Anda di halaman 1dari 4

ANEMIA PADA PENYAKIT KRONIS Definisi Anemia sering dijumpai pada pasien dengan infeksi atau inflamasi kronik

maupun keganasan. Anemia umumnya ringan atau sedang, disertai rasa lemah dan penurunan berat badan dan disebut anemia pada penyakit kronis. Epidemiologi Untuk Indonesia, memebrikan gambaran prevalensi anemia pada tahun 2007 sebagai berikut (litbang.depkes.go.id): -Anak prasekolah :20-30% -Anak usia sekolah :30-45% -Perempuan dewasa tidak hamil :15-20% -Perempuan hamil :45-60% -Laki-laki dewasa :15-20% -Pekerja berpenghasilan rendah :30-40% Masih dari sumber yang sama, dari survei yang dilakukan pada tahun 2007 tersebut sekitar 4560% anemia yang terjadi disebabkan karena penyakit kronis. Etiologi Laporan/data penyakit tuberculosis, abses paru, endokarditis bakteri subakut, osteomilitis dan infeksi jamur kronis serta HIV membuktikan bahwa hampir semua infeksi supuratif kronis berkaitan dengan anemia. Derajat anemia sebanding dengan berat ringannya gejala, seperti demam, penurunan berat badan dan debilitas umum. Untuk terjadinya anemia memerlukan waktu 1-2 bulan setelah infeksi terjadi dan menetap, setelah terjasi keseimbangan antara produksi dan penghancuran eritrosit dan Hb menjadi stabil. Anemia pada infeksi kronis secara fungsional sama seperti pada infeksi kronis, tetapi lebih sulit karena terapi yang efektif lebih sedikit. Penyakit kolagen dan arthritis rheumatoid merupakan penyebab terbanyak. Enteritis regional, colitis ulseratif serta sindrom inflamasi lainnya juga dapat disertai anemia pada penyakit kronis.

Penyakit lain yang sering disertai anemia adalah kanker, walaupun masih dalam stadium dini dan asimtomatik, seperti pada sarcoma dan limfoma. Anemia biasanya disebut dengan anemia pada kanker (cancer related anemia).

Pathogenesis 1. Pemendekan Masa Hidup Eritosit Diduga anemia yang terjadi merupakan bagian dari sindrom stress hematologic, dimana terjadi produksi sitokin yang berlebihan karena kerusakan jaringan akibat infeksi, inflamasi atau kanker. Sitokin tersebut menyebabkan sekuetrasi makrofag sehingga mengikat lebih banyak zat besi, meningkatkan destruksi eritrosit di limpa, menekan produksi eritropoietin di ginjal, serta menyebabkan perangsangan yang inadekuat pada eritropoiesis di sumsum tulang. Pada keadaan lebih lanjut, malnutrisi dapat menyebabkan penurunan transformasi T4 menjadi T3 yang menyebabkan hipotiroid fungsional dimana terjadi penurunan kebutuhan Hb yang mengangkut O2 sehingga sintesis eritropoietin pun akhirnya berkurang. 2. Penghancuran Eritrosit Beberapa penelitian membuktikan bahwa masa hidup eritrosit memendek pada sekitar 20-35% pasien. Hal ini disebabkan aktivitas makrofag yang menjadi kurang toleran terhadap perubahan minor pada eritrosit. 3. Produksi Eritrosit Terdapat 3 jenis sitokin yang ditemukan dalam plasma pasien dengan penyakit inflamasi atau kanker, yaitu TNF alpha, IL-1, IFN gamma. Sitokin ini memiliki peran dalam menekan produksi eritrosit. Masih belum diketahui dengan jelas mekanismenya terhadap anemia karena dipercaya ada banyak factor lain yang tak terduga yang mungkin dapat ikut berperan. Gambaran Klinis dan Diagnosis Karena anemia yang terjadi umumnya derajat ringan dan sedang, sering sekali gejalanya tertutup oleh gejala penyakit dasarnya, karena Hb sekitar 7-11 gr/dL umunya asimtomatik. Meskipun demikian apabila demam atau debilitas fisik meningkat, pengurangan kapasitas transport O2 jaringan akan memperjelas gejala anemianya atau memperberat keluhan sebelumnya.

Pada pemeriksaan fisik umumnya hanya dijumpai konungtiva yang pucat tanpa kelainan yang khas dari anemia jenis ini, dan diagnosis biasanya tergantung dari hasil pemeriksaan laboratorium. Tabel 1. Perbedaan Parameter Fe pada Orang Normal, Anemia Defisiensi Fe dan Anemia Penyakit Kronis (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam FK UI) NORMAL ANEMIA DEFISIENSI APK FE FE PLASMA (mg/L) TIBC SATURASI FE MAKROFAG FERITIN SERUM RESEPTOR TRANSFERIN SERUM TIBC : Total Iron Binding Capacity 20-200 8-28 10 >28 150 8-28 70-90 250-400 30 DALAM ++ 30 >450 7 30 <200 15 +++

Tabel 2. Perbandingan data Laboratorium anemia penyakit kronis dan anemia defisiensi besi Anemia Penyakit Kronis Anemia defisiensi Besi Kombinasi.( Samson dan Haworth,1994 )

Diagnosis Banding 1. Anemia delusional yang terdapat pada penyakit kronis pada keganasan stadium lanjut. 2. Drug-induced maarow suppression atau drug-induced hemolysis. Pada penekanan sumsum tulang akibat obat, kadar besi serum tinggi. Pemeriksaan retikulosit, bilirubin LDH dan tes Coombs perlu dilakukan. 3. Perdarahan kronis. 4. Thalasemia minor. 5. Gangguan ginjal didapatkan umur eritrosit yang memendek dan terdapat kegagalan relative sumsum tulang. 6. Metastasis pada sumsum tulang. Pengobatan 1. Transfusi 2. Preparat besi 3. Eritopoietin Perlu dilakukan kontrol kausal yang menyebabkan anemia melalui pengobatan penyakit kausal, atau setidaknya suportif agar anemia tidak semakin parah.