Anda di halaman 1dari 46

ABSTRAK

Pada umumnya kita telah mengetahui seringnya gangguan terhadap jaringan

transmisi adalah gangguan alam, seperti gangguan kilat terhadap jaringan transmisi

disebabkan jaringan transmisi yang melalu udara, panjang, tinggi dan tersebar

diberbagai daerah terbuka serta beroperasi dalam segala macam kondisi.

Diantara pertimbang-pertimbangan yang diambil dalam perancangan

pemerisaian saluran transmisi adalah letak kawat tanah terhadap kawat fasa. Karena

kawat tanah saja, sehingga persentase kecil saja pada kawat fasa.

Dan sampai sekarang belum ada sarjana-sarjana yang menunjukan kegunaan

kilat bagi kehidupan, belum mendapat jalan untuk mencegah atau memanfaatkan

energi yang ditimbulkan oleh petir tersebut. Walaupun demikian ilmu pengetahuan

menusia tetap berkembang dengan kemajuan teknologi. Dengan salah satu alat

pengaman, kawat udara (Overhead Ground Wire) untuk melindungi kawat- kawat fasa

dari jaringan transmisi.


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memeperoleh ijazah sarjana

Teknik Elektro di Sekolah Tinggi Teknik Graha Kirana.

Dengan mengucapkan rasa puji syukur, lindungan dan ridho Allah SWT, serta

shalawat atas junjungan Nabi besar Muhammad SAW maka skripsi ini dapat saya

susun dengan judul :

“TENTANG TEGANGAN PEMULIHAN PADA KONTAK SUATU PEMUTUS DAYA

TEGANGAN TINGGI UNTUK BEBERAPA JENIS KARAKTERISTIK RANGKAIN”

Dalam menyelesaikan skripsi ini saya banyak menemui masalah. Berkat

bantuan dari semua pihak akhirnya tulisan ini dapat diselesaikan dengan baik walau

disana-sini masih banyak kekurangannya. Pada kesempatan ini saya menyampaikan

dengan hati yang tulus ikhlas rasa hormat dan terima kasih kepada :

1. Bapak H. Zainal Arifin, M.Sc selaku ketua Sekolah Tinggi Graha Kirana.

2. Ibu Widyana Verawaty, ST, MM dan Bapak Ir. Sudaryanto selaku dosen

pembimbing.

3. Seluruh staf dan karyawan di lingkungan Fakultas Teknik Graha Kirana yang

telah membantu penulisan skripsi ini.

4. Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Teknik Graha Kirana yang telah banyak

membantu dalam penulisan skripsi ini.

5. Rekan-Rekan dirumah yang juga telah banyak membantu dalam penulisan

skripsi ini.
Akhirihul kalam saya mengucapkan Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang

telah memberikan kemudahan kepada saya dalam menyelesaikan skripsi ini dengan

baik dan tak lupa saya doakan semoga Allah membalas segala pengorbanan dan

kebaikan yang telah diberikan kepada saya. Amin

Wassalam

Medan, 29 November 2007

Penulis

Riswandi Hasibuan
DAFTAR ISI

ABSTRAK....................................................................................... ...........................

KATA PENGANTAR ................................................................................................ ...

DAFTAR ISI ........................................................................................................ .......

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... ................

1.1 Latar Belakang Masalah .................................................. ....................

1.2 Permasalahan ................................................................................ ......

1.3 Tujuan Penelitian/Penulisan ............................................................ .....

1.4 Batasan Masalah ............................................................... ..................

1.5 Sistematik Penulisan .......................................................................... ..

BAB II PEMBUMIAN .................................................................... ..........................

2.1 Dasar Pembumian .......................................................................... .......

2.2 Pemilihan Sistem Pembumia ............................................................. ....

2.2.1 Sistem Yang Tidak Dibumikan ...................................... ................

2.2.2 Rele Gangguan Tanah ............................................................ ......

2.2.3 Pengaruh Metode Pembumian Pada Bedarnya Tegangan

Dinamis Yang amengenai Alat-alat Proteksi surja ........................

BAB III TEORI GELOMBANG BERJALAN PADA HANTARAN UDARA

TEGANGAN TINGGI ................................................................... ................

3.1 Sumber-sumber Gelombang Berjalan ................................ ...................

3.2 Bentuk dan Spesifikasi Dari Gelombang Berjalan..................................

3.3 Ekspresi Matematika Dari Gelombang Berjalan.....................................

3.3.1 Puncak dan Ekor........................................................ ...................

3.3.2 Panjang Gelombang............................................................. .........

BAB IV PELINDUNGAN SALURAN TRANSMISI ................................................ ....

4.1 Kawat Tanah Udara (Overhead Ground Wire) ............................... .......

4.1.1 Sambaran Tak Langsung (Induced Stroke) ..................................


4.1.2 Sambaran Langsung Pada Menara .............................................

4.1.3 Efek Tahanan Kaki Menara ........................................ ..................

4.1.4 Efek Bentuk Gelombang ......................................... .....................

4.1.5 Sambaran Pada Pertengahan Dua Menara (Midspan) ................

4.1.6 Representatif Tegangan Untuk Sambaran Pada Menara

Dinyatakan Dalam Arus I dan Arus Kilat I°/2 .................................

4.1.7 Perlindungan Gardu Induk ...................................... .....................

4.2 Akibat Perlindungan Kawat Tanah ............................................ ...........

4.3 Kegagalan Perlindungan .................................................... .................

4.4 Contoh Perlindungan Menetukan Sudut Perlindungan Pada Jaringan

Transmisi Tegangan Tinggi........................................................... ........

BAB V KESIMPULAN ......................................................................................... ....

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... ............

LAMPIRAN ..................................................................................................... ...........


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada akhir abad ke-19 sistem tenaga listrik dibumikan. Hal ini dapat dimengerti

karenapada waktu itu sitem-sistem tenaga listrik masih kecil, jadi bila ada gangguan

kawat bumi arus gangguan masih kecil (± 5 A). Pada umumnya bila arus gangguan itu

sebesar 5A atau lebih kecil busur listrik yang timbul pada kontak-kontak antara kawat

yang terganggu dan bumi masih dapat padam sendiri (Self Extinguishng). Tetapi

sistem-sistem tenaga itu makin lama makin besat\r baik panjangnya maupuan

tenaganya. Dengan demikian arus yang timbul bila terjadi lagi gejala-gejala “Arching

Grounds” semakin menonjol. Gejalan ini sangat berbahaya karena akan menimbulkan

tegangan lebih transient yang dapat merusak alat-alat.

Oleh karena itu mulai abad-20, pada saat sistem-sistem tenaga mulai besar

sistim-sistem itu tidak lagi dibiarkan terisolasi (Isolated) yang dinamakan system delta

tetapi titik netral system itu dibumikan mulalui tahanan atau reaktansi. Pembumian itu

umunya dilakukan dengan menghubungkan netral transformator ke bumi.

Pada umumnya di Indonesia, memakain jaringan transmisi tegangan tinggi.

Indonesia yang terletak pada daerah khatulistiwa, jumlah hari guruh sangat tinggi. Di

pulau Jawa jumlah hari buruh berkisar antara 90 – 200an. Sumber ganguan yang

paling besar disalurakan transmisi adalah gangguan sambaran kilat dan kemudian

menyusul kaarena gangguan alam lainnya.


1.2 Tujuan Penelitian/Penulis

Tujuan dari skripsi ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang jelas m di

engenai perhitungan pelindungan pada jaringan transmisi tegangan tinggi. Dan pada

gilirannya penulis ini juga untuk memenuhi syarat kelulusan/pencapaian gelar sarjana.

1.3 Batasan Masalah

Penulisan hanya ingin membicarakan mengenai pengaman pendukung jaringan

transmisi tegangan tinggi seperti pembumian untuk penyaluran daya yang berlebih

akibat yang ditimbulkan sambaranpetir mengenai kawat tanah udara (Overhead

Ground Wire) sebagai pelindung(Shielding) jaringan transmisi tegangan tinggi.

Penggunaan kawat tanah ditujukan untuk pengaman mengenai kawat fasa.

Disini kawat tanah berfungsi sebagai pelindung (Shielding), energi sambaran kilat akan

dialirkan kedalam bumi melalui tiang atau menara yang dibumikan setelah lebih dahulu

ditangkap oleh kawat tanah tersebut.

Kita telah mengetahui bahwa kilat merupakan aspek gangguan yang berbahaya

terhadap seluran transmisi yang menggagalkan keandalan dan keamanan sistem

tenaga dan tak mungkin dihindarkan, sedangkan alat-alat pengaman seperti : Arester,

Fuse Gap dan Rodgap terbatas kemampuannya maka untuk mengurangi akibat yang

di timbulkan sambaran petir digunkanla kawat tanah udara (Overhead Ground Wire)

sehigga koordinasi isolasi akan lebih ekonomis.


1.4 Sistematik Penulisan

Adapaun sistematik penulisan yang penulis lakukan adalah sebagai berikut :

BAB I. Pendahuluan

Berisi tentang latar belakang, batasan masalah, tujuan pembalian data,

metode pengambilan data dan sistematik penulis.

BAB II. Pembumian

Bab ini berisi tentang dasar pembumian, pemulihan sistem

pembumian, sistem yang tidak dibumikan, ground fault reaying, serta

pengaruh metode pembumian pada besarnya tegangan dinamis yang

mengenai alat-alat proteksi surja.

BAB III. Teori Gelombang Berjalan Pada Hantaran Udara Tegangan Tinggi

Pada bab ini akan di jelaskan tentang sumber-sumber gelombang

berjalan, bentuk dan spesifikasi dari gelombang berjalan, ekspresi

matematis gelombang berjalan, cres dan tail dan juga penjelasan

tentang panjang gelombang.

BAB IV. Pembahasan Pelindung Pada Saluran Transmisi

Didalam bab ini dibahas tentang kawat tanah udara (Overhead Ground

Wire), sambaran tidak langsung, pada menara, efek tahanan kaki

menara dan efek bentuk gelombang, serta sambaran pada

pertengahan dua menara, akibat pelindungan kawat tanah, contoh

perhitungan pelindung pada jaringan transmisi tegangan tinggi.

BAB V Penutup

Pada bagian ini penulis akan mengambil beberapa kesimpulan dan

bab ini juga merupakan bab terakhir dari saluran pembahasan.


BAB II

PEMBUMIAN

2.1 Dasar Pembumian

Tujuan pembumian pada dasarnya adalah :

- Ditujukan pada titik netral dan pembumian umum, dimaksudkan untuk

mengurangi besar tegangan lebih surja dan mengontrol besarnya arus

hubungan singkat.

- Pada sistem yang besar tidak dibumikan arus gangguan itu relative besar ( > 5

A ) sehingga busur listrik yang timbul tidak dapat padam sendiri, hal ini akan

menyebabkan gejalan “Arching Ground”, pada sistem yang dibumikan gejala

tersebut hamper tidak ada.

- Untuk membatasi tegang-tagangan pada fasa-fasa yang tidak terganggu

(sehat).

Pada sistem-sistem dibawah ini 115 KV banyak dipakai pembumian melalui

Peterson Coil. Terutama di Eropa pembumian dengan Peterson Coil itu telah dimulai

sejak tahun 1990, sedangkan Amerika SErikat baru dimulai sejak 1930-an.

Pada sistem yang tegangannya lebih besar (115 KV keatas) ada kecenderungan

dengan pembumian tanpa impedansi (Solid Grounding) atau (Effektive Grounding).

Yang dimaksud dengan Effektive Grounding adalah pembumian dimana

perbandingan antara reaktansi urutan positif lebih kecil atau sama dengan tiga, dan

perbandingan tahanan urutan nol dan reaktansi urutan positif lebih kecil atau sama

dengan satu (X0/X1≤3;X1≤1)

a. Sistem 30 KV dan 70 KV dengan Peterson Coil.

b. Sistem 150 KV dengan pembumian langsung.

Sistem 30 KV dan 70 KV sampai sekaranf merupakan bagian terbesar dari

seluruh system.
2.2 Pemilihan Sistem Pembumian

Pemilihan system pembumian didasarkan atas factor.

- Selektivitas dan Sensitivitas Ground Fault Relaying

- Pembatasan arus gangguan tanah

- Tingkat yang di perlukan dari proteksi tegangan surja Arrester.

- Pembatasan tegangan lebih Transien.

2.2.1 Sistem Yang Tidak Dibumikan

Sistem yang tidak dibumikan adalah sistem dimana tidak terdapatnya hubungan

yang tidak disengaja antara konduktor sistem tersebut dengan tanah. Sistem ini telah

banyak di tinggalkan orang karena tidak sesuai dengan kondisi-kondisi yang

diinginkan.

2.2.2 Rele Gangguan Tanah (Ground Fault Relaying)

Rele gangguan tanah akan berhasil dengan baik, tergantung dari besarnya arus

gangguan ketanah. Sistem yang netralnya di bumikan dengan reaktansi. Pada

umumnya arus gangguan tanah besarnya berada pada batas-batas (25%-100%) dari

arus gangguan 3 fasa sistem yang dibumikan sistem yang dibumikan dengan tahanan,

arus gangguan tanah besarnya 10%-25% dari gangguan 3 fasa.

Pada umunya kesuksesan dari rele gangguan tanah diperoleh bila arus

gangguan tanah lebih besar dari 10% arus gangguan tanah.

Untuk sistem yang dibumikan melalui tahanan yang besa atau melalui Peterson

Coil akan mempunyai arus gangguan kebumi yang sangat kecil.

Khusus untuk Peterson Coil biasanya dilengkapi dengan alat untuk menghubung

langsung titik netral ke bumi pada waktu terjadinya gangguan yang permanent, dengan

tujuan untuk memperbsar arus gangguan ke bumi dengan demikian rele anah yang

konvesional dapat bekerja.


2.2.3 Pengaruh Metode Pembumian Pada Besarnya Tegangan Dinamis Yang

Mengenai Alat-Alat Proteksi Surja.

Menurut Amaerika Istitute OF Electrical Engineers (AIEE) Commite Report atau

laporan komite, Lighting Arrester dibagi atas dua kelompok, yakni “Arrester tipe

dibumikan dari Arrester tipe yang dibumikan”

Arrester tipe dibumikan dapat dipergunakan bila arus gangguan 1 fasa ke bumi

tidak kurang 60% dari arus gangguan 3 fasa. Kondisi diatas akan dipenuhi bila system

dibumikan secara efektif (Effective Grounding) atau X0/X1≤3.Sedang Arrester tipe tidak

dibumikan digunkan bilamana arus gangguan 1 fasa kurang dari 60% dari arus

gangguan 3 fasa Lighting Arrester adalah alat yang sensitife terhadap tegangan dan

hubungan antara kawat fasa dan bumi, maka tegangan dinamis pada Arrester tersebut

tidak boleh melampaui nilai tegangan untuk segala keadaan operasi sistem.

Tegangan dinamis kawat fasa ke bumi dari suatu sistem 3 fasa akan menjadi

tidak seimbang dalam keadaan gangguan tanah, dan besarnya tegangan ini

tergantung dari kondisi sistem pada saat terjadinya gangguan dan besarnya impedansi

pembumian.
BAB III

TEORI GELOMBANG BERJALAN

PADA HANTARAN UDARA TEGANGAN TINGGI

Teori gelombang berjalan pada kawat transmisi telah disusun secara intensif

sejak tahun 1910, terlebih-lebih dalam 1930-an.

Persoalan gelombang berjalan ini sangat sukar, sehingga harus diadakan banyak

penyederhanaan supaya dapat dipergunakan untuk keperluan teknik pada saat ini

gelombang berjalan telah diselidiki pada :

a. Kawat Tunggal

b. Kawat Majemuk

c. Kecepatan mejemuk dari gelombang berjalan

Begian terbesar dari suatu mengenai gangguan pada system ialah teori

gelombang berjalan, yaitu mengenai sumber gelombang, karakteristik serta keadaan

pada titik peralihan dari transmisi.

3.1 Sumber-Sumber Gelombang Berjalan

Sampai saat ini sebab-sebab dari gelombang berjalan yang di ketahui ialah :

a. Sambaran kilat secara langsung pada kawat fasa

b. Sambaran kilat tidak langsung pada kawat fasa (Induksi)

c. Operasi hubung (Switching Operation)

d. Gangguan-gangguan pada sistem oleh berbagai kesalahan

e. Tegangan stady state

Semua macam sebab-sebab ini menimbulkan seya (surge) pada kawat fasa

disebebkan oleh kelebihan energi secara tiba-tiba pada kawat. Energi ini merambat

pada kawat fasa, sama halnya seperti kita melemparkan baru pada air yang tenang

pada sebuah kolam. Energi yang merambat ini terdiri dari arus dan tegangan.

Kecepatan merambat gelombang berjalan tergantung dari konstanta-konstanta kawat


fasa. Pada kawat hantaran udara, kecepatan merambat ini kira-kira 1000ft/µ sec, jadi

sama dengan kesepatan cahaya. Pada kebel tanah kira-kira 500 ft/ µ sec.

Dengan sendirinya segala macem diskontinuitas pada transmisi tidak

mempunyai efek pada gelombang, sebelum gelombang mencapainya. Tetapi bila

gelombang mencapai titik peralihan, terjadi perubahan gelombang sehingga terdapat

sedikit perbedaan dengan gelombang semula.

Kecepatan Merambat

Apabila suatu gelombang energi listrik merambat sepanjang kawat fasa dengan

konstanta L dan C, maka gelombang tegangan dengan arus merambat dengan

kecepatan yang sama. Kedua besaran ini dihubungkan oleh suatu factor proposional

yaitu karakteristik fasa itu.

Gambar 3.1 Kawat Transmisi dengan batere

Bila gelombang tegangan E sampai pada titik a, maka arus yang bersamaan dari

tegangan itu akan mengisi kapasitor C pada tegangan E.

Muatan yang dibutuhkan untuk menaikan tegangan pada satu satuan panjang

dama dengan CE.


Bila kecepatan merambat gelombang itu v cm/detik, maka jumlah muatan yang

dibutuhkan untuk mengisi kawat sepanjang v cm tiap detik sama dengan C E v.

Muatan ini diberikan oleh arus uniform yang mengalir pada kawat, dan

memberikan muatan C E v dalam satu detik dibutuhkan arus sebesar :

I = C E v ......................................................................................................... .(3.1)

Bila gelombang itu merambat sejauh x cm, maka energi elektrostatik pada

bagian ini (x cm) ialah:

Wc = ½ C x E2 ........................................................................... .....................(3.2)

Bila L sama dengan induktansi kawat per cm, maka dalam waktu yang sama,

energi elektromagnetik pada kawat sepanjang x itu :

WL = ½ L x I2 .................................................................................... ..............(3.3)

Dimana :

Wc = Energi elektrostatik

WL = Energi elektromagnetik

C = Kapasitor

L = Induktansi

E = Tegangan batere

I = Arus yang mengantar pada kawat fasa

Satu-satunya sumber energi disini batere. Bila dibutuhkan waktu t entuk

merambat sepanjang x cm,

v = x / t ..................................................................................................... .......(3.4)

Energi yang diberikan oleh batere

We = E I t

We = Wc + WL

Jadi : E I t = ½ C x E2 + ½ L x I2

EI = ½ C v E2 + ½ L v I2

2
v = ............................................................................................................ . (3.5)
CE/I+LI/E
Dari, I = C E v

E I
=
I CV

Substitusikan, diperoleh

2
v=
I/v+LCv

I
v= atau
LC
1

v = ± ................................................................................................ ...........(3.6)
LC

Kedua harga + v dan – v berlaku, yaitu

v positif = gelombang maju

v negative = gelombang mundur

Untuk kawat hantaran udara jari-jari r dan tinggi h diatas tanah, mempunyai

harga induktansi dan kapasitas masing-masing:

1 2h
L= + 10 -9 Henry / cm............................................. ..........................(3.7)
2 r

Faktor ½ yang ditimbulkan pada induktansi persamaan (3.7), disebabkan oleh

adanya fluks didalam kawat (Internal Flux(, dengan pemisahaan distribusi arus merata.

Tetapi pada gelombang berjalan, “Transient Skin Effect” sangat besar, sehingga arus

berkumpul pada permukaan kawat. Dengan demikian internal fluks lingkup sangat kecil

dan dapat diabaikan, menjadi :

2h
L = 2In 10 -9 Henry / cm ………………………………………………………(3.8)
2

10-11
Dan kapasintasinya : C = Farad / cm ............................................(3.9)
2h
18In
r

jadi dengan mensubtitusi persamaan (3.8) dan (3.9) kepersamaan (3.6) akan diperoleh

kecepatan gelombang berjalan sebesar :

v = 3.10 10 cm / detik ................................................................. ....................(3.10)

Dari persamaan (3.10) terlihat bahwa kecepatan gelombang berjalan pada kawat

hantaran udara adalah sama dengan kecepatan cahaya dalam hampa udara.

Sedangkan untuk kabel konduktor padat dengan jari-jari (r) dan isolasi

pembungkus berjari-jari (R) serta permitivitas (ε) :

R 1 r2 r4 r6
L = 2 (In + - + + ) 10 -9
2 4 6
r 2 3R 12R 60R
Tetapi fluks lingkup dalam dapat diabaikan, karena r jauh lebih kecil dari R maka

r2
faktor dan seterusnya dapat diabaikan, maka akan didapat :
3R2

R
L = 2.10-9 In (Henry/cm) ............................................. ............................(3.11)
r

ε.10 -11
C= (Farad/cm) ...................................................................... ..........(3.12)
R
18 In
r

Jadi kecepatan merambat pada kabel adalah :

3.10
v= cm /detik ................................................................................... .......(3.13)
√ε

Untuk kabel-kabel yang tersedia umumnya ε – 2.5 – 4 jadi kecepatan merambat

dalam kabel kira-kira ½ sampai 2/3 kecepatan cahaya.

3.2 Bentuk dan Spesifikasi dari Gelombang

Bentuk umum suatu gelombang berjalan digambar sebagai berikut :


Gambar 3.2 : Spesifikasi gelombang

a. Spesifikasi gelombang berjalan

b. Muka dan ekor gelombang

Spesifikasi dari suatu gelombang berjalan :

a. Tegangan puncak (Crest) dari gelombang, E (KV), yaitu amplitude maksimun

dari gelombang.

b. Muka gelombang (Front), t1 (mikrodetik), yaitu waktu dari permulaan sampai


puncak. Dalam praktek ini diambil dari 10% E samapi 90%E, lhat gambar 3.2b.

c. Ekor gelombang (Tail) yaitu bagian kebelakang puncak. Panjang gelombang


(Lengght) t2 (mikrodetik) yaitu waktu dari permulaan sampai titik 50% E pada

tail.

d. Polaritas (Polarity) yaitu polaritas dari gelombang positif atau negative. Suatu

gelombang berjalan (surja) dinyatakan sebagai berikut :

E, t1 x t2

Jadi suatu gelombang dengan polaritas positif, crest = 1000 KV, front 3

mikrodetik, dan panjang 21 mikrodetrik dinyatakan sebagai : + 1000, 3 x 21.

3.3 EKspresi Matematis Gelombang Berjalan

Ekspresi dasar dari gelombang berjalan secara matematis dinyatakan dengan

persamaan dibawah ini :

e (t) = E (e –at – e –bt)

E, a dan b adalah konstanta.


Dari variasi a dan b dapat dibentuk berbagai macam bentuk gelombang yang

dapat dipakai sebagai pendekatan dari gelombang berjalan, misalkan :

a. Gelombang persegi yang sangat panjang :

a. =0

b =∞

e =E

b Gelombang eksponsial

a =∞

e = E e-at

c. Gelombang dengan muka linier

a =0

b 0 bE terbatas (Finite)

E ∞

e = E (1 – e –bt) / b = E (bt – b t / 2 + ……)

=(bE)t

d. Gelombang Snus Teredam

a. = α – jw

b = α + jw

E = E0 / 2 j

e = E / 2j e –α t (e jwt – e –jwt)

= E e–α tsin wt

e Gelombang kilat tipikal

b Terbatas serta riil

Bentuk-bentuk gelombang yang lain dapat dimisalkan sebagai kombinasi dari

bentuk-bentuk diatas.
Gambar. 3.4 Gelombang Kombinasi

Gelombang persegi yang sangat panjang sering digunakan dalam mengitung

gelombang berjalan terhadap keamanan sistem, kerena gelombang seperti ini paling

berbahaya bagi peralatan. Kecuraman gelombang akan menyebabkan gradient yang

maksimun sedangkan ekor yang panjang menyebabkan osilasi maksimun pada belitan

kumparan mesin.

Gangguan kilat tipikal merupakan bentuk yang paling mirip dengan bentuk

gelombang surja petir(Lighting surge) yang dilihat pada osiloskop. Bentuk gelombang

ini tergantung dari a dan b, sebaliknya bila spesifikasi gelombang diberi a, b, dan E

dapat dicari.

Bila E, a, b, diketahui dapat ditentukan puncak, muka, dan panjang gelombang

itu.

3.3.1 Puncak dan Ekor (Crest dan Tail)

Crest terjadi pada saat t = t1, yaitu waktu untuk mencapai tegangan puncak

det
E (-a e-at – b e –bt) = 0
dt

ae –at1 = be -bt1

Maka
In b / a In b / a
t1 = = 1/a = B / a..................................................(3.14)
b–a b/a–1

dan

E puncak = E (e-B – e Bb/a) .............................................................................. .....(3.15)


3.3.2 Panjang Gelombang

Waktu sampai ½ puncak = t2

E puncak /2 = E (e –Bt2/t1 – e –bt2)

= E (e –Bt2 / t1 – e (b/a)Bt2/t1)

½ E (e-B – e-Bb/a) = E (e Bt2/t1 – e-(b/a)Bt2/t1)

Persamaan ini menyatakan hubungan antara t2/t1 untuk berbagai tertentu dari

b/a. Tetapi karena persamaan ini transcendental, maka untuk mencari t2/t1 karena

dengan jalan mengisi harga-harga tertentu (membuat grafik) atau dengan jalan

pendekatan.

Grafik yang dipergunakan dibawah ini :

Gambar. 3.5 Grafik Panjang Gelombang

Grafik ini menunjukan hubungan-hubungan :

at1 sebagai b/a dari persamaan (3.11) E erest / E sebagai b/a dari persamaan

(3.15) t2/t1 sebagai fungsi b/a dari persamaan (3.16).

Contoh penggunaan grafik untuk menetukan konstanta-konstanta a, b, dan E,

untuk gelombang + 1000, 3 x 21 : t2/t1 = 7. Dari lengkungan t2/t1 didapat b/a = 28.5,

Selanjutnya dari b/a ini didapat at1 = 0,122/3 = 0,28

Jadi : a = 0,122/t1 = 0,122/3 = 0,041

b = 28,5 a = 28,5 x 0,041 = 1,15

E = E1/0,825 = 1000/0,825 = 1175

Gelombang tersebut adalah

E = 1175 (e-0,041 – e-1,151)


BAB IV

PELINDUNG SALURAN TRANSMISI

Seperti kita ketahui bahwa kilat merupakan suatu aspek gangguan yang

berbahaya terhadap saluran transmisi yang dapat menggagalkan keandalan dan

keamanan system tenaga dan tak mungkin dihindari, sedangkan alat-alat pengaman

seperti, arrester, fusegap dan rodgap terbatas kemampuanya, maka untuk mengurangi

akibat yang ditimbulkan digunakan kawat sehingga koordinasi isolasi akan ekonomis .

Penggunaan kawat tanah di tujukan untuk pengaman saluran transmisi terhadap

sambaran kilat. Khususnya sambaran langsung mengenai kawat fasa. Disini kawat

tanah berfungsi sebagai perisai. Energi sambaran kilat akan dialirkan ke dalam tanah

melalui menara atau tiang yang ditanahkan oleh tanah tersebut.

Diantara pertimbangan-pertimbangan yang diambil dalam perancangan

pemeriaian saluran transmisi adalah letak kawat tanah terhadap kawat fasa. Karena

kawat tanah harus diletakkan sedemikian rupa, maka sembaran-sambaran kilat

terpusat pada kawat tanah saja sehingga persentase kecil saja pada kawat fasa.

4.1 Kawat Tanah UDara (Overhead Ground Wire)


Kawat tanah udara adalah kawat konduktor, st atau AsCR ditempatka diatas

kawat-kawat fasa. Mulanya kawat ini dimaksudkan sebagai proteksi terhadap induced

stroke (induksi yang disebabkan oleh sambaran kilat disekitar kawat transmisi, jadi

sambaran tidak langsung). Akan tetapi kemudian ternyata dari praktek maupun teori

sebagi utama yang menimbulkan gangguan adalah sambaran langsung atau direct

stroke.

4.1.1 Sambaran Tak Langsung (Induced Stroke)

Ketika arus listrik melalui awan jatuh kebumi, arus listrik tersebut menginduksi

ditanah terhadap pengkutuban yang berlawanan dengn awan itu (Gambar.4.1).

Bentuk kawasan awan tersebut terhadap menyebar dan menutup sebagian

permukaan tanah, permukaan tanah yang tertutup itu lebih besar dari pada permukaan

awan itu sendiri. Dasar bagian bawah dari pada awan itu biasanya bersifat negatif, jadi

induksi arus listrik di bumi biasanya bersifat positif. Jika kawat transmisi merupakan

suatu garis pemisah antara permukaan awan dan tanah, arus listrik akan kelihatan di

permukaan garis konduktor dan kawat tanah.

Gambar 4.1. Daerah awan dan batasan dari anah dan jaringan transmisi

Kumpulan arus listrik pada garis konduktor disebabkan oleh kebocoran sekliling

isolator dan perputaran dari pada konudktor diluar pengaruh awan. Arus listrik lebih

mudah mengumpul diatas kawat tanah dengan perpindahan tegak lurus terhadap

menata dari tanah.


Jika sambaran yang berasal dari awan mengenai tanah dekat garis pemisah,

daerah awan akan runtuh pada waktu tertentu dan lompatan arus listrik digaris

konduktor dan bebas bergerak berlawanan arah, membentuyk putaran gelombang

mungkin berakhir membentuk dataran aliran arus (Gambar 4.2).

Gambar. 4.2. Induksi tegangan di jaringan transmisi dengan keruntuhan daerah awan.

Arus listrik pada bawah kawat tanah berbatasan dengan menara-menara dan

pada garis konduktor bergerak sangat cepat dan menghilangkan secara brangsur-

angsur di corona serta kehilangan muatan. Tegangan listrik muncul digaris abtas

tergantung kepada perbandingan (ukuran) dari pada keruntuhan daerah awan dan

kapasitas kemampuan ruangan antara jaringan dan tanah, kalau circuit tanpa kawat-

kawat tanah udara, dan kalau terjadi keruntuhan daerah awan pada waktu nol,

tegangan listrik di konduktor akan sebanding dengan peningkatan potensial gradien

dari pengadaan pembesaran ketinggian awan dari pada kawat tanah udara diatas

permukaan tanah menambah kekautan penghantar dibumi, dan dengan peningkatan

awan yang banyak mendatangkan lingkaran cahaya, kapasitas selanjutnya bertambah

sebab efektif diameter tanah bertambah dengan lingkaran cahaya.


Gambar.4.3. Induksi potensial diantara konduktor dan tanah dekat stroke dari

awan ke tanah. Didalam diagram terbuka digambarkan jaringan

konduktor., dan lingkaran hitam kawat tanah udara.

Gambar 4.3. menunjukkan induksi tegangan listrik antara penghantar dan tanah

untuk perbedaan gradien awan dan tanpa kawat tanah, untuk jaringan diatas

ketinggian tanah dan jarak antara konduktor dari pada rata-rata jaringan tegangan

tinggi.

Perbandingan perhitungan-perhitungan tegangan dari konduktor dengan proteksi

kawat tanah dengan perbandingan tegangan yang ada pada konduktor tanpa proteksi

kawat tanah.

Gambar 4.3. Menunjukkan perbandingan pengaman kira-kira 0,25 untuk bagian

dalam konduktor, apabila dalam perbandingan perhitungan lingkaran cahaya.


Gambar 4.4. Menghitung harga dari puncak tegangan induksi pada jaringan transmisi

dekat stroke, menggambarkan dari arus stroke, jarak saluran dari arus

stroke, jarak saluran darai ketinggian konduktor

Tegangan menghasilkan keseimbangan ketinggian dari konduktor jaringan

transmisi puncak dari arus listrik kepada sambaran ke tanah dan ajrak dari saluran

sambaran.

Gambar 4.4. memberikan perhitungan tertinggi dari pada penginduksian arus

listrrik yang bergelombang pada sebuah konduktor yang tidak dilindungi oleh kawat

tanah udara dan berfungsi sebagai sambaran arus, jarak dari aliran samabran dan

ketinggian dari pada penghantar. Perhitungan pada kurva seperti terlihat pada Gambar

4.4. dapat diketahui kecepatan arus listrik bolak-balik untuk perbedaan arus listrik pada

suatu tempat sebagai berikut : 0-50.000 ampere 120 kaki per us; 50.000-10.000

amperes, 400 kaki per us.

Gambar 4.4. memperlihatkan keadaan yang kurang baik dari pada gambar arus

yang tinggi, susunan transmisi yang tinggi dan sambaran kepermukaan tanah dekat

susunan transmisi, puncak tegangan yang pertama pada ukuran 1000 KV mungkin

dapat menginduksi dibawah konduktor. Pengurangan isi dapat terlihat jika kawat-kawat

tanah udara yang melalui udara dapat dikurangi.

4.1.2. Sambaran Langsung Pada Menara

Untuk sambaran langsung, kawat tanah melindungi (shileding) kawat fasa, dan

untuk memperoleh perlindungan yang baik kedudukan kawat tanah harus memenuhi

beberapa persyaratan yang penting.

a. Kawat tanah harus cukup tinggi diatas kawat fasa dan diatur sedemikian rupa agar

dapat mencegah sambaran pada kawat-kawat fasa.


b. Pada tengah gawang kawat tanah harus mempunyai jarak yang cukup di atas
kawat fasa untuk mencegah terjadinya loncatan sebagian pada waktu yang

diperlukan untuk gelombang pantulan negatif dari menara kembali ke tengah

gawang dan ini akan mengurangi tegangan pada tengah gawan.

c. Tahanan kaki menara harus cukup rendah untuk membatasi tegangan pada

isolator agar tidak terjadi loncatan api pada isolator.

d. Bila dipakai untuk proteksi terhadap gardu induk, kawat tanah harus cukup panang
sehingga surja yang masuk dapat diredam sampai harga yang tidak berbahaya

sewaktu mencapai gardu induk

Sambaran langsung merupakan sebab utama dari gangguan yang disebabkan

oleh kilat.

Bila sambaran mengenai menara transmisi, arus yang besar sekali mengalir ke

tanah dan sepasang gelombang berjalan merambat pada kawat tanah.

Untuk memudahkan perhitungan, untuk sementara impedansi surja menara

dapat diabaikan dan diasumsikan menara dibumikan melalui tahanan yang konstan R.

Gambar 4.5. menunjukkan sambaran kilat dengan impedansi surja z ke

menara, pada keadaan ideal.

Gambar 4.5. Gelombang berjalan pada kawat tanah yang disebabkan oleh kilat
Gelombang e1 merambat pada kawat tanah, dan gelombang induksi ek

merambat pada kawat fasa.

Misalkan :

Z = impedansi surja dari kilat (ohm)

Z11 = impedansi surja sendiri dari kawat equivalen

Zkk = impendansi suya sendiri

Zlk = impedansi surja bersama antara kawat tanah equivalen dengan kawat

fasa k

e = gelombang pantulan sambaran kilat (volt)

e` = gelombang pantulan pada kanal sambaran kilat

e1 = gelombang datang pada kawat tanah

ek = gelombang datang pada kawat fasa k

R = tahanan kaki menara (Ohm)

l = arus menara (A)

Karena tidak ada arus yang mengalir dari menara ke kawat fasa,

Maka : e + e` Rl + e1..................................................................... ..................(4.1)

i +i` = 2 i1 + 1......................................................................... ........(4.2)

dimana, I = e/Z; i` = -e/Z : i1 =e1/Z11

substitusi harga-harga tersebut pada (4.2)

e/Z – e`/Z =2 e1/Z11 + e1/R................................................. ............(4.3)

atau

e + e − e1 2e1 e
= + 1
Z Z11 R

e1 (l/R+Z/Z11+l/Z)=2e/Z

Jadi,
2 R Z11
e1 = e ........................................... ................(4.4)
2ZR + Z 11 ( R + Z )

Gelombang mula pada kawat fasa k ialah :

Z lk
ek = Z lk i1 = e1 ........................................... ..........................(4.5)
Z 11

Ketika gelombang e1 dan ek mencapai menara berikutnya, direfleksikan dan relaksikan.

Sekarang ditinjau suatu sistem n kondukor dengan m kawat tanah pada suatu menara

yang ditanahkan melalui tahanan R.

Gambar. 4.6. Sistem kawat banyak

Untuk saluran konduktor berlaku

ek + ek = e”k k= 1,2,...................n.............................................(4.6)

Karena kawat-kawat tanah terikat pada menara, maka

e”1=e”2.....................= e”m = Rl.............................................................(4.7)

Jadi,

ek – e`k – ek = ek – e`k – (ek + e`k) = -2 e`k..............................................(4.8)


dan

e`k= e”k – ek = e”k – ek+ (e1 + e`1) – ek untuk k < m ...............................(4.9)

pada kawat fasa berlaku,

ik + l`k – i"k = 0 untuk k > m.................................... ........(4.10)

sedangkan,

ik = Ylk e1+ ………….+Ykk ek.............…………..+ ynk en

n
= ∑Y
r =l
rk er untuk K > m
Analog

n
i"k = ∑Y
n =l
rk r ``r untuk k > m............(4.11)

n
I” k = ∑Y
n =l
rk r ``r untuk k > m

Subsitusikan *4,11) dalam (4.10), menjadi :

"

∑Y
r =l
kr (er − rr` ) = 0 untuk k > m ................................... ......(4.12)

Dengan memisahkan diatas serta memasukkan (4.8) didapat :

" n

∑ Ykr er` + ∑ kr er` = 0


r =l m+l
untuk k > m ................................... ......(4.13)

Dengan (4.9) persamaan (4.13) menjadi :

m n

∑ Ykr [(e1 + e1` ) − er ] − ∑ Ykr er` = 0


r =l m+l
................................... ......(4.14)

Atau,

[( ) ]
n m

∑ Ykr er` = −∑ Ykr e1 + e1` − er


m+l r =l

m m
= − ∑ Ykr (e1 − er ) − ∑ Ykr e``
r =l r =l

Bila r = 1, maka Ykl (e1 – e1) = 0, jadi :

n m n
− ∑ Ykr (e1 − er ) = ∑ Ykr el` + ∑ Ykr er` untuk k > m.........(4.15)
r =2 r =l m+l

Dari hukum kirchoff (pada kawat tanah) dan (4.7)

(il + i`l + i”l)+ …..+(im + i`m + i"m) =l = e”l/R........................................................ ....(4.16)

Karena

n
ik + i`k – i"k = ∑Y r =l
kr (er − er` − rr" ) untuk k < m.................................... ........(4.17)
Maka (4.16), menjadi :

m n

∑ ∑Y
k =l r =l
kr (er − er` − er" )

m 
( ) ( )
m n
= ∑ k =l
∑ kr r
 r =l
Y e − e `
r − e "
r + ∑
m +l
Ykr er − e1r − er" 

m 
( ) ( )
m n
= ∑ k =l
∑ kr
 r =l
Y − 2 e '
r + ∑
m+l
Ykr − 2er" 

er" e1 + el"
=l= = .......................................................................... ....(4.18)
R R
Persamaan (4.15), (4,18) melengkapi (n – m + l) persamaan simultan untuk

(e”l, e’m + l……., e’n) pada kawat tanah dan tidak tergantung dari incident wave, (e l,……

em_ pada kawat tanah dan tidak tergantung dari indicent wave pada kawat fase.

Karena e’l telah didapatm gelombang-gelombang pantulan dan terusan dapat

dicari dari :

e"1 = e”2 = e”m = e1 + e’1

Jadi

e'2 = e”2 – e2 = (e1 + e’1) – e’2

......................................... ... .............................. .............(4.19)

e'm = e”m – em = (e1 + e’m)

Bila hanya ada satu kawat tanah, atau m kawat tanah diganti dengan satu kawat tanah

equivalent, maka (4.18) dan (4.13) mengambil m = 1 dapat disederhanakan

e1 + e '1
Y11 e’1 +….+ Y1n e’n = −
2R
Y21 e’1 +….+ Y2n e’n = 0......... .............................. .............(4.20)

………. …….. …….. ….

Ynl e’1 +….+ Ynn e’n = 0


Maka,

− M lk e1 + e1
.
Yll .............Yln 2R
e'k = .............................. .............(4.21)
..................
Ybl ...............Ynm

tetapi

− M lk
= Z Kl
Yll ..............Yln
................................. ........(4.22jadi
.......................
Ynl ..............Ynm

Jadi (4.21), menjadi,

Z kl
e'k = − (ek − e ' l ) .......................................................... ..............(4.22)
2R
Untuk k = l,

e'1 2R = -Zll (el + e’l)

e’1 (2R - Z11) = -Z11 (e1 + e’1)

Z 11
e ’1 = − e1 = a e1 ........................................................... .......(4.23)
2 R + Z 11

2R
e 'l = e + e'l = el = be1 .................................... ..................(4.24)
2 R + Z ll

Untuk kawat fasa,

Z kl
e '1 = − e1 = ce1 .................................................. ...............(4.25)
2 R + Z 11

e"k = ek + e’k = ek + c e1.............................................................. ..........(4.26)

Jadi seluruh gelombang pantulan dan terusan hanya tergantung dari e1. Bila

gelombang mula mencapai menara yang lain, mereka pantulkan dan diteruskan
menurut persamaan (4.23) – (4.26). Gelombang pantulan yang sampai ke menara

pertama dari titik pantulan, dipantulkan kembali. Dan proses ini akan terjadi berulang-

ulang seperti di gambarkan pada Gambar 4.7

Gambar 4.7. Gelombang refleksi dan refraksi pada kawata tanah

Gelombang pantulan yang datang dari kanan ke menara 1 adalah a e 1, dan

dipantulkan pada menara tersebut. Koefisien pantulan dapat diperoleh dengan

memparalelkan Z, R, dan Z11 Lihat Gambar 4.7

Gambar. 4.8. Rangkaian Rkivalen untuk gelombang pantulan dari kanan


Koefisien pantulan adalah :

RZ Z 11
− Z 11
Z 0 − Z 11 RZ + Z 11 ( R + Z )
=
Z 0 − Z 11 RZ Z 11
+ Z11
RZ + Z 11 ( R + Z

− Z11 ( R + Z
= ..................................... ..................(4.27)
2 RZ + Z 11 ( R + Z )

Koefisien terusan pada menara 1 adalah :

− Z 11 ( R + Z ) 2 RZ
1− = ........................................... ....(4.28)
2 RZ + Z 11 ( R + Z ) 2 RZ + Z 11 ( R + Z )

Jadi gelombang yang merambat ke kanan atau ke kiri dari menara 1

merupakan posisi dari gelombang refleksi dan gelombang refraksi pada menarai 1,

2 RZ − Z 11 ( R = Z )
a e1 = α e1 .................................. ......................(4.29)
2 RZ + Z 11 ( R + Z

Untuk gelombang pada kawat fasa

− 2 Z lK ( R + Z )
ek = a e1 = ek + β e1 ..................................... ......(4.30)
2 RZ + Z ( R + Z )

Bila diperhatikan persamaa-persamaan diatas, terlihat bahwa hasil yang sama

akan diperoleh bila kilat tersebut mempunyai surja Z, menara pertama dibumikan

melalui tahanan R, dan kawat fasa serta kawat tanah hanya menuju satu jurusan dari

menara 1 (Gambar 4.9).


Gambar. 4.9. Rangkaian Ekivalen circuit dari gambar 4.5

4.1.3. Efek Tahanan Kaki Menara

Tahanan kaki menara yang rendah mempunyai lima kebaikan :

1. Mengurangi tegangan kawat tanah

2. Mengurangi tegangan kawat fasa

3. Mengurangi tegangan apa isolator

4. Membatasi gangguan pada jarak yang kecil

5. Memperpendek lama terjadinya tegangan yang berbahaya

Gangguan yang menyebabkan sambaran langsung yang mempengaruhi

kawat bukanlah sautu gelombang sederhana yang dirambatkan sepanjang transmisi,

melainkan gelombang yang timbul oleh pantulan berulang, dan ini harus dibatasi pada

jarak yang pendek serta harus cepat dibatasi.

4.1.4. Efek Bentuk Gelombang

Makin panjang front gelombang serta makin rendah tegangan akan

menyebabkan gelombang pantulan yang timbul dan telah mulai memperkecil

gelombang datang.

4.1.5. Sambaran pada Pertengahan Dua Menara (Midspan)

Bila kilat menyambar kawat tanah pada midspan dimana R = dan flash-over

tidak terjadi, maka dari (4.4) dan (4.5),

2Z 11e
e1 = untuk kawat tanah..............................(4.31)
Z 11 + 2 Z

Z lk
ek = e1 untuk kawat fasa................................(4.32)
Z 11

Z11 − Z lk
e1 − ek = e1 untuk isolator......................................(4.33)
Z 11
Tegangan-tegangan tersebut tetap ada sampai reduksi oleh gelombang-gelombang

refleksi dari menara-menara.

Bila panjang span dalam mikro detik adalah T, maka waktu tersebut harus

melampaui sebelum reduksi terjadi. Selama itu, flashover antara kawat tanah dan

kawat fasa harus cukup jauh sehingga sparkover voltage (tegangan tembus) tidak

tercapai sebelum gelombang releksi tiba yang akan mereduksi tegangan midspan itu.

4.1.6. Repesentatif Tegangan untuk Sambaran Pada Menara Dinyatakan dalam


Arus I, dan Arus kilat I0/2

Dalam bentuk menara I

Vg = Vmenara = RI (g = kawat tanah)...............................(4.34)

Z lr
Vp = RI = (p = kawat fasa).............................. ....(4.35)
Z ll

Visolator = Vg - Vp

 Z − Z lr 
= RI  11  ......................................... ..................(4.36)
 Z 11 

Z lr
Umumnya, = 0,2 sampai 0,3
Z 11

Dari, Visolator = (0,7 – 0,8) RI ......................................... ..................(4.37)

Dalam bentuk arus Kilat I0/2

Arus kilat I0/2 adalah arus yang terjadi bila kilat menyambar pada titik dengan

tahanan tanah nol. Arus yang dilalukan tergantung pada impedansi yang terhubung

pada impedansi surja dari kilat itu sendiri. Sebagai contoh, bila impedansi surja kilat

Z (= 400 ohm) dimana gelombang arus = I0/2, akan mengalir I0 pada titik dengan

tahanan tanah niol.

Tetapi bila arus kilat I0/2 ini mengenai menara impedansi suryanya – Z11 dan

tahanan kakinya R, maka tegangan pda sambaran tersebut ialah :


e = I0/2. Z ..................................................................................... ......(4.38)

maka dari persamaan diatas, tegangan pada menara ialah :

2 RZ 11
e1 = ZI 0 / 2
2 RZ + Z 11 ( R + Z )

I0
e1 =
1 / Z + 1 / R + 2 / Z 11

= R’ I0 ..................................................................................... ......(4.39)

Dimana

I
R’ =
1 / Z + 1 / R + 2 / Z 11

= tahanan ekivalen pada titik sambaran

Arus pada thanan kaki menara (sebelum kedatangan gelombang pantulan dari

menara yang lain adalah :

R'
I= I 0 ..................................................................................... ......(4.40)
R

4.1.7. Perlindungan Gardu Induk

Perlindungan gardu induk terbagi dalam 2 bagian :

a. Perlindungan terhadap sambaran langsung

b. Perlindungan terhadap gelombang yang datang dari kawat transmisi

Perlindungan terhadap sambaran langsung ialah dengan kawat tanah. Bila

perlindungan ini sempurna, maka yang perlu diperhatikan adalah gelombang yang

datang dari kawat transmisi.

Bila kawat-kawat fasa cukup terlindung dari sambaran langsung, maka sumber

gelombang berjalan biasanya adalah lompatan api dari isolator, umumnya tegangan ini

lebih tinggi dari tingkat isolari dasar (ITD) dari peralatan gardu, tegangan lebih iniharus

dilakukan ke tanya oleh arrester atau alat-alat perlindungan lainnya.

Untuk menghitung tegangan impuls pada gardu, didefenisikan dengan dua hal:
a. Daerah bahaya atau vulnarable zone, ialah jarak diluar kawat dimaan suatu
gelombang surja dapat timbul dan membahayakan gardu.

b. Indeks terusan gardu atau “station refraction index” ialah ukuran dari

perubahan puncak dan muka gelombang yang dialaminya ketika memasuki

gardu.

Panjang dari bahaya merupakan fungsi dari :

a. Redaman dan distorsi gelombang pada saluran

b. Indeks terusan dari gardu induk

Sedang indeks terusan itu sendiri tergantung pada :

a. Bentuk gelombang datang

b. Karakteristik peralihan dari peralatan gardu dan alat-alat perlindungan.

Sepanjang perambatan pada kawat transmisi, gelombang mengalami redaman

dan distorsi yang disebabkan oleh korona, pengaruh kulit, resitivitas tanah, dan

gendengan. Selain itu, bentuknya juga dapat berubah karena pantulan ketika mencapai

gardu.

4.2. Akibat Pelindung Kawat Tanah

Sebagai akibat dari mengalirnya energi sambaran ke dalam tanah, maka

tegangan lebih yang timbul pada isolator saluran akan dapat dibatasi, dengan demikian

penembusan pada isolator dapat dibatasi. Untuk memperoleh hasil yang unik maka

penempatan kawat tanah haruslah memenuhi syart, antara lain :

1. Kawat tanah harus cukup tinggi di atas fasa dan diatur sedemikian rupa agar dapat

mencegah sambaran langsung pada kawat-kawat fasa.

2. Pada tengah gawang kawat tanah harus mempunyai kawat fasa untuk mencegah

terjadinya loncatan sebagian

3. Tahanan kaki menara harus cukup rendah.


4.3. Kegagalan Pelindung

Mulai tahun 1920-an telah banyak teori-teori, percobaan-percobaan dan

pengalaman-pengalaman dikemukakan para penyelidik mengenai fungsi kawat tanah

untuk melindungi kawat fasa pada saluran transmisi.

Pada tahun 1960 Provoost mengemukakan suatu resume yang sangat baik

mengenai peranan kawat tanah. Berdasarkan teori itu Provoost menarik kesimpulan

bahwa :

1. Untuik sudut pelindung θ < 180 perisaian kawat transmisi itu baik

2. Untuk sudut pelindung 180 < θ < 300 kurang baik

3. Untuk sudut pelindung θ 300 jelek

Kemudian konstenko, Poloroy dan Rosenfeld dalam tahun 1961

mengemukakan karangan yang lebih menari lagi. Mereka menunjukkan bahwa jumlah

gangguan kilat karena kegagalan pelindung adalah sebagai fungsi dari sudut perisaian

θ dan tinggi menara ht seperti terlihat dari relasi empiris persamaan (4.41)

θ h1
log ϕ = − 4 ......................................................................... ....(4.42)
90
Dimana :

ϕ = Hasil bagi dari jumlah kilat yang menenai kawat fasa dan jumlah kilat

yang mengenai saluran transmisi.

θ = Sudut pelindung pada menara, derajat

ht = tinggi kawat tanah pada menara, meter

Jadi jumlah gangguan karena kegagalan pelindung,

NSF = ϕ NL η.......................................................................... ..............(4.43)

Pada waktu itu persamaan (4.42) dianggap oleh sebagian besar insinyur

saluran transmisi lebih unggul dari cara-cara yang lain.


4.4. Contoh Perhitungan Menentukan Sudut Perlindungan Pada Jaringan

Transmisi Tegangan Tinggi

Besarnya sudut perlindungan mempunyai hubungan-hubungan dengan tinggi

menara, dimana semakin tinggi menara transmisi semakin tinggi kemungkinan

kegagalan perlindungan.

Untuk melindungi (mengurangi) kegagalan perlindungan ini, haruslah dipilih

sudut perlindungan yang kecil. Rumus yang dapat dipakai dalam menghitung sudut

perlindungan seperti persamaan :

x
θ = arc tan ................................................................. ....................(4.43)
h

Dimana : h = jarak antara kawat tanah dengan garis horizontal yang

menghubungkan kawat fasa.

x = selisih antara panjang cross arm kawat tanah dengan kawat fasa

θ = sudut perlindungan
a. Perhitungan sudut pelindung antara kawat tanah dengan kawat fasa R

x1 = 3,2 – 2,8 = 0,4 m

h1 = 5,22 m

x
θ1 = arc tan
h

0,4
θ1 = arc tan
5,22

θ1 = 4,380
b. Perhitungan sudut pelindung antara kawat tanah dengan kawat fasa S

x1 = x2 = 0,4 m

h2 = 5,22 + 4,38 = 9,6 m

x2
θ2 = arc tan
h2

0,4
θ2 = arc tan
9,6

θ2 = 2,390
c. Perhitungan sudut pelindung antara kawat tanah dengan kawat fasa T

x1 = x2 = x3 = 0,4 m

h3 = 5,22 + 4,38 = 13,98 m

x3
θ3 = arc tan
h3

0,4
θ3 = arc tan
13,98

θ3 = 1,630
BAB V

KESIMPULAN

Dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya maka penulis mengambil

beberapa kesimpulan antara lain :

1. Seringnya gangguan terhadap jaringan transmisi adalah gangguan alam, seperti

seringnya gangguan petir terhadap jaringan transmisi yang disebabkan bangunan

jaringan transmisi panjang dan terbesar diberbagai daerah serta dalam segala

macam kondisi udara.

2. Pada pembangunan jaringan transmisi yang sangat perlu diperhatikan adalah

perancangan proteksi saluran transmisi terhadap letak kawat fasa

3. Konfigurasi kawat transmisi ini harus mendapat perhatian yang lebih besar dan

serius.

4. Sudut pelindung kawat tanah sesuai dengan contoh perhitungan diperoleh untuk :

a. Nilai dari sudut pelindung antara kawat tanah dengan kawat fasa R adalah

θ1 = 4,380

b. Nilai dari sudut pelindung antara kawat tanah dengan kawat fasa S adalah

θ2 = 2,390

c. Nilai dari sudut pelindung antara kawat tanah dengan kawat fasa T adalah

θ3 = 1,630

Jadi untu sudut pelindung θ < 180 pelindung kawat transmisi itu baik

5. Kawat tanah udara berfungsi sebagai pengaman guna mengurangi akibat dari

sambaran petir secara tidaklangsung.

6. Menara jaringan transmisi dapat menjadi pembumian dengan mengalirkan arus

lebih pada kawat tanah melalui menara transmisi.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul M. Mousa, 1976, Shielding of High Voltage And Extra High Voltage
Substation, IEEE Transaction on Power Apparatus and System; Vol. PAS-95.

A. Aris Munandar DR., 1978, Teknik Tegangan Tinggi, PT. Pradaya Paramita, Jakarta.

A. Aris Munandar DR., S. Kuwahara DR., 1975, Teknik Tenaga Listrik, Jilid II Saluran
Transmisi, PT. Pradaya Paramita, Jakarta.

Hutauruk T. S., 1976. Pengetanahan Netral Sistem-sistem Tegangan Tinggi,


Departemen Elektro Teknik Fakultas Teknologi Industri, ITB.

Hutauruk T. S., 1987. Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan


Peralatan, Institut Teknologi Bandung dan Univeristas Tri Sakti.

Hutauruk T. S., 1985. Transmisi Daya Elektrik, Institut Teknologi Bandung dan
Univeristas Tri Sakti.

Hutauruk T. S., 1976. Gelombang Berjalan Pada Sistem Transmisi dan Proteksi
dan Perlatan Pada Surja, Institut Teknologi Bandung.
LAMPIRAN