Anda di halaman 1dari 23

1

MENGENAL BAHASA KAWI (1)


Oleh : Miswanto, S.Ag.
(Dosen STHD Klaten, Kini sedang Menempuh S2 di Unhi Denpasar)

PURWAKA
Bahasa ini merupakan yang digunakan pada kebanyakan susastra Hindu yang ada di Indonesia. Bahasa
Kawi sering diistilahkan sebagai Bahasa Parwa, karena bahasa ini banyak ditemukan pada sastra-sastra parwa di
Indonesia. Selain itu bahasa ini juga banyak digunakan untuk menulis prasasti-prasasti, lontar-lontar dan
beberapa dokumentasi pada masa sejarah kerajaan Hindu di Indonesia. Bagi seorang calon Sarjana Agama
Hindu atau Sarjana Sejarah amatlah penting untuk mendalami bahasa ini.

PENGERTIAN
Secara etimologis kata kawi berasal dari kata Sanskerta ‚kavya‛ yang artinya ‚puisi atau syair‛. Di India
pada mulanya ‚kawi‛ dikenal sebagai seorang yang mempunyai pengertian luar biasa. Seorang yang bisa melihat
jauh ke depan atau orang bijak. Kemudian dalam kesusastraan ‚kawi‛ dikenal sebagai seorang penyair; pencipta
atau pengarang.
Berdasarkan penjabaran etimologis tersebut, maka Bahasa Kawi adalah bahasanya para pengarang atau
para pujangga. Tetapi tidak semua bahasa yang dipergunakan oleh para pujangga adalah Bahasa Kawi. Bahasa
ini merupakan ragam tulis dalam bahasa Jawa Jawa Kuno. Zoetmulder menyebutkan bahwa bahasa Jawa Kuno
merupakan bahasa umum selama periode Hindu-Jawa sampai runtuhnya Majapahit. Dengan demikian bahasa
Kawi adalah bahasa Jawa Kuno yang dewasa ini hanya dapat dijumpai dalam karya sastra-karya sastra seperti :
 Naskah-naskah keagamaan (seperti Lontar-lontar Tattwa, Sasana, Niti, dsb)
 Naskah-naskah sastra (Purwa, Kakawin, Kidung, dll.)
 Naskah-naskah pengobatan (Usadha)
 Naskah-naskah pengetahuan lain (seperti lontar Tutur, dsb)
 Peninggalan-peninggalan (misalnya : prasasti, babad dan Usana)

Dari uraian tersebut maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa bahasa Kawi adalah bahasa Jawa Kuno,
ragam tulis yang dipergunakan oleh para Kawi (pengarang) untuk menampung buah pikirannya.

SEJARAH BAHASA KAWI


Zoetmulder (1994 : 3) menyebutkan bahwa bahasa Kawi dikenal sejak tahun 726 Saka atau 804 Masehi.
Hal ini ditandai dengan adanya prasasti Sukabumi yang menyebutkan penanggalan Saka 726, bulan Caitra, pada
hari kesebelan paro terang, pada hari Aryang (hari kedua dalam Sadwara), Wage (hari keempat dalam
Pancawara) dan Saniscara (hari ketujuh dalam Saptawara). Hari tersebut bertepatan dengan tanggal 25 Maret
804 M.
Poerbatjaraka dalam Kepustakaan Djawa menyebutkan bahwa naskah Kawi yang tertua adalah naskah
Candrakarana. Naskah ini berisikan tentang pelajaran bagaimana membuat sebuah kekawin (syair Jawa Kuno)
dan daftar kata-kata Kawi (semacam kamus Kawi). Disebut naskah paling tua, karena di dalamnya disebut-sebut
seorang raja keturunan wangsa Syailendra, kira-kira tahun 700 Saka atau 778 M. Berdasarkan gaya bahasa,
tahun penulisan dan nama raja yang disebut dalam naskah yang diteliti itu, Poerbatjaraka kemudian
mengelompokkan sastra Kawi menjadi tiga bagian, yakni :
 Kitab-kitab Jawa Kuno yang tergolong tua
Naskah-naskah yang tergolong kelompok ini ada 2 macam yaitu yang pertama berbentuk prosa (parwa) dan
berbentuk puisi (kekawin). Naskah yang tergolong parwa diantaranya : Candrakarana, Sanghyang
Kamahayanikan, Brahmaóða Puràna, Agastya Parwa, Uttarakanda, Wirataparwa, Udyogaparwa,
Bhismaparwa, Asramawasanaparwa, Mosalaparwa, Prasthanikaparwa, Swargarohanaparwa dan
Kunjarakarna.
Naskah yang tergolong puisi adalah Kekawin Ràmàyana.

 Kitab-kitab yang tergolong berkembang


Kitab kelompok ini lahir pada abad ke-11 sampai dengan abad ke-13. Misalnya : Àrjunawiwaha, Kåûóàyana,
Sumanasantaka, Smaradahana, Bhomakawya, Hariwangsa, Gatotkacasraya.

 Kitab-kitab Jawa Kuno yang tergolong baru


Kitab yang digubah dari menjelang abad ke-14 sampai runtuhnya Majapahit. Karya sastra itu adalah
kekawin : Brahmaóðapuràna, Kunjarakarna, Nagarakåtàgama, Àrjunawijaya, Parthayajña, Sutasoma,
Nìtiúastra, Nirathaprakåta, Dharmasunya dan Hariúraya.

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


2

Sementara Wayan Simpen AB. dalam Riwayat Kesusasteraan Jawa Kuna mengklasifikasikan
kesusasteraan Kawi atas lima bagian ringkasan sebagai berikut:
 Zaman sebelum abad ke-9
Zaman ini adalah zaman pra sejarah sastra Kawi. Kehidupan bersastra pada jaman sebelum abad ke-9 diduga
zaman sastra Jawa Kuno lisan. Cerita-cerita diwariskan secara lisan.
 Zaman Mataram
Zaman ini dimulai dari abad ke-9 sampai abad ke-10, yaitu pada masa pemerintahan mPu Sindok (925-962
M) di Matarm sampai raja Dharmawangsa Teguh (991-1007 M). Karya sastra yang lahir pada masa ini
adalah Kekawin Ràmàyana.
 Zaman Kediri
Dimulai sejak pemerintahan Erlangga (1019-1049 M) hingga pemerintahan Kertanegara (1268-1292 M).
Karya sastra zaman ini tergolong karya bertembang.
 Zaman Majapahit I
Periode ini diawali sejak lahirnya kerajaan Majapahit (1293 M) sampai puncak keemasan Majapahit. Karya
sastra yang lahir pada masa ini adalah Brahmaóðapuràna, Kunjarakarna, Àrjunawijaya, Parthayajña,
Sutasoma, dan Nagarakåtàgama
 Zaman Majapahit II
Zaman ini berawal dari bertahtanya Wikramawardhana (1389-1428 M) sampai runtuhnya Majapahit.
Adapun karya yang lahir pada masa ini adalah : Nìtiúastra, Nirathaprakåta, Dharmasunya dan Hariúraya.
Selanjutnya dalam bidang bahasa, bahasa Kawi banyak berbaur dengan bahasa Bali dan membentuk sastra
Kidung. Dari pembauran inilah diperkirakan memunculkan istilah Kawi-Bali (Jawa Tengahan/Bali Tengahan).
Model bahasa ini dapat ditemukan dalam naskah-naskah Tutur, Usadha dan Babad. Zoetmulder menyebutkan
bahwa sastra Kidung adalah kelanjutan dari bentuk sastra Kawi yang berasal dari Jawa.
Di Jawa sendiri semenjak kedatangan Islam, bahasa Kawi (Jawa Kuno) berkembang menurut 2 arah yang
berlainan. Di satu sisi bahasa Jawa Pertengahan yang masih memperlihatkan ciri erat antara Budaya Hindu Jawa-
Bali. Di sisi lain bahasa Jawa Kuno pun berkembang menjadi bahasa Jawa Modern dimana pengaruh bahasa
Sanskerta banyak digantikan oleh bahasa Arab.

PENGARUH BAHASA SANSKERTA TERHADAP BAHASA KAWI


Pengaruh bahasa Sanskerta sangat dominant sekali terhadap bahasa Kawi. Hampir 80 % kosakata Kawi
berasal dari kata atau urat kata Sanskerta. Dalam beberapa contoh berikut tampak pengaruh bahasa Sankerta
dalam bahasa Kawi.
a. Pada salah satu bait dalam Prasasti Kedukan Bukit berbunyi, ‚Swastiúri sakawarsatita 605 ekadasi
úuklapakûa wulan waisakha dàpunta hyang nayik di samwau manlap siddhayatra di saptami úuklapakûa‛.
b. Pada Prasasti Sukabumi tertulis, ‚Swasti sakawarsatita 726 caitra masa tihti ekadasi úuklapakûa wara
ha,wa,ca, tatka ia bhagawanta bari i wulanggi sumaksayakan simaniran mula dawu‛

Menurut Agastia (1994 : 12) pengaruh Sanskerta terhadap sastra Jawa Kuno sangat kentara dengan adanya
proyek yang ia sebut sebagai mangjawakën byasamata (membahasajawakan ajaran-ajaran Bhagawan Byasa).
Hal ini selaras dengan yang tersurat dalam Wirataparwa. Dalam salah satu baitnya disebutkan, ‚sira ta úri
dharmawangsa wakën byasamata‛ (Beliau Sri Dharmawangsa membahasajawakan buah karya Bhagawan
Byasa).
Jika dikaji lebih lanjut, pengaruh tersebut dapat dikelompokkan menjadi ada 2 macam yaitu :
a. Pengaruh formal
Pengaruh ini adalah pengaruh bahasa Sanskerta secara langsung, yaitu dangkatnya kata-kata Sanskerta ke
dalam bahasa Kawi. Sebagi contoh jika diamati, Kamus Jawa Kuno-Indonesia yang ditulis oleh L.
Mardiwarsito, banyak memakai tanda (S) yang artinya kata bersangkutan berasal dari bahasa Sanskerta.
Coba anda lihat kutipan di bawah ini :
abdhi (S) = samudra; laut
abha (S) = keindahan
abhicara (S) = tingkah laku; tindak-tanduk; kelakuan (baik), dst.

b. Pengaruh non formal


Pengaruh ini adalah pengaruh isi kontekstual kata-kata pinjaman tersebut. Pengaruh ini berkaitan dengan
agama dan kebudayaan Hindu. Sebagai contoh dalam bidang sastra, epos Ràmàyana dan Màhabhàrata yang
dari India mengalami akuturasi budaya ketika masuk ke Indonesia menjadi Kekawin Ràmàyana dan
Bhàratayuddha. Contoh :
Kata hima di India diartikan embun, cuaca penuh es; salju. Di Jawa keadaan seperti itu tidak pernah terjadi
akhirnya kata hima diartikan sebagai kabut, dst.

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


3

KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA KAWI


‚Barang siapa hendak memahami agama, seni, sastra ataupun kehidupan sosial budaya India termasuk
perkembangan bahasa-bahasanya (juga bahasa yang tidak turun dari bahasa Sanskerta), tidak dapat tidak harus
belajar bahasa Sanskerta‛. Demikian pidato yang pernah disampaikan oleh Prof. Dr. A. Teeuw di UI tanggal 12
Juli 1975. Makna pidato itu dapat pula diperuntukkan bagi yang hendak memahami, seni, sastra dan budaya
Indonesia secara menyeluruh mau tidak mau perlu memahami bahasa Kawi. Hal ini disebabkan hampir sebagian
besar referensi yang menjurus ke arah itu memakai bahasa Kawi dan Jawa Tengahan.
A Teeuw menegaskan kembali bahwa : 1) bahasa Kawi merupakan bahasa pengantar dari kebudayaan pra
modern Indonesia yang penting. 2) Dalam keseluruhan bahasa-bahasa Indonesia, bahasa Kawi merupakan ciri
khas. 3) Dari segi sejarah perkembangan bahasa, bahasa Jawa mempunyai kekayaan bahan yang melingkupi
jangka waktu tak kurang dari seribu tahun. 4) Dengan memahami bahasa Kawi, akan diperoleh pemahaman yang
sehat mengenai hubungan dan perbandingan dalam rumpun bahasa Austronesia. 5) Bahasa Kawi telah terbukti
maha penting dalam penelitian sastra dan sastra Kawi terbukti unggul pada masa sastra pra modern Indonesia.
6) Sastra Kawi juga merupakan sumber dan tempat asal dari banyak hasil sastra nusantara lain seperti: Bali,
Jawa, Sunda, Sasak, Melayu, dll. 7) Bahasa dan sastra Kawi adalah pintu utama untuk pengaruh asing yang
masuk ke Indonesia zaman pra Islam dan juga merupakan pintu ke luar untuk kebudayaan di masa Majapahit.
Akhirnya dapat dipahami kedudukan dan fungsi bahasa Kawi sebagai berikut.
Kedudukan bahasa kawi adalah bahasa documenter Indonesia yang memiliki materi terkaya dan bernilai luhur.
Bagi umat Hindu di Indonesia bahasa Kawi adalah bahasa sumber kedua yang menyimpan materi agama Hindu.
Fungsi bahasa Kawi adalah sebagai kunci untuk mengungkapkan kebudayaan bangsa Indonesia pada masa pra-
Islam. Di samping itu fungsi bahasa Kawi adalah untuk menunjang : penelitian sejarah bahasa-bahasa daerah
Indonesia; usaha mengembangkan bahasa Indonesia secara sadar dan aktif; pengembangan sastra daerah dan
sastra Indonesia.

TATA BAHASA KAWI


Tata bahasa pada umumnya dapat berupa fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Berikut ini bagan
yang menunjukkan hubungan antara tata bahasa dengan unsur-unsur tersebut.

Tidak bermakna, tetapi berfungsi membedakan arti

Bermakna
Makna Gramatikal

Sebagian bermakna

Makna leksikon

1. Fonologi Bahasa Kawi


Secara etimologis fonologi berasal dari dua kata Latin yaitu phone yang berarti ‚bunyi‛ dan logos yang
berarti ‚bunyi‛. Jadi fonologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu..
Fonologi juga merupakan bagian terkecil dari tata bahasa.
Tetapi ada pula yang mengatakan fonologi di luar tata bahasa. Jika kita mengkaji lebih dalam maka kita
dapat mengingat sekilas pengertian bahasa menurut Jendra (1986 : 2) ‚suatu sistem simbol bunyi bebas yang
diucapkan dalam atau melalui mulut manusia, yang disetujui dan dipelajari bersama oleh masyarakat
pendukungnya, untuk dipergunakan sebagai alat kerjasama atau berhubungan‛.
Dari pengertian tersebut, maka bahasa terdiri atas dua unsur yakni : bunyi dan makna. Kedua unsur ini
tidak bisa saling meniadakan. Bunyi tanpa makna adalah suatu kegaduhan, misalnya bunyi desiran angin, ember
jatuh dll. Sebaliknya makna yang tidak diawali oleh bunyi, bukan pula bernama bahasa.
Fonologi bahasa Kawi yang dikenal sekarang hanyalah dari bahan-bahan tertulis. Oleh karena itu, fonologi
bahasa Kawi secara positif tidak diketahui bagaimana ucapan kata-katanya atau ucapan kalimat bahasa itu.

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


4

Sementara untuk ucapannya biasanya diperbandingkan dengan bahasa Sanskerta dan dialek-dialek bahasa Jawa
yang masih ada sekarang.

2. Sistem Ejaan Bahasa Kawi


Segala macam lambang untuk menuliskan bahasa disebut sebagai huruf atau aksara. Secara otomatis,
huruf atau aksara itu merupakan lambang atau gambaran dari bunyi. Sedangkan rentetan dari beberapa huruf
disebut sebagai abjad.
Sebagaimana telah dijelaskan di muka bahwa bahasa Kawi sangat dipengaruhi oleh bahasa Sanskerta.
Dalam hal ejaan fonemnya bahasa Kawi ternyata juga banyak mendapat pengaruh bahasa Sanskerta. Sebagai
contoh vokal panjang/dìrga/diphthong yang dilambangkan dengan huruf à, ì, ù; kemudian bunyi beraspirat (bh,
dh, kh, gh, ph, ch, th, dsb) serta bunyi desis (ú, û, s).
Sementara itu untuk Abjad Kawi banyak ditulis dengan akûara Jawa ataupun aksara Bali. Dalam sebagian
besar naskah di Bali abjad Kawi banyak ditulis dalam aksara Bali, kecuali lontar-lontar kuno asli peninggalan
Hindu Jawa yang masih bisa diselamatkan. Bentuk antara aksara Jawa dan Bali sendiri tidak jauh berbeda.
Aksara atau Abjad ini juga sebagai lambang dari ejaan fonem bahasa Kawi.
Sebagaimana bahasa Sanskerta, ejaan fonem bahasa Kawi dibagi atas dua golongan besar yakni ejaan
fonem vokal (akûara swàra) dan ejaan fonem konsonan (akûara wyañjana).
Berikut ini ikhtisar penggolongannya serta transkripsinya dalam huruf latin.
2.1. Ejaan Fonem Vokal (Akûara Swàra)
Ejaan fonem vokal dalam bahasa Kawi berjumlah 11. Akûara Swàra dalam bahasa Kawi dapat
dikelompokkan menjadi 3, yakni: vokal tunggal, vokal rangkap dan vokal perubahan.

a. Akûara Swàra Tunggal


Akûara swàra tunggal ada yang dibaca pendek (håûva) dan ada yang dibaca panjang (dìrgha). Berikut
jenis beserta transkripsi huruf vokal tunggal dalam abjad Kawi (Jawa dan Bali).

Vokal Tunggal Beserta Pengangge Aksara


Dasar
No. Pendek Panjang
Ucapan
Pengangge Pengangge
Jawa Bali Latin Jawa Bali Latin
Jawa Bali Jawa Bali
Guttural …
1 A À
(Kaóþhya)
Palatal … …
2 I Ì
(Tàlavya)
Labial … …
3 U Ù
(Oûþhya)
Lingual … …
4 Å Æ
(Murdhanya)
Dental … …
5 Í Í
(Daóthya)

b. Akûara Swàra Rangkap (Samdhyakûara)


Akûara swàra rangkap disebut juga diphthong. Ejaan fonem vokal jenis ini semuanya dibaca panjang.
Adapun yang termasuk vokal diphthong pada abjad Sanskerta adalah sebagai berikut.

Pengangge
No. Dasar Ucapan Jawa Bali Latin
Jawa Bali

1 Gutturo-palatal … É

… AI
2 Gutturo-labial
… O

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


5

… Ö

c. Akûara Swàra Perubahan


Yang termasuk Akûara swàra perubahan pada abjad Kawi (Jawa dan Bali) adalah:
á =… (Wighnyan -Jawa) (Bisah-Bali)
2.2. Konsonan (Vyañjana)
Konsonan dalam abjad Kawi berjumlah 33 buah. Konon 33 huruf tersebut merupakan aksara suci dari 33
Dewa yang disebutkan dalam Veda. Oleh karenanya para pendeta baik di India maupun di Indonesia
menggunakan 33 konsonan tersebut sebagai Vijaksara yang diucapkan pada waktu mereka melaksanakan
puja. Dalam Ajaran Tantra, Vijaksara itu dituliskan dalam bentuk Yantra atau aksara Suci yang ditulis dalam
Aksara Swalalita atau Modre (Jawa/Bali).
Ketigapuluhtiga konsonan abjad Devanàgarì tersebut dibedakan atas : Pañcavalimukha, Semi-vokal, Sibilant
dan Aspirat.
Berikut beberapa penjelasan mengenai kelompok konsonan tersebut.
Menurut cara bacanya atau bunyinya, keempat macam konsonan atau aksara Vyañjana tersebut juga
dibedakan menjadi :
a. Guttural, disebut juga ‚kaóþhya‛. Bunyi ini dihasilkan dengan cara mendekatkan lidah kepada guttur
(kaóþha), yakni bagian langit-langit kerongkongan.
b. Palatal, disebut juga ‚talavya‛. Bunyi ini dihasilkan dengan cara mendekatkan lidah pada palatun (talu)
atau tekak (langit-langit lembut).
c. Lingual atau cerebral, yang disebut juga ‚mùrdhanya‛. Kelompok ini dibunyikan atau dibaca dengan
cara menggetarkan lidah (lingua) di dekat langit-langit keras (cerebrum atau mùrdha) ataupun dengan
merapatkan lidah pada langit-langit keras.
d. Dental, yang disebut juga ‚danthya‛. Kelompok ini dibaca dengan cara mendekatkan gigi (denta atau
dantha) atas dan gigi bawah sebelum membunyikannya.
e. Labial, yang disebut juga ‚oûþhya‛. Bunyi pada kelompok ini dihasilkan dengan cara mendekatkan
kedua bibir (labium atau oûþha) atas dan bawah.
Untuk aksara desah ‚Ha‛ terdapat pengecualian, karena aksara ini tidak masuk dalam 5 kelompok tersebut di
atas. Aksara ini berdiri sendiri sebagai bunyi desah.
Berikut pengelompokkan Vyañjana dalam abjad Devanàgarì dan Latin.
Aspirat

Pañcavalimukha
Sibilan
Varga

Dasar
vokal
Semi

No.
Ucapan
Tajam Lembut Nasal

Jawa
Guttural (Kaóþhya)

… ... … … … …

Bali

Latin Ka Kha Ga Gha Òa Ha


(Tàlavya)
Palatal

2 Jawa
… … … … …

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


6

Bali

Latin Ca Cha Ja Jha Ña Ya Úa

Jawa
Lingual (Murdhanya)

… … … … … … …

Bali

Latin Þa Þha Ða Ðha Óa Ra Ûa

Jawa
… … … … … … …
(Danthya)
Dental

Bali

Latin Ta Tha Da Dha Na La Sa

Jawa
Labial (Oûþhya)

… … … … … …

Bali

Latin Pa Pha Ba Bha Ma Wa

2.3. Angka
Masing-masing angka dalam abjad Kawi (Bali & Jawa) berbentuk sebagai berikut:

Angka dalam Aksara Jawa, Bali dan Latin

Jawa

Bali

Latin 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0
Cara penulisannya yakni dengan mensejajarkannya secara berturut-turut kea rah kanan. Cara ini berasal dari
India kemudian diperkenalkan oleh Bangsa Arab ke Eropa. Oleh karenanya Orang Eropa menyebutnya
sebagai sistem Arab. Adapun contoh penulisannya adalah sebagai berikut

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


7

Jawa

Bali
Latin 1981 2006 20.283 dan seterusnya.
2.4. Contoh Cara Baca
a. Kelompok Vokal
a seperti a dalam kata pada, misalnya hana
à seperti a dalam kata gelar (dibaca dua kali lebih panjang), misalnya àdi
i seperti i dalam kata detik, misalnya kari
ì seperti i dalam kata pasir (dibaca dua kali lebih panjang), misalnya úìla
u seperti u dalam kata aduk, misalnya guwug
ù seperti u dalam kata kasur (dibaca dua kali lebih panjang), misalnya kurù
ë seperti e dalam kata gedung, misalnya grëmët
é seperti e dalam kata jahe, misalnya ménak
ai seperti a dalam kata ramai, misalnya maitreya
o seperti o dalam kata kota, misalnya odara
ö seperti o dalam kata kota, misalnya langö
å seperti r dalam kata ria, misalnya åddha
í seperti lri dalam kata polri, misalnya kíipta
á seperti h dalam kata duh

b. Kelompok Konsonan
K seperti k dalam kata keras
Kh seperti k diikuti dengan h yang dihembus di belakangnya
G seperti g dalam kata garuda
Gh seperti g diikuti dengan h yang dihembus di belakangnya
Ò seperti ng dalam kata ngantuk
C seperti c dalam kata catur
Ch seperti c diikuti dengan h yang dihembus di belakangnya
J seperti j dalam kata raja
Jh seperti diikuti dengan h yang dihembus di belakangnya
Ñ seperti ny dalam kata nyamuk
Þ seperti þ dalam kata tutuk (dalam bahasa Jawa, yang berarti memukul)
Þh seperti þ diikuti dengan h yang dihembus di belakangnya
Ð seperti ð dalam kata dahar (dalam bahasa Jawa, yang berarti makan)
Ðh seperti ð diikuti dengan h yang dihembus di belakangnya
Ó seperti rna (siap membaca r, kemudian dikuti óa )
T seperti t dalam kata tato
Th seperti t diikuti dengan h yang dihembus di belakangnya
D seperti d dalam kata dodol (dalam bahasa Jawa, yang berarti menjual)
Dh seperti d diikuti dengan h yang dihembus di belakangnya
N seperti n dalam kata nanas (daun lidah menyentuh kaki gigi atas)
P seperti p dalam kata pita
Ph seperti p diikuti dengan h yang dihembus di belakangnya
B seperti b dalam kata baris
Bh seperti b diikuti dengan h yang dihembus di belakangnya
M seperti m dalam kata makan
Y seperti y dalam kata ya
R seperti r dalam kata rakit
L seperti l dalam kata laut
V seperti w dalam kata waktu
Ú seperti s dalam kata syarat
Û seperti s dalam kata shift (bahasa Inggris)
S seperti s dalam kata sabun
H seperti h dalam kata hati

2.5. Distribusi Fonem Vokal dan Konsonan


Distribusi fonem adalah penyebaran fonem dalam suatu kata. Maksudnya apakah fonem tersebut dapat
menduduki posisi awal, tengah atau akhir.
a. Distribusi Fonem Vokal
Contoh perhatikan fonem vokal yang bercetak tebal di bawah ini.

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


8

Posisi
Fonem
Awal Tengah Akhir
a acala ‘gunung’ paran ‘tujuan’ eka ‘satu’
à àkasa ‘langit’ upàya ‘akal’ ulà ‘ular’
i ikan ‘ikan’ igit ‘gigit’ àdi ‘pertama
ì ìr ‘tarik’ tìra ‘sepi’ nadì ‘sungai’
u udan ‘hujan’ kusuma ‘bunga’ hayu ‘cantik’
ù ùrddha ‘tinggi’ ahùti ‘korban’ ilù ‘ikut’
å/rë rës ‘takut’ parëng ‘bersama’ -
å/rö röp ‘diam’ - werö ‘mabuk’
í/lë lëpët ‘salah’ lalër ‘lalat’ dëlë ‘diserang dari depan’
í/lö lök ‘susah’ - lëlö
e emel ‘kotor’ desa ‘tempat’ ike ‘ini’
ai airlangga ‘airlangga’ daiwa ‘takdir’ wai ‘air’
o olan ‘ulat’ lobha ‘loba’ ilo ‘lihat’
au ausadha ‘obat’ kaurawa ‘kaurawa’
ö öb ‘naung’ iwöng ‘kacau’ rëngö ‘dengar’
ë ënah ‘tempat’ ibëk ‘penuh’ pare ‘dekat’
Dengan melihat distribusi fonem vokal tersebut, maka dapat disimpulkan
 Fonem-fonem yang dapat menduduki posisi awal, tengah dan akhir adalah : a, à, i, ì, u, ù, í,e, ai, o, ö
dan ë
 Fonem-fonem yang hanya dapat menduduki posisi awal dan tengah saja adalah : å/rë dan au
 Fonem yang hanya dapat menduduki posisi awal dan akhir saja adalah : å/rö dan í/lö
b. Distribusi Fonem Konsonan
Contoh perhatikan fonem vokal yang bercetak tebal di bawah ini.
Posisi
Fonem
Awal Tengah Akhir
k kadi ‘sebagai’ mekar ‘mekar’ anak ‘anak’
kh khadga ‘pedang’ sukha ‘senang’ -
g gading ‘kuning’ ràga ‘nafsu’ gëdog ‘tumbuk’
gh ghosana ‘pengumuman’ sanggha ‘orang banyak’ -
nga ngaran ‘nama’ sangka ‘asal’ datëng ‘datang’
c catur ‘empat’ cacing ‘cacing’ -
ch chaya ‘cahaya’ seccha ‘enak’ -
j jagat ‘dunia’ pañji ‘bendera’ -
jh jhasa ‘ikan’ - -
ñ ñamut ‘kabur’ pañca ‘lima’ -
þ þika ‘huruf’ nasþa ‘gaib’ -
þh þhika ‘huruf’ nasþha ‘gaib’ -
ð ðadat ‘robek’ jaða ‘bodoh’ -
ðh ðhara ‘gadis’ muðha ‘bodoh’ -
ó - daóða ‘tongkat’ -
t tabeh ‘tabuh’ moktah ‘moksa’ dahat ‘sangat’
th thàni ‘pertanian’ natha ‘raja’ -
d daga ‘berontak’ nada ‘suara’ lad ‘iris’
dh dhana ‘uang’ yudha ‘perang’ -
n nadì ‘sungai’ nanà ‘hancur’ parawan ‘perawan’
p pawana ‘angin’ papag ‘songsong’ landep ‘tajam’
ph phala ‘buah’ nisphala ‘sia-sia’ -
b bala ‘kekuatan’ saban ‘dahulu’ halib ‘mustahil’
bh bhaga ‘bagian’ sabha ‘tempat’ -
m mata ‘mata’ parama ‘tertinggi’ padem ‘mati’
y yasa ‘jasa’ haywa ‘jangan’ apuy ‘api’
r rabi ‘istri’ urma ‘gelombang’ ujar ‘kata’
l laki ‘laki-laki’ kùla ‘tepi’ rontal ‘lontar’
w wukir ‘gunung’ wawa ‘bawa’ -
ú úata ‘seratus’ piúuna ‘fitnah’ -
û ûad ‘enam’ akûara ‘huruf’ -
s saha ‘dengan’ pisuh ‘memaki’ -
h haji ‘raja’ mahisa ‘kerbau’ harih ‘bujuk’

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


9

Dengan melihat distribusi fonem konsonan tersebut, maka dapat disimpulkan :


 Fonem-fonem yang dapat menduduki posisi awal, tengah dan akhir adalah : k, g, ng, t, d, n, p, b, m,
y, r, l, s dan h.
 Fonem-fonem yang hanya dapat menduduki posisi awal dan tengah saja adalah : kh, gh, c, ch, j, ñ, þ
(þh), ð (ðh), th, dh, ph, bh, w, ú dan û.
 Fonem yang tidak dapat menduduki posisi awal adalah : ó
 Fonem yang hanya dapat menduduki posisi awal saja adalah : jh
2.6. Gugus Konsonan
Gugus konsonan adalah kosonan yang dapat bergugus/berkelompok. Berikut beberapa macam gugus
konsonan:
a. Gugus yang terdiri dari dua konsonan dalam satu pola suku kata
 Gugus konsonan /gl, kl, sl, tl, wl, bl, ml/
Contoh : glar (benteng), klab (berkibar), sla (seling), tlës (baru saja mencuri), wlas (belas kasihan),
blak (memar), mlek (memenuhi).
 Gugus konsonan /dr, bhr, br, gr, hr, jr, kr, pr, sr, úr, tr, wr/
Contoh : drës (cepat), bhra (terang), bras (beras), grah (gerah), hruk (teriak), jro (dalam), krëm
(keram), prah (meluap), srët (sendat), úrì (dewi, kesejahteraan), tri (tiga), wruh (tahu).
 Gugus konsonan /by, dy, gy, hy, ky, ly, ny, sy, ty, wy/
Contoh : byar (terbuka), dyun (periuk), gya (segera), hyang (dewa), jyab (kelas), lyan (berbeda), nyu
(kelapa), syuk (segera), tyup (tiup), wyah (saluran)
 Gugus konsonan /dw,dhw, kw, lw, mw, nw, ngw, rw, sw, úw, tw, ww, yw/
Contoh : dwà (bohong), dhwas (hancur), kwa (demikian), lwe (luas), mwang (dan), nwam (muda),
rwa (dua), swa (sendiri), úwa (anjing), twak (tuak), wwat (berat), ywa (kemudian).
 Gugus konsonan selain daripada konsonan /l, r, y, w/ yaitu : /ngg, ngh, ngw, tk, tl, wk, wl/
Contoh : ndi (di mana), ngke (di sini), nggan (mungkin), nghel (payah), ngwe (tengah).
b. Gugus yang terdiri dari tiga konsonan dalam satu pola suku kata
Contoh : stri (istri), kryan (sang putri).
2.7. Metatesis
Secara etimologis, metatesis berasal dari kata ‚meta‛ yang berarti ‚perubahan‛ dan ‚tithema‛ yang berarti
‚tempat‛. Metatesis adalah gejala perubahan bunyi bahasa akibat pertukaran atau perloncatan bunyi satu
dengan yang lain dalam satu kata dengan tidak merubah arti.
Dari segi perubahan waktu, metatesis bahasa Kawi dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Metatesis Sinkronis
Metatesis sinkronis adalah perubahan bunyi dengan cara pertukaran atau perloncatan bunyi dalam suatu
kata pada kurun waktu tertentu (sezaman)
Contoh : lumaku  mlaku
lumumpat  mlumpat
lumampah  mlampah
Pada kata dasar yang diawali dengan huruf /l/ mendapat infiks um sering terjadi metatesis
b. Metatesis Diakronis
Metatesis diakronis adalah perubahan bunyi dengan cara pertukaran atau perloncatan bunyi dalam suatu
kata yang terjadi pada masa lampau hingga sekarang (melalui proses sejarah).
 Perubahan bunyi /ë/ dan /ö/ menjadi /u/
Contoh : pëhan (Kawi)  puhan (Jawa Sekarang) > ‘air susu’
rëngö (Kawi)  rungu (Jawa Sekarang) > ‘dengar’
wërö (Kawi)  wuru (Jawa Sekarang) > ‘mabuk’
asëh (Kawi)  wasuh (Jawa Sekarang) > ‘cuci’
wërëh (Kawi)  wuruh (Jawa Sekarang) > ‘buih’
 Perubahan bunyi /ya/ menjadi /e/
Contoh : ramya (Kawi)  rame (Jawa Sekarang) > ‘ramai’
kagyat (Kawi)  kaget (Jawa Sekarang) > ‘kaget’
tampyal (Kawi)  tampel (Jawa Sekarang) > ‘lekat’
kulyat (Kawi)  kulet (Jawa Sekarang) > ‘menggeliat’
 Perubahan bunyi /ö/ menjadi /ë/
Contoh : göng (Kawi)  gëng (Jawa Sekarang) > ‘besar’
jöng (Kawi)  jëng (Jawa Sekarang) > ‘kaki’
 Perubahan bunyi /ö/ menjadi /o/
Contoh : malölö (Kawi)  malolo (Jawa Sekarang) > ‘membelalak’

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


10

 Perubahan bunyi /wa/ menjadi /o/


Contoh : bwat (Kawi)  bot (Jawa Sekarang) > ‘berat’
twah (Kawi)  toh (Jawa Sekarang) > ‘tanda hitam’
karwa (Kawi)  karo (Jawa Sekarang) > ‘kedua’
kaywan (Kawi)  kayon (Jawa Sekarang) > ‘kayu’
 Perubahan bunyi /kû/ menjadi /s/
Contoh : kûtera (Kawi)  setra (Jawa Sekarang) > ‘tegal’
sàkûàt (Kawi)  sasat (Jawa Sekarang) > ‘nyata’
rùkûak (Kawi)  rusak (Jawa Sekarang) > ‘rusak’
kûiti (Kawi)  siti (Jawa Sekarang) > ‘tanah’
 Perubahan bunyi /ngh/ menjadi /ng/
Contoh : tinghali (Kawi)  tingali (Jawa Sekarang) > ‘lihat’
singha (Kawi)  singa (Jawa Sekarang) > ‘singa’
tanghi (Kawi)  tangi (Jawa Sekarang) > ‘bangun’
singhit (Kawi)  singit (Jawa Sekarang) > ‘angket’
 Perubahan bunyi /w/ menjadi /b/
Contoh : wagus (Kawi)  bagus (Jawa Sekarang) > ‘bagus’
wala (Kawi)  bala (Jawa Sekarang) > ‘tentara’
wuhaya (Kawi)  buaya (Jawa Sekarang) > ‘buaya’
watu (Kawi)  batu (Jawa Sekarang) > ‘batu’
wani (Kawi)  bani (Jawa Sekarang) > ‘berani’
 Perubahan bunyi /w/ menjadi /y/
Contoh : twas (Kawi)  tyas (Jawa Sekarang) > ‘hati’
wadwa (Kawi)  wadya (Jawa Sekarang) > ‘prajurit’
tandwa (Kawi)  tandya (Jawa Sekarang) > ‘tanda’
2.8. Pola Persukuan
Deretan fonem yang membentuk suku kata atau kata dalam tiap bahasa tidaklah selalu sama. Dalam bahasa
Kawi deretan fonem yang membentuk stuktur baris ke samping dalam suku kata tidak begitu rumit. Stuktur
fonem dalam bahasa Kawi dalam persukuannya dapat dirumuskan dengan pola sebagai berikut:
a. V (Pola suku kata yang hanya terdiri atas satu Vokal)
Contoh : i-kang (itu) i-ki (ini) u-bub (puput)
a-lap (ambil) e-ka (satu)
b. K (Pola suku kata yang hanya terdiri atas satu Konsonan)
Contoh : n-‘partikel penentu’
c. VK (Pola suku kata yang terdiri atas Vokal dan Konsonan)
Contoh : ar-ti (arti) uñ-jal (bawa) ing (pada)
d. KV (Pola suku kata yang terdiri atas Konsonan-Vokal-Konsonan)
Contoh : wa-tu (batu) ma-ti (mati) si (si)
e. KVK (Pola suku kata yang terdiri atas Kosonan-Vokal-Konsonan)
Contoh : sung (beri) dhang (partikel penentu orang)
a-lap (ambil)
f. KVV (Pola suku kata yang terdiri atas Kosonan-Vokal-Vokal)
Contoh : lu-luy (berani) wang-kay (bangkai) a-puy (api)
g. KKV (Pola suku kata yang terdiri atas Kosonan-Konsonan-Vokal)
Contoh : ngke (sini) gya (cepat) kûi-ti (tanah)
h. KKVK (Pola suku kata yang terdiri atas Kosonan-Konsonan-Vokal-Konsonan)
Contoh : wruh (tahu) twas (hati) lwah (sungai)
i. KKKV (Pola suku kata yang terdiri atas Kosonan-Konsonan-Konsonan-Vokal)
Contoh : stri (istri)
j. KKKVK ((Pola suku kata yang terdiri atas Kosonan-Konsonan- Konsonan –Vokal- Konsonan)
Contoh : ra-kryan (suatu gelar kebangsawanan)

2.9. Hukum Sandhi


Sandhi dalam bahasa Sanskerta berarti ‚hubungan sendi‛. Dalam tata bahasa Kawi, yang sangat
terpengaruh oleh bahasa Sanskerta, sandhi berarti menghubungkan dua buah perkataan atau lebih menjadi satu,
terutama vokal-vokal pada perkataan-perkataan tersebut.

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


11

Hukum Sandhi merupakan aturan-aturan sandhi yang sudah ditetapkan atau dibakukan. Oleh karenanya
sastrawan Jawa Kuno atau seorang Kawi Sastra tidak bisa seenaknya dalam menggunakan tata bahasa yang ada
kaitannya dengan Sandhi tersebut. Aturan-aturan dalam hukum sandhi tersebut adalah :
 Dua bunyi yang sama (a, i dan u) menjadu satu yang panjang (dirgha/diphtong)
Contoh: a+a=a i+i=ì u+u=ù
a+à=à i+ì=ì u+ù=ù
à+à=à ì+ì=ì ù+ù=ù
 Bunyi ë selalu ë hilang dan tidak mengubah vokal yang ada di mukanya, misalnya :
a+ë =a  wawa + ën = wawan
i+ë =i  wëli + ën = wëlin
u+ë =u  tuhu + ën = tuhun
ö+ë =ö  rëngö + ën = rëngön
 Bunyi a jika diikuti bunyi lain daripada ë menjadi :
a+u =o  ma + ulah = molah
a+i =e  bhaþara + indra = bhaþarendra
wruha + ing = wruheng
 Bunyi i, u, ö dan o jika diikuti lain daripada bunyi ë menjadi :
i + a = ya  ananghi + a = ananghya
u + a = wa  tuhu + a = tuhwa
u + i = wi  sihku + iriya = sihkuwiriya
o + a = wa  mangilo + a = mangilwa
ö + a = wa  karëngo + an = karëngwan

3. Morfologi Bahasa Kawi


3.1. Kata dan Jenis Kata Bahasa Kawi
Morfologi bahasa Kawi adalah bagian dari tata bahasa Kawi yang membicarakan seluk-beluk bentuk kata.
Sebagai satuan gramatis, kata terdiri atas satu atau beberapa morfem. Morfem adalah kesatuan yang ikut serta
dalam pembentukan kata yang dapat dibedakan artinya. Gabungan morfem yang dapat diujarkan sebagai bentuk
bebas yang paling kecil inilah disebut sebagai kata. Sebagai contoh dalam ujaran, ‚màhabhaya tan sinipi iking
alas pinaranta‛ (Sangat berbahaya tidak terhingga hutan yang kamu datangi ini). Satuan bentuk seperti tan, alas
dan iki yang terdiri atas satu morfem ini disebut sebagai ‚morfem dasar‛. Sedangkan kata sinipi, pinaranta,
màhabhaya ini disebut sebagai ‚morfem gabungan‛.
Dari uraian di atas dapat ditentukan bahsa kata yang terdiri dari satu morfem dasar disebut kata tunggal.
Oleh karenanya kata ini disebut juga sebagai ‚kata dasar‛. Kata yang terdiri dari beberapa morfem yang
dibentuk dari morfem dasar maupun morfem pangkal dengan proses morfologis disebut ‚kata turunan‛.
Adapun kata dalam bahasa Kawi dapat dibedakan atas beberapa macam jenis yaitu : kata benda, kata kerja,
kata sifat, kata ganti orang, kata ganti milik (genetif), kata ganti tunjuk, kata ganti hubung, kata ganti tak tentu,
kata ganti tanya, kata bilangan, kata sandang penentuan, kata sangdang penunjuk orang.
3.1.1. Kata Benda
Kata ini berfungsi menyatakan benda atau orang. Misalnya : sisya (murid), phala (buah), panah (panah),
måga (binatang), iku (ekor) rwan (daun), watu (batu), pari (padi), waringin (beringin) dan lain-lain.
3.1.2. Kata Kerja
Contoh : magawe (bekerja), malayu (berlari), maburu (berburu), katon (terlihat), mangan (makan), umawa
(membawa), magulingan (bergulingan), amati (membunuh), angrakûa (menjaga), angurip (menghidupkan) dan
sebagainya.
3.1.3. Kata Sifat
Contoh : úweta (putih), kweh (banyak), magöng (besar), tikûóa (tajam), panës (panas), takut (takur), tikta (pahit)
dan lain-lain.
3.1.4. Kata Ganti Orang
Kata ganti orang ada tiga macam yaitu :
a. Kata Ganti Orang Kesatu/Pertama
Berikut ini beberapa contoh kata ganti orang pertama:
 Tunggal
aku = aku, saya, misalnya : aku ngaran bhaþara guru (Aku adalah Bhatara Guru)
ngwang = saya, misalnya : sariranta kabeh sakeng sariraningwang tattwanya
(badanmu seluruhnya dari badanku hakekatnya)
nghulun = hamba, misalnya : sang yayati ngaraninghulun (Yayati nama saya)
pinakanghulun = hamba, misalnya : pinakanghulun tapwan manak (hambamu belum beranak)
bhujàngga mpu = hamba pendeta

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


12

bhujàngga haji = saya (paóðita)


 Jamak
kami = kami, misalnya : brahmaóa daridra kami (Brahmana miskin saya)
kita = kita, misalnya : kita pinaka sangkan paraning saràt (kita adalah sebagai asal
dan tujuan dari semua makhluk)
b. Orang kedua
 Tunggal
kanyu = engkau
ko = engkau, misalnya : ko ng bhuta Locaya (Kau bhuta Locaya)
kamung = engkau, kamu , misal : kamung hyang watek dewata kabeh
(Kamu para dewa sekalian)
rahadyan sanghulun = tuanku, misalnya : adwa rahadyan sanghulun (tetapi kelirulah tuanku)
mpu, mpungku = tuanku, misalnya : hana ta pangning carita de mpu makabehan (Adalah
cabang cerita hendaklah tuan semua dengarkan)
 Jamak
kamu = kamu
kita = tuan-tuan; kamu
c. Orang ketiga
 Tunggal
ya = ia, dia, misalnya : tinakwanan ta ya de ning guru (ditanyailah ia oleh guru)
sarika = ia, dia, misalnya : ring kapana kita swamitra lawan sarika (bagaimana engkau dapat
bersahabat dengan dia)
rasika = ia, dia, misalnya : tatan hana marasane pwangkulun bheda sangke rasika (Tak ada orang
yang dapat menyembuhkan hamba, kecuali dia)
sira = beliau, misalnya : sira ta kumawasaken påthiwimaóðala (Bagindalah menguasai dunia)
 Jamak
sira = mereka
ya = mereka

3.1.5. Kata Ganti Milik (Genitif)


Kata ganti jenis ini kadang-kadang mempunyai bentuk yang agak berbeda, yakni dengan jalan
menyingkatkannya dan kadang-kadang menambahkan n(i) di depannya. Kata ganti milik dalam bahasa Kawi
juga dapat dibagi atas 3 macam yaitu :
a. Kata Ganti Milik Orang Kesatu/Pertama
Berikut ini beberapa contoh kata ganti milik orang pertama:
aku, ngku (dari kata aku), misalnya : anaku  anak + aku  anaku (ku yang ditambahkan pada kata
yang berakhir k, maka hanya sebuah k saja yang ditulis)
mami (dari kata mami), misalnya : sisya mami (murid saya)
ni nghulun, misalnya : wëtëng ninghulun (perut saya)
ningwang, misalnya : carita ningwang (Ceritaku)
Contoh dalam kalimat :
yan tuhu kita anaku (jika benar kamu anakku)
yan tuhu sisyamami, tagawe kita guru dakûina (jika benar-benar murid saya, buatlah upah untuk gurumu)
salwiring kapangan masuk ing wëtëng ninghulun (segala macam yang dapat dimakan masuk kedalam perutku)
b. Orang kedua
Berikut ini beberapa contoh kata ganti milik orang kedua:
mu (dari kata kamu), misalnya : anakmu (anakmu)
nyu (dari kata nyu), missal : swaminyu (suamimu)
ta /nta, misalnya : anakta (anakmu), ibunta (ibumu)
Contoh dalam kalimat :
anakmu tan wënang datëng (Anakmu tidak boleh datang)
aku dinalihta swaminyu, arah lku murtako (aku kira suamimu! hai pergi enyahlah kau)
patëngëran iradenta yan mapanës ika gulunta mangëlëd apuy lwirnya (Tandanya bagimu apabila merasa
panas lehermu sebagai menelan api)
c. Orang ketiga
Berikut ini beberapa contoh kata ganti milik orang ketiga:
ya / nya, misalnya : Sarmistha ngaranya (Sarmistha namanya)
nira / ira, misalnya : wwang atuha nira (orang tuanya), ling ira (katanya)
Contoh dalam kalimat :
hana ta sang akupa ngaranya, ratuning pas (Adalah Akupa namanya, raja dari kura-kura)
hana sira ratu parikësit ngaran ira (Adalah seorang raja sang Parikesit namanya)

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


13

3.1.6. Kata Ganti Tunjuk


a. iki, ike, iku, iko, ikana
Vokal akhir dari masing-masing kata ganti penunjuk itu, untuk menujuk barang atau orang yang berhubungan
dengan yang berbicara, yang diajak bicara dan yang dibicarakan.
iki, ike (ini)  orang atau barang yang dekat dengan orang yang berbicara (orang pertama)
iku, iko (itu)  orang atau barang yang dekat dengan orang yang diajak berbicara (orang kedua)
ika, ikana (itu)  orang atau barang yang dekat dengan orang yang dibicarakan (orang ketiga)
Jarak ini tidak hanya menunjuk tempat saja tetapi juga jarak waktu
iki, ike  sekarang; ika, ikana  dahulu atau tadi
Contoh dalam kalimat :
Iki pwa ya sabha pamintonan kasaktin (inilah gelanggang untuk mempertunjukkan kesaktian)
Majar ta sang astabasu: “rahayu yan mangkana nghulun ri kita ike sanak mami wwalung siki (Sang Astabasu
berkata, ‚baiklah jika demikian saya akan menjelma padami saudara saya depalan ini‛ )
Iku/iko dinalihta swaminyu (Itulah kau kira suamimu)
Ika kewala sarananta i sëdëng ning haneng alas (Itu hanya syarat bagimu sementara sedang ada dalam hutan)
Ndatan suka sang hyang pitara denira, apan tan yogya ikana ng rah yan tarpanakna ri sira (Sang dewa arwah
tidak senang, oleh karena dara itu tidak pantas untuk disajikan kepadanya)
b. nihan, nahan
Kata ini biasanya dipakai untuk menunjuk kata orang. Nihan dipakai untuk kata-kata yang masih akan
dikatakan. Sedangkan nahan untuk kata-kata yang sudah dikatakan.
Nihan  biasanya diartikan ‚inilah, beginilah atau disinilah‛
Nahan  biasanya diartikan ‚begitulah atau disanalah‛
c. ngke, ngka, ngkana
Kata ini dapat dipakai untuk menunjuk waktu atau tempat.
ngke  biasanya diartikan ‚sini, sekarang ini, di sini‛
ngka  biasanya diartikan ‚sana, di sana, demikian‛
ngkana  biasanya diartikan ‚sana, di sana, demikian‛
d. mangke, mangko, mangka
mangke  biasanya diartikan ‚sekarang, pada saat ini, demikian‛
mangko  biasanya diartikan ‚sekarang, demikian‛ (kata ini jarang dipakai)
mangka  biasanya diartikan ‚demikian, begitu‛
e. mangkana, samangkana, samangka
mangkana  biasanya diartikan ‚demikian, begitu‛ (kata ini kadang-kadang dipakai pula untuk menunjuk
kata-kata orang yang telah dikatakan)
samangkana  biasanya diartikan ‚waktu itu, ketika itu, sebanyak itu, sebesar itu‛
samangka  biasanya diartikan ‚yang demikian, maka,pada waktu itu‛
f. kumwa, kwa
kumwa  biasanya diartikan ‚demikian‛ sama dengan kata nihan/nahan
kwa  biasanya diartikan ‚demikian‛ (untuk ungkapan).
3.1.7. Kata Ganti Hubung
Contoh : ikang (yang), anung (halnya), sing (apa saja)
3.1.8. Kata Ganti Tak Tentu
Contoh : asing (apapung, setiap), sira (seseorang), anu (sesuatu), bari-bari (apa-apa)
3.1.9. Kata Ganti Tanya
Contoh : syapa (siapa), apa (apa), aparan (apa), ndi (di mana), mapa (mengapa), pira (berapa).
3.1.10. Kata Bilangan
Berikut penyebutan bilangan dalam bahasa Kawi :
1 = tunggal 2 = rwa 3 = tëlu 4 = pat 5 = lima
6 = nëm 7 = pitu 4 = wwalu 9 = sanga 10= sapuluh
11= sawëlas 12= rwawëlas 13= tigawëlas 14= padwëlas 15= limawëlas
16= nëmwëlas 17= pituwëlas 18= wwaluwëlas 19= sangawëlas 20= rwangpuluh
Untuk bilangan 20 sampai 29 di samping ada kata salikur (21), tëlulikur (23) dan sebagainya juga terdapat
rwangpuluh tunggal, rwangpuluh dwa, rwang puluh tëlu dan sebagainya seperti dalam bahasa Indonesia.
Adapun untuk : ratus (atus), ribu (iwu), laksa (lakûa), keti (koti, keti), juta (ayuta, yuta)
Contoh : 9.539.560 = sangang yuta limang keti tëlung lakûa sangang iwu limang atus nëmang puluh.
Jika kata bilangan itu dihubungan dengan kata-kata yang menyebutkan ukuran waktu, ruang, atau jumlah, maka
kata bilangan itu mendapat tambahan ng di belakangnya. Tetapi kata ‚tunggal‛ berubah menjadi ‚sa‛.

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


14

Contoh :
patang wingi = empat malam limang tahun = lima tahun limang atus = limaratus
limang wingi = lima malam wwalung dëpa = delapan depa nëmang iwu = enam ribu
nëmang ayuta = enam juta tëlung siki = tiga buah/ekor salek = satu bulan
satahun = satu tahun sawiji = satu biji
Jika awalan ka- ditambahkan pada kata bilangan, maka awalan ka- ini berarti ‘semua, bersama-sama, atau
tingkatan’. Contoh : katëlu (ketiga-tiganya, semuanya); kapat (keempat-empatnya, semuanya) dan lain-lain.
Jika awalan pa- di muka kata bilangan seringkali menyatakan arti ‘bagian’. Dan bentuk ini sering pula mendapat
awalan ma- atau sa-. Contoh : mapasewu (menjadi seribu bagian), maparwa (menjadi dua bagian), saparwa
(sebagian), dan sebagainya.
Jika awalan ping- di muka kata bilangan, maka itu akan menyatakan arti ‘mempergandakan’. Contoh : pingrwa
(dua kali), pingtiga (tiga kali), pinglima (lima kali) dan sebagainya.
3.1.11. Kata Sandang Penentuan
Kata sandang penentuan ada 2 macam yaitu ang dan ng. Kata sandang ini biasanya ditempatkan di muka kata
yang sudah ditentukan. Kalau kata itu belum diketahui atau belum ditentukan, maka ang dan ng tidak dipakai.
Kata sandang ini sama fungsinya dengan the dalam bahasa Inggris.
Contoh : ang katha (cerita itu), mangrëngö ta ng danawa (mendengarlah raksasa itu).
3.1.12. Kata Sandang Penunjuk Orang
Ada beberapa macam kata sandang penunjuk orang dalam bahasa Kawi, yaitu :
a. si  seperti dalam bahasa Indonesia si dipakai untuk orang kebanyakan
Contoh : hana ta rakûasa si doluma ngaranya
(adalah raksasa si Doluma namanya)
b. pun  kata sandang ini sudah amat jarang dipakai, hampir sama dengan ipun dalam bahasa Bali
Contoh : Bapa, mati angganya pun kaca
(Bapa mati badannya sang Kaca)
c. sang  sang dipakai untuk orang ternama atau bangsawan
Contoh : sang àrjuna, sang màhaåûi, sang mati ing rana
d. sang hyang  sang hyang dipakai untuk dewa-dewa serta yang dianggap mulya seperti dewa.
Contoh : sang hyang wiûóu, sang hyang wulan, sang hyang àtma.
e. dang hyang  untuk menunjuk orang mulya karena kesuciannya.
Contoh : dang hyang drona, dang hyang kåpa, dang hyang narada
f. ra  Sebagai penunjuk orang, dipakai juga kata ra. Biasanya sekali partikel ini dipakai orang yang
berkata kepada orang yang lebih tinggi pangkatnya.
Contoh : pirëngön ra putu mpungku (dengarlah cucu tuan hamba).
g. sira  sering juga kata sira dipakai untuk pengganti sang, hal ini terjadi lebih-lebih pada kata sebut
yang mengenai macam.
Contoh : suka ta sira bara ri dating sang gandawati (senanglah seorang ayah dengan
Datangnya Gandawati)

3.2. Kata Berimbuhan


Kata berimbuhan merupakan kata turunan yang dihasilkan melalui proses morfologis dengan pembubuhan
imbuhan (afiks) pada suatu morfem dasar atau morfem pangkal. Imbuhan adalah morfem terikat yang dapat
dibedakan menurut tempatnya melekat pada bentuk dasar yaitu : awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran
(sufiks), imbuhan gabung dan konfiks. Jika dilihat dari tempatnya melekat pada morfem dasar atau morfem
pangkal, imbuhan dalam bahasa Kawi dibedakan menjadi : awalan jika diletakkan di awal morfem dasar, sisipan
jika disisipkan di dalam morfem dasar dan akhiran jika diletakkan di akhir morfem dasar. Ada lagi imbuhan
yang disebut imbuhan gabung dan konfiks.
3.2.1. Awalan
Prefiks atau awalan adalah imbuhan yang diletakkan di depan bentuk dasar (pangkal). Yang termasuk awalan
dalam bahasa Kawi adalah : a-, an-, ma-, man-, pa-, pan-, sa-, ka-, maka-, pinaka-, nir-, pari-, pi-, su-, ping-,
mana-, swa-, ra-, dur-, dan wi-.
a. Awalan a- (seperti awalan me- atau ber- dalam bahasa Indonesia)
Apabila morfem dasar diawali fonem konsonan, mendapat awalan a-, maka awalan a- tersebut melekat
begitu saja pada morfem dasar. Contoh : atuha (berumur), ahyun (berkeinginan), ajanma (menjelma), akon
(menyuruh), dst.
Apabila morfem dasar diawali oleh fonem vokal, mendapat awalan a-, maka berlakulah aturan sandhi.
Arti Awalan a-
 Berarti mempunyai

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


15

Contoh : aputra (mempunyai putra), ahyun (mempunyai keinginan), astir (mempunyai istri), dll.
 Berarti melakukan pekerjaan
Contoh : alampah (berjalan), agawe (bekerja), apretijna (berjanji)
 Berarti dalam keadaan
Contoh : agirang (dalam keadaan gembira), alara (dalam keadaan bersedih), dll.
b. Awalan an-
Awalan an- mempunyai 4 alomorf : an-, am, ang dan an-.
 Alomorf an- digunakan apabila morfem dasar tempatnya melekat dimulai dengan konsonan t dan s,
kemudian konsonan t dan s akan luluh.
Contoh : anëpi (menuju tepi), aniwi (menyungsung) anonton (melihat) dll.
 Alomorf am- digunakan apabila morfem dasar dimulai dengan konsonan p, b, w; kemudian konsonan-
konsonan tersebut akan luluh
Contoh : aminta (meminta), amawa (membawa), amëtu (muncul).
 Alomorf an- digunakan apabila morfem dasar dimulai dengan konsonan c; kemudian konsonan tersebut
akan luluh
Contoh : anakar (mencakar), anakra (memanah dengan cakra)
 Alomorf ang- digunakan apabila morfem dasar dimulai dengan konsonan r, l, k, g, h, j; kemudian
konsonan-konsonan tersebut tidak luluh kecuali k
Contoh : angalap (memetik), angering (mengikuti), angrakûa (menjaga), angrëngö (mendengar), anglilir
(menglilir), angidul (menuju selatan), angawe (mengerjakan), anghadap (menghadap),angjala(menjolok)
Arti Awalan an-
 Berarti melakukan pekerjaan
Contoh : angrakûa (menjaga), angalap (memetik), dll.
 Berarti pergi ke-
Contoh : angalas (pergi ke hutan), angalor (pergi ke utara), angulwan (pergi ke barat)
 Berarti bekerja dengan alat
Contoh : anakra (memanah dengan cakra), anakar (mencakar dengan kuku), dll.
Pemakaian an- sering mengalami penghilangan bunyi vokal /a/ apabila morfem dasarnya dimulai dengan
bunyi vokal. Contoh : angaranngaran (bernama), anginaknginak (mengenakkan) dll
Hal ini dapat pula terjadi pada morfem dasar yang diawali huruf bilabial. Contoh : amanganmangan
(makan); amanahmanah (memanah), amawamawa (membawa); amëtumëtu (muncul/keluar).
c. Awalan ma-
Apabila awalan ma- melekat pada morfem dasar diawali fonem konsonan, maka awalan ma- melekat begitu
saja pada morfem dasar tersebut. Contoh : maputra (beranak), mahyun (berkeinginan), maweh (memberi),
makon (menyuruh), dst.
Apabila awalan ma- melekat pada morfem dasar diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah aturan sandhi.
Contoh : mànak (beranak) mojar (berkata) dll.
Arti Awalan a-
 Berarti mempunyai
Contoh : maputra (mempunyai putra), mambëk (berkelakuan), dll.
 Berarti melakukan pekerjaan
Contoh : malampah (berjalan), magawe (bekerja), madandan (berhias)
 Berarti dalam keadaan
Contoh : malara (bersedih), menak (bersenang-senang)
 Berarti memakai
Contoh : agirang (dalam keadaan gembira), alara (dalam keadaan bersedih), dll.
d. Awalan man-
Awalan an- mempunyai 3 alomorf : mang-, mam-, man-.
 Alomorf mang- digunakan apabila morfem dasar dimulai dengan konsonan l, h, g, t, dan j.
Contoh :mangajar (mengajar), manglade (berperang) mangjadma (menjelma) dll.
 Alomorf mam- digunakan apabila morfem dasar dimulai dengan konsonan p, ph, b, bh, w;
Contoh : maminta (meminta), mamuja (memuja), mamukti (memakan), dll
 Alomorf man- digunakan apabila morfem dasar dimulai dengan konsonan t, c dan s
Contoh : manonton (melihat), manembah (menyembah), manakar (mencakar) dll.

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


16

Arti Awalan an-


 Berarti melakukan pekerjaan
Contoh : malaga (berperang), mamuja (memuja), dll.
 Berarti berlaku seperti
Contoh : mangrare (seperti anak-anak), dll.
e. Awalan pa-
Apabila awalan pa- melekat morfem dasar diawali fonem konsonan, maka awalan pa- tersebut melekat
begitu saja pada morfem dasar. Contoh : papangguh (bertemu), patunjung (memakai tunjung), dst.
Apabila awalan pa- melekat pada morfem dasar yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah aturan
sandhi. Contoh : pànak (berputra), pebu (beribu), dll.
Arti Awalan pa-
 Berarti suatu keadaan
Contoh : padosa (berdosa), papangguh (berpenglihatan), dll.
 Berarti memakai
Contoh : panatha (memakai raja), pawiku (memakai wiku),
 Berarti membagi menjadi
Contoh : parwa (membagi menjadi dua), pasewu (membagi menjadi seribu), dll.
f. Awalan sa-
Apabila awalan sa- melekat morfem dasar diawali fonem konsonan, maka awalan sa- tersebut melekat begitu
saja pada morfem dasar. Contoh : saràt (sedunia), salawas (selama), dst.
Apabila awalan sa- melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah aturan sandhi.
Contoh : sànak (satu keluarga), sojar (seluruh perkataan), dll.
Arti Awalan sa-
 Berarti seluruh
Contoh : saràt (sedunia), sànak (seluruh keluarga), dll.
 Berarti setelah
Contoh : sadatëng (setelah tiba), samangkana (setelah demikian), dll.
 Berarti satu
Contoh : somah (satu rumah), salampah (satu perjalanan), sajña (satu pikiran) dll.
g. Awalan ka-
Apabila suatu morfem dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan ka-, maka awalan ka- tersebut
melekat begitu saja pada morfem dasar. Contoh : katon (terlihat), karëngö (terdengar), dst.
Apabila awalan ka- tersebut melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah aturan
sandhi.
Contoh : kengët (teringat), kàjar (diajar), dll.
Arti Awalan ka-
 Berarti dapat di-
Contoh : katëmu (dapat ditemui), kawalës (dapat dibalas), dll.
 Berarti tidak sengaja
Contoh : karëngö (terdengar), kapanah (terpanah), dll.
h. Awalan maka-
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan maka-, maka awalan maka-
tersebut melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : makastri, makasisya, makaphala dst.
Apabila awalan maka- tersebut melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah
aturan sandhi. Contoh : makebu, makari, dll.
Arti Awalan maka-
 Berarti memakai, sebagai, menganggap, menjadikan
Contoh : makastri (sebagai istri) makebu (sebagai ibu), makàri (sebagai adik), dll.
i. Awalan pinaka-
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan pinaka-, maka awalan pinaka-
tersebut melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : pinakabapa, pinaka sarana, dst.
Apabila awalan pinaka- tersebut melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah
aturan sandhi. Contoh : pinakànak, pinakàdi, dll.
Arti Awalan pinaka-
 Berarti memakai, sebagai, menganggap, menjadikan
Contoh : pinakàdi (sebagai yang pertama) pinakabapa (sebagai ayah), dll.

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


17

j. Awalan nir-
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan nir-, maka awalan nir- tersebut
melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : nirguóa, nirmala, nirbhaya, dst.
Apabila awalan nir- tersebut melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, dan k, t, c, maka nir-
tersebut berubah menjadi nis-. Contoh : niskala, niscaya, nistresna dll.
Arti Awalan nir-
 Berarti tidak atau tanpa
Contoh : nirdon (tanpa tujuan), nirguóa (tidak ada guna), nirbhaya (tidak ada bahaya) dll.
k. Awalan pari-
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan pari-, maka awalan pari- tersebut
melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : paripuróa, paritusta, dst.
Apabila awalan pari- tersebut melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah aturan
sandhi. Contoh : parìndik (segala peraturan), dll.
Arti Awalan pari-
 Berarti sangat; sekitar
Contoh : paribhasa (sekitar bahasa) paripuróa (sangat sempurna), paribhoga (sekitar makanan), dll.
l. Awalan pi-
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan pi-, maka awalan pi- tersebut
melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : pitutur (hal nasehat), pituhu (hal kebenaran), dst.
Apabila awalan pi- tersebut melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah aturan
sandhi. Contoh : pyambëk (hal tingkah laku), pyolas (hal belas kasihan) dll.
Arti Awalan pi-
 Berarti hal
Contoh : pidon (hal tujuan), pitutur (hal nasehat), pitresna (hal kasih sayang), dll.
m. Awalan su-
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan su-, maka awalan su- tersebut
melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : suputra (anak baik), surùpa (cantik), dst.
Apabila awalan su- tersebut melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah aturan
sandhi.
Arti Awalan su-
 Berarti baik
Contoh : sujana (orang yang baik); suúìla (tingkah laku yang baik), sucarita (cerita yang baik), dll.
n. Awalan ping-
Pembentukan :
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan ping-, maka awalan ping- tersebut
melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : pingrwa (dua kali), pingtiga (tiga kali), dst.
Arti Awalan ping-
 Berarti ganda atau kali
Contoh : pingpitu (tujuh kali); pingnëm (enam kali), dll.
o. Awalan màha-
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan màha-, maka awalan màha-
tersebut melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : màhasakti (sangat sakti), màhadiya (sangat mulia).
Apabila awalan màha- tersebut melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah
aturan sandhi. Contoh : mahottama (sangat utama), dll.
Arti Awalan màha-
 Berarti sangat
Contoh : mahasakti (sangat sakti), màharàja (hal nasehat), pitresna (hal kasih sayang), dll.
 Berarti besar
p. Awalan swa-
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan swa-, maka awalan swa- tersebut
melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : swakarma, mahöttama
Apabila awalan swà- tersebut melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah aturan
sandhi.
Arti Awalan swa-
 Berarti sendiri
Contoh : mahasakti (sangat sakti), màharàja (hal nasehat), pitresna (hal kasih sayang), dll.

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


18

q. Awalan upa-
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan upa-, maka awalan upaa- tersebut
melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : upabhoga, upajiwa, dst.
Apabila awalan upa- tersebut melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah aturan
sandhi.
Arti Awalan upa-
 Berarti sekitar
Contoh : uparëngga (sekitar perhiasan), upalakûana (sekitar perbuatan), dll.
r. Awalan ra-
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan ra-, maka awalan ra- tersebut
melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : rakawi, dst.
Apabila awalan ra- tersebut melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah aturan
sandhi.
Arti Awalan ra-
 Berarti terhormat
Contoh : rànak (anak terhormat), rena (ibu terhormat), dll.
s. Awalan dur-
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan m, g, b, mendapat awalan dur-, maka awalan dur-
tersebut melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : durmukha, dst.
Dur- akan berubah menjadi dus- apabila morfem dasarnya diawali oleh fonem s, k, û .
Arti Awalan dur-
 Berarti tidak baik atau jahat
Contoh : durúìla (tingkah laku jahat), durjana (orang jahat, dll.
t. Awalan wi-
Apabila suatu kata dasar yang diawali fonem konsonan mendapat awalan wi-, maka awalan wi- tersebut
melekat begitu saja pada kata dasar. Contoh : wijaya, dst.
Apabila awalan wi- tersebut melekat pada morfem yang diawali oleh fonem vokal, maka berlakulah aturan
sandhi. Contoh : wyagra, dst
Arti Awalan wi-
 Berarti sangat
Contoh : wipatha (sangat hancur), dll.

3.2.2. Sisipan
Infiks atau sisipan adalah imbuhan yang disisipkan di tengah kata dasar atau morfem pangkal. Yang termasuk
sisipan dalam bahasa Kawi adalah : -in-, -um-, -er-, dan -el-. Di antara sisipan tersebut yang paling banyak
digunakan dalam bahasa Kawi adalah sisipan -in- dan -um-. Untuk sisipan -er- dan -el- jarang sekali dipakai
dalam tata bahasa Kawi..
a. Sisipan -in-
Sisipan -in- tidak mengalami perubahan bentuk pada saat disisipkan pada morfem dasar yang diawali dengan
fonem konsonan. Bentuknya akan selalu tetap yaitu diletakkan diantara konsonan pertama dengan vokal
yang mengikutinya. Contoh : kinon (dilihat), pinapah (dipapah).
Apabila morfem dasar diawali dengan fonem vokal mendapat infiks -in-, maka infiks tersebut diletakkan di
muka kata dasar seolah-olah sebagai awalan. Bila kata dasarnya diawali dengan fonem h, maka fonem
tersebut sering kali luluh. Contoh : iningët (diingat), inikët (diikat).
Arti infiks -in-
 Berarti menunjukaan kata pasif atau sama dengan awalan di- atau ter- dalam bahasa Indonesia.
Contoh : kinon (terlihat), wineh (diberi) dll.
b. Sisipan -um-
Sisipan -um- akan terletak di antara konsonan pertama dengan vokal berikutnya apabila melekat pada
morfem dasar yang diawali dengan konsonan. Contoh : lumampah (berjalan), gumawe (mengerjakan)
Apabila morfem dasar diawali dengan fonem vokal mendapat infiks -um-, maka infiks tersebut diletakkan di
muka kata dasar seolah-olah sebagai awalan. Contoh : umëtu (muncul), umikët (mengikat).
Apabila sisipan -um- terletak morfem dasar yang diawali dengan fonem konsonan bilabial (p, b, m. w), maka
infiks tersebut diletakkan di muka kata dasar dan huruf bilabial tersebut sering kali luluh. Contoh : umawa
(membawa), umuat (membuat).
Arti infiks -um-
 Berarti menunjukaan kata kerja aktif atau sama dengan awalan me- atau ber- dalam bahasa Indonesia.
Contoh : sumilih (mengganti), tumiru (meniru), umingët (mengingat) dll.

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


19

3.2.3. Akhiran
Akhiran atau sufiks adalah imbuhan yang diletakkan di akhir kata dasar. Yang termasuk akhirran dalam bahasa
Kawi adalah akhiran : -a, -e, -an, -akën, -i, -ka, -man, -wan dan –wati.
a. Akhiran -a
Akhiran –a tidak mengalami perubahan apabila melekat pada morfem dasar yang diakhiri oleh konsonan.
Contoh : wëruha (supaya tahu), hilanga (supaya hilang).
Bila akhiran -a melekat pada morfem dasar yang berakhir dengan bunyi vokal maka hukum sandhilah yang
berlaku. Contoh : ratwa (supaya menjadi raja)
Bila akhiran -a melekat pada morfem dasar yang berakhir dengan bunyi vokal i, maka akhiran tersebut akan
berubah menjadi -ana. Dalam hal ini ana termasuk alomorf dari akhiran -a. Contoh : gantyana (akan
membunuh), yuktyana (akan membenarkan)
Arti Akhiran -a
 Berarti suatu kejadian yang belum terjadi seperti supaya, agar, akan hendaknya, semoga
Contoh : ratwa (akan menjadi raja), nulisa (supaya menulis), anginuma (agar minum).
b. Akhiran -ën
Akhiran –ën tidak mengalami perubahan apabila melekat pada morfem dasar yang diakhiri oleh konsonan.
Contoh : sahutën (supaya digigit), tulungën (supaya ditolong), tonën (supaya dilihat).
Bila akhiran -ën melekat pada morfem dasar yang berakhir dengan bunyi vokal, maka akhiran tersebut akan
berubah menjadi alomorf -n. Contoh : rëngön (dengarlah), wawan (supaya di bawa)
Arti Akhiran -ën
 Berarti menyatakan suatu perintah : harus di-, supaya dll
Contoh : wehën (supaya diberi), tonën (supaya dilihat).
c. Akhiran -an
Akhiran –an tidak mengalami perubahan apabila melekat pada morfem dasar yang diakhiri oleh konsonan.
Contoh : wëkasan (akhirnya).
Bila akhiran -an terletak morfem dasar yang berakhir dengan bunyi vokal i, maka akhiran tersebut akan
berubah menjadi alomorf -n. Contoh : winursitan (dihormati), binojanan (diberi makan).
Bila akhiran -an melekat pada morfem dasar yang berakhir dengan vokal, maka hukum sandhilah yang
berlaku. Contoh : tunwan (bakarkan), tirwan (tirukan)
Arti Akhiran -an
 Berarti suatu yang di-
Contoh : dinakûinan (diberi upah)
 Berarti mirip atau seperti
Contoh : panggungan (seperti arena)
d. Akhiran -akën
Akhiran –akën tidak mengalami perubahan apabila melekat pada morfem dasar yang diakhiri oleh konsonan.
Contoh : warahakën (beritahuan), alapakën (ambilkan).
Bila akhiran -akën melekat pada morfem dasar yang berakhir dengan vokal, maka hukum sandhilah yang
berlaku. Contoh : tirwakën (tirukan), maryakën (hentikan)
Dapat pula akhiran -akën berubah menjadi akhiran –akëna, bila digunakan untuk membuat kalimat perintah,
yang belum nyata terjadi. Contoh : manggihakëna (akan mendapatkan).
Arti Akhiran -akën
 Berarti menyatakan kalimat pasif, sering berarti supaya, akan.
Contoh : wehakën (supaya diberikan)
e. Akhiran -i
Akhiran -i tidak berubah apabila melekat pada morfem dasar yang diakhiri oleh konsonan. Contoh : susupi
(masuklah), tinghali (lihatlah).
Bila akhiran -i melekat pada morfem dasar yang berakhir dengan bunyi vokal maka hukum sandhilah yang
berlaku. Contoh : umare (mendatangi)
Bila akhiran -a melekat pada morfem dasar yang berakhir dengan bunyi vokal i, maka akhiran tersebut akan
berubah menjadi -ani. Contoh : amatyani (membunuh).
Arti Akhiran -i
 Berarti melakukan pekerjaan
Contoh : malare (menyakiti), tumangisi (menangisi)
 Berarti pasif
Contoh : tinghali (lihatlah).
f. Akhiran -ka
Akhiran -ka tidak mengalami perubahan apabila melekat pada morfem dasar yang diakhiri oleh konsonan.
Contoh : kanyaka (gadis-gadis), balaka (anak-anak)

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


20

Bila akhiran -ka melekat pada morfem dasar yang berakhir dengan bunyi vokal, maka akhiran tersebut tidak
mengalami perubahan.
Arti Akhiran -ka
 Berarti banyak
Contoh : balaka (anak-anak).
g. Akhiran -man
Selamanya bentuk akhiran -ka tidak mengalami perubahan apabila melekat pada morfem dasar yang diakhiri
oleh vokal. Contoh : guóaman (berguna).
Arti Akhiran -ka
 Berarti mempunyai atau mengandung
Contoh : guóaman (mempunyai guna).
h. Akhiran –wan
Bentuknya tidak mengalami perubahan ketika melekat pada morfem dasar yang diakhiri oleh vokal /a/.
Contoh : dharmawan (mengandung kebenaran), himawan (mengandung salju).
Arti Akhiran -ka
 Berarti mempunyai atau mengandung
Contoh : guóawan (mempunyai guna).
i. Akhiran -wati
Akhiran -wati biasanya dipakai untuk wanita. Ini biasanya melekat pada morfem dasar yang diakhiri oleh
vokal /a/. Contoh : satyawati (mengandung kesetiaan), tirtawati (mengandung air).
3.2.4. Imbuhan Gabung
Imbuhan gabung adalah imbuhan yang merupakan gabungan antara dua buah imbuhan atau lebih, yang
dibubuhkan pada morfem dasar tidak bersamaan. Imbuhan gabung dalam bahasa Kawi antara lain : (um + a),
(um + akën), (in + akën), (in + an), (ma + akën).
a. Imbuhan Gabung um + a
Sama dengan bentuk sisipan -um- dan akhiran -a
Contoh : tumuruna (akan menurun), gumantya (akan mengganti)
Arti :
 Berarti melakukan suatu pekerjaan
Contoh : gumantya (akan mengganti).
b. Imbuhan Gabung um + akën
Sama dengan bentuk sisipan -um- dan akhiran -akën
Contoh : umalapakën (mengambilkan), gumawayakën (mengerjakan)
Arti :
 Berarti melakukan suatu pekerjaan atau tindakan
Contoh : tuminghalakën (melepaskan), umanahakën (memanahkan).
c. Imbuhan Gabung in + akën
Sama dengan bentuk sisipan -in- dan akhiran -akën
Contoh : tininggalakën (ditinggalkan), ginawayakën (dikerjakan)
Arti :
 Berarti kata kerj a pasif
Contoh : inujarakën (dikatakan), pinanahakën (dipanahkan).
d. Imbuhan Gabung in + an
Sama dengan bentuk sisipan -in- dan akhiran -an
Contoh : winarahan (diajarkan), inujaran (dikatakan)
Arti :
 Berarti kata kerj a pasif
Contoh : inaranan (dinamai), rinasan (dirasakan).
e. Imbuhan Gabung ma + akën
Sama dengan bentuk sisipan -ma- dan akhiran -akën
Contoh : mojarakën (mengatakan), macaritàkën (menceritakan)
Arti :
 Berarti melakukan suatu pekerjaan atau tindakan
Contoh : mawehakën (memberikan), mawarahakën (memberitahukan).

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


21

3.2.5. Konfiks
Konfiks adalah suatu imbuhan yang melekat secara bersama-sama antara awalan dan akhiran pada kata dasar.
Konfiks dalam bahasa Kawi : (ka + an) dan (pa + an).
a. Konfiks ka + an
Pembentukan
Konfiks ka + an  ka + wan Contoh : kadatwan (kerajaan)
Konfiks ka + an  ka + n Contoh : kawikon (kependetaan)
Konfiks ka + an  ka + n Contoh : kasaktin (kesaktian)
Arti :
 Berarti suatu tempat
Contoh : kadatwan (tempatnya ratu)
 Berarti halnya, keadaan, status
Contoh : katëkan (halnya datang)
b. Konfiks pa + an
Pembentukan
Konfiks pa + an  pa + n, bila pada kata dasar yang berakhir dengan /a/
Contoh : patapan (tempat pertapa), patirthan (tempat tirtha)
Konfiks pa + an  ka + wan, bila kata dasarnya berakhir dengan /u/
Contoh : paburwan (tempat berburu), patukwan (tempat membeli)
Arti :
 Berarti menyatakan suatu tempat
Contoh : palëmbwan (tempatnya lëmbu)
3.3. Kata Ulang
Dalam bahasa Kawi tidak terlalu banyak macam pengulangan. Adapun proses pengulangan kata dalam bahasa
Kawi di antaranya :
3.3.1. Kala Ulang Murni
Kata ulang ini adalah bentuk utuh morfem dasar yang diulang sehingga menghasilkan kata ulang murni. Secara
tradisional kata ulang ini dinamakan ‚dwisama lingga‛.
Contoh : kina-kina (sangat kuno), kral-kral (sangat kuat), ila-ila (sangat berpantang).
3.3.2. Kata Ulang Dwi Purwa
Kata ulang dwi purwa adalah kata ulang sebagian di mana diadakan pengulangan pada suku pertama bentuk
dasarnya. Pendwipurwaan di sini sekaligus dibubuhi akhiran -an dan tanpa dibubuhi akhiran -an.
- Kata ulang dwi purwa tanpa akhiran -an, misalnya : gegecok (lauk), tutunggal (satu)
- Kata ulang dwi purwa dengan akhiran –an, misalnya : gegedahan (biru muda), gegeperan (bergetar).
3.3.3. Kata Ulang Berimbuhan
Kata ulang berimbuhan adalah kata ulang yang telah mengalami proses afiksasi mungkin berupa awalan, sisipan,
akhiran dan konfiks.
- Kata ulang berawalan, contoh : aburu-buru (berburu-buru), aturu-turu (tidur terus-menerus)
- Kata ulang bersisipan, contoh : gumuyu-muyu (tertawa-tawa), tinuna-tuna (terputus-putus)
- Kata ulang berakhiran, contoh : ayam-ayaman (seperti ayam), gurung-gurungan (kerongkongan).
3.3.4. Kata Ulang Berlawanan dan Berakhiran
Dilihat dari proses pembubuhan imbuhannya, kata ulang berawalan dan berakhiran mempunyai kemungkinan
awalannya terlebih dahulu melekat atau akhirannya lebih dahulu melekat. Karenanya kata ulang bentuk ini
dibedakan sebagai berikut :
 Kata ulang berawalan dahulu, baru dibubuhi akhiran. Misalnya : maguling-gulingan, maharëp-harëpan.
 Kata ulang berakhiran dahulu, baru dibubuhi awalan. Misalnya : apasang-pasangan, makeral-keralan.
Arti Kata Ulang :
 Menyatakan arti mengeraskan
Contoh : kina-kina (sangat lama), ila-ila (sangat berpantang), tuhu-tuhu (sungguh-sungguh)
 Menyatakan arti perbuatan berulang-ulang
Contoh : gumuyu-guyu (tertawa-tawa), maburu-buru (berburu-buru), kapipil-pipil (dipungut-pungut)
 Melakukan sesuatu dengan intensif atau santai
Contoh : apilih-pilih (memilih-milih), maguling-gulingan (tidur-tiduran).
3.3.5. Kata Majemuk
Kata majemuk merupakan gabungan dua kata tunggal atau lebih yang penggabungannya sudah demikian
sehingga menciptakan suatu arti.

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


22

3.3.5.1. Ciri-ciri Kata Majemuk


a. Ciri Arti
Kata majemuk memperlihatkan lagi arti masing-masing unsurnya. Kata majemuk juga mempunyai satu arti
dan merupakan kesatuan arti yang bulat.
Contoh : danapunya  dana = sedekah; punya = jasa  mengandung satu arti ‘derma atau sumbangan’
b. Ciri Konstruksi
Apabila kata majemuk mendapat imbuhan maka imbuhan itu dibubuhkan pada awal unsur kata majemuk
yang pertama atau paling akhir unsur kata majemuk yang terakhir. Demikian pula jika mendapat konfiks
atau inbuhan gabung maka ia diperlukan sebagai suatu kata dan susunan unsur tidak dapat dibalik.
Contoh : janaruga (simpati). Bila diberi konfiks ka + an  kajanuragan (tentang simpati)
c. Ciri Unsur
Kata majemuk antara unsur-unsurnya tidak dapat disisipkan sebuah morfem lain. Jadi antara unsur-unsur
tidak dapat dipisahkan. Apabila dipaksa disisipkan kata lain di antara unsur-unsurnya maka bentuk
konstruksinya bukan lagi kata majemuk mungkin menjadi frase atau bentuk lain.
Contoh : ramarena (kedua orang tua).
d. Ciri Tekanan
Tekanan pada kata majemuk selalu jatuh pada suku terakhir dari unsur yang terakhir pula. Contoh : priyahita
(ramah-tamah).
Pada kata majemuk tekanan ini jatuh pada suku terakhir dari unsur yang kedua yaitu suku ta pada kata hita.
Apabila tekanan jatuh pada suku terakhir pada unsur yang pertama ya pada kata priya, maka kata itu bukan
kata majemuk
3.3.5.2. Macam-macam Kata Majemuk
Jika dilihat dari sifatnya kata majemuk dibedakan menjadi dua yaitu kata majemuk yang bersifat endosentris dan
kata majemuk eksosentris.
 Kata majemuk endosentris adalah kata majemuk yang distribusinya sama dengan salah satu atau semua
unsurnya. Contoh : jatugreha (rumah damar).
 Kata majemuk eksosentris adalah kata majemuk yang salah satu unsurnya tidak dapat menggantikan seluruh
unsurnya. Contoh : priyahita (ramah-tamah).
Dilihat dari strukturnya, kata majemuk dapat dibedakan menjadi :
 Kata majemuk setara adalah kata majemuk yang usur-unsurnya tidak saling menerangkan tetapi
berkedudukan. Contoh : bapebu (ibu bapak), danapunya (sedekah), jatukarma (jodoh), wahyàdhyàtmika
(jasmani rohani).
 Kata majemuk tidak setara adalah kata majemuk yang salah satu unsurnya menerangkan unsur yang lain.
Contoh : dewaputra (putra dewa), yamabrata (nama sumpah), jatugreha (nama rumah), kurukûetra (nama
lapangan).
Perlu dicatat bahwa kata majemuk dalam bahasa Kawi ada yang berstruktur asli Kawi yang menuruti hukum
Diterangkan (D) Menerangkan (M) mendahului yang Diterangkan (D). Bentuk ini sama-sama dipakai dalam
bahasa Kawi.
Arti Kata Majemuk :
 Menyatakan arti kumpulan dari kedua unsurnya
Contoh : bapebu (ibu bapak), punya papa (baik-buruk), suràpsarì (dewa-dewi)
 Menyatakan arti mengeraskan
Contoh : wëlas arëp (belas kasihan), priya hita (sopan santun), suka trëpti (suka dan puas)
 Melakukan pembatas arti
Dalam hal ini unsur yang kedua membatasi arti atau memberi penjelasan yang pertama (unsur pusat)
Contoh : kurukûetra (nama lapangan), surànggana (bidadari), suràjaya (raja dewa), anak hyang (anak dewa),
jatugreha (rumah damar).

Contoh Teks :
Berikut ni adalah teks cerita Bhagawan Dhomya dan Ketiga Muridnya yang diambil dari Àdiparwa.

Bhagawan Dhomya
Hana si ra bràhmaóa bhagawàn Dhomya ngaran ira. Patapan ira ri Ayodhyàwiûaya. Hana ta úisya nira tigang
siki, ngaran ira sang Utamanyu, sang Àruóika, sang Weda. Kapwa pinarikûa nira, yan tuhu guruúuúrùûa
gurubhakti. Kramanya de nira marìkûa: sang Àruóika kinon ira yàsawaha rumuhun, kamênà nira wehana ri sang
hyang Dharmaúàstra. Yatna ta sang Àruóikàngulaha, sakrama ning masawah ginawayakên ira. Sêðêng ahayu
tuwuh nikang wìja, têka tang wah saka wåûþipàta hudan adrês. Alah ta galêng tikang sawah. Saka ri wêdi nira n
kahibêkana toya ikang pari, tinambak nira ta ya tapwan asowe ikang wway. Alah têka tambak nikà, muwah
tinambak nira. Tan wring deya nira, i wêkasan tinambakakên tàwak nireng wway manglêóðö, tarmolah irikang

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten


23

rahina wêngi. Katon tàwak nira ngkàneng sawah e sang guru. Mojar bhagawàn Dhomya ri sira, kinon ta ya
siràwungwa.
yasmat kewàrakhaóðena wardanye pi sangsthitaá, tasmàd wawarika bhùtwà dhàrakaá munin aruniá
‚Anakku sang Àruóika, atyanta ring dhàraka. Pawungwa tànaku. Sang Addyayatu (Uddalaka) ngaranta,
manambakakên awakta ring wway makanimitta bhaktinta ring guru.
úreyo ‘wàsyanti yo siddhiá“
Astwanêmwa kita sukha, siddhimantrà wàkbajrà kita‛
Nàhan ta pamarìkûa bhagawàn Dhomya ri sang Àruóika. Tumùt sang Utamanyu pinarìkûa nira. Ya ta kinon ir
mahwana ng lêmbu. Yatna tingkah nira n pahwan irikang goh. Hàraka sang Utamanyu mahwan; ulih nirànasi
ndatan pawwat nasi tasyan sira ri ðang hyang guru. Ojar ta sang guru:
‚Anaku sang Utamanyu. Krama ning úiûya yan gurunhakti; mawwat nasi solih nirànasi karma nikà.
swayam aúrayamakopajìwana
Solihtànasi tan yogya bhuktinta.‛
Mangkana ling nira mpu guru. Manêmbah ta sang Utamanyu, umupakûamàkên i úìla nira n salah. Irikang
sakatambay eñjing lumampah ta siràhwan, sumêlang manasi muwah. Solih nirànasi ya ta pawwat nire ðang
hyang guru. Huwus niràwwat taysan, manasi ta sira muwah, pinakopajìwa niràhwan ikang lêmbu. Katinghalan
tànasi ping rwa, inuhutan ta sira de sang guru, apan lobha ngaran ing mangkana. Ndatan panasi ping rwa
pinakopajìwanà nira, ling ning guru. Dadi sira minum irikang kûìra tatúeûa ning lêmbwanusu. Tinakwanan ta sira
hàraka nira de ning guru, màjar sira yar pamöh tatúeûa ning lêmbwanusu. Ling nira sang guru:
‚Udù, mangkin tan yogya ulahteku, apan malap gurudåwya. Tan dadi ring úiûya mangan dåwya ning guru‛.
Mangkana ling nira mpu. Mari ta sira minum susu. Hana wêrêh ning watsa mêtu sangkeng tutuknya yan panusu
warêg sinuswan ing indungnya. Ya tikà dinilat nira, pinakopajìwa niràngrakûekang lêmbu. Muwah ta sira tinañan
de ðang àcàrya guru ryàhàra nira, màjar sira yan pangdilat i wêrêh ning watsa n tumibeng lêmah, pinakàhàra
nira, màjar ta sang guru:
‚Ai anaku sang Utamanyu, tan yogya ike àhàranta. Ikang watsa wruh ikà ri lapàntànaku. Saka ri wêlas
nyambêknya kita, hêtunyàngutahakên ulihnyànusu. Tuhun yan wêrêh ngaranya, tan dadi ng wwang kadi kita
mangêpeki pangan ing watsa. Sangkûepanya: manghorati bhukti ning len ngaranya. Haywa pinakàhàra ikang tan
yogya upajìwanà, apan agyang akuru ikang watsa yan mangkana.‛
Nàhan ling nira mpu. Manêmbah ta sang Utamanyu. Ri sakatambayeñjing mahwan ta sira muwah, tatan
pamangan sira. Saka ri lapà nira, amangan ta sira gêtih i rwan ing waduri. Ardhàpanas pwekà gêtih ing rwaning
waduri, sumök ta ya têkeng mata. Andhìbhùta, dadi ta sira wuta tan panon deúa; hàrohara ta siràmet irikang
lêmbu. Hana ta sumur mati. Ngkàna ta sira n tibà kalêbwing sumur, apan tan panon ing màrga nira. Sore
pwekang kàla, mulih tekang wåûabha tan hanàngiring mare kanðangnya. Ndatan katon sira mulih de nira mpu,
hàrohara ta siràmet i úiûya nira. Irikang sakatambesuk inulatan de ðang hyang guru, kapanggih ta sireng jro
sumur mati. Tinañan pwa sira kàraóa ning kalêbwing sumur mati, màjar ta sang Utamanyu yan wuta, amangan
gêtih ing waduri saka ri lapà nira n inuhutan de ðang hyang guru mangdilata wêrêh ning watsa.
Saka ri kàruóya bhagawàn Dhomya wineh ta sang Utamanyu mantra Aúwinodewaràjani uccàraóàkêna nira,
matang yan marya wuta. Apan sang hyang Aúwinodewamantra de sang guru. Ndatan madwa sang hyang mantra,
ðatêng ta sang hyang Aúwinodewa maweh anugraha tumpihangin kinonakên wurungan wuta. Ya ta panganên ira
pakoûadhà ni laranya, niyata warasa. Pinangan ira pwa ya ta,
cakûur arogyaý bhawati
muwah ta sira paripùróa indra ning mata nira, tan hana kawikàra ning akûi wêkasan. Sukha ta bhagawàn
Dhomya tumon i sang Utamanyu.
Siddhiúàstrànugrahomi
Manganugrahàni ta sira úàstra siddhi lawan, tatan kêneng tuhàtah rùpanyanaku.‛ Nàhan ta ling bhagawàn
Dhomya manganugrahe sira.
Tumùt sang Weda pinarìkûa nira. Kinon ira tamolaheng padangan, kumawwatakêna taðah nira sari-sari. Saka ri
bhakti nira sang Weda ring guru, tumùtakên ike panas tìs nira mpu ðang hyang, yatna ri sapakon ira,
inanugrahan ta sira sarwawidyà saha wedamantra mwang kasarwajñànan, mulih ta sire patapan ira. Wruh pwa
sira duákha ning sewak, magên-angên ta sira; ‚yan hanà úiûyangku dlàha, wehêngku juga sang hyang mantra,
haywa pinalakwan guruyàga nguniweh pamarìkûa ni guruúuúrùûanya.‛ Mangkanàngên-angên ira. Tadanantara
hana ta úiûya nira hañar ðatêng, sang Uttangka nàma nira. Tumuluy ta wineh sang hyang Weda tan pamalakwa
guruyàga. Salwir ning agama têlas kahaji de sang Uttangka.

Daftar Pustaka:
Agastia, IBG, 1994. Kesusateraan Indonesia, Sebuah Pengantar, Denpasar : TU Warta Hindu Dharma.
________, 1987. Sagara Giri, Kumpulan Esei Sastra Jawa Kuna, Denpasar : Wyàsa Sanggraha
Jendra, I Wayan, 1986. Fonologi Bahasa Indonesia dan Fonologi Bahasa Indonesia Dialek Bali, Denpasar : Unud.
Mardiwarsito, L., 1981. Kamus Jawa Kuna – Indonesia, Flores : Ende.
Medera, I Nengah, 1986. Pengantar Tata Bahasa Jawa Kuna, Denpasar : Unud.
Sharma, Mukunda Madhawa, 1986. Unsur-unsur Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Indonesia, Denpasar : Wyàsa Sanggraha.
Simpen AB., Wayan, 1986. Riwayat Kesusasteraan Jawa Kuno, Denpasar : Yayasan Bali Metri.
Wojowasito, S., 1982. Kawiçastra, Jakarta : Djambatan.
Zoetmulder, P.J., 1994 Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Djambatan.
_________, 1994. Sekar Sumawur I, Yogyakarta : Gajahmada University Press.

Bahan Ajar Bahasa Kawi Untuk Mahasiswa STHD Klaten