Anda di halaman 1dari 5

Formulasi dan evaluasi injeksi aceklofanak yang di buat dengan teknik Pelarutan Hidrotropik Aceklofenak merupakan sebuah obat

golongan anti inflamasi non steroid (NSAID) yang memiliki aktivitas efek analgesic antipiretik dan anti inflamasi. Hal ini praktis tidak larut dalam air. Effek dari penambahan campuran hidrotropi seperti urea dan NaCl dalam pelarutan aceklofenak masih diselidiki. Peningkatan kelarutan aceklofenak akan meningkat hingga 5 dan 25 kali pada masing-masing 30% larutan NaCl dan larutan urea, di bangdingkan dengan kelarutan dalan air murni. Peningkatan kelarutan aceklofenak dalam pembuatan larutan hidrotropik menunjukkan terjadinya peningkatan 250 kali dalam urea 20% dan NaCl 10% (dibangdingkan dengan air suling). Pengingkatan kelarutan ini terbukti sinergis untuk obat yang memiliki kelarutan yang buruk dalam air dengan adanya campuran hidrotropi. Penggunaan kombinasi dari agen penghidrotropi dapat meminimalkan penambahan keduanya serta meminimalkan toksisitas dari keduanya. Injeksi larutan aceklofenak, dibuat dengan menggunakan teknik larutan hidrotropik, yang di kembangkan dengan metode liphofilisasi, dan masaalah ketidakstabilan aseklofenak dalam larutan dapat di atasi. Pengembangan formulasi dilakukan penggujian stabilitas fisika dan kimia obat. PENDAHULUAN Hidrotropik adalah istilah yang digunakan oleh Neuberg untuk menggambarkan peningkatan kelarutan zat terlarut dengan penambahan konsentrasi garam logam alkali dari asam organic yang cukup tinggi. Proses solubilisasi hidrotropik melibatkan interaksi antar molekul dengan menyeimbangkan kekuatan beberapa molekul, bukan dari kompleks yang spesifik atau proses didominasi oleh efek media, seperti cosolvensi atau salting in. agen hidrotropik telah diteliti dapat meningkatan kelarutan dari obat yang memiliki kelarutan buruk dalam air. Penelitian yang dilakukan Maheshwari menunjukkan penggunaan sinergi dari kedua larutan pada metode campuan hidrotropik terbukti dapat meningkatkan kelarutan dari obat yang memiliki kelarutan yang buruk dalam air, aceklofenak, secara titrimetri, dan megurangi penggunaan pelarut organic. Dia telah mengaplikasikan hidrotropik dalam titrimetri dan spektrofotometri dengan baik dan memberikan estimasi yang sangat baik dari obat yang memiliki kelarutan yang buruk dalam air dengan mengurangi penggunaan pelarut organic. Teknik pencampuran larutan hidrotropik adalah teknik untuk meningkatkan kelarutan obat yang kelarutannya jelek dalam air, dengan menggunakan agen hidropobik. Teknik ini dapat meningkatkan meningkatkan additive atau meningkatkan effek sinergi dalam meningkatkan kelarutan obat. Pemanfaatan metode ini dalam formulasi pembuatan obat yang tidak larut dalam air dan juga dapat mengurangi konsentrasi dari agen hidrofobik, dan meminimalkan effek samping (penggunaan agen hidrotropik kombinasi dapat mengurangi toksisitas dibandingkan penggunaan tunggal). Perkembangan metode kelarutan hidrotropik dalam formulasi larutan injeksi dalam variasi pelarutan dari obat yang memiliki kelarutan buruk dalam air juga sudah di demonstrasikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi tehnik campuran solubilisasi hidrotropik dalam formulasi sediaan yang tidak larut dalam air atau obat yang memiliki kelarutan buruk dalam air dan untuk mengurangi konsentrasi agen hidrotropik tunggal sehingga meminimalkan efek samping. Dalam penelitian ini, aceklofenak, merupakan agen anti inflamasi non steroid dimana merupakan golongan

obat BCS kelas II ( mempunyai permeabilitas tinggi dan kelarutannya rendah) dan dilakukan upaya untuk memformulasi dalam bentuk larutan injeksi untuk obat ini, dengan menggunakan variasi agen hidrofobik. Formulasi ini juga telah diuji untuk kestabilan fisika dan kimianya. ALAT & BAHAN: Sampel Aceklofenak Na-sitrat Hidrat Membrane filter Analisis HPLC Segel alumunium Botol kaca Karet busi EVALUASI : Pemilihan Campuran Hidrotropik

Pemilihan campuran hidrotropik sangatlah penting karena terbukti dapat meningkatkan kelarutan dari obat golongan BCS kelas II. Air suling digunakan dalam pembuatan larutan hidrotropik. Dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang signifakan dari campuran urea (22,5%) dan natrium sitrat (22,5%).
Penentuan kelarutan ekuilibrium Untuk penentuan kelarutan ekuilibrium dalam suhu kamar, metode menggunakan kelebihan zat terlarut. Cukup kelebihan jumlah obat ditambahkan air suling dalam botol tertutup kaca 10 ml, campuran agen hydrotropic tunggal mengandung campuran agen hydrotropic dan buffer pH 7,4, 8,0 dan 9,0 (kisaran pH solusi hydrotropic), secara terpisah. botol di kocok selama 12 jam pada suhu kamar larutan digunakan untuk menyeimbangkan untuk 24 jam berikutnya dan kemudian ditransfer ke Eppendorf tabung dan disentrifugasi selama 30 menit pada 2000 rpm. Supernatan dari botol masingmasing disaring melalui kertas filter Whatman. Filtrat larutan jenuh aceclofenac yang dianalisis dengan metode spectrophotmetric menggunakan spektrofotometer UV-visible double beam (Shimadzu 160A), mengukur absorbansi larutan pada 275 nm.

Pengujian spectra UV Pengujian spectra UV bertujuan unruk memeriksa ada tidaknya perubahan struktur dari aceklofenak ketika di larutkan dalam pelarut hidrotrop. Uji KLT

Uji ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya interaksi antara obat dengan hidrotrop,yang di lakukan pada silica gel 254 dengan pelarut eluent kloroform:methanol:ammonia (48:11:0,5). Hasil elusi di lihat di bawah sinar UV 254nm.

TERJEMAHAN HAL 4
(II) Uji XRD formula injeksi liofilisasi Pola serbuk difraktometri X-ray dari sampel terliofilisasi dan obat diperoleh pada suhu kamar menggunakan RU-H3R, instrumen anoda pembangkit sinar-X horisontal rotaflex berputar (Rigaku International Corporation, Tokyo). Serbuk disebar digraticule dan ditekan sedemikian rupa untuk mencegah serbuk jatuh sementara graticule ditempatkan dalam posisi vertikal. Graticule itu ditempatkan pada dudukan sampel dan terkena radiasi CuK (40 KV, 50 MA), 2 = 5o untuk 40o pada kecepatan scanning 40/min dan ukuran 2 0.02o.

(III) Uji waktu pemulihan Untuk pemulihan cake hasil liofilisasi, 2,5 ml air untuk injeksi disuntikkan ke vial melalui penutup karet. Vial kemudian dikocok pelan agar campurannya homogen. Waktu pemulihan yang dibutuhkan adalah 8 detik untuk formulasi injeksi liofilisasi dari aceclofenac yang dikembangkan. Waktu rekonstitusi tidak terpengaruh pada penyimpanan 1 bulan di kulkas.

(IV) Uji kejernihan setelah injeksi dilarutkan Uji kejernihan dilakukan secara visual dengan memeriksa bagian luar botol dibawah cahaya yang baik, memantulkan cahaya ke dalam mata, dan dilihat dengan latar belakang hitam dan putih, dengan vial diatur dalam gerakan berputar-putar. Selama pengujian kejernihan injeksi dengan formulasi terliofilisasi, tidak ada partikel hitam atau putih terlihat.

Stabilitas studi (I) Stabilitas aceclofenac setelah direkonstitusi Stabilitas aceclofenac dalam larutan diamati selama 12 jam di bawah suhu kamar dan didinginkan (2 sampai 8C) dengan metode HPLC (II) Uji stabilitas Fisik terhadap injeksi aceclofenac terliofilisasi Vial diuji stabilitas fisiknya dengan menjaga vial pada waktu, suhu dan kondisi kelembaban yang berbeda. Sampel untuk kontrol disimpan dalam kondisi dingin dan injeksi yang terliofilisasi diamati selama 30 hari untuk warna, dan perubahan pH, serta hasil dari setiap pengendapan setelah pemulihan.

(III) Uji Kestabilan Uji stabilitas dilakukan terhadap vial dengan menjaga pada suhu dan kondisi kelembaban yang berbeda. Sampel untuk kontrol ditempatkan dalam kondisi yang dingin. Jumlah aceclofenac diperkirakan dengan metode HPLC pada interval waktu 15 hari dan 30 hari dan sisa obat dinyatakan dalam %. kandungan obat awal adalah 100%. Injeksi Zynec (aceclofenac injeksi; tiap mL berisi aceclofenac BP dan TCL-S 101 q.s., hanya untuk digunakan secara im, diproduksi oleh Themis Medicare Ltd dan dipasarkan oleh Zydus Alidac) juga digunakan untuk studi stabilitas.

(IV) Profil dilusi injeksi yang telah direkonstitusi Injeksi terliofilisasi yang telah dilarutkan (dengan menambahkan API) diuji dilusi (untuk presipitasi, jika ada) dengan garam normal (0,9% NaCl) dan 5% larutan dekstrosa, seperti ditunjukkan pada Tabel 9. Penelitian ini dilakukan untuk memeriksa stabilitas terhadap pembentukan endapan, ketika obat diberikan melalui infus iv (LVPs). Hal ini diperlukan, karena ada kemungkinan obat (yang kelarutannya dalam air buruk) mengalami presipitasi akibat pengenceran oleh agen hidrotropik.

Hasil dan Diskusi Penentuan kelarutan aceclofenac dilakukan dalam air suling, larutan hidrotoropi (30% urea dan natrium sitrat 30%) dan larutan yang mengandung agen hidrotopi dengan konsentrasi berbeda (urea dan natrium sitrat). Hasil yang diperoleh kelarutan aceclofenac dalam air meningkat lebih dari 250 kali dalam campuran hidrotropik (kecuali untuk campuran A yang hanya meningkat 73,44 kali), 5 dan 25 kali masing-masing dalam 30% natrium sitrat dan urea 30%,. Dapat disimpulkan bahwa kelarutan aceclofenac meningkat secara sinergis oleh campuran hidrotropik. Untuk mengetahui pengaruh pH terhadap kelarutan aceclofenac, ditentukan dalam buffer pH 7,4, 8,0 dan 9,0 (pH berbagai campuran hidrotropik). Kelarutan aceclofenac sedikit meningkat, dengan peningkatan pH (maksimal 4 kali), yang mungkin karena sifat asam dari aceclofenac. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, peningkatan kelarutan obat dengan larutan hidrotropik tidak sepenuhnya karena efek pH, namun itu sebagian besar disebabkan hidrotropik.

Hasil penelitian KLT (Tabel 4) menunjukkan bahwa hampir tidak ada perubahan besar dalam nilai Rf aceclofenac yang dilarutkan dalam metanol dan aceclofenac yang dilarutkan dalam campuran larutan hidrotropik. Dari hasil penelitian KLT, dapat disimpulkan bahwa tidak ada garam atau pembentukan kompleks obat dengan molekul hidrotopi.

Hasil kinetika serapan kelembaban (Tabel5) serbuk terliofilisasi jelas menunjukkan bahwa cake terliofilisasi rentan terhadap serapan kelembaban bila terkena suasana normal seperti ditunjukkan oleh peningkatan berat sampel. Namun, tidak ada peningkatan berat sampel kontrol, yang menunjukkan bahwa sampel saat disimpan di bawah kondisi yang terkendali, aman dan tidak ada penyerapan kelembaban. Jumlah serapan kelembaban adalah 8,33% pada menit ke 120, ketika sampel terkena kondisi atmosfer. Para difraktogram X-ray dari campuran fisik serbuk terliofilisasi akan ditampilkan dalam gambar 2 dan 3. Campuran fisik menunjukkan puncak yang rapat karena kristalinitas. Puncak pada sampel terliofilisasi menunjukkan intensitas yang kurang pada nilai 2 yang sama, karena pengkonversian sebagian obat dari bentuk kristal ke bentuk amorf. Waktu rekonstitusi 8 detik untuk injeksi aceclofenac terliofilisasi yang dikembangkan. Waktu pemulihan tidak dipengaruhi oleh penyimpanan selama 1 bulan di kulkas. Hasil uji stabilitas aceclofenac yang telah direkonstitusi (Tabel 6), menunjukkan bahwa aceclofenac stabil dalam larutan tersebut selama 4 jam pada suhu kamar dan 12 jam dalam kondisi dingin. Jadi, larutan yang sama dapat digunakan untuk liofilisasi dalam waktu masing-masing 4 jam dan 12 jam, dalam kondisi yang tidak dapat dihindari. Hasil uji stabilitas fisik (Tabel7) menunjukkan bahwa tidak ada perubahan parameter secara fisik (pH, warna dan pengendapan) setelah 30 hari dalam suhu dan kondisi kelembaban yang berbeda (kondisi pendinginan, ruang suhu, 40 C/75% RH dan 55 C). Hasil penelitian kimia (Tabel 8) menunjukkan bahwa formulasi yang dikembangkan cukup stabil pada suhu kamar sebagai produk terliofilisasi. Data stabilitas formulasi produk yang dipasarkan pada temperatur yang berbeda menunjukkan bahwa produk yang dipasarkan kurang stabil daripada formula injeksi aceclofenac terliofilisasi. Injeksi terliofilisasi yang dilarutkan (dengan menambahkan API) dan dilakukan uji dilusi (untuk melihat presipitasi, jika ada) dengan larutan garam normal (0,9 % NaCl) dan larutan dekstrosa 5%, seperti yang ditunjukkan pada tabel 9. Dalam uji dilusi dengan garam normal, presipitasi larutan diamati dalam 24 jam pada pengenceran 1:30, 1:40, 1:50 dan 1:100 (tidak ada endapan terbentuk pada pengenceran 1:500 setelah 24 jam, karena endapan ter-redisolusi).Oleh karena itu, formulasi injeksi bisa diberikan melalui i.v. disimpulkan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa injeksi aceclofenac yang stabil dalam air terliofilisasi telah berhasil dikembangkan. Kelanjutan penelitian ini memberikan kesempatan untuk mempersiapkan seperti injeksi bubuk yang terliofilisasi bagi banyak obat lain yang kelarutannya buruk dalam air, dengan menggunakan konsep campuranhidrotropik. Sesuai dengan formulasi aceclofenac dalam air, dibuat dengan menggunakan kombinasi agen hydrotropik (urea dan natrium sitrat) yang kompatibel secara fisiologis, itu merupakan kondisi yang baik untuk obat lain yang memiliki kelarutannya buruk dalam air selanjutnya akan dikembangkan sebagai formulasi aceclofenac dalam air tersebut. ini bisa dilakukan, menggunakan kombinasi agen hydrotropic yang cocok pada konsentrasi berkurang. Para agen hydrotropic diusulkan diketahui