Anda di halaman 1dari 5

MANAGEMEN AKUT DAN REHABILITASI SEGERA SETELAH FRAKTUR TULANG PINGGUL DIANTARA MASYARAKAT BERUSIA 65 TAHUN KEATAS

BAB I NON-SURGICAL MANAGEMENT Perawatan sebelum ke rumah sakit: Di daerah terpencil, penggantian cairan dan kateterisasi sebelum dibawa ke rumah sakit boleh dilakukan. Unit gawat darurat: Pengobatan untuk penderita fraktur pinggul dalam unit gawat darurat, menggunakan protocol jalur cepat untuk penilaian dan admission dari masyarakat berusia 65 tahun keatas. Kolaborasi dalam melayani pasien, sudah terbukti efektif dalam penurunan admission delay. Penggantian cairan: Pada lanjut usia setelah patah tulang pinggul beresiko dehidrasi karena mereka tidak bisa lagi memproduksi cukup air. Ketika cairan pengganti diberikan secara intravena, lansia juga akan beresiko kelebihan cairan dan hiponatremia karena peningkatan produksi hormon antidiuretik karena trauma, pengobatan, mual dan hipotensi. Pre-operative traction: Tidak ada bukti bahwa aplikasi rutin pre-operasi traksi untuk anggota badan yang luka adalah terkait dengan setiap pengurangan yang significant dalam penggunaan analgesik, penggunaan traksi kaki yang rutin untuk sementara waktu mungkin tidak diperlukan. Pertolongan pada nyeri: Paracetamol mempunyai sedikit efek samping dibandingkan aspirin. Ibuprofen adalah sebuah NSAID efektif pada nyeri post operasi, dan mempunyai efek merugikan yang lebih rendah dari NSAIDs yang lainnya. Propoxyphene mengandung senyawa yang tidak dianjurkan untuk orang berusia 65 tahun keatas yang patah tulang pinggul. penggunaan analgesic lokal blok saraf reduces menggunakan analgesic secara parenteral atau oral.

Terapi oksigen: Oksigen harus dijalankan untuk memperkuat oksigen di jaringan, dengan indicator oksimetri dan status klinikal. Pencegahan tromboemboli vena: Keseimbangan yang adekuat dan mobilisasi segera setelah operasi menurunkan resiko tromboemboli vena setelah operasi. pemberian aspirin atau rendah heparin adalah untuk mengurangi resiko VTE, tetapi setiap kenaikan akan memungkinkan terjadinya perdarahan.tapi mempunyai efek merugikan pada kulit dan komplikasi Tidak cukup bukti untuk menerima kemanjuran dari tromboemboli stocking setelah patah tulang pinggul. Pencegahan luka dan infeksi lainnya: Antibiotic efektif untuk mengurangi infeksi luka setelah pembedahan patah tulang pinggul. Penggunaan tempat tidur, kasur, dan bantal untuk mencegah tekanan pada luka: Penggunaan kasur busa pada tempat tiduk khusus yang tinggi dan mengurangi tekanan pada meja operasi dapat mengurangi terjadinya tekanan pada luka. Suplai nutrisi setelah patah tulang pinggul: Makanan bergizi mengurangi komplikasi setelah patah tulang pinggul. Menegemen untuk retensi urin: Kateterisasi rutin setelah patah tulang pinggul tidak dianjurkan. Ketika retensi urin terjadi, kateterisasi sementara akan memperoleh hasil yang cepat dalam pemulihan dari pengeluaran air normal menggunakan kateterisasi intermiten. Menegemen delirium: Pengisian data ketika masuk harus memasukan sebuah ukuran formal dari fungsi kognitif. Keterlibatan dari suatu tim medical geriatric dalam perawatan patah tulang pinggul telah menjadi luar biasa denga suatu penurunan delirium yang signifikan setelah operasi. Aktif dalam mengorientasi kembali dengan menentukan waktu, kalender, radio, televise, dan telepon tidak akan meyebabkan kemunduran kognitif setelah operasi.

BAB II MANAGEMENT PEMBEDAHAN Penundaan sebelum pembedahan: Operasi awal (sekitar 24 jam) untuk orang berusia 65 tahun keatas dengan patah tulang pinggul agar pasien dapat tinggal di rumah sakit dalam jangka waktu yang pendek dan mengurangi angka kematian. Anastesi: Anastesi regional pada pembedahan patah tulang pinggul berkaitan dengan menurunkan tingkat trombolik vena daripada beberapa anastesi umum. Undisplaced intracapsular fractures: Skrup akan mengikat dengan baik dan penyembuhan patah tulang terjadi daripada unthreaded pins. Displaced intracapsular fractures: Setiap manfaat dari pengurangan terbuka melalui reduksi tertutup patah tulang leher femur sebelum fiksasi internal tidak terbukti. Bukti keunggulan atroplasti dibandingkan dengan fiksasi internal untuk patah tulang pinggul intrakapsular pengungsi, tercermin dengan rendah opersi ulang, terbatas. Artroplasti dikaitkan dengan tingkat reoperation lebih rendah dari fiksasi internal. Dalam artroplasti setelah pataah tulang pinggul, penggunaan semen tulang dapat berhubungan dengan lebih sedikit rasa sakit di akhir dahan. Hermiarthroplasty unipolar muncul sebagai efektif sebagai hemiarthroplasty bipolar dan kurang mahal. Ada cukup bukti untuk mengidentifikasi apakah penggunaan penggantian panggul total lebih unggul dari penggunaan hemi-artroplasti dalam fraktur perpindahan leher femoralis. Ekstracapsular fraktur: Fiksasi dengan memasang skru pegas pada pinggul superior pada ikatan pelat paku atau pelengkap intramedular. Pembedahan pengeringan luka: Kegunaan pembedahan pengeringan luka setelah pembedahan patah tulang pinggul adalah tidak diketahui. Mobilisasi setelah operasi:

Orang dengan patah tulang pinggul harus mobilisasi, dengan dukungan sebagai toleransi sesegera mungkin setelah pembedahan.

BAB III PEMULIHAN SEGERA

Rumah sakit menyediakan pengobatan untuk orang berusia 65 tahun keatas dengan patah tulang pinggul dengan menyediakan program formal patah tulang pinggul yang meliputi penilaian awal oleh tim geriatric. Awal program diadakan untuk mengurangi waktu perawatan di rumah sakit dan mempercepat proses penyembuhan.

BAB IV IMPLEMENTASI

Rekomendasi pada pedoman ini diharapkan untuk dapat membantu dalam pengambilan keputusan, dan didasarkan pada bukti kebenaran terbaik. Pedoman ini tidak diharapkan sebagai pelayanan, atau penafsiran, sebuah standar pelayanan kesehatan. Pengangkatan dan implementasi dari rekomendasi akan menjadi sesuatu bahan untuk Accident Compensation Corporation (ACC), District Health Boards (DHBs), Independent Practitioners Associations (IPAs), Primary Healthcare Organisations (PHOs) dan local provider units to consider. Pedoman akan menyiapkan dasar pada tingkat local untuk protokol, pendidikan kesehatan professional yang berkelanjutan, audit, dan aktifitas kualitas terjamin.

BAB V AUDIT DAN INDIKATOR PELAKSANAAN 1.Indikator Kualitas Orang yang berusia 65 tahun ke atas yang nenderita patah tulang pinggul, penyedia layanan dan penyandang dana pelayanan untuk orang dengan patah tulang pinggul semua memiliki kepentingan dalam dalam kualitas perawatan dalam pengelolaan orang dengan patah tulang pinggul. Ini merupakan tanggung jawab penyedia layanan untuk memngumpulkan informasi yang relevan.. 2. Saran Data minimum yang ditetapkan untuk koleksi yang berkaitan dengan setiap individu dengan patah tulang pinggul yang berusia 65 tahun. Data tambahan untuk pemeriksaan periodik (oleh lembaga internal dan eksternal ). Data yang disarankan untuk koleksi rutin.i Dasar demografi orang pada resiko patah tulang pinggul (usia dan jenis kelamin) Status tempat tinggal sekarang (rumah sendiri, perumahan,dukungan keluarga) Riwayat patah tulang pinggul Perokok Diabetes (menggunakan insulin) Stroke 12 bulan sebelumnya pernah jatuh Sebelumnya pernah patah tulang (pinggul,pergelangan tangan, humerus, tulang belakang.) 3. Pemeriksaan Pemeriksaan adalah suatu proses yang sistematis, mandiri dan terdokumentasi untuk memperoleh bukti dan mengevaluasi secara objektif dan untuk menentukan sejauh mana pelayanan, seperti praktik perawatan kesehatan primer untuk memenuhi standar praktik terbaik. Dalam rangka untuk menilaikah patah tulang akut maka dilakukan pengelolaan dan rehabilitasi segera setelah patah btulang pinggul yang disediakan secara efektif dengan kinerja indicator harus dinilai.