Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PROGRAM GIZI (Kerjasama dan Kemitraan)

Disusun Oleh: Kelompok 3 Ariani Widya Utami Aventina Hunyang Ervan Nusnida Hendy Eka Suherman Mas Ratu Mulyadi Nisa Novita Sari Nur Annisa Nur Habibah Resky Ratna Sari Rina Asmawati Riskha Rinanda Tommy Salam 0911015106 0911015024 0911015074 0911015124 0911015082 0911015076 0911015126 0911015098 0911015016 0911015046 0911015128 0911015018 0911015116

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2012

BAB I
2

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan modal utama dalam kehidupan setiap orang, dimanapun dan siapapun pasti membutuhkan badan yang sehat, baik jasmani maupun rohani guna menopang aktifitas sehari-hari. Seseorang yang hidup di tengah masyarakat sebagai warga masyarakat luas tentu mempunyai keterbatasan dalam hal kemampuan ekonomi, keterbatasan ilmu, pengetahuan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.Oleh karena itu, setiap orang tentu membutuhkan bantuan orang lain baik sesama masyarakat maupun pemerintah terutama dalam hal penerapan pola hidup sehat dan pola makan yang baik dan benar. Program perbaikan gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu konsumsi pangan dan gizi sehingga berdampak terhadap perbaikan status gizi masyarakat. Peningkatan status gizi diarahkan pada peningkatan

intelektualitas, produktivitas, prestasi kerja, dan penurunan angka penyakit kekurangan dan kelebihan gizi, juga untuk pola konsumsi pangan keluarga yang beraneka ragam sesuai dengan pedoman umum gizi seimbang. Kegiatan utama program perbaikan gizi adalah penyuluhan gizi, usaha perbaikan gizi keluarga, pencegahan dan penanggulangan penyakit

kekurangan gizi, usaha perbaikan gizi institusi dan peningkatan penerapan sistem kewaspadaan pangan dan gizi. Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan memang merupakan sektor yang paling depan dalam bertanggung jawab(leading sector). Namun dalam mengimplementasikan kebijakan dan program,intervensi harus

bersama-sama dengan sektor lain,baik pemerintah maupun swasta.Dengan kata lain sektor kesehatan seyogyanya merupakan pemrakarsa dalam menjalin kerjasama atau kemitraan (partnership) dengan sektor-sektor terkait.

Berlandaskan atas dasar kerjasama dan kemitraan tersebut, maka salah satu program yang dapat di laksanakan yaitu program perbaikan gizi yang bertujuan untuk meningkatkan mutu konsumsi pangan dan gizi, sehingga berdampak terhadap perbaikan status gizi masyarakat juga untuk meningkatkan kemampuan, kesadaran dan keinginan masyarakat dalam mewujudkan kesehatan yang optimal terutama bagi golongan rawan dan masyarakat yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota. Peningkatan status gizi diarahkan pada peningkatan intelektualitas,

produktivitas, prestasi kerja, dan penurunan angka penyakit kekurangan dan kelebihan gizi, juga untuk pola konsumsi pangan keluarga yang beraneka ragam sesuai dengan pedoman umum gizi seimbang. Kegiatan utama program perbaikan gizi iniadalah penyuluhan gizi, usaha perbaikan gizi keluarga, pencegahan dan penanggulangan penyakit kekurangan gizi, usaha perbaikan gizi institusi dan peningkatan penerapan sistem kewaspadaan pangan dan gizi.

1.2 Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini, yaitu: 1. Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Program Gizi dan Evaluasi 2. Untuk mengetahui dan memahami program kerjasama dan kemitraan yang di laksanakan di bidang kesehatan khususnya pada program gizi 3. Untuk mengetahui dan memahami bentuk kerja sama dan kemitraan lintas sektordan lintas program di bidang kesehatan terutama pada program gizi.

BAB II PEMBAHASAN

Pembangunan pangan dan perbaikan gizi adalah suatu upaya pembangunan yang bersifat lintas program dan lintas sektor, ditujukan untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat dalam jumlah maupun mutu gizinya. Adapun upaya perbaikan gizi melalui sistem kewaspadaan pangan dan gizi lebih menekankan pentingnya perbaikan konsumsi pangan rakyat dalam jumlah dan mutu gizi yang cukup. Pelaksanaan program gizi memerlukan koordinasi dari seksi gizi dinas kesehatan dengan lintas program dan lintas sektor. Koordinasi adalah aktifitas sengaja yang dimaksudkan pada

pencapaian kesatuan dan harmonis usaha dalam mengejar tujuan bersama di dalam organisasi yang berpartisipasi dalam susunan multiorganisasional. Koordinasi sebagai cara efektif yang terikat bersama berbagai bagian dari organisasi atau keterikatan bersama organisasi dan berkenaan dengan interpendensi, salah satu dari fungsi penting dalam manajemen (Shortell dan Kaluzny, 1996). Wijono (1997) menyatakan bahwa koordinasi bertujuan mengarahkan, menyelesaikan, mensinkronisasikan dan menyelaraskan semua kegiatan masing-masing unit sehingga tercapai tujuan bersama atau tujuan organisasi secara keseluruhan. Pedoman yang diperlukan dalam melakukan koordinasi adalah : 1. Perlu ditentukan secara jelas siapa/instansi mana yang secara fungsional berwewenang dan bertanggung jawab atas suatu masalah. 2. Pejabat atau instansi yang secara fungsional berwewenang dan bertanggung jawab mengenai suatu masalah berkewajiban

memprakarsai dan mengkoordinasikan.

3. Perlu dirumuskan secara jelas wewenang, tanggung jawab dantugastugas satuan kerja. 4. Perlu dirumuskan program kerja organisasi yang jelas memperlihatkan keserasian kegiatan kerja di antara satuan-satuan kerja. 5. Perlu dikembangkan komunikasi timbal balik untuk menciptakan kesatuan bahasa dan kerjasama antara lain melalui rapat berkala, rapat kerja, dan rapat tim.

2.1 Kemitraan Kemitraan adalah hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan

(memberikan manfaat). Kemitraan di bidang kesehatan adalah kemitraan yang dikembangkan dalam rangka pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Unsur kemitraan adalah : 1. Adanya hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih 2. Adanya kesetaraan antara pihak-pihak tersebut 3. Adanya keterbukaan atau kepercayaan (trust relationship) antara pihak-pihak tersebut. 4. Adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan atau memberi manfaat.

Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secar individual maupun kelompok. Menurut Notoatmodjo (2003), kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-

organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu.

Untuk membangun sebuah kemitraan, harus didasarkan pada hal-hal berikut : a. Kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan, b. Saling mempercayai dan saling menghormati c. Tujuan yang jelas dan terukur d. Kesediaan untuk berkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber daya yang lain.

Adapun prinsip-prinsip kemitraan adalah 1. Persamaan atau equality 2. Keterrbukaan atau transparancy 3. Saling menguntungkan atau mutual benefit.

Untuk mengembangkan kemitraan di bidang kesehatan secara konsep terdiri 3 tahap yaitu : 1. tahap pertama adalah kemitraan lintas program di lingkungan sektor kesehatan sendiri, 2. tahap kedua kemitraan lintas sektor di lingkungan institusi pemerintah dan yang 3. tahap ketiga adalah membangu kemitraan yang lebih luas, lintas program, lintas sektor.

2.2 Kerjasama lintas program dan lintas sektor Kerjasama lintas sektor adalah program yag melibatkan suatu institusi atau instansi negri atau swasta yang membutuhkan pemberdayaan dan kekuatan dasar dari pemerintah atau swasta mengenai peraturan yang ditetapkan untuk mewujudkan alternatif kebijakan secara terpadu dan komprehensif sehingga adanya keputusan dan kerjasama.

Manfaat dan tujuan kerjasama lintas sektoral antara lain adalah : 1. Mempermudah pencapaian keberhasilan rancangan kegiatan 2. Dapat memberikan gambaran tehnis antar lintas sektoral dan lintas program 3. Kebijakan tentang pelaksanaan pelayanan kesehatan 4. Saling menguntungkan kedua pihak antara rencana program 5. Dapat memberikan perijinan dalam rujukan 6. Dapat memberikan kontribusi, fasilitas, sarana dan dana 7. Terdokumentasi dalam perizinan dan kegiatan

Untuk menggalang kerjasama lintas sektor dalam penyelenggaran pembangunan terutama dalam bidang kesehatan di tingkat kecamatan diperlukan pertemuan pertemuan antara sektor terkait di tingkat kecamatan dan aparat desa. Semua sektor menginventarisasi kegiatan yang telah dilaksanakan sebagai berikut : NO 1 SEKTOR TP-PKK KEGIATAN - Membina ibu-ibu Balita. - Melatih Kader Posyandu. - Penyuluhan kepada Ibu balita. - Pembinaan Kader posyandu - Merencanakan posyandu lengkap dengan BKB - Pengawasan dan penilaian Posyandu.

PPLKB

Pertanian

- Penyuluhan karang Gizi

Petugas Kesehatan

Merencanaan

pengembangan

Posyandu

lengkap dengan jadwal pelaksanaanya. - Pembinaan, pengawasan serta pengendalian pelaksanan posyandu. - Merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi status gizi masayakat. a. Analisis masalah peran Bantu dari masing masing sektor : 1. PLKB Masalah : a. Angka D.O peserta KB cukup tinggi b. Pengertian peserta KB baru dan KB ulang belum dipahami. c. Bagi para bidan harus lebih meningkatkan peran dalam fungsi konseling d. Pelayanan harus lebih ditingkatkan sehingga angka DO dapat ditekan dan salah satunya dengan cara mencegah persediaan alkon yang cukup.

2. Peternakan a. Masalah : Apabila dilaksanakan vaksinasi di desa- desa jarang masyarakat membawa ternaknya untuk diberikan vaksin.

3. Kepala Desa Masalah : Alat kesehatan untuk puskesmas desa, bagaimana pisik untuk pembangunan gedungnya ( tanah, biaya pembangunan , model bangunan dll ).

4. TP PKK Masalah : a. Data data kesehatan untuk PKK banyak yang kosong. b. Data gizi buruk tidak ada di PKK kecamatan. b . Pembagian peran dan tugas masing masing sektor No 1 Sektor Pemerintahan Peran Menyusun kebijakan, melaksanakanKet.

(Camat,Kades) pembinaan, dan motivasi kepada masyarakatdalam melaksanakan pembangunan-

termasuk pembangunan bidang kesehatan(Promosikesehatan,KIA/KB, JPKM,P2M). TP PKK Kecamatan Gizi, -

Pembina,

Motivator

masyarakat

untuk

melaksanakan meliputi

pembangunan bidang

kesehatan Promosi JPKM

dalam

Kesehatan,KIA/KB,

Gizi,UKK,P2M,

melalui kegiatan kelompok dasa wisma.

PPLKB

Memberikan pembinaan dan motivasi dalam upaya masyarakat meningkatkan melalui kesejahteraan keluarga

program

sejahtera dan BKB serta Promosi KB dalam meningkatkan cakupan aseptor baru.

10

Pertanian

a. Memberikan pembinaan dan motivasi kepada masyarakat dalam

mempertahankan kecukupan persedian pangan yang berdampak pada status gizi masyarakat. b. Memberikan pembinaan dalam upaya kesehatan dan keselamat kerja bidang pertanian.

Peternakan

Melakukan upaya meningkatkan pendapatan dan gizi masyarakat melalui usaha usaha peternakan dengan memperhatikan dampak kesehatan yang mungkin timbul termasuk upaya pencegahan penyakit / Flu burung.

Masing masing sektor nampaknya sudah melaksanakan kegiatan dengan baik. Hal ini perlu terus ditingkatkan sehingga apa yang menjadi target bisa dicapai. c. Contohrencana kegiatan masing masing sektor untuk tiga bulan berikut:

No 1

Sektor Camat

Kegiatan Bertanggung jawab di wilayah kecamatan

Ket

merencanakan,penggerak,pengawasan,pengendali an dan peningkatan dalam kegiatan posyandu (KIA,KB,Imunisasi,Gizi,penanganan diare )

11

TP-PKK

Pertemuan Koordinasi a. Memotivasi kader dalam pelaksanaan posyandu b. Pembinaan,penyuluhan ibu-ibu Bayi dan balita kerumah-rumah lewat dasa wisma. c. Penyuluhan dan memotivasi ibu-ibu untuk ikut berusaha dalam meningkatkan pendapatan.

PPLKB

a. Pembinaan kader posyandu bersama petugas kesehatan b. Merencanakan posyandu lengkap dengan BKB c. Pengawasan dan penilaian posyandu d. Pengentasan kemiskinan / bedah rumah e. Penyedian sarana / KB

Pertanian

a. Memberikan penyuluhan tentang pemanfaatan pekarangan dalam rangka meningkatkan gizi dan pendapatan keluarga. b. Pengembangan Toga

Peternakan

Vaksinasi untuk pencegahan Flu burung

Kades

a. Membantu dalam penyelenggaran Posyandu di wilayah masing masing b. Melaksanakan kegiatan pencegahan penyakit.

12

2.3 HambatandalamPelaksanaanKerjasama HambatandalamPelaksanaanKerjasama, antara lain: a. Belumsemuasektormenyadaripentingnya program untukmenurunkan AKI / AKB b. Kesibukanmasing-masingsektor c. Tidakterjalinnyapertemuanrutinhanyabertemusaatakanadakegiatan d. Kurangnyalaporantertulis e. Pergantianpersonil di masing-masinginstansi/sektor f. DinkeskurangadvokasikeLinsek g. Minimnyadana h. Egoismesektor i. j. Kesibukanmasing masingsektor Ketidaktahuansektortentang AKI / AKB

k. Faktorgeografis

2.4 Melaksanakan program perbaikan gizi Setelah kegiatan perbaikan gizi tersusun, kemudian dilakukan langkah-langkah yang terencana untuk setiap kegiatan. Jenis kegiatan yang akan dilakukan meliputi Advokasi, Sosialiasi, Capacity Buiding,

Pemberdayaan Masyarakat dan keluarga, Penyiapan sarana dan prasarana, Penyuluhan Gizi dan Pelayanan Gizi di Puskesmas maupun di Posyandu. Masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Advokasi Advokasi adalah proses mempengaruhi perilaku, opini dari pimpinan atau seseorang melalui penyampaian informasi. Dalam Advokasi yang perlu diperhatikan adalah penyajian besar dan luasnya masalah, siapa, dimana, konsekwensi, bagaimana menanggulangi, sarana yang diperlukan dan biaya yang diperlukan.
13

2. Sosialisasi Sosialisasi adalah memasyarakatkan suatu informasi atau kegiatan dengan Tujuan guna memperoleh pemahaman yang baik sehingga dapat berperan aktif dalam menunjang pelaksanaan kegiatan. Program yang telah ditetapkan perlu disosialisasikan kepada stakeholder.

3. Capacity building Capacity Building adalah untuk mempersiapkan pelaksanaan program perlu peningkatan kemampuan petugas yang antara lain dapat dilakukan melalui mini lokakarya puskesmas, pelatihan tehnis maupun manajerial sesuai kebutuhan. Misalnya Pelatihan kader,Pelatihan permberdayaan keluarga sadar gizi dan lain-lain.

4. Pemberdayaan Masyarakat Dan Pemberdayaan Keluarga Pemberdayaan Masyarakat Dan Pemberdayaan Keluarga adalah kegiatan-kegiatan yang diarahkan pada pemecahan masalah gizi

berdasarkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat dan keluarga sendiri. Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui revitalisasi posyandu, sedangkan pemberdayaan keluarga dapat dilakukan melalui revitalisasi UPGK (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga) dan Pemberdayaan institusi.

5. Penyiapan Sarana Dan Prasarana Penyiapan Sarana Dan Prasarana adalah misalnya KMS (kartu menujuh sehat), Materi KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi), ATK (Alat Tulis Kertas) dan lain-lain.

14

6. Penyuluhan Gizi Penyuluhan Gizi adalah kegiatan yang ditujuhkan untuk

memasyarakatkan pengetahuan gizi secara luas. Guna menanamkan sikap dan perilaku yang mendukung kebiasaan hidup sehat dengan makanan yang bermutu gizi seimbang baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan.

7. Pelayanan Gizi Posyandu Dan Puskesmas Pelayanan Gizi Posyandu Dan Puskesmas adalah kegiatan petugas gizi kepada individu-individu yang membutuhkan layanan gizi. Pelayanan gizi di Posyandu diberikan pada pelayanan gizi di Posyandu misalnya Pemberian tablet tambah darah pada bumil, bufas, WUS serta sirup besi kepada balita, Pemberian kapsul vitamin A balita dan bufas, Pemberian kapsul Yodium kepada WUS didaerah endemik sedang dan berat, Pemberian makanan tambahan penyuluhan dan pemulihan kepada balita dan bumil. Pelayanan Gizi di Puskesmas diberikan pada Pelayanan Gizi di Puskesmas misalnya Pelayanan gizi profesional melalui POJOK GIZI, Penatalaksanaan penanggulangan gizi buruk, Pemeriksaan Hemoglobin (Hb) bagi ibu hamil, ibu nifas, remaja putri, WUS (Wanita Usia Subur), Deteksi Dini gizi kurang dan buruk, KVA (Kurang Vitamin A) dan GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium). Pelayanan gizi dapat juga diberikan pada Institusi tertentu yang membutuhkan pelayanan gizi misalnya di panti/Pusat Pemulihan Gizi.

15

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 1. Kerjasama lintas sektor adalah program yag melibatkan suatu institusi atau instansi negeri atau swasta yang membutuhkan pemberdayaan dan kekuatan dasar dari pemerintah atau swasta mengenai peraturan yang ditetapkan untuk mewujudkan alternatif kebijakan secara terpadu dan komprehensif sehingga adanya keputusan dan kerjasama. 2. Dengan adanya kemitraan dan kerjasama lintas sektoral yang baik dapat menciptakan hubungan yang baik sehingga dalam pembuatan kebijakan maupun pengambilan keputusan dapat melibatkan semua pihak agar tercapaikebijakan yang tertata, hal ini perlu terus ditingkatkan sehingga apa yang menjadi target bisa dicapai.

2.2 Saran Kepada semua sektor terkait diharapkan dapat melaksanakan peranya sesuai kesepakatan demi kepentingan masyarakat.

16

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Program Akselerasi Peningkatan Gizi Masyarakat. www. litbang.deptan.go.id/special/HPS/program akselerasi.pdf. diakses 10 februari 2012 samarinda. Aprilia,Yesi. 2011. Kerjasama Lintas Sektoral. http:// www. scribd. com/ doc/ 79736393/9/ Sistem-Kerjasama-Lintas Sektoral. di akses 10 februari 2012 samarinda. Anonim. 2010. Kemitraan. http:// www. sieradproduce. com/ ID/ peluang/ Pages/ Kemitraan. aspx. diakses 10 februari 2012 Samarinda Anonim. 2012. Kemitraan Sector Kesehatan. http:// www. wiziq. com/ tutorial/147960-KEMITRAAN-BIDANG-KESEHATAN. februari 2012 Samarinda Anonim. 2010. Pengertian Keitraan Kesehatan. http:// syehaceh. wordpress. com/ 2008/05/12/kemitraa -dalam-kesehatan/. 2011. Samarinda Anonim. 2011. Usaha Usaha Kesehatan Masyarakat. http:// sehat jasmani dan rohani. blogspot. com/ 2011/ 01/usaha-usaha-kesehatandi akses 10 februari di akses 10

masyarakat. html. di akses 10 februari 2011. Samarinda Anonim. 2011. Lintas Sektoral Program Gizi. http:// www. keren. web. id/ pengaruh-kesehatan-dan-gizi-terhadap-tingkat-kemiskinan.html. diakses 10 februari 2012. Samarinda

17