Anda di halaman 1dari 12

Status THT

Nama Umur :An.A : 8 thn

Jenis kelamin : Laki-laki Agama Pekerjaan Alamat : Islam : pelajar : Sidamulya : 12 januari 2010 : Nyeri menelan

Tanggal masuk Keluhan Utama

Riwayat penyakit sekarang: Os datang ke RSUD waled cirebon dengan keluhan nyeri menelan sejak 1bulan yang lalu tetapi nyerinya dirasakan semakin kuat sejak 1 minggu ,sakitnya sering berulang sejak 4 tahun yang lalu. Dalam waktu setahun os mengatakan 5 kali mengalami sakit seperti ini. nyerinya hilang timbul,nyeri timbul pada saat demam dan saat menelan, nyeri dirasakan seperti teriris perih dan seperti ada yang mengganjal. Os mengatakan nyerinya tidak disertai rasa gatal pada tenggorokan dan tidak disertai batuk-batuk. Os merasa setiap tidur os sering terbangun gelisah dikarnakan os merasakan sepertia ada yang mengganjal di tenggorokan dan setiap tidur os sering mendengkur.os mengatakan sesak yang dirasakan pada saat tidur yang disertai seperti ada yang tersumbat, Sesak yang dirasakan pada saat tidur saja. Os merasakan seluruh tubuhnya lemas dan terasa pegal-pegal, os merasa pegal pada persendian.Os mengatakan penyakitnya disertai dengan deman. Demam yang dirasakan os hilang timbul, timbul pada saat os merasa nyeri pada tenggorokan dan berlangsung selam 7 hari. Os mengeluh nafsu makan menurun yang diikuti dengan penurunan berat badan. Os mengatakan nyerinya tidak disertai rasa gatal pada tenggorokan dan tidak ada batukbatuk. Os menyangkal sesak timbul pada saat udara dingin dan saat beraktifitas. Os menyangkal adanya nyeri pada daerah telinga. Riwayat penyakit dahulu: os mengatakan sering terserang flu, os pernah menderita keluhan yang sama sejak 4 tahun yang lalu. Keluhan sistemik : os mengatakan lemas seluruh tubuh disertai pegal-pegal pada persendian. Trauma yang pernah diderita: os menyangkal

Riwayat alergi obat Pemeriksaan Fisik Keadaan umum Kesadaran Tanda vital

: menyangkal ada riwayat alergi obat-obatan

: sakit sedang : Compos mentis :TD = 110/70

Nadi =84x/menit RR = 22x/menit

Tem =36,7c BB Pemeriksaan khusus Kepala: rambut :warna hitam tidak rontok dan tidak mudah patah Mata :kojungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,pupil isokor kanan dan kiri =17 kg

Status THT Hidung : Vestibulum nasi DBN Septum tidak deviasi Polip tidak ada Sekret tidak ada Mukosa hidung DBN Chonca DBN Telinga ` :Tidak ada nyeri tekan tragus Auricularis D/S : DBN

CAE :Membran tymphani intake +/+ MT ferforasi -/Reflex cahaya +/+ Sekret -/Bau -/-

Serumen -/Mulut : halositosis bibir tidak sianosis Gigi tidak ada karies Gusi tidak ada perdarahan dan tidak bengkak Lidah tidak hiperemis dan tidak tremor Uvula tidak hiperemis Faring tidak hiperemis -/Tonsil T2B T2B Faring hiperemis Detritus +/+ Kripta melebar +/+ Permukaan benjol +/+ Warna kemerahan +/+ Sekret menempel kering +/+ Leher : KGB : Tidak ada pembesaran Torax : paru :I: simetris paru kanan dan kiri P: fremitus taktil normal kanan = kiri P: bunyi sonor kanan = kiri A: bunyi vesikuler kanan= kiri Jantung: Dalam batas normal Abdomen Ekstremitas Neurologi : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Dalam batas normal

Pemeriksaan penunjang Darah rutin, kimia darah, urin rutin Darah rutin : Hb Leukosit Trombosit Eritrosit Ht :11,3 g/dl :13.900 /mm :364.000 rb/mm : 4,32 jt/mm : 33% : 0% : 4% : 6% : 2% : 24%

Difcount: Basofil Eosinofil Monosit

Netrofil batang Neutrofil segmen Limfosit LED : 25 mm/h CT: 7 min : 64%

BT: 3 min

Kimia darah Ureum : 12 mg/dl

Kreatinin : 0.9 mg/dl

Urin rutin pH Bj : 5,8 : 1,010

Usulan pemeriksaan : Apusan mukosa tonsil ASTO

Diagnosa banding :

Tonsilitis kronik hipertropi eksaserbasi akut Faringitis Asma bronkial Malaria

Diagnosa kerja : Tonsilitis kronik hipertropi eksaserbasi akut Usulan Penatalaksanaan : umum : Tirah baring Cairan yang cukup Diet makanan lunak dan ber gizi Khusus : Parasetamol As. mefenamat Penisilin , eritromisin

Konsultasi

: Dr.spesialis penyakit THT Rencana Oprasi : Tonsildektomi Adenoidektomi

Prognosis : dubia ad bonam

TONSIL

1. Embriologi Pada permulaan pertumbuhan tonsil, terjadi invaginasi kantong brakial ke II ke dinding faring akibat pertumbuhan faring ke lateral. Selanjutnya terbentuk fosa tonsil pada bagian dorsal kantong tersebut, yang kemudian ditutupi epitel. Bagian yang mengalami invaginasi akan membagi lagi dalam beberapa bagian, sehingga terjadi kripta. Kripta tumbuh pada bulan ke 3 hingga ke 6 kehidupan janin, berasal dari epitel permukaan. Pada bulan ke 3 tumbuh limfosit di dekat epitel tersebut dan terjadi nodul pada bulan ke 6, yang akhirnya terbentuk jaringan ikat limfoid. Kapsul dan jaringan ikat lain tumbuh pada bulan ke 5 dan berasal dari mesenkim, dengan demikian terbentuklah massa jaringan tonsil.

2. Anatomi Cincin waldeyer merupakan jaringan limfoid yang mengelilingi faring. Bagian terpentingnya adalah tonsil palatina dan tonsil faringeal (adenoid). Unsur yang lain adalah tonsil lingual, gugus limfoid lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid yang tersebar dalam fosa Rosenmuller, di bawah mukosa dinding posterior faring dan dekat orifisium tuba eustachius.

a. Tonsil Palatina Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh: Lateral m. konstriktor faring superior Anterior m. palatoglosus Posterior m. palatofaringeus Superior palatum mole Inferior tonsil lingual

Secara mikroskopik tonsil terdiri atas 3 komponen yaitu jaringan ikat, folikel germinativum (merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel (terdiri dari jaringan linfoid).

Fosa Tonsil Fosa tonsil atau sinus tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah otot palatoglosus, batas lateral atau dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior. Pilar anterior mempunyai bentuk seperti kipas pada rongga mulut, mulai dari palatum mole dan berakhir di sisi lateral lidah. Pilar posterior adalah otot vertikal yang ke atas mencapai palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak dan ke arah bawah meluas hingga dinding lateral esofagus, sehingga pada tonsilektomi harus hati-hati agar pilar posterior tidak terluka. Pilar anterior dan pilar posterior bersatu di bagian atas pada palatum mole, ke arah bawah terpisah dan masuk ke jaringan di pangkal lidah dan dinding lateral faring. Kapsul Tonsil Bagian permukaan lateral tonsil ditutupi oleh suatu membran jaringan ikat, yang disebut kapsul. Walaupun para pakar anatomi menyangkal adanya kapsul ini, tetapi para klinisi menyatakan bahwa kapsul adalah jaringan ikat putih yang menutupi 4/5 bagian tonsil. Plika Triangularis Diantara pangkal lidah dan bagian anterior kutub bawah tonsil terdapat plika triangularis yang merupakan suatu struktur normal yang telah ada sejak masa embrio. Serabut ini dapat menjadi penyebab kesukaran saat pengangkatan tonsil dengan jerat. Komplikasi yang sering terjadi adalah terdapatnya sisa tonsil atau terpotongnya pangkal lidah. Pendarahan Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang A. karotis eksterna, yaitu 1) A. maksilaris eksterna (A. fasialis) dengan cabangnya A. tonsilaris dan A. palatina asenden; 2) A. maksilaris interna dengan cabangnya A. palatina desenden; 3) A. lingualis dengan cabangnya A. lingualis dorsal; 4) A. faringeal asenden. Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh A. lingualis dorsal dan bagian posterior oleh A. palatina asenden, diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh A. tonsilaris. Kutub atas tonsil diperdarahi oleh A. faringeal asenden dan A. palatina desenden. Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring. Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil, vena lidah dan pleksus faringeal.

Aliran getah bening Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah bening servikal profunda (deep jugular node) bagian superior di bawah M. Sternokleidomastoideus, selanjutnya ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada.

Persarafan Tonsil bagian atas mendapat sensasi dari serabut saraf ke V (trigeminus) melalui ganglion sfenopalatina dan bagian bawah dari saraf glosofaringeus.

Imunologi Tonsil Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-0,2% dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah 50%:50%, sedangkan di darah 55-75%:15-30%. Pada tonsil terdapat sistim imun kompleks yang terdiri atas sel M (sel membran), makrofag, sel dendrit dan APCs (antigen presenting cells) yang berperan dalam proses transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis imunoglobulin spesifik. Juga terdapat sel limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel pembawa IgG. Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1) menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif; 2) sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.

b. Tonsil Faringeal (Adenoid) Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau kantong diantaranya. Lobus ini tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah, dikenal sebagai bursa faringeus. Adenoid tidak mempunyai kriptus. Adenoid terletak di dinding belakang nasofaring. Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior, walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius. Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 37 tahun kemudian akan mengalami regresi. Berdasarkan lamanya keluhan tonsilitis dibagi tiga yaitu tonsilitis akut bila keluhan kurang dari 3 minggu, disebut tonsilitis berulang/kronik bila terdapat 7 kali infeksi dalam 1 tahun atau 5 kali episode gejala dalam 2 tahun berturut-turut atau 3 kali infeksi dalam 1 tahun selama 3 tahun berturut-turut.

Tonsilitis akut

Penyebab Penyebab tersering tonsilitis akut adalah streptokokus beta hemolitikus grup A. Bakteri lain yang juga dapat menyebabkan radang amandel akut adalah Haemophilus influenza dan bakteri dari golongan pneumokokus dan stafilokokus. Virus juga kadang-kadang ditemukan sebagai penyebab tonsilitis akut. Patologi Tonsil meradang dan membengkak, terdapat bercak abu-abu atau kekuningan pada permukaannya, dan jika berkumpul maka terbentuklah membran. Bercak-bercak tersebut sesungguhnya adalah penumpukan leukosit, sel epitel yang mati, juga kuman-kuman baik yang hidup maupun yang sudah mati. Gejala Keluhan pasien biasanya berupa nyeri tenggorokan, sakit menelan, dan kadang-kadang pasien tidak mau minum atau makan lewat mulut.sesak pada saat tidur dan gelisah, tidur ngorok. Penderita tampak loyo dan mengeluh sakit pada otot dan persendian. Biasanya disertai demam tinggi dan napas yang berbau.

KOMPLIKASI Komplikasi dekat : dapt terjadi infiltrasi peritonsiler, abses peritonsiler, otitis media, limfedenitis regional, rinitis kronik dan sinusitis.

Komplikasi jauh : dapat terjadi meningitis, endokarditis, pleuritis, miositis, dapat pula terjadi sebagai fokal infeksi yang dapat menimbulkan glomerulusnefritis, dan rematoid artritis.

Pengobatan Sebaiknya pasien tirah baring. Cairan harus diberikan dalam jumlah yang cukup, serta makan makanan yang bergizi namun tidak terlalu padat dan merangsang tenggorokan. Analgetik dapat diberikan. Jika penyebab radang tonsil adalah bakteri maka antibiotik harus diberikan. Obat pilihan adalah penisilin. Kadang-kadang juga digunakan eritromisin. Idealnya, jenis antibiotik yang diberikan sesuai dengan hasil biakan. Antibiotik diberikan antara 5 sampai 10 hari. Jika melalui biakan diketahui bahwa sumber infeksi adalah Streptokokus beta hemolitikus grup A, terapi antibiotik harus digenapkan 10 hari untuk mencegah kemungkinan komplikasi nefritis dan penyakit jantung rematik. Kadang-kadang dibutuhkan suntikan benzatin penisilin 1,2 juta unit intramuskuler jika diperkirakan pengobatan orang tidak adekuat. Oprasi tonsilektomi dan adeniodektomi Tonsilektomi Tonsilektomi didefinisikan sebagai operasi pengangkatan seluruh tonsil palatina. Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal. Epidemiologi Tonsilektomi merupakan prosedur operasi yang praktis dan aman, namun hal ini bukan berarti tonsilektomi merupakan operasi minor karena tetap memerlukan keterampilan dan ketelitian yang tinggi dari operator dalam pelaksanaannya. Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat perbedaan prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini. Dulu tonsilektomi diindikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. Saat ini, indikasi yang lebih utama adalah obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil. Untuk keadaan emergency seperti adanya obstruksi saluran napas, indikasi tonsilektomi sudahtidak diperdebatkan lagi (indikasi absolut). Namun, indikasi relatif tonsilektomi pada keadaannon emergency dan perlunya batasan usia pada keadaan ini masih menjadi perdebatan. Sebuah kepustakaan menyebutkan bahwa usia tidak menentukan boleh tidaknya dilakukan tonsilektomi.

INDIKASI

Indikasi absolut 1. Hipertrofi tonsil yang menyebabkan: obstruksi saluran napas misal pada osas (obstructive sleep apnea syndrome), disfagia berat yang disebabkan obstruksi, gangguan tidur, gangguan pertumbuhan dentofacial, gangguan bicara (hiponasal), komplikasi kardiopulmoner, 2. Riwayat abses peritonsil. 3. Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi terutama untuk hipertrofi tonsil unilateral. 4. Tonsilitis kronik atau berulang sebagai fokal infeksi untuk penyakit-penyakit lain. 5. Dicurigai keganasan

Indikasi relatif 1. Tonsilitis yang berhubungan dengan biakan streptokokus menetap dan patogenik (keadaan karier ) 2. Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat 3. Hiperplasia tonsil dengan obstruksi fungsional 4. Hiperplasia dan obstruksi yang menetap enam bulan setelah infeksi mononukleosis (biasanya pada dewasa muda) 5. Riwayat demam reumatik dengan keruisakan jantung yang berhubungan dengan tonsilitis rekuren kronis dan pengendalian antibiotik yang buruk. 6. Radang tnsil kronis menetap yang tidak memberikan respon terhadap penatalaksanaan medis ( biasanya dewasa muda ) 7. Hipertropi tonsil dan adenoid yang berhubungan dengan abnormalitas orofasial dan gigi geligi yang menyempitkan jalan nafas bagian atas. 8. Tonsilitis berulang atau kronis yang berhubungan dengan adenofati servikal persisten. Kontraindikasi Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai kontraindikasi, namun bila sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan imbang manfaat dan risiko. Keadaan tersebut adalah: 1. gangguan perdarahan 2. risiko anestesi yang besar atau penyakit berat 3. anemia 4. infeksi akut yang berat 5. ISPA yang berulang 6. infeksi sistemik atau kronis 7. hiperplasia tonsil tanpa gejala obstruksi 8. rinitis alergika 9. sinusitis 10. asma 11. diskrasia darah 12.Tonus otot yang lemah
PERSIAPAN OPERASI

Anamnesis untuk mendeteksi adanya penyulit Pemeriksaan fisik untuk mendeteksi adanya penyulit Pemeriksaan penunjang, pemeriksaan darah tepi: Hb, leukosit, hitung jenis, trombosit, pemeriksaan hemostasis: BT/CT dan atau PT/APTT
TEKNIK OPERASI Tonsilektomi

- Teknik tonsilektomi yang direkomendasikan adalah teknik Guillotine dan teknik Diseksi - Pelaksanaan operasi dapat dilakukan secara rawat inap atau one day care. - Dianjurkan untuk melakukan penelitian untuk membandingkan teknik Guillotine dan Diseksi di rumah sakit pendidikan. - Dianjurkan untuk mengembangkan teknik Diseksi modern khususnya di rumah sakit pendidikan.

TEKNIK ANESTESI

Anestesi yang digunakan adalah anestesi umum dengan teknik perlindungan jalan nafas. Pemantauan ditujukan atas fungsi nafas dan sirkulasi. Pulse oxymeter dianjurkan sebagai alat monitoring. Penyulit Berikut ini keadaan-keadaan yang memerlukan pertimbangan khusus dalam melakukan tonsilektomi maupun tonsiloadenoidektomi pada anak dan dewasa: 1. Kelainan anatomi: submucosal cleft palate (jika adenoidektomi dilakukan), kelainan maksilofasial dan dentofasial 2. Kelainan pada komponen darah: hemoglobin < 10 g/100 dl, hematokrit < 30 g%, kelainan perdarahan dan pembekuan (hemofilia) 3. Infeksi saluran nafas atas, asma, penyakit paru lain 4. Penyakit jantung kongenital dan didapat (MSI) 5. Multiple Allergy 6. Penyakit lain, seperti: diabetes melitus dan penyulit metabolik lain, hipertensi dan penyakit kardiovaskular obesitas, kejang demam, epilepsi