Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN Pada masa sekarang ini, sudah ngetrend yang namanya pergaulan bebas.

Pergaulan bebas yang ada dikalangan mahasiswa ini dapat menimbulkan berbagai konflik yang harus dihadapi, dan salah satunya adalah perilaku aborsi. Mahasiswa yang pernah melakukan hubungan seksual pranikah dengan orang lain dapat menyebabkan kehamilan. Sehingga mahasiswa mau tidak mau harus mengambil keputusan, yaitu untuk tetap mempertahankan kandungannya atau akan menghentikan kahamilan dengan cara aborsi. Menurut Andayani dan Setiawan (2005) kondisi bio-psiko-sosial mahasiswa yang mengalami masa transisi membuat mahasiswa rentan menghadapi godaan, sehingga banyak mahasiswa yang terjebak menjadi sexually active pranikah. Hal itu membawa pada sebuah konsekuensi dimana suatu saat akan terjadi kehamilan yang tidak dikehendaki. Mahasiswa yang mengalami kehamilan di luar nikah akan mengalami dilema dalam mengambil keputusan. Proses pengambilan keputusan dihadapkan pada dua pertimbangan, yaitu pertimbangan internal dan pertimbangan eksternal. Menurut Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah menilai kasus aborsi di Indonesia semakin meningkat. Angka aborsi di Indonesia setiap tahun mencapai 2 juta kasus. Tingginya angka aborsi telah memberi kontribusi terhadap tingginya angka kematian ibu hamil yang saat ini mencapai 230-260 kasus per 100.000 kelahiran. Angka kehamilan di Indonesia, termasuk yang tertinggi di Asia. Selain itu PKBI Jawa Tengah juga menyebutkan jumlah aborsi yang dilakukan secara aman di Jawa Tengah setiap bulan sekitar 60 kasus dan jumlah kasus aborsi yang dilakukan tidak aman diperkirakan lebih banyak. Di DIY, Jakarta dan Bali angkanya lebih tinggi, mencapai 100 kasus aborsi aman perbulan. Aborsi aman dilakukan oleh tenaga medis yang memiliki kompetensi sedangkan aborsi beresiko dilakukan oleh tenaga yang tidak memiliki keahlian dibidang ilmu kebidanan dan kandungan (http://www.goegle.com). Menurut Sarlito (2000) faktor-faktor yang mendorong timbulnya aborsi adalah faktor ekonomi yaitu banyak anak, PHK, biaya, belum kerja dan faktor sosial yaitu putus sekolah, malu, hak asuh anak, terganggu karir atau masa depan. Aborsi saat ini masih dilarang oleh hukum dan masih menjadi kontroversi dari berbagai pihak. Masa-masa pasca aborsi adalah masa-masa yang rentan untuk timbulnya efek piskologis. Dokter tidak dapat mencegah efek psikologis pada calon ibu yang melakukan aborsi. Secara psikologis, calon ibu akan merasakan kesedihan yang mendalam karena telah kehilangan bayi, beban batin akan timbulnya perasaan berdosa, bersalah dan penyesalan yang dapat mengakibatkan timbulya depresi. Memendam perasaan berdosa, bersalah ingin mengungkapkan perasaan tersebut tetapi takut kalau aibnya diketahui orang lain, lebih banyak menyadari misal: mengurung diri di kamar, kadang saat tertentu kontrol emosinya bisa tidak stabil. Efek psikologis yang ditimbulkan mungkin akan lebih besar karena konflik nilai dan kepercayaan, kadangnya berbeda antara satu orang dengan orang yang lainnya (Hildayanti, 1999).

Setiap wanita pasti mempunyai kodrat sebagai orang ibu yang melahirkan anaknya, tapi apa yang terjadi bila kelahiran anak tersebut kedunia akan memunculkan suatu permasalahan, dan salahnya adalah perilaku aborsi. Keputusan untuk melakukan aborsi bukan merupakan pilihan yang mudah, mereka harus berperang melawan perasaanya (keinginan untuk tidak melakukan tindak aborsi dan ingin membesarkan anaknya tetapi pada kenyataanya perempuan tersebut tidak punya pilihan lain) dan kepercayaannya mengenai hidup seorang calon manusia yang dikandungnya, sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk aborsi. Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka permasalahannya adalah bagaimana dinamika psikologis perempuan yang melakukan aborsi. Berdasarkan permasalahan di atas penulis mengambil judul perilaku aborsi pranikah dikalangan mahasiswa. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah dinamika psikologis perempuan yang melakukan aborsi. LANDASAN TEORI Pengertian Perilaku Aborsi Pranikah Menurut Kartono dan Gulo (dalam Andayani dan Setiawan, 2005), aborsi atau disebut juga pengguguran kandungan, keluron, abortus atau keguguran adalah pengguguran atau pengenyahan dengan paksa janin (embrio) dari rahim (uterus) selama tiga bulan. Secara umum istilah aborsi diistilahkan sebagai pengguguran kandungan yaitu dikeluarkannya janin sebelum waktunya, baik itu secara sengaja atau tidak. Biasanya dilakukan saat janin masih berusia muda (sebelum bulan keempat masa kehamilan). Menurut Fatmawati (2008), perilaku-perilaku yang muncul pada wanita yang melakukan perilaku aborsi pranikah antara lain: lebih menutup diri dari lingkungan keluarga dan masyarakat, mencari klinik aborsi, mencari obat penggugur kandungan, memakai pakaian yang lebih longgar, loncat-loncat, minum jamu peluntur atau jamu telat bulan, makan nanas muda, minum jamu, pergi ke dukun, minum obat ginekosid/cytotec. Jenis-Jenis Aborsi Menurut Departemen Kesehatan RI (1996) berdasarkan proses terjadinya, aborsi dibedakan menjadi: 1. Aborsi spontan, merupakan aborsi yang berlangsung tanpa satu tindakan apapun. 2. Aborsi buatan, mengakhiri kehamilan sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu suatu akibat tindakan. 3. Aborsi terapeutik, aborsi buatan yang dilakukan atas indikasi medis. 4. Aborsi kriminalis, aborsi buatan yang dilakukan karena bukan karena indikasi medis melainkan semata-mata untuk menggugurkan kandungan karena kehamilan yang tidak dikendaki.

Faktor Pendorong Untuk Melakukan Aborsi Menurut Sarlito (2000) faktor yang mendorong timbulnya aborsi adalah: 1. Faktor ekonomi, jika tidak aborsi 1) Anak terlalu banyak, penghasilan suami terbatas, dan sebagainya (khususnya ibu-ibu peserta KB yang mengalami kegagalan kontrasepsi). 2) 3) PHK (Putus Hubungan Kerja) Misal: Pramugari, Buruh. Belum bekerja (buat yang masih sekolah atau kuliah) 1. Faktor sosial (khusus untuk kehamilan pranikah), jika tidak aborsi: 1) 2) 3) 4) Putus sekolah atau kuliah Malu pada keluarga dan tetangga Siapa yang akan mengasuh bayi Terputus atau terganggu karir atau masa depan

Kondisi Pra Aborsi Sarlito (2000), menyatakan bahwa kondisi psikologis perempuan pra aborsi diantaranya adalah takut atau cemas, kebingungan sehingga menunda-nunda persoalan, membutuhkan perlindungan tetapi lelaki yang berbuat pada umumnya tidak mau dan tidak mampu bertanggungjawab, membutuhkan informasi tetapi tidak tau harus bertanya kepada siapa (masyarakat mentabukan seks, apalagi aborsi dari semua yang belum menikah, khususnya perempuan). Pada saat sudah terdesak akhirnya nekat mencari bantuan yang paling terjangkau (dekat, murah dan mudah). Tindakan nekat ini tidak didukung oleh pengetahuan yang cukup bisa sangat berbahaya, dukun atau para medik atau dokter yang tidak bertanggungjawab, komplikasi yang tidak segera ditolong, infeksi karena tidak diperiksa ulang. Akibat Melakukan Aborsi Menurut Edmosond (1990) kondisi psikologis pasca aborsi diantaranya adalah munculnya penyangkalan, perempuan tak mau memikirkan atau membicarakan hal itu lagi, menjadikan rahasia pribadi, menjadi tertutup, takut didekati, munculnya perasan tertekan. Menurut Harja (2005) wanita yang melakukan aborsi diam-diam, setelah proses aborsi biasanya akan mengalami Post Abortion Syndrome (PAS) atau sering juga disebut Post Traumatic Stress Syndrome. Gejala yang sering muncul adalah depresi, kehilangan kepercayaan diri, merusak diri sendiri, mengalami gangguan fungsi seksual, bermasalah

dalam berhubungan dengan kawan, perubahan kepribadian yang mencolok, serangan kecemasan, perasaan bersalah dan penyesalan yang teramat dalam. Mereka juga sering menangis berkepanjangan, sulit tidur, sering bermimpi buruk, sulit konsentrasi, selalu teringat masa lalu, kehilangan ketertarikan untuk beraktivitas, dan sulit merasa dekat dengan anak-anak yang lahir kemudian Mahasiswa Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) mahasiswa adalah orang yang belajar diperguruan tinggi. Berdasarkan pandangan umum masyarakat mengatakan bahwa mahasiswa adalah seseorang yang telah lulus sekolah menengah umum yang kemudian melanjutkan studinya diperguruan tinggi. Mahasiswa, status manusia yang identik dengan mahkluk yang berdikari tinggi dan berintelektualitas cerdas. Deskripsi tentang mahasiswa banyak berkembang di masyarakat (Chaerul, 2002) Pertanyaan Penelitian Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana dinamika psikologis perempuan yang melakukan aborsi ? METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Bogdang & Taylor (Faisal, 1990) mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Gejala Penelitian Gejala penelitian yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah perilaku aborsi pranikah dan mahasiswa. Subjek Penelitian Subyek dalam penelitian ini berjumlah empat orang yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Perempuan yang pernah melakukan tindak aborsi. Status perkawinan: belum menikah. Usia minimal 18 tahun. Berstatus Mahasiswa.

Pengambilan Subjek Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampel, yaitu pengambilan sampel didasarkan atas ciri-ciri atau karakteristik yang telah ditentukan sebelumnya

Karakteristik Subyek Penelitian

Intensitas namausia aborsi NH 23 2 Kali ID 21 1 kali

HO 23 1 kali A 22 1 kali

Usia abo rsi 4 bula n 2 bula n 3 bula n 5 bula n

Teknik Pengumpulan Data


1. Wawancara 2. Observasi
Metode Analisis Data

Menurut Moleong (2001) analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.

HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan tidakan aborsi pranikah antara lain seperti yang dialami oleh subyek penelitian, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. Belum siap punya anak, seperti yang dialami S1, S2, S3 dan S4 Malu, seperti yang dialami S1, S2, S3 dan S4 Masa depan terhambat, seperti yang dialami S1, S2, S3 dan S4 Masih kuliah, seperti yang dialami S1, S2, S3 dan S4 Takut kehamilannya diketahui oleh keluarga, seperti yang dialami S1, S2, S3 dan S4 6. Tidak mau membebani orang tua, seperti yang dialami S1, S2, S3 dan S4 7. Pertimbangan dari laki-laki yang menghamili, seperti yang dialami S2, S3 dan S4 8. Masalah ekonomi atau keterbatasan biaya, seperti yang dialami S3 9. Jika dilahirkan anaknya mau dikasih makan apa?, seperti yang dialami S3 10. Karier pacar subyek bisa terganggu, seperti yang dialami S4 11. Tidak ingin hamil atau punya anak diluar nikah, seperti yang dialami S1 Faktor yang menyebabkan mahasiswa memilih untuk melakukan tindakan aborsi pranikah tersebut seperti pada teori yang dikemukakan oleh Sarlito (2000) bahwa faktor yang mendorong timbulnya aborsi adalah: 1. Faktor ekonomi, jika tidak aborsi 1) Anak terlalu banyak, penghasilan suami terbatas, dan sebagainya (khususnya ibu-ibu peserta KB yang mengalami kegagalan kontrasepsi). 2) 3) PHK (Putus Hubungan Kerja) Misal: Pramugari, Buruh. Belum bekerja (buat yang masih sekolah atau kuliah) 1. Faktor sosial (khusus untuk kehamilan pranikah), jika tidak aborsi: 1) 2) 3) 4) Putus sekolah atau kuliah Malu pada keluarga dan tetangga Siapa yang akan mengasuh bayi Terputus atau terganggu karir atau masa depan.

Hal ini juga sejalan dengan pendapat Fatmawati (2008), yang menyatakan bahwa perilakuperilaku yang muncul pada wanita yang melakukan perilaku aborsi pranikah antara lain: lebih menutup diri dari lingkungan keluarga dan masyarakat, mencari klinik aborsi, mencari obat penggugur kandungan, mamakai pakaian yang lebih longgar, loncat-loncat,

minum jamu peluntur atau jamu telat bulan, makan nanas muda, minum jamu, pergi ke dukun, minum obat ginekosid/cytotec. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa mahasiswa sebelum melakukan tindakan aborsi pranikah mengalami kondisi yang sama, seperti: kebingungan, ketakutan, deg-degan, sedih dan sensitif. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarlito (2001) yang menyatakan bahwa kondisi psikologis perempuan pra aborsi diantaranya adalah takut atau cemas, kebingungan sehingga menunda-nunda persoalan, membutuhkan perlindungan tetapi lelaki yang berbuat pada umumnya tidak mau dan tidak mampu bertanggung jawab, membutuhkan informasi tetapi tidak tahu harus bertanya kepada siapa (masyarakat mentabukan seks, apalagi aborsi dari semua yang belum menikah, khususnya perempuan). Pada saat sudah terdesak akhirnya nekat mencari bantuan yang paling terjangkau (dekat, murah dan mudah). Tindakan nekat ini tidak didukung oleh pengetahuan yang cukup bisa sangat berbahaya, dukun atau para medik atau dokter yang tidak bertanggung jawab, komplikasi yang tidak segera ditolong, infeksi karena tidak diperiksa ulang, Hal ini juga sejalan dengan pendapat Edmondson (1990) yang menyatakan bahwa ketika akan melakukan tindakan aborsi, seorang wanita dalam keadaan kebingungan dan bimbang, keputusan untuk melakukan tindakan aborsi biasanya berasal dari dorongan atau ancaman dari orang-orang sekelilingnya. Ketika seorang perempuan mengambil keputusan untuk mengakhiri kehamilanya tanpa berfikir panjang akan berlangsung menyetujui proses pengguguran kandungannya. Setelah semuanya terjadi, yang dipertanyakan adalah bagaimana proses kelangsungan hidup perempuan tadi dan bagaimana caranya melupakan aborsi yang telah terjadi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa yang dialami oleh seorang mahasiswa saat melakukan tindakan aborsi pranikah, seperti: subyek melakukan tindakan aborsi mendapat dukungan dari pacar subyek selain itu subyek juga mendapatkan dukungan dari teman dekatnya. Selama ini subyek melakukan aborsi dengan cara mengkonsumsi obat penggugur kandunga, karena proses aborsinya itu tidak berhasil maka subyek melakukan tindakan aborsi dengan cara kuret. Adapaun kondisi subyek saat melakukan tindakan aborsi, seperti: mengalami pendarahan kurang lebih satu bulan, mengalami sakit perut, alat kelamin terasa sakit, jika buang air kecil vagina terasa sakit, sering buang air kecil, menjadi lebih pemarah, mudah tersinggung, takut mati, sensitif dan badan terasa lemas. Hal ini sesuai dengan pendapat Iwan (2006) Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa kondisi fisik yang akan dihadapi seorang wanita, seperti: kematian mendadak karena pendarahan hebat, kematian mendadak karena pembiusan yang gagal, kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan, rahim yang sobek, pendarahan, sakit perut, alat kelamin terasa sakit, sering buang air kecil, dan jika buang air kecil itu vagina akan terasa sakit sekali, badan wanita tersebut akan lemas dan kemungkinan tidak kuat berjalan, muka kelihatan pucat Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa dampak yang dialami oleh mahasiswa yang melakukan tindakan aborsi pranikah, seperti: depresi, trauma, merasa bersalah, takut pada anak kecil, ada kemungkianan subyek tidak mempunyai anak lagi, tekanan batin, haid tidak lancar dan stress. Sehingga subyek yang melakukan tindakan

aborsi pranikah akan mengalami perkembangan atau perubahan perilaku, hal ini ditunjukkan dari perilaku subyek sesudah melakukan tindakan aborsi pranikah, seperti: sering mimpi tentang anak kecil, menjauhi anak kecil, menangis jika teringat pada anak yang telah digugurkannya, menangis jika melihat tayangan tentang anak dibuang atau aborsi, terdiam jika melihat tayangan tentang anak dibuang atau aborsi, terbayang-bayang sama anak yang telah digugurkannya, menjadi tidak konsentrasi, lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan pendapat Edmosond (1990) yang menyatakan bahwa kondisi psikologis pasca aborsi diantaranya adalah munculnya penyangkalan, perempuan tak mau memikirkan atau membicarakan hal itu lagi, menjadikan rahasia pribadi, menjadi tertutup, takut didekati, munculnya perasan tertekan. KESIMPULAN DAN SARAN 1. A. Kesimpulan Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan pada empat subyek maka dapat diketahui dinamika psikologis aborsi pranikah dikalangan mahasiswa adalah sebagai berikut: Pada awal subyek mengetahui dirinya hamil, subyek dalam kondisi kebingungan, sedih, stres, dan sensitif sehingga subyek memutuskan untuk melakukan tindakan aborsi. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi subyek untuk melakukan tindakan aborsi pranikah, antara lain seperti: perasaan malu, belum siap punya anak, masa depan terhambat, masih kuliah, membebani orang tua, keterbatasan biaya, karier pacar bisa terganggu. Selain faktor-faktor diatas subyek juga mengalami perubahan perilaku, hal ini ditunjukkan dari perilaku subyek sebelum melakukan tindakan aborsi pranikah, seperti: sering mengurung diri di kamar, menghindari keluarga maupun teman-teman, memakai baju yang lebih longgar, tidak nafsu makan, curhat pada teman dekat maupun pada pacar subyek, mencari obat penggugur kandungan ataupun klinik aborsi. Adapaun kondisi subyek saat melakukan tindakan aborsi, seperti: mengalami pendarahan, sakit perut, alat kelamin terasa sakit, jika buang air kecil vagina terasa sakit, sering buang air kecil, menjadi lebih pemarah, mudah tersinggung, takut mati, sensitif dan badan terasa lemas. Sehingga subyek mengalami kondisi psikologis, seperti: depresi, trauma,, merasa bersalah, takut pada anak kecil, ada kemungkianan subyek tidak mempunyai anak lagi, tekanan batin, haid tidak lancar, stress, sering mimpi tentang anak kecil, menjauhi anak kecil, menangis jika teringat pada anak yang telah digugurkannya. 1. B. Saran

Saran-saran yang dapat diberikan peneliti berkaitan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan antara lain: 1. Bagi subyek Diharapkan agar dapat berhati-hati dan waspada, lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dengan cara sholat 5 waktu dengan teratur, mengaji sertelah sholat magrib dan menghadiri pengajian secara rutin sehingga mampu mengendalikan diri untuk tidak berperilaku free seks yang akan mengakibatkan kehamilan pranikah dan aborsi pranikah. Memperluas khasanah pengetahuan mengenai seksualitas dan aborsi dari berbagai informasi yang jelas sumbernya serta memberanikan diri untuk memulai komunikasi dengan orang tua secara terbuka. 1. Bagi Orang Tua Diharapkan orang tua dapat menanamkan pendidikan moral dan agama sejak dini serta memberikan kontrol pengawasan terhadap anaknya. Meningkatkan komunikasi yang efektif dengan anak sehingga orang tua berkesempatan untuk membina dan mengembangkan kepribadian dan aklak anak. Lebih aktif dan tidak perlu menunggu reaksi anak, bersikap demokratis sehingga anak dapat bertukar pikiran dan terbuka. Selalu meluangkan waktu guna menjalin komunikasi yang sehat, memberikan pengawasan, pendidikan dan kasih sayang. 1. Bagi Masyarakat Diharapkan agar dapat meningkatkan kontrol sosial yang tinggi terhadap perilaku mahasiswa yang rentan dengan pelanggaran norma sosial dan norma agama, khususnya aborsi pranikah sehingga para mahasiswa tidak terjerumus dalam tindakan aborsi yang melanggar norma hukum dan norma agama. 1. Bagi Pemerintah dan LSM Diharapkan agar memberikan kesempatan kepada mereka untuk melanjutkan pendidikan, pemulihan rasa percaya diri dan pelayanan konseling bagi para mahasiswa. 1. Bagi peneliti selanjutnya Diharapkan dapat menyempurnakan hasil-hasil penelitian ini dengan mengupas lebih dalam tentang kesehatan reproduksi, kehamilan dan aborsi. Selain itu juga lebih banyak menggunakan alat tes untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. banyak menggunakan alat tes untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA

Andayani, R. T dan Setiawan I. 2005. Perilaku Seksual Pranikah dan Sikap Terhadap Aborsi (Study Korelasi Pada Mahasiswa Program Study Patologi UNDIP Semarang). Jurnal Psikologi UNDIP. 2. (2), 1-10. Bramantyo. 2002. Hubungan antara Pendidikan Seksual dari Orang Tua dengan Pengendalian Perilaku Seksual Remaja. Skripsi (tidak diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Mummadiyah Surakarta. Faisal, F. 1990. Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar Aplikasi. Malang: Yayasan Asah Asih Asuh Malang. Hildayanti. 1999. Dinamika Psikologis Yang Dialami Oleh Perempuan Yang Melakukan Aborsi Akibat Kehamilan Pranikah. Skripsi (tidak diterbitkan). Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Permata, SP. 2003. Pengetahuan dan Sikap Remaja Terhadap Kesehatan Reproduksi, Kehamilan dan Keluarga Berencana. Jurnal Penelitian UNIB. IX. (2), 109-114.