Anda di halaman 1dari 21

Perawatan Pulpa Vital pada Gigi Sulung

Tujuan Pendidikan Secara Keseluruhan tujuan dari studi ini adalah memberikan informasi kepada pembaca mengenai perawatan pulpa yang dilakukan pada gigi sulung. Penyelesaian dari studi ini,diharapkan pembaca akan dapat melakukan: 1. Mendaftarkan dan menggambarkan penilaian klinis dan radiografi yang dibutuhkan untuk menentukan perawatan pulpapada gigi sulung yang tepat 2. Mendaftarkan indikasi-indikasi gigi sulung yang membutuhkan perawatan pulpa 3. Mendaftarkan dan menggambarkan tahap-tahap pulpotomi gigi sulung dan bahan-bahan yang dapat digunakan 4. Mendaftarkan dan menggambarkan tahap-tahap perawatan pulpa indirect pada gigi sulung Abstrak Perawatan pulpa gigi sulung dapat dilakukan pada gigi geligi sulung hingga mencapai eksfoliasi sempurna ketika keadaan klinis dibutuhkan. Pilihan perawatan yang termasuk di dalamanya adalah pulpotomi, perawatan pulpa indirect dan pulpektomi. Pilihan perawatan yang tepat bergantung pada kesehatan pulpa. Alasan untuk menentukan pilihan perawatan sebaiknya dipelajari, penting untuk menilai gigi baik secara klinis maupun radiografi. Pilihan utama untuk perawatan gigi vital adalah pulpotomi dan perawatan pulpa indirect. Perhatian yang detail diberikan pada prosedur dan follow-up, seperti digambarkan pada artikel ini, kedua teknik itu memiliki nilai kesuksesan yang sama dan dapat mempertahankan gigi sulung.

Pendahuluan Perawatan pulpa gigi sulung dilakukan dengan tujuan untuk menjaga gigi sulung hingga mencapai eksfoliasi yang normal. Manajemen gigi yang mengalami karies termasuk gigi sulung ketika karies telah berada di dekat pulpa membutuhkan

pendekatan pengetahuan tentang perawatan pulpa, dan keberhasilan perawatan bergantung pada diagnose yang akurat dari keadaan pulpa terlebih dahulu yang membutuhkan perawatan. Pengumpulan dan interpretasi data awal harus difokuskan pada penentuan apakah pulpa gigi sulung masih normal, mengalami inflamasi reversible, inflamasi irreversible atau telah necrose. Jika hasil penentuan adalah pulpa masih vital atau mengalami inflamasi reversible, teknik perawatan pulpa vital yang diindikasikan adalah pulpotomi atau perawatan pulpa indirect (IPT). Jika keadaan pulpa yang ditentukan adalah inflamsi irreversible atau telah necrose, baik pulpektomi maupun pencabutan gigi merupakan perawatan yang sesuai. Studi ini hanya terbatas pada diskusi tentang prosedur perawatan pulpa vital yaitu pulpotomi dan perawatan pulpa indirect (yang biasa dikenal dengan indirect pulp capping). Proses penentuan bahwa perawatan pulpa vital dapat dilakukan pada gigi sulung dimulai dengan mengumpulkan data klinis dan radiografi dengan tujuan untuk menentukan status vitalitas pulpa. Data Klinis Parameter klinis yang harus dipelajari adalah perubahan pada jaringan lunak, mobilitas patologis dan riwayat nyeri. Ketika dilakukan pemeriksaan klinis dari gigi dengan karies luas yang diduga melibatkan pulpa (Gbr 1). pemeriksaan disekitar mukosa buccal pada gigi yang terlibat sebaiknya dilakukan untuk melihata adanya sinus tract atau parulis. (Gbr. 2) Pulpa gigi sulung yang tidak vital seringkali

mengalami drainase melalui tulang bagian buccal yng tipis, dan adanya sinus tract mengindikasikan gigi mengalami necrose dan secara langsung kontraindikasi terhadap

perawatan pulpa vital. Pada keadaan ini, pencabutan atau pulpektomi merupakan perawatan yang sesuai. Mobilitas pasti yang diharapkan dari eksfoliasi normal juga meruapak sebuah kontraindikasi perawatan pulpa vital, sehingga hal ini

mengindikasikan bahwa terjadi proses inflamasi pada pulpa dan telah menghancurkan tulang pendukung. Gambar 1. Lesi karies yang luas pada gigi molar sulung

Gambar 2. Sinus tract berhubungan dengan pulpa yang necrose pada gigi S

Penggunaan tes pada pulpa seperti tes dingin dan panas serta tes elektrik yang dilakukan untuk menentukan vitalitas pulpa tidak diindikasikan pada gigi anak-anak. Respon yang hanya ditimbulkan dari pulpa yang masih vital adalah nyeri, dan secara sengaja tes ini menyebabkan nyeri sehingga dapat menimbulkan rasa takut pada anakanak dan menjadi tidak kooperatif dimasa akan datang. Riwayat yang didapatkan tentang ada atau tidaknya nyeri dan jenis rasa nyeri merupakan alat klinis utama yang digunakan untuk menilai vitalitas pulpa pada gigi anak-anak. Bagaimanapun juga, jika anak-anak tidak dapat memberitahukan riwayat nyeri, yang harus dilakukan adalah menanyakan riwayat nyeri pada pengasuh dengan pertanyaan yang sama pada anak. Riwayat nyeri spontan, seperti nyeri yang membangunkan anak-anak dimalam hari, diindikasikan sebagai pulpitis irreversible dan kematian gigi. Perawatan pulpa vital tidak diindikasikan untuk gigi dengan kondisi seperti itu. Riwayat nyeri yang

ditimbulkan atau didapatkan lebih menyulitkan untuk diintrepetasikan. Nyeri pada proses mastikasi yang mungkin diakibatkan tekanan pada lesi karies luas, dari pada nyeri saat perkusi, merupakan gejala yang lebih tidak menyengkan. Untuk

menghilangkan nyeri perkusi, tempatkan tongue blade pada cups yang tidak terlibat dan meminta anak menggigitnya, lihat tanda ketidaknyamanan pada wajah anak, yang mana akan tetap konsisten jika terdaapat nyeri pada perkusi. Jika diidentifikasi adanya nyeri perkusi pada gigi maka kontra indikasi untuk dilakukan perawatan pulpa vital. Nyeri yang timbul akibat makanan manis, panas atau dingin dan berdurasi pendek tidak kontraindikasi terhadap perawatan pulpa vital tapi sebaiknya dicatat pada lembar kumpulan data.

Data Radiografi `Radiografi bitewing dan periapikal dibutuhkan untuk menilai status pulpa pada gigi sulung dengan lesi karies yang luas. Radiografi bitewing merupakan. radiografi terbaik untuk menilai lesi karies dari arah proksimal ke pulpa. (Gbr 3). Radiografi bitewing juga merupakan film terbaik untuk melihat furkasi dari gigi sulung, yang mana merupakan tanda pertama terjadinya necrotic pulpa pada gigi sulung. Saluran akar tambahan pada lantai kamar pulpa gigi sulung memberikan jalan bagi toksin dari pulpa yang mecrotic pada kamar pulpa menuju furkasi dan mempengaruhi tulang. Kehilangan lamina dura dan penurunan radiopasitas dari tulang pada daerah furkasi merupakan tanda pertama dari kematian pulpa, dan gigi geligi yang menunjukkan tanda radiografi ini tidak menjadi kandidat untuk perawatan pulpa gigi vital. Lapisan tipis diatas furkasi pada akar palatal gigi molar rahang atas membuat pembacaan yang akurat sulit untuk radiolusensi pada tahap awal.

Berikut adalah ringkasan indikasi-indikasi perawatan pulpa vital pada gigi sulung:
1. Lesi karies disekitar pulpa dimana pulpa terbuka diharapkan dilakukan

pengangkatan karies secara menyeluruh. 2. Adanya jaringan lunak yang patologis seperti sinus tract, mobilitas yang patologis dan nyeri spontan. 3. Adanya perubahan radiografi pada radiolusensi furkasi atau patologis periapikal 4. Sebuah gigi yang telah direstorasi
5. Paling tidak tmasih tersisa sepertiga gigi.

Gambar 3. Radiografi Bitewing dan periapikal pada gigi molar pertama sulung dengan lesi karies disekitar pulpa

Setelah keputusan dibuat apakah pulpa masih vital atau hanya menunjukkan gejala reversible, dokter gigi harus menentukan teknik perawatan pulpa mana yang dibutuhkan, pulpotomi atau perawtan pulpa indirect (IPT). Indikasi ini sama dengan kedua prosedur, dan kerugian yang hanya ditimbulkan oleh IPT adalah kehilangan alat diagnostic utama yang disediakan oleh teknik pulpotomi, kemampuan untuk melihat dengan jelas pulpa sekana pengangkatan jaringan pulpa untuk mengkonfirmasi keakuratan kerja. Bukti terakhir mengindikasikan bahwa IPT memiliki tingkat

kesuksesan yang sma dengan pulpotomi pada gigi sulung dan sekarang dipertimbangkan sebagai perawtan alternativ. Kedua prosedur akan didiskusikan pada

bagian berikut ini, Sebelum memulai prosedur invasive dengan kemungkinan akan menyebabkan rasa nyeri, anastesi lokal yang adekuat harus diberikan. Sebuah rubber dam yang terpasang dengan baik yang digunakan untuk mengontrol kontaminasi saliva,diperlukan pada kedua prosedur pulpotomi dan IPT. Teknik Pulpotomi Teknik pulpotomi termasuk di dalamnya pengangkatan pulpa di bagian mahkota, meninggalkan jaringan pulpa yang sehat pada bagian akar. Dengan alasan untuk meminimalkan kontaminasi bakteri, karies superficial haris diangkat sebelum membuka pulpa dan memulai akses pembukaan. Setelah pengangkatan karies dan pembukaan pulpa, pembukaan akses dimulai untuk mengangkat atap kamar pulpa. Pembukaan akses yang tepat dari kamar pulpa merupakan tahap yang paling penting dalam memastikan pengangkatan keseluruhan pulpa dari mahkota. Ketidak hati-hatian dalam mengangkat jaringan pulpa merupakan penyebab ketidakmampuan dalam mengontrol perdarahan. Pembukaan akses yang luas dan adekuat membantu dalam melihat kamar pulpa dan mengangkat semua jaringan lunak dari orifisium saluran akar (Gbr. 4). Ujung cups merupakan pedoman letak tanduk pulpa, dan sebaiknya

digunakan untuk mengindikasikan dan melihat semua tanduk pulpa sebagai pedoman dalam menentukan garis luar dan memastikan bahwa akses dari kamar pulpa adalah pada perluasan dinding peripheral dari kamar pulpa. Ketika atap dari kamar pulpa diangkat, sebaiknya tidak terdapat ledges dan dinding akses pembukaan sebaiknya berimpit dengan kamar pulpa. Pulpa sebaiknya berdarah saat ini dilakukan dan kamar pulpa dapat diakses; perdarahan

pengangakatan atap pulpa (Gbr. 5)

merupakan indicator pulpa masih vital. Jika kamar pulpa kosong dan kering atau terisi dengan pus, prosedur pulpotomi tidak dapat dilanjutkan dan gigi harus dirawat dengan pulpektomi atau pencabutan. Akses pembukaan dan pengangakatan atap pulpa dari kamar pulpa dapat dilakukan dengan Handpiece berkecepatan tinggi dan semprotan air dingin, tapi pengangakatan jaringan pulpa sebaiknya dilakukan dengan ekskavator atau bur bulat besar pada handpiece berkecapatan rendah. Penggunaan handpiece

berkecapatan tinggi pada kamar pulpa memiliki kemampuan untuk terjadi perforasi lantai pulpa oleh karena ukuran yang kecil dan kedalaman yang dangkal dari kamar pulpa dan gerakan dari pasien anak (Gbr. 6). Pada saat jaringan pulpa diangkat, gunakan gulungan kapas kecil basah dengan tekanan air ringan untukmengontrol perdarahan dan membersihkan kamar pulpa. Jika kontrol perdarahan tidak dapat dilakukan dalam waktu 5 menit (Gbr. 7), pulpa sebaiknya tidak dipertimbangkan untuk dilakukan pulpotomi. Ketidakmampuan dalam mengontrol perdarahan merupakan indikasi bahwa proses inflamasi telah berpindah ke saluran akar dan merupakan kontraindikasi perawatan pulpa vital. Jika kontrol

perdarahan telah dicapai dan kamar pulpa telah bersih, medikamen pulpotomi dapat diaplikasikan. Formokresol merupakan medikamen yang paling sering digunakan pada pulpotomi gigi sulung,tetapi terdapat dua alternatif obat lain untuk perawatan pulpa, ferric sulfat dan mineral trioxide aggregate (MTA). Keputusan tentang penggunaan medikamen dilakukan sesuai dengan keinginan operator. Formokresol dan ferric sulfat memiliki tingkat kesuksesan yang sama dengan MTA dan dilaporkan memiliki tingkat kesuksesan paling tinggi. Bagaimanapun juga, MTA memiliki harga yang sangat

mahal dan dari itu jarang digunakan. Medikamen ini akan dipertimbangkan secara terpisah karena teknik aplikasi yang berbeda. Gambar 4. Akses pembukaan yang tidak adekuat dapat meninggalkan jaringan pulpa dan jaringan tersisa di kamar pulpa

Gambar 5. akses pembukaan tanpa ledges dan dinding yang berimpit dengan kamar pulpa

Gambar 6. Jaringan pulpa pada mahkota diangkat hingga mencapai saluran akar

Gambar 7. Kontrol perdarah menggunakan tekanan kapas gulung basah

Gambar 8. Prosedur pulpotomi yang sebenarnya

Formokresol

A 1:5 formocresol Buckley yang diencerkan (19% formaldehyde) direkomendasikan sebagai medikamen pulpa. Konsentrasi ini telah digunakan pada mayoritas investigasi pulpotomi formokresol yang dilakukan akhir-akhir ini dan pengenceran dilakukan oleh seorang apoteker. Perlu diketahui bahwa formokresol Buckley tidak tersedia dalam bentuk konsentrasi itu sendiri. Formula pengenceran formokresol yaitu campuran 3 bagian glycerin dengan 1 bagian air yang telah disaring, dan ditambahkan 4 bagian diluents pada 1 bagian formula formokresol Buckley. Konsentrasi lain dari

formokresol yang didapatkan yaitu 45,8% formaldehid, perhatian diberikan ketika konsentrasi, formula buckley telah diperoleh. Perhatian lebih juga telah diberikan pada bentuk khas dari formokresol, dan rekomendasi yang digunkan sekarang adalah dalam jumlah yang memungkinkan, 1:5 formokresol Buckley. Tahap- tahap yang termasuk dalam penggunaan teknik ini adalah : Rendam gulungan kapas kecil (dua kapas untuk gigi molar kedua) di dalam formokresol, dan keringkan kapas dengan gauze berukuran 2x2 inci. Berhati-hati untuk hanya menggunakan kapas yang lembab, tidak merendam hingga basah. Kapas tersebut ditempatkan tepat diatas lantai pulpa dan di bungkus rapat dengan kapas kering untuk memastikan bahwa tidak ada akses formokresol untuk keuar dari gigi dan mengenai gingival. Kapas ditinggalkan selam 5 menit dan kemudian di gerakkan dari pulpa denggan menggunakan ekskavator, hati-hati untuk tidak menimbulkan perdarahan dari pulpa yang tersisa. Jika terjadi perdarahan, lakukan kontrol perdarahan lagi dan ulangi tahap penggunaan formokresol pada pulpa. Kapas formokresol harus diangkat dan jangan ditinggalkan di kamar pulpa. Campuran antara zink oxide dan

eugenol (ZOE), baik yang biasa atau yang diperkuat, diletakkan di dalam kamar pulpa dan tekan kembali dengan kapas gulung basah. Penting untuk dipastikan bahwa pasta berada tepat dilantai pulpa dan menutup orifisium. Bentuk dasar dari zinc oxide eugenol (ZOE) yang menutup pembukaan saluran sebaiknya memiliki ketebalan paling tidak 3-4 mm dan menutup orifisium saluran akar.

Gambar 9 Aplikasi kapas formokresol-yang lembab pada pulpa

Ferric Sulfat Ferric sulfat, sebuah agen hemostatik, didapatkan secara komersial sebagai Astringedent (Ultradent Products, Inc., Salt Lake City, Utah) dan ditempatkan dengan ujung aplikator. Kontrol perdarahan dapat dilakukan sebagi berikut, sebauah alat untuk meletakkan bahan atau ujung brush diaplikasikan pada pulpa selama 10-15 detik. Ruang pulpa sebaiknya dibilas dengan bersih menggunakan air dan kapas gulung kering. Campuran ZOEyang tebal, baik yang bentuk dasar atau yang diperkuat,

ditempatkan pada kamar pulpa dan dibungkus dengan kuat untuk melindungi pulpa.

Penting untuk dipastikan bahwa pasta dikondensasi dengan baik ke dalam lantai pulpa dan melindungi orifisium saluran akar. Bentuk base dari ZOE yang menutupi saluran yang terbuka sebaiknya memiliki ketebalan 3-4 mm dan memiliki bentuk yang baik untuk menutupi saluran pulpa.

MTA MTA secara komersial tersedia sebagai ProRoot MTA (Dentsply International, York, Pennsylvania) dalam bentuk bubuk dan cairan (Gbr 10 A-B) yang harus dicampurkan untuk mendapatkan bentuk pasta dengan ketebalan sedang. Bubuk

ditempatkan pada kertas untuk mengaduk dan kemudian dicampur dengan menggunaakn air yang berasal dari pabrik. Untuk satu tahap pulpotomi, hanya sekitar seperempat dari bubuk yang dibutuhkan, dan paket dapat dilipat dan ditutup. Tempatkan paket pada kantung plastik yang dapat ditutup dan tutup rapat untuk membuat lingkungan yang lembab. Penambahan air dari pabrik diberikan melalui tube plastic yang telah diukur yang tidak dapat disimpan setelah dibuka. Untuk campuran lain dari paket yang sama, anda dapat menggunakan lauran salin steril (yang didapatkan dari apoteker) atau larutan anastesi lokal. Bubuk yang tersisa sebaiknya digunakan selama beberapa minggu atau dibuang dan diganti dengan paket baru.

Gambar 10A Bubuk MTA dikeluarkan dari paket

Gambar 10 B MTA dicampur dengan salin steril atau air

Campuran MTA dengan ketebalan sedang dibawa kedalam kamar pulpa dengan menggunakan spatula dan dikondensasi diatas lantai pulpa, pastikan bahwa ketebalan pasta hanya sekitar 2mm diatas lantai pulpa. Sebuah resin-modified glass ionomer (RMGI) digunakan sebagai base di atas MTA dan peletakkan base diperhatikan agar tidak mengganggu MTA dan kemudian RMGI dikeringkan. Waktu pengerasan MTA adalah 3-4 jam, dan resin-modified glass ionomer rmemberikan perlindungan yang dibutuhkan selama waktu pengerasan.

Gambar 11 A. Kontrol perdarahan

Gambar 11B. Campuran MTA pada alat kondensasi

Gambar 11 C. MTA ditempatkan pada pulpa

Gambar 11D penempatan base RMGI

Pilihan restorasi untuk gigi sulung yang telah mendapatkan perawatan pulpotomi adalah dengan mahkota stainless steel (SSC). Ggi yang telah dipulpotomi telah menjadi lemah oleh karena karies dan banyaknya struktur gigi yang diangkat selama perawatan pulpotomi. Penutupan secara menyeluruh dari SSC melindungi struktur gigi yang lemah dan menjamin terbentuknya lapisan biologis yang dibutuhkan bagi kesuksesan pulpotomi sepanjang waktu. Base yang digunakan di atas orifisium untuk saluran akar sebaiknya dipisahkan dari semen yang digunakan untuki SSC. JIka SSC akan dipasang, base yang terpisah akan menjamin bahwa pulpotomi meninggalkan lapisan hingga anak-anak dapat datang kembali kembali ke dokter gigi untuk mengganti SSC.

Perawatan pulpa indirect Teknik perawatan pulpa vital yang lain untuk gigi sulung dengan karies luas mendekati pulpa yang dapat menyebabkan pulpa terbuka jika seluruh jaringan karies diangkat adalah perawatan pulpa indirect (IPT). Teknik IPT adalah bahwa beberapa

jaringan karies tetap ditinggalkan pada gigi untuk menghindari terbukanya pulpa. Teknik IPT yang direkomendasikan untuk gigi sulung adalah teknik satu kali kunjungan, dan gigi tidak dibuka kembali untuk mengambil karies yang tersisa. Tahap pertama adalah mengangkat karies superficial dan peripheral, dan hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan bur bulat berkecepatan tinggi disertai semprotan air pendingin. Semua dinding peripheral harus dibersihkan hingga mencapai dentin yang sehat, jaringan karies ditinggalkan di atas pulpa. Karies di atas pulpa paling baik diangkat menggunakan bur bulat besar (#6) dengan kecepatan rendah. Penggunaan ekskavator sebaiknya dihindari, karena dapat mengangkat gumpalan dentin dan pulpa dapat terbuka karena ketidakhati-hatian. Bur bulat dengan kecepatan rendah

memudahkan operator untuk mengontrol seberapa banyak dentin yang diangkat dan kapan harus berhenti. Penggunaan handpiece berkecepatan rendah dengan bur bulat yang besar, dapat mengangkat dengan bagian yang halus, yaitu dentin yang terinfeksi di atas pulpa. Sebuah keputusan sebaiknya dibuat pada awal prosedur bahwa

pengangkatan jaringan karies harus dihentikan jika telah terbentuk serbuk dan dentin terlihat kasar, meskipun masih lunak, menurut warna dari dentin yang tersisa. Bagian ini merupakan dentin yang terlibat dan karena dentin yang terlibat ini tidak terinfeksi dengan sejumlah mikroorganisme dan memiliki kemampuan untuk meremineralisasi jika memiliki lapisan biologis, dentin ini dapat ditinggalkan di atas pulpa dengan ketebalan 1-2mm. Jangan berlebihan dalam mengangkat jaringa karies dan beresiko untuk membuka pulpa (Gbr 12). Dentin yang tersisa harus ditutupi dengan base dan menyediakan lapisan biologis pada dentin yang terlibat. Sejauh lapisan ini terpelihara,

semua bakteri dalam dentin yang terlibat akan mati atau menjadi tidak aktif, dan dentin akan mengakami remineralisasi dan menjadi lebih keras. Dua bahan yang

direkomendasikan untuk base IPT adalah ZOE reinforced seperti bahan restorasi Caulk IRM (Dentsply International) atau RMGI. Gigi kemudian ditutup dengan SSC seperti yang telah digambarkan sebelumnya,.

Gambar 12 Pengangkatan dentin yang terinfeksi, meninggalakan lapisan yang kotor, dentin yang terinfeksi untuk menghindari terbukanya pulpa

Follow up Follow up dari gigi yang mendapatkan peprawatan pulpa vital sangat penting. Setiap 6 bulan, radiografi periapikal dari gigi yang dirawat sebaiknya dilakukan dan dibacakan. Radiografi ini sebaiknya dibandingkan dengan radiografi sebelum

perawatan untuk mengamati perubahan sepanjang waktu. Tidak adanya perubahan

antara sebelum perawatan dan setelah perawatan merupakan standar emas bagi kesuksesan perawatan. Bagaimanapun juga, kebanyakan gigi sulung menerima

perawatan pulpa vital, terutama pulpotomi, akan memperlihatkan perubahan sepanjang waktu. Penemuan yang umum didapatkan adalah terbentuknya keseragaman disekitar saluran yang biasa disebut metamorphosis kalsifikasi dan mengindikasikan gigimengalami kematian pulpa. Sepanjang waktu keseluruhan saluran pulpa mungkin dihapuskan. Gigi geligi ini jarang mengalami kegagalan, dan penemuan ini

dipertimbangkan sebagai suatu kesuksesan. Perubahan lain dari saluran akar yang jarang terlihat dibandingkan metamorphosis internal adalah resorpsi yang sedikit dan terbatas pada saluran, hal ini dapat dilihat, seperti pada literature yang telah melaporkan bahwa banyak gigi geligi menunjukkan tidak terjadi kegagalan dari prosedur ini

sepanjang waktu. Bagaimanapun juga, gigi ini masih vital dan menunjukkan potensial untuk menghancurkan diri sendiri. Jika hal ini terus berlanjut, akan merusak akar dan mempengaruhi tulang pendukung gigi. Pada keadaan seperti ini, gigi harus dicabut dan pulpotomi mengalami kegagalan. Radiolusensi apapun pada tulang atau bukti resorpsi eksternal yang tidak berhubungan dengan ekfoliasi sempurna merupakan bukti bahwa telah terjadi kematian pulpa dan mengindikasikan bahwa perawatan telah gagal (Gbr 15). Gigi geligi yang menunjukkan perubahan ini harus dicabut dan dipertimbangkan pemakaian space maintainer, bergantung pada umur anak-anak dan bentuk erupsi.

Gambar 13. Radiografi follow-up pada gigi yang telah dipulpotomi (K) menunjukkan adanya metamorphosis kalsifikasi

Gambar 14. Radiografi follow up pada gigi yang telah dipulpotomi (T) menunjukkan adanya resorpsi internal

Gambar 15. Radiografi follow-up pada (L)menunjukkan perforasi resorpsi internal

gigi

yang

telah

dipulpotomi

Gambar 16. Radiografi follow-up pada gigi yang telah dipulpotomi (K) menunjukkan radiolusensi pada furkasi dan resorpsi internal

Sebagai ringkasan, banyak gigi sulung dengan karies yang luas disekitar pulpa dapat diselamatkan hingga mencapai eksfoliasi normal melalui penilaian diagnosa yang baik untuk menentukan perawatan pulpa vital yang tepat dan perhatian perlu diberikan terhadap teknik perawatan dan follow up dari perawatan.