Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN MEDIS PEMERIKSAAN JENAZAH PATOLOGI FORENSIK KLINIK KORBAN MENINGGAL MENDADAK ( SUDDEN DEATH ) TEMUAN DI DALAM RUMAH

PRO JUSTITIA No.Kasus / V et R Surat Permintaan Penyidik Nomor Kepolisian Tanggal : 449 / 90 / VR / RSUDGJ / X / 2010 : Permintaan Visum Luar Jenazah : B / 06 / IX / 2010 / Reskrim : POLSEK Cirebon : 23 September 2010

Kasus Sudden Death Sebagai Naskah Ujian yang dipresentasikan Penyaji : Dokter muda: Dicky wahyudi S.Ked Ni putu sudiadnyani S.Ked Waktu Tempat : Selasa , 12 Oktober 2010 : Ruang UPF / SMF Ilmu Kedokteran Kehakiman / Forensik Medikolegal RSUD Gunung Jati Kota Cirebon ( 04310026 ) ( 04310064 )

SUDDEN DEATH
PENDAHULUAN (1,6)
Ilmu Kedokteran Kehakiman tidak hanya berhubungan dengan masalah kriminalitas, kecurigaan, kecelakaan dan bunuh diri, tetapi juga berbagai kematian akibat sebab alami. Banyak kematian yang bersifat tiba-tiba, tidak terduga, tidak dapat diterangkan secara klinis, walaupun tidak ada unsur tidak alami dalam hal ini.

Adalah baik bagi ahli kedokteran kehakiman untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan kematian alami. Pada umumnya situasi ahli kedokteran kehakiman hanya berhubungan dengan masalah trauma dan kejahatan. Oleh karena penyebabnya yang alami, maka apabila kematian tersebut didahului oleh keluhan, gejala dan saksi (apalagi bila saksinya seorang dokter, misalnya di klinik, rumah sakit atau puskesmas) biasanya tidak akan menjadi masalah kedokteran forensik. Namun apabila kematian tersebut terjadi tanpa riwayat penyakit dan tanpa saksi, maka dapat menimbulkan kecurigaan bagi penyidik apakah ada unsur pidana terkait di dalamnya. Keuntungan lain dari pembelajaran terhadap kematian alami adalah fakta dari beberapa kasus kriminal yang mengakibatkan kematian, kematian ini timbul oleh karena sebab alami atau komplikasi setelah trauma yang menghasilkan keadaan fatal, bukan karena trauma itu secara langsung.

DEFINISI (4)
Seseorang dinyatakan mati apabila fungsi sistem jantung, sirkulasi dan sistem pernafasan terbukti telah berhenti secara permanen, atau apabila kematian batang otak telah dapat dibuktikan. ( UU KES NO.36 TAHUN 2009 Pasal 117 ) Macam macam kematian : Mati somatic ( Mati Klinis ) Terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan secara menetap (ireversibel). Secara klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerakan pernapasan dan suara pernapasan tidak terdengar pada auskultasi. Mati suri Mati suri ( near-death experience (NDE) , suspend animation, apparent death) adalah terhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan yang ditentukan oleh alat kedokteran sederhana. Dengan alat kedokteran yang canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga 2

sistem tersebut masih berfungsi. Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam. Mati otak (batang otak) Adalah bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang ireversibel, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya mati otak (mati batang otak), maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan. Mati biologis Mati biologis ( kematian semua organ ) selalu mengikuti mati klinis bila tidak dilakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau bila upaya resusitasi dihentikan. Mati biologis merupakan proses nekrotisasi semua jaringan, dimulai dengan neuron otak yang menjadi nekrotik setelah kira-kira 1 jam tanpa sirkulasi, diikuti oleh jantung, ginjal, paru dan hati yang menjadi nekrotik selama beberapa jam atau hari. Kematian wajar dan kematian mendadak : Kematian wajar (natural death) adalah kematian yang berhubungan dengan penyakit atau kondisi patologis, usia tua, di mana kematian bukan merupakan suatu hal yang diharapkan atau direncanakan dan bukan karena kecelakaan. Kematian mendadak (sudden death) adalah kematian yang muncul secara tiba-tiba atau dalam 24 jam dari onset simtom terminal, yang disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak terprediksi, bisa terjadi karena hal-hal tidak alamiah seperti keracunan dan kekerasan, ataupun hasil akhir dari keadaan alamiah.

Kematian mendadak adalah suatu kematian yang tidak diketahui penyebabnya, bisa disebabkan oleh berbagai trauma, keracunan atau asfiksia akibat kekerasan dan dimana kematian terjadi secara mendadak atau dibawah 24 jam setelah onset simptom terminal. Definisi ini tidak menyingkirkan kematian yang bukan karena penyakit, tetapi tidak ada penyebab yang tidak alami yang harusnya muncul. Apabila penyebabnya didiagnosa atau diketahui sebagai penyebab yang tidak biasa maka dapat disebut sebagai kematian mendadak. 3

Perubahan pada tubuh setelah kematian Perubahan pada tubuh mayat adalah dengan melihat tanda kematian pada tubuh tersebut. Perubahan dapat terjadi dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya: * Kerja jantung dan peredaran darah terhenti, * Pernapasan berhenti, * Refleks cahaya dan kornea mata hilang, * Kulit pucat, * Terjadi relaksasi otot.

Tanda pasti kematian Setelah beberapa waktu timbul perubahan paska mati yang jelas, sehingga memungkinkan diagnosa kematian menjadi lebih pasti. Tanda-tanda tersebut dikenal sebagai tanda pasti kematian berupa: * Lebam mayat / Livor Mortis ( hipostatis / lividitas paska mati ) * Kaku mayat ( rigor mortis ) * Penurunan suhu tubuh * Pembusukan * Mummifikasi * Adiposera

ANGKA KEJADIAN (2,4) Angka kejadian kematian mendadak sekitar 10% dari seluruh kematian. Di mana kematian mendadak bisa disebabkan oleh hal-hal yang tidak alamiah seperti keracunan, kekerasan, atau merupakan hasil akhir dari keadaan alamiah. Dari semua ini, kebanyakan kematian disebabkan penyebab kardiovaskular dan respiratori. Dari semua kasus kematian mendadak sekitar 45 % berhubungan dengan patologi sistem kardiovaskular, sekitar 20 % berhubungan dengan sistem respiratori, sekitar 15%

berhubungan dengan sistem saraf, 6 % berhubungan dengan sistem saluran pencernaan dan sisanya 10 % berhubungan dengan penyebab lainnya.

ETIOLOGI Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kematian mendadak dapat disebabkan oleh : 1. 2. Keadaan yang tidak alamiah Keadaan alamiah

KEADAAN YANG TIDAK ALAMIAH (5) Keadaan tidak alamiah yang dimaksud adalah kekerasan dan keracunan. Sejak kematian yang wajar dan trauma berefek pada organ yang sama dan mempunyai aksi yang sama pada suatu sistem, perannya ini pada kematian seseorang tidaklah mudah untuk diketahui. Pertanyaan ini akan mudah dibahas dengan menentukan dua kategori, di mana kategori pertama adalah kematian yang terjadi segera setelah trauma, dan yang kedua adalah yang terjadi beberapa lama setelah trauma. Pada kematian yang terjadi segera setelah trauma seringkali membingungkan dalam menentukan sebab kematian. Pada saat terjadi perkelahian juga dapat menyebabkan kematian tiba-tiba, dimana dalam proses ini terjadi pelepasan katekolamin (norepinefrin dan epinefrin) dari adrenal ke dalam sirkulasi. Efek dari ini yaitu meningkatnya rata-rata dan kekuatan kontraksi jantung, peningkatan konduksi jantung dan tekanan darah. Hal ini akan menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen jantung. Kadar katekolamin tertinggi dalam darah terjadi 3 menit setelah penghentian aktivitas, bukan saat terjadinya aktivitas. Selain proses pelepasan katekolamin juga terjadi peningkatan konsentrasi kalium, sekitar 5 mEq/ liter atau lebih pada beberapa individu. Segera sesudah aktivitas, kadar kalium akan menurun secara cepat sampai 2 mEq/ liter, sedangkan 5 menit setelah penghentian aktivitas kadar kalium lebih rendah dibanding pada saat istirahat. Hal ini berlangsung selama 90 menit atau lebih. Perbedaan konsentrasi kalium yang ekstrim ini menimbulkan efek aritmogenik pada jantung. Aritmogenik akibat hiperkalemi ini akan dinetralisir oleh peningkatan katekolamin. Jadi, resiko aritmia jantung dapat terjadi 5

segera sesudah penghentian aktivitas, di mana kadar katekolamin meningkat sedangkan kadar kalium menurun secara drastis. Apabila individu tersebut mengkonsumsi amfetamin, kokain atau stimulan yang lain, aritmia yang fatal dapat terjadi. Kokain memiliki efek ganda yaitu peningkatan pelepasan katekolamin dari adrenal dan inhibisi pengambilan kembali norepinefrin. Pada akhirnya norepinefrin akan terakumulasi di celah neuroefektor. Pada reseptor beta-1, kokain menyebabkan peningkatan frekuensi jantung, kekuatan kontraksi dan konduksi, dan pada saat yang sama kokain bekerja di reseptor alfa yang menyebabkan kontraksi arteri koroner, sehingga mengurangi perfusi otot jantung. Kematian mendadak dapat muncul pada individu dengan riwayat penyalahgunaan alkohol. Alkohol dikenal sebagai penyebab aritmia ventrikel dan atrium. Sebagai tambahan, alkoholik kronik akan menunjukkan inteval QT yang memanjang pada EKG, yang akan memperbesar kemungkinan terjadinya kematian mendadak, sama halnya dengan peningkatan kadar norepinefrin. Semua predisposisi terjadinya aritmia ini dapat diperburuk oleh pelepasan katekolamin saat perlawanan dalam kekerasan. Kedua hal ini akan menyebabkan aritmia yang fatal. KEADAAN ALAMIAH (2) Berikut ini adalah contoh-contoh keadaan alamiah yang dapat menyebabkan kematian mendadak :

A. Penyakit-penyakit sistem kardiovaskuler 1. Miokarditis akut, misalnya akibat difteri, enteritis atau infeksi non spesifik 2. Infark miokard 3. Gagal jantung kiri, akibat penyakit pada katup jantung atau hipertensi 4. Ruptur aneurisma atau robeknya pembuluh darah besar yaang letaknya berdekatan dengan jantung 5. Penyakit jantung kongenital pada bayi baru lahir

B. Penyakit pada sistem pernafasan 1. Pneumonia lobaris 6

2. Bronko-pneumoni 3. Benda asing yang menyumbat saluran pernafasan 4. Edema paru 5. Edema akut pada glotis 6. Karsinoma paru 7. Laringitis difteri 8. Emboli udara 9. Tuberkulosis paru 10. Pneumonia aspirasi 11. Kolaps jaringan paru yang luas 12. Asma bronkhial

C. Penyakit pada sistem pencernaan 1. Perdarahan dari tukak peptik, kanker lambung atau varises esofagus 2. Perforasi tukak pada sistem pencernaan, misalnya tukak usus atau lambung 3. Obstruksi usus halus 4. Pankreatitis akut, kolesistitis akut 5. Ruptur hernia, biasanya akibat strangulasi 6. Pecahnya abses hati atau ruptur limpa 7. Apendicitis akut

D. Penyakit pada sistem saraf pusat 1. Perdarahan serebral 2. Emboli serebral 3. Arterosklerosis atau trombosis serebral 4. Perdarahan subarachnoid 5. Meningitis 6. Abses otak 7. Ensefalitis akut 8. Epilepsi 9. Tumor otak 7

E. Penyakit pada sistem genito-urinaria 1. Pecahnya Kehamilan ektopik 2. Nefritis kronik dan kondisi patologikal lainnya 3. Toksemia pada kehamilan 4. Perdarahan rahim 5. Kista ovarium yang berputar 6. Nefrolithiasis

F. Syok akibat ketakutan atau rangsangan berlebih

G. Lain-lain 1. Diabetes Melitus 2. Diskrasia darah dan ketidakcocokan transfusi darah 3. Reaksi idiosinkrasi tubuh terhadap obat, misalnya syok anfilaktik pada penggunaan penicillin 4.Malaria serebral, Filaria serebral 5.Penyakit Addison

Penyakit-penyakit sistem kardiovaskuler (1)


Penyakit jantung iskemik adalah penyebab utama kematian mendadak, teutama di negara barat. Penyakit ini timbul oleh karena aterosklerosis koroner, penyakit jantung hipertensi, penyakit katup aorta, anomali sirkulasi koroner, pembesaran jantung, dan penyakit jantung kongenital. Penyakit jantung iskemik akan menghasilkan keadaan yang irreversibel yang disebut infark miokard, hal ini merupakan keadaan terminal yang menyebabkan kematian. Pada pemeriksaan autopsi akan didapatkan : a. Pada 8 sampai 12 jam pertama atau dalam 24 jam tidak akan didapati perubahan secara makroskopis. Perubahan pertama yang muncul adalah edema pada daerah otot yang terkena. Pada pemotongan terlihat otot bergranular dan keras. 8

b. Setelah 24 jam sampai hari ke-2 atau ke-3 area tersebut akan lebih terlokalisasi dan berubah menjadi kuning. Akan terlihat batasan yang lebih jelas yaitu daerah sehat yang berwarna merah. Ukuran dari infark dapat diperkirakan dari apa yang kita temui pada penglihatan secara makroskopis. c. Setelah beberapa hari atau beberapa minggu, infark menjadi lebih lunak dan rapuh, atau disebut juga miomalacia cordis. d. Setelah 3 minggu pusat daripada infark menjadi seperti gelatin, warna memudar menjadi abu-abu.

Penyakit Jantung Hipertensi Selama hidup, gejala klinis dari asma kardialis atau paroksisimal nokturnal dispnu disebabkan oleh oedema paru yang didapat dari gagal jantung kiri karena hipertensi. Oedema yang sama menjadi ciri khas autopsi dari penyakit jantung hipertensi. Ketika ventrikel kiri harus bekerja melawan tekanan sistemik aorta, serabut otot menjadi hipertrofi. Jumlah dari serabut ototnya tidak bertambah, namun ukuran panjang dan lebarnya yang bertambah. Batas berat jantung pada orang rata-rata adalah sekitar 360-380 gram, sedangkan pada penyakit hipertensi dapat mencapai 500-700 gram. Penyakit katup aorta Keadaan stenosis aorta lebih sering menyebabkan kematian mendadak daripada insufisiensi. Kebanyakan dari lesi ini adalah degeneratif dan sering terjadi pada orangtua. Pada keadaan kalsifikasi, katup jantung menjadi tebal dan kaku dengan penyatuan komisuradi kebanyakan kasus. Pada tahap yang lebih lanjut, keseluruhan dari katup hampir tidak dapat dikenali lagi, dengan lumen yang menyempit. Efek dari stenosis aorta yang berat, dalam hubungannya dengan kematian mendadak, adalah pembesaran ventrikel kiri bahkan dengan ukuran yang lebih besar dari yang disebabkan hipertensi.

Kardiomiopati Ciri-ciri utama dari keadaan ini adalah pembesaran jantung tanpa adanya hipertensi ataupun kelainan katup. Hal ini biasanya terjadi pada orang muda, sebagian pada orang yang lebih tua karena adanya atherosklerosis dan hipertensi. Jantung biasanya besar sekali (lebih dari 700 gram) tanpa adanya kelainan katup. Miokarditis Banyak penyakit infeksi yang menyebabkan miokarditis akut, yang akan segera menyebabkan kematian mendadak. Miokarditis ini dapat bersifat akut ataupun subakut yang disebabkan oleh difteria, trichinosis, tuberkulosis atau sifilis. Dahulu, diagnosa miokarditis sangat sering dipakai, terutama bila tidak ditemukan lesi yang jelas pada autopsi. Miokard Senilis Pada autopsi orangtua, tidak ada lesi spesifik yang bisa ditemukan untuk membuktikan sebab kematian yang jelas. Hal ini mempersulit tugas ahli patologi. Riwayat cara kematian menjadi penting untuk memberi petunjuk area mana pada tubuh yang menjadi prioritas dalam sebab kematian. Pada saat tidak ditemukan atropi senilis pada organ lain, dan riwayat kematian tidak menolong memberi petunjuk cara kematian, selama ahli patologi dapat menyingkirkan sebab yang tidak alamiah, maka logis untuk menganggap kematian tersebut karena degenerasi miokard akibat penuaan/miokard senilis. Ruptur Aneurisma Penyebab ekstrakardia yang paling sering pada kematian mendadak adalah ruptur aneurisma, sering terjadi pada aorta atau vaskuler otak. Aneurisme otak terdiri dari 4 tipe, keempatanya dapat menyebabkan ruptur yang membahayakan, yaitu : o Aneurisma ateromatous ; sering terlihat pada aorta abdominal. 10

o Aneurisma diseksi pada aorta. Ruptur aneurisme ini lebih jarang dibandingkan aneurisma ateromatous. o Aneurisme sifilitik ; sangat jarang terjadi karena lesi tersier sifilis sangat jarang muncul apabila terapi segera diberikan pada awal penyakit. Aneurisme ini sering terjadi di segmen torakal dan selalu di bagian lengkungan. o Aneurisme yang fatal dari pembuluh darah lain ; jarang terjadi karena bagian dari arteri cerebral. Pada pembengkakan ateroma bisa terjadi pada iliaka dan pembuluh darah femoris, dan kadang terjadi pada arteri mesenterika

Aneurisma serebral pada Sirkulus Willisi di dasar otak, adalah salah satu penyebab kematian yang paling sering pada usia muda sampai pertengahan, di mana penyakit koroner sudah disingkirkan. Perdarahan subaraknoid dapat menyebabkan kematian dengan cepat, walaupun mekanismenya tidak jelas.Penggumpalan darah mengisi sisterna basalis menutupi aneurisme berry pada sirkulus Willisi ; pada pemeriksaan autopsi, pembuluh ini harus dipisahkan di bawah aliran air, dengan hati-hati menggunakan diseksi tumpul untuk mencegah kerusakan pembuluh tersebut.

Penyakit-penyakit Sistem Pernafasan (4)


Emboli udara Emboli udara dapat muncul di banyak kasus dimana aspek medikolegal dapat terlibat. Emboli udara dapat muncul pada : 1. Trauma yang mengenai vena besar, khususnya vena jugular 2. Pada kasus-kasus aborsi kriminal, udara dapat masuk ke sirkulasi melalui pembuluh darah plasenta yang terbuka. 3. Pada orang-orang yang bekerja di saluran bawah air, di mana pada lingkungan itu udara memiliki tekanan yang tinggi (Caissons disease) 4. Udara dapat dengan sengaja disuntikkan ke dalam pembuluh darah, sebagai usaha pembunuhan. 100 ml udara yang memasuki sirkulasi biasanya berakibat fatal. Pada jumlah yang kecil, misalnya 8 ml, dapat pula menyebabkan kematian, apabila disertai dengan adanya defek septum ventrikel atau atrium. Emboli udara dapat memblok pembuluh darah di berbagai tempat dan dapat menyebabkan 11

hambatan sirkulasi pada berbagi level, yang menyebabkan anoksia jaringan. Emboli udara yang terjadi karena trauma dapat berupa peristiwa pembunuhan atau kecelakaan, pada trauma vena jugular. Pada pemeriksaan postmortem dapat dijumpai darah beserta buih di bilik jantung dan pembuluh darah, serta perubahan pada organ yang terlibat. (4) Asma Bronkial Sama seperti pada epilepsi, penderita asma dapat mati tiba-tiba, di mana dalam hal ini pasien tidak harus berada pada status asmatikus atau pun serangan asma mendadak. Walaupun mekanismenya tidak jelas tetapi dari pengalaman didapat kasuskasus fatal yang sering menyebabkan kematian. Sekitar 20 tahun yang lalu didapati peningkatan angka kematian pada pasien asma, hal ini disebabkan oleh pemakaian inhaler bronkodilator yang berlebihan. Obat ini bersifat adrenergik dan jika digunakan berlebih akan mengakibatkan rangsangan pada otot jantung, sehingga akan timbul aritmia, takikardi, dan fibrilasi ventrikel. Hal-hal lain yang menyebabkan kematian adalah hipoksia dan asidosis respiratorik yang muncul akibat peningkatan iritabilitas otot jantung dan asma itu sendiri. Obat-obat asma seperti teofilin dan simpatomimetik dapat mencetuskan fibrilasi ventrikel. Pada kombinasi kedua obat ini akan terjadi kardiotoksisitas. Autopsi hampir tidak menunjukkan kelainan apapun, kecuali pada kasus asma kronis. Pada pembukaan rongga dada, paru-paru akan terlihat memenuhi rongga toraks, tidak terlihat kolaps dan memiliki warna yang pucat dengan tekstur yang mirip busa, dan tidak kembali ke bentuk semula setelah penekanan. Pada pemotongan bronkus sering didapati mukus yang tebal dan jernih. Obstruksi Saluran Nafas Obstruksi mekanik oleh adanya benda asing pada saluran nafas dapat menyebabkan kematian mendadak. Ruptur dari abses retrofaringeal ( Quincy ) di mana pus dan jaringan nekrotik masuk ke faring dan laring jarang terjadi. Difteri juga bisa menyebabkan kematian mendadak. Pada anak-anak sering didapati epiglotits yang fulminan. Proses infeksi pada 12

laring dengan edema yang besar dapat menjadi awal terjadinya kematian dalam beberapa jam setelah onset penyakit tersebut dan hal ini dapat ditangani dengan intubasi atau trakeostomi untuk menyelamatkan hidup. Edema pada glotis perlu mendapatkan perhatian medikolegal. Edema glotis ini dapat disebabkan oleh inhalasi dari bahan-bahan korosif atau zat iritan yang mudah menguap, regurgitasi dan aspirasi muntahan, atau penggunaan racun sistemik secara parenteral. Kondisi ini dapat muncul juga pada proses patologis. Edema glotis bisa sangat cepat menyebabkan kematian, di mana paling sering merupakan kecelakaan, tetapi ada juga beberapa kasus usaha pembunuhan walaupun frekuensinya sangat jarang sekali. (4) Hemoptisis Berkurangnya angka tuberkulosis paru pada negara maju, kematian karena hemoptisis jarang terjadi, di mana tuberkulosis paru adalah penyebab utama hemoptisis masif. Tumor bronkus dapat menyebabkan hemoptisis yang masif, namun hal ini jarang terjadi.

Penyakit pada Sistem Gastrointestinal (1)


Perdarahan Gastrointestinal Perdarahan dapat terjadi di mana saja dalam saluran pencernaan, tapi dengan kemajuan teknologi di mana transfusi dan metode resusitasi sudah maju, kematian jarang terjadi. Perdarahan dari operasi pembedahan mulut dan faring seperti ekstraksi gigi atau tonsilektomi jarang menyebabkan kematian, tetapi dapat terjadi dengan adanya darah dan bekuan darah yang menyumbat saluran nafas. Pada karsinoma esofagus dapat terjadi perdarahan karena terkenanya aorta atau pembuluh darah besar di mediastinum, tetapi penyebab perdarahan yang paling sering adalah varises pada bagian distal esofagus yang disebabkan portal hipertensi pada fibrosis hati. Pada autopsi akan sulit terlihat adanya varises esofagus karena pembuluh darah telah kolaps, namun adanya pembendungan

13

pembuluh darah di daerah kardia dan tidak ditemukannya ulkus gaster atau duodenum menunjukkan adanya sirosis hati dan splenomegali. Penyebab lain perdarahan gastrointestinal masif adalah ulkus peptik duodenal dan gaster, begitu juga karsinoma gaster.

Penyakit pada Sistem Saraf Pusat (1)


Epilepsi (7) Setiap ahli kedokteran forensik memiliki pengalaman dalam kematian mendadak pada pasien epilepsi, di mana dari hasil autopsi tidak ditemukan lesi secara morfologi. Pasien epilepsi dapat meninggal tidak terduga walaupun tidak berada dalam status epileptikus, ataupun tidak dalam serangan. Banyak kematian pada pasien epilepsi memiliki cara kematian yang jelas, seperti asfiksia yang terjadi di tempat tidur saat wajah tertekan oleh bantal, dan saliva serta mukus membentuk sumbatan pada saluran hidung dan mulut. Pasien epilepsi juga bisa tenggelam di dalam bak mandi dan dapat terjadi trauma-trauma lain pada saat aktivitas tertentu. Namun pada beberapa kasus kematian, tidak ditemukan sebab dan mekanisme kematian yang jelas. Hal ini menunjukkan bahwa ada aktivitas listrik pada otak yang sedang terjadi yang kemudian menimbulkan henti jantung, akan tetapi kesimpulan ini masih merupakan hipotesis/dugaan. Autopsi harus memperhatikan gigitan pada ujung lidah, yang memberi kesan adanya serangan mendadak. Pemeriksaan yang hati-hati pada otak adalah penting, untuk mencari sebab-sebab kematian pada epilepsi sesudah trauma. Pada sebagian pasien, tanpa stenosis koroner, didapati fibrosis miokard, hal ini merupakan manifestasi periode hipoksia karena apnu saat serangan. Epilepsi pada umumnya tidak membahayakan jiwa si penderita. Namun, kematian akibat epilepsi cukup umum terjadi. Penyebabnya diantaranya: Kematian mendadak pada penderita epilepsi (SUDEP)

14

Kecelakaan, misalnya tenggelam, tabrakan, terjatuh ketika mengalami serangan epilepsy Status Epilepticus dimana satu atau serangkaian serangan epilepsi berlangsung lebih dari 30 menit Depresi dan kehilangan keinginan untuk hidup, karena epilepsi terkadang menyebabkan tekanan mental yang berat akibat mitos dan stigma dari lingkungan. Penderita epilepsi dapat meninggal mendadak tanpa penyebab kematian yang

jelas. Kondisi kematian tanpa penyebab yang diketahui dengan jelas seperti ini disebut SUDEP (Sudden Unexpected Death in Epilepsy).Seringkali, keluarga epileptik mendapat kesan bahwa epilepsi tidak membahayakan jiwa dan baru menyadari adanya resiko SUDEP sesudah kehilangan anggota keluarganya. Belum diketahui dengan jelas bagaimana SUDEP terjadi. Diduga penyebab kematian yang paling umum adalah masalah pernafasan dan jantung. Serangan epilepsi mungkin menyerang bagian otak yang mengontrol pernafasan dan fungsi jantung sehingga mereka berhenti bekerja. Dalam serangan epilepsi dahsyat, ada kemungkinan juga terjadi halangan di sistem pernafasan seperti central and obstructive apnoea, excess bronchial and oral secretions, pulmonary oedema and hypoxia. Bantuan dari orang lain dapat membantu untuk pencegahan, misalnya dengan membersihkan tenggorokan/mulut dari benda-benda yang dapat membuat tersedak, memposisikan penderita epilepsi dengan benar (ke samping) atau dengan stimulasi. Resiko SUDEP berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Banyak studi menunjukan bahwa SUDEP berhubungan dengan serangan epilepsi. Orang yang mengalami serangan epilepsi yang kurang terkontrol, terutama dengan sejarah tonic clonic seizures, adalah yang kelompok yang lebih beresiko. Tetapi, ini tidak selalu benar. Terkadang, penderita yang jarang mendapat serangan meninggal, sedangkan penderita yang sering mendapat serangan tidak

15

meninggal. Kemungkinan, faktor gaya hidup, manajemen penyakit dan daya tahan tubuh berpengaruh terhadap resiko SUDEP. Studi menunjukkan bahwa penggunaan lebih dari satu jenis obat (polytherapy) dan seringnya pergantian pengobatan dapat meningkatkan resiko. Keduanya dapat meningkatkan tingkat kesulitan epilepsi sehingga dapat secara langsung maupun tidak meningkatkan resiko SUDEP. Sebuah studi juga menunjukkan bahwa penderita epilepsi yang tidak mendapatkan perawatan juga mendapat resiko yang lebih tinggi. Resiko penyebab SUDEP diantaranya:

Serangan epilepsi jenis Generalized Tonic-Clonic Epilepsi yang tidak terkontrol Dewasa muda Orang yang hidup sendiri/ epilepsi tidak terawasi Perubahan obat yang mendadak dan sering Tidak mengkonsumsi obat sesuai petunjuk dokter Minum alcohol Tak diketahui dengan pasti berapa besar angka kematian SUDEP. Di Inggris,

diperkirakan angka ini berkisar di 500-1000 kematian per tahun. Resiko SUDEP tidaklah terlalu tinggi (angka berbeda di sumber yang berbeda, tapi berkisar di 1 kematian per 1000 epileptik). Tetapi SUDEP juga merupakan fenomena yang cukup umum. Observasi menunjukkan bahwa kebanyakan kematian terjadi di ranjang, sehingga diasumsikan dalam keadaan tidur. Tetapi, tidak jelas apakah kematian disebabkan oleh tekanan pada sistem jantung dan pernafasan, ataukah hanya karena tidak adanya bantuan. Studi tentang posisi kematian menunjukkan bahwa 71% korban dalam posisi terlengkup dan hanya 4% dalam posisi terlentang. Studi lain menunjukkan bahwa sekamar dengan orang lain atau menggunakan alat komunikasi antar ruang dapat meningkatkan kemungkinan mendapatkan bantuan di saat genting.

16

Beberapa riset menunjukkan hubungan antara SUDEP dan intensitas serangan epilepsi. Epileptik yang masih mendapatkan seizure (serangan epilepsi) mempunyai resiko lebih tinggi, sehingga sangatlah penting untuk mengontrol seizure agar tidak terjadi. Resiko meningkat seiring dengan frekuensi dan intensitas seizure. Strategi untuk mengurangi resiko SUDEP meliputi:

Mengurangi serangan epilepsi, dengan mengkonsumsi obat epilepsi yang Mengoptimalkan pertolongan pada saat serangan, misalnya dengan memasang baby monitor di kamar penderita epilepsi sehingga keluarga akan mendengar jika terjadi serangan epilepsi dan memberikan pertolongan. Jika mungkin, jangan biarkan penderita epilepsi hidup sendiri.

Menemani penderita epilepsi untuk memastikan serangan epilepsi nya telah benar-benar reda.

Meletakkan penderita epilepsi di posisi pemulihan setelah serangan berhenti. Seringkali SUDEP dibandingkan dengan SIDS. Dalam SIDS, mengatur posisi

bayi telah terbukti membantu mengurangi resiko kematian pada bayi. Kita berharap pengetahuan ini dapat membantu peneliti mencari cara mengurangi resiko SUDEP.

Penyakit pada Sistem Genitourinaria (4)


Sangat sedikit kematian mendadak yang disebabkan penyakit urinaria, tetapi penyakit pada alat genital wanita sering menyebabkannya. Kematian mendadak dapat terjadi pada kehamilan ektopik; yang dapat menyebabkan ruptur disertai dengan perdarahan intraperitoneal masif. Termasuk juga aborsi tanpa kontrol medis menjadi sumber terjadinya kematian yaitu karena perdarahan, emboli udara, perforasi vagina atau uterus, infeksi dan penggunaan zat-zat toksik. Terpelintirnya kista ovarium, nefrolitiasis, dan nefritis kronik adalah murni kondisi patologis dan seharusnya tidak menimbulkan kesulitan dalam menegakkan diagnosa pada pemeriksaan postmortem. 17

Ruptur Kehamilan Ektopik Kehamilan ektopik merupakan suatu keadaan abnormal yang tidak jelas penyebabnya. Jika hal ini tidak didiagnosa dan tidak ditangani segera, maka ruptur tuba falopii atau rahim dapat terjadi, dan dapat menyebabkan kematian karena perdarahan yang hebat serta syok. Ruptur dari kehamilan ektopik atau kematian oleh karena hal ini dapat terjadi karena fenomena patologi yang alami, atau sering juga dicetuskan oleh trauma. Toxemia Gravidarum Hal ini murni merupakan kondisi patologis yang dapat menyebabkan kematian, sehingga tidak begitu memerlukan pemeriksaan medikolegal postmortem, sehingga pada kasus ini tidak akan terjadi perkara hukum, kecuali dokter yang merawatnya tidak melakukan perawatan yang seharusnya. Perdarahan Uterus Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kematian pada perdarahan uterus, beberapa diantaranya berasal dari proses patologis seperti tumor ganas atau jinak. Tetapi kebanyakan berhubungan dengan tindakan aborsi atau aborsi yang tidak sempurna, pada kasus ini perdarahan akan terjadi secara masif dan terus-menerus sehingga menyebabkan kematian. Kondisi ini tidak sulit untuk didiagnosa dan kematian oleh sebab aborsi biasanya disertai ruptur uterus dengan cedera pada beberapa organ internal, karena penetrasi alat yang digunakan untuk aborsi ataupun luka akibat usaha aborsi tersebut.

Hubungan antara trauma dan penyakit (1)


Pada autopsi ketika terjadi kecelakaan yang juga disertai penyakit alami, berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan: o Apakah kematian disebabkan sepenuhnya oleh penyakit yang sudah ada pada dirinya dan tidak berhubungan dengan trauma o Apakah kematian disebabkan oleh karena luka tersebut dan terjadi dengan atau tanpa penyakit 18

o Apakah kematian disebabkan oleh kombinasi kedua proses di atas Dalam prakteknya, yang umum terjadi adalah penyakit emboli paru, penyakit arteri koroner dan perdarahan subaraknoid.

Lain-Lain (4)
Reaksi Anafilaktik

Hal ini jarang terjadi. Reaksi anafilaktik akan timbul fatal dan berat pada kasus di mana obat diberi secara parenteral, sehingga pemberian obat haruslah hati-hati demi kebaikan pasien dan dokter yang merawatnya. Beberapa obat yang sering dipakai di pasaran juga dapat menimbulkan reaksi anafilaksis, seperti obat-obat yang mengandung serum misalnya SABU ( serum anti bisa ular ), Penicillin, Aspirin, zat besi, dan lain-lain. Yang menjadi masalah pada kasus ini adalah ahli forensik tidak akan mendapatkan hal yang bermakna pada jaringan dan organ. Pada pemeriksaan postmortem, darah atau jaringan pada tempat injeksi harus diawetkan. Penegakan diagnosa dalam kasus ini juga harus didukung oleh riwayat kejadian, tanda-tanda syok, tidak ditemukannya hal-hal lain yang menjadi sebab kematian, dan terdeteksinya obat pada darah dan jaringan di tempat suntikan.

Kesalahan-kesalahan pada Transfusi Darah Berikut ini adalah bahaya dari transfusi darah : o Tidak cocoknya transfusi darah dapat menyebabkan kematian segera atau dalam beberapa waktu, tetapi beberapa pasien juga dapat bertahan dalam keadaan ini o Persediaan darah yang sudah lama atau transfusi darah yang sudah mengalami hemolisis juga dapat menyebabkan kematian o Transfusi darah yang suhunya rendah juga sangat berbahaya

19

o Transfusi darah yang terinfeksi atau terkontaminasi juga dapat menimbulkan kematian yang berhubungan dengan infeksi tersebut, baik segera atau beberapa saat setelah transfusi tersebut o Transfusi yang cepat atau jumlah yang berlebih dapat menyebabkan efek overload pada jantung o Transfusi darah yang berulang dapat menyebabkan kondisi patologis tertentu yang tidak diharapkan.

KESIMPULAN
Kematian adalah penghentian yang irreversible dari fungsi sistem vital tubuh yang saling berhubungan, yaitu sisem saraf, sirkulasi dan respirasi. Secara garis besar, kematian terbagi menjadi : Kematian wajar (natural death) Kematian mendadak (sudden death)

Definisi kematian mendadak adalah suatu kematian yang tidak diketahui penyebabnya, bisa disebabkan oleh berbagai trauma, keracunan atau asfiksia akibat kekerasan dan dimana kematian terjadi secara mendadak atau dibawah 24 jam setelah onset simptom terminal. Kematian mendadak dapat disebabkan oleh : 1. 2. Keadaan yang tidak alamiah Keadaan alamiah Keuntungan dari pembelajaran terhadap kematian mendadak karena penyebab yang alami adalah fakta dari beberapa kasus kriminal yang mengakibatkan kematian, kematian ini timbul oleh karena sebab alami atau komplikasi setelah trauma yang menghasilkan keadaan fatal, bukan karena trauma itu secara langsung.

DAFTAR PUSTAKA
1. Knight, B. Forensic Pathology, Second Edition . Arnold. London. 1996. 20

2. Chadha, PV. Ilmu Forensik dan Toksikologi, Edisi V. Widya Medika. 1995. 3. Gonzales, TA; Vance, M; Helpern, M; et al. Legal Medicine, Pathology and Toxicology. Appleton-century-crofts, inc. New York. 1954. 4. Nandy, A. Principles of Forensic Medicine. New Central Book Agency. Calcuta. 2001. 5. DiMaio, VJM; DiMaio, DJ. Forensic Pathology, Second Edition. 2001. Available at http://www.charlydmiller.com/LIB/forensicpathRA.html 6. Gani, Husni M. Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik, FK UNAND, 2002. 7. www.epilepsy.com

Identitas Korban / kasus Nama Umur Pekerjaan Asal Peristiwa : Tn. H

: 40 tahun : Swasta : Bandung : Perum BCA desa Pamengkang, jl. Adipura asri IV no 149 RT 03/08 kec.Mundu kab.Cirebon

Jenis Kelamin : Laki-laki Agama/Bangsa: Islam / Indonesia Pendidikan Alamat :: Perum BCA desa Pamengkang, jl. Adipura asri IV no 149 RT 03/08 kec.Mundu kab.Cirebon

CIRI-CIRI MAYAT : a. Tinggi badan b. Keadaan tubuh c. Warna kulit d. Rambut e. Raut muka f. Gigi geligi : 186 cm. : Gemuk. : Sawo matang. : Hitam lurus 1,5 cm, mudah dicabut. : Bulat. : Gigi rahang atas utuh, gigi rahang bawah ompong 21

geraham 1. g. Dada h. Anggota gerak atas : Simetris kiri dan kanan, warna merah kehitaman. : Lengkap.

i. Anggota gerak bawah : Lengkap. j. Perut k. Kelamin : Membusung ( kembung ). : Rambut kemaluan hitam keriting panjang 3,5 cm, mudah dicabut, buah zakar membengkak, Penis disunat keluar cairan bening (semen), panjang penis 8 cm. l. Dubur : Keluar tinja cair berwarna kuning, lubang anus ukuran 1,5x2 cm, otot anus kuat.

m. Lain-lain

: Jenazah datang dibungkus karpet berwarna merah motif bunga hitam, biru dan merah, bantal segi empat warna biru motif bintang-bintang putih, baju lengan pendek warna merah, bagian kiri atas terdapat logo sepak bola merk hamster collection, celana pendek jins warna abuabu, celana dalam warna hitam, kain sarung warna hijau motif kotak-kotak bergaris unggu putih.

Pemeriksaan Mayat

: 23 September 2010 jam 15.00 s/d 16.00 WIB.

Pembimbing Klinik

: Dokter Utama (Prof.Klinik) Dr. HIESMA SATYAKA,Sp.F. Hyperkes.,DVI.,SH.,K.HK.Kes. Dr.HERBERT LINDA.,Sp.PA-Medik.,Hyperkes.,DVI.

Dokter muda 1. Warso S.ked 2. Dewi Utari S.ked

: ( 00310158 ) ( 03310081) ( 04310064 ) ( 05310018 ) 22

3. Niputu Sudiadnyani S.ked 4. Asep Riswandi S.ked

5. Dian Apriyanti M S.ked 6. Anton Isnandar S.ked 7. Putu Sri Widyanti S.ked 8. Dicky Wahyudi S.ked 9. Anita Berliana T S.ked 10. Indira Vitrianty S.ked

( 99310125 ) ( 03310044 ) ( 03310220 ) ( 04310026 ) ( 05310010 ) ( 05310068 )

HASIL PEMERIKSAAN I.

PEMERIKSAAN LUAR : : Terbungkus karpet berwarna merah motif bunga hitam, biru dan merah, bantal segi empat warna biru motif bintang-bintang putih, baju lengan pendek warna merah, bagian kiri atas terdapat logo sepak bola merk hamster collection, celana pendek jins warna abu-abu, celana dalam warna hitam, kain sarung warna hijau motif kotakkotak bergaris unggu putih. Seluruh tubuh membengkak ( wajah, mata, hidung, mulut, dada, perut, seluruh bagian punggung, ketiak kanan kedua tangan dan kaki serta scrotum ), berwarna merah kehitaman. Lebam di punggung, dada atas, kedua tangan, intensitas kuat warna merah kehitaman.

1. Keadaan jenazah

2. Kaku jenazah

: Tidak ada ( tubuh membengkak, membusuk, keluar cairan kehitaman).

3. Lebam jenazah

: Ada di punggung, dada atas, kedua tangan, intensitas kuat warna merah kehitaman, tidak hilang pada penekanan, keluar cairan encer kemerahan.

4. Pembusukan

: Ada pada seluruh bagian tubuh. 23

5. Kepala

A. TERTUTUP RAMBUT Rambut tampak hitam lurus panjang 1,5 cm mudah dicabut. Bagian yang tertutup rambut tidak ditemukan perlukaan benda tumpul maupun tajam. B. TIDAK TERTUTUP RAMBUT Wajah tidak ditemukan perlukaan benda tumpul maupun tajam. Wajah membengkak warna merah kehitaman. Mata kanan menutup warna merah, sclera dan conjungtiva warna merah, pupil 12 mm, bulu mata mudah dicabut, alis mata tebal warna hitam lurus mudah dicabut. Mata kiri menutup warna merah, sclera berwarna putih, conjungtiva warna merah, pupil 12 mm, bulu mata mudah dicabut, alis mata tebal warna hitam lurus mudah dicabut. Telinga kanan terdapat belatung ukuran 3 mm, telinga kiri terdapat belatung dengan ukuran 1 mm, liang telinga kanan dan kiri tidak keluar cairan. Hidung keluar cairan encer warna kemerahan, tidak tampak kelainan. Mulut terbuka seperti mulut ikan selebar 3 cm, bibir atas dan bawah bengkak warna kehitaman, lidah membengkak keluar tidak tergigit, keluar cairan encer kemerahan. Gigi pada rahang atas lengkap M-3 ( jumlah 16 gigi ), rahang bawah lengkap M-3 ompong pada geraham pertama kanan pada perabaan masih teraba akar gigi ( jumlah 15 gigi ).

6. Leher

: Leher masih bisa digerakkan, tidak ada tahanan, tidak ada jejas jeratan atau cekikan (tidak ada jejas kekerasan benda tumpul atau tajam ).

7. Dada

: Simetris kiri dan kanan, terdapat tanda pembusukan diseluruh bagian dada berwarna merah kehitaman, tidak tapak patah tulang dada. 24

8. Perut

: Perut tampak membengkak, terdapat tanda pembusukan diseluruh bagian perut terutama dibagian kanan daan bagian bawah perut , diraba seluruh bagian perut teraba keras, tidak teraba hati atau limfa.

9. Kemaluan

: Rambut kemaluan hitam keriting panjang 3,5 cm, mudah dicabut, buah zakar membengkak, Penis disunat keluar cairan bening (semen), panjang penis 8 cm.

10. Anus

: Keluar tinja cair berwarna kuning, lubang anus ukuran 1,5x2 cm, otot anus kuat.

11. Extremitas Atas : Tangan kanan dan kiri dari bahu hingga pergelangan tangan membengkak warna keungguan, jari tangan dan kuku warna keungguan, tidak terdapat patah tulang tangan, tidak ditemukan jejas suntikan. Bawah : Kaki kanan tidak terdapat patah tulang kaki, paha hingga lutut membengkak berwarna merah kehitaman, rambut kaki hitam keriting panjang 3 cm, mudah dicabut, telapak kaki dan kuku kaki berwarna keungguan. Kaki kiri tidak terdapat patah tulang kaki, pangkal paha hingga lutut berwarna hitam dan mengelupas, dalam penekanan seperti ada udara krepes-krepes, pergelangan kaki hingga lutut membengkak, telapak kaki dan kuku kaki kehitaman.

25

12. Bagian belakang tubuh: Punggung kanan dan kiri terdapat pembusukan berwarna kehitaman, pada punggung kanan terdapat pengelupasan kulit, daerah ketiak kanan terdapatpengelupasan kulit dan berwarna kemerahan, seluruh daerah pantat terdapat bintikbintik merah.

II.

PEMERIKSAAN DALAM ( Otopsi ) :

Tidak dilakukan sesuai surat Visum et Repertum No. 449 / 90 / VR / RSUDGJ / X / 2010 , surat permintaan pemeriksaan mayat dari Kapolsek Mundu Resor Cirebon tanggal 23 September 2010 No.pol B / 06 / IX / 2010 / Reskrim dan pihak keluarga.

III. a. PA

PEMERIKSAAN PENUNJANG :

: Tidak dilakukan

b. Darah Gol.Darah HCN Alkohol c. Patologi Klinik : : : :

d. Radiologi/ CT-SCAN/USG : e. Toksikologi f. Parasitologi g. Mikrobiologi h. Anthropologi i. Odontologi j. Histologi k. DNA : : : : : : :

26

IV. Wartawan Forensik :

Jenazah ditemukan telah meninggal dunia pada hari kamis tanggal 23 september 2010 sekitar jam 08.00 wib dirumahnya Perum BCA desa pamengkang kec.Mundu kab.Cirebon. Saat ditemukan jenazah dalam posisi telungkup dan berada diruang tengah atau ruang keluarga dengan keadaan pintu rumah depan tertutup rapat dan terkunci. Menurut keterangan dari tetangga, korban pulang kerja tanggal 21 September 2010 sekitar jam 17.00 Wib, korban masuk kerumahnya dan tidak keluar rumah lagi hingga pagi hari. Keesokan harinya pada tanggal 22 September 2010 korban tidak keluar rumah sama sekali dari pagi hingga malam hari. Para tetangga mengira jika korban sedang keluar rumah.

Pada tanggal 23 September 2010 pagi sekitar jam 08.00 Wib korban tidak keluar rumah, hingga salah satu tetangga mengetok pintu rumah korban namun tidak ada jawaban sama sekali, tetangga tersebut juga menelfon ke Handphone korban namun tidak ada jawaban juga hingga akhirnya tetangga meminta bantuan kepolisian untuk melihat kedalam rumah. Polisi datang jam 08.30 Wib dan menemukan korban telah meninggal dunia diruang tengah rumah korban dengan posisi tengkurap. Selama ini korban terkenal sanggat ramah dan mudah bergaul. Korban tinggal dirumahnya seorang diri karena istri dan seorang anaknya sudah 2 bulan tinggal di Bandung.

V. DISKUSI

Kematian menggambarkan kematian sudden death karena kematian ini muncul secara tiba-tiba atau dalam 24 jam dari onset simtom terminal, yang disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak terprediksi, bisa terjadi karena hal-hal tidak alamiah seperti keracunan dan kekerasan, ataupun hasil akhir dari keadaan alamiah.

27

Pada kasus ini memerlukan pemeriksaan luar dan bedah dalam. Pada pemeriksaan luar didapat : Lebam jenazah pada punggung, dada atas dan kedua tangan dengan intensitas kuat berwarna merah kehitaman yang tidak hilang pada penekanan. Lebam terjadi akibat eritrosit menempati bagian terbawah tubuh sesuai dengan gaya gravitasi dengan warna merah keungguan, lebam mulai tampak setelah kematian 20 menit sampai 12 jam. Pada korban lebam jika diteka tidak hilang maka waktu kematian diperkirakan 6 10 jam. Pembusukan terdapat pada seluruh bagian tubuh ( wajah, mata, hidung, mulut, dada, perut, seluruh bagian punggung, ketiak kanan kedua tangan dan kaki serta scrotum ) berwarna merah kehitaman. Rambut, alis, bulu mata, rambut kemaluan, bulu kaki dan tangan mudah dicabut. Hal ini terjadi akibat proses degradasi jaringan berupa otolosis dan kerja bakteri. Pembusukan dimulai pada 6 jam pasca kematian

sejak kematian ( golden periode ), dan terlihat 20 jam

selanjutnya rambut mudah dicabut, wajah, mata, bibir dan lidah membengkak, pada lidah sering dalam keadaan terjulur diantara gigi. Pada hidung keluar cairan encer kemerahan yang diperkirakan karena penimbunan gas dalam tubuh mengakibatkan tegangnya perut dan keluar cairan kemerahan dari hidung atau terdapat perdarahan / perlukaan pada saluran pernafasan,yang penyebab pastinya tidak diketahui dikarenakan tidak dilakukan pemeriksaan dalam pada korban ini. Mata kanan, conjungtiva dan sclera berwarna merah akibat lebam mayat dan pembusukan, pembuluh darah kapiler tidak melebar. Pupil mata kanan dan kiri dilatasi isokor 12mm, akibat tekanan intraokuler yang menurun namun tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan lama nya kematian. Mulut mencucu membengkak dan terbuka sebesar 3 cm, lidah membengkak dan terjulur akibat proses pembusukan. Gigi rahang bawah lengkap (terdapat M-3) yang menunjukkan usia korban lebih dari 17 tahun. Terdapat ompong pada geraham pertama kanan yang pada ke luar

perabaan masih teraba akar gigi yang disebabkan karies gigi.

28

Perut tampak membengkak perut terjadi akibat pembentukan gas di dalam lambung dan usus, mengakibatkan tegangnya perut dan keluar nya cairan kemerahan dari mulut dan hidung. Dalam penekanan seperti ada udara krepeskrepes terjadi penimbunan gas di dalam mengakibatkan terabanya derik ( krepitasi ). jaringan dinding tubuh yang

Buah zakar membesar akibat penimbunan gas di daerah jaringan yang longgar.

Seharusnya dilakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui apakah ada kelainan pada organ-organ vital korban contohnya jantung,paru-paru,lambung dan otak.Tetapi keluarga tidak mengijinkan untuk dilakukan pemeriksaan dalam,sehingga tidak dapat dinilai kelainan pada organ vital dan tidak dapat diketahui secara pasti penyebap kematian korban.

VI. KESIMPULAN : a. Identitas : Identitas korban telah dikenali sesuai dengan ante portem yang dinyatakan oleh orang-orang terdekat korban ( teman kerja dan tetangga dekat rumah korban). Tn. H, umur 40 tahun, alamat tempat tinggal Perum BCA desa Pamengkang, jl. Adipura asri IV no 149 RT 03/08 kec.Mundu kab.Cirebon, Jenazah datang dibungkus karpet berwarna merah motif bunga hitam, biru dan merah, bantal segi empat warna biru motif bintang-

bintang putih, baju lengan pendek warna merah, bagian kiri atas terdapat logo sepak bola merk hamster collection, celana pendek jins warna abu-abu, celana dalam warna hitam, kain sarung warna hijau motif kotakkotak bergaris unggu putih.

29

b. Saat Kematian :Saat kematian berdasarkan keadaan jenazah (membengkak dan membusuk ) dapat ditentukan korban sudah meninggal dunia kurang lebih 30 jam dari

ditemukannya jenazah. Saat kematian tidak sesuai dengan kewartawanan forensic yang menyebutkan korban

meninggal lebih kurang 40 jam sejak korban terlihat pulang dari kerja.

c. Cara/Mekanisme Kematian

: Korban ditemukan tertidur telungkup di

ruang tengah rumah korban dalam keadaan sudah meninggal dunia. Kematian korban termasuk dalam kematian tidak wajar ( kematian tiba-tiba / Sudden death )

d. Sebab Kematian

1. Kemungkinan akibat penyakit yang diderita korban selama ini 2. Tidak ditemukan adanya jejas benda tumpul maupun tajam 3. Kemungkinan dari keracunan

VII.

PENUTUP

Demikianlah Laporan Medis ini dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan Kedokteran Forensik secara obyektif medis .

Presentasi Laporan Medis Oleh : DOKTER MUDA 1. Warso S.ked 2. Dewi Utari S.ked 3. Niputu Sudiadnyani S.ked 4. Asep Riswandi S.ked 5. Dian Apriyanti M S.ked 6. Anton Isnandar S.ked 00310158 03310081 04310064 05310018 99310125 03310044 (....................) () () () () (.) 30

7. Putu Sri Widyanti S.ked 8. Dicky Wahyudi S.ked 9. Anita Berliana T S.ked 10. Indira Vitrianty S.ked

03310220 04310026 05310010 05310068

(.) (.) (.) (.)

Pengesahan Pembimbing klinis 1. Dokter Utama ( Prof.Klinik )

: (..) (..)

Dr. Hiesma Satyaka , Sp.F Hyperkes., DVI., SH., K. HK.Kes., 2. Dr. Herbert Linda ,SpPA Medis, Hyperkes., DVI

31

DOKUMEN FOTOGRAFI DIGITAL PERISTIWA MENINGGAL MENDADAK ( SUDDEN DEATH ) TEMUAN DI DALAM RUMAH TANGGAL 23 SEPTEMBER 2010

Persiapan sebelum pemeriksaan dimulai

Keadaan saat korban datang

Keadaan seluruh tubuh korban

Keadaan wajah korban

32

Pembengkakkan scrotum

Pembusukan daerah perut

Pembusukan daerah belakang tubuh

Mulut mencucu,membengkak dan lidah menjulur

33

UPF / SMF KEDOKTERAN KEHAKIMAN / FORENSIK MEDIKOLEGAL RSUD GUNUNG JATI KOTA CIREBON Jl. KESAMBI 56 CIREBON TELEPON ( 0231 ) 206330 Ext 1152 PRO JUSTITIA

KETERANGAN AHLI VISUM ET REPERTUM Pemeriksaan Luar Jenazah No. 449 / 90 / VR / RSUDGJ / X / 2010

Sehubungan dengan surat saudara MUNAWAN,SH Pangkat : AKP, Nrp : 70040436. Jabatan KEPALA KEPOLISIAN SEKTOR MUNDU Cirebon Selaku Penyidik Polresta Resor Cirebon tanggal 23 September 2010 No.Pol : B / 06 / IX / 2010 / Reskrim, Perihal : Permintaan Visum luar An Alm Heri Herdiana, selanjutnya dalam surat permintaan tersebut diterangkan bahwa rujukan Laporan Polisi No. Pol. : LP / 266 / IX / 2010 / JBR / Wil Crb / Res Crb / Sek Mundu, tanggal 23 September 2010. Mayat tersebut ditemukan di ruang tengah atau ruang keluarga dirumahnya dalam keadaan pintu rumah depan tertutup dan terkunci, pada hari kamis wage, tanggal 23 September 2010 sekitar jam 08.00 Wib dirumahnya di Perum BCA Desa Pamengkang Kec.Mundu Kab.Cirebon. Diduga orang tersebut meninggal pada hari Rabu, 22 September 2010 sekira jam 09.00 Wib. Kematiannya diduga akibat penyakit yang diderita korban dan tidak ditemukannya jejas benda tumpul atau tajam. Dengan posisi tidur telungkup beralaskan bantal dan karpet lantai.

Sebelumnya korban pernah menderita penyakit epilepsi dan pernah berobat ke dokter umum. Mohon bantuan dilakukan pemeriksaan luar atas jenazah tersebut dan dibuatkan Visum et Repertum.

34

Maka kami yang yang bertanda tangan dibawah ini, Dokter utama ( Prof Klinik ) Dr. HIESMA SATYAKA, Sp.F.-Hyperkes.,DVI,SH.K.HK.Kes Dokter Ahli Kedokteran Kehakiman / Forensik, Kepala UPF / SMF Kedokteran Kehakiman / Forensik Medikolegal Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati Kota Cirebon, menerangkan bahwa telah diperika jenazah seorang laki-laki di ruang otopsi UPF / SMF Kedokteran Kehakiman / Forensik Medikolegal RSUD Gunung Jati, hari Kamis, tanggal 23 September 2010, pukul 15.00 s/d 16.00 WIB dengan identitas sebagai berikut :

Nama Jenis Kelamin Umur Pekerjaan Kewarganegaraan Agama Alamat

: Tn. H : Laki-laki : 40 Tahun : Swasta : Indonesia : Islam : Perum BCA desa Pamengkang, jl. Adipura asri IV no 149 RT 03/08 kec.Mundu kab.Cirebon

Hasil Pemeriksaan Jenazah Sebagai berikut :

I.

PEMERIKSAAN LUAR JENAZAH

A. Keadaan jenazah

: Jenazah datang dibungkus karpet berwarna merah motif bunga hitam, biru dan merah, bantal segi empat warna biru motif bintang-bintang putih, baju lengan pendek warna merah, bagian kiri atas terdapat logo sepak bola merk hamster collection, celana pendek jins warna abuabu, celana dalam warna hitam, kain sarung warna hijau motif kotak-kotak bergaris unggu putih.

35

B. Posisi Korban

: Posisi tubuh terlentang muka menghadap ke atas tangan kiri menekuk keatas, tangan kanan menekuk ke bawah. Kedua kaki lurus kebawah.

C. Lebam Jenazah

: Ada di punggung, dada atas, kedua tangan, intensitas kuat warna merah kehitaman, tidak hilang pada penekanan, keluar cairan encer kemerahan.

D. Kaku Jenazah

: Tidak ada ( tubuh membengkak, membusuk, keluar cairan kehitaman).

E. Pembusukan

: Ada pada seluruh bagian tubuh.

F. Ciri-ciri jenazah a. Tinggi badan b. Keadaan tubuh c. Warna kulit d. Rambut e. Raut muka f. Gigi geligi

: : 186 cm : Gemuk : Sawo matang : Hitam lurus 1,5 cm, mudah dicabut. : Bulat : Gigi rahang atas utuh, gigi rahang bawah ompong geraham 1.

g. Dada h. Anggota gerak atas i. Anggota gerak bawah j. Perut k. Punggung l. Kelamin

: Simetris kiri dan kanan : Lengkap : Lengkap : Membusung ( Kembung ) : Terdapat tanda-tanda pembusukan : Rambut kemaluan hitam keriting panjang 3,5 cm, mudah dicabut, buah zakar membengkak, Penis disunat keluar cairan bening (semen), panjang penis 8 cm.

36

m. Dubur

: Keluar tinja cair berwarna kuning, lubang anus Ukuran 1,5x2 cm, otot anus kuat.

n. Lain-lain

: Jenazah datang dibungkus karpet berwarna merah motif bunga hitam, biru dan merah, bantal segi empat warna biru motif bintang-bintang putih,

baju lengan pendek warna merah, bagian kiri atas terdapat logo sepak bola merk hamster collection, celana pendek jins warna abu-abu, celana dalam warna hitam, kain sarung warna hijau motif kotakkotak bergaris unggu putih.

II. Kelainan-kelainan yang didapat :

I. KEPALA :

A. TERTUTUP RAMBUT Rambut tampak hitam lurus panjang 1,5 cm mudah dicabut. Bagian yang tertutup rambut tidak ditemukan perlukaan benda tumpul maupun tajam. B. TIDAK TERTUTUP RAMBUT Wajah tidak ditemukan perlukaan benda tumpul maupun tajam. Wajah membengkak warna merah kehitaman. Mata kanan menutup terdapat perdarahan, sclera dan conjungtiva warna merah, pupil 12 mm, bulu mata mudah dicabut, alis mata tebal warna hitam lurus mudah dicabut. Mata kiri menutup terdapat perdarahan, sclera berwarna putih, conjungtiva warna merah, pupil 12 mm, bulu mata mudah dicabut, alis mata tebal warna hitam lurus mudah dicabut. Telinga kanan terdapat belatung ukuran 3 mm, Telinga kiri terdapat belatung dengan ukuran 1 mm, Liang telinga kiri dan kanan tidak keluar cairan. Hidung keluar cairan encer warna kemerahan, tidak tampak kelainan. 37

Mulut terbuka seperti mulut ikan selebar 3 cm, Bibir atas dan bawah bengkak warna kehitaman, Lidah membengkak keluar tidak tergigit, Keluar cairan encer kemerahan.

Gigi pada rahang atas lengkap M-3 ( jumlah 16 gigi ), Rahang bawah lengkap terdapat M-3, ompong pada geraham pertama kanan pada perabaan masih teraba akar gigi ( jumlah 15 gigi ).

II.

LEHER Leher masih bisa digerakkan, tidak ada tahanan, tidak ada jejas jeratan atau cekikan ( tidak ada jejas kekerasan benda tumpul atau tajam ).

III. -

DADA Simetris kiri dan kanan, Terdapat tanda pembusukan diseluruh bagian dada berwarna merah kehitaman, Tidak tapak patah tulang dada.

IV. -

PERUT Perut tampak membengkak, Terdapat tanda pembusukan diseluruh bagian perut terutama dibagian kanan daan bagian bawah perut ,

Diraba seluruh bagian perut teraba keras, Tidak teraba hati atau limfa.

V. -

KEMALUAN Rambut kemaluan hitam keriting panjang 3,5 cm, Mudah dicabut, Buah zakar membengkak, Penis disunat keluar cairan bening (semen), Panjang penis 8 cm.

38

VI. -

ANUS Keluar tinja cair berwarna kuning, Lubang anus ukuran 1,5x2 cm, Otot anus kuat.

VII.

EXTREMTAS a. ATAS

Tangan kanan dan kiri dari bahu hingga pergelangan tangan membengkak warna keungguan,

Jari tangan dan kuku warna keungguan, Tidak terdapat patah tulang tangan, Tidak ditemukan jejas suntikan. b. BAWAH

Kaki kanan tidak terdapat patah tulang kaki, paha hingga lutut membengkak berwarna merah kehitaman, rambut kaki hitam keriting panjang 3 cm, mudah dicabut, telapak kaki dan kuku kaki berwarna keungguan.

Kaki kiri tidak terdapat patah tulang kaki, pangkal paha hingga lutut berwarna hitam dan mengelupas, dalam penekanan seperti ada udara krepes-krepes, pergelangan kaki hingga lutut membengkak, telapak kaki dan kuku kaki kehitaman.

VIII. BAGIAN BELAKANG TUBUH Punggung kanan dan kiri terdapat pembusukan berwarna kehitaman, Pada punggung kanan terdapat pengelupasan kulit, Daerah ketiak kanan terdapat pengelupasan kulit dan berwarna kemerahan, Seluruh daerah pantat terdapat bintik-bintik merah.

III. PEMERIKSAAN DALAM JENAZAH : Tidak dilakukan pemeriksaan dalam pada jenazah karena sesuai dengan surat Visum et Repertum No.449 / 90 / VR / RSUDGJ / X / 2010 dan Surat penyidik dengan No.Pol. B / 06 / IX / 2010 / Reskrim serta pihak keluarga. 39

IV. KESIMPULAN :

Kematian korban secara pasti belum dapat ditentukan oleh karena hanya dilakukan pemeriksaan luar jenazah sesuai dengan surat Visum et Repertum No.449/ 90 / VR / RSUDGJ / X / 2010 , surat permintaan pemeriksaan mayat dari Kapolsek Mundu Resor Cirebon tanggal 23 September 2010 nomor pol B / 06 / IX / 2010 / Reskrim dan pihak keluarga. Dengan mengesampingkan penyebab kematian yang lain, tidak ditemukannya jejas benda tumpul maupun benda tajam, kemungkinan kematian korban dapat disebabkan oleh penyakit yang dideritanya selama ini. Demikian Keterangan Ahli / Visum et Repertum ini di buat atas sumpah pada waktu menerima jabatan berdasarkan Staatsblad nomor 350 tahun 1937 dan mengingat pula pada Undang-undang nomor 8 tahun 1981.

Dikeluarkan di Cirebon Pada tanggal, Oktober 2010. Kepala UPF / SMF Kedokteran Kehakiman / Forensik Medikolegal. Dokter ahli Kedokteran Kehakiman / Forensik.

Dokter Utama ( Profesor Klinik ) Dr. HIESMA SATYAKA, Sp.F.-Hyperkes.,DVI.,SH.,K.HK.Kes. N I P : 140 187 831

40