Anda di halaman 1dari 9

Pasar Uang; Definisi, Pelaku, jenis dan Fungsi Pasar Uang 26 03 2012 Pengertian Pasar Uang (Money Market)

adalah pasar dengan instrumen financial jan gka pendek, umumnya yang diperjualbelikan berkualitas tinggi. Jangka waktu instr umen pasar uang biasanya jatuh tempo dalam waktu satu tahun atau kurang. Pasar u ang sering juga disebut pasar kredit jangka pendek. Kebutuhan Adanya Pasar Uang Alasan kenapa pasar uang dibutuhkan dalam sistem perekonomian adalah banyaknya p erusahaan serta individu yang mengalami arus kas yang tidak sesuai antara inflow s dan outflows. Misalnya, perusahaan melakukan penagihan dari klien pada periode tertentu dan pada waktu yang lain ia harus mengeluarkan uang untuk menutupi bia ya operasionalnya. Untuk mengatasi masalah tersebut (perusahaan pada saat kasnya mengalami defisit) , maka perusahaan tersebut sementara dapat memasuki pasar uang sebagai peminjam dengan mencari lembaga keuangan atau pihak lain yang memiliki surplus (kelebihan ) dana. Selanjutnya, pada saat perusahaan tersebut mengalami surplus dana, maka perusahaan tersebut menjadi kreditor dalam pasar uang untuk memperoleh pendapata n daripada membiarkan danaya tak terpakai atau idle. Perbedaan dengan Pasar Modal Perbedaan antara pasar modal dengan pasar uang adalah jangka waktunya. Dalam pas ar uang, diperdagangkan suratberharga berjangka waktu pendek, sedangkan dalam pa sar modal, diperdagangkan surat berharga berjangka waktu panjang Mekanisme Pasar Uang Pasar Uang berbeda dengan Pasar Modal yang tradingnya dilakukan melalui Bursa at au Stock Exchange, Pasar Uang sifatnya abstrak, tidak ada tempat khusus seperti halnya dengan Pasar Modal, transaksi pada Pasar Uang dilakukan secara OTC (Over The Counter Market), dilakukan oleh setiap peserta (partisipan) melalui Desk ata u Dealing Room masing-masing peserta. FUNGSI PASAR UANG Sebagai perantara dalam perdagangan surat-surat berharga berjangka pendek Sebagai penghimpun danas berupa surat-surat berharga jangka pendek Sebagai sumber pembiayaan bagi perusahan untul melakukan investasi Sebagai perantara bagi investor luar negeri dalam menyalurkan kredit jangka pendek kepada perusahaan di indonesia Kebutuhan akan adanya pasar uang dilatar belakangi adanya kebutuhan untuk mendap atkan sejumlah dana dalam jangka pendek atau sifatnya harus segera dipenuhi. Den gan demikian pasar uang merupakan sarana alternatif khususnya bagi lembaga-lemba ga keuangan, perusahaan-perusahaan non keuangan, dan peserta-peserta lainnya, ba ik dalam memenuhi kebutuhan dana jangka pendeknya maupun dalam rangka melakukan penempatan dana atas kelebihan likuiditasnya. Pasar uang juga merupakan sarana pengendali moneter (secara tidak langsung) oleh otoritas moneter dalam melaksanakan operasi terbuka, karena di Indonesia pelaks anaan operasi pasar terbuka oleh Bank Sentral yaitu BankIndonesia dilakukan mela lui pasar uang dengan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Berharga Pasar U ang (SBPU) sebagai instrumennya. PESERTA PASAR UANG

Lembaga keuangan Perusahaan besar Lembaga pemerintah, dan Individu-individu

TUJUAN PASAR UANG Dari pihak yang membutuhkan dana : Untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek Untuk memenuhi kebutuhan likuiditas Untuk memenuhi kebutuhan modal kerja Sedang mengalami kalah keliring Dari pihak yang menanamkan dana : Untuk memperoleh penghasilan dengan tingkat suku bunga tertentu Membantu pihak-pihak yang mengalami kesulitan keuangan Spekulasi JENIS-JENIS RISIKO INVESTASI DALAM PASAR UANG 1. Risiko pasar (interest-rate risk) 2. Risiko reinvestment 3. Risiko gagal bayar 4. Risiko inflasi 5. Risiko valuta (currency or exchange rate risk) 6. Risiko politik 7. Marketability atau Liquidity risk Jenis-jenis Resiko Investasi di Pasar Keuangan 1. Resiko Pasar (interest rate risk), yaitu resiko yang berkaitan dengan turunny a harga surat berharga (dan tingkat bunga naik) mengakibatkan investor mengalami capital loss. 2. Resiko Reinvestment, yaitu resiko terhadap penghasilan-penghasilan suatu aset finansial yang harus di re-invest dalam aset yang berpendapatan rendah (resiko yang memaksa investor menempatkan pendapatan yang diperoleh dari bunga kredit at au surat-surat berharga ke investasi yang berpendapatan rendah akibat turunnya t ingkat bunga. 3. Resiko Gagal Bayar (default risk atau credit risk), yaitu resiko yang terjadi akibat peminjam (debitur) tidak mampu memenuhi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan. 4. Resiko Inflasi (resiko daya beli atau purchasing power risk). Untuk menghadap i hal tersebut kreditur biasanya berusaha mengimbangi proyeksi inflasi dengan me ngenakan tingkat bunga yang lebih tinggi. 5. Resiko Valuta (currency risk atau exchange rate risk).

6. Resiko Politik, ini berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan ketentuan p erundangan yang berakibat turunnya pendapatan yang diperkirakan dari suatu inves tasi atau bahkan akan terjadi kerugian total dari modal yang diinvestasikan. 7. Marketability atau Liquidity Risk, ini dapat terjadi apabila instrument pasar uang yang dimiliki sulit untuk dijual kembali sebelum jatuh tempo. Sulitnya men jual kembali surat berharga tersebut memberi resiko untuk tidak dapat mencairkan kembali instrument pasar uang dalam bentuk uang tunai pada saat membutuhkan lik uiditas sebelum jatuh tempo. INSTRUMEN PASAR UANG 1. Interbank call money 2. Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3. Sertifikat Deposito 4. Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) 5. Banker s Acceptance 6. Commercial Paper 7. Treasury Bills 8. Repuchase Agreement

Call Money (Interbank Call Money Market) Call Money adalah penempatan atau peminjaman dana jangka pendek (dalam hitungan hari) antar bank. Call Money merupakan instrument bank dalam mengatasi kekurangan atau kelebihan d ana jangka pendek yang bersifat sementara.

Sertfikat Bank Indonesia (SBI) SBI adalah surat berharga dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indo nesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek. Tujuan bank Indonesia mengeluarkan SBI untuk mengurangi peredaran uang di dalam masyarakat. Karakteristik SBI: Satuan unit sebesar Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah). Berjangka waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan dan paling lama 12 (dua be las) bulan. Penerbitan dan perdagangan dilakukan dengan sistem diskonto. Diterbitkan tanpa warkat, artinya SBI diterbitkan tanpa adanya fisik SBI itu sendiri dan bukti kepemilikan bagi pemegang hanya berupa pencatatan elektronis. Dapat dipindahtangankan (negotiable).

SBI sebagai instrumen kebijaksanaan operasi pasar terbuka, terutama untuk tujuan kontraksi moneter. SBI yang ditebitkan dan diperdagangkan dengan sistem lelang, pada dasarnya penggunaannya sama dengan penggunaan T-Bills di pasar uang Amerik a Serikat. Melalui penggunaan SBI tersebut, BI dapat secara tidak langsung dapat mempengaruhi tingkat bunga di pasar uang dengan cara mengumumkan Stop Out Rate (SOR).

SOR adalah tingkat suku bunga yang diterima oleh BI atas penawaran tingkat bunga dari peserta lelang. Selanjutnya, SOR tersebut akan dapat dipakai sebagai indik ator bagi tingkat suku bunga transaksi di pasar uang pada umumnya.

SOR merupakan kebijakan Bank Indonesia dalam melakukan penjualan SBI secara lela ng kepada Bank atau Lembaga Keuangan atau melalui Broker, dengan tujuan: Untuk mengendalikan baik volume uang beredar maupun tingkat bunga melalui ta rget volume yang diinginkan dan tingkat bunga dalam suatu batas tertentu. Dengan menyerahkan tingkat bunga pada Prime Dealer untuk jumlah 60%, maka ti ngkat bunga menjadi wajar.

Pola pembelian SBI: Pembelian melalui Pasar Perdana (langsung ke BI) Pembelian melalui Pasar Sekunder Pembelian melalui Broker

Sebelum jatuh tempo SBI boleh diperjualbelikan, baik oleh Bank, LKBB, maupun mas yarakat atau dunia usaha setiap saat melalui pasar sekunder. Untuk itu Security House (perantara) akan membeli atau menjual SBI setiap hari dengan tingkat disko nto yang berlaku di pasar. Untuk memperlancar perdagangan SBI ini Bank Sentral I ndonesia menunjukkan beberapa market dan broker yang terdiri dari Bank-bank Umum sebagai lembaga penunjang dalam perdagangan SBI. Market maker disini bertindak sebagai penggerak pasar sekunder.

Dalam hal ini market maker bertindak sebagai dealer yang berkewajiban sbb: Membuat dan mengumumkan quotation. Secara aktif mengajukan penawaran dan permintaan SBI di pasar sekunder. Membeli dan menjual SBI dari dan kepada pihak yang mencari dan menawarkan SBI di pasar s ekunder. Pembelian dan penjualan SBI dapat dilakukan baik secara outright maupun repo.

(Transaksi outright adalah transaksi jual beli SBI atas dasar sisa jangka waktu SBI yang bersangkutan, tidak ada kewajiban bagi penjual untuk membeli kembali se belum jatuh tempo; sedangkan transaksi repo adalah transaksi dengan perjanjian b ahwa penjual wajib membeli kembali SBI yang bersangkutan sesuai jangka waktu yan g dijanjikan).

Sertifikat Deposito Instrumen keuangan yang diterbitkan oleh suatu bank atas unjuk dan dinyatakan da lam suatu jumlah, jangka waktu dan tingkat bunga tertentu. Sertifikat Deposito a dalah deposito berjangka yang bukti simpanannya dapat diperdagangkan. Ciri pokok yang membedakannya dengan deposito berjangka terletak pada sifat yang dapat dip indahtangankan atau diperjualbelikan sebelum jangka waktu jatuh temponya melalui lembaga lembaga keuangan lainnya.

Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) Surat surat berharga berjangka pendek yang dapat diperjualbelikan secara diskont o dengan Bank Indonesia atau lembaga diskonto yang ditunjuk oleh BI. Ditinjau dari jenis transaksi dan warkatnya, SBPU dapat dibedakan sbb: Surat Sanggup (aksep/promes), dapat berupa: Surat sanggup yang diterbitkan oleh nasabah dalam rangka penerimaan kredit dari bank untuk membiayai kegiatan tertentu. Surat sanggup yang diterbitkan oleh bank dalam rangka pinjaman antar bank. Surat wesel, dapat berupa: Surat wesel yang ditarik oleh suatu pihak dan diaksep oleh pihak lain dalam rang ka transaksi tertentu. Penarik dan atau tertarik adalah nasabah bank. Surat wese l yang ditarik oleh nasabah bank dan diaksep oleh bank dalam rangka pemberian kr edit untuk membiayai kegiatan tertentu. Mekanisme perdagangan SBPU adalah dunia usaha atau masyarakat yang merupakan nas abah berbentuk badan usaha maupun perorangan meneluarkan surat aksep atau wesel (sebagai surat utang) untuk mendapatkan dana dari Bank atau LKBB (Lembaga Keuang an bukan Bank). Kemudian SBPU dijualbelikan oleh Bank dan LKBB melalui security house (perantara) maupun melalui pasar sekunder, yaitu diperjualbelikan antara l embaga-lembaga keuangan itu sendiri serta dunia usaha atau masyarakat. SBPU ini melalui security house juga bisa dijualbelikan ke Bank Sentral Indonesia.

Tujuannya untuk meningkatkan likuiditas Bank Umum dan menekan laju inflasi. Banker s Acceptence Suatu instrumen pasar uang yang digunakan untuk memberikan kredit pada eksportir atau importir untuk membayar sejumlah barang atau untuk membeli valuta asing.

Bank Accetance adalah surat berharga yang timbul karena suatu pihak memiliki tag ihan kepada pihak lain. Oleh karena pihak yang memiliki uang tersebut memerlukan dana dalam waktu singkat maka tagihan tersebut dapat dijual dengan mendapatkan jaminan pembayaran dari bank. Biasanya terdapat pada transaksi ekspor/impor yang dilakukan dengan sarana letter of credit (L/C).

Pihak penjual (eksportir) di luar negeri atau atas bank pembeli di luar negeri a tau atas bank pembeli di luar negeri (opening bank) menurut syarat L/C; pada dra ft tercantum jumlah uang dan tanggal pembayaran. Bank penarik draft sebagai bank penerima fasilitas sedangkan bank yang mengaksep draft (accepting bank) sebagai bank pemberi fasilitas bank pemberi fasilitas Bank Acceptance.

Jangka waktu Bank acceptance berkirsar antara 1 sampai 6 bulan. Bunga sekuritas didapatkan dengan sistem diskonto dimana bunganya dibayarkan dimuka berupa disko n terhadap nilai nominalnya .

Banker s Acceptance (BA) BA adalah time draft (wesel berjangka) yang ditarik oleh seorang eksportir atau importir atas suatu bank untuk membayar sejumlah barang atau untuk membeli valut a asing. Apabila bank menyetujui wesel tersebut, bank akan menstempel dengan kat a accepted di atas wesel tersebut dan memprosesnya.

Dengan demikian bank yang menerima dan memproses tersebut memiliki suatu janji a tau jaminan tak bersyarat untuk membayar sebesar nilai nominal aksep tersebut pa da saat jatuh tempo. Hal tersebut berarti bank yang bersangkutan menjamin ekspor tir dan investor dalam pasar uang internasional dari kemungkinan adanya gagal ba yar (default).

Jangka waktu akseptasi biasanya berkisar 30 sampai 270 hari, namun umumnya 90 ha ri. Aksep ini merupakan instrumen pasar uang yang berkualitas tinggi. Akseptasi bank sangat aktif diperdagangkan antar lembaga-lembaga keuangan, perusahaan indu stri, dealer surat-surat berharga sebagai investasi yang berkualitas tinggi dan sangat mudah diuangkan.

Aksep digunakan dalam perdagangan ekspor impor karena banyak eksportir yang tida k pasti dan tidak yakin betul terhadap credit standing importir yang dikirimi ba rang. Eksportir sangat tergantung paa pembiayaan akseptasi oleh bank domestik at au suatu bank asing.

Dengan demikian, aksep adalah instrumen keuangan yang dirancang untuk mengalihka n resiko perdagangan internasional kepada pihak ketiga yang akan mengambil resik o tersebut karena ia memiliki keahlian dalam menilai resiko kredit dan menyebark an resiko tersebut dalam berbagai pinjaman. Ketiga pihak dalam transaksi tersebu t yaitu eksportir, importir dan bank penerbit, mendapatkan keuntungan dari metod e pembiayaan perdagangan internasional ini sebagai berikut:

Eksportir dapat menerima uangnya segera tanpa penundaan. Importir dapat menunda pembayarannya sesuai dengan jangka waktu credit line yang disepakati dengan bank. Bank penerbit yang memegang Banker s Acceptance (didiskonto dari eksportir) me rupakan instrumen keuangan yang sangat likuid yang dapat dijual sebelum jatuh te

mpo melalui dealer bila membutuhkan likuiditas.

Commercial Paper Promes yang tidak disertai dengan jaminan yang diterbitkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana jangka pendek dan dijual kepada investor dalam pasar uang.

Commercial Paper (CP) adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan swa sta/BUMN. CP adalah surat janji untuk membayar kembali jumlah hutang yang diteri ma pada suatu tanggal tertentu. Bunga CP juga didapatkan dengan menggunakan disk onto Berbeda dengan Bank Acceptance atauipun Sertifikat Deposito, pelunasan CP t idak dijamin oleh bank maupun suatu hak kebendaan (Unsecured Promisory Notes).

Commercial Paper pada dasarnya merupakan promes yang tidak disertai dengan jamin an (unsequred promissory notes), diterbitkan oleh perusahaan untuk memperoleh da na jangka pendek dan dijual kepada investor dalam pasar uang. Penerbit berjanji akan membayar sejumlah tertentu uang pada saat jatuh tempo. Penerbit CP adalah p erusahaan yang mempunyai kredibilitas tinggi. Jangka waktu jatuh tempo CP ini berkisar mulai dari beberapa hari sampai 270 har i. Penjualan CP dilakukan umumnya dengan sistem diskonto, namun beberapa diantarany a menggunakan bunga sebagaimana halnya dengan kredit.

Dalam pelaksanaannya seringkali CP diterbitkan dengan backup fasilitas credit li ne dari bank yang jumlahnya mendekati atau sama dengan nilai CP yang diterbitkan . Dalam perkembangannya di beberapa negara, CP diterbitkan dengan dukungan aset perusahaan lainnya, misalnya piutang, dsb. Bahkan perkembangan terakhir CP diter bitkan dengan bank garansi atau jaminan dari perusahaan induknya. Namun kasus in i terjadi bila investor tertentu meminta jaminan dari nilai CP yang dibeli dalam jumlah besar.

Penerbitan CP dapat dilakukan secara langsung kepada investor maupun secara tida k langsung dengan menggunakan jasa perantara.

Kelebihan CP bagi penerbit dan investor antara lain sbb: Bagi Penerbit: Tingkat bunga CP lebih rendah daripada prime rate, yaitu tingkat bunga kredi t yang dikenakan perbankan kepada nasabah utamanya, sehingga biaya dana akan men jadi lebih murah. Tidak perlu menyediakan jaminan. Penerbitannya relatif lebih mudah karena pada prinsipnya hanya melibatkan pe nerbit dan investor. Jangka waktu jatuh temponya lebih fleksibel, dapat diperpanjang atas persetu juan investor.

Bagi Investor: CP menawarkan penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan misalnya Sertif ikat Deposito, Treasury Bills. Dapat dijual kembali (didiskontokan) tanpa perlu menunggu jatuh temponya . Tingkat keamanannya relatif tinggi karena penerbit CP umumnya perusahaan dengan rating yang tinggi.

Kelemahan CP dilihat dari kepentingan investor dan penerbit antara lain: Bagi investor, CP merupakan instrumen yang tidak disertai dengan jaminan. Kemung kinan penerbit melakukan rekayasa laporan keuangan untuk memperlihatkan keadaan likuiditas dan kemampuan perolehan labanya. Bagi perusahaan penerbit, CP merupak an sumber dana jangka pendek sehingga perusahaan kurang leluasa untuk dijadikan sebagai modal investasi.

Treasury Bills (T-Bills) T-Bills merupakan instrument utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau Bank Se ntral atas unjuk dengan jumlah tertentu yang akan dibayarkan kepada pemegang pad a tanggal yang telah ditetapkan.

Instrumen ini berjangka waktu jatuh tempo satu tahun atau kurang. Instrumen yg sangat aman karena diterbitkan oleh pemerintah atau biasanya oleh B ank Sentral. Oleh karena itu instrumen ini sangat mudah diperjualbelikan dan dis ukai oleh perusahaan-perusahaan, terutama oleh lembaga-lembaga keuangan untuk di jadikan sebagai cadangan likuiditas sekuner yg memberikan hasil. T-Bills (istilah umum digunakan di dunia internasional) kalau di Indonesia adala h SBI (Sertifikat Bank Indonesia).

Repurchase Agreement Transaksijual odi surat-surat berharga disertai dengan perjanjian bahwa penjual akan membeli kcmbali surat-surat berharga yang dijual tersebut pada tanggal dan dengan harga yang telah ditetapkan lebih dahulu

Repurchase Agreement dan Reverse Repo. Repo adalah suatu perjanjian antara penjual & pembeli atas efek-efek dimana penj ual berjanji untuk membeli kembali efek-efek yang dimaksud pada harga yang disep akati bersama dan pada jangka waktu yang telah ditentukan.

Reverse repo adalah merupakan kebalikan daripada Repurchase Agreement yaitu memb eli kembali efek-efek dan investor berjanji untuk membeli efek-efek dan investor berjanji untuk membeli efek-efek yang dimaksud pada harga yang telah disepakati pada jangka waktu yang telah ditentukan. Sasaran dari transaksi repo adalah instansi yang memiliki excess dana antara lai

n: Bank Pemerintah & Bank Swasta, Lembaga keuangan Bukan Bank (Asuransi dan Dana Pensiun) serta perusahaan lain yang memiliki dana berlebih.

Repurchase Agreement (Repo) Repo adalah transaksi jual beli surat-surat berharga disertai dengan perjanjian bahwa penjual akan membeli kembali surat-surat berharga yang dijual; tersebut pa da tanggal dan dengan harga yang telah ditetapkan lebih dahulu.

Surat-surat berharga yang biasanya dijadikan sebagai instrumen dalam transaksi R epo adalah surat-surat berharga yang dapat diperjualbelikan secara diskonto, mis alnya SBI, SBPU, CD, CP dan T-bills