Anda di halaman 1dari 2

Lingkungan Internasional Pada masa pemerintahan Gus Dur, Indonesia dalam keadaan yang tidak kondusif.

Kepercayaan internasional pada waktu itu sangat rendah terhadap Indonesia.Selain itu, pada masa Gus Dur, ketika Perang Dingin telah berakhir, Amerika Serikat otomatis menjadi satu-satunya negara Adidaya pada waktu itu. Gus Dur melihat ini sebagai ancaman, berbeda dengan masa pemerintahan Suharto yang melihat hal ini adalah peluang bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Melihat sistem internasional yang pada waktu itu berorientasi terhadap globalisasi dan regionalisme, Gus Dur pun melihat hal ini sebagai peluang untuk beradaptasi dengan dunia Internasional Lingkungan Domestik Rendahnya kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia pada waktu itu,sedikit banyak telah menimbulkan masalah-masalah di lingkungan domestik.Banyaknya negara yang melarang warga negaranya untuk berkunjung ke Indonesia mengakibatkan menurunnya devisa negara. Hal yang lebih krusial adalah. Krisis yang terus menerus dan pencicilan utang luar negri terhadap IMF menyebabkan para investor banyak yag lari dari Indonesia. Hal ini tentu saja membuat kondisi perekonomian Indonesia semakin buruk. Konflik dalam negri yang terjadi juga merupakan pemicu terhadap penurunan kepercayaan internasional di Indonesia. Sebagai contoh adalah konflik Aceh, Papua, serta Ambon dan Maluku. Begitu kompleksnya konflik yang terjadi di Indonesia pada waktu itu menyebabkan Indonesia selalu disorot oleh kalangan internasional dalam masalah penegakan HAM. Aktor Pengambil Keputusan : Gus Dur sebagai aktor pengambil keputusan pada waktu itu, merupakan pemimpin yang cukup unik.Gus Dur merupakan tipe pemimpin yang high profile yaitu bersifat heroik yang diwarnai sikap anti-imperialisme dan kolonialisme serta konfrontasi. Sisi lain dari kepemimpinan Gus Dur sebagai presiden adalah dominasinya dalam pelaksanaan politik luar negeri. Bagi Gus Dur, menteri luar negeri merupakan pembantu aktif yang menjalankan diplomasi dan wajib mengikuti panduan kepala negara. Kepentingan Nasional : 1.pemulihan citra Indonesia dimata masyarakat Internasional. 2.pemulihan ekonomi nasional dan kesejahteraan umum, 3.pemeliharaan keutuhan wilayah nasional, persatuan bangsa serta stabilitas nasional, serta mencegah terjadinya disintegrasi bangsa. 4.peningkatan hubungan bilateral dengan prioritas negara-negara yang dapat membantu percepatan pemulihan ekonomi, perdagangan, investasi dan parawisata, 5.memajukan kerjasama internasional dalam rangka pemeliharaan perdamaian dunia. Output:Melihat input yang didasari oleh kondisi eksternal dan internal negara Indonesia, salah satu keputusan yang diambil oleh Gus Dur adalah menciptakan regional Asia yang lebih luas. Hal ini terlihat melalui pembentukan hubungan strategis dengan India dan China. Gus Dur melihat bahwa dua negara tersebut memiliki potensial yang besar sebagai kekuatan ekonomi di wilayah Asia. Gus

Dur menginginkan terbentuknya kerja sama antara kedua negara ini sebenarnya untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia khususnya dibidang ekonomi. Selain itu, alasan lain mengapa Gus Dur ingin melakukan hubungan dengan kedua negara ini adalah untuk membendung imperialisme yang dilakukan Barat, terutama Amerika Serikat. Gus Dur ingin menciptakan kekuatan baru di Asia agar negara- negara di Asia tidak lagi tergantung dengan negara Barat.

Referensi: Smith, Anthony L. 2000.Indonesia's Foreign Policy under Abdurrahman Wahid: Radical or Status Quo State?. Contemporary Southeast Asia: A Journal of International & Strategic, Vol. 22 Issue 3, p506-513.