Anda di halaman 1dari 49

HASIL DISKUSI PBL KASUS KE JUDUL SKENARIO KELOMPOK HARI/TGL TUTORIAL : I (Satu) : Merapiku Sayang Merapiku Malang : 3 (Tiga)

: Jumat & Selasa, 20 & 24 Mei 2011

INFO I Bangsa Indonesia tengah dilanda bencana bertubi-tubi. Salah satunya adalah meletusnya gunung Merapi. Letusan gunung Merapi yang terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010 menimbulkan sejumlah kerusakan dan korban jiwa serta materi. Diperkirakan sekitar puluhan penduduk meninggal akibat letusan gunung Merapi tersebut. Jumlah penduduk yang harus mengungsi dari rumahnya sudah hampir mencapai 200.000 jiwa. Mereka untuk sementara harus tinggal di tempat yang sangat terbatas fasilitasnya. Selain itu, banyak penduduk yang masih belum ditemukan. Setelah situasi cukup aman, dilakukan pencarian oleh warga dan Tim SAR. Akhirnya didapatkan mayat korban letusan gunung Merapi, tetapi kondisinya sudah rusak sehingga sulit dikenali secara fisik. Para pengungsi mendapatkan bantuan makanan dari pemerintah daerah selama beberapa hari. Tetapi pada hari ke 2, mendadak banyak pengungsi yang menderita pusing-pusing, diare dan muntah-muntah setelah mengkonsumsi makanan bantuan tersebut. Salah satu pasien diantar ke Puskesmas yang ada di wilayah letusan gunung Merapi. Kondisi pasien tampak pucat dan lemah, Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik, pasien tampak diam, gerakan napasnya terhenti, dokter segera meraba nadi pada tangan korban tetapi tidak teraba, nadi pada leher juga tidak teraba, dari auskultasi juga tidak terdengar suara napas dan detak jantung. Dokter Puskesmas segera melakukan tindakan resusitasi.

TUTORIAL 1 A. Klarifikasi Istilah Resusitasi = pemulihan kehidupan pada seseorang yang tampaknya meninggal. Memulihkan kembali kerja jantung dan paru setelah henti jantung atau kematian mendadak nyata yang disebabkan oleh syok listrik, tenggelam, gagal pernapasan, atau penyebab lain. Komponen utamanya adalah ventilasi buatan dan masase jantung dada tertutup (Dorland, 2003).

B. Batasan Masalah Bencana gunung merapi terjadi 26 Oktober 2010. Banyak korban meninggal, luka-luka, hilang, mengungsi. Korban-korban meninggal sulit diidentifikasi karena ditemukan dalam kondisi hancur oleh tim SAR. Para pengungsi mengalami kercunan makanan. Pasien tampak pucat dan lemah, hasil pemeriksaan fisik : pasien tampak diam, gerakan napasnya terhenti, nadi tidak teraba, nadi pada leher juga tidak teraba, dari auskultasi juga tidak terdengar suara napas dan detak jantung.

C. Identifikasi Masalah 1. 2. 3. 4.
5.

Penjelasan istilah disaster plan Penanggulan bencana Alur penanggulangan bencana Jalur penanggulangan bencana Sistem koordinasi bencana

6. 7. 8. 9. 10. 11.

Pelayanan kesehatan bencana Triase Resusitasi Tatalaksana pada kasus Prinsip-prinsip ppgd Prinsip-prinsip Penangganan Pengungsi

D. Analisis Masalah 1. Penjelasan Istilah Disaster Plan

Disaster plan : suatu pokok rencana terpadu bagi setiap individu petugas suatu institusi RS/pelayanan kesehatan utk melakukan tindakan dan cara-cara menghadapi bencana sebelum saat dan sesudah nya (Depkes RI,1995).

2.

Penanggulan Bencana

Penanggulangan Bencana adalah serangkaian kegiatan baik sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang dilakukan untuk mencegah, mengurangi, menghindari dan memulihkan diri dari dampak bencana. Secara umum kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam penanggulangan bencana adalah sebagai berikut: pencegahan, pengurangan dampak bahaya, kesiapsiagaan, tanggap darurat, pemulihan (rehabilitasi dan rekonstruksi), dan pembangunan berkelanjutan yang mengurangi risiko bencana. Berikut adalah gambar siklus penanggulangan bencana secara umum

Gambar 1. Penanggulangan pre, durante dan paska bencana.

1) Pencegahan Pencegahan adalah upaya yang dilakukan untuk menghilangkan sama sekali atau mengurangi ancaman. Contoh tindakan pencegahan: a. b. c. d. Pembuatan hujan buatan untuk mencegah terjadinya kekeringan di suatu Melarang atau menghentikan penebangan hutan Menanam tanaman bahan pangan pokok alternatif Menanam pepohonan di lereng gunung wilayah

2) Mitigasi atau pengurangan Mitigasi atau pengurangan adalah upaya untuk mengurangi atau meredam risiko. Kegiatan mitigasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu fisik dan nonfisik. Contoh tindakan mitigasi atau peredaman dampak ancaman: a. b. Membuat bendungan, tanggul, kanal untuk mengendalikan banjir; Penetapan dan pelaksanaan peraturan, sanksi; pemberian penghargaan pembangunan tanggul sungai dan lainnya mengenai penggunaan lahan, tempat membangun rumah, aturan bangunan

c.

Penyediaan informasi, penyuluhan, pelatihan, penyusunan kurikulum

pendidikan penanggulangan bencana 3) Kesiapsiagaan Kesiapsiagaan adalah upaya menghadapi situasi darurat serta mengenali berbagai sumber daya untuk memenuhi kebutuhan pada saat itu. Hal ini bertujuan agar warga mempunyai persiapan yang lebih baik untuk menghadapi bencana. Contoh tindakan kesiapsiagaan: a. b. c. d. e. f. g. h. Pembuatan sistem peringatan dini Membuat sistem pemantauan ancaman Membuat sistem penyebaran peringatan ancaman Pembuatan rencana evakuasi Membuat tempat dan sarana evakuasi Penyusunan rencana darurat, rencana siaga Pelatihan, gladi dan simulasi atau ujicoba Memasang rambu evakuasi dan peringatan dini

4) Tanggap darurat Tanggap darurat adalah upaya yang dilakukan segera setelah bencana terjadi untuk mengurangi dampak bencana, seperti penyelamatan jiwa dan harta benda. Contoh tindakan tanggap darurat: a. b. c. d. e. f. 5) Pemulihan Pemulihan adalah upaya yang dilakukan untuk mengembalikan kondisi hidup dan kehidupan masyarakat seperti semula atau lebih baik dibanding sebelum bencana terjadi melalui kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Evakuasi Pencarian dan penyelamatan Penanganan Penderita Gawat Darurat (PPGD) Pengkajian cepat kerusakan dan kebutuhan Penyediaan kebutuhan dasar seperti air dan sanitasi, pangan, sandang, Pemulihan segera fasilitas dasar seperti telekomunikasi, transportasi, listrik,

papan, kesehatan, konseling pasokan air untuk mendukung kelancaran kegiatan tanggap darurat

Contoh tindakan pemulihan: Memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar fisik, pendidikan, kesehatan, kejiwaan, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, lingkungan, prasarana transportasi, penyusunan kebijakan dan pembaharuan struktur penanggulangan bencana di pemerintahan. 6) Pembangunan berkelanjutan Pembangunan berkelanjutan adalah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mempertimbangkan faktor risiko bencana sehingga masyarakat akan mampu mencegah, mengurangi, menghindari ancaman atau bahaya dan memulihkan diri dari dampak bencana. Contoh tindakan pembangunan berkelanjutan: membangun prasarana dan pelayanan dasar fisik, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, lingkungan, pembaharuan rencana tata ruang wilayah, sistem pemerintahan dan lainnya yang memperhitungkan faktor risiko bencana. (Yayasan IDEP, 2007). 3. Alur Penanggulangan Bencana

Gambar 2. Skema alur pelayanan medis di lapangan bencana.

4.

Jalur penanggulangan Bencana

Gambar 3. Jalur penanggulangan bencana. Dari bagan di atas terlihat sesuai dengan Undang Undang no 24 tahun 2007 yang mengatakan bahwa perencanaan penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah setempat. Pemerintah akan berkoordinasi dengan badan penanggulangan bencana setingkat untuk perencanaan. Keputusan itu akan menunjuk kepala satuan pelaksana lapangan kemudian jabatan ini yang bertanggung jawab langsung terhadap pemerintah. Kemudian SATLAK akan berkoordinasi dengan Rumah sakit provinsi dan mengomadokan rumah sakit daerah. Direktur rumah sakit masing-masing akan bertanggung jawab kepada SATLAK dan kemudian direktur mengomandokan kepala IGD untuk langsung memantau lapangan.

Berikut ini adalah alur pelaporan petugas medis saat bencana. Kepala Puskesmas Kepala Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten Kepala Dinas Provinsi Menteri Kesehatan Presiden Gambar 4. Alur pelaporan tim medis. 5. Sistem Koordinasi Bencana Wali Kota/Bupati Gubernur

Sistem koordinasi bencana (Badan Nasional Penanggulangan Bencana,2008) 1. Tingkat Pusat a. BAKORNAS PB Memobilisasi sumber daya nasional untuk penanggulangan bencana/ kedaruratan sejak kesiapsiagaan hingga penanganan darurat selesai. b. Departemen PU Menyediakan peta lokasi rawan bencana bekerjasama dengan BAKOSURTANAL. Menyediakan sarana dan prasarana pada tahap kesiapsiagaan dan penanganan bencana/kedaruratan hingga pemulihan darurat. c. Departemen Perhubungan 1) Memantau jalur-jalur transportasi yang terhambat akibat bencana dan melaksanakan upaya-upaya alternative transportasi. 2) Melaporkan dan memberikan informasi kondisi cuaca secara berkala/terusmenerus. 3) Menyediakan sarana perhubungan guna membantu upaya penanganan bencana/kedaruratan. d. Departemen Kesehatan

1) Memberikan supervisi, bantuan teknis dan administrasi tentang penanganan kesehatan di lokasi bencana. 2) Mencatat jumlah masyarakat/korban meninggal, luka-luka dan korban terserang penyakit akibat bencana. 3) Melakukan upaya penanganan krisis kesehatan yang meliputi : pelayanan kesehatan di Pos Kesehatan, Puskesmas,Pustu, RS rujukan. dll. e. Departemen Sosial 1) Menyiapkan bahan kebutuhan pokok sejak tahap kesiapsiagaan hingga tanggap darurat selesai. 2) Mendistribusikan bahan kebutuhan pokok bagi korban bencana/pengungsi sampai dengan tanggap darurat selesai. 3) Mengupayakan tersedianya bahan kebutuhan pokok dari berbagai sumber. f. Departemen Dalam Negeri 1) Mengkoordinasikan Pemerintah Daerah untuk upaya pengendalian bencana sejak kesiapsiagaan sampai dengan tanggap darurat selesai. 2) Menjembatani tugas Instansi teknis Pusat, Instansi teknis Pusat yang ada di Daerah dan Instansi Daerah. g. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Menyediakan informasi dan prakiraan cuaca dan iklim yang berkaitan dengan bencana. h. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Mengembangkan teknologi Peringatan Dini. i. Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) Menyediakan peta-peta daerah rawan bencana bencana. j. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Melakukan kajian dari citra satelit dan analisis tentang prediksi kondisi cuaca berdasarkan data dari citra satelit. k. Tentara Nasional Indonesia Mengerahkan potensi sumberdaya (peralatan dan personil) TNI untuk melakukan penanganan bencana, termasuk kemungkinan penggunaan helikopter untuk evakuasi dan distribusi bantuan, jika diperlukan.

l. Kepolisian Negara Republik Indonesia Mengendalikan situasi keamanan sejak kesiapsiagaan hingga tanggap darurat selesai. m. Badan SAR Nasional (BASARNAS) Melakukan kegiatan pencarian 2. Tingkat Provinsi a. Gubernur selaku Ketua Satkorlak PB menunjuk Komandan Penanganan Darurat (Incident Commander) untuk mengendalikan operasi lintas Kabupaten/Kota. b. Komandan Penanganan Darurat bertugas: 1) Mengendalikan pelaksanaan kegiatan pengendalian bencana. 2) Menyusun perencanaan dan kesiapsiagaan daerah berdasarkan tingkat kerawanan bencana. 3) Membuka POSKO di lapangan dan mengaktifkan Ruang POSKO Crisis Centre. 4) Memberlakukan Rencana Operasi sebagai Perintah Operasi Tanggap Darurat dalam rangka penanggulangan bencana. 5) Melaporkan tindakan yang telah diambil serta saran-saran kepada Gubernur serta Ketua BAKORNAS PB c. Unsur Teknis dari Dinas atau Badan terkait. Dalam pelaksanaan tugas SATKORLAK PB didukung oleh instansi Teknis/Dinas/lembaga tingkat Provinsi antara lain : 1) Dinas Kesehatan 2) Dinas Sosial 3) Dinas PU 4) Dinas Perhubungan 5) Dinas Kebersihan 6) Badan Kesbang Linmas / lembaga terkait. d. Instansi Teknis Pusat yang berada di Provinsi Pelaksanaan tugas Satkorlak PB berserta unsur teknis dalam penanganan bencana bencana juga didukung oleh Instansi Teknis Pusat yaitu: 1) BMG

2) TNI (Kodam / Korem) 3) Kepolisian (POLDA) 4) BASARNAS (SAR) e. Unsur Masyarakat Unsur masyarakat yang dapat berperanserta dalam upaya penanggulangan bencana bencana sejak kesiapsiagaan sampai dengan tanggap darurat selesai, antara lain: 1) Palang Merah Indonesia 2) Pramuka 3) Lembaga Swadaya Masyarakat 4) Unsur-unsur lain. 3. Tingkat Kabupaten/Kota a. Bupati/Walikota selaku Ketua SATLAK PB menunjuk Komandan Penanganan Darurat (Incident Commander) untuk mengendalikan operasi. b. Komandan Penanganan Darurat mempunyai tugas: 1) Mengendalikan pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana. 2) Menyusun perencanaan dan kesiapsiagaan daerah berdasarkan tingkat kerawanan bencana. 3) Membuka POSKO di lapangan dan mengaktifkan Ruang Posko Crisis Centre. 4) Memberlakukan Rencana Operasi menjadi Perintah Operasi Tanggap Darurat. 5) Melaporkan tindakan yang telah diambil dan upaya serta saran-saran kepada Ketua SATLAK PB yang tembusannya disampaikan kepada Ketua SATKORLAK PB dan Ketua BAKORNAS PB.

6.

Pelayanan Kesehatan Bencana

PP No. 21 Th. 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Pasal 69 (1) Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1) huruf e ditujukan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak bencana dalam rangka memulihkan kondisi kesehatan masyarakat.

(2) Kegiatan pemulihan kondisi kesehatan masyarakat terkena dampak bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui upaya-upaya : a. membantu perawatan korban bencana yang sakit dan mengalami luka; b. membantu perawatan korban bencana yang meninggal; c. menyediakan obat-obatan; d. menyediakan peralatan kesehatan; e. menyediakan tenaga medis dan paramedis; dan f. merujuk ke rumah sakit terdekat. (3) Upaya pemulihan kondisi kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilaksanakan melalui pusat/pos layanan kesehatan yang ditetapkan oleh instansi terkait dalam koordinasi BPBD. (4) Pelaksanaan kegiatan pemulihan kondisi kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilaksanakan dengan mengacu pada standar pelayanan darurat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Perka BNPB No. 7 Th. 2008 tentang Pedoman Tata Cara Pemberian Bantuan Pemenuhan Kebutuhan Dasar : Korban bencana, baik secara individu maupun berkelompok, terutama untuk kelompok rentan, dapat memperoleh bantuan pelayanan kesehatan. Bantuan pelayanan kesehatan diberikan dalam bentuk : 1. Pelayanan kesehatan umum meliputi : a. Pelayanan kesehatan dasar. b. Pelayanan kesehatan klinis. Standar Minimal Bantuan : a. Pelayanan kesehatan didasarkan pada prinsip-prinsip pelayanan kesehatan primer yang relevan. b. Semua korban bencana memperoleh informasi tentang pelayanan kesehatan. c. Pelayanan kesehatan diberikan dalam sistem kesehatan pada tingkat yang tepat : tingkat keluarga, tingkat puskesmas, Rumah Sakit, dan Rumah Sakit rujukan. d. Pelayanan dan intervensi kesehatan menggunakan teknologi yang tepat dan diterima secara sosial budaya. e. Jumlah, tingkat, dan lokasi pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan korban bencana.

f. Tiap klinik kesehatan memiliki staf dengan jumlah dan keahlian yang memadai untuk melayani kebutuhan korban bencana. Staf klinik maksimal melayani 50 pasien per hari. g. Korban bencana memperoleh pelayanan obat-obatan sesuai dengan kebutuhan. h. Korban bencana yang meninggal diperlakukan dan dikuburkan dengan cara yang bermartabat sesuai dengan keyakinan, budaya, dan praktek kesehatan. 2. Pengendalian penyakit menular meliputi : a. Pencegahan Umum b. Pencegahan Campak c. Diagnosis dan Pengelolaan Kasus d. Kesiapsiagaan Kejadian Luar Biasa e. Deteksi KLB, Penyelidikan & Tanggap f. HIV/AIDS Standar Minimal Bantuan : a. Pemberian vitamin A bagi bayi berusia 6 bulan sampai balita usia 59 bulan. b. Semua bayi yang divaksinasi campak ketika berumur 6 sampai 9 bulan menerima dosis vaksinasi ulang 9 bulan kemudian. c. Anak berusia 6 bulan sampai 15 tahun dapat diberikan imunisasi campak. d. Korban bencana memperoleh diagnosis dan perawatan yang efektif untuk penyakit menular yang berpotensi menimbulkan kematian dan rasa sakit yang berlebihan. e. Diambil tindakan-tindakan untuk mempersiapkan dan merespon berjangkitnya penyakit menular. f. Berjangkitnya penyakit menular dideteksi, diinvestigasi, dan dikontrol dengan cara yang tepat waktu dan efektif. g. Korban bencana memperoleh paket pelayanan minimal untuk mencegah penularan HIV/AIDS. 3. Pengendalian penyakit tidak menular, meliputi : a. Cedera b. Kesehatan Reproduksi c. Aspek Kejiwaan dan Sosial Kesehatan d. Penyakit Kronis

Standar Minimal Bantuan : a. Korban bencana memperoleh pelayanan tepat untuk mengatasi cedera. b. Korban bencana memperoleh pelayanan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan reproduksi. c. Korban bencana memperoleh pelayanan kesehatan sosial dan mental sesuai kebutuhan.

7.

Triase Suatu metode yang banyak digunakan dalam suatu multiple casualty

incident disebut Triase, yang berasal dari bahasa Perancis, trier, yang berarti memilah. Konsep ini diperkenalkan di Perancis pada awal 1800-an yang ditujukan untuk memprioritaskan pasien dan memberikan perawatan segera kepada korban yang terluka parah. Baron Dominique Jean Larrey, seorang ahli bedah pada pasukan Napoleon, merancang suatu metode evaluasi dan kategorisasi yang cepat pada pasukan yang terluka di medan pertempuran dan kemudian mengevakuasi mereka secepatnya. Jadi, Triase merupakan suatu sistem yang digunakan dalam mengidentifikasi korban dengan cedera yang mengancam jiwa untuk kemudian diberikan prioritas untuk dirawat dan dievakuasi ke fasilitas kesehatan. Tujuan dari Triase adalah: 1. 2. Identifikasi cepat korban yang memerlukan stabilisasi segera (perawatan di lapangan) Identifikasi korban yang hanya dapat diselamatkan dengan pembedahan (life-saving surgery) Triase dilakukan berdasarkan observasi terhadap tiga hal, yaitu: 1. 2. 3. Pernapasan (respiratory) Sirkulasi (perfusion); dan Status mental (mental state)

START (Simple Triage And Rapid Assessment) merupakan sistem triase sederhana yang dapat dilakukan oleh orang yang dilatih walaupun tidak mendalam (lightly trained) dan

petugas paramedik yang dapat secara cepat dan akurat memilah korban dan membaginya ke kelompok-kelompok perawatan. START membagi korban menjadi empat kelompok. Ada yang memulai membagi dari korban yang memiliki cedera paling ringan, tapi ada juga yang membagi dari korban yang telah meninggal. Sistem ini sangat sederhana untuk dipelajari dan sangat berguna pada keadaan dimana sumber daya medis yang ada kurang sampai datangnya bantuan tambahan. Triase akan lebih baik jika penolong memiliki triage tag, jika tidak ada dapat digunakan marker, spidol atau lipstick yang ditulis di dahi korban berupa D untuk deceased, I untuk immediate, DEL untuk delayed atau M untukminor. Triase 1 Dengan jelas dan keras, perintahkan para korban yang terlihat sadar untuk bangun dan berjalan ke tempat yang lebih aman dimana tim medis berada dan dimana mereka akan mendapat pertolongan lebih lanjut. Seseorang yang dapat berjalan, dianggap tidak memerlukan pertolongan segera walaupun mengalami cedera, walaupun begitu kategori/kriteria mereka dapat berubah. Orang-orang ini biasa disebut walking wounded, merekalah yang dapat diberdayakan untuk membantu tim medis dalam mengevakuasi ataupun merawat korban yang lebih berat. Orang-orang ini biasa diberigreen tag atau diberi tanda M. Korban yang termasuk dalam kategori ini adalah korban dengan luka ringan, fraktur ringan atau luka bakar minor. Triase 2 Pada korban yang tersisa, periksa keadaan, secara berturut-turut, respirasi, perfusi dan status mental. Respiratory Assessment Jika terdapat seorang korban yang tidak bernapas, perbaiki posisi kepala dan bebaskan jalan napas. Jika pernapasan spontan tidak juga muncul beri korban tanda black tag atau tanda D. Jangan coba untuk melakukan RKP, karena banyak pasien yang mungkin meninggal sementara kita menolong korban ini.

Perfusion Assessment Jika korban bernapas, periksa frekuensinya, apabila lebih dari 30 kali/menit, dengan ujung kaki dan tangan dingin, basah dan pucat, kemungkinan kotban akan mengalami syok. Beri tanda red tag atau tanda I, kemudian baringkan korban, tinggikan tungkai bawah (posisi syok) dan selimuti dengan jaket, selimut atau pakaian yang kering. Jika korban yang didapatkan bernapas dengan frekuensi kurang dari 30 kali/menit, periksa perfusinya (sirkulasi darah) dengan menekan dan lalu melepas ujung kuku, jika ujung kuku kembali merah muda dalam waktu lebih dari dua detik, beri korban red tag atau tanda I. Kontrol perdarahan yang signifikan dengan melakukan direct pressure dapat dilakukan pada tahap ini. Mental State Assessment Jika korban bernapas kurang dari 30 kali/menit, dengan capillary refill kurang dari dua detik, kemudian periksa status mentalnya. Tanyakan nama dan apa yang telah terjadi. Jika korban tidak dapat menjawab, atau menjawab dengan tidak jelas (meracau), tanyakan lagi, katakan bahwa Anda bertanya untuk memastikan apakah status mental korban baik. Jika korban bingung, itu mungkin pertanda dari kerusakan/cedera pada otak, beri red tag atau tanda I. Korban yang termasuk dalam kategori ini yaitu korban trauma capitis dengan pupil anisokor, gangguan pernapasan, atau korban dengan perdarahan eksternal massif. Jika korban dapat menjawab dengan baik dan memiliki orientasi yang baik beri tanda DEL atau beri yellow tag yang menandakan bahwa korban cukup stabil dan dapat mentoleransi penundaan ke rumah sakit. Korban yang termasuk dalam kategori ini yaitu korban dengan resiko syok, korban dengan fraktur multipel, korban dengan fraktur femur/pelvis, korban dengan luka bakar luas, korban dengan gangguan kesadaran serta korban dengan status tidak jelas. Triase 3 Lakukan evaluasi pada korban dengan red tag untuk memberikan pertolongan pertama. Beri pertolongan pertama pada korban, jika jumlah paramedis tidak memadai, latih dengan cepat korban dengan minor injuries ataupun orang di sekitar tempat kejadian untuk melakukan tindakan resusitasi/pertolongan pertama pada korban.

Triase 4 Lakukan evaluasi pada korban dengan yellow tag untuk memberikan pertolongan. Beri pertolongan kepada korban dengan memberdayakan korban dengan minor injuries, orang di sekitar tempat kejadian ataupun korban sendiri untuk melakukan tindakan pengobatan dengan mengajarkan kepada mereka apa yang harus dilakukan. Triase 5 Tempatkan beberapa orang paramedis, jika paramedis kurang, latih beberapa korban minor injuriesuntuk mengawasi korban ringan lain dari tanda-tanda syok. Jika waktu memungkinkan, periksa semua korban untuk tanda-tanda syok. Periksa akan adanya pernapasan yang cepat, wajah pucat dengan ujung kaki dan tangan dingin yang merupakan tanda awal syok. Usahakan agar semua korban berada dalam keadaan hangat dan kering untuk menghindari kemungkinan terjadinya syok karena hipotermia. Evacuation Triage Selain on-site
a. b.

triage,

terdapat

pula evacuation

triage yang

dilakukan

dalam

memprioritaskan korban yang akan dievakuasi ke rumah sakit. Korban D ditinggalkan di tempat mereka jatuh, ditutupi seperlunya. Korban I merupakan prioritas utama dalam ecakuasi karena korban ini

memerlukan perawatan medis lanjut secepatnya atau paling lambat dalam satu jam (golden hour).
c.

Korban DEL dapat menunggu evakuasi sampai seluruh korban I selesai Jangan evakuasi korban M sampai seluruh korban I dan DEL selesai

ditranspor.
d.

dievakuasi. Korban ini dapat menunda perawatan medis lanjut sampai beberapa jam lamanya. Re-triase korban tetap dilakukan untuk melihat apakah keadaan korban memburuk. Reverse Triage Sebagai tambahan pada standar triase yang dijalankan, terdapat beberapa kondisi dimana korban dengan cedera ringan didahulukan daripada korban dengan cedera berat. Situasi

yang memungkinkan dilakukan reverse triage yaitu pada keadaan perang dimana dibutuhkan prajurit yang terluka untuk kembali ke medan pertempuran secepat mungkin. Selain itu, hal ini juga mungkin dilakukan bila terdapat seumlah besar paramedis dan dokter yang mengalami cedera, dimana akan merupakan suatu keuntungan jika mereka lebih dulu diselamatkan karena nantinya dapat memberikan perawatan medis kepada korban yang lain (Windle,2006). 8. Resusitasi Resusitasi jantung paru otak dibagi menjadi 3 fase diantaranya : FASE I : Tunjangan Hidup Dasar (Basic Life Support) yaitu prosedur pertolongan darurat mengatasi obstruksi jalan nafas, henti nafas dan henti jantung, dan bagaimana melakukan RJP secara benar. Terdiri dari : A (airway) : menjaga jalan nafas tetap terbuka. B (breathing) : ventilasi paru dan oksigenisasi yang adekuat. C (circulation) : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru. FASE II : Tunjangan hidup lanjutan (Advance Life Support) yaitu tunjangan hidup dasar ditambah dengan : D (drugs) : pemberian obat-obatan termasuk cairan. E (EKG) : diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin setelah dimulai KJL, untuk mengetahui apakah ada fibrilasi ventrikel, asistole atau agonal ventricular complexes. F (fibrillation treatment) : tindakan untuk mengatasi fibrilasi ventrikel. FASE III : Tunjangan hidup terus-menerus (Prolonged Life Support). G (Gauge) : Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara terus menerus, dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya.

H (Head) : tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistim saraf dari kerusakan lebih lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat dicegah terjadinya kelainan neurologic yang permanen. H (Hipotermi) : Segera dilakukan bila tidak ada perbaikan fungsi susunan saraf pusat yaitu pada suhu antara 30 - 32C. H (Humanization) : Harus diingat bahwa korban yang ditolong adalah manusia yang mempunyai perasaan, karena itu semua tindakan hendaknya berdasarkan perikemanusiaan. I I (Intensive care) : perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi : trakheostomi, pernafasan dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH, pCO2 bila diperlukan, dan tunjangan sirkulasi, mengendalikan kejang (Alkatri,1987; PPMK,2002).

9.

Tatalaksana pada Kasus

Terapi lanjutan yang diberikan pada pasien dalam kasus setelah dilakukan resusitasi Mencegah/menghentikan penyerapn racun
a. Racun melalui mulut (ditelan) 1) Encerkan racun yang ada di lambung dengan: air, susu, telor mentah, atau norit 2) Kosongkan lambung (efektif bila raun tertelan sebelum 4 jam) dengan cara a) Dimuntahkan

Bisa dilakukan dengan cara mekanik (mnekan reflek muntah di tenggorokan), atau pemberian air garam Kontraindikasi: cara ini tidak boleh dilakukan pada keracunan zat korosif (asam/basa kuat : minyak tanah, bensin), kesadaran menurun dan penderita kejang.
b) Bilas lambung

Pasien telungkup, kepala dan bahu lebih rendah

Pasang NGT dan bilas dengan: air, larutan norit, natrium bikarbonat 5% atau asam asetat 5% Pembilasan sampai 20x, rata-rata volume 250 cc Kontaindikasi: keracunan zat korosif, kejang
c) Bilas usus besar: bilas dengan pencahar, klisma (air sabun atau gliserin)

3) Agar perut terbebas dari racun, berikan norit dengan dosis 3-4 tablet selama 3 kali berturut-turut dalam setiap jamnya

10.

Prinsip-prinsip PPGD

Keadaan yang mengancam jiwa atau kematian terjadi dalam waktu singkat (4 6 menit). Oleh karena itu keberhasilan PPGD dalam mencegah kematian atau kecacatan ditentukan oleh : 1. kecepatan dalam menemukan penderita 2. kecepatan dalam meminta bantuan
3. kecepatan dan kualitas pertolongannya (Priyono, 2003).

E. SASARAN BELAJAR 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Tatalaksana Henti Jantung Identifikasi Mayat Alur Legal penangganan Mayat Penanggulangan Bencana Kecelakaan Surveilance Epidemiologi Pengungsi Penanggulangan KLB Malaria Penanggulangan Flu Burung Penananggulangan Bencana Kerusuhan

9. TUTORIAL 2

Rehabilitasi Bencana

1. Tatalaksana Henti Jantung Penting pertama kali harus tahu keadaan dan tanda-tanda dari seorang yang henti jantung, seorang penolong harus mengenal tanda-tanda henti jantung. Tanda-tandanya meliputi : 1. 2. femoralis 3. 4. 5. 6. disosiasi. Rantai urutan penolong henti jantung Pasien henti napas atau gasping Pupil melebar Death like appearance Gambaran EKG dapat berupa : fibrilasi ventrikel, asistol, Pasien tidak sadar, dengan detak jantung (-) Tidak teraba denyut nadi besar, seperti arteri karotis, arteri

Gambar 5. Live chain support. Pertama dilakukan adalah memeriksa respon penderita kemudian mencari bantuan dengan menelpon 911. Setelah itu posisikan pasien dan lakukan RJP sembari menunggu pertolongan datang. Jika tersedia automated external defibrillator (AED) maka gunakan segera. Tata Cara Resusitasi Jantung Paru a. 1) RJP 1 orang operator : Lakukan ventilasi cepat dengan mempertahankan ekstensi kepala, jika pelu ganjal leher dengan bantal, atau suatu benda. Perhatikan kemungkinan fraktur leher. Kemudian raba denyut karotis, jika tidak ada segera lakukan PJL.

2)

Kompresikan dada dengan titik di atas proc xhypoideus 2 jari (sternum bagian bawah) dengan pangkal tangan pada sternum. Lakukan penekanan dengan berat badan dan posisi tangan lurus .

3) 4)

Lakukan 30 kali kompresi sternum dengan kecepatan 80 x / menit Diselingi dengan 2 kali ventilasi paru

Gambar 6. RJP 1 operator. b. 1) 2) 60 x/ menit 3) 4) 5) Diselingi 2 kali ventilasi oleh operator yang satu, setiap 30 kali kompresi selama resusitasi operator ventilasi harus senantiasa memeriksa denyut Jika denyut teraba dan pasien masih henti napas, teruskan ventilasi paru sternum tanpa menunggu kompresi lanjutan. karotis apakah spontan, atau belum. sampai pendeita bernapas spontan. RJP dengan 2 operator. Lakukan ventilasi cepat 2 kali sebelum pijat jantung luar, kemudian raba Satu orang operator bertindak sebagai kompresi jantung dengan kecepatan denyut karotis, jika tidak ada denyut segera lakukan PJL.

Gambar 7. RJP 2 operator. Penghentian RJP dilakukan jika : a. b. c. d. Penderita telah bernapas dan denyut spontan Gagal Penolong telah kelelahan Datang peralatan atau orang yang lebih ahli

2. Identifikasi Mayat Identifikasi mayat merupakan upaya pengenalan kembali diri seseorang manusia baik yang mati maupun yang hidup, melalui metode identifikasi dan ilmu-ilmu forensik Metode Identifikasi: a. Identifikasi Primer 1) Odontologi 2) DNA 3) Sidik jari b. Identifikasi Sekunder 1) Visual 2) Kepemilikan

3) Dokumentasi 4) Medis

1) Odontologi: a)
b)

Keadaan mayat yang sudah membusuk atau rusak Informasi yang dapat diperoleh membatasi/menyempitkan identifikasi.

(umur, jenis kelamin, ras, bentuk wajah, DNA)


c)

Mencari ciri2 atau tanda khusus pada korban informasi yang lebih

akurat.

Gambar 8. Kekhasan amalgam pada setiap orang. Permasalahan odontologi untuk identifikasi a) b) c) Manfaat: a) Penentuan Umur b) Penentuan Ras c) Penentuan Jenis Kelamin
d) Penentuan Ciri Khas ex : variasi ukuran gigi (microdontia, macrodantia), variasi

Korban tidak pernah membuat foto semasa hidup Foto korban harus baik posisi maupun kualitasnya Tengkorak yang ditemukan sudah hancur dan tidak berbentuk lagi

dalam jumlah gigi (anodontia, supernumerary teeth), dsb.

e) Penentuan Golongan Darah Serbuk gigi + Phosphate-buffarred saline (PBS, pada pH 7,2), kemudian penentuan golongan darah dapat dilakukan dengan absorption-inhibition (2-D AI). f) Perkiraan Kebiasaan
merokok, minum kopi, teh warna gigi kehitaman. Kebiasaan menggigit paku, jarum, jepitan rambut, pipa abrasi incisal. paparan polutan (pekerja pom bensin atau bengkel) plumbisme pada gingiva

tehnik two dimensional

2) DNA:
a) Prinsip dasar adanya bagian DNA manusia yang ditemukan di seluruh sel-sel

berinti, yang di dalamnya terkandung struktur pasangan basa atau nukleotida dengan urutan pengulangan tertentu. b) Urutan pengulangan ini bersifat unik kecuali pada kembar monozigot.
c) Kelebihan

Spesifisitas >> (dapat mengidentifikasi seorang individu secara pasti melalui pemeriksaan sel-sel yang berasal dari individu tersebut).
d) Kekurangan

memerlukan pengetahuan dan sarana yang canggih dan mahal. Pembandingnya siapa???

3) Sidik jari: a) Sidik jari manusia sangat unik. b) Sidik jari tidak akan berubah sepanjang hidup kecuali terjadi kerusakan atau perlukaan yang mencapai dermis. c) Hampir setiap orang dewasa memiliki data sidik jari dalam surat jati diri d) Keterbatasan: Data pembanding. Sampel sidik jari terbatas ( tidak cukup dibandingkan ) Pola sidik jari yang hendak dibandingkan berbeda

Gambar 9. Contoh gambaran sidik jari. 1) Visual: a) Kondisi mayat masih baik
b) Mudah karena identitas dikenal melalui penampakan luar baik berupa profil

tubuh atau muka.


c) Kesulitan bila mayat busuk, terbakar, rusak bagian muka, mutilasi.

2) Pemilikan: a) Melalui kepemilikan identitas cukup dapat dipercaya terutama bila kepemilikan tersebut (pakaian, perhiasan, surat jati diri) masih melekat pada tubuh korban.

3) Dokumentasi: a) passport, kartu kredit, kunci kamar hotel ataupun dokumen lainnya.
b) Kurang dapat diandalkan kemungkinan data tsb tidak ada kaitan dengan korban.

4) Medis: a) Pemeriksaan Luar Identifikasi biologis(jenis kelamin, perkiraan usia, tinggi, postur tubuh, warna kulit, ras)
Tanda2 spesifik bekas luka, tato, bintik atau tahi lalat dan kelainan anatomi.

b) Pemeriksaan Dalam Tentukan sebab kematian korban


Bila ada proses penyakit baik dibandingkan dengan status rekam medik pada

saat korban masih hidup. c) Radiologi Radiograf pada saat otopsi dengan radiograf pada saat msh hidup.
Sinus frontalis spesifik Penutupan

garis

epifisis

petunjuk

usia

korban

(DVI

Guide:

INTERPOL,2009).

3. Alur legal penangganan jenazah 1.

FASE I : Penanganan di TKP a. Memberi tanda dan label di TKP

1)

Membuat Sektor-sektor atau Zona pada TKP (5x5m) Memberikan tanda pada setiap sektor Memberikan label oranye pada jenazah Memberikan label putih pada barang pemilik yang tercecer Membuat sketsa dan foto tiap sektor Memasukan jenazah dan potongan jenazah pada karung plastik dan diberi label Memasukan barang-barang pemilik yang tercecer dan diberi label Diangkut ke tempat pemeriksaan dan penyimpanan jenazah

2) 3) 4) 5) 1) 2) 3)
2.

b. Evakuasi dan Transportasi

FASE II : Penanganan di Pusat Identifikasi oleh Unit Data Post Mortem a. Prosedur yang dilakukan 1) Menerima jenazah / potongan jenazah dan barang dari unit TKP 2) Registrasi ulang dan mengelompokkan kiriman tersebut berdasarkan jenazah utuh, tidak utuh, potongan jenazah, dan barang-barang 3) Membuat foto jenazah 4) Mencatat ciri-ciri korban sesuai formulir yang tersedia 5) Mengambil sidik jari korban dan golongan darah 6) Mencatat gigi-geligi korban 7) Rontgen foto 8) Otopsi 9) Mengambil data-data ke unit pembanding data
b. Data-data Post Mortem

1) Mayat diletakkan pada meja autopsi atau meja lain 2) Dicatat nomor jenazah 3) Foto awal sesuai apa adanya 4) Ambil sidik jari 5) Pakaian dilepas dan dikumpulkan serta diberi nomor sesuai nomor jenazah 6) Perhiasan difoto, dikumpulkan, dan diberi nomor sesuai nomor jenazah 7) Periksa secara teliti mulai dari kepala sampai dengan kaki.(Perlukaan, Ciri-ciri khusus, Tato) 8) Ambil sampel untuk pemeriksaan serologi, DNA, atau lain lain

9) Foto akhir sesuai kondisi korban 10) Serahkan bagian pemeriksaan gigi c. Data-data Post Mortem Gigi-Geligi 1) Pemeriksaan dilaksanakan oleh dokter gigi atau dokter gigi forensik. 2) Jenazah diletakkan pada meja atau brankar. 3) Untuk memudahkan pemeriksaan jenazah, jenazah diberi bantalan kayu pada punggung atas sehingga kepala jenazah menengadah ke atas. 4) Pemeriksaan dilakukan mulai dari bibir, pipi, dan bagian-bagian lain yang dianggap perlu 5) Apabila rahang kaku dapat diatasi secara buka paksaCatat kelainan-kelainan sesuai formulir yang ada 6) Lakukan Rontgen gigi. 7) Bila perlu foto rontgen kepala jenazah. 8) Juga bila perlu dibuat cetakan gigi jenazah untuk analisa
3.

FASE III: Penanganan Unit Data Ante Mortem (Data Korban) a. Prosedur yang dilakukan
1) Mengumpulkan data-data korban semasa hidup seperti foto dll, dikumpulkan dari

instansi tempat korban bekerja, keluarga/ kenalan, dokter-dokter gigi pribadi, polisi (sidik jari) 2) Memasukkan data-data yang ada/ masuk dalam formulir yang tersedia 3) Mengelompokkan data-data Ante Mortem berdasarkan jenis kelamin dan umur 4) Mengirimkan data-data yang telah diperoleh ke Unit Pembanding Data b. Data-data Ante Mortem 1) Umum : a) Nama b) Berat Badan Tinggi Badan c) Jenis kelamin / umur / alamat d) Pakaian e) Perhiasan f) Sepatu g) Kepemilikan lainnya

2) Medis : a) Warna kulit b) Warna dan jenis rambut c) Mata d) Cacat dan tato atau tanda-tanda khusus lainnya e) Catatan medis / perawatan patah tulang / operasi f) Golongan darah Sumber data : keluarga, dokter yang merawat, kantor catatan sipil kelurahan, perantara NCB Interpol dan perwakilan negara asing (kedutaan/ konsulat).

c. Data-data Ante Mortem Gigi-Geligi

Keterangan tertulis, catatan, atau gambaran dalam kartu perawatan gigi atau keterangan dari keluarga atau orang yang terdekat yang berisi :
1) Nama penderita

2) Umur 3) Jenis kelamin 4) Pekerjaan 5) Tanggal perawatan, penambalan, pencabutan, dll 6) Pembuatan gigi tiruan, orthodonti,dll
7) Foto rontgen 4.

FASE IV: Penanganan Unit Pembanding Data a) Mengkoordinasikan rapat-rapat penentuan identitas korban (unit TKP, unit data Post Mortem, dan unit data Ante Mortem) b)Mengumpulkan data-data korban yang dikenal untuk dikirim ke Tim Identifikasi c) Mengumpulkan data-data tambahan dari unit TKP Post Mortem dan Ante Mortem untuk korban yang belum dikenal

5.

FASE V : Penanganan Tim Identifikasi Propinsi a) Check dan recheck hasil unit pembanding data b) Mengumpulkan hasil identifikasi korban

c) Membuat surat keterangan kematian untuk korban yang dikenal dan surat-surat lain yang diperlukan d) Menerima keluarga korban 6. Perawatan Jenazah a. b. c. d. Perbaikan/rekonstruksi tubuh jenazah Pengawetan jenazah Perawatan sesuai Agama korban Memasukan dalam peti jenazah

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam serah-terima jenazah : a. Tanggal/jam b. Nomor registrasi jenazah c. Diserahkan kepada siapa, alamat lengkap, hubungan keluarga dengan korban d. Dibawa kemana atau akan dimakamkan dimana

4. Penanggulangan Bencana Kecelakaan a. Penanganan Kecelakaan Kereta Api Penanganan kecelakaan kereta api diatur dalam undang-undang nomor 23 tahun 2007 tentang perkeretaapian. Menurut ketentuan undang-undang tersebut dalam hal terjadi kecelakaan kereta api, pihak penyelenggara prasarana perkeretaapian dan penyelenggara sarana perkeretaapian harus melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) Mengambil tindakan untuk kelancaran dan keselamatan lalu lintas 2) Menangani korban kecelakaan 3) Memindahkan penumpang, bagasi, dan barang-barang antaran ke kereta api lain atau moda transportasi lain untuk meneruskan perjalanan sanpai stasiun tujuan 4) Melaporkan kecelakaan kepada menteri perhubungan, pemerintahan provinsi, dan pemerintahan kabupaten/kota 5) Mengumumkan kecelakaan kepada pengguna jasa dan masyarakat

6) Segera menormalkan kembali lalu lintas kereta api setelah dilakukan penyidikan awal oleh pihak berwenang 7) Mengurus klaim asuransi korban kecelakaan. b. Penanganan Kecelakaan Lalu Lintas Darat Penanganan kecelakaan lalu lintas diatur dalam undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang lalu lintas dan Angkutan Jalan, selanjutnya di sebut Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan jalan. Menurut ketentuan undang-undang tersebut, pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat peristiwa kecelakaan lalu lintas wajib 1) Menghentikan kendaraan. 2) Menolong orang yang menjadi korban kecelakaan.
3) Melaporkan kecelakaan tersebut kepada pejabat polisi Negara Republik Indonesia

terdekat. c. Penanganan Kecelakaan Kapal Pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan kapal diatur dalam undang-undang nomor 21 tahun 1992 tentang pelayaran, selanjutnya ditulis undang-undang pelayaran Indonesia. Menurut ketentuan undang-undang tersebut pemerintah bertanggung jawab melaksanakan pencarian dan pertolongan terhadap setiap orang yang mengalami musibah di perairan Indonesia. Pencarian dan pertolongan (search and rescue) yang dilakukan pemerintah yaitu segala daya dan upaya yang dapat diusahakan untuk meyelamatkan jiwa manusia di perairan indoseia. Setiap orang atau badan hukum yag mengoperasikan kapal atau pesawat udara wajib membantu usaha pencarian dan pertolongan terhadap setiap orang yang mengalami musibah di perairan Indonesia. Kewajiban tersebut dimaksudkan untuk membantu sebatas kemampuan sebagai potensi search and rescue (SAR) guna keberhasilan operasi pencarian dan pertolongan terhadap setiap orang yang mengalami musibah di perairan Indonesia. d. Penanganan Kecelakaan Pesawat Udara

Pencarian dan pertolongan kecelakaan pesawat udara dalam Peraturan Pemerintah nomor 3 tahun 2001 tentang keamanan dan keselamatan penerbangan. Setiap penerbangan yang sedang dalam tugas penerbangan mengalami keadaan bahaya atau mengetahui adanya pesawat udara lain yang dikhawatirkan sedang menghadapi bahaya dalam penerbangan, wajib segera memberitahukan kepada petgas lalu lintas udara. Setiap petugas lalu lintas udara yang sedang bertugas segera setelah menerima pemberitahuan tersebut atau mengetahui adanya esawat udara yang berada dalam keadaan bahaya atau dikhawatirkan mengalami keadaan bahaya atau hilang dalam penerbangan wajib segera memberitahukan kepada badan SAR nasional. Penelitian penyebab kecelakan pesawat udara diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 3 tahun 2001 tentang keamanan dan keselamatan penerbangan. Keputusan presiden nomor 105 tahun 1999 tentang komite nasional keselamatan transportasi (KNKT). Setiap terjadi kecelakaan pesawat udara di wilayah Republik Indonesia dilakukan penelitian untuk mengetahui penyebab terjadinya kecelakaan. Penelitian terhadap kecelakaan transportasi udara yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

5. Surveilance Epidemiologi Pengungsi Kegiatan Surveilans Epidemiologi dilakukan segera setelah Rapid Health Assessment sampai kondisi pelayanan kesehatan menjadi normal. Kegiatan teknis surveilans meliputi: a. Pengumpulan Data b. Pengolahan Data c. Analisis dan Interpretasi d. Distribusi infomasi Adapun yang dikaji dalam Surveilans Epidemiologi Pengungsi : a. Surveilans Jumlah Pengungsi b. Surveilans Kematian c. Surveilans Penyakit

d. Surveilans Faktor Risiko e. Survielans Berbasis Kajian Lapangan f. Investigasi Pra KLB/ KLB dan Penelitian (Studi
g. Epidemiologi) (Priyono, 2003).

6. Penanggulangan KLB Malaria Bila dari hasil konfirmasi telah terjadi KLB malaria, maka kegiatan penanggulangan dini perlu segera dilaksanakan untuk menekan peningkatan jumlah penderita dan kematian. Kegiatan ini dilakukan unit pelayanan kesehatan (UPK) tingkat: a. Puskesmas Kegiatan penanggulangan dilakukan oleh Puskesmas bila tersedia obat, bahan dan peralatan yang dibutuhkan. Kegiatan yang harus dilakukan adalah: 1) Pengobatan
a) Pada penderita malaria tanpa komplikasi: P. falciparum positif atau P.mix: Diobati dengan ACT 3 hari dan Primakuin 1 hari.

P. vivax positif: Diobati dengan Klorokuin 3 hari dan Primakuin14 hari.


b) Pada penderita malaria berat, di Puskesmas bukan rawat inapharus segera dirujuk di

Puskesmas rawat inap atau di RumahSakit


Perbaikan keadaan umum.

Pengobatan komplikasi.
Pengobatan malaria: dengan Artemeter injeksi atau Artesunat injeksi atau Kina

perinfus. Bila penderita sudah bisa makan-minum, pengobatan segera diganti peroral dengan ACT dan Primakuin.
c) Pada masyarakat dilokasi KLB dilakukan Mass Blood Survey (MBS). Bila ditemukan

penderita positif malaria, segera diobati dengan pengobatan standar sesuai jenis plasmodiumnya
d) Pengobatan lanjutan: Mass Fever Treatment (MFT) dilakukan setiap 2 (dua) minggu

pada semua penderita demam yang ditemukan di lokasi KLB.

Bila ditemukan penderita kambuh atau belum sembuh, segera diberikan pengobatan lini berikutnya. 1) Melaksanakan penyelidikan epidemiologi (orang, tempat dan waktu).
2) Menentukan batas wilayah penanggulangan.

3) Menentukan dan menyiapkan sarana yang dibutuhkan. 4) Membuat jadwal kegiatan.


5) Membuat laporan kejadian dan tindakan penanggulangan yang telah dilaksanakan ke

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kodya, dalam tempo 24 jam. Catatan: Apabila tidak tersedia obat, bahan dan peralatan segera mengajukan permohonan bantuan ke tingkat Kabupaten. b. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Berdasarkan laporan dari Puskesmas, petugas Kabupaten segera melakukan kunjungan lapangan untuk mengkonfirmasikan kejadian dengan membawa kebutuhan (obat, bahan, peralatan, dan lain-lain) dan memberikan bimbingan serta melakukan kegiatan bersama-sama petugas Puskesmas, sebagai berikut:
1) Mass Blood Sun/ey (MBS) atau Mass Fever Treatment (MFT) bila belum dilaksanakan

oleh Puskesmas.
2) Penyemprotan rumah dengan insektisida, dengan cakupan bangunan disemprot > 90%,

cakupan permukaan disemprot > 90%. 3) Larviciding (bila telah diketahui tempat perindukan) 4) Penyuluhan kesehatan masyarakat
5) Membuat laporan kejadian dan tindakan penanggulangan yang telah dilaksanakan ke

Dinas Kesehatan Propinsi, dengan form W1 Ka dalam tempo 24 jam. Catatan: Apabila tidak tersedia obat, bahan dan peralatan segera mengajukan permohonan bantuan ke tingkat Propinsi. c. Dinas Kesehatan Propinsi 1) Menganalisa laporan yang diterima dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kodya.

2) Memproses laporan form W1 disertai rincian kegiatan dan biaya operasional

penanggulangan yang telah disusun oleh Kabupaten/Kodya. 3) Melakukan kunjungan lapangan untuk konfirmasi kejadian.
4) Mengajukan permintaan kebutuhan biaya operasional dan rincian kegiatan ke Bagian

Anggaran Propinsi, sebagaimana ketentuan yang berlaku di Propinsi yang bersangkutan. 5) Mengirimkan biaya operasional yang sudah disetujui ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kodya.
6) Melaksanakan kegiatan pengawasan dan bimbingan teknis di dalam penanggulangan

KLB yang dilaksanakan oleh Kabupaten/Kodya dan Puskesmas.


7) Melaporkan kejadian KLB pada Departemen Kesehatan cq. Direktorat Jenderal PP dan

PL. 8) Khusus untuk daerah transmigrasi supaya dilaporkan juga ke Departemen Transmigrasi . d. Tingkat Pusat
1) Direktorat Jenderal PP & PL cq. Direktorat PP-BB menganalisa kejadian KLB dan

melaporkan kejadian KLB kepada Menteri Kesehatan. 2) Melaksanakan kegiatan supervisi dan bimbingan teknis
3) KLB dapat dinyatakan selesai bila dalam pemantauan selama 2 (dua) kali masa inkubasi

(20-28 hari) angka kesakitan malaria telah kembali pada keadaan seperti semula. Pasca KLB
a) Untuk mencegah timbulnya KLB di Waktu yang akan datang, sistem kewaspadaan dini

kejadian luar biasa (SKD-KLB) perlu ditingkatkan dengan cara mengintensifkan kegiatan surveilans. b) Penyemprotan lanjutan dilakukan pada siklus berikutnya sampai insidens turun, yaitu API < 1 per 1.000 penduduk atau hasil malariometrik survey evaluasi dengan PR < 2%.
c) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kodya mengirimkan laporan hasil kegiatan setelah

tindakan penanggulangan selesai dilakukan

7. Penanggulangan Flu Burung

Terdapat beberapa langkah strategik penting untuk menyiapkan dan mencegah terjadi pandemi yaitu :
a. Meningkatkan kerjasama antar dunia kedokteran dengan peternakan/kedokteran hewan

berupa :
b. Ketersediaan obat dan efektivitasnya harus disiapkan karena pandemi dapat terjadi sewaktu-

waktu.
c. Antisipasi pengadaan dan penelitian vaksin secara terus menerus karena virus yang amat

mudah bermutasi.
d. Penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai baik dari tenaga medis, peralatan yang lengkap

dan rumah sakit rujukan. Algoritme diagnosis dan penanganan kasus perlu dibuat secara jelas, lengkap, ilmiah dan disebarluaskan untuk dapat diterapkan di lapangan.
e. Perlunya penyuluhan yang intens ke masyarakat yang tujuannya selain memberikan

informasi yang tepat dan jelas sgar tidak terjadi kepanikan juga untuk menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat. Pengembangan riset karena kasus flu burung baru terjadi di 4 negara termasuk Indonesia.
f. Keikutsertaan seluruh lapisan masyarakat dalam penganggulangan pandemi.

Peranan Departemen Pertahanan dan TNI dalam penganggulangan kasus flu burung :
a. Departemen Pertahanan dan TNI mempunyai potensi untuk memobilisasi warga dan

penanganan terhadap pemeliharaan unggas di komplek perumahan militer/warga bila terjadi wabah flu burung.
b. Perlu menetapkan Rumah Sakit Rujukan dan pemilahan kasus agar dapat ditangani segera,

dalam hal ini perlu dihidupkan kembali peranan Badan Koordinasi Kesehatan Daerah (Bakorkesda) serta perlunya memiliki Rumah Sakit Khusus pandemic. Ketersediaan obat anti virus di fasilitas kesehatan militer perlu diadakan.
c. Koordinasi penanganan yang terintegrasi dengan memperhatikan kewenangan yang dimiliki

antara Depkes, Puskes dan Dephan.

d. Studi banding dengan negara-negara di Asia misalnya Vietnam yang sejauh ini telah berhasil

menangani kasus wabah flu burung.


e. Kemungkinan terjadinya pandemi flu burung memang merupakan ancaman yang harus

diwaspadai, untuk itu semua pihak harus memberikan perhatian dan proaktif. Pada akhirnya kita tetap harus waspada tanpa harus panik, serta menjalani pola hidup sehat dan tetap mengikuti perkembangan yang ada.

8. Penananggulangan Bencana Kerusuhan Kerusuhan atau konflik sosial adalah suatu kondisi dimana terjadi huru-hara/kerusuhan atau perang atau keadaan yang tidak aman di suatu daerah tertentu yang melibatkan lapisan masyarakat, golongan, suku, ataupun organisasi tertentu. Upaya untuk mendukung terciptanya keberhasilan suatu kebijaksanaan dan strategi pertahanan meliputi : a. Penyelesaian konflik vertikal yang bernuansa separatisme bersenjata harus diselesaikan dengan pendekatan militer terbatas dan professional guna menghindari korban dikalangan masyarakat dengan memperhatikan aspek ekonomi dan sosial budaya serta keadilan yang bersandar pada penegakan hukum. b. Penyelesaian konflik horizontal yang bernuansa SARA diatasi melalui pendekatan hukum dan HAM. c. Penyelesaian konflik akibat peranan otonomi daerah yang menguatkan faktor perbedaan, disarankan kepemimpinan daerah harus mampu meredam dan memberlakukan reward and punishment dari strata pimpinan diatasnya.
d. Guna mengantisipasi segala kegiatan separatisme ataupun kegiatan yang berdampak

disintegrasi bangsa perlu dibangun dan ditingkatkan institusi inteligen yang handal (Balitbang & Depdiknas, 2011).

Berikut ini adalah upaya rekonsiliasi dan resolusi konflik berdasarkan PP No. 21 th. 2008 tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana. Pasal 70 (1) Rekonsiliasi dan resolusi konflik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1) huruf f ditujukan membantu masyarakat di daerah rawan bencana dan rawan konflik sosial untuk menurunkan eskalasi konflik sosial dan ketegangan serta memulihkan kondisi sosial kehidupan masyarakat. (2) Kegiatan rekonsiliasi dan resolusi konflik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui upaya-upaya mediasi persuasif dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat terkait dengan tetap memperhatikan situasi, kondisi, dan karakter serta budaya masyarakat setempat dan menjunjung rasa keadilan. (3) Pelaksanaan kegiatan rekonsiliasi dan resolusi konflik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh instansi/lembaga yang terkait berkoordinasi dengan BNPB atau BPBD sesuai dengan kewenangannya.

9. Rehabilitasi pasca bencana

Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana. Rehabilitasi dilakukan melalui kegiatan:
a. perbaikan lingkungan daerah bencana b. perbaikan prasarana dan sarana umum c. pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat

d. pemulihan sosial psikologis e. pelayanan kesehatan


f. rekonsiliasi dan resolusi konflik g. pemulihan sosial ekonomi budaya

h. pemulihan keamanan dan ketertiban i. pemulihan fungsi pemerintahan

j. pemulihan fungsi pelayanan publik. Kegiatan rehabilitasi harus memperhatikan pengaturan mengenai standar konstruksi bangunan, kondisi sosial, adat istiadat, budaya dan ekonomi. Perbaikan lingkungan daerah bencana merupakan kegiatan fisik perbaikan lingkungan untuk memenuhi persyaratan teknis, sosial, ekonomi, dan budaya serta ekosistem suatu kawasan. Kegiatan perbaikan fisik lingkungan sebagaimana dimaksud mencakup lingkungan kawasan permukiman, kawasan industri, kawasan usaha, dan kawasan bangunan gedung. Perbaikan prasarana dan sarana umum merupakan kegiatan perbaikan prasarana dan sarana umum untuk memenuhi kebutuhan transportasi, kelancaran kegiatan ekonomi, dan kehidupan sosial budaya masyarakat. Kegiatan perbaikan prasarana dan sarana umum mencakup: a. perbaikan infrastuktur b. fasilitas sosial dan fasilitas umum. Kegiatan perbaikan prasarana dan sarana umum memenuhi ketentuan mengenai: a. persyaratan keselamatan
b. persyaratan sistem sanitasi c. persyaratan penggunaan bahan bangunan

d. persyaratan standar teknis konstruksi jalan, jembatan, bangunan gedung dan bangunan air. Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat merupakan bantuan Pemerintah sebagai stimulan untuk membantu masyarakat memperbaiki rumahnya yang mengalami kerusakan akibat bencana untuk dapat dihuni kembali. Bantuan Pemerintah sebagaimana dimaksud dapat berupa bahan material, komponen rumah atau uang yang besarnya ditetapkan berdasarkan hasil verifikasi dan evaluasi tingkat kerusakan rumah yang dialami. Bantuan Pemerintah untuk perbaikan rumah masyarakat sebagaimana dimaksud diberikan dengan pola pemberdayaan masyarakat dengan memperhatikan karakter daerah dan budaya masyarakat,

yang mekanisme pelaksanaannya ditetapkan melalui koordinasi BPBD. Tujuan pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat dimaksudkan untuk memperbaiki kondisi rumah masyarakat agar dapat mendukung kehidupan masyarakat, seperti komponen rumah, prasarana, dan sarana lingkungan perumahan yang memungkinkan berlangsungnya kehidupan sosial dan ekonomi yang memadai sesuai dengan standar pembangunan perumahan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pemulihan sosial psikologis ditujukan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak bencana, memulihkan kembali kehidupan sosial dan kondisi psikologis pada keadaan normal seperti kondisi sebelum bencana. Kegiatan membantu masyarakat terkena dampak bencana sebagaimana dimaksud dilakukan melalui upaya pelayanan social psikologis berupa:
a. bantuan konseling dan konsultasi b. pendampingan c. pelatihan

d. kegiatan psikososial Pelayanan kesehatan ditujukan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak bencana dalam rangka memulihkan kondisi kesehatan masyarakat melalui pemulihan sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Kegiatan pemulihan kondisi kesehatan masyarakat terkena dampak bencana sebagaimana dimaksud dilakukan melalui:
a. membantu perawatan lanjut korban bencana yang sakit dan mengalami luka

b. menyediakan obat-obatan
c. menyediakan peralatan kesehatan d. menyediakan tenaga medis dan paramedic

e. memfungsikan kembali sistem pelayanan kesehatan termasuk sistem rujukan. Rekonsiliasi ditujukan untuk membantu masyarakat di daerah bencana dan rawan konflik sosial untuk menurunkan eskalasi konflik sosial dan ketegangan serta memulihkan

kondisi social kehidupan masyarakat. Kegiatan rekonsiliasi dan resolusi konflik sebagaimana dimaksud dilakukan melalui upaya-upaya mediasi persuasif dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat terkait dengan tetap memperhatikan situasi, kondisi, dan karakter serta budaya masyarakat setempat dan menjunjung rasa keadilan. Pemulihan sosial ekonomi budaya ditujukan untuk membantu masyarakat terkena dampak bencana dalam rangka memulihkan kondisi kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya seperti pada kondisi sebelum terjadi bencana. Kegiatan pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya sebagaimana dimaksud dilakukan dengan membantu masyarakat menghidupkan dan mengaktifkan kembali kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya melalui:
a. layanan advokasi dan konseling b. bantuan stimulan aktivitas

c. pelatihan. Pemulihan keamanan dan ketertiban ditujukan untuk membantu masyarakat dalam memulihkan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat di daerah terkena dampak bencana agar kembali seperti kondisi sebelum terjadi bencana. Kegiatan pemulihan keamanan dan ketertiban dilakukan melalui upaya:
a. mengaktifkan kembali fungsi lembaga keamanan dan ketertiban di daerah bencana b. meningkatkan peranserta masyarakat dalam kegiatan pengamanan dan ketertiban

c. mengkoordinasi instansi/lembaga yang berwenang di bidang keamanan dan ketertiban. Pemulihan fungsi pemerintahan ditujukan untuk memulihkan fungsi pemerintahan kembali seperti kondisi sebelum terjadi bencana. Kegiatan pemulihan fungsi pemerintahan dilakukan melalui upaya: a. mengaktifkan kembali pelaksanaan kegiatan tugas-tugas pemerintahan secepatnya b. penyelamatan dan pengamanan dokumen-dokumen negara dan pemerintahan c. konsolidasi para petugas pemerintahan d. pemulihan fungsi-fungsi dan peralatan pendukung tugas-tugas pemerintahan e. pengaturan kembali tugas-tugas pemerintahan pada instansi/lembaga terkait.

Pemulihan fungsi pelayanan publik ditujukan untuk memulihkan kembali fungsi pelayanan kepada masyarakat pada kondisi seperti sebelum terjadi bencana. Kegiatan pemulihan fungsi pelayanan publik sebagaimana dimaksud dilakukan melalui upaya upaya :
a. rehabilitasi dan pemulihan fungsi prasarana dan sarana pelayanan public

b. mengaktifkan kembali fungsi pelayanan publik pada instansi/lembaga terkait c. pengaturan kembali fungsi pelayanan publik.

KESIMPULAN

1.

Bencana Gunung Merapi merupakan bencana besar yang menimbulkan banyak

korban jiwa, luka-luka, hilang, maupun mengungsi. 2. Penanganan bencana seperti Gunung Merapi haruslah mengikuti berbagai

panduan yang telah ditetapkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui produk-produk hukumnya. 3. Salah satu komponen penting dalam penanggulangan bencana adalah

perolongan medis.

4.

Pertolongan medis yang diberikan harus sesuai dengan standar-standar yang

telah ditetapkan beberapa diantaranya dalam PP No. 21 Th. 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana pasal 69 dan Perka BNPB No. 7 Th. 2008 tentang Pedoman Tata Cara Pemberian Bantuan Pemenuhan Kebutuhan Dasar. 5. Dalam kondisi gawatdarurat hendaknya petugas kesehatan menerapkan prinsipprinsip PPGD, pengaplikasian triase dan selalu siap dengan proses resusitasi. 6. Pada kasus keracunan oleh zat nonkorosif maka prinsip penatalaksanaannya

ialah sebisa meungkin mengeluarkan makanannya atau jika tidak bisa mengencerkannya dengan banyak meminum air ditambah pemberian norit untuk mengikat racun.

DAFTAR PUSTAKA

Alkatri J, dkk. 2007. Resusitasi Jantung Paru, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Editor Soeparman, Jilid I, Edisi Ke-2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2008. Peraturan Kepala Badan Nasional

Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana. Jakarta : Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Balitbang & Depdiknas. 2011. Kerusuhan Sosial. Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana. Jakarta. www.bakornas.go.id. Depkes RI. 1995. Pedoman Pelayanan Gawat Darurat, Dirjen Yanmed, Edisi.II. Jakarta. Disaster Victims Identification Guide. 2009. Diakses dari

http://www.interpol.int/Public/DisasterVictim/Guide/Guide.pdf pada tanggal 20 mei 2011. http://www.bpkp.go.id/unit/hukum/pp/2008/021-08.pdf. http://www.brookings.edu/reports/2006/~/media/Files/rc/reports/2006/11_natural_disasters/11_nat ural_disasters_Bah.pdf. http://www.yeu.or.id/images/file/UUNo.24Tahun2007.pdf Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 042/M En Kes/Sk/I/2007 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Malaria. Panitia Pelantikan Dokter FK-UGM : Penatalaksanaan Medik, Senat Mahasiswa Fak.Kedokteran UGM, Yogyakarta 1987 : 18-22. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No. 7 Th. 2008 tentang Pedoman Tata Cara Pemberian Bantuan Pemenuhan Kebutuhan Dasar. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 21 Th. 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Priyono, Eko. 2003. Menejemen Pengungsi, Surveilans Epidemiologi. Available from: http://www.scribd.com/doc/46199288/Surveilans-Epidemiologi-Bencana. Diakses tanggal 23 Mei 2011.

Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan (PPMK) Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. 2002. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 12/Menkes/Sk/I/2002 Tentang Pedoman Koordinasi Penanggulangan Bencana di Lapangan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Sekretariat Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi. 2005. Pedoman Penanganan Bencana. Jakarta. Windle, Jill. 2006. Manchester Triage Group Staff; Mackway-Jones, Kevin; Marsden, Janet Emergency triage. Cambridge, MA: Blackwell Pub. Yayasan IDEP. 2007. Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat. Edisi ke 2. Diakses dari http://www.idepfoundation.org/ pada tanggal 20 Mei 2011.