Anda di halaman 1dari 4

Realisme dalam Studi Hubungan Internasional Oleh: Andhik Beni Saputra1

Pendahuluan Hubungan internasional (HI) merupakan suatu disiplin yang relatif muda jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti politik, sosiologi, antropologi, ekonomi, filsafat dan hukum. HI sebagai suatu disiplin ilmu membutuhkan sejumlah teoriteori yang relevan dalam menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi. Teori merupakan bentuk penjelasan yang paling umum untuk menjelaskan mengapa sesuatu terjadi. Teoriteori dalam ilmu sosial senantiasa bermanfaat untuk menyederhanakan realitas sosial yang sulit agar mudah dipahami dan diaplikasikan untuk menjelaskan kenyataan itu sendiri. 2 Dalam paper ini akan dibahas secara ringkas suatu teori atau pendekatan yang paling dominan dalam Studi Hubungan Internasional (SHI), yaitu realisme.

Asumsi Realisme Kemunculan realisme dalam SHI tidak dapat dilepaskan dari premis-premis yang lebih dahulu diajukan oleh kaum idealis tentang konsepsi perdamaian dunia. Kaum idealis memandang bahwa perdamaian dunia akan tercipta jika negara-negara mensubordinasikan kedaulatan mereka dibawah kekuasaan pemerintahan dunia. Konsepsi kaum idealis ini kemudian diimplementasikan dengan pembentukan Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations) untuk mencegah terulangnya Perang Dunia I. Kegagalam LBB dalam menciptakan perdamaian memunculkan berbagai kritik terhadap idealisme. Para pengkritik idealisme memandang bahwa konsepsi tentang pemerintahan dunia dan perdamaian abadi merupakan hal yang utopis. Mereka dipandang gagal memahami kenyataan bahwa HI pada dasarnya perebutan kekuasaan (struggle for power).3 Para pengkritik idealisme ini menamakan dirinya sebagai realisme yang mengatakan bahwa politik seharusnya dijalankan dalam corak yang realistis.4 Power dan kepentingan nasional menjadi fitur sentral tingkah laku negara-bangsa (nation-state). Menurut Robert Jackson dan Georg Sorensen, terdapat empat hal yang menjadi ide dan asumsi dasar dari realisme. Pertama, pandangan pesimis atas sifat manusia yang egois. Kedua, keyakinan bahwa hubungan internasional pada dasarnya konfliktual dan

1 2

Mahasiswa HI UR angkatan 2008 dan Ketua Forum for Academician of International Relations (FAIR) FISIP UR. Aleksius Jemadu, Politik Global dalam Teori dan Praktik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), hal. 13 3 Bob Sugeng Hadiwinata, Transformasi Isu dan Aktor di dalam Studi Hubungan Internasional: Dari Realisme hingga Konstruktivisme, dalam Yulius P. Hermawan (ed), Transformasi dalam Studi Hubungan Internasional: Aktor, Isu dan Metodologi, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), hal. 4-5. 4 Theodore A. Couloumbis & James H. Wolfe, Pengantar Hubungan Internasional: Keadilan dan Power, (Bandung: Putra A Bardin, 1999), hal. 6.

konflik internasional pada akhirnya diselesaikan melalui tindakan kekerasan yaitu perang. Ketiga, menjunjung tinggi nilai-nilai keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara.5 Keempat, kekuasaan merupakan kunci untuk memahami tingkah laku internasional dan motivasi negara.6 Kegley dan Wittkopf dalam definisi yang lebih kompleks mengemukakan bahwa realis sebagai suatu pendekatan dalam SHI terdiri atas sepuluh asumsi pokok. Pertama, manusia pada dasarnya mementingkan dirinya sendiri tanpa memperdulikan etika dan selalu terdorong untuk mengambi keuntungan dalam hubungan dengan orang lain. Kedua, manusia selalu memiliki hasrat untuk berkuasa dan mendominasi orang lain dalam hubungan dengan sesamanya. Ketiga, peluang untuk menghilangkan hasrat untuk meraih kekuasaan hanyalah sebuah aspirasi yang utopis. Keempat, esensi dari politik internasional adalah pertarungan untuk meraih kekuasaam. Kelima, kewajiban utama negara yang melampaui semua tujuan nasional hanyalah memperjuangkan kepentingan nasional dan meraih kekuasaan untuk mewujudkannya. Keenam, sistem internasional yang anarkis memaksa negara untuk meningkatkan kapabilitas militernya guna menangkal serangan dari musuh potensial dan menjalankan pengaruhnya atas negara lain. Ketujuh, kekuatan militer lebih penting dari ekonomi demi tercapainya keamanan nasional dan pertumbuhan ekonomi hanyalah sarana untuk mencapai dan memperluas kekuasaan. Kedelapan, sekutu dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan negara dalam mempertahankan diri tetapi kesetiaan dan kendalanya tidak bisa dipastikan sebelumnya. Kesembilan, negara tidak boleh mengandalkan organisasi internasional atau hukum internasional untuk menjamin keamanan nasionalnya. Kesepuluh, karena semua negara berusaha untuk meningkatkan kekuatannya maka stabilitas hanya bisa dicapai melalui keseimbangan kekuatan (balance of power) yang diperlancar oleh pembentukan dan pembubaran aliansi-aliansi yang saling bertentangan.7 Dunne dan Schmidt yang mengelompokan asumsi realisme ke dalam 3S, yaitu state, survival, self-helps.8 State adalah aktor utama dalam HI yang anarkis. Anarki internasional dalam pandangan realisme bukan berarti suatu keadaan yang benar-benar chaos dan tidak ada aturan, melainkan ketiadaan kekuasaan sentral. Dalam konteks internasional yang

Robert Jackson &George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 88. 6 Jill Stean & Llyod Pettiford, Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 58. 7 Charles W. Kegley & Eugene R. Wittkopf, World Politics: Trend and Transformation, (Belmont: Wadsworth, 2003), hal 37-38. Seperti dikutip Aleksius Jemadu, op. cit., hal. 21-22. 8 T. Dunne & B. Schmidt, Realism, in J. Baylis & S. Smith (ed), The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations, (2nd. Ed., pp. xxx, 690 p.), Oxford: Oxford University Press. Seperti dikutip oleh Abubakar Eby Hara, Pengantar Analisis Politik Luar Negeri: Dari Realisme sampai Konstruktivisme, (Bandung: Penerbit Nuansa, 2011), hal. 35

anarkis, prioritas politik luar negeri suatu negara adalah menjaga kelangsungan hidupnya atau survival dari ancaman negara lain, yang juga merupakan inti dari kepentingan nasional. Kemudian, setiap negara harus menolong dirinya sendiri (self-help). Negara tidak boleh percaya pada negara lain atau organisasi internasional, tetapi harus mencari cara sendiri, terutama meningkatkan kekuatan militernya.9

Kritik Menurut Jill Stean dan Llyod Pettiford, terdapat delapan hal yang dapat dilancarkan sebagai kritikan terhadap realisme. Pertama, realisme terlalu menyederhanakan kompleksitas politik global. Kedua, realisme dalam menekankan prinsip politik kekuasaan dan ciri-ciri sistem internasional yang masih bertahan hingga kini gagal memberikan kesempatan bagi kemungkinan perubahan nyata. Ketiga, meski kaum realis mempunyai pandangan adanya pengulangan sejarah telah gagal membuat prediksi-prediksi khusus apapun. Keempat, asumsi realisme hanya relevan pada konteks tertentu, suatu kesalahan besar jika menganggapnya sebagai kebenaran universal, yang dapat diterapkan

dimanapun dan kapanpun. Kelima, dalam menekankan sentralitas negara dan kepentingan nasional, realisme mendorong untuk melihat dunia dari perspektif etnosentris yang sangat dangkal. Keenam, realisme mengabaikan lingkup kerja sama dan perubahan yang menentukan dalam HI. Ketujuh, rasional atau tidaknya kebijakan luar negeri diarahkan harus dipertanyakan. Kedelapan, asal usul realisme modern mngkin telah dibaca secara selektif atau diinterpretasikan secara bias.10 Charles W. Kegley, membagi kritik terhadap realisme ke dalam lima hal. Pertama, realisme tidak pernah membayangkan bahwa Perang Dingin akan berakhir karena pembubaran Uni Soviet secara suka rela tanpa adanya tekanan dari negara manapun. Kedua, orang mempertanyakan kemampuan realisme klasik dalam mendeskripsikan realitas politik global secara utuh dan efektif. Ketiga, ketidakmampuan realisme untuk menyerap isuisu baru dalam politik global kontemporer. Keempat, realisme tidak dapat menjelaskan secara meyakinkan dinamika perang dan damai dalam politik global. Kelima, realisme dikritik karena ketidakmampuannaya memberikan prekripsi kebijakan kepada para pembuat kebijakan luar negeri.11

Abubakar Eby Hara, Ibid. Hal. 35-36. Jill Stean & Llyod Pettiford, op. cit. Haal. 83-85. 11 Charles W. Kegley Jr, The Neoliberal Challenge to Realist Theories of World Politics: an Introductions, dalam Charles W. Kegley Jr. (ed). Op. Cit., hal. 5-8. Seperti dikutip oleh Aleksius Jemadu, op. cit.,hal. 30-32.
10

Kesmipulan Realisme merupakan pendekatan utama dalam studi hubungan internasional. Realisme menempatkan negara sebagai aktor utama dalam politik global, sedangkan aktoraktor lainnya seperti MNC, OI, merupakan aktor skunder. Dalam pandangan realisme, power dan kepentingan nasional merupakan tujuan utama negara. Realisme tidak luput dari berbagai kritik yang dilancarkan oleh ilmuwan HI lainnya. Salah satu kritik yang paling mendasar adalah ketidakmampuan realisme dalam meramalkan akhir Perang Dingin.

Bibliografi A. Coloumbis, Theodore & James H. Wolfe 1999. Pengantar Hubungan Internasional: Keadilan dan Power. Diterjemahkan oleh Mercedes Marbun. Bandung: Putra A Bardin. Hadiwinata, Bob Sugeng . 2007. Transformasi Isu dan Aktor di dalam Studi Hubungan Internasional: Dari Realisme hingga Konstruktivisme, dalam Yulius P. Hermawan (ed), Transformasi dalam Studi Hubungan Internasional: Aktor, Isu dan Metodologi. Yogyakarta: Graha Ilmu. Bab 2. Hara, Abubakar Eby. 2011. Pengantar Analisis Politik Luar Negeri: Dari Realisme sampai Konstruktivisme. Bandung: Penerbit Nuansa Jackson, Robert &George Sorensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Diterjemahkan oleh Dadan Suryadipura. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.. Jemadu, Aleksius. 2008. Politik Global dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Graha Ilmu Stean, Jill & Llyod Pettiford. 2009. Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema diterjemahkan oleh Deasy Silvya Sari. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.