Anda di halaman 1dari 10

my blog

Kamis, 26 Januari 2012


makalah MKCHM
BAB I PENDAHULUAN Muhammadiyah adalah gerakan berdasarkan islam, bercita-cita dan berkerja untuk terwujudnya masyarakat utama adil makmur yang diridhoi oleh Alloh SWT untuk melaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah dimuka bumi. Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah diformulasikan sebagai butir-butir yang dipelajari di segala aspek yang berkaitan dengan kegiatan kemuhammadiyahan, baik di sekolahsekolah, di kantor-kantor, serta dilapangan. Matan ini selayaknya ada di setiap tempat tersebut, karena setiap butirnya mesti ditanamkan di setiap hati para partisipan Muhammadiyah pada khusunya bahkan setiap muslim pada umumnya.Namun lebih dari kata-kata diatas setiap butir matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah memang berisi segala pedoman-pedoman yang telah disadur dari ajaran Islam itu sendiri, sehingga dari isinya diharapkan sejalan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah pada masanya. Seperti termaktub dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 104 yang diterjemahkan : Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar; merekalahorang-orang yang beruntung.[3:104] Maka Muhammadiyah telah berpedoman pada Imam segala muslim yaitu Al-Quran dalam menyusun setiap butir matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah dengan penelaahan dan persetujuan dari segala pihak dalam lingkup Muhammadiyah diharapkan matan ini menjadi visi dan misi yang dipegang teguh para masyarakat Muhammadiyah. Matan keyakinan dan citacita hidup Muhammadiyah merupakan keputusan tanwir pada tahun 1969 di Ponorogo dan Rumusan Matan tersebut telah mendapat perubahan dan perbaikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah: 1. Atas kuasa Tanwir tahun 1970 di Yogyakarta; 2. Disesuaikan dengan Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Fungsi Matan Keyakinan dan Cita Cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM) Fungsi asas dalam persoalan dan kenyakinan dan cita cita hidup adalah sebagai sumber menentukan bentuk keyakinan dan cita cita hidup itu sendiri .berdasarkan Islam, artinya ialah Islam sebagai sumber ajaran yang menentukan keyakinan dan cita cita hidupnya. Ajaran Islam yang inti ajarannya berupa kepercayaan tauhid membentuk cita cita dan keyakinan hidup, bahwa hidup di dunia ini hanyalah semata mata hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT, demi untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Hidup beribadah menurut ajaran islam, ialah bertaqarrub kepada Allah SWT dengan menunaika amanah Nya serta mematuhi ketentuan ketentuan yang menjadi peraturan Nya, guna mendapatkan keridhoaan Nya. Amanah Allah yang menentukan fungsi dan misi manusia dalam hidupnya di dunia ialah, manusia sebagai hamba Allah dan Khalifahnya (pengganti) Nya yang bertugas mengatur dan membangun dunia serta menciptakan dan memelihara keamanan dan ketertiban untuk kemakmurannya. Fungsi cita cita atau tujuan dalam persoalan kenyakinan dan cita cita hidup ialah sebagai kelanjutan konsekuensi dari asas. Hidup yang berasaskan Islam seperti yang disimpulkan di atas tidak lain kecuali menimbulkan kesadaran pendirian, bahwa cita cita atau tujuan yang dicapai dalam hidupnya di dunia ini ialah terwujudnya tata kehidupan masyarakat yang baik guna beribadah kepada Allah SWT. Dalam hubungan ini, Muhammadiyah telah menegaskan cita cita atau tujuan perjuangannya dengan berorientasi pada terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar benarnya (AD. Pasal 3). Bagaimana bentuk atau wujud masyarakat islam yang sebenar

benarnya yang dimaksud itu dirumuskan dalam satu konsepsi yang jelas, gambling dan menyeluruh. Fungsi dan Misinya Muslim yang sadar akan fungsi dan misinya dan kemudian tergabung dalam gerakan Muhammadiyah pasti menjadi subjek dalam perjuangan Islam, bahkan untuk tercapainya cita cita, dia mengajak masyarakat bersama sama menjadikan negaranya menjadi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Dalam hal ini Matan menegaskan rumusan sebagai berikut : Ad. 1. bekerja (beramal-berjuang) untuk terwujudnya masyarakat islam yang sebenarbenarnya. Ad. 5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila, untuk berusaha bersama-sama, menjadikan suatu negarayang adil dan makmur yang diridlai Allah SWT, baldatun thoyyibahtun wa rabbun ghafur. Secara lebih singkat dapat dipahami bahwa fungsi MKCHM adalah untuk memberi pedoman bagi warga Muhammadiyah khususnya dan umat muslim umumnya agar bisa memahami fungsi hidup di dunia dan juga kehidupan di akhirat nanti. Selain itu berfungsi sebagai pedoman bagaimana cara berhubungan antar manusia dan bagaimana berhubungan dengan Allah SWT sebagai tuhan yang menciptakannya. Manusia memiliki kewajiban beribadah kepada Allah SWT dan manusia juga memiliki kewajiban untuk berbuat baik sesame manusia, hablum min Allah dan hablum min an-nas.

2.2 HAKIKAT MATAN KEYAKINAN DAN CITA CITA HIDUP MUHAMMADIYAH (MKCHM) Matan keyakinan dan cita cita hidup Muhammadiyah pada dasarnya merupakan rumusan ideology Muhammadiyah yang menggambarkan tentang hakekat Muhammadiyah, faham agama menurut Muhammadiyah dan misi Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Rumusan matan keyakinan dan cita cita hidup Muhammadiyah adalah rumusan tentang Muhammadiyah yang esensial, merumuskan hal hal yang berupa prinsip prinsip yang fundamental.Adapun hal hal yang dirumuskan adalah sebagai berikut : 1. Pokok pokok persoalan yang bersifat ideologis, dari yang terkandung dalam angka 1 dan 2 dari Matan Keyakinan dan Cita Cita Hidup Muhammadiyah : a. Akidah : Muhammadiyah adalah gerakan berakidah Islam. b. Cita-cita: bercita-cita dan bekerja untu terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. c. Ajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan :Agama Islam sebagai agama hidayah dan rahmat Allah kepada manusia sepanjang masa. Bentuk dan corak dari keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah diwarnai dan disinari oleh Islam.Cita-cita yang akan dicapai dalam hidupnya ialah terwujudnya kebahagian dan kemakmuran didunia dalam rangka ibadah kepada Allah SWT.Berkeyakinan bahwa ajaran yang mampu melaksanakan hidup sesuai dengan aqidahnya adalah hanya ajaran Islam. Fungsi aqidah dalam persoalan Keyakinan dan Cita cita Hidup adalah sebagai sumber yang menentukan bentuk keyakinan dan cita cita hidup itu sendiri Berdasarkan Islam, artinya ialah Islam sebagai sumberajaran yang menentukan keyakinan dan cita cita hidupnya .

Ajaran Islam, yang inti ajarannya berupa kepercayaan: tauhid membentuk keyakinan dan cita cita hidup ; bahwa hidup manusia di dunia ini semata mata hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT, demi kebahagiaan duni akhirat.Hidup beribadah menurut ajaran Islam, ialah hidup brtaqarrub kepada Allah SWT, dengan menunaikan amanah Nya serta mematuhi ketentuan ketentuan yang menjadi peraturan Nya, guna mendapatkan keridhoaan Nya. . Amanah Allah yang menentukan fungsi dan misi manusia dalam hidupnya di dunia, ialah manusia sebagai hamba Allah dan khalifah (pengganti)Nya yang bertugas mengatur dan membangun dunia serta menciptakan dan memelihara keamanan dan ketertibannya untuk memakmurkannya. Fungsi cita-cita/tujuan dalam persoalan Keyakinan dan cita-cita hidup ialah sebagai kelanjutan/konsek-wensi dari Aqidah. Hidup yang beraqidah Islam, seperti yang disimpulkan pada angka 4 diatas, tidak bisa lain kecuali menimbulkan kesadaran pendirian, bahwa citacita/tujuan yang akan dicapai dalam hidupnya di dunia, ialah terwujudnya tata-kehidupan masyarakat yang baik, guna mewujudkan kemak-muran dunia dalam rangka ibadahnya kepada Allah SWT. Dalam hubungan ini, Muhammadiyah telah mene-gaskan cita-cita/tujuan perjuangannya dengan: ...sehingga terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur, yang diridhai Allah SWT. (AD PS.3) Bagaimana bentuk/wujud masyarakat uatama yang adil dan makmur, yang diridhai Allah SWT yang dimaksud itu, harus dirumuskan dalam satu konsepsi yang jelas, gamblang dan menyeluruh. Berdasarkan keyakinan dan cita-cita hidup yang beraqidah Islam dan dikuatkan oleh hasil penyelidikan secara ilmiah, historis dan sosiologis, Muhammadiyah berkeyakinan, bahwa ajaran yang dapat untuk melaksanakan hidup yang sesuai dengan Aqidahnya dalam mencapai citacita/tujuan hidup dan perjuangannya sebagaimana dimaksud, hanyalah ajaran Islam. Untuk itu sangat diperlukan adanya rumusan secara kongkrit, sistematis dan menyeluruh tentang konsepsi ajaran Islam yang meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia/masyarakat, sebagai isi dari pada masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah yang persoalan-persoalan pokoknya telah diuraikan dengan singkat di atas, adalah dibentuk/ditentukan oleh pengertian dan fahamnya mengenai agama Islam.Agama Islam adalah sumber keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah, Maka dari itu, faham agama bagi Muhammadiyah dalah merupakan persoalan yang essensial bagi adanya keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah. Keyakinan dan cita-cita hidup muhammadiyah ditentukan dan disinari oleh islam ,islam sebagai sumber ajaran yang menentukan keyakinan dan cita-cita hidup muhammadiyah.Hidup beribadah menurut ajaran islam adalah hidup bertaqarub kepada Allah denagan menunaikan amanat serata mematuhi ketentuan yang telah menjadi peraturan agar mendapatkan ridho dari Allah SWT. 2. Muhammadiyah perlu dikenalkan oleh angkatan muda muhammadiyah Dengan diajarkan mata pelajaran Kemuhammadiyahan, mereka dapat mengenal tentang apa dan diapakah muhammadiyah itu, mengenal perannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dapat menegtahui secara obyektif, bahwa persayarikatan muhammadiyah merupakansebuah Gerakan Islam di Indonesia yang telah berjasa dalam keikutsertaannya menmbangun bangsa Indonesia dalam upaya menemukan jati dirinya sejak zaman penjajahan Hindia Belanda hingga dewasa ini. Muhammadiyah telah menyumbangkan adilnya kepada bangsa Indonesia dengan memberikan putera-puteri terbaiknya untuk berjuang dikancah perjuangan bangsa dan Negara Republik Indonesia 3. Hal-hal yang perlu dipelajari Untuk mengenal secara utuh, bulat dan integral tentang apa dan siapakah muhammadiyah itu, setidak-tidaknya ada tiga pendekatan yang harus dipergunakan. Ketiga pendekatan tersebut satu sama lain saling lengkap melengkapi. Ketiga pendekatan itu ialah : 1) Pendekatan Historis Aspek pertama untuk mengenal Persyarikatan Muhammadiyah adalah lewat pendekatan historis atau pendekatan kesejarahan.Dengan pendekatan seperti ini berarti mempelajari tentang latar belakang berdirinya, sejarah perkembangannya, berbagai amal usaha dan hasil-hasilnya yang telah dicapai dan sebagainya. Sekaligus juga mempelajari cirri-ciriya yang khas yang melekat pada jati diri Muhammadiyah, yang membedakan dengan gerakan-gerakan lainnya, yang tumbuh dan berkembang baik di Indonesia maupun yang di Alam Islam (dunia Islam) 2) Pendekatan Ideologis Aspek kedua untuk mengenal persyarikatan muhamamdiyah adalah lewat pendekatan ideologis atau pendekatan dari segi keyakinan dan cita-citanya. Pendekatan aspek yang kedua ini dapat

dikatakan pendekatan yang paling penting, sebab lewat pendekatan kedua ini akan dikenal tentang hakekat atau jatidiri Muhammadiyah yang sebenar-benarnya. Lewat tilikan aspek ini akan dapat dikenal watak dan kepribadiannya, dikenal dorongan-dorongan yang menggerakkan seluruh aktifitas Muhammadiyah, dikenal juga apa yang menjadi pandangan atau keyakinan hidupnya serta apa yang menjadi cita-cita perjuangannya. Dalam pendekatan aspek idiolagis ini ada tiga materi yang tidak boleh dilewatkan untuk dikaji dan dibahas secara mendalam, yaitu Kepribadian Muhammadiyah, Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah. 3) Pendekatan Struktural Yang dimaksud dengan pendekatan structural tidak lain pendekatan dari segi susunan organisasinya. Mempelajari organisasi muhammadiyah tidak lain kecuali mempelajari bagaimanakah Muhammadiyah melancarkan amal usahanya dengan system organisasi, bagaimanakah muhammadiyah menyusun tenaga manusia yang ada didalmnya, mengatur tugas, cara-cara pengerahan dan pengerahan aktifitasnya, jalinan hubungan dan usaha pengerahan dan fasilitas yang semua diatur secara rapid an tertib sehingga gerakannya menjadi lincah, dinamis dan luwes. Sekaligus dengan pendekatan yang ketiga ini pula akan dikenal khittah perjuangan Muhammadiyah atau strategi dasar perjuangan Muhammadiyah. 4. Faham Agama Muhammadiyah didalam memahami Islam dilakukan secara komprehensif. Aspek Aqidah, Ibadah, Akhlak, dan Muamalah Duniawiyah tidak dipisahkan satu dengan yang lain, meskipun dapat dibedakan. Dalam memahami Islam akal dapat digunakan sejauh yang dapat dijangkau.Halhal yang dirasakan di luar jangkauan akal, diambil sikap tawaqquf dan tatwidh. Memaksa tawil terhadap hal-hal yang dirasakan diluar jangkauan akal, dipandang sebagai menundukkan nash terhadap akal. Aspek aqidah lebih banyak didasarkan atas nash, tawil dipergunakan sepanjang didukung oleh qarinah-qarinah yang dapat diterima. Aspek akhlak mutlak berdasarkan nash, sedangkan akhlak situasional dan kondisional tidak dapat diterima. Ibadah Mahdah berdasarkan nash sedangkan untuk aspek muamalah, jika diperoleh dalil-dalil qothy, dilaksanakan sesuai ajaran nash. Tetapi jika diperoleh dari dalil-dalil dhonny, maka dilakukan penafsiran.Dalam hal ini asas maslahah dapat dijadikan landasan penafsiran. Sifat hati-hati terhadap hal-hal yang belum diperoleh penjelasan, diperlukan guna menjaga keselamatan beragama. Muhammadiyah dalam mamahami dam mengamalkan Islam berdasarkan Al Quran dan Sunnah Rasul dengan menggunakan akal pikiran sesuai ajaran Islam . Pengertian Al- Quran sebagai sumber ajaran Islam adalah kitab Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW sedangkan sunnah rosul adalah sumber ajaran Islam berupa penjelasan dan pelaksanaan ajaranajaran Al Quran yang diberikan oleh nabi Muhammad (matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah butir ke 3). Bagi Muhammadiyah memahami Islam secara benar sangatlah menentukan beragama secara benar pula. Apabila faham tentang Islam itu tidak benar maka tidak akan benar menangkap hakekat dan citra ajaran Islam secara benar. Sehingga akan berpengaruh terhadap pengamalannya dalam kehidupan secara benar pula. Oleh karena itu untuk memahami Islam perlu dasar yang kokoh dan benar. Beberapa prinsip yang menjadi dasar paham agama Islam dalam Muhammadiyah, disebutkan dalam penjelasan matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah adalah sebagai berikut : a. Agama Islam ialah agama Allah yang diturunkan kepada para Rosulnya sejak nabi Adam sampai nabi terakhir, ialah nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir diutus dengan membawa syariat agama yang sempurna untuk seluruh umat manusia sepanjang masa maka dari itu agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad itulah yang tetap berlaku sampai sekarang dan untuk masa-masa selanjutnya. Agama adalah apa yang disyariatkan Allah dengan perantara Nabi nabi Nya berupa perintah perintah dan larangan larangan serta petunjuk petunjuk untuk kebaikan manusia dunia akhirat.

Agama (yakni agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw) ialah apa yang diturunkan oleh Allah didalam Al Quran dan yang tersebut dalam Sunnah yang shahih, berupa perintah perintah dan larangan larangan serta petunjuk petunjuk untuk kebaikan umat manusia di dunia dan akhirat. b. Dasar Agama Islam. 1) Al Quran : Kitab Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW. 2) Sunnah Rasul : Penjelasan dan pelaksanaan ajaran Al Quran yang diberikan nabi Muhammad SAW dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam (Nukilan MKCH) c. Al-Quran dan Sunnah rosul sebagai penjelasannya adalah pokok dasar hukum ajaran Islam yang mengandung ajaran yang benar akal pikiran atau Ar rayu adalah alat untuk : 1) menagngkap dan mengetahui kebenaran yang terkandung dalam Al Quran dan Sunnah Rasul. 2) Mengetahui maksud-maksud yang tercakup dalam pengertian Al Quran dan Sunnah Rasul. Untuk melaksanakan ajaran Al Quran dan sunnah Rasul dalam mengatur dunia guna memakmurkannya, atau pikiran yang dinamis dan progresif mempunyai peranan yang penting dan lapangan yang luas. Begitu pula akal pikiran bisa untuk mempertimbangkan seberapa jauh pengaruh keadan dan waktu terhadap penerapan suatu ketentuan hukum dalam batas maksudmaksud pokok ajaran agama. 3) Hubungan Sunnah dengan Al Quran. : a) Bayan Tafsir : yaitu sunnah menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal, dam musytaraq. Seperti hadis Shallu kama ra aitu munni usholli adalah tafsir dari ayat-ayat : Aqimusholah. b) Bayan taqriri. Yaitu sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan Al Quran seperti hadis : Sumun liru yatihii....adalah memperkokoh surat Al Baqoroh ayat 185. c) Bayan Tadhlihi : yaitu sunnah menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat seperti pernyataan nabi : Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah di zakati adalah tadhlihi terhadap surat Attaubah ayat 34. Muhammadiyah berpendapat bahwa pintu ijtihad senantiasa terbuka. d) Kedudukan ijtihad : tidak semua ayat Al Quran yang mengatur hidup dan kehidupan manusia sudah di atur secara terinci. Ada yang diatus secara global (garis besar atau prinsip-prinsipnya.) dan ada yang diatur secara detail. Untuk penjabaran dan pengembangan hal-hal yang diatur secara detail Al-Quran dan As Sunnah memberikan kesempatan kepada para ulama mujtahidin untuk melakukan ijtihad dan hadist mukadzbinjabbal dan hadist-hadist yang lain. Yaitu menggunakan pikiran untuk menentukan sesuatu hukum yang tidak ditentukan secara eksplisit oleh Al Quran dan As Sunnah, dalam ber-ijtihad para mujtahidin bisa menggunakan metode ijma (sahabi), qiyas, ikhtisan dan maslahir mursalah. Keputusan ijtihad tidak bersifat absolut, karena merupakan produk akal pikiran, tidak berlaku bagi semua orang dan semua masa, dan tentu saja tidak boleh bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah. d. Muhammadiyah berpendirian bahwa pintu ijtihat senantiasa terbuka e. Muhammadiyah berpendirian bahwa orang dalam beragama hendaklah berdasarkan pengertian yangbenar, dengan ijtihad atau ittiba. f. Muhammadiyah dalam menegakkan tuntutan yang berhubungan dengan masalah agama, baik bagi kehidupan perseorangan ataupun bagi kehidupan gerakan, adalah dengan dasar dasar seperti tersebut diatas; dilakukan dalam musyawarah oleh para ahlinya, dengan cara yang sudah lazim disebut tarjih, ialah membanding bandimgkan pendapat pendapat dalam musyawarah dan kemudian mengambil mana yang mempuyai alas an yang lebih kuat. g. Dengan dasar dan cara memahami agama seperti diatas, Muhammadiyah berpendirian bahwa ajaran Islam merupakan kesatuan ajaran yang tidak boleh dipisah pisahkan meliputi : 1) Aqidah : ajaran yang berhubungan dengan kepercayaan. 2) Akhalk : ajaran yang berhubungan dengan pembentukan mental. 3) Ibadah : ajaran yang berhubungan dengan peraturan dan tata cara hubungan manusia dengan Tuhan. 4) Muamalat Duniawiat : ajaran yang berhubungan dengan pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat. Dimana semuanya itu bertumpu dan untuk mencerminkan kepercayaan Tauhid dalam hidup dan kehidupan manusia, dalam wujud dan bentuk hidup dan kehidupan yang semata

mata untuk beribadah kepada Allah SWT dalam arti ibadah yang dirumuskan oleh Majelis Tarjih Artinya : ibadah ialah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan menaati segala perintah Nya, menjauhi segala larangan Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah.

5. Fungsi dan Misi Muhammadiyah Berjuang dan mengajak segenap golongan bangsa untuk mengatur dan membangun tanah air menjadi masyarakat adil dan makmur sejahtera bahagia material dan spiritual sesuai yang diridhai Allah. Menggunakan dawah Islam dalam proporsi sebenarnya yang kemudian dapat lebih lanjut dilihat dalam Khittah Perjuangan Muhammadiyah. Pedoman Untuk Memahami Uraian singkat mengenai Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah. 1. Pokok-pokok persoalan yang bersifat ideologis, yang terkandung dalam angka 1 dan 2 dari Matan Keyakinan dan Cita-cita hidup Muhammadiyah, ialah: a. Aqidah: Muhammadiyah adalah beraqidah Islam. b. Cita-cita/Tujuan: Bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhai Allah SWT. c. Ajaran yang digunakan untuk melaksanakan aqidah dalam mencapai cita-cita /tujuan tersebut: Agama Islam adalah agama Allah sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada ummat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan hidup materil dan sprituil, duniawi dan ukhrawi. 2. Fungsi aqidah dalam persoalan Keyakinan dan Cita-cita hidup adalah sebagai sumber yang menentukan bentuk keyakinan dan cita-cita hidup itu sendiri. Berdasarkan Islam, artinya ialah Islam sebagai sumber ajaran yang menentukan keyakinan dan cita-cita hidupnya. Ajaran Islam, yang inti ajarannya berupa kepercayaan tauhid membentuk keyakinan dan cita-cita hidup. Bahwa hidup manusia di dunia ini semata-mata hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT, demi untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.Hidup beribadah menurut ajaran Islam, ialah hidup bertaqarrub kepada Allah SWT, dengan menu-naikan amanah-Nya serta mematuhi ketentuanketentuan yang menjadi peraturan-Nya guna mendapatkan keridhaan-Nya. Amanah Allah yang menentukan fungsi dan misi manusia dalam hidupnya di dunia, ialah manusia sebagai hamba Allah dan khalifah (pengganti)Nya yang bertugas mengatur dan membangun dunia serta menciptakan dan memelihara keamanan dan ketertibannya untuk memakmurkannya. 3. Fungsi cita-cita/tujuan dalam persoalan Keyakinan dan cita-cita hidup ialah sebagai kelanjutan/konsekuensi dari Aqidah. Hidup yang beraqidah Islam, tidak bisa lain kecuali menimbulkan kesadaran pendirian, bahwa cita-cita/tujuan yang akan dicapai dalam hidupnya di dunia, ialah terwujudnya tata-kehidupan masyarakat yang baik, guna mewujudkan kemak-muran dunia dalam rangka ibadahnya kepada Allah SWT. Dalam hubungan ini, Muhammadiyah telah mene-gaskan cita-cita/tujuan perjuangannya dengan: sehingga terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur, yang diridhai Allah SWT. (AD PS.3) Bagaimana bentuk/wujud masyarakat uatama yang adil dan makmur, yang diridhai Allah SWT yang dimaksud itu, harus dirumuskan dalam satu konsepsi yang jelas, gamblang dan menyeluruh. 4. Berdasarkan keyakinan dan cita-cita hidup yang beraqidah Islam dan dikuatkan oleh hasil penyelidikan secara ilmiah, historis dan sosiologis, Muhammadiyah berkeyakinan, bahwa ajaran yang dapat untuk melaksanakan hidup yang sesuai dengan Aqidahnya dalam mencapai citacita/tujuan hidup dan perjuangannya sebagaimana dimaksud, hanyalah ajaran Islam. Untuk itu sangat diperlukan adanya rumusan secara kongkrit, sistematis dan menyeluruh tentang konsepsi ajaran Islam yang meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia/masyarakat, sebagai isi dari pada masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. 5. Keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah yang persoalan-persoalan pokoknya telah diuraikan dengan singkat di atas, adalah dibentuk/ditentukan oleh pengertian dan fahamnya mengenai agama Islam. Agama Islam adalah sumber keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah, Maka dari itu, faham agama bagi Muhammadiyah dalah merupakan persoalan yang essensial bagi adanya keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah.

METOLOGI IJTIHAD : 1. Ijma : Kesepakatan para imam mujtahid dikalangan umat islam tentang suatu hukum islam pada suatu masa (masa sahabat setelah Rasulullah wafat). Menurut kebanyakan para ulama rasul, hasil ijma dipandang sebagai salah satu sumber hukum islam sesudah Al-Quran dan Hadist. Pemikiran tentang ijma berkembang sejak masa sahabat sampai masa sekarang, sampai masa para imam mujtahid. 2. Qiyas : Menyamakan sesuatu hal yang tidak disebutkan hukumnya didalam nash, dengan hal yang disebutkan hukumnya didalam nash, karena adanya persamaan illat (sebab) hukum pada dua macam hal tersebut, contoh : hukum wajib zakat atas padi yang dikenakan pada gandum. Rukun qiyas : a. Al- Ashlu, yaitu hal yang telah disebutkan dalam nash yang menjadi pangkal qiyas, atau pokok dalam hal ini gandum. b. Cabang, dalam hal ini padi c. Wajib zakat gandum adalah hukum asal. d. Bahan makanan pokok adalah illat hukum Al-Ashlu Karena antara padi dengan gandum mempunyai illat yang sama yaitu sebagai makanan pokok, maka padi dikenakan wajib di zakakti seperti wajibnya gandum untuk di zakati. Untuk Qiyas digunakan dalam bidang muamalah duniawiyah, tidak berlaku untuk bidang ibadah mahdlah. La qiyasa fil ibadah. 3. Maslakhah, mursalah atau Istislah Yaitu, menetapkan hukum yang sama sekali tidak disebutkan dalam nash dengan pertimbangan untuk kepentingan hidup manusia yang bersendikan manfaat dan menghindarkan madlarat. Contoh, mengharuskan pernikahan dicatat, tidak ada satu nash pun yang membenarkan atau membatalkan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh kepastian hukum atas terjadinya perkawinan yang dipergunakan oleh negara.Hal ini dilakukan untuk melindungi hak suami istri.Tanpa pencatatan negara tidak mempunyai dokumen otentik, atas terjadinya perkawinan. 4. Istihsan : yaitu memandang lebih baik, sesuai dengan tujuan syariat, untuk meninggalkan ketentuan dalil khusus dan mengamalkan dalil umum. Contoh : Harta zakat tidak boleh dipindahtangankan dengan cara dijual, diwariskan, atau dihibahkan. Tetapi kalau tujuan perwakafan (tujuan syari) tidak mungkin tercapai, larangan tersebut dapat diabaikan, untuk dipindah tangankan, atau dijual, diwariskan atau dihibahkan. Contoh : Mewakafkan tanah untuk tujuan pendidikan islam. Tanah tersebut terkena pelebaran jalan, tanah tersebut dapat dipindahtangankan dengan dijual, dibelikan tanah ditempat lain untuk pendidikan islam yang menjadi tujuan syariah diatas. Secara khusus, pemahaman islam dalam Muhammadiyah, dapat dikaji dalam pokok-pokok Manhaj Trjih yang telah dilakukan dalam menetapkan keputusan sebagai berikut : 1) Dalam beristiddlah, dasar utamanya adalah Al-Quran dan As Sunnah Ash-Shahihah, Ijtihad dan istibath atas dasar illah terhadap hal-hal yang tidak terdapat dalam nash dapat dilakukan sepanjang tidak menyangkut bidang taabuddi, dan memang merupakan hal yang dihajatkan hidup manusia. Dengan perkataan lain Majlis Tarjih menerima ijtihad termasuk Qiyas, sebagai cara dalam menetapkan hukum yang tidak ada nashnya secara langsung. 2) Dalam memutuskan suatu keputusan dilakukan dengan cara musyawarah. Dalam menetapkan masalah ijtihadiyah digunakan sistem ijtihad jamai.Dengan demikian pendapat perorangan dari anggota majelis tidak dapat dipandang sebagai pendapat majelis. 3) Tidak mengikatkan diri pada suatu madzhab, tetapi pendapat imam imam madzhab dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan sepanjang sesuai dengan Al-Quran dan As Sunnah atau dasar-dasar lain yang dipandang kuat. 4) Berpikir terbuka dan toleran dan tidak beranggapan bahwa hanya keputusan Majelis Tarjih yang paling benar. Keputusan diambil atas dasar landasan dalil-dalil yang dipandang paling kuat yang didapat ketika putusan diambil. Dan koreksi dari siapapun akan diterima, sepanjang dapat diberikan dalil-dalil yang lebih kuat. Dengan demikian Majelis tarjih dimungkinkan merubah keputusan yang pernah ditetapkan. 5) Didalam masalah aqidah (tauhid) hanya dipergunakan dalil-dalil yang mutaasatir. 6) Tidak menolak ijma sahabat sebagai dasar suatu keputusan. 7) Terhadap dali-dalil yang nampak suatu taarudl digunakan cara : Al-jamu wa Taufiq, dan kalau tidak dapat baru dilakukan tarjih.

8) Menggunakan asas Saddudz dzarai untuk menghindari terjadinya fitnah dan mafsadah. 9) Mentalil dapat dipergunakan untuk memahami dalil-dalil Al-Quraan dan As Sunnah sepanjang sesuai dengan tujuan syariah. Adapun qaidah Al Hukmu yaduuru maa illatihi wujudan waadaman dalam hal-hal tertentu dapat berlak. 10) Penggunaan dalil-dalil untuk menetapkan suatu hukum dilakukan dengan cara koprehensif, utuh dan bulat, tidak terpisah. 11) Dalil-dalil umum Al-Quran dapat ditaksir dengan Hadist Ahad, kecuali dalam bidang aqidah. 12) Dalam mengamalkan agama islam menggunakan prinsip At-Tasyir. 13) Dalam bidang ibadah yang diperoleh ketentuan-ketentuan dari Al-Quran dan As Sunnah, pemahamannya dapat menggunakan Al-Quran akal sepanjang diketahui latar belakang dan tujuannya, meskipun harus diakui bahwa akal bersifat nisbi, sehingga prinsipnya mendahulukan nash dari pada akal memiliki kelenturan dalam menghadapi perubahan situasi dan kondisi. 14) Dalam hal-hal termasuk Al-Umurud Dunyawiyah yang tidak termasuk tugas para nabi, menggunakan akal sangat diperlukan, demi untuk tercapainya kemaslahatan umat. 15) Dalam memahami nash, makna dhahir didahulukan dari takwil dalam bidang aqidah. Dan takwil sahabat dalam hal itu tidak harus diterima. 16) Untuk memahami nash yang musytarak, faham sahabat bisa diterima. 17) Jalan Ijtihad yang telah ditempuh meliputi : a. Ijtihad Bayam : yaitu ijtihad terhadap ayat yang majmal baik karerna belum jelas maksud lafadz yang dimaksud maupun karena lafadz itu, mengndung makna ganda, mengandung arti musytarak ataupun karena pengertian lafadz dalam ungkapan yang konteksnya mempunayai arti yang jumbuh (mutasyabih) ataupun danya beberapa dalil yang bertentangan (taarrudl) dalam hal terakhir digunakan cara jama dan tanfiq. b. Ijtihad Qiyasi : yaitu menyenerangkan hukum yang telah ada nashnya kepada masalah baru yang belum ada hukumnya berdasarkan nash, karena adanya kesaman illah. c. Ijtihad Istishlahy : yaitu ijtihad terhadap masalah yang tidak ditunjukki nash sama sekali secara khusus, maupun tidak adanya mengenai masalah yang ada kesamaannya. Dalam masalah yang demikian penetapan hukum dilakukan berdasarkan illah untuk kemaslahatan. 18) Dalam menggunakan hadits, terdapat beberapa kaidah yang telah menjadi keputusan Majelis Tarjih sebagai berikut : a. Hadits mauquf tidak dapat dijadikan hujjah. Yang dimaksud dengan hadits mauquf ialah apayang disandarkan kepada sahabat baik ucapan maupun perbuatan semacamnya, baik bersambung maupun tidak. b. Hadits mauquf yang dihukum mafu dapat menjadi hujjah, hadits mauquf yang dihukum marfu apabila ada qarinah yang dapat dipahami dari padanya bahwa Hadits itu marfu. c. Hadits Mursal Sahabi dapat dijadikan hujjah, hadits dapat dijadikan hujjah, jika ada qarinah yang menunjukkan persanbungan sanadnya. d. Hadits Mursal Tabii Semata, tidak dapat dijadikan hujjah. Hadits dapat dijadikan hujjah jika ada qorinah yang menunjukkan persambungan sanad sampai kepada Nabi. e. Hadits-hadits dlaif yang kuat menguatkan, tidak dapat dijadikan hujjah, kecuali jika banyak jalan meriwayatkannya, ada qarinah yang dapat dijadikan hujjah dan tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits Shahih. f. Dalam menilai perawi hadits, jarh didahulukan daripada tadil, setelah adanya keterangan yang mutabar berdasarkan alasan syara. g. Periwayatan orang yang dikenal melakukan tadlis dapat diterima riwayatnya, jika ada penunjuk bahwa hadits itu muttasil, sedangkan tadlis tidak mengurangi keadilan.

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Fungsi MKCHM adalah untuk memberi pedoman bagi warga Muhammadiyah khususnya dan umat Muslim umumnya agar bisa memahami fungsi hidup di dunia dan juga kehidupan di akhirat nanti. Selain itu berfungsi sebagai pedoman bagaimana cara berhubungan antar manusia dan bagaimana berhubungan dengan Allah SWT sebagai Tuhan yang menciptakannya (wujud hablum min Allah dan hablum min an-nas). Dan pada hakikatnya Matan keyakinan dan cita cita hidup Muhammadiyah pada dasarnya merupakan rumusan ideology Muhammadiyah yang menggambarkan tentang hakekat Muhammadiyah, faham agama menurut Muhammadiyah dan misi Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

3.2 DAFTAR PUSTAKA Musfiqon , H.M. 2008. Pendidikan Kemuhammadiyahan untuk SMA/SMK/MA .Surabaya :Majelis Dikdasmen PWM Jatim . http://dc145.4shared.com/doc/VNmLHKna/preview.html http://mazipanneh.wordpress.com/2011/11/09/matan-keyakinan-dan-cita-cita-hidupmuhmmadiyah/ http://luqm.multiply.com/journal/item/74 Diposkan oleh rahma t cew di 03:35 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Label: kemuhammadiyaan 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom)

folder

04-02-2012 (2) cinta (6) kemuhammadiyaan (1) love song for you (1) motifasi (9) my photo (4) rayuan gombal (1) thingking about you (5) tugas (2)

Fish Pengikut Arsip Blog Mengenai Saya

rahma t cew Lihat profil lengkapku Template Awesome Inc.. Diberdayakan oleh Blogger.