Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

Lamanya hamil berbeda untuk masing-masing ibu, namun pada umumnya kehamilan disebut cukup bulan bila kehamilan lamanya mencapai genap 37 42 minggu dari hari pertama haid terakhir (HPHT) siklus yang normal (sekitar 28 hari). Jadi rata-rata lama hamil adalah 40 minggu dari HPHT, atau karena pembuahan (hubungan suami istri yang menyebabkan kehamilan) umumnya terjadi 2 minggu dari hari pertama haid, maka umur janin sekitar 38 minggu dari pembuahan. Kehamilan yang berakhir di bawah 20 minggu kita sebut keguguran/abortus. Yang berakhir antara 21 36 minggu disebut persalinan kurang bulan/prematur. Dan bila kehamilan berakhir 42 minggu atau lebih, disebut kehamilan lewat waktu (serotinus/ postdate). Karena siklus haid berbeda untuk setiap orang, menentukan umur kehamilan pun tidak selalu berdasarkan HPHT. Misalnya ibu yang siklusnya setiap 40 hari, persalinannya akan mundur sekitar 12 hari (40-28 hari). Oleh karena itu, memeriksakan diri sedini mungkin setelah ibu menduga dirinya hamil sangat penting.

BAB II KEHAMILAN SEROTINUS

DEFINISI Kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap disebut sebagai post term atau kehamilan lewat waktu. Nama lain kehamilan lewat waktu adalah kehamilan serotinus, prolonged pregnancy atau postterm pregnancy.. Kehamilan umunya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan aterm ialah usia kehamilan antara 38 sampai 42 minggu dan ini merupakan periode dimana terjadi persalinan normal.

EPIDEMIOLOGI Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10 %, bervariasi antara 3,5-14 %. Perbedaan yang lebar disebabkan perbedaan dalam menentukan usia kehamilan. Disamping itu perlu diingat bahwa para ibu sebanyak 10 % lupa akan tanggal haid terakhir disamping sukar menentukan secara tepat saat ovulasi.

ETIOLOGI Pertanyaan yang patut diajukan ialah mengapa terjadi penundaan partus melewati aterm. Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum kita ketahui. Diduga penyebabnya adalah : siklus haid yang tidak diketahui pasti kelainan pada janin (anesenefal, kelenjar adrenal janin yang fungsinya kurang baik, kelainan pertumbuhan tulang janin/osteogenesis imperfecta; atau kekurangan enzim sulfatase plasenta).

Kini dipahami bahwa menjelang partus terjadi penurunan progesteron, peningkatan oksitosin serta peningakatan reseptor oksitosin, tetapi yang paling menentukan adalah terjadinya produksi prostaglandin yang menyebabkan his yang kuat. Prostaglandin telah dibuktikan berperan paling penting dalam menimbulkan kontraksi uterus. Nwosu dkk menemukan perbedaan dalam rendahnya kadar kortisol pada darah bayi sehingga disimpulkan kerentanan akan stres merupakan faktor tidak timbulnya his, selain kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta.

KOMPLIKASI Komplikasi dapat mengenai ibu dan janin. Komplikasi pada ibu meliputi rasa takut akibat terlambat lahir dan rasa takut menjalani operasi dengan akibatnya trias komplikasi ibu . Sedangkan komplikasi pada janin meliputi : 1. Oligohdramnion. Air ketuban normal usia 34 37 minggu adalah 1000 cc, aterm adalah amnion kental, mekoneum diaspirasi oleh janin, asfiksia, gawat janin intrauterine. Pada inpartu, aspirasi air ketuban, nilai apgar rendah, terjadi sindrom gawat janin, dan bronkus paru tersumbat yang menimbulkan atelektasis. 2. Janin diwarnai mekoneum. Mekoneum keluar karena refleks vagus terhadap usus. Peristaltik usus dan terbukanya sfingter ani membuat mekoneum keluar. Aspirasi air ketuban serta mekoneum dapat menimbulkan gangguan pernafasan bayi- janin, gangguan sirkulasi bayi setelah lahir dan hipoksia intrauterine sampai kematian janin.

3. Makrosemia. Dengan plasenta masih baik terjadi tumbuh-kembang janin dengan berat 4500 gram disebut makrosemia. Akibat kondisi ini pada perasalinan ( tindakan operasi seksio sesarea, trauma persalinan operasi vaginal karena distosia bahu ) dapat menimbulkan kematian bayi dan trauma jalan lahir ibu. 4. Dismaturitas bayi. Usia kehamilan 37 minggu luas plasentanya 11 m2. selanjutnya terjadi penurunan fungsi akibat tidak berkembangnya atau terjadinya kalsifikasi dan aterosklerosis pembuluh darah. Penurunan kemampuan nutrisi plasenta menimbulkan perubahan metabolisme menuju anaerobic. Pada keadaan ini terjadi badan keton dan asidosis, otot makin lemah, dan berwarna mekoneum. Kuku tampak tajam dan kulit keriput. Tali pusat lembek, mudah tertekan dengan disertai oligohidramnion. Bayi dengan tanda post matur mungkin mengalami hipovolemia, hipoksia, asidosis, sindraom gawat nafas, hipoglikemia dan hipofungsi adrenal. Dalam hal ini perlu tindakan yang adekuat sesuai dengan causa tersebut.

PERMASALAHAN Masalah yang dihadapi pada kehamilan lewat waktu meliputi : Identifkasi resiko pada janin, Waktu yang tepat untuk melakukan persalinan, dan Menentukan persalinan pervagina versus per abdomen.

Risiko kehamilan sulit dipastikan dan menjurus pada risiko kematian janin intauterin. Persalinan dipercepat karena :

terjadi preeklampsia/ eklampsia ibu dengan hipertensi ibu dengan diabetes mellitus ada gangguan tumbuh-kembang janin intrauterine factor kematangan serviks.

Bahaya yang dikemukakan adalah : Kemungkinan bahaya kematian anak didalam rahim bertambah. Besarnya anak yang berlebihan dapat menimbulkann kesukaran pada persalinan. Sebaliknya anak kecil disebabkan penurunan fungsi plasenta.

PENENTUAN TAKSIRAN PERSALINAN Faktor-faktor yang mempengaruhi perhitungan : . Perhitungan usia kehamilan umumnya memakai rumus Naegele, tetapi selain pengaruh faktor diatas masih ada faktor siklus haid dan kesalahan perhitungan. Sebaliknya Boyce mengatakan dapat terjadi kehamilan lewat waktu yang tidak diketahui akibat masa proliferasi yang pendek. Kini dengan adanya pelayanan USG maka usia kehamilan dapat ditentukan lebih tepat terutama bila dilakukan pemeriksaan pada usia kehamilan 6-11 minggu sehingga penyimpangan hanya 1 minggu. Tapi masih juga merupakan masalah pada kehamilan multipel / kembar, karena masingmasing janin akan berukuran lebih kecil daripada pada kehamilan tunggal yang normal. variasi siklus haid kesalahan perhitungan oleh ibu, dan sebagainya

Kekhawatiran dalam menghadapi kehamilan lewat waktu ialah meningkatnya resiko kematian dan kesakitan perinatal. Resiko kematian perinatal kehamilan lewat waktu dapat menjadi 3 kali dibandingkan kehamilan aterm. Disamping itu ada pula komplikasi yang lebih sering menyertainya seperti letak defleksi, posisi oksiput posterior, distosia bahu dan perdarahan post partum.

MASALAH PERINATAL Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim. Hal ini disebabkan oleh plasenta (uri) yang memberikan asupan nutrisi dan oksigen pada janin akan menua mulai sekitar usia kehamilan 36 minggu, yang dapat dilihat dengan sonografi (USG) sebagai perkapuran plasenta. Makin banyak perkapuran plasenta, semakin sedikit makanan dan oksigen yang diberikan pada janin, sehingga suatu saat janin akan kekurangan makanan dan oksigen. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di bawah kulit menipis bahkan sampai hilang, lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering seperti kertas perkamen. Rambut dan kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang sampai habis. Akibat kekurangan oksigen akan terjadi gawat janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam rahim yang akan mewarnai cairan ketuban menjadi hijau pekat. Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke dalam saluran napas) air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum aspiration syndrome) . Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin. Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu dan kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu, hal ini dapat dibuktikan dengan penurunan kadar estriol dan plasental laktogen. Rendahnya fungsi plasenta berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat janin dengan resiko 3 kali. Akibat dari proses penuaan plasenta maka pemasokan makanan dan oksigen akan menurun disamping adanya spasme arteri spiralis. Janin akan mengalami pertumbuhan terhambat dan penurunan berat, dalam hal

ini dapat disebut sebagai dismatur. Sirkulasi uteroplasenter akan berkurang dengan 50 % menjadi hanya 250 ml permenit. Jumlah air ketuban yang berkurang mengakibatkan perubahan abnormal jantung janin. Kematian janin akibat kehamilan lewat waktu ialah terjadi pada 30 % sebelum persalinan, 55 % dalam persalinan dan 15 % post natal. Penyebab utama kematian perinatal ialah hipoksia dan aspirasi mekonium. Komplikasi yang dapat dialami oleh bayi baru lahir adalah suhu yang tidak stabil, hipoglikemi, polisitemia dan kelainan neurologik. Partus serotinus sering terjadi pada pada anesefalus.

MANIFESTASI KLINIS Keadaan klinis pada ibu yang dapat ditemukan ialah dirasakan gerakan janin yang jarang, yaitu secara subyektif kurang dari 7 kali/menit atau secara obyektif dengan KTG kurang dari 10 kali/manit. Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu.

Tanda-tanda serotinitas Tidak ada lanugo Kuku panjang Rambut kapala banyak Kulit berkeriput, mengelupas dan berwarna kekuningan Kadang-kadang anak agak kurus Air ketuban sedikit dan mengandung mekonium Biasanya lebih berat dari bayi matur. Tulang dan sutura kepala lebih keras bayi matur. Rambut kepala agak tebal. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel. Tanda post term dapat dibagi dalam 3 stadium :

1. Stadium I Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas. 2. Stadium II Gejala diatas disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit. 3. Stadium III Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat.

DIAGNOSIS Kadang sulit untuk menentukan post datisme karena : Siklus haid yang tidak teratur atau adanya variasi siklus haid. Dalam masa laktasi, pemakain komntrasepsi hormonal (pil KB, suntikan atau susuk) yang mengalami kehamilan. Pemeriksaan umur kehamilan : Anamnesa, dihitung dari hari pertama haid, kalau kurang/lebih 28 hari) USG : DBP dan panjang femur, secara serial evaluasi air ketuban dan keadaan plasenta. Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu. haid terakhir, dengan menggunakan rumus Naegele (kalau perlu disesuaikan dengan lama daur

Diagnosa dibuat jika pasien diperiksa sejak permulaan persalinan. Pemeriksaan dan Diagnosis berdasarkan :

Penentuan Taksiran Persalinan. Penilaian Janin.

Post term ialah kondisi bayi yang lahir akibat kehamilan lewat waktu dengan kelainan fisik akibat kekurangan makanan dan oksigen. Bila kasus telah mengalami insufisiensi yang berat maka akan lahir dengan kelainan seperti diatas. Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari perhitungan rumus Naegele setelah mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila terdapat keraguan, maka pengukuran tinggi fundus uteri serial dengan sentimeter akan memberikan informasi mengenai usia gestasi lebih tepat. Keadaan klinis yang mungkin ditemukan ialah air ketuban yang berkurang dan gerakan janin yang jarang. Bila telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi serial terutama sejak trimester pertama maka hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Sebaliknya pemeriksaan yang sesaat setelah trimester 3 sukar untuk memastikan usia kehamilan. Pemeriksaan sitologi vagina (indeks karpikiknotik > 20 %) mempunyai sensitifitas 75 % dan test tanpa tekanan dengan kardiotokografi mempunyai sensitifitas 100 % dalam menentukan adanya disfungsi janin plasenta atau post term. Perlu diingat bahwa kematangan serviks tidak dapat dipakai untuk menentukan usia gestasi.

PENCEGAHAN Pencegahan dapat dilakukan dengan : melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7 bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7 8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir.

Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya.

PENILAIAN KEADAAN JANIN Yang terpenting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah menentukan keadaan janin karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko kegawatan. Penilaian keadaan janin dapat dilakukan dengan : melakukan profil biofisik yakni gabungan antara pemeriksaan USG (melihat keadaan janin, jumlah cairan amnion, gerakan pernapasan janin dan denyut jantung janin) di kombinasikan dengan pemeriksaan KTG (kardiotokografi), yakni pemantauan kesejahteraan janin. Bila KTG menunjukkan pencatatan jantung janin yang reaktif, janin masih baik dan masih boleh tinggal di dalam rahim ibu satu minggu. Kehamilan lewat waktu dapat berulang. Kemungkinan terjadinya lebih besar pada mereka yang sudah pernah mengalaminya. Dengan sikap konservatif resiko kematian perinatal berkisar dari 0-22 %. Di FK UI cenderung untuk bersikap aktif setelah menentukan keadaan janin dan dengan demikian tidak menemukan kematian perinatal.

Penentuan keadaan janin ialah dengan cara berikut : 1. Tes tanpa tekanan (non stress test/NST ).

10

Yaitu pemeriksaan kesehatan janin dengan menggunakan kardiotokografi pada umur kehamilan 32 minggu. Tujuannya adalah untuk menilai kesehatan janin melalui hubungan perubahan denyut jantung jann dengan gerakan janin yang dirasakan oleh ibu. Reaktif, bila : Denyut jantung janin basal antara 120-160 kali permenit. Variabilitas kurang dari 6 denyut/menit. Ada gerakan janin, terutama gerakan multipel dan berjumlah 5 gerakan atau lebih dalam pemantauan 20 menit, dengan kenaikan minimal 15 dpm selama minimal 15 detik. Tidak reaktif, bila : Denyut jantung janin basal 120-160 kali per menit. Variabilitas kurang dari 6 denyut/menit. Gerak janin tidak ada atau kurang dari 5 gerakan dalam 20 menit. Tidak ada akselerasi denyut jantung janin meskipun diberikan rangsangan dari luar (akustik atau taktil). Bila memperoleh hasil yang non reaktif maka dilanjutkan dengan tes tekanan oksitosin. 2. Uji dengan oksitosin (Oxyticin Challenge Test/OCT). Yaitu cara pemeriksaan janin dengan menggunakan kardiotokografi yang menilai perubahan denyut janin pada saat kontraksi rahim. Bertujuan untuk memantau kondisi janin pada kehamilan usia lanjut sebelum janin dilahirkan, menilai apakah janin dapat mentolelir beban persalinan normal, dan untuk menilai fungsi plasenta.

Negatif, bila : Tidak terjadi deselerasi lambat atau deselerasi variabel yang nyata (significant variable deceleration).

11

Denyut jantung janin normal (120-160 dpm), variabilitas 6-25 dpm. Bila hasil OCT negatif, maka kehamilan dapat diteruskan sampai 7 hari lagi (kecuali pada diabetes melitus), selanjutnya dilakukan OCT ulangan, atau diartikan bahwa janin dapat mentolelir beban persalinan normal. Positif, bila : Terjadi deselerasi lambat yan menetap pada sebagian besar kontraksi rahim, meskipun tidak selalu disertai dengan variabilitas yang menurun dan tidak ada akselerasi pada gerakan janin. OCT positif menandakan adanya insufisiensi uteroplasenta. Kehamilan harus segera diakhiri, kecuali bila paru-paru belum matang. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifitas 98,8 % menunjukan bahwa kemungkinan besar janin baik. Bila ditemukan hasil tes tekanan yang positif, meskipun sensitifitas relatif rendah tetapi telah dibuktikan berhubungan dengan keadaan post matur. 3. Gerakan janin. Gerakan janin dapat ditentukan secara subyektif (normal rata-rata tujuh kali per 20 menit) atau secara obyektif dengan topografi (normal rata-rata 10 kali per 20 menit) gerakan janin dapat pula ditentukan pada pemeriksaan ultrasonografi. Dengan menentukan nilai biofisik maka keadaan janin dapat dipastikan lebih baik. Penilaian air banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan USG ( normal > 1cm per bidang ) memberikan gambaran banyaknya air ketuban ; bila ternyata oligohidramnion maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu.

4. Amnioskopi. Bila ditemukan air ketuban yang jernih mungkin keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami resiko 33% asfiksia.

12

5. Menilai kematangan serviks. Menilai derajat kematangan serviks dengan mempergunakan skor Bishop. Yaitu dengan menilai pembukaan serviks, pendataran serviks, station, konistensi serviks dan posisi serviks. Serviks belum matang apabila skor bishop < 6. Pada kehamilan normal, apabila 1 minggu setelah tanggal taksiran kehamilan belum ada tanda tanda mulai persalinan, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG lagi. Hal hal yang dinilai pada dasarnya sama dengan pemeriksaan pada usia kehamilan 32 36 minggu yaitu kesejahteraan janin (beserta keadaan cairan ketuban), grading plasenta dan keadaan tali pusat. Disini kepentingannya lebih kearah apakah saat itu sudah diperlukan

terminasi/pengakhiran kehamilan lebih dini sebelum kehamilan memasuki masa lewat bulan (serotinus). Misalnya pada keadaan skor kesejahteraan janin yang berkurang, volume cairan amnion sedikit, atau grading plasenta derajat III. Akhir akhir ini di RSUP Dr Kariadi terminasi sering dilakukan pada usia kehamilan 41 minggu dengan informed consent, hal ini dilakukan untuk menghindari outcome janin yang lebih jelek apabila menunggu masa lewat bulan ( 42 minggu). Pemeriksaan USG pada usia kehamilan 41 minggu juga dapat digunakan untuk menentukan cara persalinan yang terbaik, apakah masih bisa secara per vaginam (persalinan normal) atau harus melalui bedah sesar, misalnya pada keadaan kesejahteraan janin yang jelek (non-reassuring fetal status), air ketuban habis (indeks cairan amnion kurang dari 3), dengan pertimbangan apabila dilakukan induksi persalinan akan lebih memperparah kondisi hipoksia janin yang sudah terjadi.

PENANGANAN Pada post datisme prinsipnya harus dilakukan terminasi kehamilan.

13

Keadaan yang mendukung bahwa janin masih baik memungkinkan untuk mengambil keputusan : a. Kehamilan dapat dipertahankan / persalinan ditunda 1 minggu lagi, dengan terus observasi gerakan janin dan pemeriksaan denyut jantung janin 3 hari lagi (idealnya dilakukan juga tes tanpa tekanan / nonstress test). b. Tidak mempertahankan kehamilan lebih lama lagi, langsung dilanjutkan dengan induksi persalinan, dengan pertimbangan kondisi janin yang cukup baik / optimal. c. Ibu dirawat di Rumah sakit, bila : a. Riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim. b. Terdapat hipertensi, dan pre-eklamsi. c. Kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas. d. Pada kehamilan lebih dari 40-42 minggu, maka ibu dirawat di rumah sakit. d. Tindakan operasi seksio sesaria dapat dipertimbangkan pada : i. Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang ii. Pembukaan janin iii. Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklamsi, hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin. ii. Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi : janin post matur kadangkadang besar : dan kemungkinan disproporsi sefalo-pelvik dan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi tanda gawat

14

distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedatif dan narkosa. Jadi pakailah anestesi konduksi. Jangan lupa, perawatan neonatus postmaturitas perlu dibawah pengawasan dokter anak. Apabila janin lewat waktu, kehamilan dapat diinduksi (dilahirkan dengan rangsangan baik mekanik maupun kimiawi) sebelum keadaan janin memburuk. Hasil tes tekanan yang positif menunjukan penurunan fungsi plasenta janin, hal ini mendorong untuk melakukan sectio cesaria. Di FKUI induksi partus dilakukan dengan pemasangan dengan kateter Foley kedalam kanalis servikalis dan bila setelah 24 jam belum partus spontan dilakukan infus oksitosin dan amniotomi ; cara terakhir ini mempunyai keberhasilan 84% partus pervaginam dan hanya 4,6% yang mengalami asfiksia. Induksi oksitosin dapat dilakukan bila serviks telah matang dan bila perlu dilakukan amniotomi. Induksi persalinan tidak boleh dilakukan pada serviks yang belum matang karena hasilnya kurang baik. Prostaglandin E dapat pula dipakai untuk mematangkan serviks. Gawat janin relatif cukup banyak ( 14,7%) dan terutama terjadi pada persalinan, sehingga memerlukan pengawasan dengan kardiotokografi. Sebaiknya sectio dilakukan bila terdapat deselerasi lambat berulang, variabilitas yang abnormal ( <5 dpm), pewarnaan mekonium, dan gerakan janin yang abnormal ( <5 / 20 menit). Tentu saja pelayanan obsetri ( berat bayi > 4000 gr, kelainan posisi, partus > 18 jam) perlu diperhatiakan untuk sectio casaria. Seksio sesarea juga dilakukan bila ada tanda asfiksia intrauterine, makrosemia, kelainan letak janin, riwayat obstetric buruk, induksi gagal, infertilitas primer-skunder, ibu dengan penyakit tertentu.

15

Pertolongan persalinan di luar rumah sakit sangat berbahaya karena setiap saat memerlukan tindakan operasi. Bahayanya adalah janin dapat meninggal mendadak intrauterin, mengalami kesulitan saat pertolongan persalinan karena bahu bayi terlalu besar ( persalinan distosia bahu ). Persalinan distosia bahu sangat berbahaya untuk janin karena paksaan untuk melahirkan bayinya akan menimbulkan trauma persalinan terutama persendian lehernya. Paksaan lagi akan dapat menimbulkan bahaya kerusakan pusat vital janin yang terletak di medulla oblongata dan dapat mengakibatkan matinya janin. Kehamilan serotin merupakan indikasi untuk sectio caesarea pada primi tua terutama jika umurnya lebih dari 40 tahun. Malahan sering sectio sudah dilakukan pada minggu ke 41. Pada saat persalinan perlu diperhatikan adanya pewarnaan mekonium untuk mengambil sikap melakukan resusitasi aktif. Bila mekonium kental sebaiknya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakea. Pengelolaan kehamilan lewat waktu dimulai dari umur kehamilan 41 minggu. A. Pengelolaan Antepartum. 1. Bila sudah dipastikan umur kehamilan 41 minggu, pengelolaan tergantung dari derajat kematangan serviks. a. b. Bila serviks matang (Bishop skor 6) : Pada serviks belum matang (Bishop skor < 6), kita perlu

menilai keadaan janin lebih lanjut apabila kehamilan tidak akan diakhiri.

Pemeriksaan profil biofisik. Bila profil biofisik 0-2 atau ditemukan oligohidramnion (< 2 cm pada kantong terbesar atau indeks cairan amnion < 5) atau

16

dijumpai deselerasi variabel pada (NST), maka dilakukan induksi persalinan dengan pemantauan KTG kontinyu. Bila volume cairan amnion normal dan NST tidak reaktif, uji dengan kontraksi (CST) harus dilakukan. Bila hasil CST positif, janin perlu dilahirkan, sedangkan bila CST negatif kehamilan dibiarkan berlangsung dan penilaian janin dilakukan lagi 3 hari kemudian. Keadaan serviks (Skor Bishop) harus dinilai ulang setiap kunjungan pasien, dan kehamilan harus diakhiri bila serviks matang. Semua pasien harus diakhiri kehamilannya bila telah mencapai 308 hari (44 minggu) tanpa melihat keadaan serviks. 2. Pasien kehamilan lewat waktu dengan komplikasi seperti diabetes melitus, preeklamsi, PJT, kehamilannya harus diakhiri tanpa memandang kematangan serviks. B. Pengelolaan Intrapartum. 1. Pasien tidur miring ke sebelah kiri. 2. Pemantauan dengan KTG kontinyu. 3. Bila perlu, lakukan resusitasi intrauterin. 4. Pemantauan intrapartum dengan mempergunakan KTG dan kehadiran dokter spesialis anak mutlak diperlukan. 5. Segera setelah lahir, anak harus diperiksa akan kemungkinan hipoglikemi, hipovolemi, hipotermi dan polisitemi.

Mencegah aspirasi mekonium Apabila ditemukan cairan ketuban yang terwarnai mekonium harus segera dilakukan resusitasi.

17

KESIMPULAN

18

Kehamilan serotinus adalah kehamilan lewat waktu berarti kehamilan yang melampaui usia 292 hari ( 42 minggu ) dengan gejala kemungkinan komplikasinya yaitu oligohdramnion, janin diwarnai mekoneum, makrosemia, dan dismaturitas bayi. Mungkin mengalami hipovolemia, hipoksia, asidosis, sindraom gawat nafas, hipoglikemia dan hipofungsi adrenal. Diduga penyebabnya adalah siklus haid yang tidak diketahui pasti, kelainan pada janin (anesenefal, kelenjar adrenal janin yang fungsinya kurang baik, kelainan pertumbuhan tulang janin/osteogenesis imperfecta; atau kekurangan enzim sulfatase plasenta). Masalah yang dihadapi pada kehamilan lewat waktu meliputi : Identifkasi resiko pada janin, Waktu yang tepat untuk melakukan persalinan, dan Menentukan persalinan pervagina versus per abdomen.

Perhitungan usia kehamilan umumnya memakai rumus Naegele, dengan adanya pelayanan USG maka usia kehamilan dapat ditentukan lebih tepat. Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim. Hal ini disebabkan oleh plasenta (uri) yang memberikan asupan nutrisi dan oksigen pada janin akan menua mulai sekitar usia kehamilan 36 minggu Bahaya yang dikemukakan adalah : Kemungkinan bahaya kematian anak didalam rahim bertambah. Besarnya anak yang berlebihan dapat menimbulkann kesukaran pada persalinan. Sebaliknya anak dapat kecil disebabkan penurunan fungsi plasenta.

Tanda post term dapat dibagi dalam 3 stadium : 4. Stadium I

19

Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas. 5. Stadium II Gejala diatas disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit. 6. Stadium III Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat. Diagnosis berdasarkan : Penentuan Taksiran Persalinan. Penilaian Janin.

Penentuan keadaan janin ialah dengan cara berikut : 1. Tes tanpa tekanan (non stress test/NST ). 2. Uji dengan oksitosin (Oxyticin Challenge Test/OCT). 3. Gerakan janin. 4. Amnioskopi. 5. Menilai kematangan serviks. Keadaan yang mendukung bahwa janin masih baik memungkinkan untuk mengambil keputusan : d. Kehamilan dapat dipertahankan / persalinan ditunda 1 minggu lagi, dengan terus observasi gerakan janin dan pemeriksaan denyut jantung janin 3 hari lagi (idealnya dilakukan juga tes tanpa tekanan / nonstress test), e. Tidak mempertahankan kehamilan lebih lama lagi, langsung dilanjutkan dengan induksi persalinan, dengan pertimbangan kondisi janin yang cukup baik / optimal.

DAFTAR PUSTAKA

20

Bagian Obsetri dan Patologi Fakultas Kedokteran Universitas Pdjajaran bandung. Obsetri patologi, FK UNPAD, Bandung, hal 18-19. Prawirohardjo Sarwono. Ilmu Kebidanan. Edisi 3 Yayasan Bina Pustaka. Jakarta, 2002, hal 317-320. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obsetri dan Ginekologi RS.Dr. Hasan Sadikin, Bagian Obsetri dan Ginekologi FK UNPAD, Bandung, 2005. http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080515175440AAIznt4 didownload tanggal 9 Oktober 2008 pukul 19.30 http://drnyol.wordpress.com/ didownload tanggal 9 Oktober 2008 pukul 19.30 http://ujiakbid.wordpress.com/2008/06/15/kehamilan-ektopik/ didownload tanggal 9 Oktober 2008 pukul 19.30

21