Anda di halaman 1dari 6

Rasionalisme, Empirisme dan Kritisisme

OPINI | 26 March 2011 | 11:50 bermanfaat Dibaca: 5432 Komentar: 3 1 dari 1 Kompasianer menilai

Rasionalisme dan empirisme adalah dua aliran dalam bidang filsafat yang berpengaruh dalam perkembangan filsafat abad ke-17. Rasionalisme adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma atau ajaran agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme dan atheisme, dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul. Ada dua filsuf rasionalisme yang berpengaruh pada masa itu. Filsuf yang pertama adalah Rene Descartes. Rene Descartes (31 Maret 1596 - 11 Februari 1650) adalah sorang filsuf Perancis, matematikawan, fisikawan dan penulis. Dia dijuluki Bapak Filsafat Modern karena ia berperan besar dalam membangun sistem pertama filsafat modern. Selain itu dia juga dinobatkan sebagai bapak geometri analitis karena sumbangannya yang penting terhadap ilmu aljabar dan karena penemuannya tentang sistem kordinat Cartesius. Descartes adalah seorang tokoh besar pada abad ke-17 sebagai seorang filsuf rasionalisme yang kemudian menginspirasi pemikiran Spinoza dan Leibniz. Rasionalismenya ditentang oleh para filsuf empirisme seperti Hobbes, Locke, Berkeley, Rousseau dan Hume. Pokok pemikiran Descartes adalah bahwa akal merupakan satu-satunya jalan menuju pengetahuan. Di dalam buku Discourse on Method, dia mencoba untuk sampai pada pokok dari suatu asas atau pemikiran dasar. Untuk menerima itu, dia menggunakan sebuah metode keraguan atau dubium methodicum. Dia menolak semua pemikiran yang bisa diragukan, lalu dia membangun kembali pemikiran itu untuk mendapatkan dasar yang kuat untuk pengetahuan yang murni. Pada awalnya, Descartes sampai pada satu prinsip dasar, yaitu berpikir ada. Berpikir tidak bisa dipisahkan dari dirinya, sehingga dia pun ada. Ungkapan ini lebih dikenal dengan cogito ergo sum yang dalam bahasa Inggris adalah i think therefore i am atau aku berpikir,maka aku ada dalam bahasa Indonesia. Descartes menyimpulkan jika dia ragu lalu seseorang atau sesuatu diharuskan untuk ragu, sehingga faktanya adalah keraguannya membuktikan keberadaannya. Dia merasakan tubuhnya melalui indera,namun indera tersebut tidak bisa dipercaya. Menurutnya, berpikir adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diragukan. Sedangkan indera adalah hal yang menurutnya tidak pasti dan menipu. Sebagai contoh, sebuah sedotan ketika dimasukkan ke dalam sebuah gelas berisi air maka akan terlihat oleh mata kita bahwa sedotan itu bengkok. Padahal yang sesungguhnya adalah sedotan itu tetap lurus seperti aslinya. Hal itu membuktikan bahwa indera menipu kita, karena itulah dia meragukan indera. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi dan pasti karena kita mengerti hal itu dengan jelas dan terpilah-pilah atau disebut clara et distincta. Artinya, yang jelas dan terpilah itulah yang harus diterima sebagi benar. Hal itu menjadi dasar Descartes dalam menentukan kebenaran. Dengan cara itu, Descartes membangun sebuah sistem pengetahuan dimana dia membuang persepsi ketidakpercayaan dan mengakui deduksi sebagai sebuah metode. Dalam sistem

Descartes, pengetahuan mengambil bentuk ide dan penyelidikan filosofis adalah perenungan ideide ini. Konsep inilah yang mempengaruhi epistemologi Descartes yang memisahkan pengetahuan dari pemalsuan. Descartes percaya bahwa realitas luar itu ada dan realitas luar ini berbeda dengan realitas pikiran. Dia menyatakan bahwa ada dua bentuk realitas yang berbeda. Realitas yang satu adalah res cogitan (gagasan atau pikiran) dan res extensa (perluasan atau materi). Descartes menerapkan pembagian tegas antara realitas pikiran dan realitas materi. Menurutnya, pikiran itu sesungguhnya adalah kesadaran dan tidak mengambil tempat dalam ruang dan karenanya tidak bisa dibagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Sedangkan materi adalah perluasan, mengambil tempat di dalam ruang dan bisa dibagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi. Descartes menyatakan bahwa kedua hal tersebut berasal dari Tuhan tetapi kedua substansi tersebut tidak saling berhubungan. Jika dihubngkan dengan manusia, res cogitan itu adalah jiwa dan res extensa adalah tubuh. Pikiran tidak bergantung pada materi begitu juga sebaliknya. Sama halnya dengan jiwa dan tubuh yang tidak saling berhubungan dan ada pembatas diantara keduanya. Pembagian dua realitas ini menjadikan Descartes sebagai seorang dualis. Filsuf rasionalis selanjutnya adalah Leibniz. Gotfried Wilhem Leibniz a(1 Juli 1646 - 14 November 1716) adalah seorang filsuf Jerman keturunan Sorbia dan berasal dari Sachsen. Ia terutama terkenal karena faham Thodice bahwa manusia hidup dalam dunia yang sebaik mungkin karena dunia ini diciptakan oleh Tuhan Yang Sempurna. Faham Thodice ini menjadi terkenal karena dikritik dalam buku Candide karangan Voltaire. Leibniz lahir di Leipzig dan meninggal dunia di Hannover. Leibniz memulai pemikirannya sebagai seorang filsuf ketika dia memberikan komentar melalui karyanya yaitu Discourse on Metaphysics atas perselisihan yang terjadi antara Nicolas Malebranche dan Antonio Arnauld. Leibniz tertarik dengan metode baru dan kesimpulan Descartes, Huygens, Newton dan Boyle. Namun hal itu menyisakan situasi dimana metode dan perhatian Leibniz seringkali mendahului logika, analitik dan bahasa filsafat pada abad ke-20. Prinsip-prinsip dasar pemikiran Leibniz ada tujuh, yaitu kontradiksi, identitas yang tidak dapat dijelaskan, alasan yang cukup, keserasian yang mapan, kontinuitas, optimisme dan kepenuhan. Kontribusi terbaik dari Leibniz adalah teori monads yang dijelaskan dalam Monadologie. Monads adalah dunia metafisik yang menjelaskan apa itu atom kedalam fisika/fenomena. Hal itu juga bisa dibandingkan dengan sel-sel dari filsafat mekan bentuk substansial dari menjadi dengan sifat abadi, tak dapat dibagi, individual, sesuai dengan hukum mereka sendiri, tidak berinteraksi dan mencerminkan seluruh alam semesta. Monads adalah pusat kekuatan, substansi adalah gaya sementara ruang, materi dan gerak hanyalah fenomena. Walaupun Leibniz seorang rasionalis, dia mengakui nilai dari kebenaran empiris. Kebenaran empiris baginya hanyalah sebuah bagian kecil dari seluruh kebenaran. Adalah tugas para filsuf untuk bisa menemukan kebenaran sejati di belakang kebenaran fenomena. Leibniz mengakui bahwa di dalam banyak bidang kita hanya bisa mendapatkan kebenaran faktual. Yang bisa kita lakukan adalah mengumpulkan fakta tanpa bisa mendeduksi fakta dari prinsip-prinsip rasio yang lebih tinggi. Tidak hanya sekedar mengumpulkan fakta, melainkan mau mencoba mengerti fenomena alam. Kebenaran rasional inilah yang menjadi batas dari ilmu

pengetahuan. Kita mungkin tidak akan pernah tahu penyebab dari segala sesuatu, tetapi kita tidak boleh berputus asa untuk terus mencari dan membuktikan penyebab-penyebab tersebut. Leibniz meyakini bahwa ilmu pengetahuan adalah proses pencarian kebenaran ini, bukan sekedar pengumpulan fakta, tetapi sebuah proses mengerucut yang semakin mendekati kebenaran. Seluruh kebenaran empiris bisa direduksi menjadi prinsip-prinsip umum yang universal. Ia bahkan melampaui batas-batas ilmu alam, dengan juga menerapkan prinsip-prinsip universal ini pada ranah lain yaitu masalah politik, sosial dan religius. Setelah membahas dua filsuf rasionalis, sekarang kita beralih ke filsuf empirisme. Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme di ambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia. Filsuf empiris yang pertama dan terkenal adalah John Locke. John Locke (lahir 29 Agustus 1632 - meninggal 28 Oktober 1704 pada umur 72 tahun) adalah seorang filsuf dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan empirisme. Selain itu, di dalam bidang filsafat politik, Locke juga dikenal sebagai filsuf negara liberal. Bersama dengan rekannya, Isaac Newton, Locke dipandang sebagai salah satu figur terpenting di era Pencerahan Selain itu, Locke menandai lahirnya era Modern dan juga era pasca-Descartes (post-Cartesian), karena pendekatan Descartes tidak lagi menjadi satu-satunya pendekatan yang dominan di dalam pendekatan filsafat waktu itu Kemudian Locke juga menekankan pentingnya pendekatan empiris dan juga pentingnya eksperimen-eksperimen di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Salah satu pemikiran Locke yang paling berpengaruh di dalam sejarah filsafat adalah mengenai proses manusia mendapatkan pengetahuan. Ia berupaya menjelaskan bagaimana proses manusia mendapatkan pengetahuannya. Menurut Locke, seluruh pengetahuan bersumber dari pengalaman manusia. Posisi ini adalah posisi empirisme yang menolak pendapat kaum rasionalis yang mengatakan sumber pengetahuan manusia yang terutama berasal dari rasio atau pikiran manusia. Meskipun demikian, rasio atau pikiran berperan juga di dalam proses manusia memperoleh pengetahuan. Dengan demikian, Locke berpendapat bahwa sebelum seorang manusia mengalami sesuatu, pikiran atau rasio manusia itu belum berfungsi atau masih kosong. Situasi tersebut diibaratkan Locke seperti sebuah kertas putih atau tabula rasa yang kemudian mendapatkan isinya dari pengalaman yang dijalani oleh manusia itu. Tabula rasa adalah teori bahwa pikiran (manusia) ketika lahir berupa kertas kosong tanpa aturan untuk memroses data, dan data yang ditambahkan serta aturan untuk memrosesnya dibentuk hanya oleh pengalaman alat inderanya. Pendapat ini merupakan inti dari empirisme Lockean. Anggapan Locke, tabula rasa berarti bahwa pikiran individu kosong saat lahir, dan juga ditekankan tentang kebebasan individu untuk mengisi jiwanya sendiri. Setiap individu bebas mendefinisikan isi dari karakternya - namun identitas dasarnya sebagai umat manusia tidak bisa ditukar. Dari asumsi tentang jiwa yang bebas dan ditentukan sendiri serta dikombinasikan

dengan kodrat manusia inilah lahir doktrin Lockean tentang apa yang disebut alami. Rasio manusia hanya berfungsi untuk mengolah pengalaman-pengalaman manusia menjadi pengetahuan sehingga sumber utama pengetahuan menurut Locke adalah pengalaman. Lebih lanjut, Locke menyatakan ada dua macam pengalaman manusia, yakni pengalaman lahiriah (sense atau eksternal sensation) dan pengalaman batiniah (internal sense atau reflection). Pengalaman lahiriah adalah pengalaman yang menangkap aktivitas indrawi yaitu segala aktivitas material yang berhubungan dengan panca indra manusia. Kemudian pengalaman batiniah terjadi ketika manusia memiliki kesadaran terhadap aktivitasnya sendiri dengan cara mengingat, menghendaki, meyakini, dan sebagainya. Kedua bentuk pengalaman manusia inilah yang akan membentuk pengetahuan melalui proses selanjutnya. Di dalam proses terbentuknya pandangan-pandangan sederhana ini, rasio atau pikiran manusia bersifat pasif atau belum berfungsi. Setelah pandangan-pandangan sederhana ini tersedia, baru rasio atau pikiran bekerja membentuk pandangan-pandangan kompleks (complex ideas). Rasio bekerja membentuk pandangan kompleks dengan cara membandingkan, mengabstraksi, dan menghubung-hubungkan pandangan-pandangan sederhana tersebut. Filsuf empiris yang kedua adalah David Hume. David Hume (26 April, 1711 - 25 Agustus, 1776) adalah filsuf Skotlandia, ekonom, dan sejarawan. Dia dimasukan sebagai salah satu figur paling penting dalam filosofi barat dan Pencerahan Skotlandia. Walaupun kebanyakan ketertarikan karya Hume berpusat pada tulisan filosofi, sebagai sejarawanlah dia mendapat pengakuan dan penghormatan. Karyanya The History of England merupakan karya dasar dari sejarah Inggris untuk 60 atau 70 tahun sampai Karya Macaulay. Hume sangat dipengaruhi oleh empirisis John Locke dan George Berkeley, dan juga bermacam penulis berbahasa Perancis seperti Pierre Bayle, dan bermacam figur dalam landasan intelektual berbahasa Inggris seperti Isaac Newton, Samuel Clarke, Francis Hutcheson, Adam Smith, dan Joseph Butler. Hume memulai filsafat dengan menyatakan bahwa manusia mempunyai dua persepsi, yaitu kesan dan gagasan. Kesan adalah pengindraan langsung atas realitas lahiriah sedangkan gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan semacam itu. Hume menyampaikan bahwa seluruh pemikiran dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression). Pemikiran ini lebih maju selangkah dalam merumuskan bagaimana sesuatu pengetahuan terangkai dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi dalam diri manusia (impression, atau kesan yang disistematiskan ) dan kemudian menjadi pengetahuan. Di samping itu pemikiran Hume ini merupakan usaha analisis agar empirisme dapat di rasionalkan teutama dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang di dasarkan pada pengamatan (observasi ) dan uji coba (eksperimentasi), kemudian menimbulkan kesan-kesan, kemudian pengertian-pengertian dan akhirnya pengetahuan. Hume mengajukan tiga argumen untuk menganalisis sesuatu, pertama, ada ide tentang sebab akibat (kausalitas). Kedua, karena kita percaya kausalitas dan penerapannya secara universal, kita dapat memperkirakan masa lalu dan masa depan kejadian. Ketiga, dunia luar diri memang ada, yaitu dunia bebas dari pengalaman kita. Dari tiga dasar kepercayaan Hume tersebut, ia sebenarnya mengambil kausalitas sebagai pusat utama seluruh pemikirannya. Ia menolak prinsip

kausalitas universal dan menolak prinsip induksi dengan memperlihatkan bahwa tidak ada yang dipertahankan. Jadi, Hume menolak pengetahuan apriori, lalu ia juga menolak sebab-akibat, menolak pula induksi yang berdasarkan pengalaman. Segala macam cara memperoleh pengetahuan, semuanya ditolak. Inilah skeptis tingkat tinggi. Sehingga Solomon menyebut Hume sebagai ultimate skeptic. Dikarenakan sifat skeptisnya yang berlebihan Hume juga tidak mengakui adanya Tuhan. Dari berbagai penjelasan yan disimpulkan oleh Hume sebenarnya merupakan bentuk dari penentangannya terhadap paham rasionalisme. Ia mengatakan bahwa hanya dengan berpikir, tanpa informasi dari pengalaman indera, kita tidak mengetahui apa - apa tentang dunia. Tapi dengan bantuan pengalaman juga kita tidak dapat mengetahui hakikat sesuatu. Ini jelas menunjukkan sikap skeptis yang ada pada Hume. Karena ilmu pengetahuan dan filsafat sama sekali berdasarkan kausalitas, Hume harus menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan dan filsafat tidak mampu mencapai kepastian dan tidak pernah melebihi taraf probabilitas. Kebenaran yang bersifat apriori seperti ditemukan dalam matematika, logika dan geometri memang ada, namun menurut Hume, itu tidak menambah pengetahuan kita tentang dunia. Pengetahuan kita hanya bisa bertambah lewat pengamatan empiris atau secara a posteriori. Setelah membahas rasionalisme dan empirisme beserta para filsufnya, sekarang kita akan membahas sebuah aliran filsafat yang dinamakan rasionalisme kritis. Aliran filsafat ini adalah aliran yang bisa dikatakan gabungan atau campuran antara rasionalisme dan empirisme. Di satu sisi aliran ini mendukung teori rasionalisme tetapi disisi lain aliran ini juga mendukung teori empirisme. Tokoh yang terkenal karena aliran ini adalah Immanuel Kant. Immanuel Kant (22 April 1724 - 12 Februari 1804) adalah seorang filsuf asal Jerman pada abad ke-18. Kant menciptakan sebuah perspektif baru dalam filsafat yang berpengaruh luas pada filsafat terus berlanjut sampai ke abad ke-21 . Ia menerbitkan karya-karya penting pada epistemologi , serta karya-karya relevan dengan agama, hukum dan sejarah. Salah satu yang paling menonjol adalah karya-karyanya Critique of Pure Reason, penyelidikan dan struktur keterbatasan akal itu sendiri. Ini mencakup serangan terhadap tradisional metafisika dan epistemologi dan menyoroti kontribusi Kant sendiri ke daerah-daerah. Karya-karya utama lain dari kedewasaannya adalah Critique of Practical Reason, yang berkonsentrasi pada etika dan Kritik kiamat yang menyelidiki estetika dan teleologi . Karyanya banyak dipisahkan perbedaan antara tradisi rasionalis dan empiris abad ke-18. Dia memiliki dampak yang menentukan pada filsafat Romantis dan Idealis Jerman abad ke-19. Karyanya juga menjadi titik awal bagi banyak filsuf abad ke-20. Filsafat Kant dirumuskan dalam perdebatan dua pandangan besar pada waktu itu, yakni rasionalisme dan empirisme, khususnya rasionalisme Leibniz dan empirisme David Hume. Kant dipengaruhi oleh mereka, tetapi mengkritik kedua pemikiran filsuf ini untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan mereka, serta kemudian merumuskan pandangannya sendiri sebagai sintesis kritis dari keduanya, yakni filsafat transendental (transcendental philosophy). Filsafat sebelum Kant memiliki proses berpikir yang mana subjek harus mengarahkan diri pada objek (dunia, benda-benda). Kehadiran Kant membawa sebuah evolusi besar dalam cara berpikir

metafisis, karena menurutnya, bukan subjek yang mengarahkan diri pada objek, tetapi sebaliknya. Yang mendasar dari pemikiran Kant ini adalah ia tidak memulai dari objek-objek tetapi dari subjek. Objek-obejk itu yang harus menyesuaikan diri dengan subjek. Dengan demikian menurut filsafat Kant, realitas itu ada dalam akal budi manusia. Inilah yang disebut sebagai revolusi Copernican, artinya sebuah perubahan cara berpikir semendasar Copernicus yang mengubah pandangan dari geosentris menuju heliosentris. Tujuan utama dari filsafat kritis Kant adalah untuk menunjukkan, bahwa manusia bisa memahami realitas alam (natural) dan moral dengan menggunakan akal budinya. Pengetahuan tentang alam dan moralitas itu berpijak pada hukum-hukum yang bersifat apriori, yakni hukumhukum yang sudah ada sebelum pengalaman inderawi. Pengetahuan teoritis tentang alam berasal dari hukum-hukum apriori yang digabungkan dengan hukum-hukum alam obyektif. Sementara pengetahuan moral diperoleh dari hukum moral yang sudah tertanam di dalam hati nurani manusia. Kant membedakan jenis-jenis putusan menjadi dua jenis yang selama ini diterima umum. Kedua jenis putusan itu adalah (1) putusan analitis, dan (2) putusan sintetis. Pada putusan analitis, predikat sudah terkandung dalam subjek. Di sini predikat dalam putusan adalah analisis atas subjek, karena itu tidak ada unsur baru dalam putusan itu. Sifat putusan analitis adalah apriori murni, disebut juga pengetahuan murni. Disebut demikian karena konsep-konsep yang membangun pengetahuan tidak diturunkan dari pengalaman, melainkan berasal dari strukturstruktur pengetahuan subjek sendiri (kosong dari pengaman empiris). Sementara dalam putusan sintetis, predikat tidak terkandung dalam subjek. Predikat memberikan informasi baru yang sifatnya aposteriori. Jenis putusan sintetis adalah aposteriori. Ilmu alam memiliki karakter putusan sintetis ini. Ada jenis pengetahuan lain yang tidak bersifat apriori murni tetapi juga bukan sintetis aposteriori. Jenis putusan ketiga inilah yang diusulkan dan menjadi sumbangan terbesar Immanuel Kant, yakni putusan sintetis apriori. Menurut Kant, selalu ada dua unsur dalam setiap penampakan objek, yakni unsur materi (materia) dan unsur bentuk (forma). Unsur materi selalu berhubungan dengan isi pengindraan, sementara unsur bentuk memungkinkan berbagai penampakan tersusun dalam hubungan-hubungan tertentu. Di sini forma atau bentuk merupakan unsur apriori dari pengindraan sementara materi merupakan unsur aposteriori. Dalam setiap pengindraan, selalu beroperasi dua kategori ini dalam rasio manusia, yakni forma ruang (raum) dan forma waktu (Zeit). Kant menunjukkan adanya sintesis jenis pengetahuan rasionalisme dan pengetahuan empirisme. Sehingga dalam pemikiran Kant jelas diperlihatkan bagaimana unsur jenis pengetahuan analitis apriori (rasionalisme) dan sintetis aposteriori (empirisme) dapat didamaikan. Bagi Kant, putusan-putusan yang adalah pengetahuan tidak lain adalah sintesis antara aspek aposteriori (benda yang menampakan diri dan yang sudah melalui proses pengindraan internal) dengan aspek apriori.