Anda di halaman 1dari 5

MAKALAH KULTUR JARINGAN

KULTUR KULIT BUATAN

Disusun Oleh : Prasetya Adiguna 31091202 FAKULTAS BIOTEKNOLOGI UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA 2011

Pendahuluan Kulit adalah bagian tubuh manusia yang paling besar. Kulit melindungi tubuh dari penyakit dan kerusakan fisik, serta membantu menjaga temperature tubuh. Kulit terdiri dari dua lapisan utama, yaitu epidermis dan dermis. Epidermis yang merupakan lapisan terluar, terdiri dari sel keratinosit, melanosit, dan langerhans. Sedangkan lapisan dermis teridri dari beberapa jaringan ikat seperti kolagen, yang merupakan pasokan nutrisi bagi epidermis. Saat kulit rusak akibat penyakit atau terbakar, tubuh tidak dapat bertindak dengan cepat untuk memproduksi sel-sel pengganti yang diperlukan. Luka seperti ulkus kulit yang diderita oleh penderita diabetes tidak dapat disembuhkan dan harus diamputasi, di sisi lain korban kebakaran dapat meninggal karena infeksi. Pembuatan kulit buatan sangat diperlukan untuk mengatasi hal tersebut. Kulit buatan juga sangat diperlukan untuk sebagai permodelan ketika melakukan uji sensitivitas produk, seperti krim, sabun, pembersih, obat, serta perban perekat. Uji produk secara langsung pada kulit manusia tentunya akan lebih efektif dan akurat dibandingkan uji pada kulit hewan eksperimen. Hingga pada abad ke dua puluh, cangkok kulit dilakukan dari kulit pasien yang sakit (autografts) atau kulit mayat (Allografts). Penolakan oleh tubuh pasien yang terjadi menjadi perhatian utama dalam melakukan proses pencangkokan. Kulit cangkok dari donor (mayat) ke penerima ditolak dengan lebih agresif oleh tubuh penerima daripada cangkok atau transplantasi jaringan lain. Meskipun kulit mayat dapat memberikan perlindungan dari infeksi dan hilangnya cairan saat penyembuhan luka korban kebakaran, cangkok berikutnya yang berasal dari kulit pasien itu sendiri sangat diperlukan. Pada pertengahan 1980-an, para peneliti medis dan insinyur kimia yang bekerja di bidang biologi sel dan manufaktur plastik, bergabung untuk mengembangkan rekayasa jaringan untuk mengurangi infeksi dan penolakan oleh tubuh penerima cangkok. Salah satu kendala dalam teknik kultur ini adalah kurangnya organ yang tersedia untuk transplantasi. Pada tahun 1984, seorang ahli bedah Harvard Medical School, Joseph Vacanti dan rekannya Robert Langer, seorang insinyur kimia di Institut Teknologi Massachusetts merenungkan apakah organ baru yang dapat tumbuh di laboratorium. Langkah pertama yang seharusnya dilakukan adalah dengan menduplikasi produksi jaringan pada tubuh. Langer mempunyai ide untuk membangun sebuah perancah biodegradable di mana sel-sel kulit dapat tumbuh dengan

menggunakan fibroblast, sel yang diekstrak dari kulit yang di dapat dari anak laki-laki yang disunat. Dengan variasi dari teknik yang ini dikembangkan oleh peneliti lain, fibroblas diekstraksi lalu ditambahkan kolagen, suatu protein berserat yang ditemukan dalam jaringan ikat.Ketika senyawa ini dipanaskan, kolagen mengikat fibroblast yeng kemudian tersusun di sekitar kolagen, lalu menjadi padat dan berserat. Setelah beberapa minggu, keratinosit, yang juga diekstrak dari kulit sunat yang disumbangkan, menjadi jaringan kulit baru, yaitu menjadi lapisan epidermis. Cangkok kulit buatan dari pasien memiliki beberapa keunggulan dibandingkan yang berasal dari mayat. Kulit buatan dapat dibuat dalam jumlah besar dan dapat dibekukan untuk penyimpanan dan pengiriman, sehingga selalu tersedia saat dibutuhkan. Setiap kultur disaring dari patogen, yang dapat mencegah kemungkinan infeksi. Karena kulit buatan tidak mengandung sel-sel imunogenik seperti sel-sel dendrit dan sel endotel kapiler, kulit buatan tidak ditolak oleh tubuh, sehingga waktu untuk rehabilitasi dapat dikurangi. Bahan Baku Bahan baku yang dibutuhkan untuk produksi kulit buatan terdiri dari dua kategori, yaitu komponen biologis dan peralatan laboratorium yang diperlukan. Sebagian besar jaringan kulit berasal dari kulit yang dipotong saat sunat, yang disumbangkan. Satu sel kulup dapat menghasilkan empat hektar kulit buatan untuk pencangkokan.Fibroblas dipisahkan dari lapisan dermal dari kulit tersebut. Fibroblast dikarantina selama diuji dari virus dan patogen infeksius lain

seperti IIV, hepatitis B dan C, dan Mycoplasma. Riwayat medis dari ibu pemilik donatur kulup tersebut juga dicatat. Fibroblast disimpan dalam botol kaca dan dibekukan dalam nitrogen cair pada suhu -94 F (-70 C). Botol disimpan dan dibekukan sampai fibroblast diperlukan untuk budidaya kultur. Dalam metode kolagen, keratinosit juga diekstraksi dari kulit khatan, diuji, dan dibekukan. Jika fibroblast ditumbuhkan di perancah jaring, sebuah polimer akan tersusun dengan menggabungkan molekul asam laktat dan asam glikolat Dalam metode kolagen, kolagen sapi diekstrak dari tendon ekstensor sapi muda. Kolagen ini dicampur dengan nutrisi yang bersifat asam, dan disimpan dalam lemari es pada suhu 39,2 F (4 C). Proses Produksi

Prinsip proses produksinya sangat sederhana, yaitu untuk membuat fibroblas hasil ekstraksi merasa bahwa fibroblas tersebut berada di dalam tubuh manusia, sehingga mereka berkomunikasi satu dengan yang lain secara alami untuk memproduksi kulit baru. a. Metode perancah Mesh (jaring) 1. Fibroblast dicairkan dan diuraikan, lalu fibroblast ditransfer dari botol ke dalam botol rol, yang menyerupai botol soda. Botol-botol tersebut diputar pada sisi-sisinya selama tiga sampai empat minggu. Pemutaran tersebut bertujuan untuk memperlancar sirkulasi oksigen yang sangat penting bagi proses pertumbuhan. 2. Sel ditransfer ke sistem kultur. Sel-sel dipindahkan dari botol rol, kemudian dimasukkan ke dalam media yang kaya akan nutrisi, lalu dialirkan melalui tabung hingga menipis. Sel-sel tersebut kemudian masuk ke dalam bioreaktor yang berisi jaring jaring (mesh) yang biodegradable yang telah disterilkan dengan radiasi e-beam. Saat sel mengalir ke dalam bioreaktor, sel-sel tersebut memenuhi jaring dan mulai tumbuh. Sel-sel tersebut mengalir bolak-balik selama tiga sampai empat minggu. Setiap hari sisa suspensi sel dihilangkan dan nutrisi segar ditambahkan. Oksigen, pH, aliran nutrisi, dan suhu yang dikendalikan oleh sistem kultur. 3. Siklus pertumbuhan selesai. Ketika pertumbuhan sel pada jaring selesai, jaringan dibilas dengan media yang lebih kaya akan nutrisi, lalu ditambahkan Krioprotektan A. Bioreaktor tersebut disimpan secara individual, diberi label, dan dibekukan. b. Metode kolagen 1. Sel ditransfer ke sistem kultur. Sedikit kolagen dingin dan media nutrisi, sekitar 12% dari gabungan larutan, ditambahkan ke fibroblas. Campuran dimasukkan ke dalam cetakan dan didiamkan dalam suhu kamar. Saat kolagen menghangat, kolagen menjendal dan mengikat fibroblas dan menghasilkan pertumbuhan sel kulit baru. 2. Keratinosit ditambahkan. Dua minggu setelah kolagen ditambahkan ke fibroblas, keratinosit yang telah diekstraksi ditambahkan ke kulit baru tersebut. Sel dibiarkan tumbuh selama beberapa hari, kemudian

dipaparkan ke udara untuk menginduksi keratinosit, untuk membentuk lapisan epidermis. 3. Siklus pertumbuhan selesai. Kulit baru disimpan dalam kontainer steril. Penggunaan kulup hasil penyunatan tersebut dikarenakan sel yang ada dalam kulup tersebut memiliki dua karakteristik fundamental, yaitu kapasitas untuk berproliferasi atau memperbanyak diri secara tak terbatas dan pluripotensi, yaitu kemampuan berdiferensiasi menjadi segala tipe sel tubuh. Sumber: Agung, Mochamad Untung Kurnia. 2009. Kultur Sel Dalam Kultivasi Virus http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/12/03/Ilmu_dan_Teknologi/ http://okebanget.net/2009/05/18/kultur-sel-sebagai-teknik-pengobatan-di-masa-depan/