Anda di halaman 1dari 20

REKAM MEDIS DOKTER MUDA SMF ILMU PENYAKIT DALAM RSUD WALED

IDENTITAS Nama Lengkap Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat Status Marital : Ny. W : 16 tahun : Perempuan : Dagang : Gebang Ilir : Belum Menikah

Nomor Rekam Medis : 240110 Tanggal Pemeriksaan : 25 Januari 2010

ANAMNESIS (autoanamnesis dan alloanamnesis dengan bibi pasien) Keluhan Utama : batuk berdarah

Riwayat Penyakit Sekarang : Os datang ke RSUD Waled diantar oleh keluarganya dengan keluhan batuk berdarah. Keluhan ini dirasakan oleh os sejak 3 hari yang lalu. Setiap kali batuk, darah yang keluar sebanyak 1 sampai 2 sendok makan dan berwarna segar. Sebelumnya, batuk sudah dirasakan os sejak satu minggu sebelum masuk rumah sakit dan hanya batuk berdahak tanpa adanya darah, disertai demam yang sering tinggi pada malam hari, disertai dengan berkeringat dingin. Ketika batuk, os sering disertai mual dan muntah. Keluhan lain yang os rasakan yaitu sesak. Rasa sesak dialami os sejak mulai timbulnya batuk dan terus-menerus sampai sekarang. Rasa sesak tidak berkurang oleh perubahan posisi, dan memberat ketika berjalan. Sehingga os sering sukar tidur karena rasa sesaknya ini. Selain sesak, os juga sering merasakan berdebar-debar di dada sebelah kiri. Os mengatakan bahwa tidak nafsu makan, dan berat badannya turun sejak beberapa bulan terakhir. Os tidak merasakan ada gangguan BAB dan BAK, dan menyangkal pernah bengkak pada tungkai. Bibi os mengatakan bahwa os waktu berumur 5 tahun pernah menjalani pengobatan penyakit paru selama 6 bulan, tetapi tidak teratur. Keluhannya mulai timbul karena sering membantu
1

bibinya berdagang dan sering kecapean. Dan ibu os juga meninggal dengan keluhan yang sama seperti os waktu ketika os bayi.

Riwayat Penyakit Dahulu

Os sudah mengalami keluhan yang sama ketika berumur lima tahun, dan pernah mengalami pengobatan penyakit paru selama 6 bulan tetapi tidak teratur.

Riwayat Penyakit Keluarga : Ibu os meninggal dengan keluhan yang sama ketika os masih bayi.

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran Tinggi Badan Berat Badan Status Gizi : tampak sakit sedang : compos mentis : 153 cm : 40 kg : kgBB (TB)2 = 40 kg = (1,53 m)2 40 2,34 = 17,1 (underweight)

Tanda Vital Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu Tubuh : 100/60 mmHg : 120 x/menit : 32 x/menit : 37,4 0C

Status Generalis Kepala Wajah Mata : rambut hitam dan tidak rontok, tidak teraba benjolan : tidak ditemukan kelainan : conjuctiva tidak pucat, sclera tidak ikterik, pupil isokor, reflek cahaya +/+ Telinga Hidung : tidak ditemukan tanda radang dan serumen : tidak ditemukan sekret, tidak ada deviasi septum, tidak ada polip

Mulut dan Tenggorokan: bibir tidak pucat, bibir basah, gusi tidak ada perdarahan, gigi tidak ada karies, lidah tidak kotor, tonsil To/To, faring hiperemis. Leher : tidak ada pembesaran KGB, tidak ada pembesaran tiroid, JVP 5-2 cmH2O, retraksi otot sternokleidomastoideus. Thorax Paru Inspeksi : pergerakan dada simetris kanan dan kiri, pernapasan cepat dan dangkal Palpasi Perkusi Auskultasi : fokal premitus taktil mengeras kanan dan kiri : hipersonor dada kanan dan kiri : vocal breathing sound mengeras kanan dan kiri, terdapat suara tambahan ronkhi basah kasar +/+ Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : ictus cordis terlihat di dada kiri : ictus cordis teraba ICS V linea midclavicularis sinistra : batas jantung kanan : ICS IV linea parasternal dextra Batas jantung kiri Batas jantung atas Pinggang jantung Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Ekstremitas : datar, tidak terlihat sikatrik dan massa : tidak teraba limpa dan hati, tidak ada nyeri tekan : timfani : bising usus normal : tidak terlihat perbuhan warnaa kulit dan benjolan, acral hangat, tidak ada oedem, kekuatan otot 5 5 Pemeriksaan Genital : tidak dilakukan pemeriksaan 5 5 : ICS V linea midclavicularis sinistra : ICS II linea parasternal sinistra : ICS III linea parasternal sinistra

: BJ I dan BJ II murni, tachycardia

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Hemoglobin: 12,1 mg/dl Leukosit : 7.400 /mm3 : 4.590.000 /mm3 Trombosit : 298.000 /mm3 Eritrosit

Hematokrit: 37 gr% Diff count : 0/0/1/57/31/11

Radiologi Jantung : normal

Paru-paru : gambaran sarang tawon di kedua lapang paru-paru dengan noda-noda keras dan garis-garis fibrotik curiga masih berbercak. Kesan : Kp duplex lama, mungkin masih aktif

RESUME Seorang wanita datang dengan keluhan batuk berdarah sudah dialami sejak 3 hari yang lalu, sebelumnya batuk hanya berdahak sejak 1 minggu sebelum ke RS. Darah berwarna segar dan sekali batuk sebanyak 1-2 sendok makan. Keluhan ini disertai demam dan keringat dingin pada malam hari. Keluhan lain os merasakan sesak yang tidak hilang dengan perubahan posisi, memberat ketika berjalan dan sering berdebar-debar. Keluhan lain os tidak nafsu makan, mual dan muntah, serta merasakan penurunan berat badan. Os juga mengalami gejala seperti ini ketika berumur 5 tahun dan pernah pengobatan penyakit paru selama 6 bulan tetapi tidak teratur. Os mempunyai riwayat keluarga yang mengalami keluhan seperti os. Tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 120 x/menit, suhu 37,4 0C, respirasi 32 x/menit. Pemeriksaan fisik didapat retraksi otot SCM, pergerakan dada cepat dan dangkal, vocal fremitus taktil mengeras ka=ki, hipersonor ka=ki, vbs mengeras ka=ki, suara tambahan ronkhi kering +/+. Jantung terdapat takikardi. Laboratorium Hb 12,1 gr/dl, Leukosit 7.400/mm3, trombosit 298.000/mm3, eritrosit 4,59 jt/mm3, Ht 37 gr%, diff count 0/0/1/57/31/11. Radiologi ditemukan gambaran sarang tawon di kedua lapang paru-paru dengan noda-noda keras dan garis-garis fibrotik curiga masih berbercak.
4

ANALISIS MASALAH Observasi hemoptoe et causa tuberkulosis paru Alasan : os mengalami demam subfebris, batuk dengan dahak berdarah,

keringat dingin pada malam hari, sesak napas, penurunan berat badan, lemah lesu/malaise, mempunyai riwayat kontak dengan pasien TB, dan riwayat pengobatan penyakit paru ketika berumur 5 tahun. Dari paru didapatkan kelainan hipersonor, vocal premitus taktil mengeras, vbs mengeras, ronkhi kering, dan dari rontgen thorax didapatkan gambaran sarang tawon di kedua lapang paru dengan noda-noda keras dan garis-garis fibrotik. Observasi sesak napas et causa PPOK eksaserbasi akut Alasan : terdapat gejala respirasi yaitu berupa sesak napas yang semakin

bertambah berat, purulensi sputum, batuk yang semakin sering dan napas yang dangkal dan cepat. Gejala sistemik ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, peningkatan denyut nadi.

Diagnosis

: hemoptoe et causa tuberkulosis post-primer + sesak napas et causa PPOK

PENATALAKSANAAN Pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan : Pemeriksaan sputum BTA Pemeriksaan biakan sputum BTA Pemeriksaan serologis tuberkulosis Pemeriksaan spirometer : SPS

Pengobatan : Kategori II (pengobatan tuberkulosis paru) Pasien kasus kambuh atau gagal dengan sputum BTA positif. Pengobatan fase inisial terdiri dari 2RHZES/1HRZE, fase lanjutan yaitu 5H3R3E3 atau 5HRE.
5

Dosis per hari/kali Tahap Pengobata n Lamanya Pengobata n Tablet Isoniazi d @ 300 Mg Kaplet Rifampisi n @ 450 mg Tablet Pirazinami d @ 500 mg Tablet Etambut ol @ 250 mg Tablet Etambut ol @ 500 mg Vial Strept o misin @ 1,5 Gr 0,75 gr ---

Tahap intensif (dosis harian) Dilanjutka n Tahap lanjutan (dosis 3 x seminggu)

2 bulan

---

1 bulan

---

5 bulan

---

---

Jika pasiennya susahnya teratur untuk pengobatan TB, jangan diberi OAT karena bisa terjadi resisten. Bisa diberikan Ciprofloxacin dengan vitamin K.

Pengobatan sesak napas ec PPOK Oksigen 2 - 3 L/menit Antibiotik : cefotaxime 1 gr IV tiap 8-12 jam Bronkhodilator :

Aminofilin 200 mg/4-6 jam Salbutamol 2-4 gr/4-6 jam

PROGNOSIS Quo ad Vitam Quo ad Functionam Quo ad Sanationam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad malam

TINJAUAN PUSTAKA TUBERKULOSIS PARU BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penyakit paru semakin menjadi beban kesehatan masyarakat. Tantangan guna pengendalian penyakit itu juga bertambah berat, antara lain, karena memburuknya lingkungan hidup. Hal itu terungkap dalam jumpa pers sosialisasi tahun 2010 sebagai Tahun Peduli Kesehatan Paru Dunia, Kamis (21/1/10).1 Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Faisal Yunus mengatakan, paru satu satunya organ dalam yang berhubungan langsung dengan dunia luar sehingga paru dan saluranpernapasansangatrentan. Variasi penyakit paru, antara lain, adalah infeksi pernapasan akut, bronkitis kronik, penyakit paru obstruksi kronik, asma, emfisema, tuberkulosis (TB) paru, dan kanker paru-paru. Menurut proyeksi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2020, infeksi saluran pernapasan bawah, seperti TB, TB-HIV, masuk dalam 10 penyebab masalah kesehatan masyarakat di dunia. Kasus TB baru 9,2 juta per tahun dengan kematian 1,7 juta orang per tahun di dunia. Setiap 20 detik 1 orang meninggal dunia karena TB,1 Di Indonesia, penyakit pernapasan penyebab kesakitan termasuk dalam daftar 10 besar. Berdasarkan data terbaru Riset Kesehatan Dasar 2007, tuberkulosis penyebab kematian kedua terbesar pada semua umur (7,5 persen). Penyakit saluran pernapasan bawah menduduki peringkat ke-10.

B. Epidemiologi Penyakit TB menyerang sebagian besar kelompok usia kerja produktif, penderita TB kebanyakan dari kelompok sosio ekonomi rendah. Dari 1995-1998, cakupan penderita TB Paru dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy) -atau pengawasan langsung menelan obat jangka pendek/setiap hari- baru mencapai 36% dengan
7

angka kesembuhan 87%. Sebelum strategi DOTS (1969-1994) cakupannya sebesar 56% dengan angka kesembuhan yang dapat dicapai hanya 40-60%. Karena pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak cukup dimasa lalu kemungkinan telah timbul kekebalan kuman TB terhadap OAT (obat anti tuberkulosis) secara meluas atau multi drug resistance (MDR).2 Micobacterium tuberculosis (TB) telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia, menurut WHO sekitar 8 juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3 juta orang per tahun (WHO, 1993). Di negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara-negara berkembang. Dengan munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia jumlah penderita TB akan meningkat. Kematian wanita karena TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan serta nifas (WHO). WHO mencanangkan keadaan darurat global untuk penyakit TB pada tahun 1993 karena diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB.3 Indonesia adalah negara dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah China dan India. Perkiraan kejadian BTA di sputum yang positif di Indonesia adalah 266.000 tahun 1998.

BAB II TUBERKULOSIS PARU

A. Definisi Penyakit Tuberkulosis adalah setiap penyakit menular pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh spesies Mycobacterium dan ditandai dengan pembentukan tuberkel dan nekrosis kaseosa pada jaringan-jaringan. Berbagai organ dapat terkena, walaupun pada manusia paru adalah tempat utama penyakit ini, dan biasanya merupakan pintu gerbang masuknya infeksi untuk mencapai organ lainnya.4

B. Etiologi Penyakit tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang menyerang paru-paru, penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosis. Miko bakteria adalah bakteri aerob, berbentuk batang, yang tidak membentuk spora. Walaupun tidak mudah diwarnai, jika telah diwarnai bakteri ini tahan terhadap peluntur warna (dekolarisasi) asam atau alkohol, oleh karena itu dinamakan bakteri tahan asam atau basil tahan asam. Morfologi dan identifikasi Mycobacterium Tuberkulosis5 1. Bentuk Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus atau agak bengkok dengan ukuran 0,20,4 x 1-4 um. Pewarnaan Ziehl-Neelsen dipergunakan untuk identifikasi bakteri tahan asam. 2. Penanaman Kuman ini tumbuh lambat, koloni tampak setelah lebih kurang 2 minggu bahkan kadangkadang setelah 6-8 minggu. Suhu optimum 37C, tidak tumbuh pada suhu 25C atau lebih dari 40C. Medium padat yang biasa dipergunakan adalah Lowenstein-Jensen. PH optimum 6,4-7,0. 3. Sifat-sifat Mycobacterium tidak tahan panas, akan mati pada 60C selama 15-20 menit. Biakan dapat mati jika terkena sinar matahari lansung selama 2 jam. Dalam dahak dapat bertahan 20-30
9

jam. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat bertahan hidup 8-10 hari. Biakan basil ini dalam suhu kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari dengan suhu 20C selama 2 tahun. Myko bakteri tahan terhadap berbagai khemikalia dan disinfektan antara lain phenol 5%, asam sulfat 15%, asam sitrat 3% dan NaOH 4%. Basil ini dihancurkan oleh jodium tinctur dalam 5 minit, dengan alkohol 80 % akan hancur dalam 2-10 menit.

C. Patogenesis Sumber penularana adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran linfe,saluran napas, atau penyebaran langsung kebagian-nagian tubuh lainnya.

Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. TuberkolusisPrimer2,3 Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di Paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran limfe akan membawa kuma TB ke kelenjar linfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4 - 6 minggu. Dari kompleks primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal), dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis regional). Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi
10

positif.

Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan. Primer2,3

Tuberkulosis

Pasca

(Post

Primary

TB)

Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer (infeksi endogen), misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura. Tuberkulosis pasca primer juga dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia muda menjadi TB usia tua (elderly tuberculosis). Tergantung dari jumlah kuman, virulensinya dan imunitas pasien.

D. Klasifikasi3 Ada beberapa klasifikasi tuberkulosis, diantaranya : Pembagian secara patologis Tuberkulosis primer (childhood tuberculosis) Tuberkulosis post-primer (adult tuberculosis)

Pembagian secara aktivitas radiologis tuberkulosis paru (Koch Pulmonum) aktif, non aktif, dan quiescent (bentuk aktif yang mulai menyembuh) Pembagian secara radiologis (luas lesi) Tuberkulosis minimal. Terdapat sebagian kecil infiltrat nonkavitas pada satu paru maupun kedua paru, tetapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru. Moderately advanced tuberculosis. Ada kavitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm. Jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Bila bayangannya kasar tidak lebih dari sepertiga bagian satu paru.

11

Far advanced tuberculosis. Terdapat infiltrat dan kavitas yang melebihi keadaan pada moderately advanced tuberculosis.

Berdasarkan terapi Kategori I, ditujukan terhadap : Kasus baru dengan sputum positif Kasus baru dengan bentuk TB berat Kategori II, ditujukan terhadap : Kasus kambuh Kasus gagal dengan sputum BTA positif Kategori III, ditujukan terhadap : Kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas Kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I Kategori IV, ditujukan terhadap : TB kronik

E. Gejala Klinis2,3 Gejala Umum : o Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih.

Gejala Lain Yang Sering Dijumpai : o Demam Biasanya subfebril menyerupai demam influenza, tetapi kadang-kadang panas badan dapat mencapai 40 410 C. o Batuk/Dahak bercampur darah. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (nonproduktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. o Sesak napas Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.
12

o Nyeri dada Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura sewaktu pasien menarik napas/melepaskan napasnya. o Malaise Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.

F. Diagnosis3 Untuk menegakan diagnosis tuberkulosis paru, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan diantaranya, laboratorium. 1. Pemeriksaan fisis Dapat ditemukan konjunktiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfebris), badan kurus atau berat badan menurun. Secara anamnesis dan pemeriksaan fisik, TB paru sulit dibedakan dengan pneumonia biasa. Bila dicurigai adanya infiltrat yang aga luas, maka didapatkan perkusi yang redup dan auskultasi napas bronkial. Akan didapatkan pula suara napas tambahan berupa ronki basah kasar. Bila terdapat kavitas yang cukup besar, perkusi memberikan suara hipersonor atau timfani dan auskultasi memberikan suara amforik. Pada tuberkulosis paru yang lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofi dan retraksi otot-otot interkostal. 2. Pemeriksaan radiologis Lokasi lesi tuberkulosis biasanya di daerah apeks paru (segmen apikal lobus atas atau segmen apikal lobus bawah), tetapi dapat juga mengenai lobus bawah (bagian inferior) atau di daerah hilus menyerupai tumor paru (misalnya pada tuberkulosis endobronkial). Pada awal penyakit saat lesi masih merupakan sarang-sarang pneumonia, gambaran radiologis berupa bercak-bercak awan dan dengan batas-batas yang tidak tegas. Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas yang tegas. Lesi ini dikenal sebagai tuberkuloma.
13

pemeriksaan

fisik

pasien,

pemeriksaan

radiologis,

dan

pemeriksaan

Pemeriksaan khusus yang kadang-kadang juga diperlukan adalah bronkografi, yakni untuk melihat kerusakan bronkus atau paru yang diebabkan oleh tuberkulosis. Pemeriksaan radiologis dada yang lebih canggih dan saat ini sudah banyak dipakai adalah CT scan, pemeriksaan lain yang lebih canggih lagi adalah MRI. 3. Pemeriksaan Laboratorium o Darah Pemeriksaan ini kurang sensitif dan juga tidak spesifik. Pada saat tuberkulosis mulai aktif akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit meninggi dengan hitung jenis leukosit pergeseran ke kiri. Ada juga pemeriksaan serologis adalah reaksi Takahashi. Kriteria positif yang dipakai di Indonesia adalah 1/128. Belakangan ini terdapat pemeriksaan serologis yang banyak juga dipakai yakni Peroksidase Anti Peroksida (PAP-TB). Uji serologis lain adalah uji Mycodot. o Sputum Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurangkurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan. Dengan kata lain diperlukan 5.000 kuman dalam 1 mL sputum. o Tes tuberkulin Pemeriksaan ini masih banyak dipakai untuk membantu menegakan diagnosis tuberkulosis terutama pada anak-anak (balita). Biasanya dipakai tes mantoux yakni dengan menyuntikan 0,1 cc tuberkulin PPD (Purified Protein Derivative) intrakutan berkekuatan 5 TU.

Diagnosis

Tuberkulosis

Pada

Orang

Dewasa.

Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS diulang.2 Kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita diidagnosis sebagai penderita TB BTA positif. Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan lain, misalnya biakan.
14

Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain, misalnya biakan. Bila tiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1 - 2 minggu. Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan dahak SPS : Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif. Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada, untuk mendukung diagnosis TB.

- Bila hasil rontgen mendukung TB, diagnosis sebagai penderita TB BTA negatif rontgen positif. - Bila hasil rontgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB.

G. Kompilkasi3 Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan komplikasi lanjut. Komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis, usus, Poncets arthropathy Komplikasi lanjut : obstrksi jalan napas SOPT (Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis), kerusakan parenkim berat fibrosis paru, kor pulmonal, amiloidosis, karsinoma paru, sindrom gagal napas dewasa (ARDS), sering terjadi pada TB milier dan kavitas TB.

H. Pengobatan3 Resimen pengobatan saat ini yaitu menggunakan metode DOTS (Directly Observed Treatment Short Course Strategy). Kategori I Pasien tuberkulosis paru (TBP) dengan sputum BTA positif dan kasus baru, TBP lainnya dalam keadaan berat, seperti meningitis tuberkulosis, miliaris, perikarditis, pleuritis masif atau bilateral, spondilitis dengan gangguan neurologik, sputum BTA negatif tetapi kelainan di paru luas, tuberkulosis usus dan saluran kemih. Pengobatan inisial resimennya terdiri dari 2RHZS (E), kemudian dilanjutkan ke fase lanjutan 4HR atau 4H3R3.

15

Kategori II Pasien kasus kambuh atau gagal dengan sputum BTA positif. Pengobatan fase inisial terdiri dari 2RHZES/1HRZE, fase lanjutan yaitu 5H3R3E3 atau 5HRE. Kategori III Pasien TBP dengan sputum BTA negatif tetapi kelainan paru tidak luas dan kasus ekstrapulmonal (selain dari kategori I). Pengobatan fase inisial terdiri dari 2HRZ atau 2H3R3E3Z3, yang diteruskan dengan fase lanjutan 4RH. Kategori IV Tuberkulosis kronik. Pada pasien ini mungkin mengalami resistensi ganda, sputumnya harus di kultur dan uji kepekaan obat. Untuk seumur hidup harus diberi H saja (WHO) atau sesuai rekomendasi WHO untuk pengobatan TB resistensi ganda (MDR-TB).

Obat Anti Tuberkulosis Kombinasi Tetap6 Saat ini tersedia juga obat TB yang disebut Fix Dose Combination(FDC). WHO sangat menganjurkan pemakaian OAT-FDC karena beberapa keunggulan dan keuntungannya dibandingkan dengan OAT dalam bentuk kombipak apalagi dalam bentuk lepas. Keuntungan penggunaan OAT FDC: a. Mengurangi kesalahan peresepan karena jenis OAT sudah dalam satu kombinasi tetap dan dosis OAT mudah disesuaikan dengan berat badan penderita. b. Dengan jumlah tablet yang lebih sedikit maka akan lebih mudah pemberiannya dan meningkatkan penerimaan penderita sehingga dapat meningkatkan kepatuhan penderita. c. Dengan kombinasi yang tetap, walaupun tanpa diawasi, maka penderita tidak bisa memilih jenis obat tertentu yang akan ditelan. d. Dari aspek manajemen logistik, OAT-FDC akan lebih mudah pengelolaannya dan lebih murah pembiayaannya.

16

Jenis OAT-FDC yang tersedia di program penanggulangan TB. Tablet OAT-FDC 4FDC Komposisi/Kandungan 75 mg INH 150 mg Rifampisin 400 mg Pirazinamid 275 mg Etambutol 150 mg INH 150 mg Rifampisin Pemakaian Tahap Intensif/ awal dan sisipan Harian Tahap Lanjutan 3 kali seminggu

2FDC

Pelengkap paduan kategori-2 : Tablet etambutol @ 400mg Injeksi ( vial) Streptomisin 750mg Aquabidest dan Spuit

Paduan pengobatan OAT-FDC yang tersedia saat ini di Indonesia terdiri dari: 2(HRZE)/4(HR)3 untuk Kategori 1 dan Kategori 3 2(HRZE)S/1(HRZE)/5(HR)3E3 untuk Kategori 2 Catatan :dosis atau sediaan dari masing-masing OAT-FDC tidak mencukupi.

I. Perhatian Khusus Untuk Pengobatan6 Beberapa kondisi berikut ini perlu perhatian khusus : Wanita hamil Pada prinsipnya paduan pengobatan TB pada wanita hamil tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk wanita hamil, kecuali streptomisin karena dapat menembus barier placenta dan dapat menyebabkan permanent ototoxic terhadap janin dengan akibat terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada janin tersebut. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkannya terhindar dari kemungkinan penularan TB. Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya paduan pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Ibu dan bayi
17

tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus menyusu. Pengobatan pencegahan dengan INH dapat diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya selama 6 bulan. BCG diberikan setelah pengobatan pencegahan. Wanita penderita TB pengguna kontrasepsi. Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB, suntikan KB, susuk KB), sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Seorang wanita penderita TB seyogyanya mengggunakan kontrasepsi nonhormonal, atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Penderita TB dengan infeksi HIV/AIDS Prosedur pengobatan TB pada penderita dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti penderita TB lainnya. Obat TB pada penderita HIV/AIDS sama efektifnya Penderita TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada penderita TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik, ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Pada keadaan dimana pengobatan TB sangat diperlukan dapat diberikan SE selama 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan RH selama 6 bulan, bila hepatitisnya tidak menyembuh seharus dilanjutkan sampai 12 bulan. Catatan : pada penyakit hepatitis bisa diganti pengobatan dengan ciprofloxacin sampai 2 tahun ditambah isoniazid. Penderita TB dengan penyakit hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan fungsi hati, dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan TB. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT harus dihentikan. Pirazinamid (Z) tidak boleh digunakan. Paduan obat yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE atau 9RE. Catatan : pada penyakit hati kronis dimana fungsi hati normal tetapi SGOT/SGPT meningkat, sehingga tidak boleh diberikan ripamficin Penderita TB dengan gangguan ginjal Isoniazid, Rifampisin dan Pirazinamid dapat diberikan dengan dosis normal pada penderitapenderita dengan gangguan ginjal. Hindari penggunaan Streptomisin dan Etambutol kecuali
18

dapat dilakukan pengawasan fungsi ginjal dan dengan dosis diturunkan atau interval pemberian yang lebih jarang. Paduan OAT yang paling aman untuk penderita dengan gangguan ginjal adalah 2RHZ/6HR. Penderita TB dengan Diabetes Melitus Diabetesnya harus dikontrol. Perlu diperhatikan bahwa penggunaan Rifampisin akan mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosisnya perlu ditingkatkan. Hati-hati dengan penggunaan etambutol, karena mempunyai komplikasi terhadap mata. Penderita-penderita TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid. Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa penderita seperti : TB meningitis TB milier dengan atau tanpa gejala-gejala meningitis TB Pleuritis eksudativa TB Perikarditis konstriktiva.

Prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari, kemudian diturunkan secara bertahap 510 mg . Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan.

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Ine.Penyakit Paru Semakin Menjadi Beban.Jakarta:Jumat,22-01-10.Kompas.com. 2. Utama, Andi.Tuberkulosis.Jakarta:Infeksi.com 3. Amin, Zulkifli.Tuberkulosis Paru dan Pengobatan Tuberkulosis Mutakhir dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Cetakan kedua Mei 2007.Jakarta:FKUI 4. Kamus Kedokteran Dorlan.Edisi 29 5. Hiswani,drh.Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi yang Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat.Medan:FKUSU 6. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Tuberkulosis.Departemen Kesehatan RI.Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik.2005

20

Anda mungkin juga menyukai