meningkatkan kualitas dan pelayanan.
4. Kinerja perspektif pelanggan juga masih belum menunjukkan hasil
yang optimal. Dalam hal ini pihak manajemen rumah sakit perlu
lebih meningkatkan kualitas pelayanan dan profesionalismenya dan
mencari sebab-sebab mengapa maupun dalam hal apa yang
menyebabkan pelanggan (pasien) merasa kurang puas dengan
pelayanan rumah sakit selama ini mengingat rumah sakit merupakan
bidang pelayanan jasa kesehatan dan wajib memperhatikan kepuasan
pelanggannya.

108
DAFTAR PUSTAKA
Mirza, Teuku. 1997. Balance Scorecard. Usahawan. No. 06 tahun XXVI
1997

Indriantoro, Nur dan Bambang S. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk


Akuntansi dan Managemen. Yogyakarta : BPFE.

Kaplan. Robert S dan David Norton. 1996. Balanced Scorecard :


Transalting Startegi Info Action Bostom : Harvard Business School.

Mulyadi.2001. Akuntansi Manajemen. STIE YKPN. Yogyakarta


Mulyadi.2001. Akuntansi Manajemen : Konsep, Manfaat dan Rekayasa.
Jakarta : Salemba Empat.
Mun`im Azka.2001. Balance Scorecard Sebagai Alat ukur Kinerja (Studi
Kasus Pada Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang). Tidak
untuk diterbitkan. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro
Semarang.

Fauzi. 1995. Kamus Akuntansi Praktisi. Suarabaya : Indah

Hadi, Sutrisno, 1997, Metodologi Research, Untuk Penulisan Paper,


Skripsi, Thesis, Disertasi, Yogyakarta. Andi Offiset.

Hermawan, Ancella. 1996. Balanced Scorecard Sebagai Sarana Akuntansi


Managemen Strategi. Jakarta : IAI.

Mutasowifin, Ali. 2002. Penerapan Balanced Scorecard Sebagai Tolok


Ukur Penlian Kinerja Pada Badan Usaha Berbentuk Koperasi,
Jurnal Universitas Paramadina Vol. 3 : Hal 245-264.

Weston, J. Fred dan Thomas, E Copeland. 1995. Manajemen Keuangan.


Jilid I, Edisi ke 9, Jakarta ; Binarupa Aksana.

Wijaya, Tunggal, Amin. 2002. Mamahami Konsep Balance Scorecard.


Cetakan ke 2 : Harvindo

109
SUMMARY

PENERAPAN BALANCED SCORECARD SEBAGAI


TOLOK UKUR PENILAIAN KINERJA PADA
BADAN USAHA BERBENTUK RUMAH SAKIT
(Studi Kasusu Pada Rumah Sakit Kristen Tayu Pati)

Disusun Oleh :
Nama : Aji Dwi Prihananto
NIM : 99.60.0657

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI


UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2006

110
111
ABSTRAKSI

Pengukuran kinerja merupakan suatu hal penting


bagi sebuah unit bisnis. Pengukuran kinerja Balance
Scorecard menyangkut empat perspektif yaitu :
Perspektif Keuangan, Perspektif Pelanggan, Perspektif
Proses Bisnis Internal dan Perspektif Belajar dan
Berkembang. Penulis memilih menggunakan Rumah
Sakit Kristen Tayu karena selama ini pengukuran
kinerja yang dilakukan perusahaan masih menitik
beratkan pada aspek keuangan. Metode pengujian
instrument penelitian yang digunakan yaitu pengujian
validitas dan pengujian realibilitas.Berdasarkan hasil
penelitian yang sudah dilakukan penulis dapat
mengambil kesimpulan sebagai berikut,Perspektif
Keuangan,pertumbuhan ROI dan Rasio Efisiensi
mengalami peningkatan, menujukan keuangan
meningkat. Perspektif Pelanggan, mampu
mempertahankan dan menarik minat pelanggan dan
mampu memuaskan pelanggan. Perspktif Proses
Bisnis Internal, mampu memberikan fasilitas
pelayanan yang baik walaupun pelayanan pencegahan
dan kecepatan kurang memadai. Perspektif Belajar dan
Berkembang, mampu mempertahankan karyawan dan
mampu memuaskan karyawan.

112
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Untuk memasuki lingkungan bisnis yang kompetitif, manajemen perusahaan
yang baik merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh perusahaan.
Oleh karena itu perusahaan memerlukan sistem manajemen yang didesain
sesuai dengan tuntutan lingkungan usahanya, karena dengan menggunakan
sistem manajemen yang sesuai dengan tuntutan lingkungan usaha maka
perusahaan akan mampu bersaing dan berkembang dengan baik.
Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang amat penting
bagi sebuah perusahaan. Pengukuran tersebut, dapat digunakan untuk
menilai keberhasilan perusahaan serta sebagai dasar penyusunan imbalan
dalam perusahaan. Selama ini pengukuran kinerja secara tradisional hanya
menitikberatkan pada sisi keuangan. Manajer yang berhasil mencapai
tingkat keuntungan yang tinggi akan dinilai berhasil dan memperoleh
imbalan yang baik dari perusahaan.
Akan tetapi, menilai kinerja perusahaan semata-mata dari sisi
keuangan akan dapat menyesatkan, karena kinerja keuangan yang baik saat
ini dapat dicapai dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan jangka
panjang perusahaan. Dan sebaliknya, kinerja keuangan yang kurang baik
dalam jangka pendek dapat terjadi karena perusahaan melakukan investasi-
investasi demi kekepentingan jangka panjang. Untuk mengatasi kekurangan
ini, maka diciptakan suatu metode pendekatan yang mengukur kinerja
perusahaan dengan mempertimbangkan 4 aspek yaitu aspek keuangan,
pelanggan, proses bisnis internal serta proses belajar dan berkembang (Ali
Mutasowifin, 2002 : 245).
Metode ini berusaha untuk menyeimbangkan pengukuran aspek
keuangan dengan aspek non keuangan yang secara umum dinamakan

113
Balanced Scorecard. Dengan menerapkan metode Balanced Scorecard para
manajer perusahaan akan mampu mengukur bagaimana unit bisnis mereka
melakukan penciptaan nilai saat ini dengan tetap mempertimbangkan
kepentingan-kepentingan masa yang akan datang.
Rumah Sakit adalah bentuk organisasi pengelola jasa pelayanan
kesehatan individual secara menyeluruh. Di dalam organisasinya terdapat
banyak aktivitas, yang diselenggarakan oleh petugas berbagai jenis profesi,
baik profesi medik, paramedik maupun non-medik. Untuk dapat
menjalankan fungsinya, diperlukan suatu sistem manajemen menyeluruh
yang dimulai dari proses perencanaan strategik (renstra), baik untuk jangka
panjang maupun jangka pendek. Suatu renstra dapat disebut baik apabila
perencanaan tersebut dapat ditindaklanjuti secara praktis ke dalam program-
program operasional yang berorientasi kepada economic - equity - quality.
Artinya rumah sakit dikelola secara efektif dan efisien, melayani segala
lapisan masyarakat dan berkualitas.
Memasuki era globalisasi perdagangan antarnegara sejak 2003 ini,
pimpinan rumah sakit di Indonesia perlu memfokuskan strategi
perencanaan, pengorganisasian, pengoperasian, dan pengendalian sehingga
betul-betul siap dengan daya saing di tingkat global. Di dalam era tersebut,
para konsumen bebas memilih rumah sakit mana yang mampu memberikan
pelayanan memuaskan, profesional dengan harga bersaing, sehingga strategi
dan kinerja rumah sakit pun harus berorientasi pada keinginan pelanggan
tersebut. Untuk itu diterapkan balanced scorecard (BSC) yang diharapkan
menjawab tuntutan dan tantangan zaman.
Rumah Sakit Kristen Tayu Pati sebagai rumah sakit rujukan
pelayanan kesehatan di daerah sekitar murya dalam era kesejagatan
(globalisasi), disatu pihak diperhadapkan pada kekuatan-kekuatan dan
masalah-masalah interen yang ada, sedangkan di lain pihak secara,
bersamaan juga diperhadapkan pada kondisi lingkungan dengan berbagai
faktor peluang dan tantangan yang senantiasa berkembang dinamis. Oleh
karena itu untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang prima bagi

114
masyarakat perlu disusun Visi Misi, Tujuan, Sasaran serta Indikator
keberhasilan yang dirampungkan dalam bentuk Rencana Stratejik
(RENSTRA). Indikator keberhasilan merupakan alat ukur yang harus
dievaluasi secara periodik berkesinambungan. Indikator bukan saja dalam
bentuk finansial tapi juga dengan indikatoryang lain seperti pelangan, bisnis
inernal juga pembelanjaran dan pertumbuhan yang selanjutnya dijadikan
bahan untuk mengendalikan arah dan mutu pelayanan kesehatan agar visi
yang telah ditetapkan benar-benar dapat diwujudkan.
Rumah Sakit Kristen Tayu Pati merupakan salah satu Rumah Sakit
Umum di Tayu yang berusaha memberikan pelayanan kesehatan secara
propesonalisme dan meningkatkan mutu terus-menerus. Memaksa pihak
Rumah Sakit Kristen Tayu Pati untuk selalu memperbaiki kinerjanya, agar
dapat menambah kepercayaan masyarakat atas Rumah Sakit Kristen Tayu
Pati. Kepercayaan ini sangatlah penting, mengingat masyarakat merupakan
pengguna jasanya. Diharapkan dengan peningkatan kepercayaan
masyarakat terhadap Rumah Sakit menpunyai dampak pada pendapatan
Rumah Sakit.
Melihat fenomena tersebut di atas, maka perlu digunakan alternatif
penilaian kinerja Rumah Sakit Kristen Tayu dengan menggunakan
Balanced Scorecard yang lebih komprehensif, akurat, terukur karena dalam
menilai kinerja suatu organisasi tidak hanya dinilai dari aspek keuangan
saja, tetapi juga dinilai dari aspek nonkeuangan.
Dari latar belakang dan uraian di atas, maka dalam penelitian ini
mengambil judul “PENERAPAN BALANCED SCORECARD
SEBAGAI TOLOK UKUR PENILAIAN KINERJA PADA BADAN
USAHA BERBENTUK RUMAH SAKIT (Studi Kasus Pada Rumah
Sakit Kristen Tayu Pati)”.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka
masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana kinerja
manajemen Rumah Sakit Kristen Tayu diukur dengan menggunakan

115
Balanced Scorecard ?
Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah oleh peneliti dengan maksud agar pembahasan
dapat lebih terfokus. Adapun penelitian ini hanya akan membahas mengenai
penerapan Balanced Scorecard dalam mengukur kinerja manajemen Rumah
Sakit Kristen Tayu ditinjau dari 4 aspek yaitu aspek keuangan (ROI dan
Profit Margin), Pelanggan (kepuasan pelanggan), Proses Bisnis Internal
(BTO, GDR, NDR), serta pembelajaran dan Pertumbuhan (Produktivitas
karyawan, Rentensi karyawan, Kepuasan karyawan) tahun 2004 – 2005.

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian


1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Memberikan gambaran penggunaan Balanced Scorecard terhadap
penilaian kinerja rumah sakit.
2. Untuk mengetahui sampai sejauh mana penerapan Balanced Scorecard
sebagai alat analisis yang komprehensif dan koheren pada suatu
perusahaan.
3. Memberikan suatu alternatif pengukuran kinerja perusahaan yang
memperhatikan aspek finasial dan aspek nonfinasial.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada pihak-pihak
yang membutuhkan sebagai berikut :
a. Sebagai alternatif pengukuran kinerja yang lebih komprehensif dalam
menilai kinerja manajemen Rumah Sakit Kristen Tayu.
b. Menambah wawasan bagi manajemen dan pengurus mengenai
pentingnya faktor-faktor nonfinancial yang mempengaruhi kinerja
manajemen Rumah Sakit Kristen Tayu.
c. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah kepustakaan
dan bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang mengadakan penelitian
yang menyangkut kinerja manajemen suatu badan usaha berbentuk

116
Rumah Sakit Kristen Tayu.

1.4. Kerangka Pemikiran


Dalam skripsi ini akan dilakukan pengukuran kinerja dengan
menggunakan system pengukuran kinerja yang di sebut BALANCED
SCORECARD kepada sebuah perusahaan atau organisasi public yang belum
mengenal sistem pengukapan kinerja tersebut. BALANCED SCORECARD
di kembangkan untuk melengkapi pengukuran kinerja finasial dan sebagai
alat yang cukup penting bagi organisasi atau perusahaan untuk
merefleksikan pemikiran baru dalam era kompetitif dan efektifitas
organisasi. BALANCED SCORECARD merupakan solusi terbaik dalam
pengukuran kinerja bisnis.
Empat perspekif utama di sorot melalui BALANCED SCORECARD
yaitu:
1. Perpektif keuangan
2. Perpektif konsumen atau pelanggan
3. Perpektif proses internal bisnis
4. Perpektif pembelajan dan pertumbuhan
Dalam BALANCED SCORECARD. Keempat perspektif tersebut
menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, juga merupakan
indikator pengukuran kinerja yang saling melengkapi dan memiliki
hubungan sebab akibat.
Seperti yang telah di jelaskan bahwa pengukuran kinerja bagi
perusahan jasa yang mempunyai kontak tinggi sangat dibutuhkan. Penelitian
ini bertujuan untuk menerapkan konsep BALANCED SCORECARD pada
Rumah Sakit Kristen Tayu.
Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat
digambarkan dengan bagan sebagai berikut.

Gambar 1.1.
Kerangka Pemikiran

117
Penerapan BSC pada
organisasi sektor swasta

Perspektif keuangan bukan merupakan


perspektif satu-satunya sebagai indikator
penilaian kinerja

Penerapan BSC pada organisasi sektor


publik (RSK Tayu Pati)

Keuangan Lap. keuangan perusahaan Pendukung non keuangan dan


menentukan tingkat pelayanan

Customer satisfaction, customer


Pelanggan
profitabilitas dan pangsa pasar

Menentukan
Proses Bisnis Internal
Inovasi dan operasi pencapaian misi dan
visi

Kemampuan karyawan,
Pembelajaran dan kemampuan sistem informasi,
Pertumbuhan motivasi, pemberdayaan dan
keserasian individu perusahaan

Menunjukkan atau memberikan


gambaran kinerja perusahaan
berdasarkan konsep Balanced
Scorecard

1.1. BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Penilaian Kinerja


Kinerja merupakan suatu istilah umum yang digunakan untuk sebagian atau
seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode, seiring
dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya-biaya masa lalu atau yang

118
diproyeksikan, suatu dasar efisiensi, pertanggung jawaban atau akuntabilitas
manajemen dan semacamnya (Fauzi, 1995 : 207).
Penilaian kinerja pada dasarnya merupakan kegiatan manusia dalam
mencapai tujuan organisasi. Mulyadi (1997 : 419) mendefinisikan penilaian
kinerja sebagai penentu secara periodik efektivitas operasional suatu
organisasi, bagian organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran, standar
dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Karena organisasi pada
dasarnya dioperasikan oleh sumber daya manusia maka penilaian kinerja
sesungguhnya merupakan penilaian atas perilaku manusia dalam
melaksanakan peran yang mereka mainkan dalam organisasi.
Setiap organisasi mengharapkan kinerja yang memberikan kontribusi
untuk menjadikan organisasi sebagai suatu institusi yang unggul di
kelasnya. Jika keberhasilan organisasi untuk mengadakan institusi yang
unggul ditentukan oleh berbagai faktor maka berbagai faktor yang
menentukan keberhasilan perusahaan (succes factor) untuk menjadikan
organisasi suatu institusi yang unggul tersebut digunakan sebagai pengukur
keberhasilan personal. Dengan demikian, dibutuhkan suatu penilaian kinerja
yang dapat digunakan menjadi landasan untuk mendesain sistem
penghargaan agar personel menghasilkan kinerjanya yang sejalan dengan
kinerja yang diharapkan oleh organisasi.

2.2 Balanced Scorecard


Scorecard merupakan kumpulan ukuran kinerja yang terintegrasi
yang diturunkan dari strategi perusahaan yang mendukung strategi
perusahaan secara keseluruhan. Balanced Scorecard memberikan suatu cara
untuk mengkomunikasikan strategi suatu perusahaan pada manajer-manajer
di seluruh organisasi. Balanced Scorecard juga menunjukkan bagaimana
perusahaan menyempurnakan prestasi keuangannya (Amin Widjaja
Tunggal, 2002 : 1).
Balanced Scorecard menurut Robert S. Kaplan dan David P. Norton
(1997 : 7) merupakan suatu metode penilaian yang mencakup empat
perspektif untuk mengukur kinerja perusahaan, yaitu perspektif keuangan,

119
perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif
pembelajaran dan pertumbuhan. Balanced Scorecard menekankan bahwa
pengukuran keuangan dan non keuangan harus merupakan bagian dari
informasi bagi seluruh pegawai dari semua tingkatan bagi organisasi.
Tujuan dan pengukuran dalam Balanced Scorecard bukan hanya
penggabungan dari ukuran-ukuran keuangan dan non keuangan yang ada,
melainkan merupakan hasil dari suatu proses atas bawah (top-down)
berdasarkan misi dan strategi dari suatu unit usaha, misi dan strategi
tersebut harus diterjemahkan dalam tujuan dan pengukuran yang lebih nyata
(Teuku Mirza, 1997 : 14).

Visi

Tujuan Tujuan Tujuan


(goal) (goal) (goal)

Sasaran Strategik Sasaran Strategik Sasaran Strategik


(strategic objectives) (strategic objectives) (strategic objectives)
Sumber : Mulyadi & Setyawan 1999. Sistem Perencanaan & Pengendalian Manajemen

Gambar 2.1
Penjabaran visi ke dalam tujuan dan sasaran strategi

1. Komunikasi & hubungan


Balanced Scorecard memperlihatkan kepada setiap karyawan
apa yang dilakukan perusahaan untuk mencapai apa yang menjadi
keinginan para pemegang saham konsumen karena untuk tujuan tersebut
dibutuhkan kinerja karyawan yang baik. Untuk itu Scorecard
menunjukkan strategi yang menyeluruh yang terdiri dari 3 kegiatan :
a. Communicating dan education
b. Setting goal
c. Linking reward to performance measure
2. Rencana Bisnis

120
Rencana bisnis memungkinkan organisasi mengintegrasikan
antara bisnis dan rencana keuangan mereka. Hampir semua organisasi
pada saat ini mengimplementasikan berbagai macam program yang
mempunyai keunggulan masing-masing yang saling bersaing antara satu
dengan yang lain, sehingga akan menyulitkan manajer untuk
mengintegrasikan ide-ide yang muncul dan berbeda di setiap
departemen. Dengan menggunakan Balanced Scorecard sebagai dasar
untuk mengalokasikan sumber daya dan mengatur mana yang lebih
penting untuk diprioritaskan akan menggerakkan mereka ke arah tujuan
jangka panjang perusahaan menyeluruh.
3. Umpan balik dan pembelajaran
Dengan Balanced Scorecard sebagai pusat system manajemen
perusahaan maka perusahaan tersebut akan dapat melakukan monitor
terhadap apa yang dihasilkan perusahaan dalam jangka pendek dari
tiga perspektif yang ada dalam Balanced Scorecard yaitu konsumen,
proses bisnis internal, dan pembelajaran dan pertumbuhan akan
dijadikan sebagai umpan balik dalam mengevaluasi strategi dalam
kinerja.

2.3 Kinerja Perspektif Keuangan


Dalam Balanced Scorecard kinerja keuangan tetap menjadi
perhatian, karena ukuran keuangan merupakan suatu ikhtisar dan
konsekuensi ekonomi yang terjadi yang disebabkan oleh keputusan dan
ekonomi yang diambil (Teuku Mirza, 1997 : 15).
Ukuran kinerja keuangan menunjukkan apakah strategi, sasaran strategic,
inisiatif strategic dan implementasinya mampu memberikan kontribusi dalam
menghasilkan laba bagi perusahaan, Kaplan & Norton (1996 : 48)
mengidentifikasikan tiga tahapan dari siklus kehidupan bisnis yaitu :
a. Pertumbuhan (growth)
Growth adalah tahap pertama dan tahap awal dari siklus

121
kehidupan bisnis. Pada tahap ini suatu perusahaan memiliki produk atau
jasa yang secara signifikan memiliki tingkat pertumbuhan yang baik
sekali atau paling tidak memiliki potensi untuk berkembang biak.
Perusahaan dalam tahap ini mungkin secara actual beroperasi
dalam arus kas yang negatif dari tingkat pengembalian atas modal
investasi yang rendah. Sasaran keuangan dari bisnis yang berada pada
tahap ini seharusnya menekankan pengukuran pada tingkat
pertumbuhan penerimaan atau penjualan dalam pasar yang ditargetkan.
b. Bertahan (Sustain Stage)
Sustain stage merupakan suatu tahap dimana perusahaan masih
melakukan investasi dengan mempersyaratkan tingkat pengembalian
yang terbaik. Dalam hal ini perusahaan berusaha mempertahankan
pangsa pasar yang ada dan mengembangkannya apabila mungkin.
Secara konsisten pada tahap ini perusahaan tidak lagi bertumpuk pada
strategi-strategi jangka panjang. Sasaran keuntungan pada tahap ini
diarahkan pada besarnya tingkat pengembalian atas investasi yang
dilakukan.
c. Menuai (Harvest)
Tahap ini merupakan tahap kematangan (mature), suatu tahap
dimana perusahaan melakukan panen terhadap investasi yang dibuat
pada dua tahap sebelumnya. Perusahaan tidak lagi melakukan investasi
lebih jauh kecuali hanya untuk pemeliharaan peralatan dan perbaikan
fasilitas, tidak untuk melakukan ekspansi/membangun suatu kemampuan
baru. Tujuan utama dalam tahap ini adalah memaksimumkan kas yang
masuk ke perusahaan.
Untuk menjadikan organisasi suatu institusi yang mampu
berkreasi diperlukan keunggulan di bidang keuangan. Melalui
keunggulan di bidang ini, organisasi menguasai sumber daya yang
sangat diperlukan untuk mewujudkan tiga perspektif strategi lain yaitu
perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif
proses pertumbuhan dan pembelajaran.

122
2.4 Kinerja Perspektif Konsumen
Suatu produk atau jasa dikatakan mempunyai nilai bagi konsumennya jika
manfaat yang diterimanya relatif lebih tinggi dari pada pengorbanan yang
dikeluarkan oleh konsumen tersebut untuk mendapat produk dan jasa itu.
Produk atau jasa tersebut akan semakin mempunyai nilai apabila manfaatnya
mendekati ataupun melebihi dari apa yang diharapkan oleh konsumen.
Menurut Kaplan dan Norton (1956) perusahaan diharapkan mampu membuat
suatu segmentasi pasar dan ditentukan target pasarnya yang paling mungkin
untuk dijadikan sasaran sesuai dengan kamampuan sumber daya dan rencana
jangka panjang perusahaan. Dalam perspektif konsumen terdapat 2 kelompok
perusahaan yaitu :
1. Kelompok perusahaan inti konsumen (customer core measurement
group)
a) Pangsa pasar (market share)
Menggambarkan seberapa besar penjualan yang dikuasai oleh
perusahaan dalam suatu segmen tertentu.
b) Kemampuan mempertahankan konsumen (customer retention)
Tingkat kemampuan perusahaan untuk mempertahankan hubungan
dengan konsumennya yang mungkin seberapa besar perusahaan
berhasil mempertahankan pelanggan lama.
c) Kemampuan meraih konsumen baru (customer acquisition)
Tingkat kemampuan perusahaan demi memperoleh dan menarik
konsumen baru dalam pasar.
d) Tingkat kepuasan konsumen (customer satiffation)
Merupakan suatu tingkat kepuasan konsumen terhadap kriteria
kinerja/nilai tertentu yang diberikan oleh perusahaan.
e) Tingkat protabilitas konsumen (customer profitability)
Mengukur seberapa besar keuntungan yang berhasil diperoleh
perusahaan dari penjualan kepada konsumen/segmen pasar.
2. Kelompok pengukur nilai konsumen (customer value measement)
Merupakan kelompok penunjang yang merupakan konsep kunci untuk
memahami pemicu-pemicu (driver).

123
Dari kelompok-kelompok pengukuran inti konsumen
kelompok pengukuran nilai konsumen terdiri dari :
a. Atribut-atribut produk dan jasa (product/service)
Atribut-atribut produk-produk jasa harga dan fasilitasnya.
b. Hubungan dengan konsumen (customer relationship)
Meliputi hubungan dengan konsumen yang meliputi melalui
pengisian produk/jasa kepada konsumen, termasuk dimensi respon
dan waktu pengirimannya dan bagaimana pula kesan yang timbul
dari konsumen setelah membeli produk atau jasa perusahaan
tersebut.
c. Citra dan reputasi (image & reputation)
Dalam dimensi ini termuat faktor-faktor yang membuat konsumen
merasa tertarik pada perusahaan seperti hasil promosi baik secara
personal (melalui pameran-pameran, door to door) maupun lewat
media masa atau elektronik ataupun ungkapan-ungkapan yang
mudah diingat oleh konsumen.

2.5 Perspektif Proses Internal Bisnis


Dalam perspektif bisnis internal, perusahaan harus meng-identifikasikan proses
internal yang penting dimana perusahaan harus melakukannya dengan sebaik-
baiknya. Karena proses internal tersebut memiliki nilai-nilai yang diinginkan
pelanggan dan akan dapat memberikan pengembalian yang diharapkan oleh
pemegang saham (Ancella Hermawan, 1996 : 56).
Para manager harus memfokuskan perhatiannya pada proses bisnis
internal yang menjadi penentu kepuasan pelanggan kinerja perusahaan dari
perspektif pelanggan. Kinerja dari perspektif tersebut diperoleh dari proses
kinerja bisnis internal yang diselenggarakan perusahaan. Perusahaan harus
memilih proses dan kompetensi yang menjadi unggulannya dan menentukan
ukuran-ukuran untuk menilai kinerja-kinerja proses dan kompetensi
tersebut. Analisis atau proses bisnis internal perusahaan dilakukan melalui
analisis rantai nilai (value chain analysist) yang digambarkan sebagai
berikut :

124
Customer need
Customer need design develop Make Market Service
dentified Satisfied

Time Supply
Market Chain
Business process :
• Innovation process
• Product design
• Product development
• Operator process
• Manufacture
• Marketing
• Postable service
Sumber : Norton dan Kaplan, 1996
Gambar 2.2
Generic Value Chain Mode

Masing-masing perusahaan mempunyai seperangkat proses penciptaan nilai


yang unik bagi pelanggannya. Secara umum Kaplan dan Norton (1996 : 96)
membaginya menjadi tiga prinsip dasar yaitu :
1. Inovasi
Pengukuran kinerja dalam proses inovasi selama ini kurang
mendapatkan perhatian, dibandingkan pengukuran kinerja yang
dilakukan dalam proses operasi. Pada tahap ini perusahaan
mengidentifikasikan keinginan dan kebutuhan para pelanggan di masa
mendatang serta merumuskan cara untuk memenuhi keinginan dan
kebutuhan tersebut.
2. Operasi
Tahap ini merupakan tahap akhir di mana perusahaan secara
nyata berupaya untuk memberikan solusi kepada para pelanggannya
dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan langganan dan kebutuhan
mereka. Kegiatan operasional berasal dari penerimaan pesanan dari
pelanggan dan berakhir dengan pengiriman produk atau jasa pada

125
pelanggan. Kegiatan ini lebih mudah diukur kejadiannya yang rutin dan
terulang.
3. Layanan pasca jual
Dalam tahap ini perusahaan berupaya memberikan manfaat
tambahan kepada para pelanggan yang telah membeli produk-produknya
dalam bentuk layanan pasca transaksi.

2.6 Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran


Tujuan dimasukkannya kinerja ini adalah untuk mendorong
perusahaan menjadi organisasi belajar (learning organization) sekaligus
mendorong pertumbuhannya (Teuku Mirza, Usahawan, 1997).
Kaplan dan Norton membagi tolak ukur perspektif ini dalam tiga prinsip
yaitu :
1. People
Tenaga kerja pada perusahaan dewasa ini lebih lanjut dituntut
untuk dapat berpikir kritis dan melakukan evaluasi terhadap proses dan
lingkungan untuk dapat memberikan usulan perbaikan. Oleh sebab itu,
dalam pengukuran strategi perusahaan, salah satunya harus berkaitan
secara spesifik dengan kemampuan pegawai, yaitu apakah perusahaan
telah mencanangkan peningkatan kemampuan sumber daya manusia
yang dimiliki.
Dalam kaitannya dengan sumber daya manusia ada tiga hal yang perlu
ditinjau dalam menerapkan Balanced Scorecard :
a. Tingkat kepuasan karyawan
Kepuasan karyawan merupakan suatu para kondisi untuk
meningkatkan produktivitas, kualitas, pelayanan kepada konsumen
dan kecepatan bereaksi. Kepuasan karyawan menjadi hal yang
penting khususnya bagi perusahaan jasa.

126
b. Tingkat perputaran karyawan (retensi karyawan)
Retensi karyawan adalah kemampuan perusahaan untuk
mempertahankan pekerja-pekerja terbaiknya untuk terus berada
dalam organisasinya. Perusahaan yang telah melakukan investasi
dalam sumber daya manusia akan sia-sia apabila tidak
mempertahankan karyawannya untuk terus berada dalam
perusahaan.
c. Produktivitas karyawan
Produktivitas merupakan hasil dari pengaruh rata-rata dari
peningkatan keahlian dan semangat inovasi, perbaikan proses
internal, dan tingkat kepuasan pelanggan. Tujuannya adalah
menghubungkan output yang dilakukan para pekerja terhadap
jumlah keseluruhan pekerja.

2. System
Motivasi dan ketrampilan karyawan saja tidak cukup untuk
menunjang pencapaian tujuan proses pembelajaran dan pertumbuhan
apabila mereka tidak memiliki informasi yang memadai. Pegawai di
bidang operasional memerlukan informasi yang memadai. Pegawai di
bidang operasional memerlukan informasi yang cepat, tepat waktu dan
akurat sebagai umpan balik, oleh sebab itu karyawan membutuhkan
suatu system informasi yang mempunyai kualitas dan kuantitas yang
memadai untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

3. Organizational Procedure
Prosedur yang dilakukan suatu organisasi perlu diperhatikan
untuk mencapai suatu kinerja yang handal. Prosedur dan perbaikan
rutinitas harus diteruskan karena karyawan yang sempurna dengan
informasi yang berlimpah tidak akan memberikan kontribusi pada
keberhasilan usaha apabila mereka tidak dimotivasi untuk bertindak
selaras dengan tujuan perusahaan atau apabila mereka tidak diberikan

127
kebebasan untuk mengambil keputusan atau bertindak.

Core
measurement Result
Employee Employee
retention production
Employee
safaction

Enablers
Gambar 2.3 Technology Climate for
Staff competence
infrastructure action

Kerangka pengukuran pembelajaran dan pertumbuhan

2.7 Pengertian Rumah Sakit


Menurut American Hospital Association, rumah sakit adalah suatu organisasi
yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana
kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran asuhan
keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit
yang diderita oleh pasien (Azrul Anwar, 1966).
Sesuai dengan perkembangan rumah sakit dapat dibedakan menjadi beberapa
jenis. Menurut Azrul Anwar, rumah sakit dibedaka menjadi empat macam
yaitu :
1. Menurut pemilik
Ditinjau dari pemiliknya, rumah sakit dibagi menjadi dua macam yaitu :
a. Rumah sakit pemerintah
b. Rumah sakit swasta
2. Menurut filosofi yang dianut
Menurut filosofi yang dianut rumah sakit dibagi menjadi dua macam
yaitu :
a. Rumah sakit yang tidak mencari keuntungan (non profit hospital).
Salah satu faktor yang membedakan rumah sakit milik pemerintah

128
dengan swasta adalah terletak orientasinya terhadap laba. Rumah
sakit milik pemerintah merupakan organisasi nirlaba yaitu organisasi
yang orientasi utamanya bukan untuk mencari laba tetapi lebih
mengutamakan peningkatan pelayanan.
b. Rumah sakit yang mencari keuntungan (profit hospital). Rumah
sakit swasta telah dikelola secara komersial serta berorientasi untuk
mencari keuntungan.

3. Mencari jenis pelayanan yang diselenggarakan


Jika dilihat dari sisi pelayanan yang diselenggarakan rumah sakit
dibedakan menjadi dua macam yaitu :
a. Rumah sakit umum (general hospital)
Disebut rumah sakit umum bila semua jenis pelayanan kesehatan
diselenggarakan.
b. Rumah sakit khusus (specialty hospital)
Jika hanya satu jenis pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
4. Menurut lokasi rumah sakit
Jika ditinjau dari lokasinya rumah sakit dibedakan menjadi beberapa
macam tergantung dari sistem pemerintah yang dianut. Contohnya
rumah sakit pusat, jika lokasinya di ibu kota negara, rumah sakit
propinsi jika lokasinya di ibukota propinsi.

129
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Objek dan Lokasi Penelitian


Objek yang dipilih dalam penelitian ini adalah Rumah Sakit Kristen
Tayu dengan alasan bahwa penerapan Balanced Scorecard dalam mengukur
kinerja Rumah Sakit Kristen Tayu merupakan langkah strategik yang
berdampak besar terhadap kemampuan manajemen Rumah Sakit Kristen
Tayu dalam melipatgandakan kinerjanya, baik ditinjau dari aspek Keuangan
maupun aspek Non-Keuangan dan diharapkan Rumah Sakit Kristen Tayu
akan mampu bersaing serta berkembang dengan baik.

3.2 Populasi dan Sampel


3.2.1 Populasi
Populasi adalah sejumlah individu yang mempunyai sifat atau kepentingan
yang sama (Sutrisno Hadi, 1997 : 220). Dalam penelitian ini populasi
adalah para konsumen Rumah Sakit Kristen Tayu yang akan digunakan
untuk menilai kepuasan pada aspek konsumen dan karyawan Rumah Sakit
Kristen Tayu yang berjumlah 450 orang yang akan digunakan untuk
menilai kepuasan karyawan pada aspek pertumbuhan dan pembelajaran.

3.2.2 Sampel

130
Penentuan sempel yaitu yang menjadi responden adalah karyawan yang
terkait dengan penilaian yang akan dilaksanakan untuk mengetahui tingkat
kepuasan karyawan melalui penyebaran kuesioner. Sampel yang baik
adalah sampel yang mewakili populasi secara keseluruhan. Sampel dalam
penelitian ini adalah para responden yang akan menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang ada dalam kuesioner.
Sementara itu, metode pengambilan sampel untuk karyawan Rumah Sakit
Kristen Tayu adalah metode Non Random Sampling yaitu Convenience
Sampling dimana penentuan jumlah sampel dari elemen populasi yang
datanya mudah diperoleh peneliti. Elemen populasi yang dipilih sebagai
subjek adalah tidak terbatas sehingga peneliti memiliki kebebasan untuk
memilih sampel yang paling cepat dan murah (Nur Indriantoro &
Bambang, 1999 : 130). Penentuan besarnya sampel menggunakan rumus
Slovin yaitu :
N
n=
N .d2 + 1
350
n= = 77,8 (dibulatkan menjadi 78 orang)
350 . 0,12 + 1
keterangan :
N = populasi
n = sampel

3.3 Teknik Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah:
1. Wawancara yaitu dengan mengadakan Tanya jawab langsung dengan
pihak Rumah sakit.
2. Kuesoner yaitu melalui pengajuan kuessioner yang mengetahui seberapa
besar tingkat kepuasan karyawan Rumah Sakit.
3. Studi pustaka yaitu dengan cara mempelajari literatur-literatur yang
relevan dengan penelitian guna memperoleh gambaran teoritis mengenai

131
aplikasi Balanced Scorecard pada suatu perusahaan, khususnya Rumah
Sakit. Metode ini di perlukan untuk menujang kelengkapan dan
ketajaman analisis.

3.4 Pengujian Instrumen Penelitian


Sebelum dilakukan perhitungan dan pengolahan dengan
menggunakan alat analisis, maka semua instrumen penelitian diuji terlebih
dahulu untuk mengetahui apakah instrumen tersebut valid dan reliabel.
Pengujian instrumen dilakukan dengan menggunakan :

a. Uji Validitas
Uji validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur benar-benar cocok atau
sesuai sebagai alat ukur yang diinginkan. Pengujian validitas dilakukan untuk menguji
apakah hasil jawaban dari kuesioner oleh responden benar-benar cocok untuk
digunakan dalam penelitian ini.

Untuk menguji validitasnya menggunakan statistic factor


analysis significancy, nilai Loading Factor yang dipakai adalah 0,4.
Pengambilan Keputusan: (Augusty Ferdinand, 2002 : 133)
- Apabila nilai loading factor menunjukkan nilai lebih besar atau sama
dengan 0,4, maka butir pernyataan tersebut valid
- Apabila nilai loading factor menunjukkan nilai lebih kecil atau sama
dengan 0,4, maka butir pernyataan tersebut tidak valid.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah tingkat kestabilan suatu alat pengukur dalam
mengukur suatu gejala atau kejadian. Pengujian reliabilitas dilakukan
untuk mengetahui apakah hasil jawaban dari kuesioner oleh responden
benar-benar stabil dalam mengukur suatu gejala atau kejadian. Semakin
tinggi reliabilitas suatu alat pengukur, semakin stabil pula alat pengukur
tersebut dan sebaliknya jika reliabilitas pengukur tersebut rendah maka
alat tersebut tidak stabil dalam mengukur suatu gejala. Teknik pengujian
reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis yang
dikembangkan oleh Cronbach Alpha ( α ), dengan rumus sebagai berikut

132
: (Imam Ghozali, 2001;129)
k .r
α =
1 + (k − 1)r
Keterangan :
α = Koefisien reliabilitas
r = rata-rata korelasi antar butir
k = jumlah butir
Pengambilan Keputusan :
- Jika koefisien Cronbach Alpha ( α ) < 0,6 maka butir pertanyaan
dinyatakan tidak reliabel.
- Jika koefisien Cronbach Alpha ( α ) ≥ 0,6 maka butir pertanyaan
dinyatakan reliabel.

3.5 Metode Analisis


1. Analisis kualitatif meliputi klarifikasi visi, misi dan tujuan ke dalam
rencana strategi perusahaan.
2. Analisis kuantitatif
Pengukuran kinerja masing-masing perspektif.
Rumusnya :
a. Mengukur kinerja perspektif keuangan
Perspektif ini menggunakan perhitungan :
laba bersih
- ROI = x 100%
total aktiva
Penjualan
- Rasio Efesiensi = x 100%
Aktiva Lancar
b. Mengukur kinerja perspektif konsumen
Perspektif ini menggunakan perhitungan :
- Kepuasan pelanggan
Kepuasan pelanggan ini diketahui dari data sekunder yaitu
survey yang dilakukan oleh pihak manajemen Rumah Sakit.
Mengukur seberapa jauh kepuasan pelanggan atas pelayanan

133
kesehatan yang diberikan oleh Rumah Sakit. Kepuasan
konsumen mengukur rata-rata kepuasan pelanggan dengan
meberikan nilai pada jawaban kuesinoer sesuai dengan tingkat
kepuasan yang dirasakan. Nilai yang diberikan adalah:
1. 1: sangat tidak puas.
2. 2: tidak puas.
3. 3: ragu-ragu.
4. 4: puas.
5. 5: sangat puas.
Untuk mengetahui rata-rata kepuasan konsumen maka jumlah
skor jawaban kuesioner dibagi dengan jumlah konsumen yang
menjadi responden.
Penentuan kreteria rata-rata kepusan pelanggan.
c. Mengukur kinerja perspektif proses internal bisnis.
Berdasarkan data sekunder yang diambil dari Rumah Sakit perspektif
ini menggunakan perhitungan :
- BTO (Bed Turn Over Rate)
D
BTO =
A
- GDR (Gross Death Rate)
Pm
GDR = x 1000 mil
D
- NDR (Net Death Rate)
Pm > 48 jam
- NDR = x 1000 mil
D
Keterangan :
O = rerata tempat terisi dihitung dari jumlah tempat tidur yang terisi,
kemudian hasilnya dibagi jumlah hari dalam bulan yang bersangkutan

D = jumlah pasien keluar (hidup/mati)

A = rerata tempat tidur yang siap dipakai

T = jumlah hari perhitungan (30/31/365)

134
Pm = pasien mati

d. Mengukur kinerja perspektif pembelajaran dan pertumbuhan


perspektif ini menggunakan perhitungan :
laba operasi
- Produktivitas karyawan =
jumlah karyawan

- Perputaran karyawan =
jumlah karyawan keluar
x 100%
jml total karyawan pada thn berjalan

- Kepuasan karyawan
Dianggap sebagai penentu dari kedua pengukuran sebelumnya.
Pengukurannya dilakukan dengan survey kepuasan karyawan
melalui kuesioner. Kepuasan karyawan mengukur rata-rata
kepuasan karyawan dengan meberikan nilai pada jawaban
kuesinoer sesuai dengan tingkat kepuasan yang dirasakan. Nilai
yang diberikan adalah:
1. 1: sangat tidak puas.
2. 2: tidak puas.
3. 3: ragu-ragu.
4. 4: puas.
5. 5: sangat puas.
Jumlah karyawan x skor
Kepuasan karyawan = x 100%
Total bobot
Untuk mengetahui rata-rata kepuasan karyawan maka jumlah
skor jawaban kuesioner dibagi dengan jumlah karyawan yang
menjadi responden.
Penentuan kreteria rata-rata kepusan karyawan.

Tabulasi Perhitungan Keempat Perspektif Balanced Scarecard


Jenis Variabel Indikator Pengukuran
1. Perspektif
keuangan

135
- ROI - Peningkatan - Prosentase laba bersih terhadap
Laba Bersih total aktiva
- Rasio - Penurunan - Presentase penjualan bersih
Efesiensi Biaya Operasi terhadap aktiva lancar
2. Perspektif
pelanggan
- Kepuasan - Peningkatan - kuesuner terhadap kepuasan
pelanggan kepuasan pelanggan
pelanggan
3. Perspektif proses
internal bisnis
- BTO - Peningkatan - Perbandingan antara jumlah
BTO pasien keluar dengan tata tempat
yang siap pakai
- GDR - Perbandingan antara pasien mati
- Penurunan GDR dengan jumlah untuk tiap 1000
pasien keluar
- NDR - Perbandingan antara pasien mati
- Penurunan NDR > 48 jam setelah dirawat dengan
jumlah untuk tiap-tiap 1.000
pasien keluar
4. Perspektif
pembelajaran dan
pertumbuhan
- Produktivitas - Peningkatan - Perbandingan antara laba operasi
karyawan produktivitas dengan total karyawan
karyawan
- Retensi - Penurunan - Perbandingan antara jumlah
karyawan jumlah karyawan keluar dengan total
karyawan keluar karyawan tahun berjalan
- Kepuasan - Kuesioner terhadap kepuasan
karyawan - Peningkatan karyawan
kepuasan
karyawan

136
BAB IV
ANALISIS DATA PEMBAHASAN

4.1 Analisis Data


4.1.1 Kinerja Perspektif Keuangan
A. Indikator ROI
ROI dari tahun 2004-2005 mengalami peningkatas sebesar 9,86%
(28,84%-18,98% = 9,86%). Hal ini berarti bahwa tingkat pengembalian atas
investasi/Return On Investment (ROI) yang dilakukan mengalami peningkatan
yang baik yaitu sebesar 9,86% karena berdasarkan penilaian kelayakan usaha,
apabila tingkat ROI lebih dari 5 % berarti telah dianggaplayak/baik.
B. Indikator Rasio Efesiensi
nilai rasio efesiensi dari tahun 2004-2005 mengalami peningkatan
sebesr 0,6%( 7,9% - 7,3% = 0,6%). Hal ini berarti bahwa rasio efesiensi
Rumah Sakit menurun sehingga biaya operasi dapat ditekan.
4.1.2 Kinerja Perspektif Konsumen
Barisi dari perspektif ini adalah menciptakan konsumen yang mampu
menghasilkan financial return tinggi. Hal tersebut dapat terwujud jika
perusahaan memperhatikan proses (aspek waktu, kualitas, kinerja dan
layanan) dan hasilnya berupa ukuran hasil (Out Come Measure) sebagai
parameter perspektif.
Statistic deskriptif kepuasan pasien
Kisaran Kisaran Median
Variable Rata-rata
teoritis aktual teoritis
Kepuasan
18 - 90 63 - 90 69,9800 54,000
pasien

Pengukuran variable tingkat kepuasan pasien menggunakan


instrumen Mun`im Azka (2001), terdiri dari 18 pertanyaan dengan skor 1
sampai 5. Tingkat kepuasan pasien tinggi dengan skala tinggi dan tingkat
kepuasan pasien rendah dengan skala rendah. Berdasarkan hasil

137
pengukuran variabel tingkat kepuasan pasien, skor jawaban responden
berkisar 63-90 dengan kisaran teoritis 18 – 90. Dari tabel statistik
deskriptif, nilai median teoritis untuk variabel tingkat kepuasan pasien
sebesar 54 dan nilai rata-ratanya sebesar 63,9800, sehingga data diketahui
bahwa tingkat kepuasan pasien dalam penelitian ini dalam kondisi yang
tinggi.

4.1.3 Kinerja Perspektif Proses Internal Bisnis


Kinerja perspektif proses bisnis internal diukur dengan menggunakan
tiga indikator yaitu : Bed Turnover Ratio (BTO), Gross Death Rate (GDR)
dan Net Death Rate (NDR). Hasil perhitungan dari ketiga indikator
perspektif proses bisnis internal dapat dilihat pada tabel
Tahun
UKURAN
2004 2005
BTO (kali) 16,58 kali 19,39 kali
GDR (Permil) 45,8 permil 47,4 permil
NDR (Permil) 44,63 permil 30,03 permil

4.1.4 Kinerja Perspektif pertumbuhan dan Pembelajaran


Pengukuran kinerja perspektif pertumbuhan dan pembelajaran
merupakan perspektif yang paling mendasar dalam Balance Scorecard.
Kinerja perspektif pertumbuhan dan pembelajaran diukur dengan
menggunakan indikator tiga indikator yaitu : Produktifitas karyawan,
Retensi Karyawan dan kepuasan karyawan. Produktifitas karyawan
ditentukan oleh kompetensi dan ketersediaan baik sarana maupun prasarana
untuk menjalankan aktifitasnya. Karyawan yang berkomitmen ditentukan
oleh kualitas lingkungan kinerjanya, yang tercermin dalam kepuasan
karyawan terhadap seluruh aspek oraganisasi. Sedangkan kepuasan
karyawan merupakan factor yang mempengaruhi tingkat produktifitas
karyawan.
Hasil perhitungan kinerja perspektif pertumbuhan dan pembelajaran
yang diukur dengan indikator produktifitas karyawan dan retensi karyawan

138
dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut:
Tahun
UKURAN
2004 2005
Produktifitas karyawan Rp 282.276,51/karyawan Rp 429.580,24/karyawan
Retensi karyawa 2,2 % 2,8 %
Kepuasan karyawan - -

A. Kepuasan Karyawan
Indikator kepuasan karyawan bertujuan untuk mengukur peningkatan
kepuasan karyawan, yang diukur dengan mengisi daftar pertanyaan kuesioner
yang telah disediakan. Karyawan yang menjadi responden sebanyak 78
karyawan
Hasil Pengujian Hipotesis
Statistik Deskriptif
Analisis stastistik deskriptf dilakukan berdasarkan jawaban dari 78 responden
melalui kuestioner, untuk memberikan gambaran mengenai variabel-variabel
dalam penelitian ini, yaitu semangat kerja, kepuasan karyawan. Hasil
pengolahan data mengenai statistic deskriptif disajikan dalam tabel berikut :
Kisaran Kisaran Median
Variabel Rata-rata
teoritis aktual teoritis
Semangat kerja 2 – 10 6 – 10 8,1282 6,0000
Kepemimpinan 3 – 15 9 – 15 13,1410 9,0000
Motivasi 3 – 15 13 – 15 12,2179 9,0000
Komunikasi 3 – 15 9 – 14 12,3205 9,0000
Kondisi fisik tempat kerja 3 – 15 9 – 14 12,1262 9,0000
Keputusan karyawan 5 – 25 14 – 24 20,5000 15,0000

4.2. Hasil Keseluruhan Analisis Balance Scorecard


Secara umum pada perspektif keuangan menunjukkan hasil yang
sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari indikator ROI yang mengalami
peningkatan pada tahun 2005 sebesar 9,86% dan indikator rasio efesiensi
yang juga mengalami peningkatan sebesar 0,6 % peningkatan kedua
indikator tersebut telah melebihi keukuran kelayakan usaha.
Kinerja yang diperlihatkan pada perspektif konsumen (pasien) secara

139
umum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari
jawaban atau tanggapan rata-rata pasien 69,9800 ini masuk pada ketegori
tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa secara umum rumah sakit Kristen Tayu
sudah memperhatikan kepuasan pelanggan labih baik lagi.
Hasil kinerja pada perspektif proses bisnis internal yang diukur
dengan tiga indikator yaitu BTO, NDR, dan GDR secara umum
memperlihatkan bahwa kinerja pelayanan terhadap meningkatnya
kepercayaan konsumen (pasien) untuk berobat di rumah sakit yang sangat
cepat dan efektif. Hal ini dapat dilihat bahwa dari nilai BTO tahun 2004-
2005 mengalami peningkatan sebesar 2,81 kali, yang berarti bahwa jumlah
pasien rawat inap yang telah dirawat lebihd dari 48 jam sudah memuaskan,
hal ini dapat dilihat dari penurunan NDR sebesar 1,04%. Meskipun nilai
GDR pada tahun 2005 mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran yang diukur dengan
menggunakan 3 indikator yaitu produktifitas karyawan, retensi karyawan
dan kepuasan karyawan secara umum telah menunjukkan hasil yang baik,
hal ini juga dapat berdampak pada peningkatan kualitas karyawan yang
ujungnya bermuara pada kepuasan pelanggan dalam melayani pelanggan.
Hal ini dapat dilihat dari tingkat produktifitas karyawan yang mengalami
peningkatan sebesar 147.303,73 dan hasil survei terhadap karyawan rasa
puas mereka terhadap kebijaksanaan rumah sakit. Retensi karyawan
mengalami peningkatan sebesar 0,6 % berarti bahwa kemampuan rumah skit
untuk mempertahankan hubungan yang baik dengan karyawan dapat
dikatakan belum berhasil hal ini akan berdampak pada tingkat loyalitas dan
tingkat produktifitas karyawan.

140
141
BAB V
KESIMPULAN

5.1.Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Kinerja Perspektif Keuangan dalam penelitian ini diukur dengan
menggunakan dua indikator rasio keuangan yaitu: Return On
Invesment (ROI) dan Rasio Efesiensi. Secara umum pada perspektif
keuangan menunjukkan hasil yang sudah maksimal. Hal ini dapat
dilihat dari indikator ROI yang mengalami peningkatan pada tahun
2005 sebesar 9,86 % dan indikator Rasio Efesiensi yang juga
mengalami peningkatan sebesar 0,6 % meskipun peningkatan kedua
indikator tersebut tidak terlalu signifikan.dikarenakan rumah sakit
Kristen tayu 50% pasiennya adalah pasien dankin (dana kemiskinan)
oleh pemeruntah.
2. Kinerja Perspektif konsumen (pasien) diukur dengan menggunakan
indikator kepuasan pasien Rumah Sakit Kristen Tayu Pati.
Berdasarkan hasil survey pada 100 pasien rumah sakit dapat
diketahui bahwa secara umum sudah sesuai dengan apa yang
diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari jawaban/tanggapan pasien
menunjukkan nilai sebesar 3,88, nilai masuk kategori ragu-ragu.
Hasil ini menunjukkan bahwa secara umum Rumah Sakit Kristen
Tayu belum benar-benar memperhatikan kepuasan pelanggan dan
diharapkan prestasi ini dapat lebih ditingkatkan.
3. Kinerja Perspektif proses bisnis internal diukur dengan
menggunakan indikator tiga indikator yaitu: Bed Turnover Ratio
(BTO), Gross Death Rate (GDR) dan Net Death Rate (NDR) secara
umum memperlihatkan bahwa kinerja pelayanan terhadap pasien
semakin baik. Hal ini dapat dilihat bahwa dari nilai Bed Turnover
Ratio dari tahun 2004-2005 mengalami peningkatan sebesar 2,81
kali, yang berarti bahwa jumlah pasien yang dapat tertangani oleh
rumah sakit Kristen Tayu semakin banyak dan pasien rawat inap

142
yang telah dirawat lebih dari 48 jam sudah memuaskan, hal ini dapat
dilihat dari penurunan NDR sebesar 1,04 %. Meskipun Nilai GDR
pada tahun 2005 mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
4. Kinerja Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran diukur dengan
menggunakan indikator tiga indikator yaitu: Produktifitas karyawan,
Retensi Karyawan dan Kepuasan Karyawan secara umum telah
menunjukkan hasil yang baik. Hal ini dapat dilihat dari tingkat
produktivitas karyawan yang mengalami peningkatan sebesar
Rp.147.303,73 per karyawan dan hasil survey terhadap karyawan
yang juga menunjukkan rasa puas mereka terhadap kebijakan rumah
sakit selama mereka bekerja. Meskipun jika dilihat dari indikator
rentensi karyawan mengalami peningkatan sebesar 0,6 % yang
berarti bahwa kemampuan rumah sakit untuk mempertahankan
hubungan yang baik dengan karyawan dapat dikategorikan belum
berhasil. Dalam hal ini pihak manajemen rumah sakit perlu
mengadakan evaluasi dan mencari informasi, perihal apa yang
menyebabkan tingkat retensi karyawan mengalami peningkatan.
Sehingga diharapkan dimasa yang akan datang tingkat retensi
karyawan dapat menurun yang berarti bahwa keharmonisan
hubungan dengan karyawan semakin meningkat. Hal ini akan
berdampak pada tingkat loyalitas dan tingkat produktivitas karyawan
yang tinggi.

5.2. Saran
Dari kesimpulan dan keterbatasan yang telah diuraikan di atas, ada
beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan pihak rumah
sakit Kristen Tayu Pati, yaitu :
1. Pihak manajemen khususnya Sub. Bag Keuangan harus lebih
meningkatkan kinerja keuangan, dengan lebih menekan biaya-biaya
operasi dan meningkatkan sistem pengendalian internal. Meskipun
rumah sakit bukan merupakan lembaga yang berorientasi pada profit,
tetapi kinerja keuangan harus tetap diperhatikan dan ditingkatkan
demi kelangsungan hidup rumah sakit.

143
2. Pada perspektif bisnis internal khususnya yang diproksi dengan
Gross Death Rate (GDR) masih velum menunjukkan kinerja yang
maksimal, oleh karena itu pihak rumah sakit harus lebih
meningkatkan kualitas pelayanan dan profesionalitas dengan
memberikan pelatihan dan pendidikan intensif, agar dalam
menangani pasien lebih efektif dan efisien sehingga angka Gross
Death Rate dapat menurun..
3. Kinerja perspektif Pertumbuhan dan pembelajaran rumah sakit perlu
lebih ditingkatkan khususnya yang diukur dengan retensi karyawan
yang masih belum belum menunjukkan hasil yang optimal. Dalam
hal ini pihak rumah sakit perlu lebih meningkatkan kompetensi
akryawan dan melibatkan karyawan dalam mengambil keputusan
manajemen, demi menjaga hubungan baik antar karyawan dan
meningkatkan kualitas dan pelayanan.
4. Kinerja perspektif pelanggan juga masih belum menunjukkan hasil
yang optimal. Dalam hal ini pihak manajemen rumah sakit perlu
lebih meningkatkan kualitas pelayanan dan profesionalismenya dan
mencari sebab-sebab mengapa maupun dalam hal apa yang
menyebabkan pelanggan (pasien) merasa kurang puas dengan
pelayanan rumah sakit selama ini mengingat rumah sakit merupakan
bidang pelayanan jasa kesehatan dan wajib memperhatikan kepuasan
pelanggannya.

144
DAFTAR PUSTAKA
Mirza, Teuku. 1997. Balance Scorecard. Usahawan. No. 06 tahun XXVI
1997

Indriantoro, Nur dan Bambang S. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk


Akuntansi dan Managemen. Yogyakarta : BPFE.

Kaplan. Robert S dan David Norton. 1996. Balanced Scorecard :


Transalting Startegi Info Action Bostom : Harvard Business School.

Mulyadi.2001. Akuntansi Manajemen. STIE YKPN. Yogyakarta


Mulyadi.2001. Akuntansi Manajemen : Konsep, Manfaat dan Rekayasa.
Jakarta : Salemba Empat.
Mun`im Azka.2001. Balance Scorecard Sebagai Alat ukur Kinerja (Studi
Kasus Pada Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang). Tidak
untuk diterbitkan. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro
Semarang.

Fauzi. 1995. Kamus Akuntansi Praktisi. Suarabaya : Indah

Hadi, Sutrisno, 1997, Metodologi Research, Untuk Penulisan Paper,


Skripsi, Thesis, Disertasi, Yogyakarta. Andi Offiset.

Hermawan, Ancella. 1996. Balanced Scorecard Sebagai Sarana Akuntansi


Managemen Strategi. Jakarta : IAI.

Mutasowifin, Ali. 2002. Penerapan Balanced Scorecard Sebagai Tolok


Ukur Penlian Kinerja Pada Badan Usaha Berbentuk Koperasi,
Jurnal Universitas Paramadina Vol. 3 : Hal 245-264.

Weston, J. Fred dan Thomas, E Copeland. 1995. Manajemen Keuangan.


Jilid I, Edisi ke 9, Jakarta ; Binarupa Aksana.

Wijaya, Tunggal, Amin. 2002. Mamahami Konsep Balance Scorecard.


Cetakan ke 2 : Harvindo

145