Anda di halaman 1dari 4

Tugas I Apakah cara bercocok tanam di beberapa daerah di Sulawesi Selatan itu sama?

Jawab : Cara bercocok tanam di beberapa daerah di Sulawesi Selatan itu berbeda. Alasannya adalah bahwa setiap daerah memiliki kondisi yang berbeda-beda. Perbedaan itu dapat berupa posisi lahan, sifat tanah, cuaca, suhu udara, topografi, irigasi, dan lain-lain. Karena mata kuliah ini adalah mata kuliah irigasi dan bangunan air, maka saya lebih menitikberatkan alasan mengenai pengaruh irigasi terhadap cara bercocok tanam di beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Kita tahu bahwa saluran irigasi sangat mempengaruhi sikap petani dalam bertani pada di setiap daerah, dimana adanya air irigasi akan sangat berpengaruh terhadap tanaman apa yang akan ditanam pada suatu lahan. Jika irigasi baik dan suplai air pun ada, maka sawah dapat ditanami tanaman dengan kebutuhan air yang banyak seperti padi. Akan tetapi jika yang terjadi sebaliknya, maka tanaman yang cocok untuk ditanam adalah tanaman palawija atau kacang-kacangan dan sebagainya yang dalam proses penanaman hingga pemanenannya tidak membutuhkan air yang banyak. Berikut adalah daftar daerah di Sulawesi Selatan dengan luas prasarana irigasinya :

(http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=sungai%20di%20kabupaten%20pinrang&source =web&cd=5&ved=0CDsQFjAE&url=http%3A%2F%2Fwww.pu.go.id%2Fsatminkal%2Fdit _sda%2Fprofil%2520balai%2Fbbws%2Fnew%2Fprofil%2520bbws%2520jeneberang.pdf&e i=yBZnT5XxJYLNrQeG3929Bw&usg=AFQjCNHPQ_5wNwtnX-VmyAYOU-ADJAh--w) Tabel di atas memperlihatkan daerah-daerah dengan luas jaringan baku, luas jaringan terbangun, dan luas irigasi fungsionalnya. Dari daerah-daerah tersebut terlihat jelas Kabupaten Pinrang memiliki luas irigasi fungsional terbesar yaitu sebesar 39.510 ha dan luas jaringan terbangunnya yang dalam kondisi baik mencapai 23.706 ha. Kondisi tersebut memungkinkan daerah Pinrang untuk bercocok tanam jenis padi hingga 6 kali dan palawija 2 kali dalam kurun waktu 2 tahun. Hal ini lebih diperjelas dengan terdapatnya 77 bangunan irigasi pada daerah tersebut

(http://sda.pu.go.id/sdadata/irigasi.php?kriteria_data=%5Bkabupaten%5D&lPg=aXJpZ2FzaQ%3D%3D&pLbl=-%3A+DATA+IRIGASI+%3A-&nTbl=U0UNdB6uBLIUnzP7GWYN1LmN4an&kFld=irigasi&nFld=Tl9ESQ%3D%3D&ka bupaten%5B%5D=7315) Berbeda dengan Kabupaten Jeneponto yang memiliki luas daerah fungsional seluas 7.185 ha, akan tetapi luas jaringan terbangunnya yang dalam kondisi baik hanya 2.156. Meskipun di sana juga memiliki bangunan irigasi yang banyak akan tetapi pada musim kemarau banyak saluran irigasi yang tidak terdapat air di sana. Hal ini dikarenakan sebagian besar wilayah daerah dari wilayah ini adalah dataran tinggi sehingga proses pengaliran menjadi sedikit sulit. Sehingga masyarakat pada daerah ini lebih memanfaatkan persawahan mereka sebagai sawah tadah hujan ataupun ada juga yang menggunakan saluran irigasi semiteknis. Hal inilah yang membuat petani di daerah Jeneponto rata-rata menanam padi hanya bisa sampai 1-2 kali setahun dan sisanya adalah tanaman palawija ataupun kacangkacangan dan sejenisnya. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 749,79 km2 dan berpenduduk sebanyak 330.735 jiwa, kondisi tanah (topografi) pada bagian utara terdiri dari dataran tinggi dengan ketinggian 500 s/d 1400 m, bagian tengah 100 s/d 500 m dan pada bagian selatan 0 s/d 150 m di atas permukaan laut. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Jeneponto)

(http://sda.pu.go.id/sdadata/irigasi.php?kriteria_data=%5Bkabupaten%5D&lPg=aXJpZ2FzaQ%3D%3D&pLbl=-%3A+DATA+IRIGASI+%3A-&nTbl=vY66GF9sdxfyVR8nQm9nFPnVf1q&kFld=irigasi&nFld=Tl9ESQ%3D%3D&kabup aten%5B%5D=7304)